cover
Contact Name
Ayusia Sabhita Kusuma
Contact Email
ayusia.kusuma@unsoed.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
insignia.hi@unsoed.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Insignia: Journal of International Relations
ISSN : 20891962     EISSN : 25979868     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Insignia Journal of International Relations is published biannually (April & November) by Laboratorium of International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Jenderal Soedirman University. This journal contains articles or publications from all issues of International Relations such as: International Politics, Foreign Policy, Security Studies, International Political Economy, Transnational Studies, Area Studies & Non-traditional Issues.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 1 (2018): April 2018" : 11 Documents clear
Islam dan Perilaku Politik di Timur Tengah Darmawan, Arief Bakhtiar
Insignia Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to analyze religion’s roles related to the political activities in the contemporary Middle East. Constructivism is a framework that offers the way to understand the phenomenon. Constructivism provides a place for the influence of non-material factors such as the value, identity, and purpose of actor behavior in politics. This study used descriptive-interpretative method to acknowledge the problem formulation. Through the lenght of descriptive-interpretative method, author carried out data management, unification, and examination by exertly looking for patterns and relations regarding the role of Islam in political activities in Middle-East. In this article, the author examines through two levels of analysis, ie state level and regional level. At the state level, Islamic political ideology grows in a modern state and often confronts democracy. The debate over the application of Islamic law, the involvement in elections, and the adaptation of Islamic justice principles and the principle of equality are the discourses that characterize political activity in the Middle East. At the regional level, Islam exerts impact in foreign policy in the region. The regional tensions between Sunni and Shiite groups, the resistance in the context of jihad, and the emergence of ISIS are part of the conflict that contributes to regional instability. These political behaviors shows that Islam is not a religion with a single interpretation. Keywords: Islam, Middle East, constructivism, modern states, foreign policy Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran atau pengaruh Islam dalam aktivitas politik di kawasan Timur Tengah terkini. Konstruktivisme merupakan kerangka pemikiran yang menyediakan jalan untuk memahami fenomena tersebut. Konstruktivisme memberi tempat bagi pengaruh faktor-faktor non-material seperti nilai, identitas, dan maksud dari perilaku aktor dalam dunia politik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-interpretatif untuk menjawab rumusan masalah. Melalui pendekatan deskriptif-interpretatif, penulis melakukan pengaturan, penyatuan, dan pemeriksaan data dengan berupaya mencari pola dan relasi mengenai peran atau pengaruh Islam dalam aktivitas politik di Timur Tengah. Dalam artikel ini, penulis meneliti melalui dua level analisis, yaitu level negara dan level regional. Dalam level negara, ideologi politik Islam tumbuh dalam negara modern dan seringkali berhadapan dengan demokrasi. Perdebatan mengenai penerapan syariat Islam, keterlibatan dalam pemilihan umum, serta penyesuaian prinsip keadilan Islam dan prinsip persamaan hak merupakan diskursus yang mewarnai aktivitas politik di Timur Tengah. Dalam level regional, Islam memberi pengaruh dalam politik luar negeri di kawasan. Ketegangan regional antara kelompok Sunni dan Syiah, perlawanan dalam konteks jihad, serta kemunculan ISIS adalah bagian dari konflik yang menyumbang ketidakstabilan kawasan. Perilaku-perilaku politik tersebut menunjukkan bahwa Islam bukan agama dengan makna yang tunggal. Kata kunci: Islam, Timur Tengah, konstruktivisme, negara modern, politik luar negeri
Standar Ganda Politik Luar Negeri Amerika Serikat Terhadap Kudeta Mesir 2013 Wahyudi, Herry
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.758 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.595

