cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
Fitur Non Konten dan Intensitas Konten Ukur pada Butir Skala Psikologi Wahyu Widhiarso; Safirah Hanifa
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 14, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v14i2.37616

Abstract

Selain mengukur suatu konten tertentu berdasarkan konstruk yang diukur, sebuah butir dalam skala psikologi memiliki berbagai macam atribut atau fitur yang tidak berkaitan dengan konten ukur (fitur non konten). Penelitian ini mengeksplorasi salah satu klasifikasi berdasarkan fitur non konten butir berupa ciri sifat dimanifestasikan (misalnya, aksi dan afeksi). Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kaitan antara fitur non konten tersebut dengan intensitas atau kedalaman ukur suatu butir pada skala psikologi. Penelitian ini menggunakan data dari Projek SAPA yang aktif melakukan penelitian terkait pengukuran kepribadian (N = 54.855). Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak didapatkan keterkaitan antara fitur non konten (aksi, kognisi, afeksi, preferensi) dengan intensitas pengukuran yang menunjukkan probabilitas persetujuan responden terhadap pernyataan di dalam butir. Simpulan ini didukung dari hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan perbandingan parameter lokasi butir melalui analisis butir berbasis pemodelan Rasch. Hasil pengujian statistika menunjukkan tidak terdapat perbedaan dalam hal parameter lokasi butir dengan fitur non konten butir. Instead of assessing a specific content based on the construct being measured, item of a psychological scale has various attributes or features that are not related to the measured content (non-content related features). This study explores one of the classifications based on non-item content features in the form of how traits are manifested (e.g., action and affection). This study finds the relationship between these features and the intensity or depth of measurement of item on a psychological scale. This study uses data from the SAPA Project which is actively conducting research related to personality measurement across countries (N = 54,855). Analysis results show that there is no relationship between four item non-content features (action, cognition, affection, preference) and the item intensity that indicates the probability of respondents' agreement with the statements of item. This conclusion is supported by the finding the analysis carried out using a comparison of item location parameters obtained from modern item analysis based on Rasch modeling. The results of statistical tests show that there is no difference in terms of item location parameters with non-item content features.
Gambaran Kesejahteraan Psikologis pada Akademisi Universitas: Sebuah Tinjauan dengan Pendekatan Salutogenesis Perma Ita Juwitaningrum; Diah Zaleha Wyandini
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 14, No 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v14i1.28105

Abstract

Berbagai studi terhadap akademisi selama ini lebih banyak berfokus pada pendekatan patogenesis seperti penanganan stres atau beban kerja. Sementara itu, studi melalui kerangka salutogenesis seperti well-being masih jarang dilakukan, padahal hal tersebut penting untuk penguatan ketahanan psikologis dan peningkatan batas toleransi stres. Maka dari itu, riset kali ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengkaji kualitas well-being pada dosen dengan menggunakan konstruk PERMA: positive emotions, engagement, relationship, meaning dan accomplishment. Dalam penelitian ini, The PERMA Profiler digunakan untuk mengukur kesejahteraan psikologis 159 dosen UPI (pria= 50,31%; perempuan= 39,62%; tidak teridentifikasi= 10,06%) yang dipilih secara aksidental dari delapan fakultas. Hasil uji deskriptif menggambarkan bahwa mayoritas akademisi di UPI memiliki kualitas well-being yang cukup adekuat. Selain itu, analisis korelasional dengan menggunakan pearson pada setiap dimensi menunjukkan bahwa semua pilar PERMA dan well-being memiliki korelasi kuat dengan nilai paling signifikan ada pada relationship (r = .873; p .01). Di sisi lain, kesepian pada dosen tidak ada hubungannya dengan well-being, namun berkaitan erat dengan emosi negatif (r = .630;  p .01). Dinamika well-being pada dosen serta implikasinya terhadap institusi akademik dibahas lebih lanjut.  There are plenty of studies on academicians that focus on pathogenic approaches, such as work stress treatment or workload burden. Meanwhile, only a few types of research implemented salutogenic framework like well-being, whereas this kind of approach is crucial to bolster the psychological strength and escalate the line of stress tolerance. Therefore, this study aims to dive in and examine the quality of an academician’s well-being in the university using five constructs called PERMA: positive emotions, engagement, relationship, meaning, and accomplishment. The PERMA Profile was used to measure psychological well-being of 159 lecturer in UPI (man= 50, 31%; woman= 39,62%; unidentified= 10,06%) that was chosen by accidental sampling from eight faculties. The descriptive analysis depicted that most academicians in UPI have adequate well-being. Besides, correlational analysis using Pearson on each dimension showed that all pillars of PERMA and well-being had a strong correlation with the most significant value was on "relationship" (r = .873; p .01). On the other hand, loneliness in academicians did not correlate with well-being, yet had a close relation with negative emotions (r= .630; p.01). The dynamics of an academician’s well-being and its implication toward the institution are discussed.  
Peran Stres yang Dialami Orang Tua dan Welas Diri terhadap Kepuasan Hidup Selama Pandemi Covid-19 Sandra Handayani Sutanto; Dicky Sugianto; Jessica Amelia Anna
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 14, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v14i2.38039

Abstract

Pandemi Covid-19 dan perubahan yang menyertainya mendatangkan dampak bagi semua orang, termasuk orang tua yang diharuskan beradaptasi dengan metode pembelajaran baru dan kebiasaan baru. Proses beradaptasi ini mendatangkan stres bagi orang tua, ditandai dengan keluhan yang cukup banyak, dan jika tidak ditangani dengan coping yang tepat akan mendatangkan burnout, dan menurunkan kepuasan hidup orang tua. Welas diri merupakan salah satu cara untuk menangani stres sehingga membuat kepuasan hidup tetap terjaga. Penelitian ini menggunakan metode korelasional yang bertujuan secara empiris melihat pengaruh stres yang dialami oleh orang tua dan welas diri yang dimiliki terhadap kepuasan hidup selama masa pandemi. Alat ukur Parenting Stress Scale, Skala Welas Diri dan Satisfaction with Life Scale yang telah diadaptasi digunakan dalam penelitian ini dengan subjek penelitian sebanyak 154 orang tua yang didapat dengan metode convenience sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan hipotesa alternatif diterima sehingga hasil penelitian  menunjukkan bahwa stres yang dialami oleh orang tua bersama-sama dengan welas diri memengaruhi kepuasan hidup sebesar 3.8%. Hasil dari penelitian ini dapat memberikan rekomendasi kepada orang tua bagaimana menangani stres serta menjaga kepuasan hidup selama pandemi. The Covid-19 pandemic and all the changes have an impact on everyone, including parents who are required to adapt to new learning methods and new habits. This adaptation process brings stress to parents, characterized by quite a lot of complaints, and if not handled with the right coping, it will cause burnout, and reduce parental life satisfaction. Self-compassion is a way to cope with stress to maintain life satisfaction. This study employs correlational design with the aim of empirically looking at the influence of stress experienced by parents and their self-compassion on life satisfaction during the pandemic. Parenting Stress Scale, Self-Compassion Scale and Satisfaction with Life Scale which have been adapted are used in this study with 154 parents as research subjects obtained by convenience sampling method. The results of the study, using multiple regression analysis with alternatif hypothesis received so it showed that the stress experienced by parents together with self-compassion affected life satisfaction 3.8%. Results suggest recommendation to parents on how to manage stress and improve life satisfaction within the pandemic.
Overexcitability Berdasar Keberbakatan Ismawati Kosasih; Fadhilah Suralaga; Sri Maslihah
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 14, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v14i2.29158

