cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2016): May" : 46 Documents clear
AN ANALYSIS OF LEARNING ACTIVITIES IN TEACHING ENGLISH BASED ON THE CURRICULUM 2013 ., Kadek Alit Putri Adriani; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra,Dip.,App.; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8078

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kegiatan pembelajaran di pengajaran Bahasa Inggris pada Kurikulum 2013. Subjek dari penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran di kelas Bahasa Inggris pada siswa kelas 8. Analisis isi digunakan untuk mengevaluasi kesesuaian dari kegiatan pembelajaran di RPP dengan kegiatan pembelajaran di pedoman guru. Observasi diadakan untuk mengevaluasi kesesuaian antara kegiatan pembelajaran dengan implementasi dikelas. Interview juga diadakan untuk mendapatkan data yang lebih mendalam mengenai penelitian. Hasil dari penelitian ini, pada RPP guru 1, hanya satu kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan pedoman guru sedangkan pada RPP guru 2, terdapat 4 kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan pedoman guru. Kenyataannya, hasil interview membuktikan bahwa guru tidak menggunakan pedoman guru sebagai acuan dalam membuat RPP, jadi kegiatan pembelajaran yang sesuai hanya suatu kebetulan. Pada implementasi dikelas, tidak ada kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan RPP yang telah dibuat guru. Jadi, guru tidak menggunakan pedoman dalam menentukan kegiatan pembelajaran di RPP dan mereka tidak mengimplementasikan dikelas.Kata Kunci : Kurikulum 2013, Kegiatan Pembelajaran, RPP, dan Pedoman Guru This study aimed at analyzing the learning activities in teaching English based on the Curriculum 2013. The subject of this study was the learning activities in English class at the Eight Grade students. Content analysis was used in evaluating the consistency of the learning activities in the lesson plan with the learning activities in the teacher’s guideline. Observation was conducted to evaluate the consistency of the learning activities in the lesson plan with the learning activities in the classroom implementation. Interview was also conducted in order to get deeper data regarding with the research. As the result, in the lesson plan of the Teacher 1, there is only one learning activity consistent with the teacher’s guideline while in the lesson plan of the Teacher 2, there are four activities consistent with the teacher’s guideline. In fact, the result of the interview proved that the teacher didn’t use the teacher’s guideline in making lesson plan, therefore the consistent learning activities are only incidental. In the classroom implementation, there are no planned learning activities implemented by the teacher. Therefore, the teachers do not use the teacher’s guideline in determining learning activities in the lesson plan and they do not also implement the planned learning activities in the classroom.keyword : Curriculum 2013, Learning Activities, Lesson Plan, and Teacher’s Guideline
The Comparison Of Derivational and Inflectional Processes of Wongaya Gede and Tajen Dialects ., Gede Agus Lesmana Putra; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8079

