cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Core Subject : Education,
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 590 Documents
PENALARAN ARGUMEN SISWA DALAM WACANA TULIS ARGUMENTATIF SEBAGAI UPAYA MEMBUDAYAKAN BERPIKIR KRITIS DI SMA
Lingua Vol 7, No 1 (2011): January 2011
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola dan teknik penalaran argumen siswa dalam wacana tulisargumentatif sebagai upaya membudayakan berpikir kritis di SMA. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatanyang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan orientasi teoretis analisis wacana.Data penelitian ini berupa wacana tulis argumentasi siswa. Data ini diperoleh dari tugas siswa menulisargumentasi yang telah diberikan guru, sehingga teknik pengumpulannya menggunakan dokumen tugas siswayang ada di guru masing-masing. Data yang diperoleh dianalisis dengan 3 langkah pokok, yakni reduksi data,penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil analisis data ditemukan bahwa pola penalaran argumen siswadalam wacana tulis argumentatif sebagai upaya membudayakan berpikir kritis di SMA dapat dikelompokkanmenjadi 4 pola, yakni: (1) pola C-G-B, (2) pola C-G-W-B, (3) pola C-G-B-MQ, dan (4) pola C-G-W-B-MQ.Kemudian, teknik penalaran argumen siswa dalam wacana tulis argumentatif sebagai upaya membudayakanberpikir kritis di SMA meliputi: (1) argumen dengan contoh, (2) dengan otoritas, dan (4) argumen dengan sebab.Kata kunci: berpikir kritis, penalaran, wacana tulis argumentatif
PENINGKATAN KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM PEMBELAJARAN MK LINGUISTICS AND EDUCATIONAL RESEARCH MELALUI METODE PROJECT-BASED LEARNING
Lingua Vol 12, No 2 (2016): July 2016
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Every university in Indonesia requires that students who are in the final stage of the study to have the ability make up thesis about uncovering phenomena, facts, issues, analysis, and draw conclusions on the outcome of the analysis In addition to the competence of cognitive nature, thesis-making process also involves a wide range of practical competence necessary to write scientific papers, such as mastery of the intricacies of research methods and how to apply it in real activity. The course of Linguistics and Educational Research designed to provide insight into the understanding of research, types of research, research terminology, research designs, and other types of analysis required. The end product of this course is a research proposal. This study focuses on how to implement the Project Based Learning (PBL) in the class of Linguistic and Educational Research by following the steps of project development recommended by Sheppar Stoller (1995). The main data that drawn from observations made in the form of quantitative data such as post-test value and portfolio. Setiap perguruan tinggi di Indonesia mewajibkan para mahasiswanya yang sudah berada pada tahap akhir studi untuk memiliki kemampuan menyusun skripsi untuk mengungkap fenomena, fakta-fakta, permasalahan, analisis, dan simpulan hasil analisis tersebut. Selain kompetensi yang bersifat kognitif, proses pembuatan skripsi juga melibatkan berbagai kompetensi praktis yang diperlukan untuk menulis karya ilmiah, misalnya penguasaan terhadap seluk-beluk metode penelitian dan cara mengaplikasikannya di dalam kegiatan nyata. Mata kuliah Linguistics and Educational Research didesain untuk memberikan wawasan tentang pengertian riset, jenis-jenis riset, terminologi riset, disain-disain riset, dan jenis-jenis analisis yang diperlukan. Produk akhir mata kuliah ini adalah sebuah proposal penelitian. Penelitian ini difokuskan pada pengimlementasian Procect Based Learning (PBL) pada kelas Linguistic and Educational Research dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan proyek yang direkomendasikan oleh Sheppar Stoller (1995). Data utama yang ditarik dari observasi yang dilakukan adalah berupa data-data kuantitatif berupa nilai post test dan portofolio.
KODE DAN KESANTUNAN DALAM RAPAT DINAS BERPERSPEKTIF GENDER DAN JABATAN
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang dikaji adalah (i) bagaimana realisasi bentuk pemilihan kode dalam tindak tutur direktif (TTD) yang dilakukan oleh peserta rapat dinas, baik di tingkat fakultas maupun universitas di lingkungan Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam perspektif jender dan jabatan, (ii) bagaimana realisasi kesantunan TTD yang dilakukan oleh peserta rapat dinas tersebut? Metode penyediaan data berupa metode percakapan dengan teknik dasar sadap, serta teknik lanjutan teknik simak libat cakap, yakni menyimak dan berpartisipasi dalam pembicaraan sambil mencatat. Adapun metode analisis menggunakan metode padan, submetode sosiopragmatis dengan teknik ganti, sisip, dan perluas yang disampaikan secara deskriptif-analitik-interpretatif. Metode penyajian hasil analisis adalah informal. Hasil penelitian ini adalah realisasi penggunaan kode TTD, baik oleh rektor, ketua senat universitas, sekretaris senat universitas, dekan, pembantu dekan, kepala bagian, dan kepala subbagian (laki-laki dan perempuan) berupa kode Indonesia secara dominan, baik baku maupun tidak baku; dan sebagian kecil berupa campur kode (Indonesia tidak baku, Inggris, Jawa (halus dan ngoko), serta Arab. Dari sisi realisasi kesantunan berbahasa, baik pemimpin rapat maupun peserta rapat (laki-laki) cenderung menggunakan tindak tutur langsung, baik berpenanda kesantunan, seperti tolong, harap, mari, dan dipersilakan maupun tidak berpenanda dibandingkan dengan ber-TTD tidak langsung. Sebaliknya, pemimpin atau perserta rapat perempuan cenderung ber-TTD secara tidak langsung dengan modus interogatif. Arah TTD bersifat dua arah, baik dari pemimpin rapat maupun peserta rapat. Namun, kecenderungannya, arah tersebut TTD berasal dari yang memimpin rapat ke yang dipimpin (dari pejabat versus nonpejabat atau dari pejabat yang lebih tinggi ke yang lebih rendah). This study aimed to investigate (i) how the realization of the electoral code in the directive speech acts (TTD) conducted by a formal meeting participants, both at the faculty and university in the State University of Semarang in genre and position perspective, (ii) how the realization of politeness TTD conducted by the formal meeting participants. The data collecting method was conversation with the basic method of “tapping techniques“, advanced techniques of listening, watching, and talking in the conversation by noting. The method of data analysis was padan (matching) method. The submethod applied was sociopragmatic method with changing, inserting, expanding, and paraphrasing techniques, delivered of analytic-descriptive-interpretative writing. The method of presenting results used an informal presentation. The results of this study were: (1) the realization of TTD code, either by rector, chairman of the university senate, secretary of the university senate, dean, assistant dean, head of department, or head of subdivision officials (men and women) used Indonesian code predominantly, either formal or not formal usage, and in small groups, they used the mixed code of informal Indonesian, English, Javanese (smooth and not-smooth 'ngoko'), and Arabic; (2) the realization of linguistic politeness, both meeting leaders and meeting participants (men) tended to use direct speech act, either politeness sign, like tolong, harap, mari, and dipersilakan or not politeness sign compared to using of indirect speech act. On the contrary, the meeting leader or women participant tended to use the indirect speech act with the interrogative mode. The direction of the directive speech act was two-way direction, for both meeting leaders and participants of the meeting. However, apparently, the direction of directive speech act tended to come from the meeting leader to the participants meeting (from official(s) versus non-officials or of higher official(s) to lower one(s)).
Pengembangan Buku Pengayaan Menyusun Teks Biografi Bermuatan Karakter Wirausaha untuk Peserta Didik Kelas X SMK
Lingua Vol 16, No 2 (2020): July 2020
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to develop the enrichment book on writing biography text containing entrepreneurial character for tenth graders of Vocational High School. This study uses research and development (RD) approach. The result shows that the prototype achieved very good judgment from the experts with the mean score 89.1 on the material aspect, 87.5 on the material presentation aspect, 85.4 on the language aspect, 80.4 on the graphic aspect, and 87.5 on the aspect of entrepreneurial character content.