Abstract

Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda. Setiap pendidik harus memahami perbedaan karakteristik siswanya agar dapat menyiapakan metode pembelajaran yang sesuai sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal.  Penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah siswa berbakat memiliki karakteristik overexcitability dengan cara membandingkan skor overexcitability antara siswa berbakat dan siswa regular. Sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 173 siswa di salah satu SMAN di Tangerang Selatan yang merupakan siswa program akselerasi dan regular. Overexcitability diukur menggunakan Instrumen hasil adaptasi dari Overexcitability Questionnaire II (OEQ II). Analisis data yang digunakan adalah independent sample t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa H0 ditolak (Sig. 0.001, p 0.05)yang berarti siswa berbakat memiliki skor overexcitability yang lebih tinggi dari siswa regular. Namun, yang signifikan hanya psychomotor (Sig. 0.041, p 0.05), intellectual (Sig. 0.009, p 0.05), dan imaginational overexcitability (Sig. 0.000, p 0.05).Every child has different characteristics. Each educator must understand the different characteristics of his students in order to be able to prepare appropriate learning methods so that learning objectives can be achieved optimally. This research was conducted to test whether gifted students have overexcitability characteristics by comparing overexcitability scores between gifted students and regular students. Sample of this study includes 173 students of SMAN in Tangerang Selatan that were in acceleration and regular program. Overexcitability measured by an adaptation version of the Overexcitability Questionnaire II (OEQ II). Data analysis used is independent sample t-test. The results showed that H0 was rejected (Sig. 0.001, p 0.05) which means that gifted students have a higher overexcitability score than regular students. However, the only significant ones were psychomotor (Sig. 0.041, p 0.05), intellectual (Sig. 0.009, p 0.05), and imaginational overexcitability (Sig. 0.000, p 0.05).
Peranan Keterlibatan Ayah terhadap Self-Esteem pada Pria Emerging Adulthood Clara Dea Kristianto; Sandra Handayani Sutanto
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 14, No 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v14i1.30200

Abstract

Tahap perkembangan emerging adulthood merupakan masa seorang bertransisi dari remaja ke dewasa. Pada tahap perkembangan ini, eksplorasi identitas kembali dilakukan dalam tiga aspek spesifik yaitu cinta, pekerjaan, dan pandangan akan hidup. Ekplorasi identitas ini perlu dilakukan dengan menjaga rasa optimisme dan harapan para emerging adults bagi masa depan karena eksplorasi yang menyimpang seperti perilaku-perilaku beresiko dapat terjadi juga. Rasa optimisme dan harapan sendiri berkorelasi secara positif dengan self-esteem. Sebaliknya, perilaku-perilaku beresiko berkorelasi secara negatif dengan self-esteem. Salah satu faktor self-esteem sendiri menurut literatur adalah dukungan dan keterlibatan orang tua. Menurut salah satu penelitian, seorang emerging adult pria akan lebih melihat dirinya dari bagaimana hubungannya dengan ayahnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh keterlibatan ayah terhadap self-esteem pada pria di tahap perkembangan emerging adulthood. Penelitian ini dilakukan pada 104 partisipan berkarakteristik pria berusia 18-25 tahun yang masih memiliki ayah kandung. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan alat ukur Skala Keterlibatan Ayah (SKA) dan Rosenberg’s Self-Esteem Scale (RSES). Uji hipotesis dilakukan dengan melakukan uji regresi linear sederhana terhadap kedua variabel. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan di antara kedua variabel (R2=.049, b= .051, p= .02; p.05). Maka, dapat disimpulkan bahwa keterlibatan ayah memiliki pengaruh terhadap self-esteem pria di tahap perkembangan emerging adulthood. Emerging adulthood is a stage where an individual is transitioning from adolescence to adulthood. On this stage of development, the exploration if identity is again carried out in three specific aspects that are love, work, and worldview. The identity explorations need to be done by maintaining a sense of optimism and hope of emerging adult’s future because, deviant exploration such as risk behaviors can also occur. Sense of optimism and hope correlates positively with self-esteem, on the contrary, risk behaviors correlate negatively with self-esteem. One of the factors of self-esteem itself, according to the literature is the support and the involvement of parents. According to one study, an emerging adult male will see himself more on how he relates with his father. Therefore, this study aims to look at how father involvement can influence self-esteem on men in emerging adulthood stage. This research was conducted to 104 participants characterized by men aged 18-25, who still have biological father. The design of this research is quantitative with Skala Keterlibatan Ayah (SKA) and Rosenberg’s Self-Esteem Scale (RSES) as the survey instruments. Hypothesis testing is done by performing a simple linear regression test on the two variables. The results of the hypothesis test showed that there was a significant effect between the two variables (R2=.049, b= .051, p= .02; p.05). Thus, it can be concluded that father involvement has an influence on male self-esteem in the developmental stage of emerging adulthood.
Perilaku Phone Snubbing (Phubbing) pada Generasi X, Y, dan Z Miftahun Najah; Amaliah Fadilah Fadilah; Ivany Rachmi; Iskandar Iskandar
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 14, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v14i2.38883

