cover
Contact Name
-
Contact Email
mipa.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mipa.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Mathematics and Natural Sciences, D12 Building 1st Floor, Universitas Negeri Semarang, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Indonesia 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences
ISSN : 02159945     EISSN : 27747832     DOI : https://doi.org/10.15294/ijmns
Core Subject : Education,
The scope of the journal includes the following areas of research: Natural Sciences, Mathematics, and Applied Sciences
Articles 506 Documents
INOVASI PUPUK ORGANIK KOTORAN AYAM DAN ECENG GONDOK DIKOMBINASI DENGAN BIOTEKNOLOGI MIKORIZA BENTUK GRANUL
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 36, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v36i1.2954

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah membuat formula pupuk organik limbah dari campuran kotoran ayam dan eceng gondok sebagai pupuk organik dasar dan memproduksi pupuk organik unggul kombinasi pupuk organik dasar dan pupuk hayati spora CMA dalam kemasan granul. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen dan analisis laboratorium dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas hara pupuk yang dihasilkan, serta kandungan logam berat. Pupuk secara diskriptif dibandingkan dengan baku mutu pupuk organik menurut SK Mentan 2009. Hasil analisis hara makro dan mikro, serta logam berat pada pupuk organik dasar sudah memenuhi persyaratan baku mutu pupuk organik. Perbanyakan pupuk  hayati CMA diperoleh 35 butir spora CMA/gram. Formula pembuatan campuran pupuk organik dasar: 2 kotoran ayam, 1 eceng gondok. Pupuk tersebut ditambah dengan 1 kg inokulum CMA atau pupuk hayati, 0,5 kg clay merah, 0,5 kg fosfat alam, 0,25 kg clay putih; 500 cc air. Hasil analisis hara makro dan mikro, campuran pupuk organik dasar dan hayati yang telah digranul sesuai dengan standar pupuk organik dari SK Mentan 2009. Disimpulkan bahwa campuran pupuk organik dari bahan dasar (kotoran ayam dan gulma air), yang ditambah dengan pupuk hayati dapat digunakan sebagai alternatif pengganti pupuk anorganik. Pupuk granul lebih efisien dan efektif digunakan untuk berbagai campuran dan di lapang. The research objective is to make the formula of organic fertilizer from water weed and chicken poop mixture as the basic organic fertilizer and to produce excellent organic fertilizer from the combination of basic organic fertilizer and biologic CMA spore fertilizer in a granule package. The study was conducted with an experimental method and laboratory analysis to determine the quantity and quality of fertilizer nutrients and heavy metal content that was descriptively compared to the standard organic fertilizer by SK Mentan 2009. The results showed that the quantity and quality of the fertilizer research was appropriate according to the standard quality of organic fertilizer. The propagation of CMA bio fertilizer was obtained from 35 spores /gram. The  mixture formula of organic fertilizer was 1 kg of chicken poop, water weed, 0.5 kg of red clay, 0.5 kg of phosphate; 1 kg of inoculum CMA; 0.25 kg of white clay; 500 cc of water. The result of micro and macro nutrients of the fertilizer mixture was appropriate of SK  2009. It can be concluded that the mixture of organic fertilizer (chicken poop and water weed) and biologic fertilizer can be used as an alternative to replace the  inorganic fertilizer , while the granule fertilizer was determined efficiently and effectively as the mixture compound. 
Estimasi Distribusi Mixing dalam Model Mixture Poisson
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 40, No 2 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v40i2.12917

