cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
Openness To Expericene, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, Neuroticism: Manakah yang Terkait dengan Mindful Parenting?
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i2.22569

Abstract

Fenomena perlakuan kekerasan dan penelantaran terhadap anak oleh orangtua dikenal sebagai child abuse. Rendahnya keterampilan pengasuhan menjadi faktor resiko kunci dalam maltreatment anak dan child abuse. Oleh karena itu dibutuhkan keterampilan dalam pengasuhan. Salah satu keterampilan mendasar dalam pengasuhan adalah mindful parenting. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi mindful parenting adalah kepribadian. Penelitian ini bertujuan untuk melihat jenis trait kepribadian yang berhubungan denganmindful parenting. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan instrumen Big Five Inventory (BFI) untuk mengukur keperibadian dan Mindfulness in Parenting Questionnaire (MIPQ) digunakan untuk mengukur Mindful Parenting. Data yang terkumpul berasal dari 100 orang responden yang dipilih melalui teknik sampling insidental. Berdasarkan uji korelasi, ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara mindful parenting dengan trait kepribadian extraversion (rs=0.209, p0.01), agreeableness (rs=0.315, p0.01) dan openness to experience (rs=0.301, p0.01).The phenomenon of abuse and neglect of children by parents is known as child abuse. Low parenting skills are a key risk factor in child maltreatment and child abuse. Therefore, skills in parenting are needed. One of the basic skills in parenting is mindful parenting. Personality can affect mindful parenting. This study aimed to examine the types of personality traits associated with mindful parenting. This research is a quantitative research using Big Five Inventory (BFI) to measure personality and Mindfulness in Parenting Questionnaire (MIPQ) to measure Mindful Parenting. The collected data from 100 respondents selected through incidental sampling showed that a significant relationship between mindful parenting with extraversion (rs=0.209, p0.01), agreeableness (rs=0.315, p0.01) and openness to experience (rs=0.301, p0.01).
Teamwork: Studi Indigenous pada Karyawan PNS dan Swasta Bersuku Jawa di Pulau Jawa
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i2.13320

Abstract

Abstrak. Penelitian ini didasarkan pada temuan-temuan budaya barat yang semakin banyak. Perbedaan budaya menjadi tonggak dimana hasil penelitian tidak bisa digeneralisasikan begitu saja. Dunia kerja kita tidak dapat terlepas dari unsur keanekaragaman budaya, kepribadian, persepsi, serta hal-hal lain yang bersumber dari keberagaman daerah asal, pola asuh dan lain-lain yang menyebabkan perbedaan cara dalam bersikap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perspektif gambaran mengenai teamwork, kepuasan, upaya, faktor pendukung, faktor penghambat serta gambaran mengenai teamwork yang ideal pada karyawan bersuku Jawa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indigenous psychology yaitu suatu pendekatan yang menekankan pada studi terhadap perilaku dan cara berpikir seseorang dalam konteks budayanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dilakukan dengan survei terhadap partisipan sebanyak 700 orang karyawan PNS dan swasta bersuku Jawa di Pulau Jawa. Peneliti menggunakan alat pengumpul data berupa open-ended questionnaire dengan menerapkan metode analisis data indigenous melalui preliminary coding, category, aksial coding, dan cross-tabulasi. Temuan dilapangan didapat sebanyak 28.47%  subjek menganggap tim kerja adalah sekelompok orang yang saling bekerjasama, sebanyak 33.28% menganggap tim kerja adalah sarana untuk mencapai tujuan, sebanyak 13.85% subjek menganggap tim kersa adalah saling berinteraksi serta sebanyak 15.57% menganggap tim kerja adalah usaha untuk menyelesaikan pekerjaan atau tanggung jawab bersama. Kata Kunci: Teamwork, bersuku Jawa. Abstract. The study was based on findings that the more western culture. Cultural differences become a milestone in which the results of the study can not be generalized for granted. World of work we can not be separated from the element of cultural diversity, personality, perception, and other things that come from the diversity of the area of origin, parenting and others that led to the different ways of behaving. The purpose of this study was to determine the picture perspective on teamwork, satisfaction, effort, supporting factors, inhibiting factors as well as the ideal idea of teamwork on employee Java tribes. The approach used in this study are Indigenous psychology is an approach that emphasizes the study of behavior and thinking in the context of one's culture. This research was conducted using qualitative methods with a survey of 700 participants were civil servants and private sector employees, polysyllabic Java in Java. Researchers used data collection tool in the form of an open-ended questionnaire by applying indigenous methods of data analysis through the preliminary coding, category, axial coding, and cross-tabulation. The findings obtained in the field as much as 28.47% of the subjects considered the work team is a group of people working together, as much as 33.28% think teamwork is a means to an end, as much as 13.85% of the subjects considered Kersa team is interacting and 15:57% as much as the team considers the work is an attempt to resolve employment or collective responsibility.  
HUBUNGAN ANTARA ADULT ATTACHMENT STYLE DENGAN KOMITMEN PERNIKAHAN PADA DEWASA AWAL
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i1.11616

