cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
PENGARUH FRAMING EFFECTS TERHADAP EFEKTIVITAS IKLAN
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 3 (2016): November 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i3.8665

Abstract

Abstrak. Iklan yang baik salah satunya memiliki kualitas pesan yang akan disampaikan. Pesan tersebut harus dikemas dalam bentuk yang tersetruktur dan mengandung makna. Diharapkan dengan penggunaan pesan yang terstruktur penonton dapat menerima pesan dengan baik, dan membawa penonton kedalam sudut pandang produsen sebagai pembuat iklan. Pesan iklan dapat mempengaruhi persepsi penonton mengenai sebuah informasi, kemudian penonton akan berfikir tentang informasi yang disampaikan. Pengemasan pesan dalam bentuk yang terstruktur disebut dengan framing. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen bertujuan untuk mengetahui pengaruh framing effects terhadap efektivitas iklan. Meotde ekperimen yang digunakan Randomzed Two-groups Desain, Posttest Only. Responden penelitian ini berjumlah 180 orang. Teknik analisis data dalam menguji hipotesis dilakukan dengan menggunakan One Way Anova untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh framing effects terhadap efektivitas iklan. Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan perlakuan berupa iklan dengan framing effects. Hasilnya menunjukkan bahwa pada attribute framing diperoleh signifikansi 0,001 (sig 0,05), pada goal framing diperoleh signifikansi 0,286 (sig0,05), serta pada risky choice framing diperoleh signifikansi 0,04 (sig0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa adanya pengaruh positif attribute framing terhdap efektivitas iklan, tidak adanya pengaruh positif goal framing terhadap efektivitas iklan dan adanya pengaruh postif risky choice framing terhadap efektivitas iklan.Abstract. A good ad one of which has the quality of the message to be delivered. The message must be packaged in the form and meaning. It is expected to use a structured message viewers can receive messages well, and bring the audience into the standpoint of a manufacturer as ad builder. Advertising message can influence the audience's perception about an update, then the audience will be thinking about the information submitted. Packaging in the form of structured messages is called framing. This study was an experimental study aimed to determine the effect of framing effects on the effectiveness of advertising. Meotde experiment used Randomzed Two-groups design, Posttest Only. The respondents numbered 180 people. Data analysis techniques in testing the hypothesis by using One Way ANOVA to determine how far the influence of framing effects on the effectiveness of advertising. The research was done by providing treatment in the form of advertising by framing effects. The results show that the framing attribute significance acquired 0,001 (sig 0.05), the goal framing gained significance 0.286 (sig 0.05), as well as the risky choice framing gained significance 0.04 (sig 0.05). These results suggest that the positive influence attribute framing terhdap advertising effectiveness, the absence of a positive influence on the effectiveness of goal framing advertisements and their positive influence risky choice framing of the effectiveness of advertising.
Pelatihan Strategi Koping pada Narapidana Remaja di Lembaga Pemasyarakatan
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i1.22275

Abstract

Remaja yang terlibat dalam kasus hukum mengalami berbagai tekanan yang dapat menyebabkan kondisi stres. Hasil studi pendahuluan pada narapidana remaja menunjukkan bahwa terdapat empat remaja yang mengalami stres pada tingkat sedang dan berat. Gejala stres ditunjukkan dari kondisi emosi yang mudah marah, tersinggung, gelisah dan kesulitan tidur nyenyak. Kondisi stres belum dapat dihadapi dengan strategi koping yang efektif sehingga ditampilkan dengan cara-cara yang kurang adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan strategi koping dalam menurunkan stres yang dialami oleh narapidana remaja. Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-postest design dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala stres dari DASS (Depression anxiety stress scale) dengan analisis wilcoxon signed-ranks test. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah empat orang remaja berusia 15-18 tahun. Pemberian lembar kerja dan wawancara individual juga dilakukan guna memperdalam data yang diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan yang signifikan dari tingkat stres narapidana remaja antara sebelum dan setelah pemberian pelatihan strategi koping (z=-0,730; p=0,465, p0,05), namun berdasarkan lembar kerja dan wawancara individual diketahui bahwa keempat subjek dapat melakukan penilaian ulang (reappraisal) secara positif terhadap situasi yang dialami dan dapat menentukan strategi koping yang efektif untuk diri masing-masing.Adolescent involved in legal cases experience various pressures that can lead to stressful conditions. Preliminary study results in adolescent inmates have shown that there are four adolescents experience stress at moderate and severe levels. Stress symptoms are shown from an emotional condition that is irritable, restless and difficulties sleep well. Stress conditions can not be solved with effective coping strategies that are displayed in less adaptive ways. The research aims to determine the influence of coping strategy training in reducing the stress experienced by adolescent inmate in prison. This research uses one group pretest-postest design with purposive sampling technique. Data collection is done using the stress scale of the DASS (Depression Anxiety Stress Scale) and analysis with wilcoxon signed-ranks test through the help of data processing software. The provision of individual worksheets and interviews is also done to deepen the data obtained. The results of this study showed that there were no significant changes in the stress levels of adolescent inmate between before and after providing coping strategy training (z=-0,730; p = 0,465, p 0.05), but based on worksheets and individual interviews it is known that the four subjects can be positively reappraisal to the situation experienced and can determine an effective coping strategy for each of themselves. 
COPING STRESS PADA REMAJA PUTRI YANG MENIKAH DI USIA MUDA
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 3 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i3.13343

Abstract

Abstrak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang coping stress pada remaja putri yang menikah di usia muda yang di dalamnya meliputi perilaku coping stress yang ditampilkan oleh remaja putri yang menikah di usia muda dan jenis coping stress yang digunakan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan observasi. Subjek dalam penelitian ini berjumlah tiga orang dengan ciri-ciri remaja putri yang sudah menikah, berusia I5 sampai dengan 20 tahun, tinggal di Desa Malausma, Kecamatan Malausma, Kota Majalengka. Sebagai informan penelitian yang dapat menjadi data pembanding data utama, peneliti menggunakan satu orang informan yang memiliki hubungan dekat dengan ketiga subjek. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal, antara lain: (1) Perilaku coping yang ditunjukkan ketika sedang mengalami permasalahan adalah berusaha mencari jalan keluar dengan lebih memilih untuk diam ketika permasalahan sedang terjadi. Remaja putri yang menikah di usia muda lebih memilih untuk menyelesaikan permasalahan sendiri dari pada meminta saran kepada orang lain. Perilaku coping stress yang ditampilkan remaja putri yang menikah di usia muda dalam kehidupan pernikahan adalah berdoa untuk menenangkan diri agar masalah yang dihadapi dapat cepat selesai. Subjek sering sholat dan berdoa. Subjek mencoba bicara baik-baik dengan suaminya agar suami bisa mengerti. Selain itu, juga selalu menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan, seperti pengajian, kumpul-kumpul di balai desa pada saat sedang mengalami masalah. (2) Jenis coping stress yang ditunjukkan remaja putri yang menikah di usia muda, sebagai berikut: jenis emotional focus coping antara lain pelepasan perilaku dan mental, pelarian dari masalah, memfokuskan diri. Sedangkan jenis problem focused coping ditunjukkan dengan keaktifan diri, dan mencari dukungan instrumental.  
Gambaran Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak (Paternal Involvement) di Jabodetabek
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i1.20115

Abstract

Abstrak. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak (paternal involvement) merupakan salah satu faktor penting dalam proses tumbuh kembang anak. Hasil penelitian oleh para ahli psikologi menunjukkan bahwa anak-anak yang ayahnya terlibat secara positif dalam pengasuhan, akan terlihat lebih cerdas secara moral dan emosi pada saat mereka tumbuh dewasa. Dikatakan oleh Sundari (2013) dalam sebuah prosiding seminar National Parenting di Indonesia, bahwa banyak anak-anak di Indonesia yang mengalami fatherlessatau tumbuh tanpa pendampingan seorang ayah. Lebih lanjut peneliti melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak di Jabodetabek. Selain itu untuk mengetahui perbedaan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dilihat dari latar belakang pendidikan ayah dan usia anak (2-4 tahun dan 5-12 tahun). Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan responden penelitian sebanyak 229. Kriteria responden adalah ayah yang memiliki anak usia 2-12 tahun, tinggal dan menetap di Jabodetabek. Variabel pengukuran paternal involvement terdiri dari 6 dimensi hasil rekategorisasi peneliti terhadap beberapa dimensi teori paternal involvement. Ke 6 dimensi ini disebut dengan istilah dimensi Paternal CRITSM (communication, responsibility, interaction, teaching, social competence dan monitoring). Hasil penelitian dengan menggunakan uji statsitik ANOVA menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan ayah dalam 6 dimensi pengasuhan anak diatas cenderung rendah, yaitu dari skala 1-5 diperoleh rata-rata 3,4. Sementara tingkat keterlibatan ayah dalam  pengasuhan berdasarkan latar belakang pendidikan menunjukkan nilai signifikansi lebih dari 0,05 artinya tidak terdapat perbedaan. Hasil analisis tingkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak pada ayah yang memiliki anak usia 2-4 tahun signifikan lebih tinggi yaitu (M=3.4, SD=0,350) dibandingkan dengan ayah yang memiliki anak usia 5-12 tahun yaitu (M=3.3, SD=0,206). Kata Kunci:  anak, ayah, keterlibatan pengasuhan Abstract. Paternal involvement is one of the important factors in the child development. Based on the results of research by psychologists showed that children whose fathers are positively involved in parenting, the children will  have moral and emotional intelligence.  Sundari (2013) said in a National Parenting seminar proceeding in Indonesia, that many children in Indonesia are fatherless or grow up without  father involvement. The goal of this study is to understand and describe paternal involvement. Also to examine the difference of paternal involvement from the role of father's education background and difference of paternal  involvement for father who have children aged 2-4 years old and fathers who have children aged 5-12 years old. The method used in this research is quantitative approach with sample size of 229 respondents. The criterion of respondents are father, having children age 2-12 years old and lives in Jabodetabek. The measurement paternal involvement by questionnaire that is contructed  based on some of paternal involvement’s theories and  the variable measurement is called CRITISM that consists of 6 dimensions namely communication, responsibility, interaction, teaching, social competence and monitoring. Data analysis is conducted using ANOVA showed that the level of paternal involvement is low tendency, ie from a scale of 1-5 having an average mean of 3,4. There is no difference of paternal involvement beetween low and high education father’s background, this is indicated by the number of significance ≥ 0.05. Meanwhile the results of the analysis of the level of paternal involvement for fathers who have children aged 2-4 years old are higher (M=3.4, SD=0,350)  compared to fathers who have children aged 5-12 years old (M=3.3, SD=0,206). Keyword : children, father, paternal involvement
PERBEDAAN KEMANDIRIAN REMAJA YANG TINGGAL DI PONDOK PESANTREN DENGAN YANG TINGGAL DI RUMAH BERSAMA ORANG TUA (Studi Komparatif pada siswa kelas 9 MTs Al Asror Semarang)
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i1.9575

Abstract

Abstrak. Latar belakang penelitian ini adalah kemandirin yang merupakan aspek penting dalam perkembangan pada diri remaja dimana mereka bisa bertindak sesuai dengan keinginannya tetapi tetap bertanggung jawab terhadap tindakannya tersebut. Kemandirian tentu diharapkan oleh orang tua terdapat pada diri anaknya. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian remaja. Lingkungan pendidikan dapat meliputi pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu adakah perbedaan kemandirian pada remaja yang tinggal di pondok pesantren dan remaja yang tinggal di rumah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemandirian remaja yang tinggal di pondok pesantren dan remaja yang tinggal di rumah. Subjek pada penelitian ini berjumlah 80 subjek. 40 subjek yang tinggal di pondok pesantren dan 40 subjek yang tinggal di rumah. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling. Data penelitian diambil menggunakan skala kemandirian berdasarkan aspek kemandirian Steinberg. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik statistik independent sample t-test. Skala kemandirian terdiri dari 45 item dengan koefisien alpha cronbach reliabilitasnya 0,663. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan tidak ada perbedaan kemandirian antara remaja yang tinggal di pondok pesantren dan remaja yang tinggal di rumah. Kedua kelompok remaja tersebut sama-sama pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka baik orang tua ataupun pengasuh pondok ditingatkan lagi lingkungan yang baik untuk remaja mengembangkan kemandiriannya agar kemandirian yang dimiliki lebih baik lagi. Hasil penelitian ini memiliki keterbatasan antara lain adalah peneliti tidak memasukkan variabel-variabel utama yang dapat mempengaruhi kemandirian pada remaja.  Abstract. Background of this research was that autonomy is an important aspect in the development in adolescents where they can act in accordance with his wishes but still be held responsible for his actions. Autonomy certainly expected by parents there on his son. Education is one of the factors that could affect the autonomy of adolescents. Environmental education can include family education, school, and community. Therefore is there any difference in autonomy on teens who live in boarding schools and adolescents who live in the House. This research is a comparative quantitative research aims to find out the difference autonomy an adolescents living in boarding schools and adolescents who live in the house. The subject of this research totalled 80 subject. 40 subjects living in boarding schools and 40 subject who lives at home. Sampling in this study using simple random sampling. Research data taken using scale autonomy based on aspect autonomy of Steinberg. Methods of data analysis statistical techniques used are independent sample t-test with the help of program data processing. Scale autonomy consists of 33 items with alpha cronbach coefficient of reliability 0,869. Based on the results of the study showed no difference between the autonomy of adolescents living in boarding schools and adolescents who live in the house. Two groups of adolescents that are equally on the high category. Based on the results of this research, then either the parents or caretakers cottage increases the longer a good environment for teens to develop his autonomy so that autonomy owned better again. The results of these studies have limitations, among others, are the researchers did not include major variables that can affect in adolescents autonomy.
Kontrak Psikologis, Keterlibatan Kerja, dan Intensi Turnover Generasi Milenial
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.24461

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kontrak psikologis dan keterlibatan kerja terhadap intensi turnover pada tenaga kesehatan generasi milenial. Penelitian ini menggunakan dua dimensi kontrak psikologis yaitu dimensi transaksional dan relasional. Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat peran kontrak psikologis dan keterlibatan kerja terhadap intensi turnover pada tenaga kesehatan generasi milenial di rumah sakit. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 118 tenaga kesehatan generasi milenial. Alat ukur yang digunakan yaitu Skala Intensi Turnover, Psychological Contract Inventory, dan Skala Keterlibatan Kerja. Analisis regresi ganda dilakukan untuk mengolah data yang diperoleh. Hasil uji regresi berganda menunjukkan nilai F=25.273 pada taraf signifikansi (p0.01). Hal ini menunjukkan hipotesis penelitian ini diterima, bahwa terdapat peran yang signifikan dari kontrak psikologis dan keterlibatan kerja terhadap intensi turnover. Kontrak psikologis dan keterlibatan kerja memiliki nilai sumbangan efektif dalam memprediksi intensi turnover sebesar 39,9%. Kontrak psikologis dan keterlibatan kerja dapat dijadikan sebagai usaha bagi perusahaan untuk mengurangi intensi turnover pada karyawan generasi milenial. Perusahaan dapat mengurangi intensitas turnover tenaga kerja generasi milenial dengan lebih memperhatikan pemenuhan kontrak psikologis karyawan baik transaksional maupun relasional.This study aims to examine the role of psychological contracts and job involvement in turnover intention in millennial generation health workers in hospitals. This study uses two psychological contracts dimensions, namely the transactional and relational dimensions. The hypothesis in this study is the role of psychological contracts and job involvement in turnover intention in millennial generation health workers in hospitals. Participants in this study totalled 118 millennial generation health workers. Measuring instruments used are Turnover Intention Scale, Psychological Contract Inventory and Work Engagement Scale. Multiple regression analysis was performed to process the data obtained. The results of multiple regression tests showed the value of F=25,273 at the significance level (p0.01). This shows that the research hypothesis is accepted, there is a significant role of psychological contracts and work involvement towards turnover intention in millennial generation health workers. Psychological contracts and work involvement have an effective contribution value in predicting the turnover intention of 39.9%. Psychological contracts and work involvement can be used as an effort for companies to reduce turnover intentions on millennial generation employees. Companies can reduce the turnover intensity of millennial generation by paying more attention to fulfilling employees’ psychological contracts, both transactional and relational.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN REMEDIAL DENGAN MEDIA PUZZLE ANGKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL ANGKA 1–5 PADA ANAK TUNAGRAHITA
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i1.17388

Abstract

Asbtrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang telah ditemukan bahwasiswa TKLB C yang belum mampu mencapai standar kompetensi dasar yangmengakibatkan anak hanya bisa menghafal angka 1 sampai 5 tetapi tidak dapatmembedakan antara angka 1,2,3,4, dan 5, selain itu anak juga belum mampumengurutkan angka, menghubungkan angka 1 sampai 5 dengan jumlahbendanya dan juga penerapan pembelajaran guru belum efektif bagi siswatunagrahita. Pendekatan pembelajaran remedial bertujuan untuk membantuanak berkebutuhan khusus dalam upaya mencapai kompetensi yang ditentukanmenggunakan suatu media belajar dengan lebih menekankan pada hambatanatau kekurangan yang ada pada anak. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui apakah pemberian pembelajaran remedial menggunakan mediapuzzle angka dapat meningkatkan kemampuan mengenal angka 1 – 5 padaanak tunagrahita Di TKLB di SLB Negeri Semarang. Penelitian ini merupakanpenelitian eksperimen kelompok tunggal dengan desain time series. Sampelpenelitian ini berjumlah 3 siswa yang diambil dari keseluruhan populasi yangada berdasarkan karakteristik yang telah ditentukan. Perlakuan yang diberikandalam penelitian ini berupa pengenalan konsep angka 1 sampai 5 denganpembelajaran remedial menggunakan media puzzle angka. Penelitian dilakukansebanyak enam kali yang terdiri dari hari pertama dilakuakan pretest, dan limahari selanjutnya dilakukan perlakuan dan posttest. Soal pretest dan posttestberupa lembar kerja siswa berupa kartu gambar berisi angka dan jumlah yangbiasa disebut kartu gambar loto atau flashcard. Hasil dari penelitianmenunjukkan adanya perbedaan nilai pada saat pretest dan posttest yangmengalami peningkatan yaitu sebelum pemberian perlakuan diperoleh nilai rata– rata yang rendah yaitu 1 dan mendapat nilai setelah perlakuan yaitu 3 yangartinya anak sudah mampu mandiri dalam mengenal angka. akan tetapi dilihatdari hasil statistik nilai rata – rata dari kelima indikator ada 1 indikator yangmasih perlu diperhatikan oleh guru. Hal ini dapat disimpulkan jika mediapuzzle angka terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan mengenalangka. Abstract. This research‟s background was TKLB C students could not reachdifferenciated number 1, 2, 3, 4, nor 5. Furthermore, the students could notarranging nor matching number 1 until 5. Otherwise, learning method whichused was not so effective to applied on mentally disabled students. Mentallydisabled students was a student had been experienced less intelligencedevelopment, so they need more helps to optimized their daily activity.Remedial approaches in this study was aimed for helping mentally disabledstudents to reach standard competence, which using a learning media thatemphasized on disability of the students. The purpose of this study was toknew wheter using number puzzle media based on remedial approach could73increase the ability of recognizing number 1-5 of mentally disabled studentson TKLB in SLB Negeri Semarang. This research was single groupexperimental research with time series design. The subjects of this study were3 students which choosen from the populations based on characeristics thatwas determined. The treatment of this study was recognition concept torecognized number 1-5 with remedial learning used number puzzle media.The treatment was given 5 times with pre-test was given before treatment.Post-test was given after the treatment everyday.The result of this studyshowed that there were a difference score from pre-test to post-test. The scoreincreased from average score 1 on pre-test, and became 3 on post-test. Itmeans that the students capable to recognized number independently.However, based on statistical result from all average score of the fifthindicators, there is one indicator that need more attention from teachers. Itcould be conclude that number puzzle media effectively proved can increasethe ability of the students to recognized numbers.
HUBUNGAN SIBLING RIVALRY DENGAN REGULASI EMOSI PADA MASA KANAK AKHIR
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i2.8624

Abstract

Abstrak. Regulasi emosi adalah proses pengendalian emosi yang dilakukan secra sadar atau tidak sadar yang bertujuan agar ekspresi emosi yang ditunjukan sesuai dengan lingkungan disekitar. Regulasi emosi pada masa kanak akhir memberikan kontribusi bagi perkembangan sosial dan emosional anak. Maraknya kekerasan yang dilakukan anak tidak lain karena kemampuan regulasi emosi anak yang rendah. Rendahnya kemampuan regulasi pada masa kanak akhir diduga disebabkan oleh  sibling rivalry yang dialami oleh anak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubugan antara sibling rivalry dengan regulasi emosi pada masa kanak akhir. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian ini dilaksanakan di SD N 1 Langgar, SD N 2 Langgar, dan SD N 2 Kedarpan. Sampel penelitian berjumlah 150 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Data penelitian diambil menggunakan skala sibling rivalry yang disusun berdasarkan teori dari Shaffer terdiri dari 29 aitem dan skala regulasi emosi yang disusun berdasarkan teori Gross terdiri dari 43 aitem. Skala sibling rivalry memiliki koefisian validitas antara 0,250 hingga 0,532 dan koefisien reliabilitas sebesar 0, 682. Skala regulasi emosi mempunyai koefisien validitas antara 0,206 hingga 0,478 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,728.  Metode analisis data yang digunakan adalah korelasi Pearson yang dikerjakan dengan bantuan software statistik. Penelitian ini menghasilkan koefisien r = -0,169 dengan p =  0,038 sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan yang signifikan antara sibling rivalry dengan regulasi emosi diterima. Koefisien korelasi menunjukan tanda negatif sehingga arah korelasi keduanya negaitif. Artinya semakinn tinggi sibling rivalry maka semakin rendah regulasi emosi. Hasil analisis dan pengolahan data menunjukan bahwa sibling rivalry pada responden penelitian tergolong pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 59,34% berada pada kategori tinggi, 27,33% pada kategori sedang, 8% berada pada kategori sangat tinggi, dan 5,33% berada pada kategori rendah. Sedangkan tidak ada responden yang berada pada kategori sangat rendah. Pada gambaran umum regulasi emosi responden berada pada kategori sedang dengan persentase sebesar 51,33%, 38%pada kategori tinggi,dan 10,67% berada pada kategori sangat tinggi, sedangkan tidak ada responden yang berada pada kategori rendah ataupun sangat rendah.Abstract.  Emotion regulation is the process of emotional control is done consciously or unconsciously aimed at keeping the expression of emotion is shown in accordance with the surrounding environment. Emotion regulation in childhood contribute to the social and emotional development of children. The rise of violence committed no other children because of the ability of emotion regulation of children is low. Low ability of regulation at the end of childhood thought to be caused by sibling rivalry experienced by children. Therefore, this study aims to determine the ties between sibling rivalry with emotion regulation in childhood. This research is a quantitative correlation. This study was conducted in SD N 1  Langgar, SD N 2 Langgar, and SD N 2 Kedarpan. These samples included 150 people. The sampling technique used was purposive sampling. The research data were taken using a scale sibling rivalry that is based on the theory of Shaffer consisted of 29 item and emotion regulation scale that is based on the theory of Gross consisted of 43 item. Scale sibling rivalry has validity coefficients between 0.250 to 0.532 and the reliability coefficient of 0, 682. emotion regulation scale has a validity coefficient between 0.206 to 0.478 and the reliability coefficient of 0.728. Data analysis method used is the Pearson correlation is done with the help of statistical software. This research resulted in the coefficient r = -0.169, p = 0.038 so the hypothesis that there is a significant relationship between sibling rivalry with emotion regulation is accepted. The correlation coefficient shows a negative sign so that the direction of the correlation of both negaitif. That is high  sibling rivalry, the lower the regulation of emotion. Results of the analysis and processing of the data showed that sibling rivalry on survey respondents classified in the high category with a percentage of  59.34% in the high category, 27.33% in the moderate category, 8% are at very high category, and 5.33% were the low category. While no respondents who are at very low category. At a general overview of the respondents emotion regulation in middle category with a percentage of 51.33%, 38% in the high category, and 10.67% are at very high category, while no respondents who are at low or very low category.
Ketangguhan Mental Atlet Basket SMA yang Mengikuti Detection Basketball League
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i3.18118

