cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
+6281362081363
Journal Mail Official
jurnalekspresi@isi.ac.id
Editorial Address
Jl. Parangtritis No.KM.6.5, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ekspresi: Indonesian Art Journal
ISSN : 14114305     EISSN : 29645921     DOI : https://doi.org/10.24821/ekp.v1i11
EKSPRESI is a double-blind peer-reviewed international journal published twice a year in April and October. Ekspresi published by Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas, art creation, and community service activities in the fields of arts and humanities.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2024)" : 7 Documents clear
Analisis Musikal pada Proyek Video Musik “SM Remastered” Yochanan, Eugenea Gifka
Ekspresi Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i1.11851

Abstract

Dalam era industri musik kontemporer, remastering dipahami sebagai upaya mengemas ulang suatu video musik baik dari aspek audio maupun video dengan ide dan kreativitas yang baru. Sehingga video musik tersebut memiliki peningkatan kualitas dan dapat dinikmati oleh pendengar. Proyek SM Remastered mengemuka dengan banyaknya video musik dari artis-artis SM Entertainment yang dirilis pada tahun 1990-an hingga 2000-an. Hasil remastering dipublikasikan melalui media platform Youtube. Beberapa penelitian sebelumnya terkait dengan SM Remastered mengarah pada bisnis musik. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan struktur musikal video musik antara versi sebelum remastering dengan sesudah remastering.  Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data-data berupa studi diskografi, studi literatur, pustaka, dan dokumen yang bersifat deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya kemasan berbeda dari video musik SM Remastered dari segi struktur musikal, yaitu bagian introduksi dan penutup dengan kontras yang menonjol. Pengolahan konsep dan penyuntingan yang mengedepankan kualitas merupakan indikator penentu bagi keberhasilan pemasaran yang dilakukan. Kata kunci: video musik, remaster, SM Remastered, K-Pop AbstractIn the era of the contemporary music industry, remastering is understood as an effort to repackage a music video from both audio and video aspects with new ideas and creativity so that the music video becomes more interesting and can be enjoyed by audiences around the world. The SM Remastered project emerged with many music videos from SM Entertainment artists released in the 1990s to 2000s being made in remastered versions and published via the YouTube platform. Some previous research related to SM Remastered focuses on the music business. This article aims to determine the differences in the musical structure of music videos between the versions before the remaster and after the remaster. The research uses qualitative methods by collecting data in the form of discography studies, literature studies, libraries and descriptive documents. The results of this research show that there is a different packaging for the SM Remastered music video in terms of musical structure, namely the introduction and ending parts with prominent contrast. Conceptualization and editing that emphasize quality are key indicators for successful marketing of works.
Analisis Bentuk Musik pada Prelude dalam Partita No.3 untuk Violin Solo Tweedapinta, Ega Putra
Ekspresi Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i1.13627

Abstract

AbstrakSonata dan Partita tanpa iringan karya Johann Sebastian Bach merupakan repertoar utama yang selalu digunakan dalam proses pembelajaran biola. Karya ini memiliki nilai artistik, keindahan karya, serta aspek teknis dengan tingkat keterampilan yang tinggi. Terdapat lebih dari satu suara pada bagian Prelude di partita untuk biola ini, yaitu melodi kontrapung atau polifoni dalam satu baris instrumen.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk musik Partita E mayor gubahan J.S Bach pada bagian Prelude. Menurut kritikus musik bernama Wilhelm Tappert, keaslian Partita dalam E mayor diciptakan untuk instrumen lute, selain itu terdapat transkripsi komposisi Prelude untuk solo organ obbligato dan iringan orkestra. Prelude untuk instrumen biola berisi melodi dengan nilai nada seperenambelas dalam keseluruhan bagian dan disusun dalam melodi tunggal tanpa iringan suara bas yang cenderung monoton. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menganalisis skor. Teori yang digunakan adalah teori melodi oleh Dieter Mack, teori bentuk musik oleh Leon Stein, dan teori harmoni oleh Karl-Edmund Prier. Analisis skor dilakukan dengan pendekatan musikologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prelude dalam Partita No.3 karya Bach mempunyai bentuk musik biner, yang dibentuk dengan stuktur musik menggunakan motif-motif sebagai materi musiknya. Selain itu karya ini mengandung harmoni yang tersembunyi yang menciptakan keindahan karya. Sebagai karya dengan melodi tunggal, Prelude menunjukkan kesatuan struktural di dalam susunannya. Kata kunci: Bentuk musik, Melodi tunggal, Violin, Partita, Prelude. AbstractSonata and Partita without accompaniment by Johann Sebastian Bach are the main repertoire used in violin learning. This work has artistic value, beauty, and technical aspects with a high skill level. There is more than one voice in the Prelude section in this partita for violin: counterpoint melody or polyphony in one row of instruments. This study aims to analyze the musical form of the Partita E major composed by J.S Bach in the Prelude section. According to music critic Wilhelm Tappert, the originality of the Partita in E major was created for the lute instrument; in addition, there is a transcription of the Prelude composition for solo organ obbligato and orchestral accompaniment. The Prelude for violin contains a melody with a sixteenth note value in the entire section. It is arranged in a single melody without bass accompaniment, which tends to be monotonous. This study uses a qualitative research method by analyzing scores. The theories used are the melody theory by Dieter Mack, the theory of musical form by Leon Stein, and the theory of harmony by Karl-Edmund Prier. The score analysis is carried out based on a musicology approach. The study results show that the Prelude in Bach's Partita No. 3 has a binary musical form, which is formed with a musical structure using motifs as its musical material. In addition, this work contains hidden harmonies that create the beauty of the work. As a work with a single melody, the Prelude shows structural unity in its composition. Keywords: Music form, Single melody, Violin, Partita, Prelude.
Transformasi Orkes Dangdut Menjadi Orkestra Dangdut dalam Perspektif Sosial Budaya: Kidung Etnosia Sakti, Aditya Susilo
Ekspresi Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i1.12228