Abstract

Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk membandingkan perbedaan dan persamaan awalan dan akhiran dalam hal process derivasi dan inlfeksi dari dialek Wongaya Gede dan Tajen. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, rekaman, dan interpiu (mendengarkan dan mencatat). Terdapat enam informan yang dipilih dari dua dialek. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat lima awalan dan enam akhiran yang ada di dialek Wongaya Gede: awalan {ә-}, {kә-}, {mә-}, {N-}, dan {si-} serta akhiran {-an}, {-in}, {-n}, {ne-}, {-ә}, dan {-әng}. Sedangkan, terdapat enam awalan dan akhiran yang ada di dialek Tajen: awalan {a-}, {bә-}, {kә-}, {mә-}, {N-}, dan {si-}, serta akhiran {-ang}, {-an}, {-in}, {-n}, {-ә}, dan {-ne}. Awalan yang sama yang mengalami morfem derivasi adalah awalan {kә-}, {mә-}, {N-}, dan {si-} dan tidak adanya perbedaan awalan. Awalan yang sama yang mengalami morfem infleksi adalah awalan {mә-}, {N-} sedangkan awalan yang berbeda adalah awalan {-ә} di dialek Wongaya Gede yang memiliki fungsi sama dengan awalan {a-} di dialek Tajen yang hanya dibedakan dari cara pengucapannya dan awalan {bә-} yang hanya ada di dialek Tajen. Tidak adanya persamana akhiran yang mengalami morfem derivasi dari kedua dialek, sedangkan akhiran yang berbeda adalah akhiran {-ang}, {-an}, {-in} yang hanya terdapat di dialek Tajen dan akhiran {-әng} di dialek Wongaya Gede yang memiliki fungsi yang sama dengan akhiran {-ang} dari dialek Tajen namun dibedakan dari segi pengucapannya. Persamaan akhiran yang mengalami morfem infleksi adalah akhiran {-an}, {-in}, {-n}, {ne-}, {-ә} dan tidak adanya perbedaan. Kata Kunci : Awalan dan Akhiran Derivasi, Awalan dan Akhiran Infleksi, Dialek Wongaya Gede dan Tajen This descriptive qualitative study aimed at comparing the differences and similarities of prefixes and suffixes in Wongaya Gede and Tajen dialects in the terms of derivational and inflectional processes. The data were collected through observation, recording, and interview (listening and noting) techniques. There were six informants chosen of the two dialects. The results of the study show that there are five prefixes and six suffixes existing in Wongaya Gede: prefix {ǝ-}, {kǝ-}, {mǝ-}, {N-}, and {si-} and suffix {-an}, {-in}, {-n}, {-nǝ}, {-ǝ}, and {-ǝng}. Meanwhile, there are six prefixes and suffixes existing in Tajen dialect: prefix {a-}, {bǝ-}, {kǝ-}, {mǝ-}, {N-}, and {si-} and suffix {-ang}, {-an}, {-in}, {-n}, and {-ǝ}, and {-nǝ}. The same prefixes undergoing derivational morphemes are prefix {kǝ-}, {mǝ-}, {N-}, and {si-} and there is no different prefixes. The same prefixes undergoing inflectional morphemes are prefix {mǝ-}, and {N-} and the difference is prefix {ǝ-} of Wongaya Gede dialect which has the same function with prefix {a-} of Tajen dialect differentiating on how they are pronounced and prefix {bǝ-}. There is no similarities of suffixes which undergo derivational morphemes. The different suffixes undergoing derivational morphemes are suffix {-ang}, {-an}, and {-in} which was found on Tajen dialect, and suffix {-ǝng} of Wogaya Gede dialect which has the same function as suffix {-ang} of Tajen dialect: differentiating on how they are pronounced. The same suffixes undergoing inflectional morphemes are suffix {-an}, {-in}, {-ne}, {-ǝ}, and {-n}. There is no differences.keyword : derivational prefixes and suffixes, inflectional prefixes and suffixes, Wongaya Gede and Tajen dialects
Affixation of Balinese Language in Julah Dialect: A Descriptive Study ., Ni Luh Putu Wida a; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8080