Abstract

Model mixture telah dikenalkan sejak tahun 1986 (Farewell, 1986) dengan menganalisis penderita kanker payudara. Model ini diaplikasikan dalam ruang kerja yang berbeda sesuai dengan fleksibilitas pandangan kompleksnya situasi, walaupun generalisasi teori belum sepenuhnya dikembangkan. Studi klinik yang dilakukan difokuskan pada estimasi proporsi pasien yang sembuh dan distribusi  failure time pasien yang tidak sembuh. Pada penelitian ini dikonstruksi estimator konsisten dari distribusi mixing dalam model mixture Poisson melalui inversi Laplace, baik untuk data tak tersensor maunpun tersensor. Berdasar estimasi tersebut ditentukan IMSE dan laju kekonvergenan yang berkorespondensi dengan inverse estimator. The mixture model has been introduced since 1986 (Farewell, 1986) by analyzing breast cancer patients. This model was applied in different workspaces according to the flexibility of the complex view of the situation, although the generalization of the theory has not been fully developed. Clinical studies undertaken focused on estimating the proportion of patients who recovered and the distribution of patient failure times that did not heal. In this research constructed a consistent estimator of the mixing distribution in the Poisson mixture model through Laplace inversion, both for uncensored and uncensored data. Based on these estimates, the IMSE and the convergence rate correspond to the inverse estimator. 
Pemanfaatan Cangkang Kepiting Bakau Dan Plasticizer Gliserol Sebagai Edible Coating Buah Jambu Biji Merah
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 42, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v42i1.22634

Abstract

Kitosan adalah suatu polimer alami sehingga dapat digunakan sebagai edible coating pada makanan. Pembuatan edible coating kitosan memerlukan bahan tambahan berupa plasticizer. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi optimal konsentrasi kitosan dan plasticizer gliserol pada pembuatan edible coating yang diaplikasikan pada buah jambu biji merah. Transformasi kitin menjadi kitosan dengan proses deasetilasi cangkang kepiting bakau (Scylla sp) melalui proses demineralisasi dan deproteinasi. Kitin dan kitosan yang diperoleh diuji kadar air, kadar abu, dan nilai derajat deasetilasinya. Dalam pembuatan edible coating, kitosan dilarutkan dalam asam asetat 1% (v/v) dengan konsentrasi variasi 1; 1,5; 2, 2,5; dan 3% (b/v). Pada masing-masing variasi ditambahkan dengan gliserol 1%. Pelapisan buah dilakukan dengan teknik pencelupan selama 1 menit, dikeringkan dan disimpan dalam suhu ruangan. Sebagai kontrol digunakan buah jambu biji segar tanpa pelapisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air kitin dan kitosan sebesar 1,96% dan 7,22%, kadar abu 1,84% dan 0,90%, serta derajat deasetilasi 68,61% dan 74,94%. Hasil uji kualitas mutu pada buah jambu biji merah dengan perlakuan K5G1 yaitu dengan kitosan 3% dan gliserol 1% menunjukkan kualitas mutu terbaik dengan nilai susut bobot 0,42%, nilai penurunan vitamin C 4,42%, nilai Total Plate Count (TPC) 17x104 koloni/mL, serta mempertahankan mutu buah selama 3 hari penyimpanan.
AISOLASI DAN UJI DAYA ANTIMIKROBA EKSTRAK KULIT NANAS (Ananas comosus L. Merr)
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 39, No 2 (2016): October 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v39i2.9290