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi selain memberikan dampak positif juga mengarahkan pada konsekuensi negatif, yaitu phubbing. Phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara dengan berfokus pada ponsel. Perbedaan generasi digital dapat mengarahkan pada perbedaan tingkat perilaku phubbing. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan perilaku phubbing pada generasi X, Y dan Z. Penelitian ini melibatkan 250 partisipan. Proses perekrutan partisipan menggunakan teknik non-probability purposive sampling. Peneliti menggunakan adaptasi alat ukur generic scale of phubbing. Uji hipotesis dilakukan melalui teknik analisis data Anova One Way. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis diterima, yaitu terdapat perbedaan perilaku phubbing yang signifikan pada generasi X, Y, dan Z (F [2,247] = 4.70, p .05). Hasil ini mengindikasikan bahwa phubbing dipengaruhi oleh faktor usia atau generasi digital dan penggunaan ponsel pintar.  The development of information and communication technology does not only bring positive impact but also the negative one, namely phubbing. Phubbing is behavior of ignoring other person by focusing on phone. The digital generation difference can lead to different levels of phubbing. This research aims to identify the differences in phubbing behavior of generations X, Y and Z. 250 phone users from various digital generation participated in this research. We used non probability purposive sampling to recruit the participant. In this study, phone snubbing was measured with adapted version of generic scale of phubbing. We carried out One Way Anova data analysis technique to test the hypothesis. The result showed that the hypothesis was accepted, there were significant difference in phubbing behavior between generations X, Y and Z  (F [2,247] = 4.70, p 0.05). The results indicate that phubbing behavior is influenced by digital generation and smartphone use factor.
Edukasi Seks Berbasis Permainan Puzzle untuk Meningkatkan Keterampilan Perlindungan Diri Anak Laelatus Syifa Sari Agustina; Rafika Nur Kusumawati; Hardjono Hardjono
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 14, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v14i2.29575

Abstract

Banyaknya kasus Kekerasan Seksual pada Anak (KSA) terjadi karena anak tidak memahami kejahatan seksual. Selain itu, anak tidak menyadari bahwa mereka adalah golongan yang rawan menjadi korban KSA. Di sisi lain, masih banyak orang tua yang kurang terampil memberikan pendidikan seks yang tepat pada anak, bahkan masih menganggapnya sebagai hal yang tabu. Untuk itu, peneliti mencoba membuat metode pembelajaran edukasi seks kepada anak melalui permainan puzzle. Pemberian pengetahuan dan keterampilan melalui metode permainan adalah cara yang sangat tepat bagi anak. Hal ini juga mempermudah orang tua atau guru untuk mengajarkan anak tentang perlindungan diri dalam edukasi seks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh permainan puzzle edukasi seks pada keterampilan perlindungan diri anak. Penelitian ini melibatkan 17 anak usia 5-6 tahun. Metode dilakukan dengan eksperimen one group pretest-posttest. Analisis dalam penelitian ini menggunakan paired sample t-test dengan bantuan program pengolah data, untuk menguji apakah terdapat perbedaan keterampilan perlindungan diri antara sebelum dan sesudah intervensi dilakukan pada sebuah kelompok eksperimen. Eksperimen dilakukan menjadi dua sesi pertemuan yang didampingi oleh fasilitator. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap keterampilan perlindungan diri anak sebelum dan sesudah pemberian permainan puzzle seks edukasi dengan taraf signifikansi 0,000. Many cases of childhood sexual abuse occurred because children do not understand what sexual abuse is. Furthermore, children do not realize that they are a vulnerable group to become victims of childhood sexual abuse. On the other hand, there are still many parents who are not skilled enough to provide proper sex education to their children, and even consider it a taboo. For this reason, the researcher tried to make a method of learning sex education to make a method of learning sex education to children through puzzle games. Providing knowledge and skills to children through play methods is a very appropriate way for children about self-protection in sex education. The purpose of this study was to determine the effect of educational sex puzzle games on children’s self protection skills.  This study involved 17 children aged 5-6 years. The method was carried out by experimenting with one group pretest-posttest. The analysis in this study used a paired sample t-test with SPSS software, to test whether there were differences in self-protection skills between before and after the intervention was carried out in an experimental group. The experiment was carried out into two meeting sessions facilitated by the facilitator. The results showed that there were significant differences in children’s self-protection skills before and after giving the educational sex puzzle games with significant level at 0,000. 
“Navigating The Storm”: Peran Grit sebagai Penghambat Stres Mahasiswa di Masa Pandemi Sukma Adi Galuh Amawidyati; Binta Mu’tiya Rizki; Laila Listiyana Ulya
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 14, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v14i2.33719

