cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mediator
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 294 Documents
Peran Pers Islam dalam Upaya Mendorong Proses Demokratisasi di Indonesia Sobur, Alex
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran pers dalam mendorong proses demokratisasi adalah hal yang mutlak. Namun, pers Indonesia, terutama pers Islam, bagaimanapun diharapkan berperan lebih aktif dalammendudukkan reformasi dalam maknanya yang tepat, sambil tetap mencatat dan melaporkan sejumlah bahaya yang bisa membelokkan transisi demokrasi yang sedang berlangsung sekarang ini. Namun, ironisnya di negara yang penduduknya mayoritas Islam ini justru media pers lebih banyak didominasi oleh medis pers non-Islam. Lalu, bagaimana pers Islam bisa berperan di dalamnya? Dalam konteks ini, kehadiran pers Islam, atau pers yang Islami, yang maju dan bermutu, serta berdaya jangkau luas, mutlak dibutuhkan, agar ia bisa berperan dalam proses demokratisasi di Indonesia.
Menakar Kadar Kebebasan Pers Indonesia Ruswandi, Awang
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan transisi politik di Indonesia yang ditandai dengan pergantian kekuasaan ke arah yang lebih demokratis, muncul pertanyaan sampai sejauh mana kadar kebebasan yang telah dinikmati pers bisa diukur? Ini mengingat bahwa salah satu pilar penting tumbuhnyanegara atau masyarakat yang demokratis itu adalah adanya kebebasan pers. Dalam sektor publik, harus diakui bahwa masyarakat Indonesia sedang menuju kehidupan yang semakin demokratis. Namun, dalam sektor pers, ternyata agak berbeda arahnya. Pengalaman empirik selama enam tahun menunjukkan bahwa kebebasan politik belum cukup untuk membawa kehidupan pers yang lebih bebas. Beberapa kasus menunjukkan pers di Indonesia justru lagilagi mengalami ancaman. Ancaman itu muncul dari berbagai kekuatan politik atau ekonomi.
Menulis Ilmiah Kualitatif: Sekadar Pengantar Santana, Septiawan
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia ilmiah, selama ini, banyak dikenali sebagai dunia serius. Dunia objektif. Penalaran. Kaku. Tidak boleh dibuat main-main. Ini dimunculkan, antara lain, dalam penulisan ilmiah, yang bersifat kuantitatif. Semua itu tidaklah salah. Bukan sesuatu yang buruk, sebab sudah memiliki logikanya sendiri. Namun terlepas dari berbagai pandangan orang tentang penulisan ilmiah kuantitatif, banyak orang kemudian merasa enjoy membaca laporan riset kualitatif. Sebuah laporan kualitatif, lazimnya, dipenuhi dengan pelbagai deskripsi, detail penuh warna, dan sifat-sifat yang cenderung tidak formal. Berdasarkan karakteristik itulah, di antaranya, tulisan kualitatif memiliki daya enterprise. Bila dirunut, jejak sejarahnya bertaut dengan kisah sastra (literary) memasuki dunia akademik.
Perilaku Simbolis Santri dalam Praktik Keagamaan di Pesantren Daarut Tauhid Bandung Armiah, Armiah
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dulu, orang malu-malu menggunakan simbol-simbol “santri”. Sekarang, pemakaian jilbab, pakaian koko, gamis, peci, surban, menjadi satu identitas diri. Perubahan trend “santrinisasi“ ini sangat menarik jika diamati lewat pendekatan komunikasi. Lewat teori interaksi simbolik,yang dirangkai dalam suatu proses komunikasi antarpersona, maka kehadiran simbol—verbal dan nonverbal— ini menjadi semakin kental terlihat dalam setiap interaksi santri di Pesantren Daarut Tauhid Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Objek penelitian ini adalah simbol dan perilaku keagamaan yang digunakan dan ditafsirkan para santri. Untuk mendapatkan data, digunakan observasi berperanserta, wawancara takerstruktur, dan penggunaan dokumentasi. Informan penelitian ini adalah santri perempuan yang dipilih secara purposif pada tiga kriteria santri, yakni santri karya, santri mukim, dan santri beasiswa. Penelitian ini menemukan simbol verbal dan nonverbal keagamaan, meliputi slogan-slogan dan ekspresi nonverbal dalam perilaku santri yang ramah, sopan, santun, penuh persaudaraan, kebersamaan, bersih, muhasabah dan berpakaian muslimah. Simbol keagamaan digunakan santri dengan mengacu pada konsep manajemen qalbu. Santri ber-riyadhah menggunakan simbol untuk mencapai pribadi yang berakhlaq mulia. Dari temuan yang ada, peneliti memunculkan tiga kategori perilaku beragama santri: kategori kesalehan individual, kesalehan sosial, dan perilaku MQ. Dari ketiga kategori kesalehan ini, ditemukan bahwa santri masih dalam kategori kesalehan individual sambil bergerak ke arah kesalehan sosial dan perilaku MQ.
Analisis “Brand Equity” Siaran Berita Stasiun Televisi Swasta Indonesia Sugiono, Arif; Agustini, Prima Mulyasari
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan berbagai merek siaran berita stasiun televisi swasta berdasarkan dimensi ekuitas mereknya, dengan memfokuskan pada empat dimensi ekuitas merek, yang meliputi loyalitas merek, kesadaran merek, persepsi kualitas, dan asosiasi merek. Metode yang digunakan metode deskriptif, dengan analisis data menggunakan tabulasi dan teknik skala. Hasil penelitian dari dimensi loyalitas merek tiga besar siaran berita secara berurutan adalah Buser, Patroli dan Liputan 6 Petang. Dari dimensi Kesadaran Merek tiga siaran berita yang disebut adalah Buser, Patroli dan Liputan 6 Petang. Dari segi asosiasi merek, Buletin Siang dan Liputan 6 Siang (44%), diasosiasikan sebagai siaran berita yang penyajiannya cepat. Patroli (62%) diasosiasikan siaran berita yang penyajiannya akurat (benar dan obyektif) Info Manca Negara (56%) diasosiasikan sebagai siaran berita yang penyajiannya cukup menarik. Dari dimensi persepsi kualitas yang dijadikan pedoman adalah, kecepatan berita 31%, keakuratan aberita 36%, penyajian berita 33%, dengan urutan merek siaran berita Liputan 6 Siang, Buser, dan Patroli.
Ragam Etika Bahasa Komunikasi: Perspektif Qur’ani Yahya, Wildan
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyampaian pesan dengan tutur kata yang arif dan bijaksana akan membantu tercapainya tujuan. Di dalam al-Qur‘an, diungkapkan aneka ragam etika bahasa komunikasi yang dapat digunakan sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi. Aneka ragam etika bahasa itu adalah: (1) Qaulan ma’rûfâ, tutur kata yang baik sesuai dengan adat atau tradisi yang berlaku; (2) Qaulan sadîdâ, perkataan yang benar dan tepat; (3) Qaulan balîghâ, susunan bahasa yang efektif dan membekas; (4) Qaulan karîmâ, ungkapan kata yang santun dan mulia; (5) Qaulan layyinâ, tutur bahasa yang halus dan lemah lembut; (6) Qaulan maisûrâ, percakapan yang mudah dan sederhana; dan (7) Qaulan tsaqîlâ, perkataan yang menggetarkan dan berbobot.
Representasi Perempuan Indonesia dalam Komunikasi Visual: Wacana yang (Belum) Berubah Astuti, Santi Indra
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai sebuah narasi yang bercerita tentang riwayat panjang kemanusiaan, ada banyak hal yang bisa ditapaki dari produk-produk komunikasi visual kita, entah itu film, media massa, ataupun iklan. Sosok perempuan dalam film, dari segi kuantitas, menduduki posisi yang cukup sentral. Ini dialami pula oleh perempuan yang tampil dalam majalah dan iklan—setidaknya wajah perempuan bertaburan di mana-mana. Namun, kondisi sedemikian tidak serta-merta meniscayakan adanya representasi perempuan dalam wacana yang cukup bermutu. Penelusuran atas berbagai literatur yang menyoal representasi perempuan di tiga media komunikasi visual, yaitu film, majalah, dan iklan memperlihatkan wacana tentang perempuan yang belum berubah dari stereotip klasik. Untuk mengubah stereotip ini, gerakan feminis yang digagas oleh para aktivis tidaklah cukup. Perempuan mesti menyediakan ruang dan waktu untuk berdialog secara leluasa dengan dirinya sendiri, guna menegosiasikan secara kritis pelbagai pemaknaan yang ditawarkan pada mereka dalam upaya mengonstruksi diri ataupun masyarakat yang lebih ramah terhadap eksistensi perempuan.
Ibu sebagai Ikon Periklanan: Dari “Supermom” sampai “Smart Mom” Chatamallah, Maman
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia periklanan tak pernah sepi dari gempita –mulai dari gempita seputar pernak-pernik periklanan, gemerlap selebritis periklanan, riuh rendah omset iklan yang luar biasa di tengah krisis, sampai pada diskusi menyoal isu-isu politis dalam periklanan. Iklan, bagaimanapun, adalah sebuah medium representasi simbolik, yang tak lepas dari tarik-menarik antarberbagai kepentingan. Ibu, sebagai bagian dari perempuan, sering disimbolisasikan oleh iklan secara verbal ataupun nonverbal. Dari berbagai citraan yang muncul, terlihat bahwa dominasi citra Ibu dalam periklanan Indonesia ternyata belum beranjak dari gambaran klasik tentang perempuan tradisional: berkutat di ruang domestik, tersubordinasi di bawah bayang-bayang suami, dan terperangkap dalam ilusi sebagai sosok yang selalu siap berkorban, kendati sesungguhnya dikorbankan.
Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Kesenjangan Informasi Ratnasari, Anne
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat dewasa ini, di satu sisi memberikan peluang bagi kemajuan masyarakat, tetapi di sisi lain juga telah menimbulkan kesenjangan informasi, baik pada tingkat makro maupun mikro. Pada tingkat makro, kesenjangan ini sangat tampak dalam hal ketidakseimbangna arus informasi dan penguasaan teknologi di kalangan negara-negara maju (core nations) dan negara-negara sedang berkembang (peripheral nations). Melalui penguasaan teknologi yang luas, dan dengan misi penguasaan pasar dunia, arus informasi dari negara-negara maju ke negara-negara sedang berkembang jauh lebih banyak ketimbang sebaliknya. Hal ini terjadi akibat sejarah panjang sejak masa kolonial. Pada tingkat mikro, kesenjangan informasi terjadi akibat perbedaan tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi. Mereka yang memiliki tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi lebih tinggi cenderung memiliki peluang lebih tinggi pula dalam mengakses informasi dibandingkan mereka yang tingkat pendidikan dan tingkat ekonominya lebih rendah.
Kampanye Publik tentang Antikorupsi Ibrahim, Idi Subandy
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setelah reformasi bergulir sejak Mei 1998, muncul harapan praktik penyelenggaraan pemerintahan yang lebih memberikan harapan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Namun, harapan itu belum sepenuhnya menjadi kenyataan, karena masih berakar-kuatnya praktik KKN(korupsi, kolusi, dan nepotisme) dalam pemerintahan, parlemen, dan kehidupan publik. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah “kampanye publik antikorupsi” untuk melawan praktik KKN ini. Kampanye publik harus dilakukan secara terencana dan sistematis. Ia juga harus bersifat informatif, persuasif, dan edukatif, dengan memanfaatkan media komunikasi konvensional maupun inkonvensional secara optimal agar kampanye bisa mendorong publik berpartisipasi secara aktif dalam kampanye antikorupsi.