cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia
ISSN : 19790503     EISSN : 25031244     DOI : http://dx.doi.org/10.15294/jipk
Arjuna Subject : -
Articles 758 Documents
PENERAPAN PRAKTIKUMBERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 10, No 2 (2016): July 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v10i2.9532

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains siswa suatu SMA N di Jekulo dengan menerapkan metode praktikumberbasis masalah. Metode pelaksanaannya dengan desain control group pretestpostest, yaitu penelitian dengan melihat perbedaan hasil pretest maupun postest antara kelas eksperimen dan kontrol. Populasi penelitian ini adalah kelas XIIPA sebanyak 4 kelas.Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling sehingga didapat XI IPA 3 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Analisis uji perbedaan rata-rata hasil postest kelas eksperimen menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kelas kontrol. Kelas eksperimen memperoleh rata-rata nilai postest yaitu 76,8 sedangkan kelas kontrol yaitu 70. Uji normalitas Gain pada hasil belajar kognitif siswa menunjukkan bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan yang lebih baik dalamketerampilan proses sains sebesar 0,48 dan kelas kontrol peningkatannya sebesar 0,35dengan kriteria sedang. Tingkat ketercapaian indikator keterampilan proses sains menurut analisis deskriptif menunjukkan rata-rata kelas eksperimen sangat baik yaitu91,12%. Menurut analisis koefisien determinasi diperoleh hasil bahwa penelitian ini berkontribusi sebesar 37,21% dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Berdasarkan hasil analisis tersebut disimpulkan bahwa penerapan praktikum berbasis masalahdapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa.
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 2, No 2 (2008): July 2008
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v2i2.1255

Abstract

Aspek-aspek yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan yaitu kurikulum, sarana dan prasarana, guru, siswa dan metode. Salah satu metode yang dimaksud adalah model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together). Tujuan dari penelitian  ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran NHT terhadap hasil belajar kimia hidrokarbon. Untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan model pembelajaran NHT menggunakan uji perbedaan dua rata-rata (uji t). Berdasarkan hasil analisis diperoleh thitung sebesar 5,539. ttabel=1,66 pada taraf kesalahan 5% dengan dk=87. Jadi thitung ttabel  yang berarti  ada  perbedaan  yang  signifi kan  yaitu  nilai  rata-rata  kelompok  eksperimen  lebih besar daripada kelompok kontrol. Pengaruh positif yang diberikan oleh penggunaan model pembelajaran NHT mungkin  disebabkan  adanya  variasi  pembelajaran  sehingga  dapat menimbulkan ketertarikan, minat dan motivasi pada siswa. Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah ada pengaruh penggunaan model pembelajaran NHT terhadap hasil belajar kimia hidrokarbon. Kata Kunci: model pembelajaran numbered heads together
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN KIMIA BERVISI SETS BERORIENTASI CHEMO-ENTREPRENEURSHIP (CEP) PADA MATERI LARUTAN ASAM BASA
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 10, No 1 (2016): January 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v10i1.6008

Abstract

Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari- hari, dari segi lingkungan teknologi, maupun masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan modul pembelajaran kimia bervisi SETS berorientasi CEP pada materi larutan asam basa yang layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar, minat wirausaha, dan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Uji coba kelayakan produk pada penelitian ini dilaksanakan di MA Mu’allimin Mu’allimat dengan model penelitian one group pre-test and post-test design dan di MAN Rembang dengan model penelitian pre-test and post-test control group design. Data penelitian diperoleh dengan metode validasi, observasi, dokumentasi, tes, dan skala Likert. Hasil validasi ahli materi, ahli media, dan praktisi menunjukkan bahwa modul pembelajaran kimia bervisi SETS berorientasi CEP sangat layak digunakan dalam pembelajaran kimia dengan skor ratarata pada aspek kegrafikan 95,00, aspek penyajian 95,33, aspek kebahasaan 95,00, dan aspek kegrafikan 94,44. Hasil uji coba modul di MA Mu’allimin Mu’allimat menunjukkan peningkatan motivasi 20%, minat wirausaha 25%, dan hasil belajar siswa 79%. Uji coba modul di MAN Rembang peningkatan motivasi belajar siswa, minat wirausaha, dan hasil belajar siswa kelas eksperimen sebesar 27%, 17% dan 66%, sedangkan peningkatan kelas kontrol secara berturutturut 0,4%, 11%, dan 24%.Chemistryis one of the subjects related to everyday life, in terms of environmental technology, and society. The purpose of this research is to produce visionary chemistry learning modules SETS with CEP oriented on acid-base materials which properly and effectively use in learning to improve learning motivation, entrepreneurial interest, and student learning outcomes. This research is development reaserch. Testing the product viability on the research carried out in MA Mu'allimin Mu'allimat with research model are one group pre-test and post-test design and in MAN Rembang with pre-test and post-test control group design. Data obtained by the validation, observation, documentation, testing, and Likert scale method. Validation results or matter experts, media experts, and practitioners shows that the chemistry learning modules with SETS vision and CEP oriented very fit for using in teaching chemistry with an average score on the graphical aspect 95.00, presentation aspects 95.33, linguistic aspects of 95.00, and graphical aspects 94.44. The module trial results in MA Mu'allimin Mu'allimat showed the increase of motivation 20%, interest in self-employment 25%, and student learning outcomes 79%. Module test in MAN Rembang increased the student motivation, entrepreneurial interest, and student learning outcomes in experimental class by 27%, 17% and 66%, whereas the increase in the control class, respectively 0.4%, 11% and 24%.
PENERAPAN PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION BERBASIS INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOLOID
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 8, No 1 (2014): January 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v8i1.4435

