cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mediator
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue " Vol 5, No 1 (2004)" : 15 Documents clear
Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filsafat Itu Ibarat Orang BertanyaFilsafat itu ibarat orang bertanya. Ketika seorang biasa bertanya, apa arti Pancasila? Orang lain kerap memberengut. Buat apa nanya hal aneh? Lebih baik meributkan soal handphone terbaru, gosip kawin-cerai selebritis, atau jalan-jalan ke mall-mall. Ini lebih penting. Filsafat? Wah barang deluxe. Kenapa? Sebab, belajar filsafat, antara lain, ialah belajar bertanya.Bertanya tentang apa saja. Bertanya tentang ini-itu yang seringkali tidak ada hubungannya dengan urusan sehari-hari.Apa iya? Tidak selalu. Ambil contoh Sokrates. Ia, filsuf Yunani, yang banyak disebut orang yang suka bertanya. Filsuf yang memulai pikiran filsafatnya dengan bertanya, bertanya, dan bertanya. Ia adalah seorang guru yang tidak mengajar secara naratif. Ia tidak mendongengkan teori atau rumusrumus dengan deskripsi. Ia mengajar, seringnya, dengan bertanya. Akan tetapi, pertanyaannya tajam dan menusuk. Orang yang ditanya akan terperangah, dan tentu saja (seperti dongeng kehebatan para filsuf) orang yang ditanya akan menemukan Kebenaran, dengan “K”.Sokrates menarik Kebenaran itu bagai seorang bidan menarik bayi keluar dari kandungan. “Kebenaran kutarik dari otak murid-muridku, seperti ibuku yang jadi bidan menarik bayi keluar dari kandungan,” gurau Sokrates. MAW Brouwer mengutip omongan Sokrates ketika menjelaskan apa arti filsafat bagi orang-seorang. “Banyak orang sombong yang menganggap dirinya mengetahui banyak hal, masuk perangkap Sokrates dan mulai gugup, menjadi ragu-ragu, mulai sangsi, dan runtuhlah tembok sempit,” tulis Brouwer, dalam Cahaya Ilahi dan Opera Manusia (2004:116). Dan, bila orang itu punya banyak kerendahan hati, ia akan masuk dunia pemikiran “pasar bebas” tanpa dogmatisme dan sensorisme. Tapi, masalahnya, tidak semua orang mau berlapang dada. Mau menyediakan ruang kemauan yang jembar, luas, untuk memikirkan sesuatu yang sudah galib jadi pikiran umum. Pikiran-pikiran yang telah dipatok oleh sekian banyak orang pintar; sekian dalil yang dipaksa harus dipahami sejak taman kanakkanak; sekian aturan undang-undang yang diwajibkan harus dipatuhi. Apalagi, hidup sehari-hari sudah begitu rumit, melelahkan, dan bikin puyeng. Mereka telah lelap dalam tidur dogmatis atau ideologi instant philosophy. Dan, jika dibangunkan oleh pertanyaan-pertanyaan filsafat, mereka seperti mendengar gonggongan anjing yang berbunyi “waf, waf” – anjing Yunani, menurut Brouwer, menyebut “waf-waf” karena “mereka tak bisa bahasa Indonesia” – mereka akan tersentak, menggerutu, dan bersungut-sungut: “Huh!” Bahkan, mungkin, mereka akan menyebut “provokator, subversif, merusak akhlak dan moral bangsa, harus diinterogasi,....”Semua itu, menurut Alex Sobur dalam “Mitos dan Kenikmatan Filsafat: Pengantar ke Pemikiran Filsafat Komunikasi”, di MediaTor kali ini, dikarenakan filsafat memiliki sejumlah mitos yang sering mengurungkan minat orang mempelajarinya. Filsafat dianggap sebagai barang yang absurd, ruwet, dan sia-sia. Padahal, mempelajari filsafat itu punya manfaat yang cukup signifikan. Bagi kalangan akademisi, misalnya, belajar filsafat dapat meluaskan pandangan, dan menempatkan suatu bidang ilmiah dalam perspektif yang lebih luas; mendorong berpikir kritis dan menganalisis segala masalah secara tajam; segala pemikiran dan cara pengungkapannya dapat diasah dan dipertajam; membuat paham secara lebih mendalam dunia di mana kita hidup; melalui studi etika – salah satu cabang filsafat – dapat menancapkan kesadaran etis dalam jiwa seseorang.Untuk disiplin komunikasi, komunikasi jadi dianalisis kritis dan diakletis. Dari filsafat, peneliti diajak Salam. Filsafat Itu Ibarat Orang Bertanya vi bersikap kritis, tidak berhenti di satu titik dan garis pemikiran, serta siap membongkar pemahaman yang sudah ada lewat diskusi lebih lanjut. Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis, teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya. Filsafat mempersoalkan apakah hakikat manusia komunikan, dan bagaimana ia menggunakan komunikasi untuk berhubungan dengan realitas lain di alam semesta ini. Filsafat melihat posisi komunikasi dalam hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta.Belajar filsafat bahkan membuka ruang diri orang-seorang untuk bersikap emansipatoris. Lewat tokoh bernama Jurgen Habermas, hal itu misalnya ditemukan. Irfan Safrudin, dalam “Etika Emansipatoris Jurgen Habermas: Etika Paradigmatik di Wilayah Praksis”, mengungkapkannya. Berangkat dari latar Teori Kritis, yang mengiblat kepada pendekatan praxis sejarah tertentu, digagas pembebasan terhadap kezaliman nilai dan norma yang mengungkung tanpa terasa. Dasar teori kritis muncul melalui adagium pembebasan manusia dari perbudakan, membangun masyarakat atas dasar hubungan antarpribadi yang merdeka dan pemulihan kedudukan manusia sebagai subjek yang mengelola sendiri kenyataan sosialnya.Habermas menyebut perspektif Teori Kritisnya, yang berangkat dari tradisi-tradisi besar ilmu ilmu sosial, dengan “Teori Tindakan Komunikatif”. Lewat tilikan filosofisnya, ia menolak objektivitas filsafat dan ilmu-ilmu sosial yang mengandung kepentingan kekuasaan. Etika emansipatoris menuntut suatu keterbukaan, tidak ada dominasi satu keyakinan moral suatu lingkungan tertentu terhadap keyakinan moral lainnya. Lewat upaya kegiatan berpikir filsafat, dalam bidang komunikasi, pula Teguh Ratmanto dalam “Pesan: Tinjauan Bahasa, Semiotika, dan Hermeneutika”, mengulas seluk-beluk “pesan”. Pesan merupakan salah satu unsur penting dalam komunikasi, dan bahasa menjadi wadah pemuat pesan. Ketika orang menyampaikan pesan, dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal, ia sebenarnya sedang merepresentasika  realitas. Dari sanalah, bisa dinilai, bahwa cara berbahasanya juga mencerminkan cara orang memandang realitas. Secara semiotis, pesan yang disampaikan seseorang itu mengandung selingkup tanda yang membawa muatan berbagai konsep dan makna. Secara hermeneutis, berbagai konsep dan makna yang dikandung di dalam sebuah pesan itu dapat ditelusuri asbabun nuzul-nya, baik itu berupa ruang sosial maupun konteks-konteks sosial yang menyertainya.Berbagai pertandaan itu bisa diurut sampai ke penyampaian pesan dalam bentuk iklan. Yasraf Amir Piliang, dalam “Iklan, Informasi, atau Simulasi?: Konteks Sosial dan Kultural Iklan”  menunjukkan bahwa di tiap iklan itu ada unsur jebakan sosial dan kultur manipulatif. Ada penanda (signifier), dan petanda (signified), di dalam iklan, selain objek, konteks, dan teks. Penanda, di dalam iklan, ialah berbagai materi yang diiklankan seperti gambar, foto, atau ilustrasi. Petandanya ialah konsep atau makna di balik tanda tadi. Objek ialah produk yang diiklankan. Konteks ialah gambar-gambar lain di sekitar objek. Dan teks ialah berbagai tulisan, atau keterangan tertulis.Kesemua unsur itulah yang membungkus