cover
Contact Name
Mochamad Rochim
Contact Email
mochammad.rochim@unisba.ac.id
Phone
+6224-8508013
Journal Mail Official
yasir.alimi@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/about/editorialTeam
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE
ISSN : pISSN246     EISSN : eISSN246     DOI : DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4516
Core Subject : Education, Social,
Di Data GARUDA saya, jurnal KOMUNITAS yang diterbitkan oleh UNNES belum terakreditasi, seharusnya sudah terakreditasi SINTA 2 sesuai data SINTA. https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=komunitas
Articles 855 Documents
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN INKUIRI SOSIAL PADA MATERI INTERAKSI SOSIAL MATA PELAJARAN SOSIOLOG Wirawan, Andri
Jurnal Komunitas Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal
Publisher : Jurnal Komunitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran inkuiri di SMA Wahid Hasyim Tersono. Apa saja kendala dalam pengembanganpembelajaran inkuiri sosial tersebut dan bagaimana upaya mengatasi kendala dalam pengembanganpembelajaran inkuiri disekolah tersebut? Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran inkuiri sosial di SMA Wahid Hasyim Tersono sangat mempengaruhi sistem pembelajaran siswa di sekolah. Siswa dapat menemukan hal-hal yang baru yang terjadi dalam interaksi sosial seperti hubungan antar siswa, siswa dengan guru atau dalam masyarakat sehingga dapat memberikan akibat siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran maupun pergaulan sehari-hari. Kendala-kendala yang dihadapi  antara lain siswa yang tidak setara SDMnya, guru yang sulit menyetarakan masalah dengan materi dan keterbatasan waktu, sarana prasarana yang kurang kondusif dalam proses pembelajaran.The purpose of this study is to describe the implementation of inquiry learning in Wahid Hashim Tersono High School. What are the obstacles in the development of social inquiry learning and what efforts are used to overcome the obstacles in the development of inquiry learning? The results shows that the implementation of social inquiry learning in school Wahid Hashim Tersono shapes student’s creativity in the school. Students can discover new things that are happening in social interactions such as the relationship between students, between studentsand  teacher, and students with the community. It can be said that the method helps students become more active in learning and daily life. The constraints of the methodinclude the different level of students’ capacity, a teacher difficult to equate with material issues and time constraints, and a lack of infrastructure conducive to the learning process.
PERILAKU MASYARAKAT DESA HUTAN DALAM MEMANFAATKAN LAHAN DI BAWAH TEGAKAN Mustofa, Moh. Solehatul
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2287

Abstract

Kelestarian hutan dan kehidupan ekonomi masyarakat desa hutan merupakan dua isu penting.  Pada saat muncul masalah kerusakan hutan, seringkali yang dianggap penyebabnya adalah  masyarakat desa hutan. Terkait dengan isu tersebut  muncul alternatif pemanfaatan lahan  hutan  untuk mendukung perekonomian masyarakat  khususnya di sekitar hutan tanpa menimbulkan gangguan kerusakan hutan yang disebut lokasi Pemanfaatan Lahan Di bawah Tegakan. Tujuan artikel ini adalah membahas bagaimana perilaku masyarakat desa hutan dalam memanfaatkan lahan di bawah tegakan tanpa menimbulkan gangguan kerusakan hutan. Dalam penelitian ini pendekatan kualitatif menjadi basisnya, dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam pengambilan datanya. Triangulasi sumber sebagai teknik validitas data dan analisis interpretatif sebagai teknik analisisnya.Perilaku penduduk sekitar terhadap lingkungan hutan ditunjukkan dengan hal-hal berikut: membuka lahan, memanfaatkan  lahan hutan untuk pertanian, menjaga kelestarian hutan,  dan menjaga keamanan hutan. Pemanfaatan lokasi ini berpengaruh pada kelembagaan dalam masyarakat petani desa hutan. Jenis-jenis tanaman yang bervariasi juga mulai dikembangkan baik itu palawija maupun buah-buahan. Pemanfaatan lahan di bawah tegakan ini perlu terus dilakukan sebagai solusi peningkatan aspek perekonomian  dan upaya pelestarian hutan.Forest conservation and economic life of the rural community are two important cross-cutting issues in environmental conservation and economic empowerment. When deforestation rises, rural communities around the forest are often stereotypes as the cause of deforestation. To address the problem, an alternative is offered. People can  use the land without damaging the forest by planting crops under the trees. This planting under trees system can increase the community’s economy, especially for the community near the forest. The objective of this article is to discuss the behavior of rural community in the use of land under the forest trees without causing forest destruction. The study method used id qualitative approach. The result of the research indicates that behavior of the population around the forest environment can be classified in the following: open land, forest land use for agriculture, forest preserve, and maintain the security of the forest. The use of under trees site for farming has the institutional impact on rural farming community forest. The farmers have different the types of plants to develop both the crops and fruits. Land use under this trees stand appears to be successful solution to increase the economic welfare on the one side and forest conservation efforts on the other side.
PERAN BADAN REINTEGRASI DAMAI ACEH DALAM PROSES GENCATAN SENJATA, DEMOBILISASI, DAN REINTEGRASI DI ACEH Fakhrurrazi, -
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2288

Abstract

Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRDA) didirikan berdasarkan Nota Kesepahaman Helsinki yang ditandatangani 15 Agustus 2005, khususnya pasal 3.2 yang menyatakan tentang reintegrasi bekas anggota GAM. Beragam upaya reintegrasi telah dilakukan oleh pemerintah melalui pendekatan ekonomi, sosial, budaya, politik dan keamanan. Namun beragam hambatan muncul dalam proses reintegrasi mantan anggota GAM serta dalam implementasi proses tersebut yang dikawal oleh BRDA.Menggunakan konsep analisis wacana, dalam penelitian ini, penulis berupaya menggambarkan peran BRDA dalam proses reintegrasi mantan anggota GAM kedalam masyarakat serta hambatan-hambatan yang dihadapi dalam proses tersebut. Hasil penelitan menunjukkan bahwa muncul berbagai hambatan dalam proses reintegrasi mantan anggota GAM yakni hambatan dalam bidang ekonomi; hambatan dalam bidang politik, hukum dan keamanan; serta hambatan dalam bidang sosial budaya. BRDA juga terlihat belum optimal dalam menangani proses reintegrasi, masih terdapat banyak kekurangan.Aceh Peace Reintegration Institution (APRI) was established based on Helsinki Memorandum of Understanding signed on August 15, 2005, especially article 3.2 states about reintegration of GAM (Freedom Aceh Movement) ex-combatant. Various reintegration efforts have been done by the overnment through economic, social, cultural, political, and security approaches. However, many obstacles appeared in the process of reintegration of ex GAM combatant, and in the management of this process by Aceh Peace Reintegration Institution (BRDA). Using the concept of discourse analysis, in this research, the author attempts to describe the role of BRDA in the reintegration process of GAM ex-combatant to adapt in society and how Aceh Peace Reintegration Institution as the authority board managing the reintegration process play its role. Using the concepts of conflict and integration, the study seeks to describe the process of reintegration of former GAM members into society and the obstacles encountered in the process of reintegration. Research results indicate that there were many obstacles in the process of reintegration of former GAM members, they are barriers in economic field; barriers in politics, law and security, barriers in social and cultural field. BRDA was also seen not optimal in dealing with the reintegration process, there are still many shortcomings.
EKONOMI PEKARANGAN DI PEDESAAN JAWA Mulyanto, Dede
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2289

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisa peran pekarangan sebagai sumber ketersediaan pangan, energi rumahtangga, dan uang tunai bagi rumahtangga petani. Bagi orang Jawa lahan tidak hanya tempat bekerja mereka tetapi sebagai sebuah status sosial, ekoncomi dan politik di masyarakat. Disinilah pekarangan, sebuah lahan kecil di rumah, mengambil peran ketika petani menghadapai kesulitan ekonomi yang dikarenakan lahan garapannya tidak menguntungkan. Rumusan masalahnya adalah bagaimana karakteristik desa Wetankali dan bagaimana bentuk pemanfaatan ekonomi pekarangan yang terjadi di sana. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografis disertai survei dengan kuisioner dan analisis data sekunder. Penelitian ini dilakukan di Desa Wetankali Kecamatan Kutocilik Kabupaten Banyumas. Pekarangan bagi masyarakat Jawa merupakan benteng yang dengannya mereka dapat bertahan hidup. Pekarangan ditanami beberapa jenis tanaman ynag dapat dijual untuk menambah pendapatan rumahtangga petani. Bersaamaan dengan pertumbuhan penduduk yang naik, pekarangan berubah bentuk menjadi semakin sempit karena masyarakat lebih memilih menggunakan lahannya untuk hunian. Akibatnya, untuk rumahtangga miskin, sumber makanan pendukung dan energi murah mulai menghilang. The objective of this article is to analyse the role played by house yards or home garden as source of food storage, household energy, and cash for peasant household. For Javanese peasant, yard was not only a  place for work, but also a space to represent economy and social status. The importance of house yards is felt in difficult situation such as economic crises and corpse failure. Research questions in this anysisis are how about the characteristics of Wetankali village and how about the pattern of using home garden or home yard there. Research method used is etnography with survey using questionaire and secondary data analysis. The research was conducted in Watankali, Kutocilik Banyumas. For Javanese, yards become a place for final defence. Peasent often plant their home garden with several kind of plants that have economical value to sell so that they will earn money from it. Along with the tendency of population growth, traditional home garden is changed to become housing complex. Consequently, for poor household, the source of food suplement and cheap energy deteriorates.
Persepsi Masyarakat Sekaran Tentang Konservasi Lingkungan Wijaya, Atika; Luthfi, Asma
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2290

Abstract

Isu konservasi lingkungan menjadi sebuah studi yang menarik belakangan ini karena efek dari global warming sudah semakin dirasakan oleh manusia. Kebijakan nasional dan international dengan perspektif konservasi lingkungan semakin dikuatkan, begitu pula dengan Unnes dengan visi kampus konservasinya. Selain kebijakan tersebut, komunitas lokal sebenarnya memiliki persepsi sendiri tentang konservasi lngkungan dari sistem nilai dan pengetahuannya. Tujuan penelitian ini adalah melihat persepsi masyarakat tentang konservasi lingkungan dan penerapan persepsi dalam aktivitas masyarakat. Metode yang digunakan adalah kuliatatif untuk memperoleh data yang akurat dan valid. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat tentang konservasi lingkungan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas masyarakat sebagai petani. Tingkat ketergantungan pada lingkungan membentuk persepsi akan konservasi melekat pada pola hidup keseharian mereka. Tapi persepsi tersebut berubah seiring dengan perubahan sosial di masyarakat. Interaksi antara msyarakat Sekaran dengan mahasiswa sebagai pendatang mendorong perubahan pandangan tentang alam dan mata pencaharian. Ketika sistem mata pencaharian mereka tidak lagi tergantung sepenuhnya pada manajemen sumber daya alam, begitu pula percepsi akan konservasi lingkungan turut berubah. Hal ini dibuktikan dengan pola aktivitas mereka yang tidak lagi berkomitmen sepenuhnya pada konservasi lingkungan. Ritual kolektif yang dahulu berfungsi untuk pemeliharaan lingkungan, kini digantikan oleh aktivitas personal dengan makna yang sempit.  The issue of environmental conservation is an interesting study nowadays because the effect of global warming has been felt by mankind. Many national and international policies that toward environmental conservation perspective is encouraged, so did Unnes with its vision of conservation. Besides these policies, local communities actually have a perception about environmental conservation from their values and knowledge systems. The aim of this research is to find out society perception about environment conservation and the appearance of perception on the daily activities of the society. The research method is qualitative to gain accountable and valid data. Perceptions of environmental conservation can not be separated from their activities as farmers. The level of dependency on environtment makes perception of conservation is embedded well within the pattern of their daily lives. But this perception has shifted in line with social changes that occur. The presence of Unnes in their territory is the main factor of social changes in society. Interaction between Sekaran society with students as immigrant helped change their views about the nature and the occupation system. When the occupation system no longer depend entirely on the management of natural resources, so the perception of environmental conservation also shifted. This can be seen on their activity patterns that no longer has a full commitment to environmental conservation. Communal ritual that used to function as a place of transformation values of environmental conservation has been replaced with the personal activities of environmental hygiene has a narrower meaning.
FUNGSI SUNGAI BAGI MASYARAKAT DI TEPIAN SUNGAI KUIN KOTA BANJARMASIN Rochgiyanti, -
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2293

Abstract

Banjarmasin merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai kota seribu sungai. Kota ini bernama Banjarmasin karena kondisi geografisnya yang dikelilingi oleh sungai besar dan kecil. Salah satu sungai tersebut adalah sungai yang melewati wilayah Desa Kuin Kuin Utara, Selatan Kuin dan Kuin Cerucuk. Tujuan artikel ini adalah untuk membahas fungsi sungai bagi masyarakat yang tinggal di tepi Sungai Kuin Banjarmasin Kalimantan Selatan. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sungai tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga berfungsi untuk kegiatan ekonomi, interaksi, dan sosialisasi.Banjarmasin is the capital of South Kalimantan Province, which is also known as the city of a thousand rivers. The city is named Banjarmasin due to its geographical conditions which is surrounded by large and small rivers. One of the rivers is the Kuin river that passes through the village of Kuin, North and South Kuin and Kuin Cerucuk. The purpose of this article is to discuss the functions of the river for the people living on the banks of the River Kuin Banjarmasin South Kalimatan. The writing used descriptive qualitative method. Data were collected through interviews and observation. The results show that the river does not only serve as transportation routes, but also serves as economic activity, interaction, and socialization.
EKSISTENSI WADUK CACABAN SEBAGAI TEMPAT KEGIATAN WIRAUSAHA BAGI MASYARAKAT Astuti, Tri
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2295

Abstract

Masyarakat Kedungbanteng memanfaatkan Waduk Cacaban sebagai tempat kegiatan wirausaha. Masyarakat bergerak dalam bidang sektor informal karena dalam wilayah tersebut dimungkinkan hanya bermodalkan ketrampilan dan pendidikan yang minim. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis profil dan aktivitas pedagang di Waduk Cacaban yang sering tanpa ijin pemerintah. Penelitian dilakukan dengan observasi mendalam dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Kedungbanteng berdagang di Waduk Cacaban karena suatu anggapan bahwa Waduk Cacaban merupakan tanah warisan nenek moyang yang digunakan untuk tujuan kesejahteraan hidup mereka. Oleh karena itu, masyarakat merasa tidak memerlukan ijin resmi dari pihak pengelola Waduk ketika mereka membuka tempat usaha di waduk tersebut. Ketika petugas menertibkan keberadaan para pedagang, terkadang mereka tidak mengindahkan hal tersebut. Karena anggapan tersebut, ada pula keyakinan kalau ada orang dari luar daerah Kedungbanteng yang berjualan di tempat tersebut, usahanya tidak lancar dan akhirnya harus gulung tikar. Hal tersebut menujukan adanya kekuatan budaya dalam masyarakat bahwa Waduk Cacaban merupakan sebuah tempat yang diwariskan nenek moyang mereka khusus untuk masyarakat Kedungbanteng.Kedungbanteng community makes Cacaban Dam as a place of entrepreneurial activity. The community is engaged in informal sector where they only need minimal skills and education. The purpose of this study is to analyze the profile and activity in of merchants in Cacaban Dam who often do business without government approval. The study was conducted through in-depth observations and interviews. The results show the trade in Cacaban Reservoir occurred because of a presumption that the reservoir Cacaban is a heritage land used for the purpose of the welfare of the Kedungbanteng community. Therefore, people feel they do not require official permission from the management of the reservoir when they open a place of business in these reservoirs. When government officer disciplined the traders, sometimes they do not heed it. Because of these assumptions, there is also a belief that there are people from outside the area that sell in Cacaban dam will not  be smooth and finally had to go out of business. The case studies illustrates the force of culture in human life.
UPAYA PELESTARIAN HUTAN MELALUI PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN BERSAMA MASYARAKAT Damayatanti, Prawestya Tunggul
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2296

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) oleh Perhutani di Desa Bodeh dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian di Desa Bodeh Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program PHBM dilakukan dengan merangkul masyarakat sekitar hutan untuk bersama mengelola hutan dengan semangat berbagi peran, pemanfaatan lahan atau ruang, maupun hasil hutan dengan adanya bagi hasil yang diperoleh masyarakat sebagai kompensasi keterlibatannya dalam pelaksanaan PHBM. Partisipasi masyarakat desa Bodeh dalam pelaksanaan PHBM membuahkan hasil yaitu berkurangnya lahan kosong karena masyarakat dilibatkan dan mau terlibat dalam mengelola hutan serta dalam kegiatan reboisasi, menurunnya tingkat kerusakan serta tingkat pencurian kayu di hutan karena masyarakat juga terlibat dalam menjaga hutan, sehingga kelestarian dan keamanan hutan meningkat. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh perhutani maupun masyarakat dalam pelaksanaan PHBM adalah kendala dalam kegiatan persiapan lapangan, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pengamanan hutan.   The objective of this research is to determine the implementation of Collaborative Forest Resource Management (in Indonesian is called PHBM) by Perhutani in Bodeh Village and constraints encountered in the implementation. The study used a qualitative approach. Research sites is in Bodeh Village, Randublatung, Blora District.The results showed that the PHBM program is conducted by embracing forest communities to manage forests together with the spirit of sharing the role, land use or space, and forest products with the profit shared with the community as compensation for their involvement in the implementation of PHBM. Participation of rural communities in the implementation of PHBM in Bodeh resulted in the reduction of vacant land for the community get involved in forest management and reforestation activities; reduction of the levels of damage and the level of illegal logging in the forest because the community are also involved in maintaining the forest, thus increasing the sustainability and security of the forest . The constraints faced by perhutani and society in the implementation of PHBM is a constraint in the activity of field preparation, planting, plant maintenance, and safeguarding of forests.
ADAPTASI PETANI DI KALIMANTAN SELATAN Wahyu, -
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2298

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji antropologi transmigrasi, terutama tentang kemampuan adaptif transmigran di lokasi baru. Banyak transmigran  datang dari daerah dengan latar belakang budaya dan alam yang berbeda-beda, ada yang dari daerah pegunungan, daerah sulit air, maupun daerah irigasi. Penelitian ini menganalisis tiga variabel: budaya (tradisi),  motivasi, dan kemampuan dasar petani, yang diperkirakan memiliki hubungan dekat dengan kemampuan adaptif di lokasi yang baru.  Metode  penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Lokasi penelitian dilakukan di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling acak bertahap (multi stages cluster random sampling). Sampel pada penelitian berjumlah 320 yang dengan perincian 160 di sawah pasang surut dan 160 di sawah irigasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik wawancara dengan berpedoman pada daftar pertanyaan dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis faktor (komponen utama), analisis jalur dan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan adaptif  transmigran tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan hidup fisik tempat baru yang ditinggali, juga darimana mereka berasal tetapi juga oleh faktor-faktor sosial ekonomi dan budaya yang telah menjadi bagian hidup mereka.The objective of this research is to examine the transmigration anthropology, especially about the ability of adaptive migrants in the new location. Many migrants come from areas with cultural backgrounds and of different nature, some from the mountains, the area is water, and irrigation areas. This study analyzes three variables: culture (tradition), motivation and basic skills of farmers, which is estimated to have close ties with adaptive capabilities in the new location. The research method used is quantitative research methods. What research is conducted in two districts, namely Barito Kuala district and Banjar Regency. The sampling method used in this study is multiple stages cluster random sampling. Samples in the study amounted to 320 160 with details on tidal rice fields and 160 in rice irrigation. Data collection techniques used in this study is based on the technique of interview questionnaires and observation. Analysis of the data used is a factor analysis (principal component), path analysis and product moment correlation analysis. The results showed that the ability of adaptive migrants are not only influenced by the physical conditions of the environment they live in a new place, as well as where they came from but also by socio-economic factors and the culture that has become part of their lives.
PEMBELAJARAN SOSIOLOGI YANG MENGGUGAH MINAT SISWA Insriani, Hezti
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2300

Abstract

Mata pelajaran Sosiologi dipandang oleh sejumlah siswa sebagai mata pelajaran yang membosankan. Muatan materi sosiologi yang menyajikan banyak teori dan konsep seperti mengandung konsekuensi kepada siswa untuk menuntut semuanya dihafal secara baik. Model pembelajaran yang membosankan semakin membuat mata pelajaran ini kurang diminati oleh siswa. Strategi inovatif sudah dilakukan, namun pada prakteknya operasionalisasi model pembelajaran itu kurang efektif sehingga guru banyak yang kembali menggunakan model pembelajaran konvensional. Artikel ini ditulis untuk menyampaikan model pembelajaran Sosiologi bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) berdasarkan pengalaman saya mengajar. Menurut pengalaman saya, strategi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran sosiologi antara lain adalah mengajukan pertanyaan kritis, eksplorasi artikel dan gambar/foto, nonton film, penelitian sederhana, dan membuat catatan harian. Melalui startegi ini, pembelajaran yang bersifat konstruktivisme lebih mudah dioperasional. Cara ini lebih dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pembelajaran secara mandiri dan menjadikan siswa lebih dekat memahami kenyataan sosial sebagai bagian dari kehidupannya sekaligus sebagai materi pembelajaran sosiologi. Students often regard Sociology as a boring subject. The subject presents many sociological theories and concepts students to memorize. Boring method of teaching further makes the course less attractive to students. Innovative strategy have been used, but in practice the method is not effective and teachers return to conventional models. This article is written based on the author’s experience in teaching Sociology among high school students. Based on my experience, strategies that can be used to create innovative learning include asking critical questions, exploring articles and pictures / photos, analyzing movies, doing simple research, and keeping a diary. Through this strategy, constructivist learning is much easier to run. This method is better able to provide the opportunity for students to develop independent learning and make students more intensively to understand social reality as a part of his life as well as the learning materials of sociology.

Page 2 of 86 | Total Record : 855


Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2023): September Vol 15, No 1 (2023): March Vol 14, No 2 (2022): September 2022 Vol 14, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2022): September Vol 13, No 2 (2021): September 2021 Vol 13, No 1 (2021): March 2021 Vol 12, No 2 (2020): September 2020 Vol 12, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2020): September Vol 12, No 1 (2020): March Vol 11, No 2 (2019): September 2019 Vol 11, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019 Vol 11, No 2 (2019): September Vol 10, No 2 (2018): September 2018 Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018 Vol 10, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March Vol 9, No 2 (2017): Komunitas, September 2017 Vol 9, No 2 (2017): September 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): March 2017 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): March 2016 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): September 2015 Vol 7, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): September 2014 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 5, No 2 (2013): September 2013 Vol 5, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 4, No 2 (2012): September 2012 Vol 4, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 3, No 2 (2011): September 2011 Vol 3, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 2, No 2 (2010): September 2010 Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal More Issue