cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 1 (2020): April 2020" : 5 Documents clear
Mengukur Perubahan Hasil Belajar Mahasiswa Melalui Penggunaan Modul Teori Musik Akbar, Mohamad Alfiah; Jatmika, Ovan Bagus
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 21, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v21i1.3362

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perubahan hasil belajar mahasiswa kelas teori musik sebelum dan sesudah diterapkan modul teori musik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Adapun tahapan dalam penelitian ini meliputi, tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data yang diperoleh antara lain hasil belajar mahasiswa, hasil observasi aktivitas belajar mahasiswa yang diperoleh dari lembar observasi dan hasil wawancara. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan bahwa ada peningkatan hasil belajar mahasiswa, namun masih ada mahasiswa yang mendapat nilai pada kategori kurang. Selain itu, sebagian mahasiswa masih belum terbiasa dalam penggunaan modul. Sedangkan hasil penelitian pada siklus II ada peningkatan hasil belajar mahasiswa yang signifikan jika dibandingkankan dengan sebelum penerapan modul teori musik dan pada siklus I. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan modul ajar dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah teori musikABSTRACTMeasure changes in student learning outcomes through the use of music theory module. This study aims to measure changes in student learning outcomes in music theory classes before and after the music theory module is applied. The research method used was classroom action research (CAR), which was carried out in two cycles. The stages in this study include, the planning stage, the implementation of actions, observation, and reflection. The data obtained include student learning outcomes, observations of student learning activities obtained by observation sheets and interview results. The results of the study in the first cycle showed that there was an increase in student learning outcomes, but there were still students who scored in the poor category. In addition, some students are still unfamiliar with using modules. While the research results in the second cycle there is an increase in student learning outcomes significantly if dibandingkankan with prior application of music theory modules and the first cycle. These results indicate that the use of teaching modules to improve learning outcomes of students in the subject of music theory.Keywords: modules; music theory; learning outcomes
Penggunaan Fruity Loops Studio dalam Pembelajaran Konsep Musik Tonal dengan Berkarya Musik Populer untuk Peserta Didik SMA Rahman, Pispian; Sukmayadi, Yudi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 21, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v21i1.4103

Abstract

Artikel ini membahas pembelajaran seni musik menggunakan aplikasi Fruity Loops Studio yang dapat mengolah data suara dan bunyi secara digital. Namun, keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan aplikasi Fruity Loops dalam pembelajaran memiliki berbagai aspek yang harus diperhatikan agar fitur-fitur membuat musik yang tersedia dalam aplikasi dapat digunakan dengan efektif. Artikel ini bertujuan untuk membahas tingkat kemajuan musikal yang dapat dicapai, mengidentifikasi kendala dalam pembelajaran, memberikan umpan balik dan informasi penting untuk perbaikan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, studi literatur, dan dokumentasi dengan data utama hasil karya musik peserta didik. Hasil Penelitian ini menunjukkan perlunya prasyarat ruang lingkup materi ajar dengan konsep musik Tonal yang harus dikuasai secara baik serta dapat diamatinya peningkatan kemampuan musikal melalui pengalaman auditif bagi peserta didik dalam penugasan membuat karya musik populerABSTRACTThe Use of Fruity Loops Studio in Learning Concept of Tonal Music With Popular Music Working for High School Students. This article discusses learning the art of music using the Fruity Loops Studio application that can process sound and sound data digitally. However, the success of learning by using the Fruity Loops application in learning has various aspects that must be considered so that the features that make music available in the application can be used effectively. This article aims to discuss the level of musical progress that can be achieved, identify obstacles in learning, provide feedback and important information for learning improvement. This research uses descriptive analysis method. Data collection is done using observation techniques, interviews, literature studies, and documentation with the main data of students' musical works. The results of this study indicate the need for prerequisites for the scope of teaching material with the concept of Tonal music that must be mastered properly and can be observed in improving musical ability through auditive experience for students in the assignment to make popular music works.Keywords: Tonal Music; Popular Music; Fruity Loops; Musical Intelligence.
Post – Harmony Sangposangan As Dynamic Existence of Madurese People In Digital era Hidayatullah, Panakajaya
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 21, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v21i1.3995

