cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
ISSN : -     EISSN : 25031899     DOI : https://doi.org/10.15294/jtsp
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) is a scientific journal which biannualy published in April and October. We firstly published in 1999 as national journal of Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang. In 2016, JTSP was indexed in DOAJ with Green Tick critera. And in 2018, JTSP expands its range of article quality and publication through publishing English-language articles.
Arjuna Subject : -
Articles 774 Documents
Evaluasi Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Proyek Bangunan Gedung Di Kabupaten Cirebon Indah, Aryati -
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v19i1.9492

Abstract

The purpose of this study are: 1) evaluating the implementation and constraints of K3 in Building Construction Projects in Cirebon, 2) identifying the differences of implementation in project scale based. The method used survey approach at 10 contractors on 10 two-floors or more building projects in Cirebon. Evaluation component was developed from Practical Guidelines document Occupational Health and Safety in the Construction Sector (ILO, 2005). The study found that the level of K3 implementation on aspects of the personal protective equipment (60%), the role of emergency condition (75%), Structural work, Scaffolding and Ladder (66.7%), Use of Toxic and Dangeorus Materials ( 62.9%), Health and Hygiene of Work Environmental (89.2%). Constraints of K3 implementation in general are budgetary, worker’s cultural who are not familiar with the K3 implementation and impact of the construction cost and the selling price of the property. Average of K3 implementation in large-scale projects are higher than small and medium-scale projectsTujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mengevaluasi penerapan dan kendala penerapan K3 pada proyek bangunan gedung di Kabupaten Cirebon, 2) mengetahui perbedaan penerapan K3 berdasarkan skala proyek. Metode penelitian menggunakan pendekatan survei terhadap 10 kontraktor  pada 10 proyek bangunan  gedung 2 lantai atau lebih di Kabupaten Cirebon. Komponen evaluasi K3 dikembangkan berdasarkan Pedoman Praktis Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bidang Konstruksi (ILO, 2005).  Hasil penelitian menemukan bahwa tingkat penerapan K3 pada aspek: penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) (60%), Pengelolaan Kondisi Darurat (75%), Pekerjaan Struktur, Perancah dan Tangga (66,7%), Penggunaan Bahan Beracun dan Berbahaya (62,9%), Kesehatan dan Kebersihan Lingkungan Kerja ( 89,2%). Kendala penerapan K3 pada umumnya adalah anggaran, budaya pekerja yang belum terbiasa dengan penerapan K3 serta dampak penerapan terhadap biaya dan harga jual konstruksi properti.  Rata-rata penerapan K3 lebih besar pada proyek skala besar dibandingkan proyek skala sedang dan kecil.
Analisis Pilihan Tindakan Pelaku Logistik Terhadap Kebijakan Pembatasan Akses Jalan Tol JORR Latiasha, Melinda; Yusuf, Nahry
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v19i2.10913

Abstract

Sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kemacetan, timbul rencana untuk menyelenggarakan pembatasan akses masuk angkutan barang pada Jakarta Outer Ring Road (JORR). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pilihan tindakan yang akan dilakukan oleh pelaku logistik dalam menghadapi kebijakan pembatasan akses masuk, serta untuk menganalisa dampaknya terhadap waktu tempuh dan biaya operasional perjalanan. Berdasarkan data yang diperoleh melalui survey pada 223 pengemudi angkutan barang yang menggunakan jalan tol JORR, didapatkan hasil pilihan tindakan alternatif berupa 26.9% memilih untuk mengubah rute, 36.8% mengubah waktu, 2.7% mengubah rute dan waktu, dan sisa 33.6% tidak terpengaruh kebijakan pembatasan akses. Pilihan tindakan juga dikelompokkan berdasarkan frekuensi perjalanan, waktu masuk JORR, dan jarak tempuh perjalanannya, dengan tujuan untuk melihat perbedaan karakteristik para pelaku logistik. Berdasarkan uji hipotesis, didapatkan bahwa kebijakan pembatasan akses memiliki pengaruh terhadap pertambahan waktu tempuh dan biaya operasional perjalanan. Perubahan waktu tempuh perjalanan tertinggi akibat pembatasan akses terdapat pada pilihan mengubah rute, yaitu sebesar 31.10%. Sama halnya pada biaya operasional, perubahan biaya tertinggi terdapat pada pilihan mengubah rute yaitu sebesar 7.41%
Analisis Dampak Perubahan Tataguna Lahan Sub DAS Beringin di Bukit Semarang Baru Terhadap Peningkatan Debit Sungai Beringin Kota Semarang -, Sumiyadi -
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v19i1.9496

Abstract

The changes of landuse in watershed area of Beringin river, from rubber forest into housing area of Bukit Semarang Baru (BSB), is suspected as the cause of increase in water discharge into Beringin river. The research objective is to describe the rise in water discharge of Beringin river due to the changes of landuse in the watershed area of Beringin river which currently inhibited by BSB housing. According to statistics criteria, the distribution of maximum daily rainfall frequency for repeated period of 2, 5, 10 and 20 years was analyzed by distribution frequency Gumbel. Research result shows that there is an increase in water discharge of Beringin river due to the rise of runoff water as the consequence of land use change in BSB area. Ten years discharge before the land use change was  =  7,94 m /dt, then raised into 113,49 m3 /dt following the change, so the water discharge of Beringin river is  = 121,43 m3 /dt. This impact analysis can be an early information for the future researcher to find the solution of flood phenomena in Semarang.Perubahan tataguna lahan di sub DAS  Beringin, dari hutan karet menjadi kawasan hunian Bukit Semarang Baru (BSB) diduga penyebab meningkatnya aliran limpasan yang masuk sungai Beringin.  Tujuan penelitian untuk mengetahui peningkatan debit sungai Beringin, akibat dari perubahan tataguna lahan sub DAS Beringin di kawasan hunian BSB.  Berdasarkan kriteria statistik, distribusi frekuensi hujan harian maksimum untuk periode ulang 2, 5, 10, dan 20 tahunan dilakukan analisis frekuensi agihan Gumbel.  Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan debit di sungai Beringin karena bertambahnya aliran limpasan akibat dari perubahan tata guna lahan di kawasan BSB.  Debit 10 tahunan sebelum perubahan tataguna lahan Q10 = 7,94 m3 /dt, setelah perubahan ada tambahan debit 113,49 m3 /dt, sehingga debit sungai beringin menjadi   Q10 = 121,43 m3 /dt.  Analisa dampak ini sebagai informasi awal bagi para peneliti, untuk mencari solusi terhadap masalah banjir di Semarang.
PEMBUATAN LAPISAN PELINDUNG (ARMOURING) SEBAGAI BAHAN PEMBENTUK STABILITAS DASAR PERMUKAAN SUNGAI Ikhsan, Cahyono
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v14i1.14455

Abstract

Abstrak: Gradasi butir sedimen yang bergerak di dasar saluran atau sungai dengan berbagai variasi ukuran material menyebabkan terjadinya proses selective erosion selama proses aliran, yang memungkinkan terjadi perubahan struktur lapisan dasarnya. Terbentuknya lapisan armour secara alamiah dapat mempertahankan bentuk konfigurasi dasar sungai tersebut, namun bagaimana proses pembentukan lapisan armour, perubahan struktur lapisan penyusunnya serta kekasaran permukaannya menjadi sesuatu yang penting pada pencapaian  tujuan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Hidraulika menggunakan perangkat utama  sediment-recirculating flume terbuat dari plexiglass berdimensi lebar 0,60 m, panjang 10,00 m, tinggi 0,45 m serta kemiringan dasar yang dapat diatur hingga 3%. Flume ini dilengkapi dua pompa yang berkapasitas debit sampai dengan 150 l/dt. Material yang dipakai dicampur dengan komposisi 70% gravel, 30% pasir. Running dilakukan pada debit konstan, baik pada saat debit aliran low flow maupun hight flow, dan untuk setiap ranning terdapat 3 fase yaitu fase equilibrium, fase armour. Instrumen yang digunakan antara lain digital currentmeter, point gauge meter, sediment feeder, sediment trap, dan dibantu software surfer 8.0. Hasil penelitian tersebut dapat menggambarkan proses terjadinya armouring didasarkan pada kondisi aliran dan perilaku sedimen dasar bergerak, yang dinyatakan dengan adanya perubahan struktur lapisan dasar dan perubahan topografi permukaan dasar. Jadi dapat disimpulkan bahwa adanya  sedimen dasar yang bergerak pada struktur lapisan mengakibatkan terbentuknya lapisan armouring yang berpengaruh pada stabilitas dasar saluran dan aman terhadap bahaya erosi dan degradasi.
IDENTIFIKASI RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK KOTA REMBANG -, Mashuri; Indrianingrum, Lulut; -, Diharto
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v14i1.7101

Abstract

Abstrak : Draft Laporan Akhir Rencana Rinci RTH Perkotaan Kabupaten Rembang menyebutkan bahwa pada saat ini RTH publik wilayah Kota Rembang seluas 73,10 Ha atau hanya 2,3% dihitung dari luas wilayah Kota Rembang (3.183,76 Ha), jumlah tersebut masih jauh dari persyaratan minimal. Sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05 tahun 2008 mensyaratkan bahwa ruang terbuka hijau publik kawasan perkotaan minimal harus terpenuhi sebesar 20% dari luas total wilayah kota. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Rembang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa luas ruang terbuka hijau yang berada di kawasan Kota Rembang baik eksisting maupun potensial dengan menggunakan metode analisis data berdasarkan luas wilayah dengan cara wawancara dan survey lapangan. Hasil penelitian ditemukan ruang terbuka hijau eksisting Kota Rembang yang berupa lapangan olahraga, taman, jalur hijau jalan, dan RTH fungsi tertentu ± 77,75 hektar. Luas akumulasi potensi lahan yang dapat difungsikan/ dialih fungsikan sebagai ruang terbuka hijau ± 206,52 hektar (6,48% dari luas wilayah Kota Rembang), terdiri dari aset tanah milik Pemerintah Kabupaten Rembang ± 43,92 hektar (1,38% dari luas wilayah Kota Rembang), aset tanah negara ± 133,45 hektar (4,19% dari luas wilayah Kota Rembang), dan aset tanah lain ± 29,14 hektar (0,92% dari luas wilayah Kota Rembang).
Analisis Kuat Tekan Beton Dengan Penambahan Serat Rooving Pada Beton Non Pasir Widodo, Aris; Basith, Muhammad Abdil
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v19i2.12138

Abstract

This study aims to determine the effect of adding roving fiber on non-sand concrete to compressive strength and tensile strength. The test specimens used in this study, for each type of variable are 3 cylinders of compression test. The ratio of the volume of mortar is 1: 5 (cement: gravel) while the roving fiber used is 3 cm in length. the addition of roving fibers of each mixture of 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, 10% were taken from the weight of the cement. From the results of the research it is found that the addition of roving fiber can increase the compressive strength of non-sand concrete. With the addition of compressive strength concrete roving with an aggregate ratio of 1: 5, it is optimal on the percentage of roving fiber addition of 5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat roving pada beton non pasir terhadap kuat tekan dan kuat tarik belahnya. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi khalayak umum khususnya bagi industri bahan bangunan, dan dapat bermanfaat untuk peneliti-peneliti selanjutnya. Benda uji yang digunakan dlam penelitian ini, untuk masing-masing jenis variable berupa 3 silinder uji tekan. Perbandingan volume adukan adalah 1:5 (semen:kerikil) sedang serat roving yang digunakan panjangnya 3 cm. Penambahan serat roving  masing-masing adukan sebanyak 0% , 2.5% , 5% , 7.5% , 10 % diambil dari berat semen. Dari hasil penelitian didapat bahwa penambahan serat roving dapat meningkatkan kuat tekan beton non pasir. Dengan penambahan serat roving kuat tekan beton dengan perbandingan agregat 1:5 , optimal pada persentase penambahan serat roving sebesar 5% .
Kajian Penambahan Ruang Terbuka Hijau di Kota Semarang Sudarwani, Margareta Maria; Ekaputra, Yohanes Dicky
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v19i1.10493

Abstract

The development of Semarang City has unknowingly impacted the changes of land use and exploitation of natural resources. This study aims to examine how much achievement of objectives and benefits obtained in increasing the extent of Green Open Space in Semarang City, and how the architect implementing components to support the creation of Green City. The result of this research shows that the quantity and quality, distribution and amount of Green Open Space in Semarang City still need to be improved; Efforts to utilize vacant land, critical land, river borders and land dismantling of public buildings is one of the efforts to increase the extent of green open space in urban areas; Providing green open space with Green City concept that apply Green Attribute in its design is strategy to provide Public Open Space which refers to the concept of Sustainable Development. Perkembangan Pembangunan Kota Semarang tanpa disadari, telah membawa dampak terhadap perubahan penggunaan fungsi lahan dan eksploitasi terhadap sumber daya alam. Kajian ini bertujuan untuk meneliti seberapa besar capaian sasaran dan manfaat yang diperoleh dalam menambah besaran luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Semarang, serta bagaimana peran seorang Arsitek dalam mengimplementasikan komponen guna mendukung terciptanya Kota Hijau. Hasil penelitian didapatkan bahwa secara kuantitas dan kualitas, sebaran dan besaran Ruang Terbuka Hijau di wilayah Kota Semarang masih perlu ditingkatkan lagi; Upaya untuk memanfaatkan lahan kosong, lahan kritis, sempadan sungai dan lahan bekas bongkaran bangunan publik merupakan salah satu upaya untuk menambah luasan RTH di Kawasan Perkotaan; Penyediaan RTH dengan konsep Kota Hijau yang mengaplikasikan Atribut Hijau di dalam desainnya merupakan salah satu strategi untuk menyediakan Ruang Terbuka Publik yang mengacu pada konsep Pembangunan Berkelanjutan.
Management of Gender-Based Production and Commercial Spaces Murtini, Titien Woro; Harani, Arnis Rochma; Adiyati, Arlina
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v20i1.13621

Abstract

Currently, home industry is attaining particular attention from Indonesian government. This activity is considered as an embryo of Indonesia's economic growth. One of the home industries that have been recognized worldwide is batik. Batik is the cultural heritage of Indonesia that which has received international recognition. The famous batik in Indonesia comes from Pekalongan. In Pekalongan, some villages have characteristic of batik, one of them is proto village. In this village, batik is growing through the home industry business, and almost 70% women can write batik. Also, almost all the houses in this village become a place for industry, whether to make batik, sell batik, and modify batik fabric into clothing. The house which should be a residence, it is functioned as a production and business space. This research employed qualitative method with phenomenology paradigm, aimed to understand and reveal the meaning of the phenomenon of human life behavior, both human in capacity as individuals, groups and the wider community in using residential as a business space and production in Proto Batik Village. The results of this study found that the spatial management system in Proto Batik Village is dominated by women in every home. If the living room in business space used as a place to sell and marketing, the function of production room is located in women area such as kitchens, and backyard. It can be concluded that private house spaces are still used as residential functions, but semi-public spaces are utilized as production and business space.
What Are the Changes in the Use of Space in The Residential Neighborhood of Residence as A Place of Business? Isnaeni, Iin; Dewi, Diah Intan Kusumo
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v20i1.12390

Abstract

Kampung Batik Kauman is the first batik village in Pekalongan where located in the center of Pekalongan.Location and development of Kampung Kauman as batik tourism village has an impact on the physical development, oneof which is marked by the changes of residential house function into a business house. Based on the phenomenon, thepurpose of this paper is to identification space use of business houses in Kampung Batik Kauman. The writer appliedquantitative descriptive method. From the research results can be seen that there are five types of business houses in theKampung Batik Kauman, namely residential houses and batik production; residential houses and batik showrooms;residential houses, production and showroom of batik; residential and boarding houses; and residential houses and tradingand services (except batik). Space utilization of home business in Kampung Kauman consists of the type of utilization ofmixed and separate business house space.
PERGESERAN PERAN DAN FUNGSI ALUN-ALUN KALIWUNGU SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK Indrianingrum, Lulut; Azizah, Anis Nur; Prasetya, Gilang Eko; Hidayah, Nurul
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v17i1.6887

Abstract

The existence of the square Kaliwungu very far from the characteristics of such a square. Not only the shape, but the function of the square has also shifted away. Although the existence as public space  was still visible in the morning, but it the afternoon until evening, the square transformed into market. The function of the square as a public open space has been dominated as economic functions. From time to time the role of the square undergone many changes since the days of pre-colonial, colonial, post-colonial and current period. Changes in the role and function of the square as a public open space Kaliwungu basically occurs when the policy was issued regarding the transfer function around the market square into the parking lot of the mosque. It shows that the square as the center of the city has a strategic location that can not be separated from economic activities.Keberadaan alun-alun Kaliwungu sangat jauh dari karakteristik sebuah alun-alun tersebut. Tidak hanya bentuknya, tapi fungsi alun-alun juga sudah bergeser jauh. Walaupun pada pagi hari masih nampak keberadaannya, namun coba kita lihat pada sore hingga malam hari, alun-alun Kaliwungu berubah total menjadi pasar sore kaliwungu. Fungsi alun-alun sebagai ruang terbuka publik telah terdominasi sebagai fungsi ekonomi. Dari waktu ke waktu peran alun-alun mengalami banyak perubahan sejak zaman pra kolonial, kolonial, pasca kolonial dan masa saat ini. Perubahan peran dan fungsi alun-alun Kaliwungu sebagai ruang terbuka publik yang paling mendasar terjadi saat dikeluarkan kebijakan mengenai pengalihan fungsi pasar disekitar alun-alun menjadi tempat parkir masjid. Hal tersebut menunjukan bahwa alun-alun sebagai pusat kota memiliki letak strategis yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan ekonomis.

Filter by Year

2006 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 23, No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 22, No 1 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 1 (2019) Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Teknik SIpil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 8, No 2 (2006) More Issue