Abstract

AbstrakDangdut adalah jenis musik populer di Indonesia. Melihat perkembangannya, tentu tidak terlepas dari elemen-elemen musiknya. Perkembangan tersebut juga terjadi pada kelompok musik Kidung Etnosia di Wonosari. Kajian terhadap musik dangdut pada dasarnya merupakan sebuah kajian tentang bentuk, struktur, orkestrasi, gaya dan sejumlah komponen musik lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menganalisis bentuk dan struktur sajian kolaborasi musik dangdut dengan alat musik Barat pada kelompok musik Kidung Etnosia dalam konteks perubahan sosial budaya dan ekonominya. Untuk mencapai pemahaman yang menyeluruh terhadap masalah yang dikaji, digunakan paradigma antropologi yaitu Strukturalisme Levi-Strauss. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui pengamatan terlibat (participatory observation), wawancara, dan studi literatur. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa masyarakat Wonosari mampu menerima sajian orkestra dangdut karena sajiannya tidak meninggalkan unsur dangdut asli. Sajian orkestra dangdut merupakan bagian dari seni yang mengalami perubahan dalam konteks perubahan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Wonosari. Sebagai kota yang kaya akan seni budaya lokal di dalamnya termasuk Kidung Etnosia yang awalnya hanya memainkan genre musik karawitan, kerocong, dangdut, campursari dengan format asli kini sudah mengalami perubahan yang membawa energi positif untuk membuka wawasan masyarakat khususnya Wonosari tentang musik Barat. Tentunya dengan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah dalam musik aslinya.Kata kunci: Dangdut, Orkestra Dangdut, Sosial Budaya AbstractDangdut is a type of popular music in Indonesia. Seeing its development, of course it cannot be separated from its musical elements. This development also occurred in the music group Kidung Etnosia in Wonosari. The study of dangdut music is basically a study of form, structure, orchestration, style and a number of other musical components. This study aims to identify and analyze the form and structure of the performance of dangdut music collaboration with Western musical instruments in the Song of Ethnosia music group in the context of socio-cultural and economic changes. To achieve a thorough understanding of the problems studied, an anthropological paradigm, namely Levi-Strauss Structuralism, is used. This research is a qualitative research with data collection through participant observation, interviews, and literature studies. Based on the results of the research, it can be seen that the Wonosari people are able to accept dangdut orchestral performances because the performances do not leave the original dangdut elements. Dangdut orchestra performances are part of the arts that have undergone changes in the context of socio-cultural and economic changes in the Wonosari community. As a city that is rich in local cultural arts, including the Song of Ethnosia, which initially only played the musical genres of karawitan, kerocong, dangdut, campursari with the original format has now undergone a change that brings positive energy to open people's insight, especially the Wonosari people, about Western music. Of course, without leaving the rules in the original music.Keywords: Dangdut, Dangdut Orchestra, Socio-Cultural
Penerapan Alat Musik Tradisional Cak dan Cuk dengan Alat Musik Modern dalam Peribadatan di HKBP Yogyakarta Hutabarat, Mira Christina; Pasaribu, Rianti Magdalena; Kustap, Kustap
Ekspresi Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i1.12040

Abstract

Musik memiliki peran yang sama penting dengan khotbah di dalam berjalannya suatu ibadah. Berkembangnya zaman, gereja pun berkembang ke semua penjuru dunia dan mengalami inkulturasi budaya musik. Gereja HKBP juga mengalami inkulturasi budaya, alat musik Jawa (Keroncong) yaitu Cak dan Cuk dipilih untuk mengiringi ibadah 17.30 di HKBP Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan gereja HKBP Yogyakarta menerapkan alat musik tradisional Cak dan Cuk dengan alat musik modern pada peribadatan 17.30 dan proses penerapannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk memperoleh data penelitian. Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan kepada gereja HKBP Yogyakarta tentang penerapan alat musik Cak dan Cuk dengan alat musik modern dalam peribadatan. Dapat disimpulkan alasan penerapan alat musik tradisional Cak dan Cuk dikarenakan adanya program kerja pemusik pada setiap minggu ke-5 yang menerapkan ibadah etnik. Penerapan musik Cak dan Cuk dengan alat musik modern dapat menciptakan nuansa ibadah etnik Jawa yang cukup dan tidak terlalu susah untuk diterapkan. Kekurangan SDM dan alat mempengaruhi performa penyajian musik iringan ibadah pada ibadah etnik Jawa. Kata kunci: Musik tradisional, Cak Cuk, Musik gereja, Peribadatan, HKBP Yogyakarta AbstractMusic has an equally important role as the sermon in the course of a service. As time progressed, the church expanded to all corners of the world and experienced inculturation in musical culture. The HKBP Church also experienced cultural inculturation, Javanese musical instruments (Keroncong), namely Cak and Cuk, were chosen to accompany the 17.30 worship service at HKBP Yogyakarta. This research aims to find out the reasons why the HKBP Yogyakarta church uses traditional Cak and Cuk musical instruments with modern musical instruments in the 17.30 worship service and the implementation process. This research uses descriptive qualitative research methods to obtain research data. This research can provide knowledge to the HKBP Yogyakarta church about the application of Cak and Cuk musical instruments with modern musical instruments in worship. It can be concluded that the reason for using the traditional Cak and Cuk musical instruments is because there is a work program for musicians every 5th week that implements ethnic worship. The application of Cak and Cuk music with modern musical instruments can create a sufficient nuance of Javanese ethnic worship and is not too difficult to implement. The lack of human resources and tools affects the performance of the presentation of worship music at Javanese ethnic worship services. Keywords: Traditional music, Cak Cuk, Church music, Worship, HKBP Yogyakarta
Penggunaan Found Objects sebagai Media Pembelajaran Musik Kelas XII di SMAN 1 Unggulan Muara Enim Tamba, Lasti Yuliana
Ekspresi Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i1.13447

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meneliti proses dan juga hasil dari penggunaan found objects sebagai media pembelajaran musik. Keterbatasan fasilitas instrumen musik dan kurangnya SDM yang berlatar belakang musik, membuat pembelajaran musik di SMAN 1 Unggulan Muara Enim sedikit terhambat. Pemilihan media pembelajaran yang tepat, akan membantu proses belajar mengajar meskipun fasilitas instrumen musik yang dimiliki terbatas. Found objects atau benda-benda di sekitar yang mudah dijangkau, dapat dijadikan sebagai media pembelajaran musik. Pedagogi dijadikan sebagai pendekatan dalam metode pembelajaran untuk mengenal hal-hal baru. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa sangat antusias dan bersemangat selama proses pembelajaran, sangat tertarik pada saat belajar, mampu bekerjasama dan berinteraksi dengan teman sekelompok, serta mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Penggunaan found objects sebagai media pembelajaran, dapat mengasah kreativitas siswa. Siswa kelas XII di SMAN 1 Unggulan Muara Enim sudah mampu mengaplikasikan benda-benda sekitar (found objects) pada pembelajaran. Kata kunci: Media pembelajaran; pedagogi; found objects  AbstractPurpose of this research is to study the process and result of using found objects as a media for music learning. The limitedness of music instrument facility and lack of human resource with music background, make music lessons in SMAN 1 Unggulan Muara Enim little overdue. The right choses of learning media, will help learning and teaching process even though the music instrument facility owned is limitedness. Found object or goods in surround that can easy to reach, can be a music learning media. Pedagogy uses as approach in learning method to recognizing new things. This research uses qualitative method with case studies approach. The result of this research show that student are enthusiastic and excited during learning process, very interesting at the time of learning, could afford to work together and interact with friends in team, and also follow the learning and teaching process well. Found object uses as a learning media, can sharpening students creativity. 3th grade students in SMAN 1 Unggulan Muara Enim already capable to apply goods in surround (found object) for learning.  Keywords: Learning method, pedagogy, found objects
Proses Produksi Musik Latar “Maleo Tidak Sendiri” dalam Program Magang Bersertifikat Kampus Merdeka 2023 di PT. Selingkar Literasi Sayang Keluarga Timung, Matthew Adriel; Asmoro, Ganang Dwi
Ekspresi Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i1.12397

Abstract

Dunia pendidikan tinggi di tanah air mengalami perubahan paradigma sejak diselenggarakannya kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Program MSIB (Magang dan Studi Independen Bersertifikat) adalah salah satu program unggulan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa dalam lingkungan dunia kerja nyata. Artikel ini mendeksripsikan proses produksi luaran dari Kegiatan MSIB 2023 yang dilakukan di PT. Selingkar Literasi Sayang Keluarga (Mitra PT. Sebangku Jaya Abadi). Musik Latar “Maleo Tidak Sendiri” disusun berdasarkan penugasan Peserta Program MSIB 2023 yaitu Produser Musik. Musik disusun sebagai musik latar untuk Project Motion comic berjudul Maleo Tidak Sendiri yang diproduksi oleh Yuniar Khairani, penulis naskah segaligus Kepala Divisi Kreatif  PT. Selingkar Literasi Sayang Keluarga. Penelitian menggunakan metode artistik dengan pendekatan Practice Based Research. Tahapan penelitian yaitu: perancangan, pengadaptasian, uji-coba, dan penerapan. Hasil penelitian menunjukkan adanya manfaat dari program MSIB yaitu menjembatani kesenjangan antara pembelajaran akademis dan penerapan dunia nyata dengan memungkinkan individu untuk mengembangkan keterampilan di bidang produksi musik. Program MSIB juga memungkinkan penulis menjalin hubungan dengan profesional, mentor, dan sesama peserta magang.Kata kunci: Musik latar, Maleo Tidak Sendiri, Motion comic, Practice Based Research, Produksi Musik 
Kursus Musik sebagai Sarana untuk Menemukan Potensi Anak Sejak Dini (Studi Kasus: Majesty Music Course) Padang, Weslay Pradana Leonard
Ekspresi Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i1.13771

Abstract

Potensi pada anak sebaiknya digali dan ditemukan sejak usia dini sehingga potensi tersebut dapat dikembangkan dengan lebih terarah. Ada begitu banyak cara untuk menemukan serta mengembangkan potensi anak, salah satunya kursus musik. Kursus musik merupakan pembelajaran tentang musik yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan musikal anak. Namun selain mengembangkan kemampuan musikal, kursus musik juga dapat mengembangkan kemampuan lain di luar kemampuan musikal, contohnya kemampuan kognitif, kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi, kreativitas, problem solving, serta yang paling banyak disebutkan adalah kemampuan matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi yang diperoleh melalui kursus musik dan faktor-faktor yang mendukung potensi tersebut.  Penelitian ini dilakukan terhadap murid kursus di Majesty Music Course. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dengan penyajian berupa studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara langsung terhadap para pengajar serta para orang tua anak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa anak dapat mengembangkan potensi untuk berkomunikasi dan berinteraksi kepada orang baru, khususnya kepada orang yang lebih tua dari anak tersebut, dan juga dalam mengomunikasikan kesulitan yang dihadapi. Selain itu anak dapat mengembangkan potensi dalam pemecahan masalah. Kursus musik dapat berperan sebagai sarana untuk menemukan potensi anak sejak dini melalui metode dan proses pembelajaran yang diterapkan, yakni memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang dan menjelajahi apa yang menjadi potensinya.  Kata Kunci: Kursus Musik, Anak Usia Dini, Majesty Music Course, Komunikasi, Pemecahan Masalah. AbstractChildren's potential should be explored and discovered from an early age so that the potential can be more focused. There are many ways to find and develop children's potential, including music courses. Music courses are learning about music that aims to develop children's musical abilities. However, in addition to musical skills, music courses can also develop other abilities outside of musical abilities, such as cognitive abilities, social and communication skills, creativity, problem-solving, and, most frequently, mathematical ability. This study aims to determine the potential obtained through music courses and the factors that support this potential. This study was conducted on students at the Majesty Music Course. The study was conducted using a qualitative descriptive method with a presentation as a case study. Data collection was carried out through direct observation and interviews with teachers and parents of children. The results of this study indicate that children can develop the potential to communicate and interact with new people, especially with people who are older than the child, and also in communicating the difficulties they face. In addition, children can develop potential in problem-solving. Music courses can act as a means to discover children's potential from an early age through the learning methods and processes applied, namely by allowing children to develop and explore their potential. Keywords: Music Course, Early Childhood, Majesty Music Course, Communication, Problem-Solving.

Page 1 of 1 | Total Record : 7