cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 473 Documents
Latihan Multilateral Alternatif Untuk Meningkatkan Kondisi Fisik Pemain Bola Basket
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011): December 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v1i2.2024

Abstract

Tujuan Penelitian ini membandingkan model latihan multilateral, model pembebanan  dan kemampuan motorik terhadap hasil kondisi fisik pemain bola basket. Metode yang digunakan yaitu eksperimen rancangan faktorial 2 x 2 x 2, dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan 1) Ada perbedaan antara model latihan multilateral dan model latihan konvensional terhadap hasil kondisi fisik, (2) Tidak ada perbedaan antara model pembebanan linier dan tidak linier terhadap hasil kondisi fisik., (3) Ada perbedaan antara kemampuan motorik tinggi dan kemampuan motorik rendah terhadap hasil kondisi fisik, (4) Tidak ada interaksi antara model latihan dan model pembebanan terhadap hasil kondisi fisik, (5) Tidak ada interaksi antara model latihan dan kemampuan motorik terhadap hasil kondisi fisik, (6) Ada interaksi antara model pembebanan dengan kemampuan motorik siswa terhadap hasil kondisi fisik, (7) Tidak ada interaksi antara model latihan, model pembebanan dan kemampuan motorik terhadap hasil kondisi fisik. Simpulan; 1) model latihan multilateral  memiliki pengaruh yang lebih baik dalam pencapaian hasil kondisi fisik pemain bola basket, 2) Kemampuan motorik yang tinggi terbukti sangat berpengaruh terhadap capaian hasil kondisi fisik pemain bola basket, 3) Model pembebanan linier atau tidak linier walaupun tidak berbeda dalam hasil tetapi memiliki pengaruh terhadap pencapaian hasil kondisi fisik pemain bola basket.Kata Kunci: model latihan; model pembebanan; kondisi fisikAbstract The aims are to compare models of multilateral exercises, model loading and motor skills on the results of the physical condition of the basketball players aged students. The experimental factorial design 2 x 2 x 2 is the method, with purposive sampling technique. The result showed (1) there is difference effect of conventional model and multilateral training model to the physical condition. (2) there is no difference effect of the model linear and non-linear loading to the physical condition, (3) There is difference effect of high-motor skills and low motor skills to  the physical condition (4) There is no interaction of training model and the model of loading to the physical, (5) There is no interaction of  motor skills and training model to the physical condition, (6) There is any interaction of loading model and skills motor to the physical condition, (7) There is no interaction of training model, loading model and motor skills to the physical condition. The conclusion are 1) the multilateral training model better to peak physical condition, 2) there is any effect of high motor skills to the peak physical condition, 3) the linear loading model or not linear has not different in result but has effect to peak physical condition.Keywords: training model; loading model; skills motor; the physical condition
Pengaruh Status Gizi, Tingkat Konsumsi Energi dan Protein terhadap VO2 Maks
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 5, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v5i2.7893

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh status gizi , tingkat asupan energi (TKE) dan protein (TKP) terhadap VO2 maks. Penelitian ini merupakan observasional analitik ini dilakukan secara cross sectional pada 20 sampel yang diambil secara acak sederhana pada 50 orang populasi. Sebagai populasi adalah mahasiswa semester III PKG PGSD Jurusan PJKR UNNES berusia 20-30 tahun, sehat saat penelitian dan bersedia dijadikan sampel penelitian. Status Gizi dinilai berdasarkan IMT (BB/TB2 ), TKE dan TKP dari hasil recall 24 jam sedangkan VO2 Maks diukur dengan tes Balke lari 15 menit. Analisis univariat menggunakan nilai rerata IMT, TKE dan TKP serta distribusi frekuensi. Analisis bivariat dengan korelasi Pearson. Hasil penelitian :  rerata IMT 22,5 ± 2,9 kg/m2, asupan energi 1791,5 ± 428,8 kklal, asupan protein 40,6 ± 14,3 gram, VO2 maks 37,1 ± 6,2 ml/kgBB/menit, 60% mahasiswa mempunyai IMT normal, 90% TKE dan 70% TKP kurang. Hasil analisis korelasi pearson diperoleh hasil tidak terdapat hubungan antara  IMT , tingkat asupan energi, tingkat asupan protein dengan VO2 maks (IMT , p= 0,816 ; r= -0,056 ), (TKE, p= 0,142 ; r= -0,341), (TKP, p= 0,267 ;  r=-0,261. Simpulan: terdapat faktor-faktor lain yang berpengaruh pada VO2 maks selain IMT, TKE dan TKP.
The Assessment of Motor Performance Using Two Coordination Tests on Students with Cerebral Palsy- A Preliminary Study
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 4, No 1 (2014): July 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v4i1.4386