Abstract

This study aims to determine whether the implementation of inquiry-based learning Group Investigation Guided influential in improving learning outcomes of chemistry in competence of Colloid Systems and how the responses of teachers and students towards applied learning. Sampling used cluster random sampling technique, obtained class XI IPA 1 as the experimental class and the XI IPA 4 as control class. Retrieval of data used techniques: tests, observations, questionnaires, and documentation. The results showed that the average grade of experimental  class was higher than the control class based on the test of the right hand, with both of the posttest score of t count  6.89 over t table of 2.00. The results of the analysis of the magnitude of the effect between variables obtained coefficient of determination 73.38%, mean that the inquirybased learning Group Investigation Guided Contributed to increasing students cognitive learning outcomes of 73.38%. On Affective and psychomotor assessment, the average grades of the experimental class learning better than classroom control. Analysis of the questionnaire responses of teachers and students also indicated that inquiry-based learning Group Investigation Guided obtained a good response. This study concluded that the implementation of inquiry-based learning Group Investigation Guided influenced in improving learning outcomes chemistry class XI student with competencies related colloidal systems and obtained good response from teachers and students.Keywords: Group Investigation, Learning Outcomes, Inquiry-Guided
ANALISIS LEVEL LITERASI LABORATORIUM KIMIA DARI CALON GURU IPA TAHUN PERTAMA
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 13, No 2 (2019): July (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v13i2.16446

Abstract

Laboratory literacy is part of scientific literacy, in chemistry learning it is not only learning that is based on understanding concepts, but also requires a laboratory skill to test the truth of theories and to know the benefits of chemical learning in daily life. This study is aimed at describing the level of literacy in prospective science teacher students in the first year. Literacy conditions are needed by the lecturer in designing laboratory activities at the Basic Chemistry Practicum course as part of the course that students must follow. This research is a descriptive study with 35 subjects of science teachers with heterogeneous backgrounds in one of the LPTK in Central Java. Literacy levels include an understanding of the functioning of the tool, the introduction of materials at the basic level, and also an understanding of the laboratory background. Data collection uses reflection sheets that require them to document, describe their functions, and describe laboratory materials and dimensions. The results show that the level of literacy is at a low level in 60% of students, moderate in 35% of students, and high level in 5% of students. Seeing these conditions, before conducting laboratory activities in the first year, matriculation needs to be done through virtual laboratory activities as well as demonstrations to be more effective.
PROFIL PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS KURIKULUM 2013 DI KOTA GORONTALO DAN KOTA SURAKARTA KELAS X TAHUN AJARAN 2016/2017
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 12, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v12i1.13296