iklan di dalam pemaknaan tertentu. Kita menerima sebuah iklan karena pemaknaan tersebut. Ketika kita menonton dan mendengar teriakan “hari gini kagak punya handphone”, kita tengah coba memaknai sebuah realitas simulasi. Ada dua kemasan makna yang dilempar sebuah iklan. Makna yang bersifat mirror of reality, yakni pengemasan produk sebuah iklan yang dibuat sesuai dengan realitas sesungguhnya, dan makna distorted mirror of reality, yaitu pengemasan iklan yang produk sesungguhnya tidak sesuai dengan realitas.Masyarakat kini bisa terjebak secara konteks dan kultural oleh manipulasi realitas yang dikemas iklan. Seorang anak sekolah dasar, seperti disinyalir sebuah pemberitaan, berteriak kepada ibunya meminta dibelikan handphone gara-gara teriakan iklan “hari ini gini kagak punya handphone”. Ia didorong oleh realitas semu iklan. Ia diajak terbang menyimulasikan realitas kehidupan seorang anak sekolah dasar sehari-harinya dengan perangkat handphone. Ia bisa jadi tak mampu mengerem antara kebutuhan handphone-nya dengan kepentingan riil lain. Ia terperosok dalam lubang simulasi ketiadaan handphone di zaman sekarang adalah ibarat orang yang hidup di dalam kepompong sosial, di hutan belantara, atau di gunung tinggi para sufis. Ia tidak merasa menjadi anak sekolah dasar bila tidak mempunyai handphone.Ia tidak lagi membeli barang atas dasar fungsi, atau substansi, melainkan makna simbolik Ihwal manipulasi pemaknaan ini, menyentuh bidang kehidupan lainnya. Misalnya, upaya perekaan makna realitas yang diungkapkan seseorang itu dipengaruhi oleh warna ideologis tertentu. Hal ini dicontohkan H. Karomani, dalam “Pengaruh Ideologi terhadap Wacana Berita dalam Media Massa”. Temuan Karomani berangkat dari pemikiran bahwa individu manusia itu tidaklah netral dalam menafsirkan sesuatu. Ia selalu dipengaruhi oleh pelbagai kekuatan ideologi tertentu. Begitupun individu manusia seorang wartawan sebagai pelaku pelaporan peristiwa-berita. Akibatnya, berbagai pemberitaan media massa ternyata memiliki warna ideologis. Realitas peristiwa berita yang dilaporkan kepada masyarakat ternyata merupakan hasil olahan pandangan ideologis wartawan.Tapi, individu manusia itu tentu saja bukan manusia bodoh yang tidak punya niat baik. Nilai nilai keagamaan merupakan dasar penting bagi ekspektasi pencarian pengembangan hidup yang lebih baik. Maka itu, sebagai individu, manusia yang diresidu ideologis tertentu, nilai-nilai keislaman merupakan perangkat yang bisa diejawantahkan ke dalam kosmologi ruang publik. M. Wildan Yahya, dalam “Strategi Dakwah Islam dalam Pengembangan Seni dan Peradaban”, memetakan bagaimana seni menjadi sebuah medium Islam mewarnai peradaban. Seni menjadi sarana individu Muslim mendakwahkan Islam. Hal-hal apa saja yang mendorongnya? Lewat seni, esensi al-Tauhid meluncur jadi cahaya indah di dalam lantunan nada dan syair nasyid. Dengan mengambil buhul seni sebagai pengikat, untuk menjabarkan Islam ke dalam fungsi-fungsi pengingat tauhid, transfigurasi material, transfigurasi struktur, dan keindahan.Nah, jika sudah dikemas ke dalam pemikiran dan warna ideologis macam itu, individu manusia tinggal mengarahkan pemikirannya. Ia minimal memiliki kesadaran untuk tidak begitu saja dimanipulasi simulasi-simulasi realitas semu. Namun, yang terlebih penting, kemauan untuk bertanya. Mau membongkar pikiran, menyingkirkan malas, untuk menyoal pelbagai peristiwa di sekitar kita secara filosofis. Tentu saja, tanpa berkehendak untuk jadi seorang filsuf yang instant philosophy.