Abstract

Post – Harmony Sangposangan As Dynamic Existence of Madurese People. In Digital era This paper is a result of anthropology research by using cultural studies perspectives. This article, comprehensively, discuss; 1) musical relation between Western and traditional music in sangposangan; 2) a kind of ‘post-harmony’ sangposangan by using musicology analysis through musical text of Angling Madura song. The result of study shows an encounter between western and Madurese traditional music in sangposangan music which can produce a new musical entity (harmony of other).  Post-harmony sangposangan is manifested in dynamic composition which are; 1) dangdut composition in EDM syle, and 2) contrast change from dangdut koplo to pure dangdut. Post-harmony can be read as intuition, emotion, sense and instinct which can drive creative process of sangposangan music. It does not come from rigid notation system but it is constructed from rhythm of Madurese people’s life.ABSTRAKTulisan ini merupakan hasil penelitian antropologi musik dengan menggunakan perspektif kajian budaya. Secara komprehensif artikel ini menelaah tentang 1) relasi musikal antara musik Barat dan tradisional dalam musik sangposangan; 2) menelaah tentang bentuk ‘post-harmoni’ sangposangan melalui analisis musikologis dari teks musikal gending Angling Madura. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertemuan musikal antara musik Barat dan tradisional Madura dalam musik sangposangan mampu menghasilkan sebuah entitas musikal yang baru (‘harmoni yang lain’). Post-harmoni sangposangan diwujudkan dalam dinamika garap yang dinamis yaitu 1) garap dangdut ala EDM, dan 2) perubahan kontras dari dangdut koplo ke dangdut piur. Post-harmoni dapat dibaca sebagai sebuah naluri, emosi, sense dan insting yang menjadi penggerak dari proses kreatif musik sangposangan. Ia tidak berangkat dari sistem notasi yang kaku, tetapi dibangun dari ritme kehidupan masyarakat Madura.Kata kunci: Sangposangan; Post – Harmony; Madura, Musik
Representasi Konsep Patet dalam Tradisi Garap Gamelan Bali Ardana, I Ketut Ketut
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 21, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v21i1.4213

Abstract

Patet merupakan salah satu persoalan penting karena memiliki keberagaman dalam tradisi garap pada setiap gamelan Bali.. Sayangnya, keberagaman tersebut tidak terpublikasi dan terumuskan secara komprehensif menjadi sebuah teori yang dapat menjelaskan patet gamelan Bali. Salah satu garap patet yang unik, yang diangkat dalam penelitian ini adalah implementasi patet dalam Gamelan Gong Suling. Gamelan ini merupakan salah satu gamelan yang tidak eksis di masyarakat, namun sesungguhnya memiliki fleksibelitas dalam konsep penggarapan terutama persoalan patet yang berbeda dengan gamelan Bali lainnya. Oleh sebab itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana implementasi patet dalam Gamelan Gong Suling. Metode penelitian didasarkan pada metode analisis deskriptif melalui teori garap. Ada dua aspek analisis utama tentang garap Gamelan Gong Suling: (1) pengelompokan tungguhan (instrumen), dan (2) konsepsi musik. Sedangkan untuk instrumennya, Gamelan Gong Suling terdiri dari seruling Bali, kendang, cengceng ricik, kajar, klenang, dan gong pulu. Mengenai fungsi alat musiknya, seruling Bali memainkan melodi (bantang gending, bon gending, payasan gending), kendang memainkan payasan gending, cengceng ricik memainkan pengramen, dan gong pulu memainkan pesu mulih. Konsep musik Gamelan Gong Suling menyangkut: materi garap, prabot garap atau piranti garap, dan penentu garap. Mengenai materi garap, Gamelan Gong Suling memiliki nada dasar yang disebut Bantang Gending; mengenai Piranti Garap, Gamelan Gong Suling memiliki lima tetekep: tetekep deng, dang, dong, dung dan ding; Adapun tentang Penentu Garap, terdapat empat ragam garap dalam Gamelan Gong Suling: garap tabuh petegak, garap prosesi, garap kreasi, dan garap dolanan.ABSTRACTThe Representation of Patet Concept in the Working Tradition of the Balinese Gamelan. Patet is an actual problem because it has diversity in the working tradition of the Balinese gamelan. Unfortunately, this diversity is not published and formulated comprehensively into a theory that can explain the patet of the Balinese gamelan. One of the unique patet works raised in this study is the representation of patet in Gamelan Gong Suling. This gamelan is one of the gamelans that does not exist in society. It has flexibility in the concept of gamelan works, especially the problem of patet, which is different from other Balinese gamelan. Therefore, the formulation of the situation in this study is implementing the patet in Gamelan Gong Suling. The research methodology is based on the descriptive analysis method through garap theory. There are two main analysis aspects concerning the work of Gamelan Gong Suling: (1) the tungguhan (instrumens) grouping, and (2) the musical conception. As for the instrumentation, Gamelan Gong Suling is composed of Balinese flutes, kendang, cengceng ricik, kajar, klenang, and gong pulu. Regarding the function of the instruments, Balinese flutes play the melody (bantang gending, bon gending, payasan gending), kendang plays the payasan gending, cengceng ricik plays the pengramen, and gong pulu plays the pesu mulih. The musical concept of Gamelan Gong Suling concerns: garap material, prabot garap or piranti garap, and penentu garap. Regarding the works, Gamelan Gong Suling has a fundamental melody called Bantang Gending; for what concerns to Piranti Garap, Gamelan Gong Suling has five tetekep: tetekep deng, dang, dong, dung, and ding; as for what regards as Penentu Garap, there are four garap styles in Gamelan Gong Suling: garap tabuh petegak, garap prosesi, garap kreasi, and garap dolanan.Keywords: form; patet; garap; gamelan
Sasando Gaya Edon: Kajian Organologi dan Penyeteman Tukan, Maria Klara Amarilis Citra Sinta Dewi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 21, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v21i1.3693