Abstract

Kandungan senyawa flavonoid dalam limbah kulit nanas memiliki prospek positif sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antimikroba ekstrak kulit nanas basah (KNB) dan ekstrak kulit nanas kering (KNK) dan mengetahui jenis senyawa flavonoid yang berperan sebagai antimikroba terhadap S. aureus dan E. coli. Flavonoid diisolasi menggunakan metode Domestic Microwave Maceration Extraction (DMME) dan partisi. Aktivitas antimikroba diuji menggunakan metode difusi sumuran. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak etil asetat KNB maupun ekstrak etil asetat KNK berpotensi sebagai antimikroba, namun ekstrak etil asetat KNB lebih efektif menghambat bakteri S. aureus dan E. coli dengan diameter daerah hambat (DDH) berturut-turut 13 mm dan 15 mm dibanding ekstrak etil asetat KNK dengan nilai DDH berturut-turut 12 dan 14,25 mm. Senyawa flavonoid dalam kulit nanas yang berperan sebagai antimikroba diduga merupakan golongan flavanon (KNB) dan dihidroflavonol (KNK).Flavonoid compound in pineapple peel waste have positive prospects for antimicrobial. This study aims at understanding effectiveness of wet pineapple peel extract and dried pineapple peel extract antimicrobial and to know the type of flavonoid compound which act as antimicrobial against S.aureus and E.coli. Flavonoid was isolated using Domestic Microwave Maceration Extraction (DMME) and partitions. Antimicrobial activity was tested using pitting diffusion method. Based on the research result, wet pineapple peel extract and dried pineapple peel extract are potential to be antimicrobial. However wet pineapple peel extract is more effective to inhibit bacteria S.aureus and E.coli with Inhibitory Regional Diameter respectively 13 mm and 15 mm compared to dried pineapple peel extract with Inhibitory Regional Diameter respectively 12 and 14,25 mm. Flavonoid compound in pineapple peel that acts as an antimicrobial is thought to be flavanones (wet pineapple peel) and dihydroflavonol (dried pineapple peel).
PENGARUH SUPLEMENTASI MADU KELENGKENG TERHADAP KADAR TSA DAN MDA TIKUS PUTIH YANG DIINDUKSI TIMBAL (Pb)
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 38, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v38i2.5779

Abstract

Timbal (Pb) merupakan salah satu logam berat yang berasal dari emisi pembakaran bahan bakar. Peningkatan penggunaan bahan bakar pada mesin industri dan kendaraan bermotor menyebabkan peningkatan kadar Pb di udara. Masuknya Pb ke dalam tubuh akan mengganggu keseimbangan molekul lain sehingga menjadi radikal bebas. Ketidakseimbangan antara radikal bebas dengan antioksidan menyebabkan stres oksidatif yang ditandai dengan menurunnya total satus antioksidan (TSA) dan meningkatnya malondialdehid (MDA). Madu kelengkeng adalah suplemen kesehatan yang mengandung flavonoid, vitamin C, vitamin E dan beta karoten yang berperan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh madu kelengkeng terhadap kadar TSA dan MDA darah tikus putih yang diinduksi Pb. Desain penelitian ini adalah eksperimental dengan 25 ekor tikus putih jantan galur Wistar yang dibagi dalam 5 kelompok, yaitu kelompok A (tikus normal), B (tikus dengan induksi Pb 10 mg/kgBB) dan C, D, E merupakan kelompok perlakuan suplementasi madu secara berturut-turut 0,45, 0,9, 1,8 ml/200 gramBB dan induksi Pb 10 mg/kgBB selama 14 hari. Data TSA dan MDA dianalisis menggunakan one way anova dan uji LSD untuk mengetahui perbedaan setiap kelompok. Hasil penelitian menunjukkan madu dengan dosis 1,8 ml/200 gramBB dapat meningkatkan kadar TSA dan menurunkan kadar MDA secara signifikan. Simpulan dari penelitian ini adalah madu dapat meningkatkan kadar TSA dan menurunkan kadar MDA pada tikus putih yang diinduksi Pb. Lead (Pb) is heavy metal which comes from waste fuel emissions. Increased use of fuel in industrial machinery and vehicles causes increased levels of lead in the air. The entry of Pb into the body will disturb the ballance other molecules and became a free radicals. The imbalance between free radicals and antioxidants cause oxidative stress which characterized by decreased total antioxidant statue (TAS) and increased malondialdehid (MDA). Longan honey is health suplement which contained flavonoids, vitamin C, vitamin E and beta carotene. This study aims to determine the effect of longan honey against TAS and MDA levels of blood Pb-induced. This is an experimental research design with 25 white male rats Wistar, divided into 5 groups: group A (normal), B (rats with induced Pb 10 mg / kg) and the C, D, E is a group of honey supplementation treatment respectively 0.45, 0.9, 1.8 ml / 200 gramBB and induction of Pb 10 mg / kg for 14 days. TAS and MDA data were analyzed using one-way ANOVA and LSD test to determine differences in each group. The results showed that honey with a dose of 1.8 ml / 200 gramBB could increase levels of TAS and MDA levels were significantly lowered. The conclusions of this study is the honey can increase levels of TSA and lower levels of MDA in white rats induced Pb.
APLIKASI METODE NEWTON-RAPHSON UNTUK MENGHAMPIRI SOLUSI PERSAMAAN NON LINEAR
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 36, No 2 (2013): October 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v36i2.2989

