cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Core Subject : Education,
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 590 Documents
PEMEROLEHAN BAHASA ANAK DI SUMATERA BARAT (KAJIAN MEAN LENGTH OF UTTERANCE [MLU])
Lingua Vol 14, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia memperoleh bahasa merupakan satu masalah yang unik dan perlu dibuktikan. Berbagai teori dari disiplin ilmu telah dikemukakan oleh para peneliti untuk menerangkan bagaimana proses pemerolehan bahasa di kalangan anak-anak. Salah satu perkembangan bahasa yang unik dialami anak adalah perkembangan sintaksis. Pada periode awal, anak menggunakan kalimat satu kata, kalimat dua kata, kalimat tiga kata, dan seterusnya sampai tahap kalimat lengkap strukturnya (agentaction-object-location). Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi dengan mengamati subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa subjek berada pada tahap yang sesuai dengan ketetapan Brown, yaitu subjek YFE dan GFB dengan MLU 1,4 dan 1,54. Namun, subjek AHM, SFZ, dan FNS berada di atas tahap yang ditetapkan Brown dengan MLU 2,96, 2,44, dan 2,72; subjek NLH, BRT, dan ZY berada di bawah tahap yang ditetapkan Brown dengan MLU 3,66, 2,68, dan 3,3.Human language acquisition is a unique problem and needs to be proven. Various theories have been advanced by researchers to explain how the process of acquiring language among children. One of the unique language developments experienced by children is the development of syntax. In the early period, the child uses a one-word sentence, two-words sentence, three-words sentence, and so on until the complete phase of the structure (agent-action-object-location). The method of data collection is done by observing the subject. The results show that some subjects are at the stage consistently with the Brown stipulations, namely the subject of YFE and GFB with MLU 1.4 and 1.54. However, the subjects AHM, SFZ, and FNS are above the established stage of Brown with MLU 2.96, 2.44, and 2.72; the subject of NLH, BRT, and ZY is below the established stage of Brown with MLU 3,66, 2,68, and 3,3.
Tindak Tutur Perlokusi dalam Album Lirik Lagu Iwan Fals: Relevansinya terhadap Pembentukan Karakter
Lingua Vol 15, No 1 (2019): January 2019
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk-bentuk klasifikasi tindak tutur perlokusi dalam album lirik lagu Iwan Fals serta relevansinya terhadap pembentukan karakter. Data ini diperoleh dari kumpulan lirik lagu Iwan Fals. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Selain itu teknik yang digunakan adalah teknik sadap, teknik simak dan teknik catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 30 data yang termasuk kedalam tindak tutur perlokusi serta memunculkan 10 relevansi terhadap terbentuknya pendidikan karakter seseorang melalui album lagu Iwan Fals.  This study aims to describe the forms of classification of speech acts perlokusi in lyrics album Iwan Fals song and its relevance to the formation of characters. This data is obtained from a collection of Iwan Fals lyrics. The method used is qualitative. Descriptive method is a research method that describes and interpret the object in accordance with the actual situation. In addition, the techniques used are tapping techniques, techniques and techniques to record. The results showed that there were 30 data included in speech acts perlokusi as well as raises 10 relevance to the formation of character education through a song album Iwan Fals
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENANGKAP MAKNA TEKS CERITA PENDEK SECARA LISAN MELALUI MEDIA PAPERCRAFT DAN TEKNIK URAI KEJADIAN
Lingua Vol 11, No 2 (2015): July 2015
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan penerapan media papercraft dan teknik urai kejadian pada pembelajaran menangkap makna teks cerita pendek, mengetahui perubahan sikap religius peserta didik, mengetahui perubahan sikap sosial peserta didik, dan memaparkan peningkatan hasil tes keterampilan menangkap makna teks cerita pendek peserta didik. Subjek penelitian ini adalah keterampilan menangkap makna teks cerita pendek secara lisan kelas VIIC SMP Negeri 9 Semarang. Pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Dari hasil penelitian, diketahui adanya peningkatan persentase ketuntasan klasikal yang diperoleh peserta didik dalam menangkap makna teks cerita pendek secara lisan. Pada siklus I persentase ketuntasan klasikal aspek sikap religius 85%, meningkat menjadi 92%. Berikutnya persentase aspek sosial pada siklus I seperti teliti 85% meningkat menjadi 92%, kreatif 65% meningkat menjadi 96%, percaya diri 65% meningkat menjadi 97%, tanggung jawab 75% meningkat menjadi 95%. Aspek terakhir yang dijadikan pedoman dalam peningkatan persentase kelas adalah aspek ketrampilan. Aspek ketrampilan siklus I sebesar 69% dan mengalami peningkatan mencapai 100% pada siklus II.The purpose of this research is to explain function by papercraft and tragedy technics on in grasping the meaning of the text short stories, to explain changes of religious attitude, to explain changes of social attitude, and to describe increasing of final skill aspect. The subjects were the skills to grasp the meaning of text short stories orally VIIC class Semarang SMP Negeri 9. Collecting data using a test technique and nontes. From the research, it is known to an increase in the percentage obtained by classical completeness learners in grasping the meaning of the text short stories orally. In the first cycle percentage classical completeness aspect of religious attitudes 85%, increased to 92%. Next percentage of social aspects in the first cycle as closely 85% increased to 92%, increasing to 65% creative 96%, 65% confidence increased to 97%, 75% responsibility increased to 95%. Aspects of knowledge also increased from the first cycle to the second cycle of 71% increased to 100%. The last aspect is used as guidelines in increasing the percentage of the class is the skill aspect. Aspects skills first cycle of 69% and an increase to 100% in the second cycle.
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPENDAPAT MAHASISWA MELALUI PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
Lingua Vol 10, No 2 (2014): July 2014
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rasa malu atau kecemasan mahasiswa menjadi kendala utama setiap individu untuk berkomunikasi, termasuk berpendapat. Karena itu, melalui problem based learning (PBL) mahasiswa termotivasi untuk berpikir secara kritis dan analitik sehingga kemampuan berpendapat meningkat. Desain penelitian ini dilaksanakan melalui lesson study (LS) yang terdiri atas tahap plan, do, dan see. Hasil kajian ini dinyatakan bahwa ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan mengemukakan pendapat, yakni kecemasan (takut) dan kemampuan memahami konsep materi yang rendah. Akan tetapi, melalui model PBL dengan sistem LS, rasa takut mahasiswa dapat dikikis. Pemahaman mahasiswa dalam konsep materi menjadi meningkat. Peningkatan itu diimbangi dengan peningkatan kemampuan mengemukakan pendapat sebanyak 91% dari jumlah mahasiswa yang terlibat dalam pembelajaran.This research aims to motivate students to think critically and analytically, through Problem-based Learning, thus, their ability to give argument increases. It needs to do since the students’ shyness and anxiety becomes major obstacles for each individual both to communicate and to give argument. Research design is done through Lesson Study having three stages; they are plan, do, and see. Result of this investigation shows that there are two factors causing the decrease of students’ ability to give argument. They are their anxiety (fear) and their low ability to understand subject matter concept. But, through Problem-based Learning with Lesson Study system, the students’ fear can be eliminated. The students’ understanding of subject matter concept also increases. This increase is balanced by the increase of students’ ability to give argument up to 95% of a number of students involved in this learning.
PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT MAHASISWA JURUSAN BSI UNNES DENGAN PERKULIAHAN BERBASIS LATIHAN BERJENJANG DAN PENGALAMAN
Lingua Vol 7, No 2 (2011): July 2011
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakan peningkatan keterampilan membaca cepat mahasiswa semester II rombel 3 Prodi PBSI Jurusan BSI FBS Unnes setelah dilakukan perkuliahan berbasis latihan dan pengalaman dan (2) bagaimanakan perubahan perilaku mahasiswa semester II rombel 3 Prodi PBSI Jurusan BSI FBS Unnes setelah dilakukan perkuliahan berbasis latihan dan pengalaman. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus, yaitu proses tindakan pada siklus I dan siklus II. Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah keterampilan membaca cepat Mahasiswa Semester II Rombel 3 Prodi Pbsi Jurusan Bsi Unnes. Variabel penelitian tindakan kelas ini menggunakan dua, yaitu (1) variabel peningkatan keterampilan membaca cepat dan (2) variabel latihan berjenjang dan pengalaman. Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini ada dua, yaitu instrumen tes dan nontes. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, jurnal, dan perangkat tes. Teknik analisis data pada penelitian tindakan kelas ini dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah rata-rata kecepatan membaca mahasiswa pada prasiklus sebesar 30,17% atau 250-299 kpm yang masuk dalam kategori lambat, pada  siklus I kecepatan membaca mahasiswa sebesar 56,81% dari jumlah keseluruhan mahasiswa atau 300-349 kpm yang masuk dalam kategori sedang, pada siklus II hasil tes kecepatan membaca mahasiswa sebesar 75,84% atau 350-399 kpm yang masuk dalam kategori cepat. Perilaku mahasiswa setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat berbasis latihan berjenjang dan pengalaman juga mengalami perubahan. Perubahan-perubahan perilaku mahasiswa ini dapat dibuktikan dari hasil data nontes yang berupa observasi, jurnal, dan wawancara. Berdasarkan hasil data nontes siklus I, masih tampak tingkah laku negatif mahasiswa pada saat pembelajaran berlangsung. Pada siklus II tingkah laku negatif mahasiswa semakin berkurang dan tingkah laku positif mahasiswa semakin bertambah.   Kata Kunci: membaca cepat, latihan berjenjang, pengalaman
PEMERTAHANAN BAHASA USING DI DESA SERUT KECAMATAN PANTI KABUPATEN JEMBER (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK)
Lingua Vol 16, No 1 (2020): January 2020
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemertahanan bahasa Using di Desa Serut, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember dan faktor-faktor yang mempengaruhi situasi pemertahanan bahasa di wilayah tersebut. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Wujud data dalam penelitian ini berupa informasi lisan dan tulis. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi komunikasi yang mana metode pengumpulan data dilakukan melalui dua tahapan, yaitu observasi dan wawancara mendalam. Analisis data dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kondisi pemertahanan bahasa Using di Desa Serut, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember dalam ranah keluarga dan ketetanggaan tergolong tinggi. Semakin tua usia penutur bahasa, maka semaki­­n tinggi pula tingkat pemertahanannya terhadap  bahasa Using. Sebaliknya, semakin muda usianya, maka semakin rendah pula tingkat pemertahanannya. Penutur bahasa yang berada pada status sosial rendah memiliki tingkat pemertahanan lebih tinggi daripada lingkungan status sosial tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain: 1). desakan bahasa nasional, 2). pewarisan bahasa, 3). kontak antarbahasa, 4). perkawinan antaretnis, dan 5). pengakuan identitas.
WUJUD FORMAL DAN WUJUD PRAGMATIK IMPERATIF DALAM BAHASA JAWA
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jika membicarakan tuturan imperatif atau kalimat perintah, biasanya yang ada di dalam benak kita adalahtuturan yang menggunakan konstruksi imperatif. Artinya, sudut pandang yang dipakai dalam kajian ihwaltuturan imperatif hanya berfokus pada aspek struktural. Padahal, pernyataan yang demikian dalamperkembangan pemakaian bahasa secara fungsional dapat menimbulkan persoalan. Persoalannya adalahbahwa dalam kegiatan bertutur makna pragmatik imperatif ternyata tidak hanya dapat dinyatakan dengankonstruksi imperatif saja melainkan dapat pula dinyatakan dengan konstruksi-konstruksi lainnya.Berdasarkan hal itu, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah: (1) Bagaimanakah wujud formaltuturan imperatif dalam bahasa Jawa? (2) Bagaimanakah wujud pragmatik tuturan imperatif dalam bahasaJawa?Tujuan penelitian ini adalah (a) memaparkan wujud formal tuturan imperatif dalam bahasa Jawa, dan(b) memaparkan wujud formal tturan imperatif dalam bahasa Jawa. Data penelitian ini meliputi berbagaimacam tuturan dalam bahasa Jawa keseharian baik secara tertulis maupun secara lisan sejauh di dalamnyaterkandung maksud atau makna pragmatik imperatif. Data penelitian dapat berwujud tuturan yangmengandung tuturan imperatif langsung maupun tidak langsung. Data disediakan dengan mengunakanmetode simak dan cakap. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metodekontekstual. Hasil analisis data disajikan secara informal, artinya hasil temuan penelitian disajikan dalambentuk kata-kata biasa yang sangat teknis sifatnya.Hasil penelitian ini adalah bahwa imperatif dalam bahasa Jawa memiliki dua macam perwujudan.Kedua jenis perwujudan itu mencakup (1) wujud formal imperatif dan (2) wujud pragmatik imperatif. Secaraformal, imperatif dalam bahasa Jawa meliputi (1) imperati aktif dan (2) imperatif pasif. Secara pragmatik,imperatif bahasa Jawa mencakup beberapa perwujudan, yakni imperatif yang mengandung maknapragmatik (a) desakan, (b) bujukan, (c) himbauan, (d) persilaan, (e) larangan, (f) perintah, (g) permintaan,dan (h) ngelulu. Dengan pelaksanaan kegiatan ang terencana dan hasil ang diperoleh, peneliti menyarankanagar penelitian yang berkenaan dengan pemakaian tuturan imperatif dalam bahasa Jawa perluditindaklanjuti dengan penelitian lain yang serupa, berancangan sama, namun memiliki ruang lingkup kajianyang lebih sempit, misalnya pemakaian tuturan imperatif bahasa Jawa pada ranah atau dialek tertentu,untuk mendapatkan analisis yang mendalam dan didapatkan kelengkapan pemerian pemakaian tuturanimperatif dalam masyarakat yang berbahasa Jawa.Kata kunci: wujud formal, wujud pragmatik, imperatif bahasa Jawa
ANALISIS WACANA PARADIGMA KRITIS TEKS BERITA PENGHINAAN PANCASILA OLEH HABIB RIZIEQ SIHAB PADA SEAWORD.COM DAN LIPUTAN6.COM
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu berita yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir atau sorotan beberapa media baik lokal maupun nasional adalah kasus Habib Rizieq yang digugat karena dianggap telah melecehkan bahkan menghina Pancasila.Kasus ini penulis angkat menjadi sorotan, selain karena aktual dan menjadi sorotan berbagai media.Penulis juga ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnyamengenai berita ini dan mengetahui bagaimana pendapat berbagai media mengenai masalah ini. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimanakah analisis wacana paradigma kritis Van Dijk mengenai berita penghinaan Habib Rizieq terhadap Pancasila dalam Seword.com dan Liputan6.com; 2) apakah perbedaan analisis wacana paradigma kritis Van Dijk dalam berita penghinaan Pancasila dalam Seword.com dan Liputan6.com?dan 3) Apakah terdapat ideologi tertentu dalam berita tentang penghinaan Pancasila oleh Habib Rizieq pada Seword.com dan Liputan6.com? Adapun alat analisis untuk mengurai masalah ini adalah analisis wacana dengan menggunakan paradigma kritis.Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif.Berdasarkan perbandingan terhadap dua teks maka dapat disimpulkan bahwa teks Seword.com cenderung memihak pada ideologi dan hegemoni kaum tertentu yang agak bertentangan dengan segala yang berbau Islam. Hal ini terlihat dari berbagai aspek telaah dalam analisis Van Dijk ini. Sedangkan Liputan6.com lebih cenderung netral, hanya memfasilitasi informasi yang akan disampaikan apa adanya tanpa misi untuk menjatuhkan ideologi tertentu/golongan tertentu.One of the recent news that became the highlight of some media, both local and national is the case of Habib Rizieq who are sued for being considered harassing and even insulting Pancasila. This case the author adopted into the spotlight, because in addition to the case being actual and became the spotlight of various media. The author also wish to know the real phenomenon about this news and find out how the views of various media on the issue. The formulation of this research problem is 1) how to analyze the Van Dijk critical paradigm discourse about the news of Habib Rizieq mockery toward Pancasila in Seword.com and Liputan6.com; 2) what is the difference of Van Dijk critical paradigm discourse analysis in the news of mockery of Pancasila in Seaword.com and Liputan6.com? and 3) Is there a certain ideology in the nows about mockery of Pancasila by Habib Rizieq in Seaword.com and Liputan6.com? The analytical tool to solve this problem is discourse analysis by using critical paradigm. The research method used is descriptive qualitative. Based on the comparison of two texts, it can be concluded that the text in Seaword.com tends to side with the ideology and hegemony of certain people who are somewhat at odds with everything Islamic. This is evident from various aspects of the analysis in the Van Dijk analysis. Whereas Liputan6.com more tends to be neutral, only facilitate the information to be delivered as it is without an intention to bring down certain ideology/groups.
MEMBACA INTENSIF MENEMUKAN GAGASAN UTAMA DENGAN MODEL COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) MELALUI TEKNIK KEPALA BERNOMOR TERSTRUKTUR PADA SISWA VII C SMP NEGERI 1 BONANG DEMAK
Lingua Vol 13, No 1 (2017): January 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsi proses pembelajaran, peningkatan keterampilan membaca intensif menemukan gagasan utama, dan perubahan perilaku peserta didik kelas VII C SMP Negeri 1 Bonang Demak. Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Pengambilan data menggunakan instrumen tes, observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto. Proses pembelajaran membaca intensif untuk menemukan gagasan utama dengan model CIRC melalui teknik kepala bernomor berlangsung lancar, kondusif, dan memberikan pemahaman mendalam mengenai cara membaca intensif untuk menemukan gagasan utama sebuah bacaan. Pada tes siklus I  diperoleh nilai rata-rata 62,88 termasuk kategori cukup dan siklus II diperoleh rata-rata 83,55 atau termasuk kategori baik atau mengalami peningkatan sebesar 20,67 atau 32,87%. Perilaku peserta didik kelas VII C SMP Negeri 1 Bonang Demak mengalami perubahan ke arah positif. Peserta didik antusias, aktif,  dan bersungguh-sungguh dalam pembelajaran membaca intensif untuk menemukan gagasan utama.The objective of this research is to describe the learning process, the improvement and behavioral changes of students class VII C SMP Negeri 1 Bonang Demak about finding the main idea of the text by students of class VII C SMP Negeri 1 Bonang Demak. This research used action research procedure with two cycles. The method were used instrumental test, observation, journal, interview, and documentation picture. Learning Process of  intensive reading to find the main idea using cooperative integrated reading and composition (CIRC) model through structured numbering head technique well done, condusif and gave deep understanding about the way of intensive reading to find the main idea of the text. From the first cycle the average value was 62,88 clasified average categoryand second cycle gained an average value of 83,55 clasified in goal category An increased 20,67 or 32,87%. The behavior of the students class VII C SMP Negeri 1 Bonang changing for the positive, enthuastic learners, active, and earnest in teaching intensive reading to find the main idea.
ANALISIS TRANSPOSISI DAN MODULASI PADA BUKU TEORI BUDAYA TERJEMAHAN DARI BUKU CULTURE THEORY
Lingua Vol 7, No 1 (2011): January 2011
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This descriptive-qualitative research aims at describing transposition and modulation in the book entitled TeoriBudaya and describing the accuracy, acceptability, and readability of the translated sentences containingtransposition and modulation. The data of this research are English sentences in Culture Theory translated intothe book entitled Teori Budaya using transposition and modulation. The information is also provided onaccuracy, acceptability, and readability given by the raters. The first data were taken from Culture Theory andTeori Budaya using observation and note-taking techniques. And the second data were collected from aquestionnaire and in-depth interviews. The results of the research show that the techniques of transposition andmodulation have advantages as well as disadvantages. In term of accuracy, transposition is more accurate thanmodulation but modulation has a higher level of acceptability and readability than transposition has. Related tothe accuracy, acceptability, and readability, from 100 data of transposition under study, there are 86%categorized as accurate, 73% as acceptable, and 91% as easy. On the other hand, from 80 data of modulationanalyzed, there are 83.75% categorized as accurate, 73.75% as acceptable, and 93.75% as easy. From thisanalysis, the translator needs to have good competence in translating and the translated book is of good quality.The translator should be able to set himself free from the influence of the sentence structure of the sourcelanguage and to express messages in idomatic bahasa Indonesia.Kata Kunci: Transposisi, modulasi, keakuratan, keberterimaan, keterbacaan