cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017" : 8 Documents clear
STILISASI HEWAN PRASEJARAH DALAM BENTUK SENJATA KAPAK Ahmad Prasetya Hady
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.655 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2397

Abstract

Sejak fosil dinosaurus pertama dikenali pada awal abad sembilan belas, rangka dinosaurus yang dirangkai menjadi pertunjukan yang poluler di museum-museum di seluruh dunia. Dinosaurus menjadi budaya dunia dan terus populer. Mereka menjadi topik di buku-buku terlaris dan film-film paling dikenal Jurassic Park, dan penemuan-penemuan baru secara teratur diungkapkan di media. Berbagai kemampuan itu dapat dilihat melalui bentuk adaptasi dalam memodifikasi tubuh dan prilaku. Keunikan karakter dinosaurus ini juga bila ditelisik lebih lanjut merupakan suatu bentuk ekspresi prilaku yang berbeda-beda. Setiap dinosaurus memiliki wujud bentuk yang belum pasti karena sampai saat ini memang belum ada bentuk yang secara pasti , hal ini membuat suatu peluang imajinatif untuk menafsirkan berbagai bentuk yang ada.Metode yang digunakan dalam pembuatan karya seni ini menggunakan teori dari Gustami dengan 3 tahap 6 langkah dalam pembuatan karya seni. Dimulai dari eksplorasi tradisi daerah Banyuwangi, Perancangan karya yang akan dibuat, dan perwujudanya ke dalam karya senjata kapak. Dalam proses penciptaan ini digunakan pendekatan seperti estetik, simiotik dan ergonomis yang disesuaikan dengan bentuk karya yang diwujudkan.Karya seni dan simbolisme kehidupan merupakan unsur penting pada karya ini. Komposisi ubahan inilah yang dirasa mampu membuat nilai artistik dari karya kapak ini muncul. Setiap audience yang melihat karya ini tentunya akan melihat konsep pemahaman terhadap unsur visual dalam bentuk baru seperti terangkum pada satu kemasan yang artistik. Masing-masing dari karya ini memiliki karakteristik yang berbeda dan disesuaikan dengan nilai-nilai dan pesan yang ada di dalamnya namun secara utuh karya ini memiliki satu garis besar visual tentang pesan simbolisme itu sendiri. Kata Kunci : Senjata Kapak, Dinosaurus, Hewan Prasejarah, Simbolisme,
STRATEGI PERANCANGAN DENGAN PENERAPAN RAGAM HIAS SULUR GELUNG PADA PRODUK KRIYA UNTUK PASAR GLOBAL Agung Wicaksono; Budi Hartono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.458 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2402

Abstract

Ragam hias sulur gelung banyak tersebar di bangunan candi dan masjid. Konsep dasarnya adalah penciptaan alam semesta menurut perspektif agama Hindu. Namun pada masjid peran dan konsep ragam hias ini berubah, disesuaikan dengan kaidah-kaidah dalam agama Islam. Warisan budaya ini perlu dilestarikan dan dikembangkan. Metode dan strategi penegmbangan diperlukan untuk keperluan tersebut. Strategi perancangan adalah urutan langkah-langkah yang disiapkan dan metode perancangan adalah cara yang digunakan pada perancangan. Ini diperlukan kaidah-kaidah estetika dalam senirupa untuk optimalisasi pencapaiannya. Kata kunci : sulur gelung, strategi perancangan,kriya, pasar global
“HUMAN, HUMANITY, AND HUMANITIES” DALAM PENCIPTAAN KARYA KRIYA KULIT Rohmad Eko Priyono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.074 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2398