Abstract

Permainan basket membutuhkan keterampilan, fokus, dan kerjasama yang baik antar pemain. Untuk mendapatkannya dibutuhkan ketangguhan mental yang tinggi oleh setiap atlet. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran ketangguhan mental atlet basket yang berkompetisi dalam pertandingan Detection Basketball League (DBL). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 90 atlet basket dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran ketangguhan mental dilakukan dengan menggunakan Mental Toughness Quisionaire (MTQ). Analisa data menggunakan one sample t-test. Hasil menunjukkan preferensi ketangguhan mental adalah komponen motivation (M = 19.48). Selain itu, perempuan (M = 80.33)  memiliki ketangguhan mental lebih tinggi daripada laki-laki (M = 79.06). Terakhir, kelas X (M = 80.36) memiliki ketangguhan mental paling tinggi dibandingkan dengan kelas XI (M = 79.00) dan XII (M = 78.25).Basketball games require skill, focus, and good cooperation between players. To get it, it requires high mental toughness by every athletes. The aim of this study was to describe of the mental toughness of basketball athletes who competed in the DBL match. The study used a descriptive quantitative approach. The subjects in this study were 90 basketball athletes using purposive sampling technique. Measurements of mental toughness were carried out using Mental Toughness Quisionaire (MTQ). Data analysis used one sample t-test. The result showed that preference of mental toughness was motivation component (M = 19.48). In addition, women (M = 80.33) had higher mental toughness than men (M = 79.06). Finally, class X (M = 80.36) has the highest mental toughness compared to class XI (M = 79.00) and XII (M = 78.25).
EFEKTIVITAS PELATIHAN PUBLIC SPEAKING TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG KOMUNIKASI PADA FASILITATOR EXPERIENCE LEARNING (OUTBOUND) PT HUCLE CONSULTING
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 2 (2012): Juli 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i2.13334

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk efektivitas pelatihan public speaking  terhadap peningkatan pengetahuan komunikasi publik pada fasilitator experience learning (outbound) PT Hucle Consulting. Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian kuasi eksperimen. Sampel dalam penelitian ini adalah fasilitator experience learning (outbound) yang berjumlah 9 orang. Metode pengumpulan datanya menggunakan tes pengetahuan dengan one group pretest posttest. Metode analisis data menggunakan teknik uji wilcoxon signed ranks test. Hasil dari penelitian ini adalah pelatihan public speaking yang telah dilakukan efektif untuk meningkatkan pengetahuan tentang komunikasi publik pada fasilitator experience learning (outbound) pada PT Hucle Consulting.Kata Kunci: pelatihan; pengetahuan public speaking Abstract. This study aims at the effectiveness of public speaking training to increase knowledge of public communication on the facilitator’s learning experience (outbound) PT Hucle Consulting. Research carried out this is quasi-experimental research. The sample in this study is the facilitator learning experience (outbound), amounting of 9 people. Methods of data collection using a knowledge test with one group pretest posttest. Methods of data analysis using the Wilcoxon signed ranks test engineering test. The results of this study is the training of public speaking has been done to increase knowledge of effective public communication on the facilitator’s learning experience (outbound) in PT Hucle Consulting.