Abstract

Pandemi COVID-19 memunculkan tantangan global terhadap kesejahteraan, baik secara fisik maupun psikologis. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak negatif yang muncul selama pandemi adalah permasalahan terkait kesehatan mental, salah satunya adalah stres. Salah satu faktor protektif yang dapat mempengaruhi stres seseorang adalah grit. Grit memiliki pengaruh kuat untuk menurunkan stres karena merupakan salah satu sumber psikologis yang dapat meningkatkan resiliensi dalam diri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran grit terhadap stress pada mahasiswa di masa pandemi. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah convenience sampling. Responden yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 258 mahasiswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Grit dan sub skala stres pada skala Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42). Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan analisis regresi sederhana menggunakan software statistik open source Jamovi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grit memiliki peran negatif terhadap stres (F=8,14; p0,05). Grit memberikan sumbangan efektif 6,7% terhadap stres.  The COVID-19 pandemic creates global challenges to well-being, both physically and psychologically. Various research results show that the negative impacts that emerged during the pandemic were problems related to mental health, one of which was stress. One of the protective factors that can affect a person's stress is grit. Grit has a strong influence on reducing stress because it is a psychological source that can increase self-resilience. This study aims to see the role of grit in stress on students during a pandemic. We use convenience sampling in this research. Respondents involved in this study amounted to 258 students. The instruments used in this study were the grit scale and the stress sub-scale on the Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42). Data analysis in this study was carried out by simple regression analysis using the open-source statistical software Jamovi. The results showed that grit negatively affected stress (F=8.14; p0.05). Grit's contribution to stress is 6.7%.
Kebersyukuran dan Subjective Well-Being pada Lanjut Usia Bersuku Jawa di Provinsi Jawa Tengah Utami, Nugraheni Putri; Dahriyanto, Luthfi Fathan; Liftiah, Liftiah
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.44155

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kebersyukuran dan subjective well-being (SWB) pada lansia bersuku Jawa di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan Indigenous Psychology dengan responden penelitian sebanyak 500 lansia bersuku Jawa yang diambil menggunakan teknik incidental sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan open-ended questionnaire yang terdiri dari 4 pertanyaan tentang kebersyukuran dan 3 pertanyaan tentang SWB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Tuhan pada masyarakat Jawa serta prinsip hidup nrimo, rukun, dsb., memberikan pengaruh cukup besar pada responden dalam memaknai kebersyukuran dan SWB. Bersyukur merupakan wujud terima kasih responden yang diwujudkan dalam bentuk beribadah kepada Tuhan. Adapun yang paling mendorong responden untuk bersyukur adalah kesehatan, terpenuhinya kebutuhan, serta kondisi keluarga dan hubungan sosial. Sedangkan teraihnya SWB disebabkan oleh terjalinnya relasi sosial yang baik, keberhasilan dalam hidup, terpenuhinya kebutuhan, serta kesehatan. Efek yang paling dirasakan saat responden telah meraih SWB adalah muncul perasaan yang  menyenangkan, serta lebih dekat dengan Tuhan. Dalam kaitannya dengan SWB, bersyukur menjadi salah satu faktor pendorong responden meraih SWB. Namun tidak hanya itu, bersyukur juga menjadi efek yang muncul saat responden telah meraih SWB. The purpose of this study to describe gratitude and subjective well-being (SWB) in elderly Javanese tribes in Central Java Province. This research approach to Indigenous Psychology study of 500 elderly respondents Java tribes taken using incidental sampling technique. Data was collected using open-ended questionnaire consisting of 4 questions about gartitude and 3 questions about SWB. The results showed that the concept of God in the Java community as well as the principle of life “nrimo”,peaceful, etc. , giving considerable influence on the respondents in meaning grtaitude and SWB. Thankful is a form of gratitude respondents are realized in the form of worship to God. The most encouraging respondents to give thanks is health, fulfillment of needs, as well as the condition of the family and social relationships. While the attainment of SWB due to the establishment of good social relations, success in life, fulfillment, and health. The effects are most felt when the respondent has won SWB is a pleasant feeling arises, as well as closer to God. In relation to SWB, gratitude to be one of the driving factors of the respondents earned SWB. But not only that, gratitude also be effects that arise when respondents have achieved SWB.
Peran Kekuatan Karakter terhadap Resiliensi Wartawan Putri, Mitha Adisty; Mawarpury, Marty; Dahlia, Dahlia; Iriamanda, Irin
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 15, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v15i1.29662

Abstract

Wartawan seringkali berhadapan dengan berbagai tantangan dan risiko ketika melakukan kegiatan jurnalistik sehingga memerlukan kemampuan resiliensi untuk dapat bertahan. Salah satu faktor untuk mengembangkan resiliensi adalah kekuatan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kekuatan karakter terhadap resiliensi wartawan di Aceh. Sejumlah 168 wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh menjadi subjek penelitian melalui metode total sampling. Penelitian menggunakan alat ukur Connor Davidson Resilience Scale (CD-RISC) 25 yang diadaptasi dari Ramadhan (2018) dan Virtues in Action (VIA) 72 Scale-short dari VIA Institut. Analisis data menggunakan simple linear regression analysis dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan karakter memiliki peran yang signifikan terhadap resiliensi wartawan (R2 = .367, β1 = .781, p = .000; ≤.05). Kekuatan karakter yang berperan signifikan terhadap resiliensi yaitu curiosity, social intelligence, dan hope. Selain itu, kekuatan karakter dominan yang dimiliki wartawan Aceh yaitu hope, forgiveness, dan appreciation of beauty and excellent. Journalists are often faced with various challenges and risks when carrying out journalistic activities, so they need resilience skills to survive. One factor in developing resilience is character strength. This study aims to determine the role of character strength in the resilience of journalists in Aceh. A total of 168 journalists who were members of the Indonesian Journalists Association (PWI) in Aceh were included in the study using the total sampling method. The study used the Connor Davidson Resilience Scale (CD-RISC) 25 adapted from Ramadhan (2018) and the Virtues in Action (VIA) 72 Scale-short from the VIA Institute as the measurement tools. The data were analyzed using simple linear regression analysis, and the results showed that character strength significantly contributed to the resilience of journalists (R2 = .367, β1 = .781, p = .000; ≤.05). The character strengths of curiosity, social intelligence, and hope were found to have a significant impact on the resilience of journalists. Moreover, the dominant character strengths among journalists in Aceh were found to be hope, forgiveness, and appreciation of beauty and excellence Journalists are often faced with various challenges and risks when carrying out journalistic activities, so they need resilience skills to survive. One factor in developing resilience is character strength. This study aims to determine the role of character strength in the resilience of journalists in Aceh. A total of 168 journalists who were members of the Indonesian Journalists Association (PWI) in Aceh were included in the study using the total sampling method. The study used the Connor Davidson Resilience Scale (CD-RISC) 25 adapted from Ramadhan (2018) and the Virtues in Action (VIA) 72 Scale-short from the VIA Institute as the measurement tools. The data were analyzed using simple linear regression analysis, and the results showed that character strength significantly contributed to the resilience of journalists (R2 = .367, β1 = .781, p = .000; ≤.05). The character strengths of curiosity, social intelligence, and hope were found to have a significant impact on the resilience of journalists. Moreover, the dominant character strengths among journalists in Aceh were found to be hope, forgiveness, and appreciation of beauty and excellence.