cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 293 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2017): November" : 293 Documents clear
SPEECH ACTS ANALYSIS IN READING CLASS AT THE VOCATIONAL HIGH SCHOOL ., Luh Putu Utami Krisna Yanti; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.18873

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk menganalisis tindak tutur kata yang digunakan oleh guru bahasa Inggris dan siswa kelas sepuluh Sekolah Menengah Kejuruan. Itu difokuskan pada tiga pertanyaan, yaitu tindakan locutionary (tindakan verbal), ilokusi (niat), dan perlocutionary (respon) yang dihasilkan selama kegiatan pembelajaran EFL di Sekolah Menengah Kejuruan 1 di Singaraja. Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMA dan guru Bahasa Inggris SMK N 1 Singaraja. Para guru dan siswa menggunakan tindak tutur hampir setiap saat. Data dikumpulkan melalui mengamati proses pembelajaran dengan merekam audio-video. Data dianalisis secara deskriptif dengan cara mengamati, mengklasifikasikan, dan menarik kesimpulan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa guru Bahasa Inggris dan siswa menggunakan tindak tutur dalam kegiatan sehari-hari mereka di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tindak tutur yang paling dominan pada pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris di kelas ini adalah tipe arahan, terutama yang meminta. Secara umum, guru lebih sering menggunakannya untuk memberi perintah, saran, dan permintaan.Kata Kunci : Kata kunci: tindak tutur, lokusi, ilokusi, perlokusi, EFL This study were focused on analyzing speech acts used by the English teachers and tenth grade students of Senior Vocational High School. It was focused on three questions, they were, the locutionary (the verbal acts), illocutionary (the intention), and perlocutionary (the response) acts produced during EFL learning activities at the Senior Vocational School 1 at Singaraja. The research design was descriptive qualitative. The subject were Senior Vocational High school students and English teachers of SMK N 1 Singaraja. The teachers and students used speech acts almost in every moment. The data were collected through observing the learning process by recording an audio-video. The data were analyzed descriptively by means observing, classifying, and drawing the conclusion. The finding of this study shows that the teacher of English and students used speech acts in their daily activity in the classroom. The results showed that most dominant type of speech acts on English teaching and learning at this class is directive type, particularly requesting. Generally, the teacher more often used them to give command, suggestion and request.keyword : Key words: speech acts, locutionary, illocutionary, perlocutionary, EFL.
SPEECH ACTS ANALYSIS IN EFL AT THE JUNIOR HIGH SCHOOL ., Kadek Boy Satriawan; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.18875

Abstract

Penelitian ini fokus pada menganalisis penggunaan tindak tutur yang dihasilkan oleh guru bahasa Inggris dan siswa kelas tujuh di Sekolah Menengah Pertama. Ada tiga pertanyaan yang difokuskan oleh peneliti, yaitu tindakan locutionary (tindakan verbal), ilokusi (niat), dan perlocutionary (respon) yang dihasilkan selama kegiatan pembelajaran EFL di SMP N 6 Singaraja. Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Peserta penelitian ini adalah dua guru bahasa ingris dan siswa kelas tujuh SMP N 6 SIngaraja. Tindak tutur terjadi hampir setiap saat dalam kegiatan pembelajaran. Data dikumpulkan melalui mengamati proses pembelajaran dengan merekam audio-video. Data dianalisis secara deskriptif dengan cara mengamati, mengklasifikasikan, dan menarik kesimpulan. Penelitian menemukan bahwa bahwa guru Bahasa Inggris dan para siswanya menggunakan tindak tutur dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari mereka di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur yang paling dominan terjadi pada pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris di kelas ini adalah tipe arahan, khusunya dalam bentuk meminta. Itu diguakan untuk memberikan perintah, intruksi, saran, permintaan dan informasi kepada siswa.Kata Kunci : Kata kunci: tindak tutur, lokusi, ilokusi, perlokusi, EFL This study focused on analyzing the used of speech acts produced by English teachers and seventh grade students of Junior High School. There were three question that focused by the researcher, the locutionary (the verbal acts), illocutionary (the intention), and perlocutionary (the response) acts produced during EFL learning activities at SMP N 6 Singaraja. The research design was descriptive qualitative. The participants of the study were two teachers and seventh grade students of SMP N 6 Singaraja. The speech act occurred almost in every moment in learning activities. The data were collected through observing the learning process by recording an audio-video. The data were analyzed descriptively by observing, classifying, and drawing the conclusion. It was found that English teachers and their students used speech act in daily learning activity in the classroom. the result of the study showed that the most dominant type of speech acts which occurred was directive act which in the form requesting. It was used to give command, instruction, suggestion, request and information to the students.keyword : Key words: speech acts, locutionary, illocutionary, perlocutionary, EFL.
AN ANALYSIS OF SWEAR WORD USED BY BALI AGA PEOPLE IN SIDETAPA VILLAGE ., Made Ady Pradana Wiyasa; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., I Wayan Swandana, S.S., M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol. 5 No. 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.18878

