cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010" : 8 Documents clear
Kèjhungan: Gaya Nyanyian Madura dalam Pemaknaan Masyarakat Madura Barat pada Penyelenggaraan Tradisi Rèmoh Zulkarnain Mistortoify; Timbul Haryono; Lono L. Simatupang; Victorius Ganap
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.488

Abstract

Kèjhungan in Rèmoh Tradition on West Madura. Kèjhungan or singing style comes from the activity of peoplesinging about their everyday lives in Madura’s society. When the kèjhungan has become an “established” singing style,therefore the meaning of the kèjhungan includes the ownership meaning that is inherited through oral traditions andlegitimized in the culture of the people of Madura. The research’s assumption explains that the existence of the kèjhunganbecomes an important conscious for the whole singing culture of the Madura people. Even, in the elite village life for examplein the “gathering tradtion” of blatèr community, kèjhungan has become their identity of existence. This research is a studyon the representation of values when the kèjhungan is made as a symbol or legitimate image for the blatèr communityin the Madura society. The fi ndings of this research explains that kèjhungan has become the object of consumption thatis advanced to the blatèr community in achieving their respect. With their power, the blatèr can construct traditionalkèjhungan values into outstanding symbols in strengthening their existence in Madura’s society.
Perkembangan Penyajian Jathilan di Daerah Istimewa Yogyakarta Kuswarsantyo -; Timbul Haryono; R.M Soedarsono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.490

Abstract

The Horse Dance in Yogyakarta. Artikel ini membahas perjalanan sejarah kesenian Jathilan hingga memasukiera Globalisasi. Pasang surut kesenian Jathilan telah dialami dari waktu ke waktu, termasuk juga dalam aspekfungsi penyajian. Kini Jathilan dapat bebas disajikan tanpa terkait dengan upacara seremonial tertentu. Hadirnyaindustri pariwisata yang dicanangkan pemerintah tahun 1986, merupakan era baru yang disebut dengan Globalisasi.Program pariwisata memberikan dampak luar biasa bagi pengembangan sajian seni Jathilan. Interaksi sosial antarwilayah memberi kontribusi terhadap upaya pengemasan bentuk sajian Jathilan untuk konsumsi wisatawan.Pengaruh tersebut terjadi karena dua faktor, pertama faktor eksternal dan kedua faktor internal. Dua pengaruh iniyang memberi sinyal akan berkembangnya bentuk sajian Jathilan yang tidak lagi hanya dipentaskan untuk acaraseremonial tertentu. Penerapan konsep pseudo traditional art, dengan mengutamakan sajian kemasan yang singkatpadat, penuh variatif, telah dihilangkan unsur ritual, tiruan bentuk aslinya dan murah harganya.
Semiotika Tripartisi Concierto de Aranjuez Bagian I Allegro con Spirito Karya Joaquin Rodrigo Kustap -
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.492

Abstract

Tripartition Semiotics of Concierto de Aranjuez. Tulisan ini membahas Concierto de Aranjuez Bagian I Allegrocon SpiritoKarya Joaquin Rodrigo. Metode diskriptiptif analisis digunakan untuk mengupas masalah ini. Berdasarkanpenelitian dapat disimpulkan bahwa makna musikal pada level poietic bagi Rodrigo adalah tidak mudah putus asa,ramai dan bersemangat seperti Allegro con spirito. Dalam level neural, sukat yang stabil bermakna tenang, tonikadimulai dari mayor dan diselesaikan dalam mayor bermakna suasana gembira. Dinamika yang dinamis bermaknasemangat dari yang sangat lembu, lembut, kuat, kerasa, hingga keras sekali.
Dhenggung Asmarandana dan Dhegung Banten: Sebuah Komparasi Teguh -
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.493

Abstract

The Comparation of Dhenggung Asmarandana and Dhegung Banten. Penelitian ini membahas perbandinganantara gending Dhenggung Asmaradana gaya Surakarta dengan gending Dhegung Banten gaya Yogyakarta.Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa kedua gending memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaankeduanya terletak pada laras, pathet, bentuk gendhing, struktur gendhing, serta balungan gending. Sedangkanperbedaannya hanya pada nama dan garap tabuhan bonang.
Kendhangan Pamijen Gending Gaya Yogyakarta Bambang SRI Atmojo
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.495