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pembelajaran kimia berbasis Kurikulum  2013 di SMA Negeri kelas X di Kota Gorontalo dan Surakarta beserta perbedaannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan evaluatif. Sampel dalam penelitian ini adalah SMAN 1, 2, 3 Gorontalo, serta SMAN 1, 5, 7 Surakarta. Pemilihan sampel dilakukan dengan sampling bertujuan. Teknik pengumpulkan data dengan wawancara, angket, observasi, dan dokumentasi. Validasi data dilakukan dengan trianggulasi sumber dan metode. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif dan dikombinasikan dengan analisis komparatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya kekreatifitasan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Guru di Gorontalo telah membuat perencanaan pembelajaran dengan berbagai metode pembelajaran interaktif, namun ketika proses pembelajaran, metode yang sering digunakan yaitu ceramah dan diskusi. Penggunaan media pembelajaran masih kurang maksimal, minat siswa mengikuti pembelajaran tinggi, serta interaksi siswa dengan guru dan lingkungan sudah nampak ketika observasi. Guru di Surakarta mengembangkan perencanaan pembelajaran dengan berbagai model pembelajaran kooperatif, dan beberapa kali diterapkan ketika pembelajaran. Pemanfaatan media juga kurang maksimal, minat siswa mengikuti pembelajaran cukup tinggi, sedangkan interaksi siswa dengan guru dan lingkungan lebih tinggi. Pembelajaran kimia berbasis Kurikulum 2013 di Surakarta relatif lebih baik dibandingkan dengan Gorontalo, hal ini dikarenakan perbedaan kompetensi guru, kemampuan dan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
BEBAN KOGNITIF SISWA PADA PEMBELAJARAN KIMIA DI PONDOK PESANTREN
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 14, No 2 (2020): July (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v14i2.21813

Abstract

Setiap siswa mempunyai kapasitas memori kerja yang berbeda. Banyakya kegiatan dan mata pelajaran di pondok pesantren yang kebanyakan menjadi salah satu penyebab berlebihnya kapasitas memori kerja siswa. Akibatnya, siswa merasakan beban pada proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beban kognitif siswa di pondok pesantren Al-Mizan khususnya pada pembelajaran kimia. Penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling. Dimana sampel pada penelitian ini sebanyak 35 siswa kelas XI IPA 1. Beban kognitif siswa dalam penelitian ini adalah Intrinsic Cognitive Load (ICL) berkaitan dengan kemampuan Menerima dan Mengolah Informasi siswa diukur dengan menggunakan lembar kerja peserta didik (LKPD). Extraneous Cognitive Load (ECL) berkaitan dengan Usaha Mental siswa diukur dengan menggunakan angket skala Likert. Germane Cognitive Load (GCL) berkaitan dengan Hasil Belajar siswa diukur dengan menggunakan latihan soal pilihan ganda. Hasil penelitian menyatakan bahwa kemampuan menerima dan mengolah informasi siswa dengan nilai rata-rata sebesar 70 dalam kategori baik. Usaha mental siswa dengan nilai rata-rata sebesar 71 dalam kategori baik. Hasil belajar siswa dengan rata-rata nilai sebesar 48 dalam kategori cukup. 
ANALISIS KESULITAN BELAJAR KIMIA SISWA SMA DALAM MEMAHAMI MATERI LARUTAN PENYANGGA DENGAN MENGGUNAKAN TWO-TIER MULTIPLE CHOICE DIAGNOSTIC INSTRUMENT
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 4, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v4i1.1308

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui letak kesulitan, faktor penyebab, dan caramengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi larutan penyangga. Penelitian dilakukandi SMA Negeri 1 Pemalang dengan subjek penelitian sebanyak 126 siswa kelas XI PSIA.Penelitian dilakukan melalui observasi proses pembelajaran, tes tertulis dengan Two-tierMultiple Choice Diagnostic Istrument, dan wawancara. Letak kesulitan siswa untuk konseppada materi larutan penyangga adalah (1) konsep pengertian larutan penyangga 35,52%,(2) konsep perhitungan pH dan pOH Larutan Penyangga dengan menggunakan prinsipkesetimbangan 26,03%, (3) konsep perhitungan pH larutan penyangga pada penambahansedikit asam atau basa 40,83%, dan (4) konsep fungsi larutan penyangga dalam tubuhmakhluk hidup dan dalam kehidupan sehari-hari 68,26%. Faktor penyebab kesulitansiswa antara lain kurangnya minat dan perhatian siswa pada saat proses pembelajaranberlangsung, kurangnya kesiapan siswa dalam menerima konsep baru, kurangnyapenekanan pada konsep-konsep prasyarat yang penting, penanaman konsep yang kurangmendalam, strategi belajar, dan kurangnya variasi latihan soal. Cara mengatasi kesulitansiswa dalam memahami materi larutan penyangga adalah meningkatkan minat dan perhatiansiswa pada saat proses pembelajaran berlangsung, mengkondisikan siswa agar siap dalammenerima konsep baru, pembahasan dan penanaman konsep-konsep prasyarat secaramendalam, serta banyaknya latihan soal yang bervariasi.Kata kunci:Two-tier Multiple Choice Diagnostic Instrument
PENGARUH PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING BERORIENTASI HOTS (Higher Order Thinking Skills) TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA KELAS X
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 6, No 2 (2012): July 2012
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v6i2.6532