Abstract

A regular physical activity has benefits on motor performance among student with cerebral palsy. In this study were investigating the assessment of motorperformance on eye-hand coordination and lower-body coordination between cerebral palsy. A total of 21 male and female students (n = 21) were involved from Penang Spastic Center. The anthropometrics were measured height and weight and two motor performance test were conducted namely target Throwing with Ball in Basket and AAHPERD ball-changing Zigzag Run Test. All the data were analyzed using SPSS and presented as mean of (± SEM). The mean age of all subjects were 18.00 ± 3.61 years old ranging from 12 – 24 years old. The majority of the subjects were Chinese 53%, followed by Malays 33.3% and 14% Indian. The mean value height and weight of all subjects were 150.1± 32.4 m and 59.9 ± 15.51 kg. The mean value for Target Throwing with Ball in Basket 0.90 ± 0.436 and AAHPERD Ball-changing Zigzag Run Test 0:01:22.19 ± 0:00:24.836 minutes. The test shows they are not much difference in upper and lower body coordination. However, on this studies are found people with cerebral palsy were low level on motor performance. Thus, more study on the designing and implementation of physical on motor performance program for people with cerebral palsy should be conducted in order to increase their physical performance level.
Korelasi Antara Lompat Vertikal Dengan Performa Sprint 60 Meter Pada Atlet Taekwondo dan Karate
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 10, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v10i2.27140

Abstract

Taekwondo dan Pencak silat merupaka dua contoh cabang olahraga seni bela diri yang saat ini sedang berkembang saat ini. Maka dari itu, tujuan daripada penelitian ini adalah untuk mengukur serta mengetahui korelasi antara performa lompat vertikal dengan sprint 60 meter pada atlet Taekwondo dan Pencak silat. Seluruh peserta, dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan kecabangan mereka, yaitu kelompok Taekwondo (TKW), dan kelompok Pencak silat (PKS). Seluruh peserta diwajibkan untuk melakukan pemanasan secara statis dan dinamis selama minimal 15 menit. Setelah sesi pemanasan selesai, kelompok TKW memulai pertama untuk sesi pengukuran anthropometry, lompat vertikal, dan sprint. Kelompok PKS lebih unggul dalam melakukan performa loncatan, yaitu 57,33 (± 7,73) cm dibandingkan dengan kelompok TKW sebesar 55,78 (± 4,30) cm. Sedangkan untuk hasil sprint 60 meter, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sprint 60 meter antara kelompok TKW dan PKS (p = 0,007), dimana kelompok PKS (7,94 ± 0,15) detik lebih cepat dibandingkan dengan kelompok TKW (8,48 ± 0,49) detik. Hasil dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara performa lompat vertikal dengan performa sprint 60 meter, pada atlet Takewondo dan Pencak silat.Taekwondo and Pencak silat are two examples of martial arts sports that are currently being developed. Therefore, the purpose of this study was to measure and determine the correlation between vertical jump performance and 60 meter sprints in Taekwondo and Pencak silat athletes. All participants were divided into two groups based on their branches, namely the Taekwondo group (TKW) and the Pencak silat group (PKS). All participants are required to warm up statically and dynamically for at least 15 minutes. After the warm-up session was over, the TKW group started the first session for anthropometry measurement, vertical jump, and sprint. The PKS group was superior in jumping performance, 57.33 (± 7.73) cm compared to the TKW group of 55.78 (± 4.30) cm. As for the results of the 60 meter sprint, it shows that there were a significant difference between the 60 meter sprint between the TKW and PKS groups (p = 0.007), where the PKS group (7.94 ± 0.15) seconds is faster than the TKW group (8, 48 ± 0.49) seconds. The results in this study indicate that there were a correlation between vertical jump performance and 60 meter sprint performance, for Takewondo and Pencak silat athletes.
Peranan Pendidikan Jasmani Menghadapi Era Globalisasi
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 2, No 1 (2012): July 2012
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v2i1.2557

Abstract

Pendidikan Jasmani merupakan bagian dari pendidikan Keseluruhan yang mengutamakan aktivitas jasmani dan pembinaan hidup sehat untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, sosial dan emosional yang serasi, selaras, dan seimbang. Masalah yang dihadapi saat ini antara lain : masih ditemukan pengajaran penjas secara tradisional, pendidikan jasmani, diajar oleh guru yang bukan berlatar belakang penjas, sarana dan prasarana penjas yang terbatas. Pendidikan Jasmani meiliki perana penting dalam menunujang SDM berkualitas menghadapi era globalisasi.Physical education is part of the Overall education that promotes physical activity and healthy living guidance for the growth and development of the physical, mental, social and emotional harmony, harmony, and balance. Problems faced today are: still found traditional teaching physical education, physical education, taught by teachers who are not background of physical education, infrastructure penjas limited. Physical Education menunujang has particularly important role in the quality of human resources in the era of globalization.
Asupan Cairan dan Vitamin C dengan Tingkat Kecemasan pada Atlet Sepak Bola di Yogyakarta
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 7, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v7i2.12147

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan asupan cairan dan vitamin C dengan kondisi kecemasan atlet sepak bola. Penelitian ini merupakan penelitian observasional, desain cross-sectional, dilakukan bulan Mei-Juni 2014 di Stadion Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Indonesia. Subjek penelitian ini adalah 10 atlet sepak bola dari UGM dan 11 atlet sepak bola dari UNY. Data asupan cairan dan vitamin C dilihat dengan wawancara menggunakan form SQFFQ. Kondisi kecemasan atlet diukur dengan kuesioner kecemasan yang dimodifikasi dari State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Data dianalisis menggunakan software statistik. Hasil : Rata-rata asupan cairan pada atlet sepak bola UGM  adalah 2.930,92 ± 1.249,26 ml. Asupan vitamin C pada atlet sepak bola UGM adalah 112,33 ± 212,38 mg. Skor kecemasan dari atlet sepak bola UGM adalah 26,9 ± 7,18. Tidak ada hubungan yang signifikan pada asupan cairan dan vitamin C dengan kecemasan pada atlet UGM (p0,05). Sedangkan rata-rata asupan cairan pada atlet sepak bola UNY adalah 3.250,32 ± 1.055,53 ml. Asupan vitamin C atlet adalah 19,93 ± 12,9 mg. Rata-rata skor kecemasan dari atlet sepak bola UNY adalah 26,18 ± 2,52. Tidak ada hubungan yang signifikan pada skor kecemasan dengan asupan cairan dan vitamin C pada atlet sepak bola UNY (p0,05). Tidak ada hubungan yang signifikan pada asupan cairan dan vitamin C dengan skor kecemasan atlet sepak bola di Yogyakarta. The aims of the reseach is correlation between fluid intake and vitamin C with anxiety condition of soccer athletes in Yogyakarta is the objects of this study.This was an observational study with cross-sectional design. This research was conducted on May-June 2014 at Yogyakarta State University Stadium (UNY) Indonesia. The subjects of this study were 10 soccer athletes from UGM and 11 soccer athletes from UNY. Data of fluid intake and vitamin C were seen by interview using SQFFQ form. The athlete's anxiety condition was measured by a modified anxiety questionnaire from the State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Data were analyzed using statistical software.Result: The average fluid intake in UGM soccer athletes is 2,930.92 ± 1,249.26 ml. Vitamin C intake in UGM soccer athletes is 112.33 ± 212.38 mg. Anxiety score from UGM soccer athletes is 26.9 ± 7.18. There was no significant association between fluid intake and vitamin C with anxiety in UGM athletes (p 0.05). While the average fluid intake in soccer athletes of UNY is 3,250.32 ± 1055,53 ml. Vitamin C intake of athletes was 19.93 ± 12.9 mg. The average anxiety score of a soccer athletes of UNY is 26.18 ± 2.52. There was no significant association in anxiety scores with fluid intake and vitamin C in soccer athletes of UNY (p 0.05).There is no significant correlation of fluid intake and vitamin C with anxiety scores of soccer athletes in Yogyakarta.
Upaya Membangun Industri Sepak bola di Indonesia
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 1 (2011): July 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v1i1.1139

Abstract

Tujuan dari penulisan adalah untuk meningkatkan pengelolaan Industri olahraga khususnya sepak bola (dari pengelolaan, penyediaan dan pemasaran produk atau jasa dibidang olahraga. Konsep industri sepakbola pada dasarnya adalah bagaimana sepakbola sebagai sebuah event mampu menguntungkan semua pihak yang terlibat mulai dari pemain, panitia pelaksana, klub, hingga penikmat sepakbola sebagai sebuah tontonan. Klub bisa memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan berbagai aset yang dimilki klub seperti penjualan pemain, penjualan tiket pertandingan, penjualan berbagai merchandise dan untuk menarik minat investor atau perusahan swasta mau memberikan dana promosinya. Pengelolaan sepakbola di Indonesia jika diamati  secara lebih cermat masih jauh dari apa yang menjadi visi pengurus PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) yaitu terciptanya industri sepakbola. Industri sepakbola di Indonesia baru berada pada tingkatan akibat dari kegiatan utama pertandingan sepakbola atau kompetisi. Klub sebagai pelaku utama kegiatan industri sepakbola kenyataannya belum mampu mengelola kegiatannya untuk menghasilkan keuntungan. Klub sepakbola di Indonesia secara keuangan sebagian besar masih dibantu subsidi oleh pemerintah propinsi atau pemerintah daerah. Kebijakan yang tepat harus segera diambil PSSI dan pemerintah, swasta dan masyarakat jika industri sepakbola benar-benar menjadi tujuan dan cita-cita bersama dalam membangun sepakbola Indonesia selain prestasi tim nasional.Kata Kunci: industri; sepakbola;  IndonesiaThe aims of this review is to increase of management of Sports industry as specially is soccer (management, the provision of products, services in sport. The concept of soccer industry is basically how football as an event can benefit all parties involved from players, executive committee, club, to the connoisseurs of football as a spectacle. Clubs can benefit by utilizing a variety of clubs being owned assets such as the sale of players, game ticket sales, sales of various merchandise and how to attract investors or companies willing to provide funds swsata promotion. Management of football in Indonesia if it is observed more closely still far from what the vision board PSSI (Football Association Of Indonesia) namely the creation of football industry. New football industry in Indonesia is at the level of activity due to major football matches or competitions. Club as the main industrial activity is the reality of football has not been able to manage its operations to generate profits. Football clubs in Indonesia remains largely financially supported by the provincial government subsidies or local government. Appropriate policy should be taken PSSI and the government, private individual and society if the industry truly into football goals and ideals of football together in building Indonesia's national team in addition to achievement.Keywords: industrial; football; Indonesia
Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut dalam Menunjang Produktivitas Atlet
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 5, No 2 (2015): July 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v5i2.7880

Abstract

Karies merupakan kerusakan jaringan keras gigi yang disebabkan oleh asam dari bakteri yang dihasilkan dari proses fermentasi karbohidrat. Prevalensi karies di negara berkembang masih tinggi. Segala usia dapat mengalami karies, baik usia anak-anak, remaja maupun dewasa. Adanya karies maka akan menyebabkan ketidaknyamanan, mulai dari rasa nyeri saat terkena dingin atau manis, hingga sakit berdenyut yang terus menerus. Kondisi tersebut akan berdampak negartif terhadap produktivitas. Seorang atlet harus memiliki kondisi  sik yang sehat secara menyeluruh. Apabila seorang atlet terganggu kesehatan gigi dan mulutnya, maka produktivitasnya juga akan terganggu. Oleh karena itu diperlukan tindakan preventif maupun kuratif terhadap para atlet. Tindakan preventif yang dapat dilakukan diantaranya dengan memperbaiki perilaku pemeliharaan kesehatan gigi. Diantaranya mengetahui cara menyikat gigi yang tepat, frekuensi menyikat gigi yang tepat, dan waktu menyikat gigi yang sesuai. Selain itu juga banyak mengkonsumsi makanan dan minuman yang non kariogenik, serta rutin periksa ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Tindakan kuratif yang dapat dilakukan dengan melakukan perawatan yang tepat terhadap masalah kesehatan gigi yang dihadapinya
Modifikasi Pegangan Raket untuk Meningkatkan Kemampuan Teknik Pegangan Bulutangkis
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 2, No 1 (2012): July 2012
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v2i1.2548