Abstract

Kendangan Pamijen of Yogyakarta Gamelan Performance. Kendhangan gaya Yogyakarta dibedakan menjaditiga yaitu: (1) kendhangan dengan kendang setunggal kendang ageng antara lain kendhangan Pengrawit, Mawur,Mawur Tungkakan, Semang, Jangga, Candra, Sarayuda, Raraciblon, Bandholan, Majemuk, Lahela, Ladrang,Ketawang, Pinatut (Srepeg dan Ayak-ayak); (2) kendhangan dengan kendang kalih ( kendang ageng dan ketipung)antara lain kendhangan Gandrung-gandrung, Ladrang, Ladrang Gangsaran, Bimakurda, Sabrangan, Raja, Ketawang, Bubaran, Lancaran; dan (3) kendhangan dengan kendang batangan atau gembyakan antara lain kendhangankebar, ciblon, playon, srepeg, sampak, dan kendhangan yang mengikuti gerak baik tari ataupun wayang. Beberapakendhangan yang menggunakan kendang ageng, kendang kalih dan kendang batangan, ada yang memiliki bentukdan garap yang sifatnya umum dan khusus atau pamijen. Kendhangan pamijen adalah kendhangan gawan gending,sehingga kendhangan ini merupakan kendhangan khusus untuk ngendhangi suatu gending bawaannya yang memilikibentuk dan garap khusus. Kendhangan pamijen antara gending satu dengan yang lain ada yang sama bentuknya,tetapi berbeda sekaran-nya, bahkan ada yang bentuk dan sekaran-nya berbeda, perbedaan tersebut menjadi kekayaanbentuk dan garap serta merupakan ciri khas dari gending tertentu.
Dokumentasi Tari Tradisional Budi Astuti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.499

Abstract

Documentation of Traditional Dance. Tari merupakan seni sesaat, oleh karena itu dibutuhkan dokumentasiyang baik yang dapat merekam seluruh gerak dan aktivitas yang menyeluruh, sehingga suatu saat dapatdirekonstruksikan kembali. Sistem pendokumentasian secara tertulis atau pencatatan tari telah dilakukan sejakjaman dahulu. Sistem pencatatan tari sebagai salah satu cara mendokumentasikan tari masih dilakukan hinggasekarang. Namun demikian sistem pencatatan tari yang dilakukan oleh seniman satu dengan seniman lainnya ataudaerah satu dengan daerah lainnya, berbeda-beda. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, perlu dipikirkansistem pencatatan tari yang bisa dipahami oleh semua kalangan sehingga bisa dipakai sebagai bahasa komunikasiyang sifatnya universal. Notasi laban bisa dijadikan alternatif sistem pencatatan tari karena mampu merekam detaildetailposisi dan gerak yang paling lembut dan rumit dari setiap bagian tubuh. Kemajuan teknologi memungkinkansistem pendokumentasian tari melalui perekaman gerak secara visual sangat bermanfaat untuk mendukung danmelengkapi dokumentasi tertulis.
Tari Golek Gambyong Gaya Yogyakarta Tutik Winarti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.500

Abstract

Gambyog Dance of Yogyakarta. Tari Golek Gambyong merupakan satu-satunya tari golek gaya Yogyakartayang berbentuk tari kelompok. Tari ini merupakan koreografi lama yang dicipta KGPA Mangkubumi pada masapemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VI. Tari Golek Gambyong dibawakan oleh tiga orang penari, denganperan dan karakter yang berbeda, yaitu satu peran putri sebagai Golek, dua peran putra masing-masing menjadiKakang Gambyong dan Canthang Balung. Diperkirakan tari ini merupakan penggambaran adanya intrik politik yangterjadi pada masa itu atau sebagai sindiran bagi yang berseteru pada masa itu. Saat tari itu diciptakan, dalam keratonsedang terjadi intrik politik yang terkenal dengan nama pergolakan Suryengalaga.
Teknik Pengelolaan Tenaga: Kajian dalam Koreografi Tunggal Sarjiwo -
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.501

Abstract

Power Management Techniques: A Study In Choreography Single Dance. This study aims to reveal thepower management techniques in a single choreographic works (solo dance). Data collection techniques used byobservation and interviews. Observations made by looking at and following the staging of activities undertakenby informants/interviewers. While, the interviews were conducted in a structured interview guide that has beenprepared to crawl processed data so that it can be more focused and directed. Collected data were analyzed byqualitative descriptive analysis techniques with management approach. According to this research it can beconcluded that, in order to make good quality of choreography character and good quality of dancer characteristicrequired planning process by conducting exercises diligently. Exercise is necessary for organisms of the body to becapable to performing its function as a medium for optimal expression of dance. The pattern of organization ormotion compotition could not be separated from the planning process that has been made. Each choreographerhas a different way with each other. Activities of implementation related to the power management at the timechoreography displayed, related to the ability of the dancers on the power control, regulate breathing pattern byplacing a breathing pattern as part of the choreography, and management of emotions that are not easily infl uencedby the presence of spectators. Evaluation is required at the time of the cultivation process and after the choreographyform was displayed. Evaluation is needed so that the creation that has been produced not quit on the spot.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue