cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018" : 5 Documents clear
Tirtha Campuhan: Sebuah Karya Komposisi Baru dengan Media Gamelan Smar Pagulingan Prakasih Putu Paristha; Yudarta I Gede; Santosa Hendra
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.072 KB) | DOI: 10.24821/resital.v19i3.2452

Abstract

Proses penciptaan karya seni, khususnya seni karawitan sudah mulai berkembang mengikuti kemajuan jaman. Perkembangan tersebut terdapat pada proses kreativitas dalam penciptaan karya seni karawitan, hal itu dapat dilihat dari unsur musik dalam seni karawitan. Dalam seni karawitan sangat penting dalam proses penciptaan karya seni yang kuat untuk sebuah pembaharuan terhadap tradisi sehingga bisa dikatakan sebagai musik kreasi. Penata tertarik menganggkat sebuah tempat suci di Pantai Sari Kuta tepatnya di Pura Tirtha Campuhan yang memiliki keunikan. Keunikan tersebut adalah fenomena alam tentang aliran sungai yang di dalamnya terdapat campuran dari dua aliran sungai dengan air laut sehingga terbentuk sungai baru yang bernama sungai campuhan. Sesuai dengan namanya Pura Tirtha Campuhan memiliki campuran aliran sungai dari muara sungai mati (tukad mati, tukad ening) dan sungai yang berada di Badung, sehingga aliran sungai di Pura tersebut membentuk sebuah aliran sungai baru (peteluan tukad, tukad mati, tukad ening). Selain terjadinya campuran dari aliran sungai, masyarakat juga memanfaatkan dan menggunakan air sungai ini sebagai tirtha untuk pengelukatan atau pembersihan dan juga digunakan sebagai obat. Dari cerita tersebut akhirnya penata menemukan ide untuk menjadikan Tirtha Campuhan sebagai sumber inspirasi. Penata merealisasikannya ke dalam bentuk garapan komposisi musik kreasi dengan menggunakan media ungkap Smar Pagulingan. Dalam media ungkap Smar Pagulingan penata mengaplikasikan tirtha dan campuhan atau campuran dalam membuat tirtha tersebut dengan menggabungkan beberapa patet dalam gamelan Smar Pagulingan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan penata yang membangun suasana harmonis dalam olahan melodi menggunakan pencampuran patet.Tirtha Campuhan: A New Composition Work by Using Semar Pagulingan Gamelan as Media. In Karawitan, the process of creating works of art is essential to produce a renewal of tradition so that the process of creating these works of art can be said to be musical creation. For creating the musical creation, the author was inspired by the uniqueness of the holy place in Pata Sari Kuta precisely in Tirtha Campuhan Temple, which was used as the idea of creation. The uniqueness in Tirtha Campuhan Temple is a natural phenomenon of river flow in which there is a mixture of two river streams with seawater to form a new river called Campuhan river. As the name implies, Tirtha Campuhan Temple has a mixture of river flow from dead river mouths (tukad mati, tukad ening) and rivers in Badung, so that the river flow in the temple forms a new river flow (tukad pateluan, tukad mati, and tukad ening). The local community often uses the river water in the temple as tirtha for pengelukatan or cleaning and also used as medicine. From this information, the authors found the idea of making Tirtha Campuhan as a source of inspiration. The author realized the idea of creation in the form of the creation of musical compositions using the media revealed Semar Pagulingan. In this media, Semar Pagulingan applied tirtha and campuhan or mixture in making the tirtha by combining several patets in the Semar Pagulingan gamelan. The purpose of creating this creative music is to build a harmonious atmosphere in the preparation of melodies using patet mixing.Keywords: tirtha campuhan; semar pagulingan; creation music
Bentuk dan Makna Gong Timor dalam Upacara Ritual Tfua Ton di Napan Sunarto Sunarto; Agustinus Renaldus Afoan Elu
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.409 KB) | DOI: 10.24821/resital.v19i3.3511

Abstract

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memahami tentang bentuk musik ritmik Gong Timor dalam upacara ritual Tfua Ton berdasarkan elemen-elemen irama yang terkandung didalamnya serta memahami lebih dalam tentang makna simbolik Gong Timor dalam upacara ritual Tfua Ton. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan desain penelitian fenomenologi. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik analisis data dilakukan melalui proses reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, bentuk musik Gong Timor terdiri dari beberapa elemen irama yaitu ketukan, aksen dan pola irama. Makna simbolik yang terkandung pada Gong Timor dalam upacara ritual Tfua Ton yaitu sebagai simbol komunikasi, keperkasaan, karakter dan identitas masyarakat Desa Napan. Simbol tersebut dimaknai dengan adanya perjuangan masyarakat dalam memperjuangkan kehidupan dan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Dalam ritual tersebut Gong timor dimaknai sebagai penghubung antara masyarakat dengan para leluhur dan alam yang mendiami tempat tersebut. Gong Timor tersebut mamiliki makna simbolik yang hanya bisa dipahami oleh masyarakat setempat. Gong Timor dalam upacara ritual Tfua Ton telah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. The Form and Meaning of Gong Timor on the Ritual Ceremony of Tfua Ton in Napan.This paper aims to understand the rhythmic musical form of Gong Timor in the Tfua Ton ritual based on the rhythm elements contained in it and to understand more deeply the symbolic meaning of Gong Timor in the Tfua Ton ritual. The research method uses descriptive qualitative research design with phenomenology. Research data were collected using observation, interview and document study techniques. The data analysis technique was done through the process of reduction, presentation, and concluding. The results of this study indicate that the Gong Timor music form consists of several elements of rhythm, namely beats, accents and rhythm patterns. The symbolic meaning contained in the Gong Timor in the Tfua Ton ritual ceremony is as a symbol of communication, strength, character, and identity of the people of Napan Village. The symbol is interpreted by the struggle of the community in fighting for lives and economic needs. In the ritual, Gong Timor is interpreted as a liaison among the community and the ancestors, and nature that inhabit the place. The Gong Timor has a symbolic meaning that can only be understood by the local community. Gong Timor in the Tfua Ton ritual ceremony has become an inseparable unit.Keywords: timor gong; tfua ton; symbolic meaning
Balungan Ladrang Slamet Laras Slendro Pathet Manyura Ditinjau dari Konsep Mancapat Indah Ayu Fitria
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1344.754 KB) | DOI: 10.24821/resital.v19i3.3512

Abstract

Ladrang Slamet bagi masyarakat Jawa tradisonal rupa-rupanya telah dipandang sebagai gending doa keselamatan. Namun, menariknya di dalam Ladrang Slamet tidak dijumpai syair yang secara eksplisit merujuk pada hal-hal yang berkenaan dengan keselamatan. Bahkan syair yang digunakan adalah cakepan salisir, yang juga sering digunakan pada gending-gending yang lain. Merujuk pada permasalahan di atas, studi ini ingin menjawab pertanyaan tentang pemaknaan keselamatan dalam Ladrang Slamet yang diasumsikan terletak pada susunan nada-nadanya. Analisis struktural yang berpijak pada konsep Mancapat dengan pendekatan mitologi digunakan untuk menguraikan struktur balungan Ladrang Slamet laras slendro pathet manyura. Melalui analisis tersebut diperoleh kesimpulan bahwa struktur Ladrang Slamet merupakan manifestasi dari sistem relasi dewa-dewa, yakni Siwa-Kama-Brahma-Narada yang mana dalam hubungan relasinya menunjukkan kapasitas Siwa sebagai sumber kekuatan yang mengatur waktu dalam mencapai kesempurnaan.Balungan Ladrang Slamet of the Slendro Pathet Manyura Reviewed from the Mancapat Concept. Ladrang Slamet for traditional Javanese people seems to be as a genre of prayer for salvation. However, interestingly, in Ladrang Slamet there are no poems that explicitly refer to matters relating to salvation. Even the poetry used is cakepan salisir, which is also often used in other songs. The study wants to discuss the meaning of salvation in Ladrang Slamet, which is assumed found in the arrangement of the notes. The structural analysis which is based on the Mancapat concept with a mythological approach is used to describe the structure of balungan Ladrang Slamet, the harmony of slendro pathet manyura. Through this analysis, it was concluded that the structure of Ladrang Slamet is a manifestation of the system of relations of the gods, namely Shiva-Kama-Brahma-Narada which in the relationship shows Shiva’s capacity as a source of power that governs time in achieving perfection.Keywords: ladrang slamet; balungan; mancapat
Android-based Music Practice Material Complection Application Rully Aprilia Zandra
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.382 KB) | DOI: 10.24821/resital.v19i3.3430

Abstract

Millennials and Z-generation were born in the modern era. Since their birth, they have been surrounded by sophisticated technology. This generation always gets information quickly and limitless. They are very familiar with the internet and applications on smartphones. The most familiar application is generally based on Android. Android must also be used in the world of education. Android applications can be realized as a tool to deliver learning or supervision of learning. Supervision of learning in this development is limited to material comptetion. This development was developed from a paper-based initial device. The device focuses on students' practical skills in music. For this purpose, peer tutoring forms in drill supervision are very necessary. This study used a Research and Development method modified from Borg and Gall in 10 steps. The steps used are research and information collecting, planning, develop preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing, final product revision, dissemination and implementation. The first score validation were 65,25% from the IT validator, 70,50% from the media validator, and 75,25% from the material validator. The mean values in the small group trials were 70.50 and 78.25 in the large group trials. The final score from validation were 92,50% form the IT validation, 77,25% from the media validator, and 84,75% from the material validator. There are three applications that must be developed as recommendations from the results of this research. These three applications are: main teacher applications, admin applications, and student applications. Each application must be connected and updated in real-time.
Musik Senggayung Desa Gerai Kabupaten Ketapang : Kajian Bentuk Dan Identitas Budaya Harriska Harriska
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.038 KB) | DOI: 10.24821/resital.v19i3.3336

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk musik senggayung yang mencerminkan identitas budaya masyarakat desa Gerai Kabupaten Ketapang. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan desain penelitian studi kasus interpretatif. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Serta menggunakan teknik triangulasi sumber dan data untuk menjaga validitasnya. Sedangkan teknik analisis data dilakukan melaui proses reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan (verifikasi). Hasil penelitian ini menunjukkan, musik senggayung merupakan musik yang mencerminkan identitas budaya masyarakat desa Gerai Kabupaten Ketapang. Musik senggayung hanya ada di daerah gerai, musik unik yang tidak dimiliki daerah lain. Jika dilihat dari organologinya, senggayung tergolong kedalam alat musik idiophone yang terbuat dari bambu. Yang membuat menarik, penggunaan alat musik senggayung hanya bisa untuk sekali pakai pada satu upacara, tidak bisa digunakan lagi untuk upacara lainnya jika jarak waktu upacara lebih dari 3-4 hari. Hal ini berkaitan dengan timbre yang dihasilkan oleh bambu. Musik senggayung biasa digunakan untuk mengiringi proses upacara-upacara masyarakat desa Gerai. Beberapa faktor-faktor pembentuk identitas budaya yaitu (1) kepercayaan, (2) bahasa, (3) pola prilaku, sudah tercermin dalam senggayung.This study aims to analyze the shape of senggayung music that reflects the cultural identity of the village community of Ketapang regency. The research method used qualitative descriptive with interpretative case study research design. The data were collected by observation, interview, and document study. As well as using triangulation techniques of sources and data to maintain its validity. While the data analysis technique is done through the process of reduction, presentation, and withdrawal of conclusion (verification). The results of this study indicate, senggayung music is a music that reflects the cultural identity of the village community of Ketapang regency. Senggayung music only exist in the area of outlets, unique music that is not owned by other regions. When viewed from the organology, senggayung belong to idiophone musical instruments made of bamboo. What makes it interesting, the use of senggayung musical instruments can only be for one use at a ceremony, can not be used anymore for other ceremonies if the distance of ceremony time more than 3-4 days. This is related to the timbre produced by bamboo. Senggayung music is used to accompany the process of ceremonies of Gerai village community. Some of the factors that make up the cultural identity are (1) belief, (2) language, (3) behavior pattern, already reflected in senggayung.Keywords: Senggayung, Cultural Identity

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue