cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mediator
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 294 Documents
Membangun dan Menyosialisasikan Budaya Organisasi sebagai Keunggulan Kompetitif Yuningsih, Ani
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya organisasi adalah salah satu faktor yang perlu dibangun, dikembangkan, dipelihara dan disosialisasikan. Pimpinan PTS harus merumuskan secara nyata budaya organisasi yang ingin ditanamkan dan dibangunnya ke dalam bentuk simbol verbal ataupun nonverbal, dalam bentuk tindakan eksplisit dan implisit, dan disosialisasikan agar dapat diinterpretasikan secara seragam. Budaya organisasi inilah yang mengatur perilaku sivitas akademika dan karyawan di tempat kerja.
Implementasi Konsep “Total Service Relationship Marketing” pada Pelanggan Prasetyo, Bambang
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Total Service Relationship Marketing” merupakan perkembangan dari kajian ilmu pemasaran (manajemen) dengan ilmu komunikasi. Sebagaimana kemunculannya, pemahaman ”Total Service Relationship Marketing” dalam perkembangannya digunakan oleh perusahaan untukmemberikan pelayanan optimal kepada customer atau pelangganya agar mereka memiliki loyalitas dan kepuasan yang tinggi pada produk yang mereka konsumsi. Dalam konsep ini, penekanan aspek pemasaran tampaknya lebih menonjol jika dibandingkan dengan komunikasi. Tetapi, sebenarnya, “Total Service Relationship Marketing” merupakan kelanjutan dari pemasaran yang kelihatannya dalam praktik tidak dapat menjalankan marketing mix (bauran pemasaran) dalam memasarkan produknya ke masyarakat. Oleh karena itu, tokoh-tokoh pemasaran mulai memahami kekurangan ini dengan menggabungkan konsep ilmu public relations ke dalam kajian pemasaran. Tulisan ini tidak menerangkan secara panjang lebar tentang konsep “Total Service Relationship Marketing”, tetapi lebih melihat kajian “Total Service Relationship Marketing” pada servis perusahaan kepada pelangganya.
Communicative Practices in an American Gamelan Orchestra Jocuns, Andrew
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gamelan adalah tradisi musik yang berakar di Indonesia, dipertunjukkan di kepulauan Jawa, Madura, dan Bali dalam upacara-upacara adat dan ritual-ritual agama. Kendati secara tradisional gamelan dimainkan oleh warga pribumi, dengan meningkatnya popularitas budaya etnis Indonesia dalam lingkup internasional, gamelan baru-baru ini dimainkan pula oleh orang-orang asing. Studi berikut ini merupakan etnografi dari proses komunikasi dalam sebuah Orkestra Gamelan Amerika yang mengidentifikasi dua pertanyaan kunci: (1) Bagaimana gamelan dipelajari di luar konteks sosiokultural orisinalnya? (2) Bagaimana pengetahuan tersebar di antara komunitas yang spesifik ini? Melibatkan kurang lebih 30 anggota (pemusik dan penari) dari sebuah kelompok Gamelan Bali, dengan beragam latar belakang etnis, kebangsaan dan latar belakang musik, penelitian ini menyimpulkan adanya empat praktik komunikasi dalam mempelajari gamelan: (1) Vokalisasi (sebagai metode utama instruktur dalam mengajarkan cara memainkan gamelan); (2) Percakapan informal (sebagai bentuk praktik komunikasi yang memungkinkan anggota kelompok berinteraksi dalam percakapan bebas); (3) Metawacana (suatu proses di mana anggota-anggota senior mencapai keputusan manajemen pertunjukan); dan (4) Blessings, semacam upacara keagamaan memohon restu dari Yang Mahakuasa untuk kesuksesan acara. Keempat praktik komunikasi ini tidak sekadar membantu anggota mempelajari musik tradisional, tetapi juga memungkinkan para musisi tersebut menjadi anggota aktif dalam komunitas yang dikerangka oleh batas-batas kultural. Pada akhirnya, praktik komunikasi semacam ini membantu proses penyebaran pengetahuan di antara anggota-anggota kelompok.
Memahami Memori Elita, Funny Mustikasari
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memori menjadikan manusia menjadi makhluk sejarah. Menurut Plato, memori berasal dari alam ide yang abadi, yang terlepas dari matreri. Ketika manusia lahir, memori dipanggil kembali melalui penginderaan/pengalaman. Prinsip pengembangan memori, antara lain, mencakup asosiasi, gambaran, dan lokasi. Memori melewati tiga proses: (1) perekaman, yakni pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit saraf internal; (2) penyimpanan, yaitu menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana; dan (3) pemanggilan, artinya mengingat lagi, yakni menggunakan informasi yang disimpan. Memori juga dikaitkan dengan proses aktif seseorang di dalam mencari, menyimpan/ mengorganisasikan, dan menyebarluaskan informasi yang ada di luar dirinya untuk ditemukan kembali oleh para pencari informasi. Apa yang dicari tersebut adalah informasi yang membantu seseorang dalam memperlancar kehidupannya, baik untuk urusan praktis maupun keilmuan. Dalam hal ini, terdapat dua macam memori yang terlibat: memori internal dalam diri seseorang dan memori eksternal yang umumnya terdapat dalam literatur dan pangkalan data atau memori orang lain terutama memori para pakar, karena dalam memori tersebut terkandung atau tersimpan beragam informasi yang berbentuk pengetahuan, pemahaman, kebijaksanaan atas suatu ilmu yang diinginkan dan dibutuhkannya. Memori adalah tempat komoditas disimpan. Dengan demikkian, memori merupakan sumber energi pemikiran, sumber fakta, sumber data, sumber pengetahuan, juga sumber kebijaksanaan.
“Self” Profesor Komunikasi di Kumpulan Cerpen Islami Santana, Septiawan
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judul: Senja di San Fransisco: Parade Cerpen Islami; Pengarang: Deddy Mulyana; Penerbit: PT Rosdakarya, Bandung; Tahun terbit: 2004; Tebal: x + 245 halaman.
Salam MediaTor, Dewan Redaksi
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang Periset yang Baik Mesti Memiliki Sikap EntengSAUL Pett, penulis Associated Press Newsfeature, meraih a feature-writing Pulitzer pada 1983 karena kerja riset-feature-nya tentang federal bureaucracy Amerika yang amat serius. Tulisan featurenya menghabiskan 10.000 kata, berisi fakta-fakta dan bagian-bagian pengisahan yang strukturnya disusun dengan apik, tertib, dan menarik. Pett, menurut Friedlander & Lee, Feature Writing for Newspapers and Magazines (1988:108-109), adalah layaknya penulis feature koran yang tidak diganduli waktu deadlines. Walau begitu, Pett tetap merasa dibayang-bayangi tuntutan redakturnya untuk cepat-cepat menyelesaikan laporan-laporan feature-nya.Gagasan laporan feature-nya, “The Bureaucracy: How Did It Get So Big”, datang dari Jack Cappon, redaktur Pett’s. Pett mula-nya tidak begitu suka dengan gagasan ini, dan menolak penugasan ini. Tugas ini amat merepotkannya, sebab ia harus melakukan riset yang cukup alot. Pett merasa ini bukan tugas yang mudah. Ia agak kehilangan akal untuk meraut sesuatu yang besar dan bercerai-berai macam birokrasi pemerintahan. Tapi, redakturnya ngotot. Akhirnya, Pett menyerah. Ia sepakat, walau tak tahu apa yang mesti dikerjakan. Di soal birokrasi banyak bagian yang mesti digambarkannya. Banyak orang tersangkut dengannya. “Saya mengawalinya dengan apa yang dibutuhkan dari tugas penulisan macam ini: membuat kerangka,” jelas Pett. Ia bergerak. Ia beranjak kesana-kemari, mencari segala sesuatu dengan mendalam, mencari kedalaman soal sampai sedalam-dalamnya. “Ini adalah sebuah kasus yang benar-benar dicari dengan meraba-raba,” jelasnya.Untuk itu, ia memulainya dengan membuat berbagai pertanyaan. Bagaimana sebuah pemerintahan yang besar menjadi besar di hadapan kita? Apa ada kaitannya dengan unsur-unsur seperti tuntutan sejarah yang hendak menceritakan sebuah kekuatan politik yang tumbuh membesar? Bagaimana proses menjadi besar-nya? Bagaimana perangkat-perangkat yang menyertainya? Bagaimana kok bisa menggelikan seperti itu? Apakah yang menjadi gangguan dari kasus ini? Kemana harus mencari perbandingannya?Dari sanalah, Pett lebih jauh lagi masuk ke dalam riset. “Saya bertanya kepada banyak orang, dan membaca. Bertanya kepada orang menjadi penting bagi saya, karena dari merekalah kemudian saya diarahkan untuk membaca berbagai bahan. Itulah sebenarnya yang saya kerjakan.”Ia gelisah bila tidak menemukan buku yang diperlukannya. Ia tidak menemukan majalah yang melaporkan segala sesuatu mengenai birokrasi. Ia bisa saja menemukan berbagai bahan atau bagianbagian tertentu dari sebuah buku, tapi tidak pernah tuntas menjelaskan apa yang hendak dilaporkannya. Tidak ada orang yang pernah melaporkan soal birokrasi ini secara menyeluruh. Tapi, dari sanalah, kemudian ia mulai merasakan: Ia berkemungkinan menjadi orang yang pertama menjelaskan persoalan birokrasi secara komprhensif. Dari sanalah, ia tahu jawaban dari ketidakpuasannya mencari bahan, data, dan fakta di berbagai literatur. Riset untuk laporan feature-nya ini memakan waktu dan tenaga yang cukup melelahkan, sebelum Pett mendapat penghargaan sebagai penulis berita-feature yang begitu lengkap, mendalam, dan menarik minat, serta kuat dalam memaparkan duduk-soal birokrasi tumbuh tambun. Kisah Pett ini mengindikasikan pekerjaan riset yang dilakukan wartawan. LEWAT buku Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi Dan Ilmu Sosial Lainnya (2002), Deddy Mulyana menguraikan bagaimana meneliti perhubungan orang-perorang, atau kelompok, ketika berkomunikasi. Buku yang ditulisnya itu ialah hasil oleh-olehnya dari perjalanan Fulbright Senior Research Program (2001) di Northern Illinois University, AS. Pendekatan kualitatif yang ditulisnya membuka pentingnya kualitas manusia diteliti (ketika berkomunikasi) tidak hanya dengan angka statistik. Bagi Mulyana, kualitas komunikasi manusia itu memiliki dimensi yang amat ragam. Realitas komunikasi yang dilakukan manusia itu bersifat ganda, rumit, semu, dinamis (mudah berubah), dan selalu relatif “kebenarannya”. Setiap orang yang berkomunikasi itu bersifat aktif, kreatif, dan bebas. Dari dua pihak yang tengah berkomunikasi, akan selalu terjadi interaksi yang saling mempengaruhi. Tidak bisa dinilai, si A mendahului omong dan si B menjawabnya. Ketika si Amengucapkan “selamat pagi”, ia bisa jadi dipengaruhi oleh niat tertentu. Si A berniat, misalnya, jadi pihak yang terbuka untuk diajak berkomunikasi dari sejak malam hari. Ucapan “selamat pagi”-nya kepada si B, diinginkannya menjadi pembuka hubungan positif.Dengan demikian, di dalam peristiwa komunikasi antar-manusia, tidak bisa dinubuat “sebab” akan memunculkan “akibat”. Karena, prosesnya saling merangkai: si “sebab” kemudian bisa jadi “akibat”, dan sebaliknya.Untuk itulah, orang yang tengah mengerjakan riset kualitatif, di bidang komunikasi, harus mau mengamati subyek penelitiannya secara setaraf, penuh empati, akrab, interaktif, timbal balik, saling mempengaruhi, dan tidak hanya satu dua-kali pertemuan (tetapi berjangka waktu cukup lama). Sebab, di sini terkait observasi pada hal-hal yang tak terucapkan, nilai historis, melihat perbedaan antarindividu, sampai membuat penilaian etis atau estetis pada fenomena (komunikasi) yang spesifik. Praktek riset macam itu kini mulai pula digunakan jurnalisme. Namun, tampaknya, bagi media yang hendak membuat laporan berita, tidaklah perlu se-rigid, sekaku, sepersis peneliti akademis. Riset penulis berita depth reporting, atau investigatif, atau feature yang panjang, mungkin tidak mesti melakukan gerakan taat asas dalam menggunakan rincian metode, teknik, prosedur, dan langkah-langkah penelitian akademis. Waktu dan dana riset yang dibutuhkan bisa jadi akan cukup merepotkan bila dipraktekkan sebuah media. Laporan jurnalisme dibatasi waktu deadline tertentu. Fakta-fakta yang mesti disampaikan media tidaklah harus se-persis kerangka data-data ilmiah dengan perhitungan sampel, kuesioner, kuantifikasi data, uji statistik, dan sebagainya.Metoda dan teknik riset dari dunia akademis dipungut media sebagai alat bantu pencarian fakta. Selain itu, bisa juga dipakai sebagai alat pertanggungjawaban media: bahwa berbagai fakta yang dilaporkannya didapat melalui cara kerja yang bisa dipertanggungjawabkan. Metode riset faktanya, misalnya, didapat berdasarkan wawancara, observasi partisipatif, analisis dokumen, studi kasus, studi historis-kritis, atau langkah-langkah lainnya.MediaTor kali ini mengungkapkan berbagai dimensi metodologi penelitian. Berbagai penulis menguraikan pemikirannya. Selain itu, beberapa penulis melaporkan hasil-hasil penelitiannya. Kedua dimensi ini diharapkan memberi masukan kepada Anda, Pembaca.RedaksiSeptiawan Santana K.
Semiotika Teks: Sebuah Pendekatan Analisis Teks Piliang, Yasraf Amir
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semiotika mempelajari relasi elemen-elemen tanda di dalam sebuah sistem berdasarkan aturan main dan konvensi tertentu, serta mengkaji peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Semiotika teks adalah cabang semiotika, yang secara khusus mengkaji teks dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Analisis teks adalah cabang dari semiotika teks, yang secara khusus mengkaji teks sebagai sebuah ‘produk penggunaan bahasa’ berupa kumpulan atau kombinasi tanda-tanda. Teks didefinisikan sebagai pesan-pesan—baik yang menggunakan tanda verbal maupun visual; dan secara lebih spesifik, ia adalah pesan-pesan tertulis, yaitu produk bahasa dalam bentuk tulisan. Tanda merupakan bagian dari kehidupan sosial. Melalui konvensi sosial, ia menjadi punya makna dan nilai sosial. Menurut Saussure, ‘tanda’ merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang, yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan ‘bentuk’ atau ‘ekspresi’; dan bidang petanda (signified), untuk menjelaskan ‘konsep’ atau ‘makna’. Sementara itu, Charles Sander Peirce mengelompokkan tipe tanda ke dalam tiga jenis, yaitu indeks, ikon, dan simbol. Indeks adalah tanda di mana hubungan penanda (signifier) dan petanda (signified) di dalamnya bersifat kausal, seperti hubungan antara asap dan api; ikon adalah tanda di mana hubungan antara penanda dan petandanya bersifat keserupaan (similitude); dan simbol adalah tanda yang hubungan penanda dan petandanya bersifat arbitrer atau konvensional. Analisis teks beroperasi pada dua jenjang: Pertama, analisis tanda secara individual, seperti jenis tanda, mekanisme atau struktur tanda, dan makna tanda secara individual. Kedua, analisis tanda sebagai sebuah kelompok atau kombinasi, yaitu kumpulantanda-tanda yang membentuk apa yang disebut sebagai ‘teks’. Analisis teks, menurut Roland Barthes, akan menghasilkan makna denotatif, yakni makna tanda yang bersifat eksplisit, dan makna konotatif, yaitu makna tanda lapis kedua yang bersifat implisit.
Konstelasi Paradigma Objektif dan Subjektif dalam Penelitian Komunikasi dan Sosial Hasbiansyah, O
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paradigma berkaitan dengan cara memandang terhadap realitas. Realitas yang sama akan tampak berbeda bila dilihat dengan paradigma yang berbeda. Dalam ilmu sosial dan komunikasi, terdapat sejumlah paradigma, biasanya secara sederhana dikelompokkan secara dikotomis ke dalam paradigma objektif, yang lebih populer dengan istilah kuantitatif, dan subjektif, yang lebih dikenal dengan sebutan kualitatif. Paradigma objektif memandang bahwa realitas itu tunggal dan objektif, kebenaran itu bersifat universal, ilmu dikembangkan dalam konteks yang bebas nilai. Paradigma subjektif memandang realitas sebagai majemuk, hasil konstruksi sosial, dan kebenaran yang diperoleh itu sifatnya relatif yang hanya berlaku pada wilayah geografis tertentu, serta ilmu dikembangkan tidak bebas nilia. Paradigma mengimplikasikan pada metode peneltian. Dalam paradigma objektif dikenal, antara lain, metode peneltian survei dan eksperimen. Dalam paradigma subjektif, dikenal, atara lain, pendekatan fenomenologi, studi kasus, etnografi, biografi, grounded theory.
Teknik-Teknik Penelitian Kuantitatif dalam Ilmu Sosial zulfebriges, zulfebriges
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam ilmu-ilmu sosial, pun ilmu komunikasi, dikenal dua pendekatan yang penting untuk memahami dan menjelaskan gejala-gejala sosial, yakni pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif biasanya dikaitkan dengan paradigma positivisme sedangkan pendekatan kualitatif dikaitkan dengan paradigma pos-positivisme. Akhir-akhir ini kritik memang sering ditujukan pada paradigma positivisme ini karena ia dinilai mereduksi manusia menjadi sekadar angka-angka dan data-data kuantitatif. Namun, ternyata pendekatan ini pun tetap bermanfaat, bertolak dari cara manusia menghasilkan pengetahuan yang biasanya menggabungkan abstraksi dan observasi empiris  Di sin, fokus pembahasan, di antaranya, pada pengkonstruksian skala-skala pengukuran dan cara membuat beberapa jenis skala yang cukup akrab dalam pendekatan kuantitatif.
Teori dan Metodologi Penelitian “Public Relations” Ardianto, Elvinaro
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel Public Relations (PR) yang banyak tersaji di media massa atau pun jurnal, lebih banyak membahas tentang PR is Art atau PR is Practice. Paparan kali ini mencoba membahas tentang PR is Science, sebagai kajian keilmuan, dengan mengemukakan tentang teori dan model Public Relations, serta teori kontemporer yang diadopsi menjadi teori dan model PR, serta membahas pula bentuk penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif PR. Tulisan ini diakhiri dengan rekomendasi komisi pendidikan yang teregabung dalam satu konsorsium asosiasi organisasi komunikasi/public relations seperti Public Relations Association of Amerika (PRSA), International Public Relations Assocation (IPRA), The International Communication Association, dan lainnya. Komisi ini merekomendasikan kurkulum PR untuk program Sarjana (S1), program Master  (S2), dan program Doktor (S3).