cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Media Komunikasi Geografi
ISSN : 02168138     EISSN : 25800183     DOI : -
MKG is a journal that facilitates the interests of lecturers, teachers and the academic community to communicate articles from research results and strengthen the exchange of ideas from academic reviews in the field of geography. The academic articles include research and reviews of studies in Human Geography and Physical Geography, population and environmental reviews, regional issue investigations, resource management, disaster management, remote sensing techniques (RS) and the application of geographical information system (GIS) and in-depth discussion on the development of standards in education and geography teaching, both at school and college level.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2014)" : 6 Documents clear
Pelestarian Lingkungan Hidup Berbasis Kearifan Lokal (Local Wisdom) di Desa Tenganan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Adnyana, I Gede Ade Putra; Maitri, Nyoman Alita Udaya
Media Komunikasi Geografi Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1896.652 KB) | DOI: 10.23887/mkg.v15i2.11425

Abstract

Alam semesta diyakini sebagai satu kesatuan yang utuh oleh masyarakat Bali. Berdasar pada keyakinan tersebut dipahami bahwa manusia merupakan bagian dari lingkungan. Manusia berlandaskan norma-norma tidak tertulis yang diwariskan dalam mengatur perilakunya untuk mengelola lingkungan hidup. Norma yang dimaksud yakni kearifan lokal suatu wilayah. Desa Tenganan merupakan salah satu wilayah yang memiliki kearifan lokal yang kental dalam upaya melestarikan lingkungan hidup. Masyarakat Tenganan memiliki paham Jaga Satru dan Sekta Indra untuk mencegah kerusakan lingkungan, sedangkan upaya mengatasi permasalahan lingkungan hidup masyarakat di tenganan mengenal 5 tahapan terhadap pelaku perusak lingkungan, yakni: (1) Dosen, (2) Sikang, (3) Penging, (4) Sapa Sumaba, dan (5) Kesah. Lima tahapan terhadap pelaku perusakan lingkungan hidup bukan saja merupakan sistematika berupa hukuman, tetapi meliputi upaya perbaikan diri pada setiap tahapannya. Masyarakat diberikan tahapan memperbaiki diri sampai tahap keempat (Sapa Sumaba). Apabila masyarakat masih melakukan pelanggaran terhadap lingkungan hidup, maka orang tersebut dilepas statusnya dari keanggotaan masyarakat.
Pengembangan Wisata Alam dalam Perspektif Otonomi Daerah dan Dampak Lingkungan Yang Ditimbulkannya Suryadi, Made
Media Komunikasi Geografi Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.684 KB) | DOI: 10.23887/mkg.v15i2.11430

Abstract

Indonesia kaya akan obyek-obyek wisata alam yang potensial untuk dikembangkan yang merupakan aset daerah yang dapat meningkatkan pendapatan asli daerah, lebih-lebih setelah diundangkannya UU No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah. walaupun demikian pada kenyataannya masih banyak obyek wisata yang belum dapat dikembangkan karena ada kendala-kendala seperti kurang dikenalnya obyek wisata , kurangnya sarana dan prasarana pendukung. Di sisi lain terdapat juga obyek wisata alam yang sudah berkembang sedemikian jauh sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Pengembangan obyek wisata alam hendaknya harus mengkaji berbagai macam aspek, dan dapat melihat pada pengalaman yang lalu terhadap obyek wisata alam yang telah berkembang. Pengembangan obyek wisata walaupun pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat mealui peningkatan pendapatan asli daerah, tetapi dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yang harus mendapatkan kajian secar cermat.
PENEGAKAN SANKSI TERHADAP PELANGGARAN BAKU MUTU LIMBAH CAIR HOTEL MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 SEBAGAI ANTISIPASI KEMEROSOTAN KUALITAS LINGKUNGAN PANTAI DI BALI Budiarta, I Gede
Media Komunikasi Geografi Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.623 KB) | DOI: 10.23887/mkg.v15i2.11426

Abstract

Aturan mengenai standar baku mutu limbah cair untuk kegiatan hotel mengacu kepada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 52 Tahun 1995 yang mengatur tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel. Sanksi terhadap pelanggaran baku mutu limbah cair bagi kegiatan hotel secara jelas telah dimuat dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup. Namun realita di lapangan ternyata masih banyak ditemukan adanya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah cair hotel. Berdasarkan fenomena tersebut maka penegakan hukum terhadap pelanggaran baku mutu air limbah hotel harus dilakukan dengan tegas sesuai ketentuan yang berlaku. Sanksi administrasi dalam UUPPLH mengatur tentang pelanggaran izin lingkungan, seperti termuat dalam pasal 76 sampai dengan pasal 83. Sedangkan sanksi pidana terkait pelanggaran baku mutu limbah cair bersifat lebih spesifik seperti termuat dalam pasal 100 UUPPLH. Pasal 100 menekankan batas maksimum pidana penjara dan denda bagi pelanggar baku mutu limbah cair, namun tidak menyebutkan batas minimumnya. Upaya penegakan hukum lingkungan, khususnya terkait dengan pelanggaran baku mutu limbah cair mutlak dilakukan untuk menekan laju kerusakan lingkungan, khususnya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan hotel di Bali. Berbagai upaya pengawasan, baik yang bersifat preventif, persuasif, maupun represif harus dilakukan dan disesuaikan dengan realita yang terjadi di lapangan. UUPPLH juga telah mengatur upaya pengawasan lingkungan seperti tercantun pada pasal 71 sampai dengan pasal 75. Upaya-upaya tersebut diharapkan menjadi pemicu menurunnya pelanggaran terhadap baku mutu limbah cair hotel, khususnya di daerah Bali, agar lingkungan dapat terjaga untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DESA PEMUTERAN Dwiyasa, Ida Bagus Putra; Citra, I Putu Ananda
Media Komunikasi Geografi Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.452 KB) | DOI: 10.23887/mkg.v15i2.11427