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menciptakan produk modifikasi pegangan raket untuk meningkatkan kemampuan teknik pegangan dalam permainan bulutangkis. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan. Hasil penelitian diperoleh nilai aspek 1 tentang “selama mengikuti bulutangkis dengan menggunakan media modifikasi pegangan raket, bagaimana perasaanmu?” Respon 84 siswa atau 84% responden merasa senang. Aspek ke 2. “Apakah penggunaan modifikasi sebagai pegangan handuk dengan perekat, apa yang kamu rasakan?” Respon 79 siswa atau 79% dari responden merasa lebih mudah untuk belajar. Pertanyaan ke-3. “Apa pendapatmu tentang tugas selama proses pembelajaran berlangsung?” Respon 83 siswa atau 83% responden merasa mudah, 15 orang atau 15% responden menjawab biasa-biasa saja, dan 2 orang atau 2% dari responden menjawab sulit. Jawaban untuk aspek no-4. “Apa pendapat anda tentang modifikasi dengan perekat sebagai pegangan “respon 86 siswa atau 86% responden menjawab bisa diteruskan. Penggunaan produk pegangan raket bulutangkis memberikan dampak positif pada mahasiswa untuk belajar teknik pegangan raket The purpose of this study was to create a product modifications to improve the ability of the racquet handle grip technique in the game of badminton. The research approach used is the research development. The results obtained by the first aspect of the “For by using the media to follow badminton racquet grip modification, how do you feel?” Student response 84 people or 84% of respondents feel happy. Aspects in point about No. 2. “Does the use of modifications as a towel holder with adhesive grip, you say?” Student response 79 people or 79% of respondents felt it easier to learn. Aspects of the grain questions 3. “What do you think about the commands or tasks during the learning process take place?” Response of 83 students or 83% of respondents found it easy, 15 people or 15% of respondents answered mediocre, and 2 men or 2 % of respondents answered difficult. Aspects in point question no 4. “ What is your opinion about modifications to the adhesive as the grip.” student response 86 people or 86% of respondents answered could be forwarded. Badminton racquet grip products use a positive impact on the students to learn techniques racket grip.
Perbedaan Tingkat Kesegaran Jasmani Berdasarkan Status Gizi
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 7, No 1 (2017): July 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v7i1.10934

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan tingkat kesegaran jasmani berdasarkan status gizi. Penelitian yang diteliti tergolong ke dalam jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan perbandingan (komparasi). Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang sebanyak 110 orang dan dibagi menjadi 2 kelompok sampel. Sebelum dibagi terlebih dahulu dilakukan dilakukan dengan mengukur IMT (Indeks Massa Tubuh). Setelah diukur IMT maka didapatkan 76 orang sampel termasuk kedalam status gizi normal dan 34 orang dalam status gizi tidak normal. Penelitian ini dilaksanakan pada April-Mei 2017. Data dianalisis dengan uji t independent sampel dengan jumlah sampel beda. Untuk mendapatkan data status gizi dengan mengukur IMT (Indeks Massa Tubuh), dan Kesegaran jasmani dengan menggunakan tes lari 2400 meter. Hasil penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan Tingkat Kesegaran Jasmani antara Kelompok Status Gizi Normal dengan Kelompok Status Gizi Tidak Normal. Dimana hal ini dapat terlihat dari thitung = 3.85 ttabel = 1.66This study aims to see differences in physical fitness based on nutritional status. The research studied is classified into the type of quantitative research with comparative approach. The sample in this research is the students of Faculty of Sport Science of Universitas Negeri Padang as many as 110 people and divided into 2 groups of samples. Before the first split is done by measuring BMI (Body Mass Index). After the BMI was measured, 76 samples were included into normal nutritional status and 34 people in abnormal nutritional status. This research was conducted in April-May 2017. The data were analyzed by independent sample t test with different sample number. To obtain nutritional status data by measuring BMI (Body Mass Index), and Physical fitness using a 2400 meter test run. The result of this research is that there is a significant difference of Physical Freshness Level between Normal Nutrition Group Group and Nutrition Status Group. ttabel = 1.66”Where this can be seen from thitung = 3.85 ttabel = 1.66.