KLASIFIKASI KALIMAT PASIF BAHASA JEPANG
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kalimat pasif bahasa Jepang dikenal dengan istilah ukemi. Akan tetapi, adabeberapa ahli yang menyebutnya dengan istilah judoobun. Suatu kalimatdisebut kalimat pasif apabila kalimat tersebut memenuhi syarat secaramorfologis, sintaksis, dan semantis. Secara morfologis terdapat perubahanbentuk verba dari konstruksi aktif menjadi pasif dengan menambahkan sufikspada verba aktif. Secara sintaksis yaitu frase nomina pengisi nonsubjek kalimataktif transitif atau ditransitif dijadikan pengisi subjek kalimat pasif, dan pengisisubjek kalimat aktif menjadi nonsubjek pada kalimat pasif. Secara semantis,apabila pelaku tidak lagi menjadi topik suatu kalimat. Klasifikasi kalimat pasifbahasa Jepang dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu kalimat pasif yangberasal dari kalimat aktif transitif, kalimat pasif yang berasal dari kalimat aktifitrbansitif, kalimat pasif yang berasal dari kalimat berpredikat verba intransitif,dan kalimat pasif yang berasal dari kalimat aktif berobjek frase nomina posesif.Kata kunci : ukemi, judoobun
KONTRIBUSI MOTIVASI BELAJAR DAN PENGUASAAN KOSAKATA TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS TEKS EKSPOSISI SISWA SMA
Lingua Vol 14, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan kontribusi motivasi belajar terhadap keterampilan menulis teks eksposisi siswa kelas X MAN 1 Bukittinggi; (2) menjelaskan kontribusi penguasaan kosakata terhadap keterampilan menulis teks eksposisi siswa kelas X MAN 1 Bukittinggi; (3) menjelaskan kontribusi motivasi belajar dan penguasaan kosakata secara bersama-sama terhadap keterampilan menulis teks eksposisi siswa kelas X MAN 1 Bukittinggi. Sampel penelitian dari jumlah populasi setiap kelas, yaitu 43 siswa. Data penelitian ini berupa skor hasil pengisian angket motivasi belajar, skor hasil tes penguasaan kosakata, dan skor hasil tes keterampilan menulis teks eksposisi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar dan penguasaan kosakata dapat dijadikan prediktor untuk meningkatkan hasil belajar keterampilan menulis teks eksposisi. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan hasil belajar keterampilan menulis, maka siswa diberikan motivasi belajar menulis dan penguasaan kosakata.This study aims to: (1) explain the contribution of learning motivation to the writing skills of exposition text of class X MAN 1 Bukittinggi students; (2) explain the contribution of vocabulary mastery to the writing skills of exposition text of class X MAN 1 Bukittinggi students; (3) explain the contribution of learning motivation and vocabulary mastery to the writing skills of exposition text of class X MAN 1 Bukittinggi students. The sample of the study of the total population in each class is 43 students. The data of this research are the score taken from the result of learning motivation questionnaire, the score of vocabulary test, and the score of test of exposition text writing skill. Based on the results of the research, it can be concluded that the motivation of learning and mastery of vocabulary can be used as a predictor to improve the results of learning skills of writing exposition text. Therefore, to improve learning outcomes in writing skills, the students are given the motivation to learn writing and mastering vocabulary.
Pengembangan Bahasa Sumbawa Standard melalui Penawaran Konsep Tata Aksara Bahasa Sumbawa
Lingua Vol 15, No 1 (2019): January 2019
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to explain the literacy system in Sumbawa (BS), which includes the sound system (phoneme); grapheme system (letter); and phoneme distribution. Methodologically, data collection uses skilled methods, see (using written data), and introspection. The collected data was analyzed using intralingual method. The results showed that there were 29 phonemes in the BS, ie 10 vowels (/ i /, / I /, / u /, / e /, / E /, / ě /, / o /, / ò /, / a /, and / A /) and 19 consonants (/ p /, / b /, / t /, / d /, / c /, / j /, / k /, / g /, / q /, / s /, /  /, / r /, / l /, / w /, and / y /).hh /, / m /, / n /, / ñ /, /  The ten vowel phonemes are written with 6 letters (graphemes), namely i (representing / i / and / I /), u, e (representing / e / and / E /), ě, o, ò, and a (representing / a / and / A /). As for the 19 consonant phonemes each written with letters a number of existing phonemes. The vowel sound of BS can occupy the initial, middle, and final position of the word, except / e / (as [e]) can not occupy the final position, while / u / never appears in the ultima syllabe which ends with consonant. As for, consonant sounds can occupy the initial, middle, and final position of the word, except b, w, d, ny, j, g, h, and y can only occupy the initial and middle position, while q never occupy the starting position.
PEMBENTUKAN REPUTASI CALON PRESIDEN 2014 DALAM BERITA DI MEDIA MASSA ONLINE : KAJIAN WACANA KRITIS
Lingua Vol 11, No 2 (2015): July 2015
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keberpihakan media massa online dalam memuat berita sehingga membentuk reputasi kedua calon presiden 2014. Keberpihakan dalam membentuk reputasi pada berita di media massa online diwujudkan melalui tiga dimensi Faicrlough, yakni representasi, discourse practice, dan sociocultural practice. Data dalam penelitian ini dijaring dengan menggunakan pustaka dan metode simak. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode padan dan metode analisis wacana kritis model Fairclough. Penelitian ini menghasilkan simpulan bahwa representasi wacana yang dimunculkan olehdetikNews.com,Kompas.com, dan VIVAnews.commemiliki kriteria yang sedikit berbeda. Namun ketiganya sama-sama melilih kata maupun kalimat sebagai bentuk fokus berita. Kata atau kalimat yang dimunculkan menunjukkan keberpihakan media terhadap calon preseiden; Tataran discourse practice, media detikNews.com dan Kompas.comcenderung berpihak kepada kubu Jokowi, keberpihakan ini terlihat dari pengemasan berita-berita yang dimunculkan kedua media tersebut. VIVAnews.com menunjukkan keberpihakan terhadap kubu Prabowo. Keberpihakan ditunjukkan dari berita-berita yang dimuat, yakni berita-berita yang muncul dominan tentang Prabowo-Hatta dan beberapa tentang Jokowi-JK tetapi VIVAnews.com memberikan kesan negatif; Tataran sociocultural practice, pembentukan reputasi calon presiden terlihat dari munculnya berita yang mengasosiasikan calon presiden dengan mantan presiden Soekarno dan Soeharto.This study aims to describe the online mass media bias in the news load so as to form a reputation both 2014 presidential candidates partisanship in shaping the reputation of the online news media Fairclough realized through a three-dimensional, ie, representation, discourse practice, and sociocultural practice. The data were captured using libraries and methods refer to. The method used in the analysis of the data is equivalent method and the method of critical discourse analysis Fairclough models. This study resulted in the following conclusions. First, discourse representation raised by detikNews.com, Kompas.com, and VIVAnews.com have slightly different criteria. But all three are equally melilih words or sentences as a form of news focus. Words or phrases that appear indicate media bias against candidates preseiden. Second, the level of discourse In practice, detikNews.com media and pro Kompas.com Jokowi camp, partisanship is evident from the packaging news raised both media. VIVAnews.com show partiality against Prabowo camp. Alignments shown on the news that was published, the news emerged dominant on Prabowo-Hatta and some of Jokowi-JK but VIVAnews.com leave a negative impression. Third, the level of sociocultural In practice, the formation of a presidential candidate's reputation can be seen from the emergence of news that associate with the presidential candidates former president Sukarno and Suharto.
PEMERTAHANAN UNGKAPAN DALAM BAHASA JAWA YANG MEMUAT KEARIFAN LOKAL SEBAGAI BENTUK IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT SAMIN DI KABUPATEN BLORA
Lingua Vol 9, No 1 (2013): January 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian budaya lokal yang dimiliki masyarakat di Indonesia sampai saat ini tetap merupakan kajian yang menarik, apalagi dalam era globalisasi seperti saat ini. Pemertahanan budaya lokal sering dibenturkan dengan pengaruh budaya global. Salah satu masyarakat yang sampai saat ini masih mempertahankan budaya lokal adalah masyarakat Samin. Penelitian ini bertujuan untuk mrngungkap (1) wujud kearifan lokal masyarakat Samin dan (2) bentuk pemertahanan kearifan lokal masyarakat Samin. Idiom dan ungkapan yang memuat kearifan lokal/ajaran masyarakat Samin sampai saat ini masih tetap ada dan menjadi pegangan hidup masyarakat Samin. Bentuk idiom dan ungapan tersebut berupa kata, kalimat, dan wacana. Selain itu, supaya ajaran tersebut masih tetap dijadikan pegangan hidup, para sesepuh berusaha mempertahankan ajaran tersebut dengan cara sesorah, memasukkan dalam tembang, dan dengan perbuatan/tindakan konkret. Local cultures that belong to Indonesian society is still interesting to be studied, even in the era of globalization. Maintaining local culture is often influenced with global culture. The current study aimed to discover: (1) forms of the local wisdom of Samin society, and (2) forms of the maintenance efforts of the local wisdom of Samin society. Idioms and expressions that contain local wisdom or local lessons of Samin society exist until now and become the way of life of Samin society. The forms of the idioms and the expresions are in words, sentences, and discourse. In addition, Samin elders have been maintaining the local wisdom through sesorah including in tembang  and everyday practices.
afiks derivasi dan afik infleksi pada verba dan nomina bahasa Arab dalam buku al-arabiyah baina yadaik
Lingua Vol 16, No 1 (2020): January 2020
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Afiks derivasi dan afiks infleksi yang digunakan sebagai pembentuk nomina  bahasa Arab serta menganalisis fungsi dan makna afiks derivasi dan afiks infleksi pada nomina bahasa Arab. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian ini berupa kata bahasa Arab yang diambil dari buku al-arabiyah baina yadaik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik catat, kemudian data dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik dasar berupa teknik bagi unsur langsung dan teknik lanjutan berupa teknik oposisi dan teknik lesap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam buku buku al-arabiyah baina yadaik, terdapat afiks derivasi pembentuk nomina berjumlah sembilan, yaitu: prefiks (as-Sâbiq), diantaranya: /mu-/, /ma-/ dan /a-/. Infiks (dâkhilah), diantaranya: /-â-/,  /-ĩ-/ dan /-ū-/. Konfiks (as-sâbiq wa al-lâhiq), diantaranya: /mi-â/, /ma-ū/ dan /mi-tun/. Afiks–afiks ini membentuk makna gramatikal ‘nomina pelaku (ism fâ‟il)’; ‘nomina verba (isim maṣdar)’; ‘nomina penderita (ism maf’ûl)’; ‘nomina instrumental (isim alat)’, ‘nomina temporer (isim zaman)’; ‘nomina qualiti (syifatu al-musyabbahah bi al-ismi fâil)’ dan ‘nomina loci (isim makan)’ serta berfungsi membentuk nomina deverba. Afiks infleksi pembentuk nomina berjumlah sepuluh, yaitu: sufiks (al-Lâhiq), diantaranya: /-âni/, /aini/, /-ūna/, /-ĩna/, /-âtun/, /-ĩ/, /-tun/, /-ka/, /-hu/ dan /-him/. Afiks-afiks ini memiliki makna gramatikal yaitu: nomina dual, nomina plural maskulin, nomina plural feminim dan nomina gender.