Filsafat Itu Ibarat Orang BertanyaFilsafat itu ibarat orang bertanya. Ketika seorang biasa bertanya, apa arti Pancasila? Orang lain kerap memberengut. Buat apa nanya hal aneh? Lebih baik meributkan soal handphone terbaru, gosip kawin-cerai selebritis, atau jalan-jalan ke mall-mall. Ini lebih penting. Filsafat? Wah barang deluxe. Kenapa? Sebab, belajar filsafat, antara lain, ialah belajar bertanya.Bertanya tentang apa saja. Bertanya tentang ini-itu yang seringkali tidak ada hubungannya dengan urusan sehari-hari.Apa iya? Tidak selalu. Ambil contoh Sokrates. Ia, filsuf Yunani, yang banyak disebut orang yang suka bertanya. Filsuf yang memulai pikiran filsafatnya dengan bertanya, bertanya, dan bertanya. Ia adalah seorang guru yang tidak mengajar secara naratif. Ia tidak mendongengkan teori atau rumusrumus dengan deskripsi. Ia mengajar, seringnya, dengan bertanya. Akan tetapi, pertanyaannya tajam dan menusuk. Orang yang ditanya akan terperangah, dan tentu saja (seperti dongeng kehebatan para filsuf) orang yang ditanya akan menemukan Kebenaran, dengan “K”.Sokrates menarik Kebenaran itu bagai seorang bidan menarik bayi keluar dari kandungan. “Kebenaran kutarik dari otak murid-muridku, seperti ibuku yang jadi bidan menarik bayi keluar dari kandungan,” gurau Sokrates. MAW Brouwer mengutip omongan Sokrates ketika menjelaskan apa arti filsafat bagi orang-seorang. “Banyak orang sombong yang menganggap dirinya mengetahui banyak hal, masuk perangkap Sokrates dan mulai gugup, menjadi ragu-ragu, mulai sangsi, dan runtuhlah tembok sempit,” tulis Brouwer, dalam Cahaya Ilahi dan Opera Manusia (2004:116). Dan, bila orang itu punya banyak kerendahan hati, ia akan masuk dunia pemikiran “pasar bebas” tanpa dogmatisme dan sensorisme. Tapi, masalahnya, tidak semua orang mau berlapang dada. Mau menyediakan ruang kemauan yang jembar, luas, untuk memikirkan sesuatu yang sudah galib jadi pikiran umum. Pikiran-pikiran yang telah dipatok oleh sekian banyak orang pintar; sekian dalil yang dipaksa harus dipahami sejak taman kanakkanak; sekian aturan undang-undang yang diwajibkan harus dipatuhi. Apalagi, hidup sehari-hari sudah begitu rumit, melelahkan, dan bikin puyeng. Mereka telah lelap dalam tidur dogmatis atau ideologi instant philosophy. Dan, jika dibangunkan oleh pertanyaan-pertanyaan filsafat, mereka seperti mendengar gonggongan anjing yang berbunyi “waf, waf” – anjing Yunani, menurut Brouwer, menyebut “waf-waf” karena “mereka tak bisa bahasa Indonesia” – mereka akan tersentak, menggerutu, dan bersungut-sungut: “Huh!” Bahkan, mungkin, mereka akan menyebut “provokator, subversif, merusak akhlak dan moral bangsa, harus diinterogasi,....”Semua itu, menurut Alex Sobur dalam “Mitos dan Kenikmatan Filsafat: Pengantar ke Pemikiran Filsafat Komunikasi”, di MediaTor kali ini, dikarenakan filsafat memiliki sejumlah mitos yang sering mengurungkan minat orang mempelajarinya. Filsafat dianggap sebagai barang yang absurd, ruwet, dan sia-sia. Padahal, mempelajari filsafat itu punya manfaat yang cukup signifikan. Bagi kalangan akademisi, misalnya, belajar filsafat dapat meluaskan pandangan, dan menempatkan suatu bidang ilmiah dalam perspektif yang lebih luas; mendorong berpikir kritis dan menganalisis segala masalah secara tajam; segala pemikiran dan cara pengungkapannya dapat diasah dan dipertajam; membuat paham secara lebih mendalam dunia di mana kita hidup; melalui studi etika – salah satu cabang filsafat – dapat menancapkan kesadaran etis dalam jiwa seseorang.Untuk disiplin komunikasi, komunikasi jadi dianalisis kritis dan diakletis. Dari filsafat, peneliti diajak Salam. Filsafat Itu Ibarat Orang Bertanya vi bersikap kritis, tidak berhenti di satu titik dan garis pemikiran, serta siap membongkar pemahaman yang sudah ada lewat diskusi lebih lanjut. Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis, teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya. Filsafat mempersoalkan apakah hakikat manusia komunikan, dan bagaimana ia menggunakan komunikasi untuk berhubungan dengan realitas lain di alam semesta ini. Filsafat melihat posisi komunikasi dalam hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta.Belajar filsafat bahkan membuka ruang diri orang-seorang untuk bersikap emansipatoris. Lewat tokoh bernama Jurgen Habermas, hal itu misalnya ditemukan. Irfan Safrudin, dalam “Etika Emansipatoris Jurgen Habermas: Etika Paradigmatik di Wilayah Praksis”, mengungkapkannya. Berangkat dari latar Teori Kritis, yang mengiblat kepada pendekatan praxis sejarah tertentu, digagas pembebasan terhadap kezaliman nilai dan norma yang mengungkung tanpa terasa. Dasar teori kritis muncul melalui adagium pembebasan manusia dari perbudakan, membangun masyarakat atas dasar hubungan antarpribadi yang merdeka dan pemulihan kedudukan manusia sebagai subjek yang mengelola sendiri kenyataan sosialnya.Habermas menyebut perspektif Teori Kritisnya, yang berangkat dari tradisi-tradisi besar ilmu ilmu sosial, dengan “Teori Tindakan Komunikatif”. Lewat tilikan filosofisnya, ia menolak objektivitas filsafat dan ilmu-ilmu sosial yang mengandung kepentingan kekuasaan. Etika emansipatoris menuntut suatu keterbukaan, tidak ada dominasi satu keyakinan moral suatu lingkungan tertentu terhadap keyakinan moral lainnya. Lewat upaya kegiatan berpikir filsafat, dalam bidang komunikasi, pula Teguh Ratmanto dalam “Pesan: Tinjauan Bahasa, Semiotika, dan Hermeneutika”, mengulas seluk-beluk “pesan”. Pesan merupakan salah satu unsur penting dalam komunikasi, dan bahasa menjadi wadah pemuat pesan. Ketika orang menyampaikan pesan, dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal, ia sebenarnya sedang merepresentasika realitas. Dari sanalah, bisa dinilai, bahwa cara berbahasanya juga mencerminkan cara orang memandang realitas. Secara semiotis, pesan yang disampaikan seseorang itu mengandung selingkup tanda yang membawa muatan berbagai konsep dan makna. Secara hermeneutis, berbagai konsep dan makna yang dikandung di dalam sebuah pesan itu dapat ditelusuri asbabun nuzul-nya, baik itu berupa ruang sosial maupun konteks-konteks sosial yang menyertainya.Berbagai pertandaan itu bisa diurut sampai ke penyampaian pesan dalam bentuk iklan. Yasraf Amir Piliang, dalam “Iklan, Informasi, atau Simulasi?: Konteks Sosial dan Kultural Iklan” menunjukkan bahwa di tiap iklan itu ada unsur jebakan sosial dan kultur manipulatif. Ada penanda (signifier), dan petanda (signified), di dalam iklan, selain objek, konteks, dan teks. Penanda, di dalam iklan, ialah berbagai materi yang diiklankan seperti gambar, foto, atau ilustrasi. Petandanya ialah konsep atau makna di balik tanda tadi. Objek ialah produk yang diiklankan. Konteks ialah gambar-gambar lain di sekitar objek. Dan teks ialah berbagai tulisan, atau keterangan tertulis.Kesemua unsur itulah yang membungkus iklan di dalam pemaknaan tertentu. Kita menerima sebuah iklan karena pemaknaan tersebut. Ketika kita menonton dan mendengar teriakan “hari gini kagak punya handphone”, kita tengah coba memaknai sebuah realitas simulasi. Ada dua kemasan makna yang dilempar sebuah iklan. Makna yang bersifat mirror of reality, yakni pengemasan produk sebuah iklan yang dibuat sesuai dengan realitas sesungguhnya, dan makna distorted mirror of reality, yaitu pengemasan iklan yang produk sesungguhnya tidak sesuai dengan realitas.Masyarakat kini bisa terjebak secara konteks dan kultural oleh manipulasi realitas yang dikemas iklan. Seorang anak sekolah dasar, seperti disinyalir sebuah pemberitaan, berteriak kepada ibunya meminta dibelikan handphone gara-gara teriakan iklan “hari ini gini kagak punya handphone”. Ia didorong oleh realitas semu iklan. Ia diajak terbang menyimulasikan realitas kehidupan seorang anak sekolah dasar sehari-harinya dengan perangkat handphone. Ia bisa jadi tak mampu mengerem antara kebutuhan handphone-nya dengan kepentingan riil lain. Ia terperosok dalam lubang simulasi ketiadaan handphone di zaman sekarang adalah ibarat orang yang hidup di dalam kepompong sosial, di hutan belantara, atau di gunung tinggi para sufis. Ia tidak merasa menjadi anak sekolah dasar bila tidak mempunyai handphone.Ia tidak lagi membeli barang atas dasar fungsi, atau substansi, melainkan makna simbolik Ihwal manipulasi pemaknaan ini, menyentuh bidang kehidupan lainnya. Misalnya, upaya perekaan makna realitas yang diungkapkan seseorang itu dipengaruhi oleh warna ideologis tertentu. Hal ini dicontohkan H. Karomani, dalam “Pengaruh Ideologi terhadap Wacana Berita dalam Media Massa”. Temuan Karomani berangkat dari pemikiran bahwa individu manusia itu tidaklah netral dalam menafsirkan sesuatu. Ia selalu dipengaruhi oleh pelbagai kekuatan ideologi tertentu. Begitupun individu manusia seorang wartawan sebagai pelaku pelaporan peristiwa-berita. Akibatnya, berbagai pemberitaan media massa ternyata memiliki warna ideologis. Realitas peristiwa berita yang dilaporkan kepada masyarakat ternyata merupakan hasil olahan pandangan ideologis wartawan.Tapi, individu manusia itu tentu saja bukan manusia bodoh yang tidak punya niat baik. Nilai nilai keagamaan merupakan dasar penting bagi ekspektasi pencarian pengembangan hidup yang lebih baik. Maka itu, sebagai individu, manusia yang diresidu ideologis tertentu, nilai-nilai keislaman merupakan perangkat yang bisa diejawantahkan ke dalam kosmologi ruang publik. M. Wildan Yahya, dalam “Strategi Dakwah Islam dalam Pengembangan Seni dan Peradaban”, memetakan bagaimana seni menjadi sebuah medium Islam mewarnai peradaban. Seni menjadi sarana individu Muslim mendakwahkan Islam. Hal-hal apa saja yang mendorongnya? Lewat seni, esensi al-Tauhid meluncur jadi cahaya indah di dalam lantunan nada dan syair nasyid. Dengan mengambil buhul seni sebagai pengikat, untuk menjabarkan Islam ke dalam fungsi-fungsi pengingat tauhid, transfigurasi material, transfigurasi struktur, dan keindahan.Nah, jika sudah dikemas ke dalam pemikiran dan warna ideologis macam itu, individu manusia tinggal mengarahkan pemikirannya. Ia minimal memiliki kesadaran untuk tidak begitu saja dimanipulasi simulasi-simulasi realitas semu. Namun, yang terlebih penting, kemauan untuk bertanya. Mau membongkar pikiran, menyingkirkan malas, untuk menyoal pelbagai peristiwa di sekitar kita secara filosofis. Tentu saja, tanpa berkehendak untuk jadi seorang filsuf yang instant philosophy.