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui hubungan antara adult attachment style dengan komitmen pernikahan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Semarang. Sampel penelitian berjumlah 150 orang. Teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Data penelitian diambil dengan menggunakan skala adult attachment style yang terdiri dari skala secure, avoidant, anxious dan skala komitmen pernikahan. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara adult attachment style dengan komitmen pernikahan, koefisien R= 0,755 dengan signifikansi atau p = 0,000. Sedangkan untuk masing-masing attachment style diuji menggunakan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara secure dengan komitmen pernikahan. Koefisien korelasi r= 0,648 dengan signifikansi atau p = 0,000, adanya hubungan negatif antara avoidant dengan komitmen pernikahan. Koefisien korelasi r= -0,732 dengan signifikansi atau p = 0,000 dan hasil penelitian juga menunjukkan bahwa adanya hubungan negatif antara anxious dengan komitmen pernikahan. Koefisien korelasi r= -0,301 dengan signifikansi atau p = 0,000.Abstract.This study aimed to determine relationship between adult attachment style and marital commitment in early adulthood. This study is a quantitative correlation. This study was conducted in Semarang. Subject of this study was 150 peoples. Purposive sampling technique used to collect the subject. This study used two scales for collect the data, adult attachment style scale that consist of secure, avoidant, and anxious, and marital commitment scale. Regression analysis used to determine relationship between adult attachment style and marital commitment. The result showed that there was correlation between adult attachment style and marital commitmen, R= 0,755 with a significance value or p= 0,000. And for each attachment style was determined with pearson correlation. The result showed that there was positive correlation between secure and marital commitment, r= 0,648 with a significance or p = 0,000, there was negative correlation between avoidant and marital commitment, r= -0,732 with a significance or p = 0,000 also that there was negative correlation between anxious and marital commitment, r= -0,301with a significance or p = 0,000
Pengaruh Social Support dan Self-Esteem terhadap Subjective Well-Being Remaja Korban Bullying di Pondok Pesantren
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 3 (2018): November 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i3.18867

Abstract

Abstrak. Bullying merupakan bentuk perilaku agresif yang mungkin sering ditemui di lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah atau pondok pesantren sebagai tempat anak-anak dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus bangsa sering menjadi sorotan sebagai tempat yang rentan terjadinya tindak kekerasan terhadap anak. Pondok Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan pun tidak luput dari tudingan yang berlaku pada dunia pendidikan umumnya yang memperlakukan anak secara “keras”. Goswami (2012) dalam penelitiannya mengenai hubungan antara social relationships dengan subjective well being pada anak mengatakan bahwa anak-anak yang menjadi korban bullying dan perlakuan yang tidak adil akan memiliki subjective well being yang rendah. Artinya, korban bullying cenderung sering mengalami perasaan yang tidak puas terhadap kehidupannya, dan jarang mengalami perasaan yang menyenangkan. Perasaan-perasaan negatif tersebut dapat memicu korban menjadi pelaku bullying, senior memiliki alasan bahwa tindakan seperti itu adalah tradisi yang dulu juga pernah diterimanya ketika masih menjadi junior. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh social support dan self-esteem terhadap subjective well being. Sampel dalam penelitian ini adalah santri pondok pesantren yang pernah mengalami bullying di Pondok Pesantren Daar el Qolam sebanyak 196 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling. Analisis data yang digunakan adalah Multiple Regression Analysis pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan social support dan self-esteem terhadap subjective well being. Proporsi varians dari subjective well being yang dijelaskan oleh semua independent variable adalah sebesar 22,6%, sedangkan 77,4% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian ini. Kata Kunci : Social Support, Self Esteem, Subjective Well Being  Abstract. Bullying is a form of aggressive behavior that may often be encountered in the school environment. The school environment or boarding school as a place for children to be prepared to become the next generation of the nation is often in the spotlight as a place that is vulnerable to acts of violence against children. Islamic boarding schools as one of the educational institutions are not immune from accusations that apply to the world of education generally which treat children "hard". Goswami (2012) in his research on the relationship between social relationships with subjective well being in children said that children who were victims of bullying and unfair treatment would have low subjective well being. That is, victims of bullying tend to often experience feelings of dissatisfaction with their lives, and rarely experience pleasant feelings. These negative feelings can trigger the victim to be a bullying agent, the senior has a reason that such an act is a tradition that he also received when he was a junior. This study aims to see whether there is an impact of social support and self-esteem on subjective well being of bullied students in boarding school. Subjects in this study were 196 bullied students of Daar el Qolam Boarding School in 2018, which was chosen by using nonprobability sampling technique. The method of collecting data uses the scale of social support, self esteem and subjective well being scale. Data analysis technique used is Multiple Regression Analysis with level of significance 0,05. The results showed that there was a significant impact of social support and self-esteem on subjective well being. The proportion of variance of subjective well being described by all independent variables is 22.6%, while the remaining 77.4% is influenced by other variables outside this study.
KOMITMEN ORGANISASI DITINJAU DARI TIPE GAYA KEPEMIMPINAN MENURUT LEWIN (Studi Komparatif pada Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Intra Universitas Negeri Semarang Tahun 2007)
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 1, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v1i1.8895

Abstract

This Research's purpose is knowing about organization commitment difference between autocratic, democratic, and laissez-faire leadership style on students organization activist in Semarang State University year 2007. The method of research is comparative quantitative. Technique sampling used is proportional stratified random sampling. Instruments of research used are leadership style scale and organizational commitment scale. Technique of analysis used is one way anava. The Result shows there is different organization commitment between autocratic, democratic, and laissez-faire leadership style on student organization activist in Semarang State University year 2007 with coefficient correlation getting Fo 54,664 with significan 0,00. Democratic leadership style has the highest organizational commitment than autocratic and laissez-faire leadership style.
“Positif atau Negatifkah Konsep Diri pada Narapidana Residivis?” Studi Deskriptif pada Narapidana Residivis di Lapas Kelas I
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.23563

Abstract

Kejahatan berulang yang dilakukan oleh sebagian narapidana menjadi satu permasalahan yang patut mendapatkan perhatian. Hal tersebut diantaranya adalah bagaimana narapidana memandang dirinya terkait kejahatan yang dilakukan sehingga merasa tidak terbebani ketika harus berurusan dengan hukum untuk kesekian kalinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri pada narapidana residivis. Residivis adalah sebutan untuk para narapidana yang melakukan tindak kejahatan berulang sehingga dinyatakan pula masuk penjara berulangkali. Populasi penelitian ini adalah seluruh narapidana residivis di Lapas Kelas I Kedungpane Semarang yang berjumlah 129 orang. Adapun sampel penelitian berjumlah 87 orang dengan metode pengambilan sampel Simple Random Sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji statistika deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menyebutkan bahwa 79 orang (90,8%) berada pada kategorisasi sangat tinggi, 2 orang (2,3%) berada pada kategorisasi tinggi, 2 orang (2,3%) berada pada kategorisasi sedang, 1 orang (1,1%) berada kategorisasi rendah, dan 3 orang (3,4%) berada pada kategorisasi sangat rendah. Artinya, pandangan dan penilaian narapidana residivis terhadap dirinya dikategorikan sangat tinggi atau sangat positif meskipun berstatuskan sebagai individu yang dikategorikan sering bersinggungan dengan kasus hukum. Konsep diri positif perlu ditumbuhkan pada individu-individu yang memiliki potensi positif untuk melakukan hal-hal yang bersifat positif pula. Namun, konsep diri positif yang dimiliki oleh narapidana residivis digunakan sebagai penyemangat diri ketika berada di situasi negatif yaitu melakukan kejahatan berulangkali. Konsep diri berkaitan dengan kepercayaan diri, dengan demikian artinya, narapidana tetap merasa percaya diri dan tidak terganggu dengan statusnya sebagai residivis. Oleh karena itu, berdasarkan uraian tersebut, maka hasil penelitian yang menyebutkan bahwa 90,8% residivis kategorisasi konsep diri sangat tinggi justru perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut dalam penelitian ini.The recurrent crime committed by some prisoners is an issue that deserves attention. These include how prisoners view themselves as being related to crimes committed so they feel less burdened when they have to deal with the law for the umpteenth time. This study aims to determine self-concept in recidivist inmates. A recidivist is a term for prisoners who commit recurrent crimes so that they are also repeatedly jailed. The population of this research was all 129 recidivist inmates in Lapas Kelas I Kedungpane Semarang. The study sample numbered 87 people with a simple random sampling method. The data analysis technique used is the quantitative descriptive statistical test. The results of the study mentioned that 79 people (90.8%) were in the very high categorization, 2 people (2.3%) were in the high categorization, 2 people (2.3%) were in the medium categorization, 1 person (1.1 %) low categorization, and 3 people (3.4%) are very low categorization. That is, the views and evaluations of recidivist inmates are categorized very high or very positive even though they are categorized as individuals who are categorized as often dealing with legal cases. Positive self-concept needs to be grown on individuals who have positive potential to do positive things as well. However, the positive self-concept possessed by recidivist inmates is used as self-encouragement when in a negative situation, which is to commit crimes repeatedly. Self-concept is related to self-confidence, thus it means that prisoners still feel confident and are not disturbed by their status as recidivists. Therefore, based on the description, the results of the study which states that 90.8% recidivists categorize self-concept is very high actually need to get further attention in this study
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN SPIRITUAL DAN KEMATANGAN EMOSI DENGAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14113

Abstract

Abstrak. Remaja merupakan masa dimana mengalami banyak masalah, juga merupakan masa transisi dari anak-anak kemasa selanjutnya. Pada masa remaja ada tugas-tugas perkembangan yang harus dilewati oleh remaja antara lain penyesuaian diri remaja, tidak semua remaja mampu menyesuaikan diri sesuai dengan yang diharapkan, penyesuiaan diri remaja juga memiliki hubungan dengan kecerdasan spiritual dan kematangan emosi yang mampu mempengaruhi penyesuaian diri remaja. Penelitian ini untuk menguji hubungan antara kecerdasan spiritual dan kematangan emosi dengan penyesuaian diri remaja.  Subjek penelitian adalah 59 remaja kelas IX SMP Ahmad Yani. Data  dikumpulkan melalui angket yang terdiri dari penyesuaian diri, kecerdasan spiritual dan kematangan emosi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitaf. Teknik yang digunakan kuota samplingdan pengumpulan datanya menggunakan skala Likert, diteliti  menggunakan teknik korelasi pearson. Hasil analisis menunjukan hubungan positif antara kecerdasan spiritual dan kematangan emosi dengan penyesuaian diri yang artinya semakin tinggi spiritualitas dan kematangan emosi maka semakin tinggi pula penyesuaian diri yang dimiliki remaja.Kata Kunci : Penyesuaian diri, spiritual, kematangan emosi, remaja Abstract. Adolescence is a time when there are many problems, also a transition period from the next childhood. In adolescence there are developmental tasks that must be passed by adolescents such as adolescent adjustment, not all adolescents are able to adapt in accordance with the expected, adolescent self-adaptation also has a relationship with spiritual intelligence and emotional maturity that can affect adolescent adjustment. This study to examine the relationship between spiritual intelligence and emotional maturity with adolescent adjustment. The subjects were 59 junior high school students of SMP Ahmad Yani. Data were collected through a questionnaire consisting of self-adjustment, spiritual intelligence and emotional maturity. This research uses quantitative research method. The technique used quota sampling and data collection using Likert scale, examined using pearson correlation technique. The results of the analysis show a positive relationship between spiritual intelligence and emotional maturity with self-adjustment which means the higher the spirituality and emotional maturity then the higher the adaptability of teens.
KEPUASAN PERKAWINAN PADA PASANGAN YANG BELUM MEMILIKI ANAK
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i2.11606

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kepuasan perkawinan pada pasangan yang belum memiliki anak. Partsipan penelitian yaitu 2 pasangan suami-istri yang belum memiliki anak dan tidak mengadopsi anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pasangan partisipan, merasakan kepuasan perkawinan meskipun belum memiliki anak.Kata Kunci: kepuasan perkawinan pada pasangan yang belum memiliki anak Abstract. The purpose of this study to determine the factors that influence marital satisfaction in couples who have not had children. Partsipan research that two couples who do not have children and do not adopt children. This study uses a qualitative method. The results showed that both pairs of participants, marital satisfaction despite not having children.Keywords : marital satisfaction in couples who have not had children
School Well-Being Dan Dukungan Sosial terhadap Kecenderungan Perundungan di Pesantren
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 13, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v13i1.29649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara school well-being dan dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan di Pesantren.  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan teknik analisis data analisis regresi berganda. Analisis data akan dilakukan dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukan: (1) terdapat hubungan yang siginifikan antara school well-being dan dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan dengan koefisien regresi (R) sebesar 0,383 dan p=0,013 (p0,05). (2) Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara school well-being dengan kecenderungan perundungan dengan koefisien korelasi (r) sebesar -0,298 dan p=0,024 (p0,05). (3) Tidak ada hubungan antara dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada hipotesis mayor menunjukan ada hubungan yang signifikan antara school well-being dan dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan. Pada hipotesis minor pertama menunjukan ada hubungan negatif yang signifikan antara school well-being dengan kecenderungan perundungan dan pada hipotesis minor kedua menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan. Sumbangan efektif yang diberikan variabel school well-being dan variabel dukungan sosial dalam mempengaruhi variabel tergantung kecenderungan perundungan adalah sebesar 14,7%.Bullying cases often attract the attention of the education world, especially in the realm of Islamic boarding schools, which have complex patterns of interaction between students and their environment. This study aims to determine school well-being and social support with bullying tendencies in Islamic boarding schools. The research method in this study is the data analysis technique of multiple regression analysis. The results showed: (1) There was a significant relationship between school well-being and social support with bullying tendencies, the regression coefficient (R) was 0.383 and p=0.013 (p0.05). (2) There is a significant negative relationship between school well-being and bullying tendencies with a correlation coefficient (r) of -0.298 and p=0.024 (p0.05). (3) There is no relationship between social support and bullying tendencies. Based on the results of the study, it can be concluded that the major hypothesis shows that there is a significant relationship between school well-being and social support with bullying tendencies. The first minor hypothesis shows that there is a significant negative relationship between school well-being and bullying tendencies and the second minor hypothesis shows that there is no relationship between social support and bullying tendencies. The effective contribution given by the school well-being variable and the social support variable in influencing the dependent variable on bullying tendencies is 14.7%.
PENGARUH TRAINING UMUM ORIENTASI (TUO) UNTUK MENINGKATKAN OCCUPATIONAL SELF EFFICACY PADA KARYAWAN BARU
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17495

