cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018" : 9 Documents clear
KOSTUM PRAJURIT KRATON YOGYAKARTA KAJIAN PERAN DAN NILAI SIMBOLIK Septianti Septianti
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.426 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2673

Abstract

Each country has a military device, but if other countries use it as a means of maintaining the sovereignty of the region and its people, but in Yogyakarta is different. Soldiers of the palace in Yogyakarta have a role as a completeness in the ceremonies and on other occasions made by the Palace. In addition it will discuss four soldiers who use lurik as the main ingredient in the costum that is, soldiers Patang, Jagakarya, Ketanggung, and Mantrijero. The four selected soldiers have similarities to the motives imposed despite having different attributes on each costume, whether there is a supporting color on the black or red costume. The method used qualitative method with descriptive approach. While the study used in the form of role values and symbolic theories that exist in the costume. The semiotics theory was to be used belongs to Charles S. Peirce. Semiotics has a definition as a study of signs, essentially a study of codes, ie any system that allows us to view certain entities as signs or as meaningful. Therefore, the value of symbols that can be picked from this costume the existence of cultural values that can not be separated, such as lurik which mutually forwarded again with other colors, the depiction of loyalty of the warrior with his master who do not get the existence of estrangement.Keywords: Costume, soldiers, Kraton Yogyakarta   Setiap negara memiliki perangkat militer, namun bila negara lain menggunakannya sebagai alat mempertahankan kedaulatan wilayah dan bangsanya, tapi di Yogyakarta berbeda. Prajurit kraton di sini memiliki peran sebagai suatu kelengkapan dalam upacara-upacara dan pada kesempatan lain yang dilakukan oleh Kraton .Selain hal itu nanti akan hanya  membahas  empat prajurit yang menggunakan lurik sebagai bahan utama dalam kostumnya yaitu, prajurit Patang puluh, Jagakarya, Ketanggung, dan Mantri jero. Keempat prajurit yang dipilih memiliki kesamaan akan  motif yang dikenakan walaupun memiliki atribut-atribut yang berbeda pada setiap kostumnya, baik ada yang memiliki warna pendukung pada kostum  hitam  maupun merah. Metode yang akan digunakan   metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sedangkan kajian yang akan digunakan berupa nilai peran dan teori simbolik yang ada pada kostumnya. Teori semiotika yang akan digunakan milik Charles S. Peirce. Semiotika memiliki definisi sebagai suatu kajian tanda-tanda, pada dasarnya merupakan sebuah studi atas kode-kode, yaitu sistem apapun yang memungkinkan kita memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda atau sebagai suatu yang bermakna. Maka dari itu nilai simbol yang dapat dipetik dari kostum ini adanya nilai budaya yang  tak lepas, seperti lurik yang saling diteruskan lagi dengan warna lain, penggambaran kesetiaan prajurit dengan tuannya yang jangan sampai akan adanya kerenggangan.Kata kunci: Kostum, prajurit, Kraton Yogyakarta
EKSPLORASI DAN PENGGABUNGAN MESIN PADA SENI PATUNG Lutse Lambert Daniel
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.588 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2678

Abstract

One type of artwork in three dimensions is sculpture. As part of fine art, sculpture is an artistic and aesthetic statement through three-dimensional forms. Each form of car or motorcycle engine is unique. The number of machines that can no longer be used and are only piled up in the trash or even in a flea collector and destroyed again to be used as a material for machine makers that gave rise to the idea of utilizing the metal waste into three-dimensional art forms. The technique used in the embodiment of art is construction using welding and screw raft techniques. The machines will be arranged and integrated in such a way as to form a three-dimensional work according to the basic idea of making the work.Keywords: Exploration, Machine, Sculpture Salah satu jenis karya seni yang berbentuk tiga dimensi adalah seni patung. Sebagai bagian dari seni rupa, seni patung merupakan pernyataan artistik dan estetik melalui bentuk-bentuk tiga dimensional. Setiap bentuk mesin mobil maupun motor memiliki keunikan yang berbeda-beda. Banyaknya mesin-mesin yang sudah tidak bisa digunakan lagi dan hanya ditumpuk di tempat sampah atau bahkan di tukang loak dan dihancurkan lagi untuk dijadikan bahan pembuat mesin yang baru memunculkan ide untuk memanfaatkan limbah logam tersebut ke dalam bentuk seni tiga dimensi. Teknik yang digunakan dalam perwujudan karya seni adalah konstruksi menggunakan teknik rakit las dan sekrup. Mesin-mesin akan disusun dan dipadukan sedemikian rupa sehingga membentuk karya tiga dimensi seuai dengan ide dasar pembuatan karya. Kata Kunci: Eksplorasi, Mesin, Patung
PENGEMBANGAN DESAIN BATIK MAKASSAR DENGAN SUMBER IDE KAPAL PINISI Anadia Natasyah Utami; Setyawan Setyawan; Felix Ari D.
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.724 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2674