Abstract

The creation of it has a title “human, humanity, and humanities” The author would like to learn about the unique symbol of a Human and its application in the form of the installation of art. The approach used in the creation is an aesthetic approach, the method used is based on the aesthetic values embodied in art. Aesthetic is the main objective in the creation of works derived from the shape of a Human. Terms of design that has been studied in the study of art as craft unconscious part spontaneously out of the standard values in making the creation of craft art, starting from sketches to the final stage. Semiotics is used in the creation of works of art craft is semiotics Charles Sanders Peirce - sign approach based on the idea of a philosopher and thinker United clever, Charles Sanders Peirce (1839-1914) is the method used to determine whether a work of art has meaning symbol, index, and icon. This approach is actually used as the meaning of the meaning and purpose of the philosophical. In this case, the artist commented aesthetic value and his symbolization, artists explore the beauty, the uniqueness of the shape of a human and then pour it into the leather craft three-dimensional and two-dimensional. And artists have chosen the concept of human as a concept in leather craft work.Keyword: Creation, Craft, Leather and the Making Process  Jurnal Penciptaan ini memiliki judul "human, humanity, and humanities". Penulis ingin mengetahui simbol unik tentang manusia dan mengaplikasikannya dalam bentuk instalasi seni. Pendekatan yang digunakan dalam penciptaan adalah pendekatan estetika, yaitu pendekatan yang berdasar pada nilai estetika yang terkandung dalam karya seni. Estetika memiliki tujuan utama dalam penciptaan karya yang berasal dari bentuk manusia. Kerangka desain yang telah dipelajari dalam studi seni sebagai karya seni bagian bawah sadar secara tak langsung keluar dari nilai fungsional dalam pembuatan karya seni, mulai dari sketsa hingga tahap akhir. Semiotika yang digunakan dalam penciptaan karya seni adalah semiotik Charles Sanders Peirce - pendekatan tanda berdasarkan gagasan seorang filsuf dan pemikir Amerika yang cerdas, Charles Sanders Peirce (1839-1914) adalah metode yang digunakan untuk menentukan apakah suatu karya seni Memiliki makna simbol, indeks, dan ikon. Pendekatan ini sebenarnya digunakan sebagai makna - makna dan tujuan filosofis. Dalam hal ini, seniman memiliki pandangan bahwa nilai estetika dan simbolisasi, seniman mengeksplorasi keindahan, keunikan bentuk manusia dan kemudian menuangkannya ke dalam kriya kulit tiga dimensi dan dua dimensi. Dan seniman telah memilih konsep manusia sebagai konsep dalam karya seni kriya. Kata Kunci: Penciptaan, Kriya, Kulit dan Proses Pembuatan
KELELAWAR SEBAGAI SUMBER INSPIRASI DALAM PENCIPTAAN SENI TEKSTIL Arief Satriyo Wibowo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.957 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2403

Abstract

Bats are flying mammals, now these animals have several species of bats that are endangered. Due to the destruction of the original habitat of the bark in the forest that becomes the function, the exploitation of karst areas (lime), the use of pesticides on agricultural land, hunting and excessive consumption. Many functions of bat ecology therefore in need of efforts in controlling the population of bats. The idea of the creation of this textile artwork originated from personal experience, natural factors, sympathy and empathy for the preservation of fauna, namely bat animals. All of which are then transformed into non-functional work forms which furthermore want to bring the values of change so that the celebration can know it and finally feels may be able to understand the message delivered. The process of creating works on non functional techniques used in the form of nylon nylon thread wire on top of the wire. Keywords: bats, non-functional, creation textiles  Kelelawar merupakan hewan mamalia terbang, sekarang hewan ini terdapat beberapa spesies kelelawar yang statusnya terancam punah. Akibat rusaknya habitat asli kelalawar di hutan yang menjadi alih fungsi, eksploitasi wilayah karst (kapur), penggunaan pestisida pada lahan pertanian, perburuan serta pengkonsumsian yang berlebihan. Banyak fungsi ekologi kelelawar oleh karena itu di perlukan usaha-usaha dalam mengendalikan populasi kelelawar. Ide penciptaan karya seni tekstil ini berawal dari pengalaman pribadi, faktor alam, rasa simpati dan empati terhadap kelestarian fauna yaitu hewan kelelawar. Kesemua yang kemudian ditransformasikan ke bentuk karya non fungsional yang selanjutnya ingin membawa nilai-nilai perubahan sehingga khlayakan dapat mengetahuinya dan akhirnya dirasa mungkin dapat mengerti akan pesan yang disampaikan. Proses penciptaan karya pada non fungsional tehnik yang digunakan berupa lilit benang nilon hank di atas kawat. Kata kunci: kelelawar, non fungsional, penciptaan tekstil
PENENTUAN PEMILIHAN BAHAN DALAM PEMBUATAN ACUAN ALAS KAKI SECARA MANUAL Abimanyu Yogadita Restu Aji
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.282 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2399

Abstract

Reference of shoe last is something quite unique. In making the reference of footwear, special raw materials are required to produce a reference with good quality. The quality of this reference is very influential on the long life of a reference. In addition, the quality of the raw materials used also affects the shape of a reference. The research question posed is what factors determine the criteria for selecting the material, in the process of making the reference of footwear by manual technique. Data collection methods generally refer to interview techniques based on the principle, namely structured interviews, semi-structured and unstructured. Data analysis techniques use a gradual coding system with a focus of attention on the factors that determine the material selection criteria in manual reference footwear generation. Keywords: Reference of footwear, manuals, material characters Acuan alas kaki merupakan sesuatu yang cukup unik. Dalam pembuatan acuan alas kaki, diperlukan bahan baku khusus agar menghasilkan acuan dengan kulitas yang baik. Kualitas acuan ini sangat berpengaruh terhadap lama pakai dari sebuah acuan. Selain itu, kualitas dari bahan baku yang digunakan juga berpengaruh terhadap bentuk dari sebuah acuan. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah faktor apa yang menentukan kriteria pemilihan bahan, dalam proses pembuatan acuan alas kaki dengan teknik manual. Metode pengumpulan data secara umum mengacu pada teknik wawancara berdasarkan prinsipnya, yaitu wawancara terstruktur, semi terstruktur dan tidak terstruktur. Teknik analisis data menggunakan sistem pengkodean secara bertahap dengan fokus perhatian pada faktor yang menentukan kriteria pemilihan bahan dalam pembuatan acuan alas kaki secara manual. Kata kunci : Acuan alas kaki, manual, karakter bahan
JAMUR DALAM EKSPRESI SENI KRIYA KAYU Nurul Iftitah Abrar; Timbul Raharjo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.783 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2400

Abstract

The fungus is one known being that has its own kingdom namely the kingdom fungi. Visually, a fungus has a great unique variation with the interesting natural colors; this case has triggered the writer’s imagination as a creator to create a work that becomes kingdom fungi as inspiration sources. In the creation of this work, the writer has chosen the theme of Fungi in the Craft Expressions “Parasitism: Fungi’ Survival System as a Metaphor Human’s Survival System to become system classification of fungi’survival consists of Parasitic Fungi, Saproba Fungi, and Symbiosis Mutualism Fungi as a metaphor system of human’s survival that consist of Parasitism, Commensalism, and Mutualism Symbiosis. The fungi who survives its live in a way be a parasite the same as human who like as a parasitic in the earth. In the creation of this art, the exploration stage, the writer examined about fungi as the object that become the sources in deeply, both in terms of visual or as discourses and the valid data that covered about fungi so that it could help the writer to trigger the imagination largely. It could to ease at the design making. In the next stage, the writer through the improvised stage by doing some experiment thus in the end decided to choose a ferns super as a major media term using the printing resin technique as a helped media in exploring a ferns that has interesting motives and texture as a main ingredient in this creation. The writer used the theory mimesis by taking the kingdom fungi as a natural object that is copy to furnish discourse in review the creation of these artworks. The writer also used the theory of semiotics metaphors as a means of rhetorical choice in the process of semiotics between the two objects that became inspiration sources and also the theory of aesthetic in reviewing of aesthetic side either objectively or subjectively. The writer’s work would not be understood clearly without any a better understanding deeply about the classification of fungi and human survival systems, so that the three theories have an important role in the craft creation like Applied Art (Lamp) and Fine Art (Expression). Keywords: Kingdom Fungi, Heterotrophy, Parasitism, Commensalism, Symbiosis Mutualism.  Jamur merupakan salah satu makhluk hidup yang memiliki kingdom tersendiri yaitu kingdom fungi. Secara visual jamur memiliki berbagai macam bentuk yang unik dengan warna-warna alami yang menarik, hal ini memicu imajinasi penulis selaku creator untuk menciptakan sebuah karya yang menjadikan kingdom fungi sebagai sumber inspirasi. Dalam penciptaan karya dengan mengusung tema Jamur dalam Ekspresi Seni Kriya “Parasitisme: Sistem Bertahan Hidup Jamur Sebagai Metafor Sistem Bertahan Hidup Manusia” ini, penulis menjadikan klasifikasi sistem bertahan hidup jamur yang terdiri dari Jamur Parasit, Jamur Saproba, dan Jamur Simbiosis Mutualisme sebagai metafor sistem bertahan hidup manusia yang terdiri dari Simbiosis Parasitisme, Simbiosis Komensalisme dan Simbiosis Mutualisme. jamur yang bertahan hidup dengan cara menjadi parasit sama halnya dengan manusia yang bagaikan parasit dibumi. Dalam penciptaan karya ini, pada tahap eksplorasi, penulis mengkaji lebih dalam tentang objek yang menjadi sumber inspirasi yaitu jamur, baik dari segi visual maupun berupa wacana dan data-data valid yang mengulas tentang jamur sehingga membantu penulis dalam memicu imajinasi yang lebih luas agar mempermudah pada tahap pembuatan desain. Pada tahapan selanjutnya, penulis melalui tahap improvisasi dengan melakukan beberapa eksperimen hingga pada akhirnya penulis memutuskan untuk memilih batang pakis super sebagai media utama dalam perwujudannya dengan mengunakan teknik cetak resin sebagai media bantu dalam mengeksplorasi batang pakis yang memiliki motif dan tekstur yang menarik sebagai bahan utama dalam penciptaan ini. Untuk melengkapi wacana dalam mengulas penciptaan karya seni ini, penulis menggunakan teori mimesis dengan menjadikan kingdom fungi sebagai objek alam yang ditiru. Penulis juga menggunakan teori semiotika berupa metafor sebagai sarana retorik pilihan dalam proses semiosis diantara kedua objek yang menjadi sumber inspirasi penciptaan serta teori estetika dalam mengulas sisi estetik karya secara objektif maupun subjektif. Karya penulis tidak akan dipahami secara gamblang tanpa adanya pemahaman lebih mendalam tentang klasifikasi sistem bertahan hidup jamur dan manusia, sehingga ketiga teori tersebut memiliki peran yang cukup penting dalam penciptaan karya seni kriya yang berbentuk Aplied Art (lampu) dan Fine Art (Ekspresi). Kata kunci: Kingdom Fungi, Heterotrof, Parasitisme, Komensalisme, Simbiosis Mutualisme.
DEFORMASI BENTUK DAN TEKSTUR RADIOLARIA DALAM KERAMIK INSTALASI Dyah Retno Fitriani
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.199 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2396

Abstract

Passion, love, and interest can be an inspiration to an artist. That thing can be a stimulation in creating a work of art. Some scene of film Life of Pi shows an ocean view which glows at night became such an admiration to the writer. The astonishment then stimulated curiousities of the writer about that phenomenon. Finally, there came out the word Radiolaria. Radiolaria are tiny sized planktons which have holes and spikes in their bodies. The shape and texture of Radiolaria became an inspiration that later will be deformed and shaped into a ceramic instalation. Innovation and creation that arise in this work were also displayed using phospor as a medium to show the phenomenon of Bioluminesensi. The intention to introduce the shape and function of Radiolaria gives an enormous stimulation to the writer, so that this artwork was made to give an education through this work of art. The creation of this artwork began with making skecth planning, material choosing, up to the stage of creating which was done by some techniques, which are a cire perdue, pinch, slab, and decorating stage with the technique of piercing and twisting. After that, there was a drying stage, biscuit burning, glacing, glacing burning, phospor finishing, and displaying. Furthermore, the artwork was strenghten by some supporting theories, such as: ceramic theory, deformation, instalation, semiotic, and aesthetic theory. This work is a ceramic applied art which was displayed in the varied colors and shapes instalation. Semiotic contains were slipped in this artwork and were hoped to create a good communication with the society and art lovers. This Radiolaria themed work of art was made to introduce Radiolaria to people in general with applying the touch of personal expression touch so that originality of this work would remains the same without fading the impression of the real Radiolaria. Key Words: Deformation, Radiolaria, Ceramic Instalation.   Kesukaan, kecintaan, ketertaikan akan suatu hal dapat menjadi sebuah inspirasi bagi seorang seniman, tentunya hal tersebut dapat menjadi sebuah rangsangan dalam menciptakan sebuah karya seni. Film Life of Pi yang dibeberapa scene nya memperlihatkan pemandangan laut yang dapat berpijar dimalam hari memberikan rasa takjub sehingga merangsang rasa ingin tahu tentang apa yang menyebabkan adanya fenomena tersebut, yang kemudian didapatlah kata Radiolaria. Radiolaria merupakan plankton yang berukuran sangat kecil dengan ciri khas memiliki lubang-lubang dan duri-duri pada tubuhnya. Bentuk dan tekstur Radiolaria ini dijadikan sumber ide yang kemudian akan dideformasi dan dijadikan keramik instalasi. Inovasi dan kreasi yang muncul dalam karya ini juga ditampilkan dengan menggunakan fosfor sebagai media untuk menunjukkan peristiwa Bioluminesensi. Rasa ingin memperkenalkan akan bentuk dan manfaatRadiolaria memberikan dorongan yang begitu besar, sehingga diciptakanlah karya ini agar dapat memberikan edukasi baru melalui karya keramik instalasi.Penciptaan karya ini diawali dengan membuat sketsa perancangan, pemilihan bahan, hingga tahap perwujudan yang dilakukan dengan beberapa teknik yaitu cetak tuang, pinch, dan slab dan tahap pendekorasian dengan teknik krawang, dan pilin. Kemudian tahapan pengeringan, pembakaran biskuit, pengglasiran, pembakaran glasir, finishing dengan fosfor, dan pendisplayan. Lalu diperkuat dengan beberapa teori pendukung seperti : teori keramik, deformasi, instalasi, semiotika, dan estetika.Hasil karya ini merupakan seni kriya keramik yang didisplay secara instalasi yang memiliki variasi bentuk dan warna, dan kandungan semiotika yang disisipkan pada setiap karyanya sehingga diharapkan karya ini dapat berkomunikasi dengan masyarakat, dan penikmat seni dengan baik. Karya keramik dengan tema Radiolaria ini dimakudkan untuk memperkenalkan Radiolaria dikalangan awam dengan menerapkan sentuhan ekspresi pribadi sehingga orisinalitas karya tetap terjaga tanpa mengurangi kesan dari Radiolaria yang aslinya. Kata Kunci : Deformasi, Radiolaria, Keramik Instalasi.
KAJIAN IKONOGRAFI PADA MAKAM RAJA-RAJA MATARAM ISLAM DI KOTAGEDE YOGYAKARTA Rohiman Rohiman
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.98 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2401