Etika Emansipatoris Jurgen Habermas: Etika Paradigmatik di Wilayah Praksis Safrudin, Irfan
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bermula dari pemikiran Marx, Habermas mengembangkan filsafat kritis. Filsafat ini berkaitan erat dengan kritik terhadap hubungan-hubungan sosial yang nyata, dan merasa diri bertanggungjawab atas keadaan sosial. Namun, ia bukanlah semacam teori transformasi masyarakat yang tinggal dilaksanakan. Ciri khas pemikiran kritis: di satu pihak, perdebatan tetap berlangsung di tingkat filosofis-teoretis, jadi tidak mau menjadi sebuah ideologi perjuangan; dan di pihak lain, ia justru sebagai kegiatan teoretis yang tetap tinggal dalam medium pikiran, maka filsafat kritis menjadi praktis. Habermas mendialogkan Teori Kritisnya yang disebut “Teori Tindakan Komunikatif” dengan tradisi-tradisi besar ilmu-ilmu sosial. Teori Kritis melakukan pemihakan pada praxis sejarah tertentu, yaitu pembebasan manusia dari perbudakan, membangun masyarakat atas dasar hubungan antarpribadi yang merdeka dan pemulihan kedudukan manusia sebagai subjek yang mengelola sendiri kenyataan sosialnya. Teori Kritis didorong oleh kepentingan emansipatoris. Ia menolak objektivitas filsafat dan ilmuilmu sosial, karena—menurutnya—di belakang objektivitas tersembunyi kepentingan struktur kekuasaan untuk tidak diganggu-gugat. Habermas merumuskan bahwa ‘praxis’ harus dipahami sebagai bentuk interaksi atau komunikasi. Komunikasi merupakan interaksi yang diantarakan secara simbolis, menurut bahasa. Bahasa sebagai media dalam komunikasi harus dipahami lewat metode hermeneutika. Dari sinilah etika diskursus dirumuskan dengan bentuk konsensus yang bebas dari paksaan dan memungkinkan adanya dialog intersubjektivitas terbuka. Etika emansipatoris menuntut suatu keterbukaan, tidak ada dominasi satu keyakinan moral suatu lingkungan tertentu terhadap keyakinan moral lainnya.
Mitos dan Kenikmatan Filsafat: Pengantar ke Pemikiran Filsafat Komunikasi Sobur, Alex
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filsafat memiliki sejumlah mitos yang sering mengurungkan minat orang mempelajarinya: filsafat itu abstrak, sulit, tidak memiliki kegunaan praktis. Namun, sesungguhnya filsafat memiliki banyak kegunaan: (1) filsafat dapat membantu untuk memperluas pandangan, menempatkan suatu bidang ilmiah dalam perspektif yang lebih luas; (2) filsafat dapat membantu untuk belajar berpikir kritis dan menganalisis segala masalah yang timbul secara tajam; (3) melalui filsafat, segala pemikiran dan cara pengungkapannya dapat diasah dan dipertajam; (4) melalui studi filsafat, kita dapat mengerti lebih mendalam dunia di mana kita hidup; (5) studi etika—sebagai salah satu cabang filsafat—dapat menanamkan kesadaran etis dalam jiwa seseorang. Dalam dunia ilmu, secara teoretis filsafat mampu memberikan pemahaman yang esensial tentang manusia, sehingga pada gilirannya kita bisa meninjau secara kritis asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik teori-teori yang terdapat di dalambidang ilmu kita masing-masing; secara praktis, filsafat berguna untuk mengetahui apa dan siapa manusia secara menyeluruh. Berkaitan dengan komunikasi, filsafat meneliti komunikasi secara kritis dan diakletis. Filsafat bersikap kritis, tidak pernah berpuas diri, selalu bersedia membuka kembali perdebatan. Sikap kritis terhadap dirinya sendiri termasuk hakikat filsafat. Dialektis berarti bahwa setiap kebenaran menjadi lebih benar dengan setiap putaran tesis—antitesis dan antitesisnya antitesis. Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis, teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya. Filsafat mempersoalkan apakah hakikat manusia komunikan, dan bagaimana ia menggunakan komunikasi untuk berhubungan dengan realitas lain di alam semesta ini. Filsafat melihat posisi komunikasi dalam hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta.
Pesan: Tinjauan Bahasa, Semiotika, dan Hermeneutika Ratmanto, Teguh
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesan merupakan salah satu unsur penting dalam komunikasi. Pesan komunikasi dikemas melalui bahasa, verbal atau nonverbal. Setiap bahasa memiliki kemampuan yang berbeda dalam merepresentasikan realitas, dan pada gilirannya ia juga mempengaruhi cara orang memandang realitas. Dalam tinjauan semiotika, pesan merupakan sebuah tanda. Tanda menunjukkan konsep yang sekaligus memuat makna tertentu. Makna memiliki beberapalapisan, sesuai dengan konteks sosial dari tanda. Menurut hermeneutika, pesan akan dipahami maknanya berdasarkan bahasa pemahaman penerima, tidak melulu tergantung pada apa yang dimaksudkan sumber pesan. Pesan dapat dinalisis maknanya ke tingkat yang mendalam. Hermeneutika menyediakan seni dan metode untuk menginterpretasikan suatu pesan.
Pengaruh Ideologi terhadap Wacana Berita dalam Media Massa Karomani, Karomani
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam pandangan kritis, individu tidak netral dalam menafsirkan sesuatu, ia amat dipengaruhi kekuatan sosial yang ada di masyarakatnya. Begitu pula dengan wacana berita dalam media, ia sarat pengaruh ideologi tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media berbeda dalam melihat fakta. Realitas yang disajikan kepada masyarakat merupakan olahan dari pandangan, ideologi, pemahaman dan pemaknaan wartawan.
Kemungkinan Bahasa Sastra Diadopsi Jurnalisme Santana, Septiawan
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya penyampaian pesan jurnalistik cetak, yang ber-feed back tidak langsung, diatasi dengan lebih mengaransir aspek “human interest” dalam susunan pelaporan. Efek medium “cetak”, yang tidak audio visual, dieliminir jurnalisme. Tiap peristiwa yang diletakkan tiap ujud fakta, dikemas lagi ke dalam pengisahan teknik “fiksi” sastra untuk menghampiri “bayangan” pembaca akan news value (nilai berita) yang punya daya greget. Pembaca diharapkan akan asyik membayangkan rincian kisah fakta-berita yang tengah aktual terjadi, serta akan diberi ulasan yang lebih mendalam dalam perspektif yang lebih meluas. Kekuatan tulisan sastra, misalnya, menjadi alat menjiplak jurnalis: mengembangkan sebuah pelaporan yang lebih menggigit “dramatisasi”, dan pelebaran isi pesan (pemaknaan) dienkoding masyarakat. Pencairan fakta dan fiksi, misal yang lain, juga membangun kepercayaan bahwa kenyataan “semiotis” pun memiliki daya guna bagi pelaporan fakta-berita. Kenyataan sosial dan realitas empirik ternyata bisa didekati dengan sebuah upaya membangun penyampaian pesan lewat semiotika pencitraan.
Iklan, Informasi, atau Simulasi?: Konteks Sosial dan Kultural Iklan Piliang, Yasraf Amir
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iklan terdiri dari tanda-tanda (signs). Dalan tanda, tercakup penanda (signifier), yakni materi yang diklankan: gambar, foto, atau ilstrasi; dan petanda (signified), yakni konsep atau makna di balik tanda tadi. Di sisi lain, iklan juga mencakup objek (produk yang diiklankan), konteks (gambar-gambar lain di sekitar objek, dan teks (tulisan, keterangan tertulis). Makna yang muncul bisa bersifat eksplisit, bisa pula implisit. Ketika sebuah iklan dikemas sesuai dengan realitas sesungguhnya dari produk yang ditawarkan, iklan tersebut menjadi semacam mirror of reality. Sebaliknya, bila kemasan iklan itu tidak sesuai dengan realitas produk yang sesungguhnya, maka ia menjadi semacam distorted mirror of reality. Distorted mirror of reality melahirkan simulasi dan kekerasan tanda. Dalam hal ini, iklan telah membangun logika baru: logika tanda dan logika citra. Tanda dan citra —bukan nilai utilitas, fungsi, atau substansi dtri produk— mengarahkan orang untuk membeli. Citra itu sendiri merupakan rangkaian ilusi yang disuntikkan pada komoditas. Tanda dimobilisasi ke dalam berbagai bentuk komoditas berdasarkan logika perbedaan; dan, dengan demikian, konsumsi menjadi sebuah sistem tanda. Orang tidak lagi membeli barang atas dasar fungsi atau substansi, melainkan makna simbolik. Dalam iklan, kini citra menjadi instrumen utama strategi penguasaan jiwa konsumen. Kemasan iklan demikian, pada akhirnya, membangun jurang antara citra yang ditampilkan dengan realitas produk sesungguhnya, dan pada gilirannya ia melakukan penipuan terhadap publik. Tentu saja ini harus dicarikan solusinya.