Abstract

The purpose of this creative process was to enrich Batik Makassar which focused on visualizing motifs by using the potential of Buginesse-Makassar heritage, the Pinisi Sailing Boat combined with Lontara writings from Makassar as a source of inspiration for Batik designs differentiation. The visual method is designed by considering its aesthetic value as a renewal products from the existing potential of Batik Makassar. The creative process with this design method produces six designs and three of those were painted on 230cm x 110 cm nonwoven silk fabric. Keywords: development, design, batik Makassar, Pinisi ailing boat, lontara Tujuan proses kreatif ini adalah mengembangkan desain Batik Makassar yang berfokus pada pengolahan visual (motif) dengan memanfaatkan potensi warisan budaya Bugis-Makassar yaitu Kapal Pinisi yang dipadukan dengan aksara Lontara Batik Makassar sebagai sumber ide pengembangan desain batik. Pengolahan visual dirancang dengan mempertimbangkan nilai estetis sebagai potensi pembaharuan batik Makassar yang sudah ada. Proses kreatif dengan metode desain ini menghasilkan enam desain dan tiga di antaranya direalisasi pada kain sutera ATBM yang berukuran 230cm x 110 cm. Kata Kunci : pengembangan, desain, batik Makassar, Kapal Pinisi, lontara
EKSISTENSI KERAJINAN PERAK KOTO GADANG SUMATERA BARAT Hendra Hendra
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.146 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2680

Abstract

Koto Gadang Silverwork is located in District IV Koto Agam Regency which is one of the craft centers that exist near Bukittinggi. The existence of silver handicraft products that produced in Koto Gadang has started since the Dutch colonial era until now. Silver handicrafts grow and develop according as the time continue . This can be seen from changes in the function and shape of existing silver handicrafts that equal with the changes of the community. Silver handicraft products Koto Gadang can be classified into jewelry products such as necklaces and bracelets, as well as souvenir products such as miniature of clock tower. The products that produced by craftsmen are represent of their existence and their efforts to adjust the products to public demand. To maintain the quality of silver products, craftsman only sell the products in a limited market. This way is taken to maintain public confidence in the silver craft itself. With cultural changes, the silver handicrafts Koto Gadang face the challenges and obstacles that make artman must be clever in maintaining consumer confidence. This is closely related to the survival of silverwork itself around the supporting community. Keyword : existence, silver, Koto Gadang Kerajinan perak Koto Gadang terletak di Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam yang merupakan salah satu sentra kerajinan yang ada di dekat Kota Bukittinggi. Eksistensi produk kerajinan perak yang dihasilkan Koto Gadang sudah dimulai semenjak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang. Kerajinan perak tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini dapat dilihat dari perubahan fungsi dan bentuk kerajinan perak yang ada yang menyesuaikan dengan perubahan masyarakatnya. Produk kerajinan perak Koto Gadang bisa dikelompokkan menjadi produk perhiasan, seperti kalung dan gelang, serta produk cenderamata, seperti miniatur Jam Gadang. Produk yang dihasilkan oleh perajin merupakan bentuk eksistensi mereka dan usaha mereka untuk menyesuaikan produk yang dihasilkan dengan permintaan masyarakat. Untuk menjaga kualitas produk kerajinan perak tersebut, perajin hanya menjual produk yang dihasilkan dalam pasar yang terbatas. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kerajinan perak itu sendiri. Seiring perubahan budaya mengakibatkan kerajinan perak Koto Gadang menghadapi tantangan dan hambatan yang membuat perajin harus pandai-pandai dalam menjaga kepercayaan konsumen. Hal ini berhubungan erat dengan keberlangsungan kerajinan perak itu sendiri di masyarakat pendukungnya.Kata Kunci : eksistensi, perak, Koto Gadang
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERAJIN TENUN LURIK ATBM MELALUI INOVASI PRODUK Nany Noor K.; Kristiana Sri Utami; I Made Sukanadi
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.566 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2675

Abstract

The study aims to make effective model of empowerment of SMEs that can improve competitiveness and support the creative economy, so as to increase enterpreneurs that are oriented to product innovation. The specific target of the research is to obtain design and prototype of lurik weaving modification with natural fiber. The research was conducted with quantitative and qualitative approach, with Participatory Action Research (PAR) method. The research phase begins with the identification of human resources and product potentials, identifies the constraints faced by SMEs, followed by guidance and innovation development through design and prototype of lurik weaving modification with natural fiber. Based on the potential of human resources and products by considering the constraints faced by craftsmen, as well as based on the potential of natural resources (natural fiber) owned by the surrounding area, the researchers succeeded in making the design as the basis for creating prototype of the Lurik Abstract I Design, Lurik Abstract II , Lurik Dashed Lines Design, Lurik Mendong Combination Printing Design, Bamboo Lurik Feed Design and Lurik Combination Design.  Keywords: empowerment of SMEs, creative economy, lurik  Penelitian ini bertujuan membuat model pemberdayaan UKM  secara efektif yang dapat meningkatkan daya saing dan mendukung ekonomi kreatif, sehingga mampu meningkatkan pelaku usaha yang berorientasi pada inovasi produk. Target khusus penelitian adalah memperoleh desain  dan prototype modifikasi serat alam pada tenun lurik. Penelitian dilakukan dengan  pendekatan kuantitatif dan  kualitatif, dengan metode Participatory Action Research (PAR). Tahapan penelitian dimulai dengan pengidentifikasian potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dan produk, pengidentifikasian kendala yang dihadapi UKM, dilanjutkan pembinaan dan pengembangan inovasi melalui pembuatan desain dan prototype tenun lurik modifikasi serat alam. Dengan mendasarkan pada potensi SDM dan produk dengan mempertimbangkan kendala yang dihadapi perajin, serta mendasarkan pada potensi sumber daya alam (serat alam) yang dimiliki daerah sekitar, maka peneliti berhasil membuat  desain  sebagai dasar untuk membuat prototype, yaitu Desain Lurik Abstrak I, Desain Lurik Abstrak II, Desain Lurik Garis Putus-Putus, Desain Lurik Mendong Kombinasi Printing, Desain Lurik Pakan Bambu, dan Desain Tenun Lurik Kombinasi. Kata Kunci: pemberdayaan UKM, ekonomi kreatif, lurik.
BATIK TULIS PADANG LAMUN (PADANG LAMUN SEBAGAI SUMBER IDE PERANCANGAN BATIK TULIS UNTUK SELENDANG SUTRA) Andina Febrasari; Felix Ari Dartono; Ratna Endah Santoso
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.987 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2683

Abstract

Seagrass bads is a variety of flora that lives on the sea coast. The objective of this project is to produce a new visual alternative for silk batik scarfs by visualizing Seagrasses bads which live under water; its illusion of motion, dimensions, and biodiversity. This research use design method consist of exploration process, extraction, and termination are described in four operational steps i.e. analysis, concept, visualization, and prototypes. The design is directed at new creative batik for premium products. The result was a silk batik scarfs made by Lorodan batik technique which was able to produce illusory effects and layered images which would offer a new visual sensation, differentiation, and novelty. Keywords: Seagrass Bads, batik tulis, silk scarf Padang Lamun merupakan keanekaragaman flora yang hidup di pesisir laut. Tujuan penelitian ini adalah memberikan alternatif visual baru desain batik tulis untuk selendang sutra dengan mengolah visual Padang Lamun yang hidup terendam air, ilusi gerak, dimensi, dan ragam biota. Penelitian ini menggunakan pendekatan desain yang terdiri atas proses eksplorasi, ekstraksi, dan titik terminasi yang dijabarkan dalam empat langkah operasional, yakni analisis, konsep, visualisasi, dan tes produk. Desain diarahkan pada batik kreasi baru untuk produk premium. Hasilnya berupa desain selendang sutra menggunakan teknik batik tulis Lorodan yang mampu menghasilkan efek ilusi dan bayangan, sehingga memberikan sensasi visual baru, diferensiasi, dan kebaharuan. Kata Kunci : Padang Lamun, batik tulis, selendang sutra
KAJIAN ESTETIKA MOTIF BATIK GIRILAYU KABUPATEN KARANGANYAR Sugeng Wardoyo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.086 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2676

Abstract

Batik craft is a one choice of big part of Girilayu regions, beside to be farmer as theirs main works. The existence of Girilayu batik has influenced from Surakarta batik style, especially influence from Mangkunegaran royal palace, in motifs, technics, and colouring. Surakarta batik style with soft colour, dark blue, dark brown, and yellow white, at the side of Mangkunegaran batik has design style similar with Surakarta batik, but has different in colour i.e. yellow and dark brown dominant. From motif aspect mangkunegaran batik has more creative than Surakarta batik. These motifs are introduced in Girilayu and to be developed and also continues in new era. This research aims in aesthetics mainly in motif which resulted in this area, i.e. relevance with structure and style in art. Keywords: batik aesthetics, Girilayu batik, batik structure, batik style Pekerjaan membatik merupakan pilihan bagi sebagian besar masyarakat Girilayu, di samping bertani sebagai mata pencaharian utama. Keberadaan batik Girilayu mendapat pengaruh dari batik Surakarta, khususnya Keraton Mangkunegaran, baik berupa motif, teknik pembatikan, dan pewarnaan. Motif batik Keraton Surakarta mempunyai ciri khas antara lain dari warna yang cenderung lembut, biru kehitaman, merah kecoklatan, dan krem, sedangkan batik Keraton Mangkunegaran memiliki gaya desain seperti batik Keraton Surakarta pada umumnya, tetapi ciri khas warnanya cenderung warna kuning dan soga yang lebih dominan. Dari segi motifnya batik Mangkunegaran memiliki motif yang lebih kreatif dibandingkan batik Keraton Surakarta karena keragaman dari motif yang dihasilkan. Motif-motif batik inilah yang kemudian diperkenalkan pada masyarakat Girilayu dan dikembangkan serta dilestarikan sesuai dengan perkembangan zaman. Penelitian ini menekankan pada aspek estetika utamanya dari motif yang dihasilkan daerah tersebut, yaitu berkaitan dengan aspek struktur dan gaya. Kata Kunci: estetika batik, batik Girilayu, struktur batik, gaya batik
PRODUKSI PERHIASAN BERTEMAKAN FAUNA ENDEMIK INDONESIA SEBAGAI SARANA EDUKASI MASYARAKAT Sza Sza Anggun
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.413 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2682

Abstract

The lack of information circulation about Indonesia’s endemic fauna in the community, especially regarding the condition of its population in the wild, is one of the causes of the declining population of Indonesia’s endemic fauna. There are still many people who capture and trade without knowing that some of them are on the verge of extinction. The business offers a creative solution to this problem by creating jewelry products that take Indonesian endemic fauna as a visual idea. Educative product marketing is expected to be able to provide information about fauna endemic to the community as well as being a characteristic/identity that distinguishes this business brand from other jewelry businesses.The implementation of this business program is broadly carried out in two stages, namely the production stage and the marketing stage. The production stage consists of exploration of idea, product design, and product realization. After entering the final stage of production, the marketing stage of this business will then begin. The marketing stage begins with planning and carrying out business branding, designing marketing facilities and packaging, and conducting promotions online and offline to the target market. The beauty of this jewelry product is expected to arouse the interest of the community to love and get to know more about Indonesia’s endemic fauna species, while also meeting the people’s need for quality Indonesian-made product.Keywords: fauna, endemic, jewelry, educative  Kurangnya peredaran informasi seputar fauna endemik Indonesia di masyarakat, terutama mengenai keadaan populasinya di alam bebas, merupakan salah satu penyebab menurunnya populasi sebagian fauna endemik Indonesia. Masih banyak masyarakat yang menangkap dan memperjualbelikan fauna endemik tanpa mengetahui bahwa sebagian dari mereka sudah berada di ambang kepunahan. Usaha ini menawarkan sebuah solusi kreatif untuk masalah tersebut dengan menciptakan produk perhiasan yang mengambil fauna endemik Indonesia sebagai ide visualnya. Pemasaran produk yang dilakukan secara edukatif diharapkan dapat memberikan informasi seputar fauna endemik kepada masyarakat sekaligus menjadi sebuah ciri khas/identitas yang membedakan brand usaha ini dengan usaha perhiasan lainnya.Pelaksanaan program usaha ini secara garis besar dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap produksi dan tahap pemasaran. Tahap produksi terdiri atas eksplorasi ide, perancangan produk, dan pewujudan produk. Setelah memasuki tahap akhir produksi, tahap pemasaran usaha ini kemudian mulai dijalankan. Tahapan pemasaran dimulai dengan merencanakan dan melakukan branding usaha, mendesain sarana-sarana pemasaran dan packaging, serta melakukan promosi secara online dan offline kepada target pasar yang dituju. Keindahan dari produk perhiasan ini nantinya diharapkan menggugah minat masyarakat untuk mencintai dan mengenal lebih dalam lagi mengenai spesies fauna endemik Indonesia, sekaligus juga memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk buatan Indonesia yang berkualitas.Kata Kunci: fauna, endemik, perhiasan, edukatif
JUDUL “LATAH”, JUDUL WARISAN LAPORAN TUGAS AKHIR PENCIPTAAN KRIYA 2012-2017 Retno Purwandari
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 2 (2018): NOVEMBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.06 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i2.2677

Abstract

This paper is the result of the research that examines the titles of the final project reports on the creation of the Kriya major in the art faculty of the Indonesian Art Institute in Yogyakarta 2012-2017. This research was triggered because the titles of the final project students seemed monotonous and not challenging, there was no suitability of the purpose conveyed in the visual language of artwork created with the lingual language of the final assignment report title. Data collection is done directly in the library majoring of Kriya. The data found is linguistically classified, then analyzed from the language structure and highlighted aspects. The result found are in accordance with the hypothesis that the titles of the final assignments from 2012-2017 are very monotonous because they are dominated by two forms of title styles with only one aspect of prominence, namely the source of creation. This is very unfortunate, because students cannot take the opportunity to express their art expressively and scientifically through the final project title. Therefore, through the results of the study students are expected to be more able to higlight other aspects that are in accordance with what is emphasized in his artwork into the final project title. Keywords: “Latah” title, the title of final report on the creation of Kriya  Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang menelaah judul-judul Tugas Akhir (TA) Laporan Penciptaan di Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta tahun 2012-2017. Penelitian ini tercetus dikarenakan judul-judul TA mahasiswa terkesan monoton dan tidak menantang, tidak ada kesesuaian maksud dari yang disampaikan pada bahasa visual dari karya seni yang diciptakan dengan bahasa lingual judul laporan TA-nya. Pengumpulan data dilakukan secara langsung di perpustakaan Jurusan Kriya. Data yang ditemukan diklasifikasi secara kebahasaan, kemudian dianalisis dari struktur bahasa dan aspek yang ditonjolkan. Hasil yang ditemukan sesuai dengan hipotesis awal bahwa judul-judul TA dari tahun 2012-2017 sangat monoton karena didominasi oleh dua bentuk gaya judul dengan satu aspek penonjolan saja, yakni aspek sumber penciptaan. Hal ini sangat disayangkan karena mahasiswa tidak bisa mengambil kesempatan untuk membahasakan karya seninya secara ekspresif dan ilmiah melalui judul TA. Oleh karena itu, melalui hasil penelitian ini diharapkan nantinya mahasiswa lebih bisa menonjolkan aspek-aspek lain yang sesuai dengan apa yang ditekankan di karya seninya ke dalam judul TA. Kata Kunci: Judul “Latah”, judul TA Laporan Penciptaan Kriya

Page 1 of 1 | Total Record : 9