Abstract

This research will examine the double standards of US foreign policy against the coup in Egypt in 2013, given that the US intervention against the Middle East region is very dominant. Attention and the US response be different in response to the case of the coup in Egypt. US seemed to not make this case as a priority despite the coup led to the violation of human rights and democracy. The response shown by the US is very different compared to the US intervention against Iraq and Libya are rated US itself as defending human rights and democracy in the region. The purpose of this research is to find out why the US double standards in its foreign policy related to the Egyptian coup. Data will be explored through literature method (library research). Overall the data will be correlated with foreign political theory of rational actor models that can explain the reason for choosing the attitude of the US double standard in a coup in Egypt in 2013 based on the selection and cost-benefit considerations on the measures taken. The results of this paper indicate that the indication of the double standards shown by the US to Egypt coup influenced by the victory of the Muslim Brotherhood (IM) as a political Islam that could interfere with the stability and US interests in the Middle East. Some of the options and the consequences have been considered by the US in response to the case, including participating ignoring their violations of democracy and human rights in the case even though it was contrary to the foundations and principles of US foreign policy. Another indication that support multiple standards is the response of US allies in the Middle East, such as Israel, Saudi Arabia and the United Arab Emirates who consider IM as a threat to the stability and the Middle East region. Keywords: US double standards, US foreign policy, coup Egypt, political Islam, Muslim Brotherhood Penelitian ini akan mengkaji standar ganda politik luar negeri Amerika Serikat terhadap kudeta di Mesir tahun 2013, mengingat bahwa intervensi AS terhadap kawasan Timur Tengah sangat dominan. Perhatian dan respon AS terlihat berbeda dalam menanggapi kasus kudeta di Mesir. AS seolah tidak membuat kasus ini sebagai prioritas walaupun kudeta tersebut berujung pada pelanggaran HAM dan demokrasi. Respon yang diperlihatkan oleh AS sangat berbeda jika dibandingkan dengan intervensi AS terhadap Irak dan Libya yang dinilai AS sendiri sebagai upaya penegakan HAM dan demokrasi di kawasan tersebut. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mencari tahu mengapa AS bersikap standar ganda dalam politik luar negerinya terkait dengan kudeta Mesir. Data akan ditelaah melalui metode kepustakaan. Keseluruhan data akan dikorelasikan dengan teori politik luar negeri model aktor rasional yang dapat memaparkan alasan AS untuk memilih sikap standar ganda dalam kudeta Mesir 2013 berdasarkan pemilihan dan pertimbangan untung-rugi atas tindakan yang telah diambil. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa indikasi standar ganda yang diperlihatkan oleh AS terhadap kudeta Mesir dipengaruhi oleh kemenangan Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai political Islam yang dapat mengganggu stabilitas dan kepentingan AS di Timur Tengah. Beberapa pilihan dan konsekuensi telah dipertimbangkan oleh AS dalam merespon kasus ini, termasuk ikut mengabaikan adanya pelanggaran demokrasi dan HAM dalam kasus tersebut walaupun hal tersebut bertentangan dengan landasan dan prinsip politik luar negeri AS. Indikasi lain yang mendukung standar ganda ialah respon sekutu AS di Timur Tengah, seperti: Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang menganggap IM sebagai ancaman bagi stabilitas dan kawasan Timur Tengah. Kata kunci: standar ganda AS, politik luar negeri AS, kudeta Mesir, politik Islam, Ikhwanul Muslimin
The Influence of China in Environmental Security and Peace in Mongolia Fachrie, Muhammad
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.721 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.597

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengeksplanasi bagamana Cina mempengaruhi keamanan lingkungan dan perdamaian di Mongolia. Di Mongolia, Cina melibatkan diri di beberapa sektor seperti ekosistem, energi, populasi, makanan dan ekonomi. Aktivitas-aktivitas ini menyebabkan  kerusakan lingkungan seperti penggurunan, kepunahan hewan liar, deforestasi,  kerusakan lingkungan yang disebabkan  pembangkit listrik tenaga air, kesehatan makanan, dan polusi lingkungan yang disebabkan pertambangan. Peter Hough, seorang ahli keamanan lingkungan, dalam bukunya yang berjudul “Memahami Keamanan Global, Edisi Kedua”, menjelaskan bahw permasalahan-permasalahan lingkungan bisa menjadi sebuah keamanan manusia. Ini berarti bahwa keamanan lingkungan adalah salah satu dari beberapa dimensi-dimensi dari keamanan manusia. Kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi permasalahan lingkungan saja, akan tetapi ini juga menjadi permasalahan keamanan. Untuk mengeksplanasi hal tersebut, konsep dimensi keamanan lingkungan dan pendekatan konflik lingkungan digunakan, karena fenomena keamanan ini berfokus pada manusia dan bukan negara. Kata Kunci: Keamanan Tradisional, Mongolia, China, Lingkungan, perdamaian
Penerapan Konsep Cross Border Regions (CBRs) dalam Kerja Sama Ekonomi Sub-regional Indonesia-Malaysia-Singapura Growth Triangle (IMS-GT) Yani, Yanyan M; Nizmi, Yusnarida Eka
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.659 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.819

Abstract

Tulisan ini menganalisa kemunculan dan dinamika perjalanan kesepakatan Growth Triangle  yang diinisiasi oleh pemerintah Singapura yang melibatkan kepulauan Riau di Indonesia dan juga Johor di Malaysia. Penjabaran difokuskan pada dinamika Growth Triangle sebagai sebuah kerjasama sub regional menurut konsep Cross Border Regios (CBRs) dan teori regionalisme baru (New Regionalism Theory). Growth tringle sendiri dalam tulisan ini diidentifikasi sebagai sebuah upaya perintisan kerjasama di wilayah ini, yang pembahasannya terbatas pada  kerjasama ekonomi antar negara dengan industrialisasi barunya di wilayah ini. Zona Indonesia Malaysia Sngapura Growth triangle (IMS-GT) ini dipilih karena posisi lintas perbatasan dan karakteristik mereka yang memiliki latar belakang kerjasama sejarah lintas batas yang panjang, memiliki komposisi multi etnis dan secara geografis berdekatan. Elemen-elemen  secara umum diidentifikasi sebagai pilar-pilar yang memfasilitasi proses yang menggiring sebuah wilayah menjadi ruang yang dinamis bagi para aktornya untuk secara aktif memainkan peran demi menjamin kepentingan-kepentingan transnasional mereka sendiri.   Kata Kunci: Growth Triangle, Kerjasama, Cross Border Regions (CBRs), Teori Regionalisme Baru.   This Paper analyse the rising and dynamics of Growth Triangle that was initiated by Singapore government which involved Kepulauan Riau in Indonesia and Johor in Malaysia. The Substantial topic focuses on the dynamics of Growth Triangle as a sub regional cooperation based on Cross Border Regions (CBRs) and New Regionalism Theory (NRT). Growth Triangle in this paper was identified as a volunteer cooperation among participant countries in this region, which its explanation was  on economic cooperation among countries within their new industrialization. Indonesia Malaysia Singapore Growth Triangle  (IMS-GT) was choosen because of their cross borders and characteristics in  having same cross border cooperations background  history, same ethnic compositions, and geograpically near by each other. Generally the elements are identified as pillars that  fasilitated the process to lead a region became a dynamic space to its actors actively play their role so that their own transnational interests are guaranted.    Keywords: Growth Triangle, Cooperation, Cross Border Regions (CBRs), New Regionalism Theory (NRT).  
European Stability Mechanism Sebagai Upaya Uni Eropa Menangani Krisis Finansial Spanyol Rahmanita, Nidya; Miryanti, Renny
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.073 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.706

Abstract

Global Financial Crisis has revealed major weakness in the design and implementation of the existing economic governance framework of the European Union. In addition, the first temporary fiscal backstop is EFSF (The European Financial Stability Facility) as a temporary crisis resolution mechanism by the Euro area Member States. In this case, The EFSF does not provide any further financial assistance, so the task of EFSF being replace by the new mechanism that includes the establishment of a permanent crisis management mechanism as the safeguard against imbalances in individual countries that is ESM (European Stability Mechanism).             Spain as one of the Eurozone Member States that fall on financial crisis caused by disproportionate growth in the real estate sector, along with the expansion of credit, on 25 June 2012 made an official request for financial assistance through ESM for its banking system. In accordance with MoU, Spain must conduct a structural adjustment program through identifying individual bank capital needs, recapitalising and restructuring.
Counter Hegemony Cina Terhadap Dominasi Peradaban Barat yang Nampak dalam Film “The Great Wall” Wijaya, Clara Tirta; Kusumawardhana, Indra
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.649 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.1281

Abstract

Menguatnya negara besar Cina, baik pada dimensi politik ataupun ekonomi, memunculkan fenomena semakin banyaknya film yang bernuansa peradaban Cina di dalam pasar film dunia. Film “The Great Wall” adalah salah satunya, dimana kerja sama antara Barat dan Cina menjadi keunikan dari film tersebut. Penelitian ini akan menelaah film “The Great Wall” menggunakan pendekatan counter hegemony Gramsci yang dipadukan dengan analisis wacana untuk mengklaim bahwasanya film tersebut merupakan salah satu wujud dari counter hegemony yang nampak di era kebangkitan negara besar Cina terhadap peradaban Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menekankan pada analisis wacana untuk menangkap upaya counter hegemony Cina melalui media film, dalam rangka menantang interpretasi dari berbagai film yang mengedepankan superioritas peradaban Barat dibandingkan peradaban Timur yakni Cina. Hasil analisis wacana dari penelitian ini menunjukkan bahwa film “The Great Wall” dapat memenuhi tiga momen yang dinyatakan oleh Gramsci yaitu sosial, politik, dan militer sebagai struktur dasar yang menopang hegemoni. Hal ini tentunya dapat memunculkan persepsi di benak masyarakat dimana pesan – pesan yang disampaikan di dalam film “The Great Wall” ini mengangkat pemahaman ideologis serta pemaknaan eksistensi peradaban Cina yang lebih maju dan bijaksana, kontras dengan peradaban barat yang selama ini dianggap lebih superior dan dominan di dalam arus sejarah.
Counter Hegemony Cina Terhadap Dominasi Peradaban Barat yang Nampak dalam Film “The Great Wall” Clara Tirta Wijaya; Indra Kusumawardhana
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.649 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.1281

Abstract

Menguatnya negara besar Cina, baik pada dimensi politik ataupun ekonomi, memunculkan fenomena semakin banyaknya film yang bernuansa peradaban Cina di dalam pasar film dunia. Film “The Great Wall” adalah salah satunya, dimana kerja sama antara Barat dan Cina menjadi keunikan dari film tersebut. Penelitian ini akan menelaah film “The Great Wall” menggunakan pendekatan counter hegemony Gramsci yang dipadukan dengan analisis wacana untuk mengklaim bahwasanya film tersebut merupakan salah satu wujud dari counter hegemony yang nampak di era kebangkitan negara besar Cina terhadap peradaban Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menekankan pada analisis wacana untuk menangkap upaya counter hegemony Cina melalui media film, dalam rangka menantang interpretasi dari berbagai film yang mengedepankan superioritas peradaban Barat dibandingkan peradaban Timur yakni Cina. Hasil analisis wacana dari penelitian ini menunjukkan bahwa film “The Great Wall” dapat memenuhi tiga momen yang dinyatakan oleh Gramsci yaitu sosial, politik, dan militer sebagai struktur dasar yang menopang hegemoni. Hal ini tentunya dapat memunculkan persepsi di benak masyarakat dimana pesan – pesan yang disampaikan di dalam film “The Great Wall” ini mengangkat pemahaman ideologis serta pemaknaan eksistensi peradaban Cina yang lebih maju dan bijaksana, kontras dengan peradaban barat yang selama ini dianggap lebih superior dan dominan di dalam arus sejarah.
The Influence of China in Environmental Security and Peace in Mongolia Muhammad Fachrie
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.721 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.597

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengeksplanasi bagamana Cina mempengaruhi keamanan lingkungan dan perdamaian di Mongolia. Di Mongolia, Cina melibatkan diri di beberapa sektor seperti ekosistem, energi, populasi, makanan dan ekonomi. Aktivitas-aktivitas ini menyebabkan kerusakan lingkungan seperti penggurunan, kepunahan hewan liar, deforestasi, kerusakan lingkungan yang disebabkan pembangkit listrik tenaga air, kesehatan makanan, dan polusi lingkungan yang disebabkan pertambangan. Peter Hough, seorang ahli keamanan lingkungan, dalam bukunya yang berjudul “Memahami Keamanan Global, Edisi Kedua”, menjelaskan bahw permasalahan-permasalahan lingkungan bisa menjadi sebuah keamanan manusia. Ini berarti bahwa keamanan lingkungan adalah salah satu dari beberapa dimensi-dimensi dari keamanan manusia. Kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi permasalahan lingkungan saja, akan tetapi ini juga menjadi permasalahan keamanan. Untuk mengeksplanasi hal tersebut, konsep dimensi keamanan lingkungan dan pendekatan konflik lingkungan digunakan, karena fenomena keamanan ini berfokus pada manusia dan bukan negara. Kata Kunci: Keamanan Tradisional, Mongolia, China, Lingkungan, perdamaian
Penerapan Konsep Cross Border Regions (CBRs) dalam Kerja Sama Ekonomi Sub-regional Indonesia-Malaysia-Singapura Growth Triangle (IMS-GT) Yanyan M Yani; Yusnarida Eka Nizmi
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.659 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.819

Abstract

Tulisan ini menganalisa kemunculan dan dinamika perjalanan kesepakatan Growth Triangle yang diinisiasi oleh pemerintah Singapura yang melibatkan kepulauan Riau di Indonesia dan juga Johor di Malaysia. Penjabaran difokuskan pada dinamika Growth Triangle sebagai sebuah kerjasama sub regional menurut konsep Cross Border Regios (CBRs) dan teori regionalisme baru (New Regionalism Theory). Growth tringle sendiri dalam tulisan ini diidentifikasi sebagai sebuah upaya perintisan kerjasama di wilayah ini, yang pembahasannya terbatas pada kerjasama ekonomi antar negara dengan industrialisasi barunya di wilayah ini. Zona Indonesia Malaysia Sngapura Growth triangle (IMS-GT) ini dipilih karena posisi lintas perbatasan dan karakteristik mereka yang memiliki latar belakang kerjasama sejarah lintas batas yang panjang, memiliki komposisi multi etnis dan secara geografis berdekatan. Elemen-elemen secara umum diidentifikasi sebagai pilar-pilar yang memfasilitasi proses yang menggiring sebuah wilayah menjadi ruang yang dinamis bagi para aktornya untuk secara aktif memainkan peran demi menjamin kepentingan-kepentingan transnasional mereka sendiri. Kata Kunci: Growth Triangle, Kerjasama, Cross Border Regions (CBRs), Teori Regionalisme Baru. This Paper analyse the rising and dynamics of Growth Triangle that was initiated by Singapore government which involved Kepulauan Riau in Indonesia and Johor in Malaysia. The Substantial topic focuses on the dynamics of Growth Triangle as a sub regional cooperation based on Cross Border Regions (CBRs) and New Regionalism Theory (NRT). Growth Triangle in this paper was identified as a volunteer cooperation among participant countries in this region, which its explanation was on economic cooperation among countries within their new industrialization. Indonesia Malaysia Singapore Growth Triangle (IMS-GT) was choosen because of their cross borders and characteristics in having same cross border cooperations background history, same ethnic compositions, and geograpically near by each other. Generally the elements are identified as pillars that fasilitated the process to lead a region became a dynamic space to its actors actively play their role so that their own transnational interests are guaranted. Keywords: Growth Triangle, Cooperation, Cross Border Regions (CBRs), New Regionalism Theory (NRT).
European Stability Mechanism Sebagai Upaya Uni Eropa Menangani Krisis Finansial Spanyol Nidya Rahmanita; Renny Miryanti
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.073 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.706

Abstract

Global Financial Crisis has revealed major weakness in the design and implementation of the existing economic governance framework of the European Union. In addition, the first temporary fiscal backstop is EFSF (The European Financial Stability Facility) as a temporary crisis resolution mechanism by the Euro area Member States. In this case, The EFSF does not provide any further financial assistance, so the task of EFSF being replace by the new mechanism that includes the establishment of a permanent crisis management mechanism as the safeguard against imbalances in individual countries that is ESM (European Stability Mechanism). Spain as one of the Eurozone Member States that fall on financial crisis caused by disproportionate growth in the real estate sector, along with the expansion of credit, on 25 June 2012 made an official request for financial assistance through ESM for its banking system. In accordance with MoU, Spain must conduct a structural adjustment program through identifying individual bank capital needs, recapitalising and restructuring.

Page 1 of 2 | Total Record : 11