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisis karakteristik masyarakat lokal  di Desa Pemuteran; 2) Menganalisis bentuk partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan ekowisata  di Desa Pemuteran; 3) Menganalisis tingkat partisipasi masyarakat  dalam pengembangan Ekowisata  di Desa Pemuteran.  Analisis yang digunakan dalam penelitian ini analisis adalah menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan jumlah sampel 96KK.  Pengambilan sampel ini mengggunakan teknik proporsional random sampling, pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, kuisioner, kepustakaan, pencatatan dokumen.  Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Karakteristik masyarakat lokal di Desa Pemuteran dapat dilihat dalam dua hal yaitu dalam bidang pendidikan dominan lulusan Sekolah Dasar dan bidang pekerjaannya dominan sebagai petani. (2)Bentuk partisipasi masyarakat lokal adalah bentuk partisipasi vertikal yang melibatkan masyarakat dalam suatu program pelatihan/penyuluhan yang diberikan oleh dinas terkait, dan partisipasi horizontal yang digagaskan langsung oleh masyarakat seperti pecalang dan kerja bakti. (3) Tingkat partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan ekowisata di Desa  Pemuteran tergolong tinggi,yaitu sebesar 77,67%.
PENGEMBANGAN KAWASAN PANTAI BERBASIS GEOMORFOLOGI Treman, I Wayan
Media Komunikasi Geografi Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.761 KB) | DOI: 10.23887/mkg.v15i2.11428

Abstract

Tenaga geomorfologi yang meliputi air, angin dan gletsyer memiliki peranan yang sangat penting dalam pembentukan permukaan bumi baik daratan maupun lautan. Wilayah pantai merupakan wilayah pertemuan antara daratan dan lautan. Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat proses endogen dan exogen akan dapat terlihat pada wilayah tersebut, baik perubahan dari geomorfologi, proses-proses erosi dan sedimentasi, jenis tanah dan batuan sedimen yang terbentuk, kondisi hidrogeologi, berbagai proses bencana alam, dan perubahan ekosistem maupun lingkungan manusia.Wilayah pantai yang umumnya datar, berbatasan dengan laut, banyak sungai, airtanah yang relatif dangkal, serta terkadang mengandung mineral ekonomis, berpandangan indah dan mempunyai terumbu karang tentu sangat menarik dan dapat mendukung berbagai pembangunan. Kota-kota, pelabuhan, pertanian dan perikanan, wisata bahari, kawasan industri, bahkan kadang-kadang penambangan mineral dan bahan bangunan dapat berkembang di wilayah pantai. Banyak kota besar, kota pelabuhan, kota perdagangan, dan ibu kota negara atau ibu kota daerah berada di sana. Pemanasan global yang berakibat naiknya muka laut dengan demikian akan dapat menimbulkan dampak yang serius bagi wilayah pantai tersebut.
DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP KETAHANAN PANGAN Suratha, I Ketut
Media Komunikasi Geografi Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.45 KB) | DOI: 10.23887/mkg.v15i2.11429

Abstract

Negara Indonesia merupakan Negara yang memiliki jumlah penduduk sangat besar. Jumlah penduduk di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan. Kepadatannya dapat dlihat pada tahun 2000 adalah 108 jiwa per km persegi. Jumlah ini meningkat menjadi 116 orang per kilometer persegi pada tahun 2005. Sejak manusia pertama kali menempati bumi, lahan sudah menjadi salah satu unsur utama dalam menunjang kelangsungan kehidupan atau lahan difungsikan sebagai tempat manusia beraktivitas. Aktifitas yang pertama kali dilakukan adalah pemanfaatan lahan untuk bercocok tanam (pertanian). Seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan peradaban manusia, penguasaan dan penggunaan lahan mulai terusik. Keterusikan ini akhirnya menumbuhkan kompleksitas permasalahan akibat pertambahan penduduk, penemuan dan pemanfaatan teknologi, serta dinamika pembangunan. Lahan yang semula berfungsi sebagai media bercocok tanam (pertanian) berangsur-angsur berubah menjadi multifungsi pemanfaatan, serta berdampak terhadap ketahanan pangan di Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 6