Menimbang Iklan Politik di Media Massa Menjelang Pemilihan Presiden 2004 Mulyana, Deddy
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai penelitian menunjukkan, pemberitaan kampanye politik tidak begitu berpengaruh untuk mengubah perilaku memilih, selain memperteguh kecenderungan yang sudah ada. Oleh karena itu, iklan politik di kita – yang mirip dengan iklan kecap yang selalu mengklaim sebagai nomor satu–paling banter sekadar mengekalkan memori khalayak bahwa para capres dan cawapres itu eksis dan dapat dipertimbangkan untuk dipilih. Berdasarkan Teori Penggolongan Sosial, kesetiaan khalayak kepada partai politik atau kandidat politik lebih bersifat primordial, alih-alih merupakan pilihan rasional. Keanggotaan orang-orang dalam suatu kelompok tertentu menimbulkan dampak yang penting atas perilaku mereka. Media massa mungkin berhasil mempengaruhi massa untuk mengubah pilihan bila komunikasi tatap-muka juga digunakan untuk memperteguh pesan-pesan media massa. Bila komunikasi tatap-muka tidak dilakukan, pilihan seseorang akan lebih dipengaruhi kelompok rujukannya. Dalam konteks demikian, kampanye politik –lewat media massa– akan berdampak penting terutama bagi khalayak yang belum punya pilihan. Dengan asumsi bahwa setiap pertambahan suara itu penting, maka kampanye politik, termasuk iklan politik, harus dirancang sungguh-sungguh untuk menciptakan citra kandidat sebaik mungkin. Dan, para tim sukses sebaiknya tidak menggunakan iklan sloganistik, melainkan yang dramatik, tetapi rasional, tidak jauh dari kenyataan para kandidat. Untuk itu, media yang tepat adalah televisi. Dalam media ini, komunikasi verbal dan nonverbal, termasuk penampilan, perlu diperhatikan untuk mengarahkan kandidat agar tampil prima di mata khalayak. Lewat acara debat di televisi, sang kandidat dapat menampilkan citra-dirinya semaksimal mungkin, mulai dari kepribadian, kecerdasan hingga daya tarik fisiknya.
Merancang Kampanye Pemilu Hirzi, Aziz Taufik
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilu merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi, karena pada saat itulah rakyat berkesempatan mencurahkan segala aspirasinya kepada para kandidat/politisi dalam rangka membangun bangsa. Dalam kampanye, masalah program mestinya menjadi perhatian serius kandidat karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Program yang dimaksud adalah program kandidat yang akan ditawarkan kepada konstituen dan akan diperjuangkan pada saat kandidat terpilih. Pemilihan Umum di Indonesia, khususnya Pemilu Presiden yang menggunakan sistem baru ini, dapat dikatakan sebagai pembelajaran bagi kandidat, rakyat, dan pemerintah, walaupun dalam kampanye di televisi belum ada debat antarkandidat, selain kampanye monolog atau dialog antara kandidat dengan penonton di studio. Perancang acara yang tergabung dalam tim sukses/manajemen kampanye harus merancang acara kampanye dengan memperhatikan waktu, tempat, materi kampanye, dan metode kampanye (monolog/dialog/diskusi), serta sifat kampanye (tertutup-terbatas, terbuka-massal). Tim kampanye perlu memperhatikan segmentasi dari khalayak sasaran. Keragaman mereka dalam berbagai hal menuntut pendekatan yang beragam pula. Sebuah kontestan politik harus menciptakan gaya dan standar komunikasi melalui simbol-simbol, acara, dan retorika.
Konstruksi Komunikasi Internasional Trenggono, Nanang
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi internasional adalah spesialisasi ilmu komunikasi yang dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori. Pertama, fenomena yang menjadi pembahasan dominan sarjana komunikasi, yaitu media internasional. Kedua, fenomena yang meliputi komunikasi politik internasional, hubungan internasional, dan hubungan antarbudaya. Dua kategori studi ini dipadukan sebagai fokus kajian komunikasi internasional sebagai implikasi dari revolusi teknologi informasi-komunikasi global, sehingga dapat disimpulkan bahwa kajian komunikasi internasional (international communication) memiliki dimensi-dimensi komunikasi politik internasional (international political communication), hubungan internasional (international relations) dan hubungan antarbudaya (intercultural relations). Sesuai dengan tahap perkembangannya, ada dua perspektif pokok dalam studi komunikasi internasional, yakni (1) perspektif sistem dan filsafat, dan (2) perspektif transmisional atau arus informasi global yang memunculkan perdebatan antara pandangan dominasi media Barat dalam informasikomunikasi global versus kontribusi media Barat dalam keseimbangan informasi-komunikasi global.

Page 1 of 2 | Total Record : 15