Abstract

Abstrak __________________________________________________________________________________________ Mencari solusi suatu masalah merupakan bagian dari kegiatan pemecahan masalah matematika baik masalah yang berkaitan dengan bidang matematika sendiri maupun bidang ilmu lainnya. Sering dijumpai seseorang kesulitan dalam mencari akar-akar eksak persamaan non linear. Salah satu cara dengan mencari hampiran akar-akar  eksak tersebut dengan menggunakan metode Newton-Raphson. Artikel ini sebagai hasil studi kasus yang mengkaji konsep-konsep dasar dalam memecahkan masalah persamaan non linear dengan menggunakan metode Newton-Raphson secara tradisional, berbantuan program komputer Excel, Winplot, dan Turbo Pascal.   Abstract __________________________________________________________________________________________ Searching solution of a problem represent the part of  mathematics problem solving activity which is there are in the field of mathematics itself and also in the field of other sciences. Someone is often met difficulty   look for the roots of nonlinear equation. One of the way of with searching approximation of the exact roots by using Newton-Raphson method. This article as result of case study relating the basic concepts in solving problem nonlinear equations using Newton-Raphson method: traditional, using of computer Excel program, Winplot, and  Turbo Pascal.
KOMPARASI KUAT TEKAN KOMPOSIT BERBAHAN DASAR SERBUK LIMBAH KACA DENGAN PEREKAT POLIMER POLYURETHANE DAN POLYVINYL ACETATE
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 35, No 2 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v35i2.2606

