cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian
ISSN : 25493078     EISSN : 25493094     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian welcomes high-quality, original and well-written manuscripts on any of the following topics: 1. Geomorphology 2. Climatology 3. Biogeography 4. Soils Geography 5. Population Geography 6. Behavioral Geography 7. Economic Geography 8. Political Geography 9. Historical Geography 10. Geographic Information Systems 11. Cartography 12. Quantification Methods in Geography 13. Remote Sensing 14. Regional development and planning 15. Disaster
Arjuna Subject : -
Articles 555 Documents
KESIAPAN SMP NEGERI 41 SEMARANG UNTUK BERKOMITMEN DAN SISTEMATIK MENGINTERNALISASIKAN NILAI LINGKUNGAN DAN SIKAP KESIAPSIAGAAN BENCANA (SWALIBA) Wahyu Setyaningsih; Ariyani Indrayati
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v12i2.8006

Abstract

Swaliba is a kind of school that have commitment and use systematic method to internalize environmentalvalue and attitude of preparedness to the disaster in every school activity. There are three stages in swalib:pilot project, development, and devotion. Every stages show the school condition and readiness to implementSwaliba Program. The Semarang 41 State Yunior High School in this time preparing becoming Swalibaschool. In this stage, school need to prepare about phyisic and non physic aspect. Besed on that needed, wehaved to do research about physical aspect assesement at Semarang 41 State Yunior High School toimplement Swaliba and than rewrite that report as an article below.The research method is survey, thanobservation the condition and compared to the physical standart measurement as disaster-resistantstructure. The result of the studi is show that Semarang 41 State Yunior High School is ready to internalizethe environtment value. At the other side, physically, the buiding at Semarang 41 State Yunior High School issafe from thunder-strom or hurricane and also earthquake but do not yet ready to facing a fire hazard. At theother side, Semarang 41 State Yunior High School in non-physic aspect consider to be quite ready toimplement Swaliba Program gradually.
PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS DI KABUPATEN KULON PROGO Melania Swetika Rini
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.15455

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk; 1) Mengkaji kemampuan citra Landsat 8 OLI dan sistem informasi geografis dalam mengidentifikasi Lahan Kritis di Kabupaten Kulon Progo; 2) Melihat sebaran lahan kritis dan luasan lahan kritis  di Kabuapten Kulon Progo. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan data penginderaan jauh dan analisis sistem informasi geografi (SIG) untuk identifikasi lahan kritis di Kabupaten Kulon Progo. Penentuan parameter lahan kritis di daerah penelitian mengacu pada kriteria lahan kritis menurut Peraturan Menteri Kehutanan RI No. P.32/Menhut-II/2009. Parameter lahan kritis di daerah penelitian tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode scoring dengan pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang, dimana setiap parameter lahan kritis akan diberi harkat secara berjenjang dan diberi bobot secara berbeda sesuai dengan dominasinya dalam pembentukan lahan kritis. Landasan dari penentuan harkat dan bobot dalam metode scoring adalah berdasarkan pengetahuan ahli (expert knowledge).Hasil penelitian menunjukan bahwa; 1) Citra Landsat 8 OLI dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi penutupan lahan dan penggunaan lahan sebagai data untuk mengidentifikasi lahan kritis di Kabupaten Kulon Progo;2) Persebaran luasan dan persentase lahan kritis di Kabupaten Kulon Progo yang dibagi kedalam 3 kawasan yaitu Kawasan Lindung, Kawasan Budidaya dan Kawasan Lindung di Luar Kawasan Hutan, yang masing-masing persentasenya adalah sebagai berikut: 18380.94 ha, 18292.56ha, dan 20490.95 ha.
ARAHAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE: KASUS PESISIR KECAMATAN TELUK PAKEDAI, KABUPATEN KUBU RAYA, PROPINSI KALIMANTAN BARAT Su Ritohardoyo; Galuh Bayu Ardi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v8i2.1659

Abstract

Artikel ini menyajikan hasil penelitian aspek partisipasi masyarakat dalam usaha pengelolaan hutan mangrove,di Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Propinsi kalimantan Barat. Tujuanpenelitian secara umum untuk mengkaji persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan, pencegahankerusakan hutan mangrove, untuk mencari alternatif arahan pengelolaan hutan mangrove dari aspek sosial ekonomimasyarakat di sekitarnya. Pengumpulan data menggunakan metode survei, dengan melakukan wawancara terhadapsample responden sebanyak 90 kepala keluarga (KK), atau 25 persen dari seluruh jumlah populasi sebanyak 358KK. Penentuan sample responden menggunakan teknik acak sederhana. Namun karena data 6 responden tidakvalid maka analisis data primer hanya dilaksanakan dari 84 sampel responden. Dalam analisis data menggunakanteknik tabulasi frekuensi, tabulasi silang, dan uji kai kuadrat dilengkapi uji koefisien kontingensi, untuk mengetahuibeberapa pengaruh pengetahuan dan persepsi masyarakat, terhadap partisipasi mereka dalam pengelolaan hutanmangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk (48,8%) memiliki pengetahuan kategorisedang tentang manfaat, kerusakan akibat pemanfaatan, dan perlunya pencegahan kerusakan hutan mangrove.Pentingnya manfaat hutan mangrove, kerusakan akibat pemanfaatan, dan perlunya pencegahan kerusakan; secaraumum belum dipersepsikan secara positip oleh penduduk setempat. Sebagian besar penduduk (53,6%) memilikipersepsi pada kategori rendah. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan tentang hutan mangrove (c = 12,71;signifikansi 0,013). Meskipun demikian partisipasi mereka dalam pemanfaatan dan pencegahan kerusakan hutanmangrove; sebagian besar termasuk kategori sedang. Tingkat partisipasi penduduk dalam pengelolaan hutan mangrove,sangat dipengaruhi oleh status sosial ekonomi (c = 7,77; signifikansi 0,014), pengetahuan tentang hutan mangrove(c = 17,94; signifikansi 0,019), dan tingkat persepsi terhadap hutan mangrove (c = 14,57; signifikansi 0,007).Artinya, bahwa perbedaan-perbedaan tingkat status sosial ekonomi, pengetahuan tentang hutan mangrove, danpersepsi terhadap hutan mangrove; diikuti oleh perbedaan-perbedaan tingkat partisipasi penduduk dalam usahapelestarian hutan mangrove. Kebijakan pemerintah daerah untuk pengelolalaan hutan mangrove, ditanggapi secaranegatip oleh masyarakat setempat. Hal itu disebabkan oleh belum adanya usaha pengelolaan hutan mangrove secarajelas dan tegas. Berdasar temuan tersebut maka aspek-aspek sosial ekonomi masyarakat setempat, perlu digunakansebagai salah satu dasar pengelolaan hutan mangrove. Pemerintah daerah seyogyanya segera menyusun rencanapengelolaan hutan mangrove secara terpadu, dan segera disosialisasikan kepada masyarakat di sekitar hutan mangrove.
PENELUSURAN BANJIR SUNGAI LUK ULO AKIBAT PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN Muchamad Arif Budiyanto
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 14, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v14i1.9775

Abstract

River is the most important source of water and its benefits are needed by all levels of society, directly or indirectly. The river control is essentially an effort to obtain the greatest benefit and reduce the damage or loss to minimum. Highly dynamic socio-economic development in Indonesia impact on various components of the community environment, one of which is land use change from time to time. Research of landused changes made in Luk Ulo Watershed (DAS) in line with the development of Kebumen district.In this research of flood routing due to changes in landused are known of analysis flood discharge, one of which is the method “Soil Conservation Service Hydrograf Unit: (SCS-UH). In this research, conducted flood routing of Luk Ulo watershed due to changes in land use on 2009 and 2015. The method used in this research is the method SCS-UH by assessing changes in the value of Curve Number (CN).This research was conducted assessment parameters on Luk Ulo watershed land used by Watershed rainfall with a specific return period. From the analysis obtained changes in the area in the form of open field in the amount of 945.52 ha. From the discharge analysis there are no significant changes in flood peak, only the addition of 2.89 m3 / sec. These results indicate the method by only using SCS - curve number show unsignificant results. preferably coefficient of land cover assessment should be obtained from the measurement results on the field as verification on watershed conditions.
MODELAMBANG BATAS FISIK DALAM PERENCANAAN KAPASITAS AREAWISATA BERWAWASAN KONSERVASI DI KOMPLEKS CANDI GEDONG SONGO KABUPATEN SEMARANG Rahma Hayati
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 7, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v7i1.91

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Mengetahui nilai ambang batas untuk jumlah wisatawan di area wisata budaya candi sesuai daya dukung fisik. 2. Mengetahui nilai ambang batas untuk jumlah wisatawan di area wisata budaya candi sesuai daya dukung ekologis. 3. Mengetahui nilai ambang batas untuk jumlah wisatawan di area wisata kemah sesuai daya dukung fisik. 4. Mengetahui nilai ambang batas untuk jumlah wisatawan di areawisata kemah sesuai daya dukung ekologis. Nilai ambang batas dihitung dengan metode Douglas (1975) dalamFandeli (2001). Hasil perhitungan nilai ambang batas adalah sebagai berikut; 1. Nilai ambang batas untuk jumlahwisatawan di area wisata budaya sesuai daya dukung fisik adalah 514 orang / ha. 2. Nilai ambang batas untukjumlah wisatawan di area wisata budaya sesuai daya dukung ekologis adalah 9374 orang / ha. 3. Nilai ambang batasuntuk jumlah wisatawan di area wisata kemah sesuai daya dukung fisik adalah 3 orang / ha. 4. Nilai ambang batasuntuk jumlah wisatawan di area wisata kemah sesuai daya dukung ekologis adalah 40 orang / ha. Kata kunci: ambang batas, daya dukung fisik, daya dukung ekologi
PULAU BAHANG KOTA (URBAN HEAT ISLAND) DI KOTA YOGYAKARTA DAN DAERAH SEKITARNYA HASIL INTERPRETASI CITRA LANDSAT OLITIRS TAHUN 2013 Suksesi Wicahyani; Setia Budi Sasongko; Munifatul Izzati
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v11i2.8027

Abstract

Urban heat island is a phenomenon that urban have higher temperature thansurrounding area. Factors that influence the temperature consist of factors thatcan be controlled by humans, including the city design and structure, totalpopulation , and factors that can not be handled by human, like season, cloudcover, and atmospheric dynamics (Rizwan et al., 2008). The purposes of thestudy were to determine urban heat island in Yogyakarta and its surroundingarea, temperature range, and the role of land cover to the temperature. Urbanheat island type that identified in this study was surface urban heat island. Theheat island was obtained from interpretation of Landsat Imagery catched onSeptember 12, 2013. This image were used to determine the type of land coverbeside temperature. Heat island occurred at Yogyakarta and surrounding area.The heat focused in Yogyakarta City and extended to the north-east of the city.Range the temperature were 5 up to 10°C. Land cover associated with the lowtemperature was vegetation while the land cover associated with hightemperature was building area.
KUALITAS PERUMAHAN DI DESA MRANGGEN KECAMATAN SRUMBUNG KABUPATEN MAGELANG Ragil Kurnianingrum
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 13, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v13i1.7991

Abstract

The aims of this research are: 1) Understanding people’s social and economy condition in MranggenVillage, 2) Measuring housing quality in Mranggen Village, 3) Understanding the relationship people’ssocial and economy condition towards housig quality in Mranggen Village. Data technical analysis usedstatistic descriptive, scoring, independent difference experiment, and crosstab. The result of the research: 1)Kedungsari Orchard and Salamsari Orchard each of them has household’s education rate and household’sincome rate with good criteria. Most of household’s in Orchard Kedungsari graduated Junior High School(40%), while in Orchard Salamsari most of graduated Senior High School (45%). people’s house most ofthem stand on heritable land, 2) Most of household’s houses in Kedungsari Orchard and Salamsari Orchardinclude in good criteria, there are 70% in Orchard Kedungsari and 72,5% in Orchard Salamsari, 3) There isfound a significant relationship between household’s education rate toward household’s income, besidehousehold’s income also has a relationship toward housing quality, but the status of land ownership has norelationship toward housing quality.
KEBUTUHAN RUANG FASILITAS PELAYANAN MEMASUKI ERA BONUS DEMOGRAFI DI KECAMATAN PURBALINGGA sakinah fathrunnadi shalihati
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.13624

Abstract

Pemusatan kepadatan penduduk tertinggi di Kabupeten Purbalingga berada di Kecamatan Purbalingga dengan rata-rata 4.011 jiwa/km2 pada Tahun 2015, melonjak drastis dibandingkan pada satu tahun sebelumnya, dimana kepadatan penduduknya pada angka 3.968 jiwa/km2. Pertambahan penduduk yang mencapai 631 jiwa dalam kurun waktu satu tahun tersebut, tentunya mengakibatkan komposisi jumlah penduduk terus meningkat dan memberikan efek pada permasalahan akan kebutuhan dan ketersediaan fasilitas pelayanan, diantaranya seperti fasilitas pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi, umum dan pelayanan publik. Adapun jumlah penduduk saat ini dapat digunakan untuk memprediksi jumlah penduduk pada masa puncak bonus demografi, yang diperkirakan terjadi 15 tahun yang akan datang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan ruang fasilitas pelayanan 15 tahun yang akan datang di Kecamatan Purbalingga. Metode yang digunakan adalah analisis data primer dan sekunder, dengan teknik analisis diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan fasilitas pelayanan pendidikan memasuki 15 tahun yang akan datang masih membutuhkan kebutuhan ruang, sedangkan untuk fasilitas pelayanan kesehatan, ekonomi, umum dan pelayanan publik belum diperlukan urgensi penambahan kebutuhan ruang, dikarenakan ruang yang ada saat ini masih dapat mencukupi kebutuhan dimasa yang akan datang.
POTENSI LAPANGAN PANASBUMI GEDONGSONGO SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DAN PENUNJANG PEREKONOMIAN DAERAH sriyanto geo
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v7i2.271

Abstract

Abstrak Indonesia sebagai negara dengan penduduk mencapai 300 juta jiwa membutuhkan sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi pada masa mendatang. Berdasarkan kondisi tektoniknya Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber panasbumi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif terutama untuk pembangkit tenaga listrik dan sebagai sarana penunjang bagi pengembangan sektor industri, pertanian, perikanan dan potensi daerah yang lainnya. Kabupaten Semarang mempunyai potensi panasbumi yang cukup memadai untuk dikembangkan, seperti lapangan panasbumi Gedongsongo. Temperatur yang didapatkan dengan menggunakan metode gas geothermometer pada fumarole di Gedongsongo adalah sebesar 223oC sehingga daerah Panasbumi Gedongsongo mempunyai potensi untuk digunakan untuk tenaga listrik dan kegiatan perekonomian lainnya. pada masa mendatang potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Katakunci : panas bumi, Gedongsongo
PEMBELAJARAN GEOGRAFI PADA JAM TERAKHIR: PERMASALAHAN DAN SUATU SOLUSI YANG DITAWARKAN Tuti Supriyanti Asofi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v10i2.8061

Abstract

This classroom action research aims to improve student’s response to a givengeography lesson at last class lesson in XI IPS-at SMA Negeri 1 Karangreja theacademic year 2010/2011. The problems that the writer formulated to uncover theabove phenomenon is “what kind of an innovative teaching model which iscapable of increasing the student’s responses to the lesson studied Geography inclass?. The results showed a positive effect on the use of models in the teachinglearningprocess in teaching Geography. Student responses increasedsignificantly during treatment in the study. Application of PARAMEK teachingmodel in teaching and learning geography subjects make students more active,working with a good spirit and enjoy the process in the classroom.

Filter by Year

2007 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2023) Vol 20, No 1 (2023) Vol 19, No 2 (2022) Vol 19, No 1 (2022) Vol 18, No 2 (2021): In progress [July 2021] Vol 18, No 2 (2021) Vol 18, No 1 (2021) Vol 18, No 1 (2021): January Vol 17, No 2 (2020): July Vol 17, No 2 (2020) Vol 17, No 1 (2020): January Vol 17, No 1 (2020) Vol 16, No 2 (2019): July Vol 16, No 2 (2019) Vol 16, No 1 (2019) Vol 16, No 1 (2019): January Vol 15, No 2 (2018): July 2018 Vol 15, No 1 (2018): January 2018 Vol 15, No 2 (2018) Vol 15, No 1 (2018) Vol 14, No 2 (2017): July 2017 Vol 14, No 1 (2017): January 2017 Vol 14, No 1 (2017): January 2017 Vol 14, No 2 (2017) Vol 14, No 1 (2017) Vol 13, No 2 (2016): July 2016 Vol 13, No 2 (2016): July 2016 Vol 13, No 1 (2016): January 2016 Vol 13, No 1 (2016): January 2016 Vol 13, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2016) Vol 12, No 2 (2015): July 2015 Vol 12, No 2 (2015): July 2015 Vol 12, No 1 (2015): January 2015 Vol 12, No 1 (2015): January 2015 Vol 12, No 2 (2015) Vol 12, No 1 (2015) Vol 11, No 2 (2014): July 2014 Vol 11, No 2 (2014): July 2014 Vol 11, No 1 (2014): January 2014 Vol 11, No 1 (2014): January 2014 Vol 11, No 2 (2014) Vol 11, No 1 (2014) Vol 10, No 2 (2013): July 2013 Vol 10, No 2 (2013): July 2013 Vol 10, No 2 (2013) Vol 8, No 2 (2011): July 2011 Vol 8, No 2 (2011): July 2011 Vol 8, No 1 (2011): January 2011 Vol 8, No 1 (2011): January 2011 Vol 8, No 2 (2011) Vol 8, No 1 (2011) Vol 7, No 2 (2010): July 2010 Vol 7, No 2 (2010): July 2010 Vol 7, No 1 (2010): January 2010 Vol 7, No 1 (2010): January 2010 Vol 7, No 2 (2010) Vol 7, No 1 (2010) Vol 6, No 2 (2009): July 2009 Vol 6, No 2 (2009): July 2009 Vol 6, No 2 (2009) Vol 4, No 2 (2007): July 2007 Vol 4, No 2 (2007): July 2007 Vol 4, No 1 (2007): January 2007 Vol 4, No 1 (2007): January 2007 Vol 4, No 2 (2007) Vol 4, No 1 (2007) More Issue