Abstract

Makam merupakan peninggalan sejarah manusia yang dapat dilihat oleh manusia. Makam menjadi penanda kerajaan yang pernah berkembang di komplek makam raja Kotagede. Peneliti mengajukan pertanyaan tentang bentuk Makam Panembahan Senopati (Mataram Islam) di Kotagede Yogyakarta. Bentuk Makamnya berbeda serta struktur yang mengandung konspirasi menjadi ketertarikan peneliti. Melalui analisis struktural sebagai pisau bedah, dapat membantu evaluasi terhadap objek material Makam. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara sebagai alat untuk menganalisis Makam. Teknik analisis data menggunakan sistem pengkodean secara bertahap dengan fokus perhatian pada faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk makam. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk makam yaitu kedudukan, jasa, ahliwaris, kekuasaan, dan pakem. Terdapat tiga tingkatan dalam komplek makam, tingkatan pertama Tajuk, kedua beringgitan dan yang ketiga proboyokso, yang mana tingkatan tersebut merupakan truktur makam pada komplek makam panembahan senopati dan tingkatan juga mempengaruhi kesetrataan soaial, periode, dan keturunan di Keraton Ngayokyakarta.Kata kunci : Makam, Struktur, Ikonografi, Surface Structure, deep structure  The tomb is a relic of human history that can be seen by humans. The tomb became a marker of the kingdom that once developed in the tomb complex of Kotagede king. Researchers ask questions about the form of the tomb of Panembahan Senopati (Mataram Islam) in Kotagede Yogyakarta. The shape of his tomb is different and the structure that contains conspiracy becomes the researcher's interest. Through structural analysis as a scalpel, it can help the evaluation of the object of the Tomb material. This study uses interview techniques as a tool to analyze the Tomb. Data analysis techniques use a gradual coding system with a focus on the factors that influence the shape of the tomb. Factors that affect the shape of the grave of position, service, heirs, power, and grip. There are three levels in the tomb complex, the first stage of the Header, the second hinged and the third proboyokso, which is the tomb structure of the tomb complex of senopati and the level also affect the equality of soaial, period, and descendants in Keraton Ngayokyakarta.Keywords: Tombs, structure, Iconography, surface structure, deep structure

Page 1 of 1 | Total Record : 8