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran problem solving berorientasi HOTS (Higher Order Thinking Skills) terhadap hasil be/ajar kimia siswa kelas X materi pokok larutan elektrolit dan konsep redoks. Populasinya adalah 286 siswa kelas X suatu SMA di Semarang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling dengan satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Rata-rata nilai hasil be/ajar kognitif kelas eksperimen sebesar 84,06, sedangkan kelas kontrol 77,60. Kedua kelas berdistribusi normal dan mempunyai varians yang sama, sedangkan pada uji t dua pihak dihasilkan -trabel (-2,00)thitung(4,32)ttabei(2,00) yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelas. Pada uji t satu pihak kanan diperoleh thitung (4,32)trabe1 (1,67) yang berarti bahwa rata-rata hasil be/ajar kognitif siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hasil analisis korelasi diperoleh angka r=0,5079, sehingga signifikan dengan harga koefisien determinasi sebesar 25, 79%, berarti penggunaan pembe/ajaran problem solving berorientasi HOTS memiliki kontribusi sebesar 25,79% terhadap hasil be/ajar siswa, sedangkan 74,21% dijelaskan oleh variabel lain. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran problem solving berorientasi HOTS berpengaruh positif terhadap hasil be/ajar kimia siswa. Pembelajaran problem solving dapat merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa seperti berpikir kritis dan kreatif.
MODEL COMMUNITY LEARNING BERBASIS DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN SOFTSKILLS STOIKIOMETRI KIMIA PESERTA DIDIK SMA
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia Vol 13, No 1 (2019): January (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jipk.v13i1.16759

Abstract

Soft skills are things that become part of learning outcomes in the learning process. This is related to the provision of the lives of students in the future. The aim of the chemical stoichiometry learning process with discovery-based community learning models is to improve students' soft skills. This classroom action research was carried out in 3 cycles with 3 meetings each cycle. The research subjects were softskills for students of class X Science-6 Pekalongan 1 High School. The results of the study showed an increase in students' soft skills from 67% (less) in cycle 1 to 87% (good) in cycle 2. In cycle 3 it increased to 96% (very good), with very good indicators of success. This increase shows that discovery-based community learning models can improve students' soft skills. Other results indicate a change in enthusiasm, activity, and motivation to learn to be better.

Filter by Year

2008 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 1 (2024): January 2024 Vol 17, No 2 (2023): July 2023 Vol 17, No 1 (2023): January 2023 Vol 16, No 2 (2022): July 2022 Vol 16, No 1 (2022): January 2022 Vol 15, No 2 (2021): July 2021 Vol 15, No 1 (2021): January 2021 Vol 14, No 2 (2020): July (2020) Vol 14, No 1 (2020): January (2020) Vol 13, No 2 (2019): July (2019) Vol 13, No 1 (2019): January (2019) Vol 12, No 2 (2018): July 2018 Vol 12, No 1 (2018): January 2018 Vol 11, No 2 (2017): July 2017 Vol 11, No 1 (2017): January 2017 Vol 11, No 1 (2017): January 2017 Vol 10, No 2 (2016): July 2016 Vol 10, No 2 (2016): July 2016 Vol 10, No 1 (2016): January 2016 Vol 10, No 1 (2016): January 2016 Vol 9, No 2 (2015): July 2015 Vol 9, No 2 (2015): July 2015 Vol 9, No 1 (2015): January 2015 Vol 9, No 1 (2015): January 2015 Vol 8, No 2 (2014): July 2014 Vol 8, No 2 (2014): July 2014 Vol 8, No 1 (2014): January 2014 Vol 8, No 1 (2014): January 2014 Vol 7, No 2 (2013): July 2013 Vol 7, No 2 (2013): July 2013 Vol 7, No 1 (2013): January 2013 Vol 7, No 1 (2013): January 2013 Vol 6, No 2 (2012): July 2012 Vol 6, No 2 (2012): July 2012 Vol 6, No 1 (2012): January 2012 Vol 6, No 1 (2012): January 2012 Vol 5, No 2 (2011): July 2011 Vol 5, No 2 (2011): July 2011 Vol 4, No 1 (2010): January 2010 Vol 4, No 1 (2010): January 2010 Vol 3, No 2 (2009): July 2009 Vol 3, No 2 (2009): July 2009 Vol 3, No 1 (2009): January 2009 Vol 3, No 1 (2009): January 2009 Vol 2, No 2 (2008): July 2008 Vol 2, No 2 (2008): July 2008 Vol 2, No 1 (2008): January 2008 Vol 2, No 1 (2008): January 2008 More Issue