Abstract

 Abstrak. Sebagian besar individu yang memulai masuk dunia kerja belum tahu bagaimana rincian kerja yang akan ditugaskan kepadanya terutama pada individu yang mengalami masa transisi dari pelajar. Sangatlah mungkin individu yang baru masuk dunia kerja merasa tidak mampu karena belum paham dengan apa yang harus dikerjakan ketika bekerja nantinya. Rasa ketidakmampuan dalam hal ini jika ditinjau dari sudut psikologis merupakan bentuk kurangnya keyakinan akan kemampuan dirinya sendiri dan ini dapat menghambat individu untuk meraih kesuksesan di masa depan. Keyakinan akan  kemampuan dan kompetensi dalam menampilkan unjuk kerja disebut occupational self efficacy. PT Indah Kiat Pulp and Paper Serang Mill, Tbk memiliki agenda training umum orientasi setiap bulannya yang dilaksanakan untuk karyawan baru diharapkan dengan adanya training ini dapat meningkatkan occupational self efficacy pada karyawan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran baik sebelum maupun sesudah dilakukannya training umum orientasi (TUO) terhadap occupational self efficacy dan menguji ada tidaknya pengaruh training umum orientasi (TUO) terhadap occupational self efficacy. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif eksperimen dan dengan desain one group pre-test posttest design dengan pretest 1 kali dan posttest 1 kali. Perlakuan yang diberikan adalah training umum orientasi yang dilaksanakan selama 3 hari. Data penelitian diambil menggunakan skala occupational self efficacy dengan koefisien realibilitas sebesar 0,950 dan dari 40 item diperoleh 29 item yang valid. Analisis data menggunakan teknik uji non parametrik wilcoxon signed ranks test dengan bantuan software pengolahan data. Hasil uji wilcoxon signed ranks test diperoleh nilai Z = -3,927 dengan tingkat signifikansi (sig (2-tailed)= 0,000) kurang dari α 5% maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini terdapat perbedaan occupational self efficacy  sebelum dan sesudah diberikan training umum orientasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa training umum orientasi (TUO) dapat meningkatkan occupational self efficacy pada karyawan baru. Abstract. Most individuals who embark on entering the workforce do not yet know how the details of work will be assigned to them, especially on individuals who are experiencing a transition from the learner. It is possible that individuals who are new to the workplace feel inadequate because they have not understood what to do when working later. Disability in this case if viewed from a psychological point of view is a form of lack of confidence in his own ability and this can hinder individuals to achieve success in the future. The belief in the ability and competence in performing performance is called occupational self efficacy. PT Indah Kiat Pulp and Paper Serang Mill, Tbk has a general orientation training agenda every month for new employees expected with this training can increase occupational self efficacy in new employees.The aim of this research is to know the description before and after the general orientation training (TUO) to occupational self efficacy and to test whether there is influence of general training orientation (TUO) to occupational self efficacy. This research uses experimental quantitative research type and with one group pre-test posttest design design with pretest 1 time and posttest 1 time. The treatment provided is a general training orientation that is carried out for 3 days. The research data was taken using occupational self efficacy scale with realibility coefficient of 0.950 and from 40 items obtained 29 valid items.Data analysis using non parametric test technique wilcoxon signed ranks test with the help of data processing software. Wilcoxon signed ranks test results obtained Z = -3,927 with significance level (sig (2-tailed) = 0,000) less than α 5% it can be concluded that this study there are differences in occupational self efficacy before and after being given general training orientation. Based on the result of research can be concluded that general training orientation (TUO) can increase occupational self efficacy in new employees.Â