cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Imajinasi
ISSN : 1829930X     EISSN : 25496697     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni Imajinasi merupakan jurnal seni yang dikelola oleh Jurusan Senirupa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes. Terbit perdana pada bulan Juli 2004. Terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juli dan Januari, dengan isi artikel tentang kajian atau analisis kritis dan hasil penelitian di bidang seni rupa.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI" : 7 Documents clear
PROFIL PENDIDIKAN SENI RUPA SEKOLAH DASAR: KAJIAN TANGGAPAN GURU SD DI JAWA TENGAH -, Syafii
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Seni Rupa di SD merupakan submata pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian, dan tergolong bukan pelajaran inti. Oleh karena itu informasi perlakuan guru terhadapnya sangat diperlukan. Informasi tersebut khususnya berkenaan dengan tanggapan guru pada tataran realitas dan idealitas pendidikan seni rupa di SD. Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pijakan atau bahan pertimbangan dalam rangka membangun model pendidikan seni rupa di SD yang tepat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitaif, dengan responden dan informan guru-guru SD di Jawa Tengah yang ditentukan secara purposive. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, wawancara, dan pengumpulan dokumen, sementara analisis data digunakan model alir yang mengikuti langkah reduksi dan penyajian data, serta verifikasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tataran realitas baik berkenaan dengan fungsi, materi, strategi, dan kondisi pembelajaran seni rupa SD di Jawa Tengah dalam kondisi yang memprihatinkan, akan tetapi dalam tataran idealitas berkenaan dengan hal-hal tersebut sesungguhnya para guru SD di Jawa Tengah dapat dikatakan positif, artinya memiliki pemahaman yang memadai. Berdasarkan hasil penelitian dikemukakan saran penerapan guru mata pelajaran seni rupa, kegiatan penataran yang intensif bagi guru kelas, dan pemenuhan sarana pembelajaran seni rupa.   Kata Kunci: Pendidikan Seni Rupa, fungsi pembelajaran, materi pembelajaran, strategi Pembelajaran, kondisi pembelajaran.
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR SENI RUPA: KAJIAN DALAM KONTEKS KBK Rondhi, Mohammad
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat Kurikulum Depdiknas telah mengembangkan suatu kurikulum yang disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan reaksi terhadap praktek di mana program pendidikan direncanakan dan dilaksanakan dengan bertolak dari mata pelajaran atau disiplin ilmu. Sebaliknya KBK memberi tekanan khusus pada pembentukan kompetensi secara langsung dan sistematis, yaitu dengan mengkaji dan menguji kaitan antara materi pelajaran, pencapaian hasil belajar, kompetensi dan pengalaman belajar yang diberikan kepada siswa. Pelaksanaan proses belajar mengajar kecuali ditentukan oleh program yang telah ditentukan juga tergantung pada pihak-pihak yang terkait termasuk guru. Persepsi guru atau pengajar terhadap suatu program pembelajaran menentukan bagaimana program tersebut dilaksanakan. Pemahaman yang keliru terhadap kurikulum akan dapat menyebabkan terjadinya ‘malpraktik’ pendidikan. Sesuai dengan landasan filosofi yang dianutnya, ada dua bentuk kurikulum pendidikan seni yaitu kurikulum kontekstual dan kurikulum esensial. Kedua bentuk kurikulum tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu penggabungan kedua bentuk kurikulum tersebut sangat tepat dan diharapkan sesuai dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi. Kata Kunci: kompetensi, kurikulum kontekstual, kurikulum esensial, homologi, paralogi , pranata,seni rupa
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SENI RUPA : SEBUAH REFLEKSI Ismiyanto, PC. S.