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran infleksi dan awalan dan akhiran derivasi dari Dialek Julah di desa Julah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.Tiga contoh informan dari Dialek Julah dipilih berdasarkan kriteria yang ditentukan. Data dikumpulkan berdasarkan tiga teknik, yaitu: observasi, teknik perekaman, dan teknik wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua jenis awalan di Dialek Julah yang termasuk derivasi, awalan {mә-}, dan {ŋ-}. Ada sembilan jenis awalan di Dialek Julah yang termasuk infleksi, awalan {mә-}, {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {m-}, {Λ-}, {kΛ}, {pΛ-}, {pә}. Ada tiga jenis akhiran di Dialek Julah yang termasuk derivasi, akhiran {-Λŋ}, {-In}, {Λ-}. Ada dua jenis akhiran di Dialek Julah yang termasuk infleksi, akhiran {-ē}, dan {- nē}. Awalan dan akhiran di Dialek Julah yang termasuk derivasi adalah awalan {mә-} dan{m-}dan akhiran {-Λŋ} dan {-In}. Awalan dan akhiran di Dialek Julah yang temasuk infleksi adalah awalan {n-}, {ŋ-},{-ñ}, {m-}{-Λ}, {-kΛ}, {m-}, {pΛ-} dan {pә-}dan akhiran {ē-}, dan{-nē}. Fungsi dari morfem di pembentukan kata dari awalan dan akhiran yang termasuk derivasi memiliki fungsi untuk mengubah kelas kata dan mengubah makna kata dari kata benda menjadi kata kerja dan dapat memiliki arti melakukan kegiatan. Awalan dan akhiran yang merupakan infleksi memiliki fungsi untuk mengubah kalimat dari pasif menjadi aktif, karena tidak mengubah makna dan kelas kata. Kata Kunci : awalan dan akhiran derivasi, awalan dan akhiran infleksi, dialek Julah The study aimed at describing inflectional prefixes and suffixes and derivational prefixes and suffixes of Julah Dialect in Julah village. This research is a descriptive qualitative research. Three informants sample of Julah Dialect were chosen based on a set of criteria. The data were collected based on three techniques, namely: observation, recording technique, and interview (listening and noting) technique. The results of the study show that there are 2 derivational prefixes; prefix {mә-} and {ŋ-}. There are 8 inflectional prefixes; prefix: {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {m-}, {Λ-}, {kΛ}, {pΛ-}, {pә-}. There are 3 derivational suffixes; suffix {-Λŋ}, {-In}, {Λ-}. There are 2 kinds of inflectional suffixes; suffix {-ē}, and {- nē}. Prefixes and suffixes which belong to derivation morphemes: prefix {mә-}, {m-} and {kɅ-} and suffix {-Λŋ} and {-In}. Prefixes and suffixes which belong to inflection: prefix {n-}, {ŋ-},{-ñ}, {m-}{-Λ}, {-kΛ}, {m-}, {pΛ-} and {pә-} and suffix {ē-}, and {-nē}. The function of these morphemes serve in word forming are the prefixes and suffixes that belongs to derivational morphemes has a function to changes the class and the meaning of a word from noun to become verb and also have a meaning to do an activity. Meanwhile the prefixes and suffixes that belong to inflectional morphemes has a function to change the passive phrase into active phrase, because it does not change the meaning and class of the word.keyword : derivational prefixes and suffixes, inflectional prefixes and suffixes, Julah dialect
Derivational and Inflectional Morphemes in Wongaya Gede Dialect ., Pande Nyoman Ita Wulandari; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8081

Abstract

Penelitian ini dirancang dalam bentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran pada Bahasa Bali khususnya dialek Wongaya Gede yang termasuk morfem derivasi dan infleksi. Terdapat tiga informan dipilih berdasarkan beberapa kriteria. Tiga cara digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu melalui observasi, rekaman, dan wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan lima jenis awalan pada dialek Wongaya Gede, yaitu awalan {mә-}, {kә-}, {N-}, {si-}, dan {ә-} dan enam jenis akhiran: {-әng}, {-an}, {-in}, {-ne}, {-ә }, dan {-n}. Ada empat jenis awalan: {mә}, {kә-}, {N-}, dan {si-}, dan satu jenis akhiran: {-әng} yang termasuk morfem derivasi. Tiga jenis awalan: {N-}, {ә-}, dan {mә-} dan lima jenis akhiran: {-an}, {in}, {-ne}, {-ә}, and {-n} termasuk morfem infleksi. Kata Kunci : morfem derivasi, morfem infleksi, awalan, akhiran This study was designed in form of descriptive qualitative study with the aim of describing the prefixes and suffixes in Wongaya Gede dialect which belong to derivational and inflectional morphemes. Three were three informants chosen based on a set of criteria. Three techniques were used to collect the data, namely observation, recording, and interview technique (listening and noting). The results of the study indicare that there are five kinds of prefixes found in Wongaya Gede dialect, namely {mә-}, {kә-}, {N-}, {si-}, and {ә-} and six kinds of suffixes: {-әng}, {-an}, {-in}, {-ne}, {-ә}, and {-n}. There are four kinds of prefixes: {mә}, {kә-}, {N-}, and {si-}, and one kind of suffixes: {-әng} which belong to derivational morphemes. In addition, three kinds of prefixes: {N-}, {ә-}, and {mә-} and five kinds of suffixes: {-an}, {in}, {-ne}, {-ә}, and {-n} belong to inflectional morphemes. keyword : derivational morphemes, inflectional morphemes, prefixes, suffixes
AFFIXATION SYSTEM IN BAYUNG GEDE DIALECT OF BALINESE: A DESCRIPTIVE STUDY ., I Nyoman Surya Manggala; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8082