Abstract

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kata-kata umpatan yang digunakan oleh orang-orang di desa Sidatapa. Untuk mencapai tujuan ini, penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, yang dilakukan dengan mengamati, mewawancarai subjek, dan rekaman audio. Subjek penelitian ini adalah 10 orang yang berasal dari desa Sidatapa. Hasil penelitian ini menemukan bahwa kata-kata umpatan yang digunakan oleh orang-orang di desa Sidapa memiliki bentuk, referensi, dan fungsinya. Ada tiga bentuk kata-kata umpatan: (1) dalam bentuk kata-kata, yang dibagi menjadi dua: monomorphemic (sigug 'nakal', bancih 'waria', kables 'berhubungan seks', dll) dan polimorfik (bebereke 'putrid', nusuk 'aduk', ngamah 'makan', dll.), (2) dalam bentuk frasa (belog-beloge 'sangat bodoh', sedeng gati 'sangat gila', lengeh buah 'sangat bodoh', dll), dan (3) dalam bentuk klausa (buduh mene 'kamu bodoh', lengeh mene, 'kamu bodoh', ngamah gro gaen mene 'kamu selalu makan', dll). Referensi dari kata-kata umpatan itu terkait dengan: (a) aktivitas, (b) istilah hewan, (c) fungsi tubuh, (d) kotoran, (e) iblis, (f) kekerabatan, (g) penyakit mental, (h) penyakit mental, ) latar belakang pribadi dan (i) agama. Fungsi kata-kata umpatan adalah: (a) agresif, (b) integratif, (c) untuk membuat identifikasi antarpribadi, (d) untuk memberikan katarsis, (e) penekanan, (f) untuk memprovokasi, (g) untuk menarik perhatian, dan (h) regresif. Dalam hal ini, penggunaan kata makian di desa Sidatapa tidak hanya dalam bentuk makna negatif tetapi juga positif seperti, untuk mengurangi rasa sakit mereka dan juga kesusahan.Kata Kunci : bentuk, fungsi, kata umpatan The main objective of this study is to analyze the swear words used by people in Sidatapa village. To achieve this goal, this study used descriptive qualitative research, which was conducting by observing, interviewing the subjects, and audio recording. The subject of this study were 10 people originally from Sidatapa village. The results of this study found that swear words used by the people in Sidapa village have their forms, references, and functions. There are three forms of swear words: (1) in the form of words, which divided into two: monomorphemic (sigug ‘mischievous’, bancih ‘transvestite’, kables ‘having intercourse’, etc) and polymorphemic (bebereke ‘putrid’, nusuk ‘poke’, ngamah ‘eat’, etc.), (2) in the form of phrases (belog-beloge ‘very stupid’, sedeng gati ‘very crazy’, lengeh buah ‘very stupid’, etc.), and (3) in the form of clauses (buduh mene ‘you are stupid’ , lengeh mene , ‘you are stupid’, ngamah gro gaen mene ‘you always eat’, etc.). The references of the swear words were related to: (a) activity, (b) animal terms, (c) body function, (d) excrement, (e) devils, (f) kinship, (g) mental illness, (h) personal background and (i) religion. The functions of swear words were: (a) aggressive, (b) integrative, (c) to create interpersonal identification, (d) to provide catharsis, (e) emphasis, (f) to provoke, (g) to draw attention, and (h) regressive. In this case, the used of swear word in Sidatapa village was not only in the form of negative meaning but also positive such as, for reducing their pain and also distress.keyword : Keywords: forms, function, swear word