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan CTL, selain untuk pengembangan kreativitas dan kemandirian anak, diharapkan pula dapat mengatrol kreativitas dan keprofesionalan guru. Kedua, agar dalam pembelajaran tidak lagi berorientasi pada content transmission model tetapi beranjak ke knowledge based environment, sehingga berpeluang untuk survive dan excel. Pendekatan CTL yang knowledge based environment dapat membantu anak mengkaitkan antara pengetahuan yang dimiliki dengan situasi-kondisi nyata. Anak dapat belajar dari dan melalui mengalami serta mengkonstruksi pengetahuan baru yang bermakna baginya. Agar CTL dapat efektif, dalam proses pembelajaran perlu diperhatikan prinsip-prinsipnya.Pendekatan CTL dalam pembelajaran seni rupa pada hakikatnya bukan pendekatan baru karena art as a way of knowing, yang pada kegiatannya telah juga menuntut peserta didik menjadi problem solver; melakukan observasi, inkuiri, refleksi, dan membuat simpulan serta menyajikan hasil belajarnya. Kata kunci : Pendekatan CTL, meaningfull learning, knowledge based environment, perbaikan pendidikan, CTL dalam seni rupa
MAKNA SIMBOLIK FILOSOFIS DALAM PELEMBAGAAN TARI BEDHAYA BEDHAH MADIUN DI KERATON YOGYAKARTA Kusumastuti, Eny
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muatan makna simbolik filosofis yang begitu tinggi dalam tari Bedhaya, menyebabkan genre tari ini senantiasa ditempatkan sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan yang paling penting di keraton-keraton Jawa. Di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, tarian ini dianggap sebagai salah satu atribut sang raja, yang pada gilirannya juga berfungsi sebagai sarana untuk melegitimasi kekuasaan dan kewibawaan para Sultan atau Sunan. Tari Bedhaya Bedhah Madiun merupakan sebuah tari Bedhaya ciptaan Hamengku Buwana VII seorang Sultan Yogyakarta. Sesuai dengan pandangan filosofis yang melatarbelakanginya serta berdasarkan fenomena visualnya, tari Bedhaya Bedhah Madiun merupakan gambaran proses kehidupan manusia dalam mencapai kesejahteraan dan menuju kesempurnaan. Niat dari setiap pelembagaan tari Bedhaya adalah untuk state ritual, yang bisa dilihat di dalam Kandha Bedhaya Srimpi, yakni selalu ditujukan untuk membangun kesejahteraan serta kemakmuran rakyat dan negara. Hal itu terkait dengan kelangsungan kekuasaan sang raja, upaya semakin meningkatkan kewibawaan dan kemashuran, serta harapan agar sang raja mendapatkan anugerah usia yang panjang. Kata kunci: bedhaya, makna simbolik filosofis, fenomena visual, bentuk dan struktur tari
DI BALIK KEINDAHAN BENTUK HIASAN SENGKALAN MEMET PADA GAPURA TAMAN SARI Sunaryo, Aryo
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Sari merupakan sebuah kawasan taman kerajaan Yogyakarta yang dibangun pada abad ke-18 oleh Sultan Hamengku Buwana I. Sebagian taman sampai sekarang masih tersisa dan dapat dinikmati keagungan dan keindahan bentuknya. Titimangsa pembangunannya ditandai oleh sengkalan memet yang terdapat di gapura Panggung dan gapura Agung dalam kompleks taman. Sengkalan memet di gapura Panggung berupa hiasan patung dua ekor naga berhadapan ke arah pintu masuk gapura, seolah sedang bercakap-cakap, dan dibaca catur naga rasa tunggal (percakapan naga rasa satu). Yang di gapura Agung berupa hiasan relief bermotif tumbuh-tumbuhan dan burung yang digambarkan sedang menghisap bunga. Sengkalannya berbunyi lajering sekar sinesep peksi (pokok bunga terisap burung). Kedua sengkalan memet yang menghiasi gapura taman menunjuk angka tahun yang bertalian dengan pembangunan Taman Sari. Hiasan bentuk sengkalan memet tidak semata memperindah dan menandai titimangsa bangunan, melainkan beserta keseluruhan bangunan gapura mengandung pesan-pesan, harapan, dan makna simbolis yang dalam. Kata kunci: sengkalan memet, titimangsa, hiasan, taman, gapura.
PERILAKU BERKESENIAN : KAJIAN DALAM ANALISIS GENDER Utomo, Udi
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran laki-laki dan perempuan dapat dibedakan dengan menggunakan dua pendekatan, yakni pendekatan nature (alami) dan pendekatan nurture (budaya). Dalam berbagai konteks budaya perbedaan secara alami (biologis) seringkali mendasari diferensiasi peran (division of labor) yang ada, akibatnya sering terjadi ketidakseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa kasus, ketidakseimbangan tersebut memunculkan adanya dominasi laki-laki atas perempuan. Sedangkan secara nurture (gender) perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu masyarakat terkait dengan berbagai pandangan serta nilai-nilai budaya masyarakat yang ada. Fakta tersebut dalam konteks kesenian tercermin melalui berbagai wujud karya seni, penokohan, proses pengajaran, proses pertunjukan, karir, dan pelabelan instrumen musik dan lain-lain. Kata kunci : Perilaku, kesenian, gender.
PENGEMBANGAN PARIWISATA MINAT KHUSUS KESENIAN TRADISIONAL -, Hartono
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia mempunyai banyak objek wisata baik wisata budaya, wisata buatan manusia, ataupun wisata alam. Peluang Indonesia untuk menjadi pemasok turis terbesar di ASEAN bahkan ASIA masih terbuka lebar karena Indonesia memiliki kemajemukan tradisi dan budaya, serta peninggalan sejarah dan purbakala yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata minat khusus. Keutamaan dan nilai positif pengemasan kesenian tradisional baik berupa tari, musik, batik, ataupun kerajinan tangan, di samping merupakan upaya-upaya pelestarian, juga untuk pengembangan kesenian itu sendiri, sebagai sarana kreatifitas seniman, serta juga dalam upaya pengenalan keluar. Selain hal tersebut juga mempunyai unggulan kompetitif untuk bersaing dengan objek wisata negara lain. Kata kunci: wisata minat khusus, kesenian tradisional.

Page 1 of 1 | Total Record : 7