Abstract

Komposit berbahan dasar serbuk limbah kaca telah dihasilkan dengan perekat polimer polyurethane (PU) dan polyvinyl acetate (PVAc). Komposit dengan perekat polimer PU memiliki kuat tekan 36 MPa dengan fraksi optimum perekat adalah 30% berat. Komposit dengan perekat polimer PVAc memiliki kuat tekan yang lebih rendah dari perekat polimer PU, yaitu 10 MPa pada fraksi perekat 10 persen berat. Gugus fungsi urethane yang terbentuk dari gugus fungsi isosianat yang reaktif dan hidroksil menjadi perekat yang baik untuk limbah kaca yang didominasi oleh bahan silika (SiO2). Daya rekat polimer pada serbuk kaca ditentukan banyaknya kontak perekat dengan silika. Hasil uji kuat tekan diestimasi dengan persamaan sederhana. Hasil estimasi menunjukan bahwa komposit dengan perekat polimer PU memiliki kontak dengan partikel limbah kaca lebih banyak dari perekat PVAc. Kontak perekat dengan serbuk kaca merepresentasi daya adhesif. Hasil ini didukung dari pengujian porositas komposit dimana perekat polimer PU dengan kontak partikel yang tinggi memiliki porositas yang jauh lebih rendah dari perekat polimer PVAc sehingga komposit dengan perekat polimer PU memiliki kuat tekan yang lebih baik. Composite made from waste glass powder has been produced with polymer adhesive polyurethane (PU) and polyvinyl acetate (PVAC). Composites with a polymer adhesive PU has a compressive strength of 36 MPa with optimum adhesive fraction of 30% of weight. Meanwhile, polymer composite with PVAc adhesive has a lower compressive strength than PU adhesive polymer, that is 10 MPa at adhesive fraction of 10 percent of weight. Functional group of urethane formed from reactive isocyanate and hydroxyl is turning out to be a good adhesive for glass waste material dominated by silica (SiO2). Polymer adhesion on glass powder is determined by contact of adhesive with silica. Compressive strength test results are estimated with a simple equation. Estimation results show that composite with PU adhesive polymer has more contact with waste glass particles than PVAc adhesive. Adhesive contact with the glass powder represents adhesive power, this result was supported from the testing of composite porosity where PU adhesive polymer with high particle contacts has a much lower porosity than PVAc adhesive polymer, so composite with an PU adhesive polymer has a better compressive strength.
Pengaruh Pemberian Inokulan Legin dan Mulsa terhadap Jumlah Bakteri Bintil Akar dan Pertumbuhan Tanaman Kedelai Varietas Grobogan
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 40, No 2 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v40i2.12566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan pemberian inokulan legin dan mulsa terhadap jumlah bakteri bintil akar dan pertumbuhan tanaman kedelai varietas Grobogan. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor pertama adalah pemberian inokulan legin dengan empat perlakuan yaitu L0 (tanpa inokulan), L1 (5 g/kg benih), L2 (10 g/kg benih), L3 (15 g/kg benih). Faktor kedua adalah pemberian mulsa dengan dua perlakuan yaitu M0 (tanpa diberi mulsa) dan M1 (diberi mulsa). Hasil penelitian menunjukkan pemberian inokulan legin dan mulsa dapat meningkatkan jumlah bakteri bintil akar, tinggi tanaman, berat basah tanaman, dan berat kering tanaman. Dosis terbaik dalam penelitian ini adalah pemberian inokulan legin 15 g/kg benih dan mulsa. Simpulan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian inokulan legin dan mulsa berpengaruh terhadap jumlah bakteri bintil akar dan pertumbuhan tanaman kedelai varietas Grobogan.This study aims to test the effectiveness inoculant legin and mulch for the number of bacteria nodule root and growth of Grobogan soybean varieties. The research design used is Group Randomized Design method with 8 combination of treatments and 4 repetation. The results showed that inoculant legin and mulch could increase the number of bacteria nodule root, plant height, wet weight of plant, and dry weight of plant. The best dose in this study was inoculant of legin 15 g / kg seed and mulch. Conclusion of research result showed that inoculant legin and mulch have an effect on the number of bacteria nodule root and soybean growth varieties of Grobogan.
ADSORPSI KROM(VI) OLEH ARANG AKTIF SERABUT KELAPA SERTA IMOBILISASINYA PADA BATAKO
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 39, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v39i1.7703

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengimobilisasi limbah arang aktif serabut kelapa yang telah menyerap ion logam Krom(VI) sebagai bahan campuran batako. Pada penelitian ini, arang dan arang aktif serabut kelapa dibandingkan kualitasnya dengan parameter uji kadar air, uji kadar abu dan uji daya adsorp iod. Krom(VI) diadsorpsi oleh arang aktif serabut kelapa untuk mengetahui pH optimum (1, 3 ,5, 7, dan 9) dan waktu kontak optimumnya (10, 30, 60, 120, dan 150 menit). Limbah arang aktif hasil adsorpsi selanjutnya dicampurkan pada batako. Batako direndam ke dalam larutan pendesorpsi pafa pH 1, 5, 7, 9, dan 13 selama satu minggu. Hasil penelitian menunjukkan arang aktif serabut kelapa memiliki kualitas yang lebih baik daripada arang serabut kelapa. Arang aktif serabut kelapa memiliki kadar air sebesar 4,57%, kadar abu sebesar 3,71% dan daya adsorp terhadap iod sebesar 414,9119 mg/g. Sedangkan pada arang serabut kelapa memiliki kadar air sebesar 9,10%, kadar abu sebesar 4,28% dan daya adsorp terhadap iod sebesar 302,9929 mg/g. pH dan waktu kontak optimum yang diperlukan arang aktif serabut kelapa untuk menurunkan kadar Krom(VI) adalah pada pH 3 dan pada waktu 2,5 jam. Konsentrasi Krom(VI) yang dilepaskan pada  pH 1, 5, 7, 9, dan 13 tidak terdeteksi sedangkan ketentuan baku mutu TCLP zat pencemar limbah untuk logam berat krom maksimal 5 ppm.This research aims to immobilize active charcoal of coconut fibers wich have adsorbed Chromium(VI) ion as a mixture of brick. In this research, active charcoal and charcoal of coconut fibers will be compared to determine its quality using parameter test of water content, ash content and iod adsorption. Chromium(VI) was adsorbed by activated charcoal of coconut fibers to determine the optimum pH (1, 3 ,5, 7 and 9) and optimum contact time (10, 30, 60, 120 and 150 minute). Then, the activated charcoal will be used to make the brick. The brick is soaked in the solution at pH 1, 5, 7, 9and 13 for one week. The result shows that activated charcoal of coconut fibers have better quality than charcoal of coconut fibers. The water content of activated charcoal of coconut fibers is 4.57%, the ash content is 3.71% and the absorption of iodine is 414.9119 mg/g. While the water content of charcoal of coconut fibers is 9.10%, the ash content is 4.28% and the absorption of iod is 302.9929 mg/g. The optimum pH and equilibrium time that are required by activated charcoal of coconut fibers to reduce levels of Chromium(VI) is  on pH 3 and time 2.5 hours. The concentration of Chromium(VI) at pH 1, 5, 7, 9 and 13 is not detected while the standard quality of provisions contaminants TCLP heavy metal chromium waste for a maximum of 5 ppm. 
STUDI CAMPURAN SURFACTANT UNTUK MENENTUKAN FUNGSI SOLUBILIZER DAN FIXATIVE PADA INDUSTRI PARFUM
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 38, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v38i1.5487

Abstract

Kualitas parfum  ditentukan oleh kejernihan dan longlasting parfum. Campuran surfaktan dapat meningkatkan kualitas parfum dengan biaya produksi yang murah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji rasio campuran surfaktan untuk menentukan fungsi solubilizer dan fixative. Bibit parfum yang digunakan dalam penelitian ini adalah eugenol, surfaktan dengan fungsi solubilizer adalah portasol 40 dan tween 80 sedangkan surfaktan dengan fungsi fixative adalah glucam P20 dan patchouli alkohol. Rasio yang digunakan pada penelitian ini antara lain rasio glucam p20 : portasol (r G/P), rasio portasol 40 : tween 80 (r P/T) dan rasio glucam P20 : patchouli alkohol (r G/PA). Hasil penelitian menunjukkan campuran surfaktan dapat meningkatkan kejernihan dan longlasting parfum lebih baik daripada surfaktan tunggal. Optimasi menggunakan RSM didapatkan rasio campuran yang paling berpengaruh terhadap kejernihan adalah r P/T sedangkan rasio yang paling berpengaruh terhadap longlasting parfum adalah r G/PA. Hasil optimum dengan respon turbiditas r G/P = 3,59; r P/T = 0,48; r G/PA = 0,41 dan respon longlasting  r G/P = 4,51; r P/T = 0,40; r G/PA = 0,42 menghasilkan turbiditas 0,0489 NTU serta longlasting 3,68 jam.Perfume quality is determined by the clarity and longlasting perfume. Surfactant mixture can improve the quality of perfumes at low production costs. This study objectives are to examines the blending ratio surfactant and to determine the function of solubilizer and fixative. Perfume seeds used in this study is eugenol, surfactants with solubilizer function is Portasol 40 and Tween 80 while surfactant with fixative function are glucam P20 and patchouli alcohol. The ratio used in this study include glucam ratio P20: portasol (r G/P), the ratio portasol 40: tween 80 (rP/T) and the ratio of glucam P20: patchouli alcohol (r G/PA). The results showed a mixture of surfactants may improve the clarity and longlasting perfume is better than a single surfactant. RSM optimization using a mixture ratios obtained the most influence on clarity is rP/T while the ratio of the most influential on longlasting perfume is r G/PA. Turbidity optimum results with the response r G/P = 3.59; r P/T = 0.48; r G/PA = 0.41 and r longlasting response G/P = 4.51; r P/T = 0.40; r G/PA = 0.42 yield 0.0489 NTU Turbidity and longlasting 3.68 hours.