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jumlah prefiks dan sufiks di Dialek Bali Bayung Gede dan jenisnya dari Derivasi dan Infleksi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif Qualitatif. Dua sampel informan dari Dialek Bayung Gede dipilih berdasarkan seperangkat kriteria. Data dikumpulkan menggunakan 3 tehnik, yakni: tehnik observasi, merekam, dan wawancara (mencatat dan mendengarkan). Hasil penelitian menunjukan bahwa ada enam jenis prefiks dan enam jenis sufiks di Dialek Bayung Gede. Prefiks tersebut yakni prefiks {ma-}, {N-}, {ka-}, {pa-}, {ja-}, dan {la-}. Sufiks tersebut yakni sufiks {-ang}, {-in}, {-e}, {-an}, {-ne}, dan {-a}. Jenis prefiks dan sufiks yang tergolong derivasi adalah prefiks {ma-}, {N-}, {ka-}, {pa}, {ja-}, dan {la-} dan sufiks {-ang}, {in}, dan {-an}. Jenis prefiks dan sufiks yang tergolong infleksi adalah prefiks {ma-}, {N-}, {ka-}, dan {pa-} dan sufiks {-ang}, {in}, {-e}, {-an}, {-ne}, dan {-a}.Kata Kunci : prefiks dan sufiks derivasi, prefiks dan sufiks infleksi, dan Dialek Bayung Gede This study aimed at describing the number of prefixes and suffixes in Bayung Gede Dialect of Balinese and its types of derivational and inflectional. This study is a descriptive qualitative research. Two informant samples of Bayung Gede Dialect were chosen based on set criteria. The data were collected based on three techniques, namely: observation, recording technique, and interview (listening and noting) technique.The results of the study show that there were six prefixes and six suffixes existing in Bayung Gede Dialect. The prefixes were {ma-}, {N-}, {ka-}, {pa-}, {ja-}, and {la-}. The suffixes were {-ang}, {-in}, {-e}, {-an}, {-ne}, and {-a}. The prefixes and suffixes that belong to derivation are: prefix {ma-}, {N-}, {ka-}, {pa}, {ja-}, and {la-} and suffix {-ang}, {in}, and {-an}. The prefixes and suffixes that belong to inflection are: prefixes {ma-}, {N-}, {ka-}, dan {pa-} and suffix {-ang}, {in}, {-e}, {-an}, {-ne}, and {-a}.keyword : derivational prefixes and suffixes, inflectional prefixes and suffixes, and Bayung Gede Dialect of Balinese
Developing Supplementary English Material for Slow Learners of the Eighth Grade at SMP N 1 Bangli to Support the Implementation of Kurikulum 2013 ., Made Eny Andraeni Putri; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8091

Abstract

Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengetahui kualitas materi tambahan Bahasa Inggris untuk siswa kelas delapan dengan kemapuan dibawah rata-rata di SMP N 1 Bangli guna mendukung pengimplementasian Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan model Penelitian dan Pengembangan oleh Sugiyono (2008), namun karena keterbatasan waktu dan biaya penelitian ini hanya dilaksanakan hingga langkah ketujuh. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas delapan dengan kemampuan dibawah rata-rata di SMP N 1 Bangli dan objek penelitian ini adalah materi tambahan yang dikembangkan. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan mengadakan analisis dokumen, wawancara, uji ahli dan angket. Data tersebut dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil uji ahli, skor validitas content adalah 1.00 yang menunjukkan bahwa materi tambahan yang dikembangkan memiliki validitas yang sangat tinggi. Hasil angket guru juga menunjukkan bahwa materi tambahan yang dikembangan telah memenuhi kriteria materi yang sangat baik. Terlebih lagi, hasil dari angket siswa memperoleh balikan yang positif terhadap materi tambahan yang dikembangkan.Kata Kunci : differentiated instruction, materi tambahan Bahasa Inggris, siswa berkemampuan dibawah rata-rata This research and development was aimed at describing the design and measuring the quality of supplementary English material for slow learners of the eighth grader at SMPN 1 Bangli to support the implementation of Kurikulum 2013. Research and Development model by Sugiyono (2008) was used in this study, but due to the limitation of time and cost, it was conducted until the seventh step only. The subjects of this study were the slow learners of the eighth grade at SMP N 1 Bangli and the object of this study was the developed supplementary English material. The data was collected by conducting document analysis, interview, expert judgment, and questionnaire. It was analyzed both qualitatively and quantitatively. Based on the result of expert judgment, the score of content validity was 1.00 which meant that the product had very high validity. And the result of the questionnaire for teacher showed that the product was categorized as excellent material. Additionally, the result of questionnaire for students proved that students gave positive feedback toward the product. keyword : differentiated instruction, slow learner, supplementary English material
THE EFFECT OF ROUND ROBIN TECHNIQUE ON THE SPEAKING ACHIEVEMENT OF THE 7TH GRADE STUDENTS OF SMP NEGERI 4 SINGARAJA IN THE ACADEMIC YEAR OF 2015/2016 ., Kadek Lina Kurniawati; ., Dr.Sudirman, M.L.S; ., Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd,M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8092

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki apakah ada atau tidak ada perbedaan yang signifikan dalam prestasi berbicara antara siswa yang diajarkan dengan menggunakan teknik round robin dan mereka yang diajarkan dengan menggunakan teknik praktek percakapan. Desain penelitian yang digunakan adalah Post-test Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas tujuh SMP Negeri 4 Singaraja dan penentuan sampel penelitian menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Kelas VIIB 4 terpilih sebagai kelas ekperimen dimana tehnik round robin digunakan dan kelas VIIB 5 terpilih sebagai kelas kontrol dimana teknik praktek percakapan digunakan. Hasil analis data menunjukan siswa di kelas ekperimen medapatkan hasil yang lebih baik daripada siswa di kelas control. Hal ini dibuktikan oleh hasil statistik deskriptif yang menunjukkan nilai rata-rata kelas eksperimen adalah 8,5 sedangkan nilai rata-rata dari kelompok kontrol adalah 7,9. Slain itu, hasil dari uji t-test juga menunjukkan bahwa nilai tob lebih besar dari tcv tersebut. Nilai tob itu-5,726 sedangkan nilai Tcv adalah1,99162 (α = 0,05). Ini berarti bahwa terdapat perbedaan prestasi berbicara yang signifikan antara siswa yang diajarkan dengan menggunakan teknik round robin dan mereka yang diajarkan dengan menggunakan teknik praktek percakapan. Jadi dapat disimpulkan bahwa round robin teknik dapat meningkatkan prestasi siswa dalam berbicara.Kata Kunci : teknik round robin, teknik praktek percakapan, prestasi dalam berbicara. This study aimed at investigating whether or not there was significant difference in speaking achievement between students who were taught by using round robin technique and those who were taught by using conversation practice technique. The research design used in this study was Post-test Only Control Group Design. The population in this study was seventh grade students of SMP Negeri 4 Singaraja and the samples of study were selected by using Cluster Random Sampling. Class VIIB 4 was assigned as the experimental group, which was taught by using round robin technique while class VIIB 5 as the control group, which was taught by using conversation practice technique. The result of the data analysis showed that students in the experimental group performed better than the students in the control group. It was proven by the result of the descriptive statistics that showed the mean score of the experimental group was 8.5 while the mean score of the control group was 7.9. The result of the t-test also showed that the value of the tob was higher than the tcv. The value of the tob was -5.726, while the value of the tcv was1.99162 (α = 0.05). It means that there was a significant difference speaking achievement on the students who were taught using round robin technique and those who were taught by using conversation practice technique. It was concluded that round robin technique can improve students’ speaking achievement. keyword : round robin technique, conversation practice technique, speaking achievement.
AN ANALYSIS OF DERIVATIONAL AND INFLECTIONAL PROCESSES IN THE SIDATAPA DIALECT OF BALINESE: A DESCRIPTIVE STUDY ., I Putu Rika Adi Putra; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8111

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran di Dialek Bahasa Bali Sidetapa yang mengalami derivasi dan infleksi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Terdapat tiga informan utama dan tiga informan sekunder dalam penelitian ini. Data dikumpulkan berdasarkan empat teknik: teknik observasi, elisitasi, rekaman dan pencatatan. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data: daftar kata, alat perekam digital, kamera dan daftar pertanyaan. Ada tiga proses dalam menganalisa data: reduksi data, penggambaran data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa ada tiga jenis awalan: {me-}, {N-}, dan {pe-}, dan dua jenis akhiran: {-ng} dan {-e}, yang mengalami proses derivasi pada Dialek Bahasa Bali Sidetapa. Terdapat tiga jenis awalan: {me-}, {N-} dan {a-} dan lima jenis akhiran: {-ng}, {-ne}, {-e}, {-in} dan {-an}, yang mengalami infleksi dalam Dialek Bahasa Bali Sidetapa. Terdapat beberapa fungsi grammar awalan dan akhiran seperti: imbuhan untuk membentuk kata kerja (imperatif), untuk membentuk kata nominal (artikel definitif), untuk membentuk kata bilangan, pembentuk kata kerja aktif, pembentuk kata kerja pasif, dan imbuhan untuk membentuk kata sifat (komparatif).Kata Kunci : proses derivasional, proses infleksional, Dialek Bahasa Bali Sidetapa The study aimed at describing the kinds of prefixes and suffixes in Sidetapa dialect of Balinese that undergo derivation and inflection process. This research was a descriptive qualitative research. There were three main informants and three secondary informants in this research. The data were collected based on four techniques, namely: observation, elicitation, recording, and note taking technique. The data were collected by using some instruments: words list, digital recorder, camera, and questions list. There were three processes in analyzing the data: data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of the study show that there are three kinds of prefix: {me-}, {pe-} and {N-}, and two kinds of suffix: {-e} and {-ng}, which undergo derivational process in Sidetapa dialect of Balinese. There are three kinds of prefix: {me-}, {N-} and {a-} , and five kinds of suffix: {-ng}, {-ne}, {-e}, {-in} dan {-an}, which undergo inflectional process in the dialect. There are several grammatical functions of prefixes and suffixes in the dialect such as: affix forming verbal (imperative), affix forming nominal (definite article), affix forming numeral, activizer, passivizer, and affix forming adjective (comparative).keyword : derivational process, inflectional process, Sidetapa Dialect of Balinese
AN ANALYSIS OF DIRECTIVE ACTS USED IN THE CLASSROOM INTERACTIONS FOR THE EIGHTH GRADE STUDENTS OF SMPN 2 SINGARAJA ., Luh Made Mira Wirawati; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra,Dip.,App.; ., Ni Komang Arie Suwastini, S.Pd,M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8142

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tindak tutur dan gaya bertutur yang dugunakan oleh siswa perempuan dan laki-laki di SMPN 2 Singaraja. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1) tindak tutur yang digunakan oleh siswa kelas delapan di SMPN 2 Singaraja dalam hal struktur sintaksis dan pilihan kata, 2) gaya bertutur dalam hal kesopanan yang digunakan oleh siswa kelas delapan di SMPN 2 Singaraja. Subyek dari penelitian ini adalah siswa dari kelas VIII.14 dan VIII.15 di SMPN 2 Singaraja. Subyek terdiri dari 35 dan 36 siswa dengan 35 siswa perempuan dan 36 siswa laki-laki. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif. Pengumpulan data diambil melalui prosedur elisitasi. Data yang diperoleh dianaliss secara deskriptif. Hasil penelitian ditunjukkan dalam urutan berikut ini: 1) Tindak tutur yang digubakan adalah a) kalimat suruhan, b) kalimat permintaan, c) saran dan d) kalimat perintah; 2) gaya bertutur yang digunakan adalah a) kesopanan yang positif, b) tindak tutur langsung dan c) kesopanan yang negatif Kata Kunci : tindak tutur direktif, , struktur sintaksis, pilihan kata, kesopanan This research aimed at analyzing the locutionary acts and the locutionary styles that used by female and male students at SMPN 2 Singaraja. The problems raised in this research were: 1) the locutionary acts used by the eighth grade students of SMPN 2 Singaraja in terms of syntactical structure and lexical choice, 2) the locutionary styles in terms of politeness strategies applied by the eighth grade students at SMPN 2 Singaraja. The subjects were the students of class VIII.14 and VIII.15 of SMPN 2 Singaraja. The subjects consisted of 35 and 36 students with 35 female and 36 male students. The research design was qualitative. The data were collected through an elicitation technique. The obtained data were analyzed descriptively. The result were showed in the following order: 1) the locutionary acts used are a) order, b) request, c) suggestion and d) command; 2) the speech style applied namely a) positive politeness, b) on-record, and c) negative politeness.keyword : Directive acts, syntactical structure, lexical choice, politeness.
An Analysis of Character Based Instructional Process in English Langauge Subject at SMPN 2 Singaraja ., Mega Adi Adnyana I Putu; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 4 No. 1 (2016): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v4i1.8143

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan proses pembelajaran yang berdasarkan pada pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa Inggris di SMPN 2 Singaraja. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui bagaimana guru merencanakan pendidikan karakter, 2) untuk mengetahui bagaimana guru menerapkan pendidikan karakter di dalam kelas, 3) untuk mengetahui bagaimana guru menilai pendidikan karakter. Penelitian ini dirancang dalam bentuk penelitian descriptive qualitative. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan menganalisis dokumen. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah: peneliti itu sendiri, lembar observasi, panduan wawancara, alat perekam dan checklist. Subject dari penelitian ini adalah murid-murid kelas VIII-11 dan VIII-12 beserta guru bahasa Inggris di SMPN 2 Singaraja. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa dalam merencanakan pendidikan karakter di SMPN 2 Singaraja, guru menggunakan silabus sebagai panduan utama. Guru menggunakan keputusan pribadinya untuk menentukan nilai pendidikan apa yang akan dituangkan dalam rencana pembelajaran dikarenakan dalam silabus tidak dijelaskan secara jelas tentang nilai pendidikan karakter. Dalam menerepkan pendidikan karakter, guru hanya menggunakan fasilitas yang sudah disiapkan oleh sekolah. Disisi lain, dalam menilai pendidikan karakter, guru hanya menggunakan rubric penilaian afektif yang terdapat dalam rencana pembelajaran karena tidak ada panduan pasti mengenai hal tersebut. Kata Kunci : Pendidikan karakter, perencanaan, penerapan, penilaian. This study aimed at describing the character based instructional process in English language subject at SMPN 2 Singaraja. The purposes of this research were: 1) to know how the English teacher plan character education, 2) to know how English teacher implement character education at class, 3) to know how English teacher assess character education. This research was designed as a descriptive qualitative research. The data were collected through observation, interview and document study. The instruments in this study were: the researcher itself, observation sheet, interview guide, recording tools and checklist. The subjects of this research were students of class VIII-11 and VIII-12 and English teacher at SMPN 2 Singaraja. The result of this study found that in planning character education at SMPN 2 Singaraja, the teacher used syllabus as the main reference. The teachers used his own decision on which values that might be relevant to be integrated in a lesson since the syllabus does not explicitly stated the values. In implementing character education, the teacher used available facilities provided by the school. Moreover, in assessing character education, the teacher only used affective assessment rubric on the lesson plan since there was no precise guidance about it. keyword : Character education, planning, implementing, assessing