Abstract

Sasando merupakan alat musik tradisional khas pulau Rote-NTT. Sasando merupakan alat musik keluarga sehingga memiliki beragam teknik penyeteman sesuai dengan gaya permainan masing-masing keluarga. Dewasa ini telah banyak penelitian yang dilakukan tentang sasando namun belum ada yang memberikan perhatian khusus pada teknik menyetem sasando. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan organologi dan teknik penyeteman sasando berdasarkan gaya Edon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sasando memiliki sembilan bagian utama yaitu: (1) koan, (2) kepala sasando, (3) sekrup pengikat dawai, (4) tabung bambu, (5) dawai, (6) senda, (7) haik (sebagai resonator pada sasando tradisional), (8) bokong sasando; dan (9) socket input/output (sasando elektrik). Berkaitan dengan penyeteman pada gaya Edon, sasando menggunakan beberapa tangga nada, misalnya tangga nada D dan A atau tangga nada E dan B, sehingga bisa melakukan modulasi. Untuk tangan kiri, permainan sasando gaya Edon menggunakan dua nada sol yaitu sol kecil sebagai center (melodi) dan sol besar (bas) yang terletak tepat di sebelah center searah jarum jam. Untuk melodi (tangan kiri), sasando disetem dari nada sol dengan nada setengahnya yaitu fis dan li pada nada tinggi, sedangkan komposisi nada rendahnya yaitu do, si, li, fis, sol. Untuk ritme (tangan kanan), sasando disetem dari bas searah jarum jam dengan nada do, re, mi, fa, sol, la, si, do sampai mi tinggi (masuk pada oktaf kedua), sedangkan dua dawai sisa disetem untuk nada fis dan cis. Selain dua dawai sisa tersebut, terdapat juga dawai-dawai di bagian melodi dekat center yang dapat digunakan untuk menempatkan nada-nada setengah lainnya.ABSTRACTEdon Style of Sasando: Organology and Tuning Studies.. Sasando is a traditional musical instrument typical of the island of Rote-NTT. Sasando is basically a family musical instrument so it has a variety of tuning techniques in accordance with the style of play of each family. Today there have been many studies conducted on sasando, but no one has paid particular attention to the sasando tuning technique. This research is a qualitative research that aims to describe the organology and sasando tuning techniques based on Edon's style. The results showed that sasando had nine main parts: (1) koan, (2) sasando head, (3) string screw, (4) bamboo tube, (5) string, (6) senda, (7) haik ( as a resonator in traditional sasando), (8) sasando buttocks; and (9) electric input / output sockets. In connection with tuning, in the Edon style, sasando is tuned using a number of scales, for example the D and A scales or E and B scales, so that they can do modulation. For the left hand, Edon Style uses two soles, namely small soles as the center (melody) and large soles (bass) which are located right in the center in a clockwise direction. For the melody (left hand), Sasando is tuned from the sol note with the half note ie fis and li on the high note, while the composition of the low notes is do, si, li, fis, sol. For rhythm (right hand), Sasando is tuned from the bass in a clockwise direction with the notes do, re, mi, fa, sol, la, si, do until the noodles are high (enter the second octave), and the remaining two strings are tuned for the fis and cis. In addition to these two strings, there are also strings in the melody section near the center that can be used to use the other half notes.Keywords: Sasando; Organology; Tuning Technique; Edon Style

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue