cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia
ISSN : 23015810     EISSN : 23548800     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia published 2 times a year. This journal is a medium of information and research results and development areas for non-communicable diseases and public health program managers, as well as a means of communication the researchers /enthusiasts in the field of non-communicable diseases and infectious.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 1 (2015)" : 5 Documents clear
Uji Diagnostik Cepat Sebagai Metode Alternatif Diagnosis Kholera yang Disebabkan oleh Agen Vibrio Cholera Sariadji, Kambang; -, Sunarno; Putranto, Rudi Hendro
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.798 KB)

Abstract

Cholera is one of health problems in Indonesia. The high fatality rate is caused by the enterotoxin. The symptoms are dehydration, electrolyte loss and increased blood acidity, so that in severe case can cause death. Diarrheal disease cholera can lead to an out break. Conventional techniques such as culture, isolation and identification are the gold standard to diagnose V.cholerae, but required considerable time and adequate equipment. thus rapid diagnostic test plays an important role to detect V.cholerae.. The use of rapid diagnostic test can be need as the initial examination, so that preventive actions can be conducted . Rapid diagnostic tests are performed by various methods such can be used directly in the field and the results can be identified quickly, so it can replace the conventional techniques. The advantages of rapid test are quick, easy, inexpensive, practice ; thus it can be used in the field. Rapid test has a sensitivity of 94-100% and a specificity of 84-100% when compared with the conventional technique.Key words : Vibrio cholerae, Diarhoeae, Rapid diagnostic test AbstrakKholera merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penyebabnya adalah enterotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Vibrio cholerae . Gejala yang ditimbulkannya menyebabkan dehidrasi, kehilangan elektrolit dan meningkatnya keasaman darah, sehingga pada kasus yang berat dapat menimbulkan kematian. Penyakit diare kholera ini dapat menimbulkan kejadian luar biasa (out break) dan menyebar ke daerah sekitarnya. Mengingat standar baku diagnosis bakteri V.cholerae dengan menggunakan tehnik konvensional (kultur, isolasi dan identifikasi) memerlukan waktu yang cukup lama dan peralatan yang memadai, maka penggunaan rapid test diagnostik untuk deteksi bakteri V.cholerae sangat berperan pada kasus kejadian luar biasa kholera. Penggunaan rapid diagnostik test ini dapat menjadi pemeriksaan awal di lapangan, sehingga tindakan yang bersifat preventif dapat segera dilakukan. Uji diagnostik cepat yang dilakukan dengan berbagai metode dapat dipakai langsung di lapangan dan hasilnya dapat diketahui dengan cepat , sehingga dapat menjadi tehnik awal pengganti teknik konvensional. Kelebihan dari uji cepat ini adalah cepat, mudah, murah dan dapat dilakukan di tempat. Uji cepat t ini mempunyai sensitifitas antara 94 – 100 % dan spesifitasnya antara 84 – 100 % jika dibandingkan dengan teknik yang dilakukan secara konvensional .Kata kunci : Vibrio cholerae, Diare, Uji diagnostik Cepat
Efek Berbagai Dosis Radiasi Terhadap Fragilitas Eritrosit dan Kadar Kalium pada Produk Sel Darah Merah Pekat Sidabutar, David H; Setiawaty, Vivi; Soedarmono, Yuyun SM; Kosasih, Agus
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.703 KB)

Abstract

One of the delayed transfusion reactions that are fatal is TA GVHD (Transfusion Associated Graft Versus Host Disease). TA incidence of GVHD in immunocompromised patients is estimated at 0.1 to 1.0% with a mortality rate of approximately 80-90% .7 Efforts irradiation of cellular blood components is currently the most efficient way and a reliable way to prevent TA-GVHD. This study aims to determine the effect of various doses of irradiation effects on red blood cells during storage.This study used a descriptive analytic design at 54 red blood cell preparations that meet the inclusion and exclusion criteria. The preparation of red blood cells were divided into 4 groups, ie the group that received 2500,3000,5000 cGy dose and control. OFT testing and potassium levels on the first day, the third and fifth storage. An increase in potassium levels was statistically significant from the first day after irradiation at all doses. There were no significant differences in red blood cell membrane resistance to all doses of irradiation during storage until the fifth day. Irradiation at doses of 2500-5000 cGy can cause increased pottasium level and does not cause changes fragility of red blood cells stored for 5 days after irradiation. The need for further research on the quality of the preparation of red blood cells during storage after irradiation as seen levels of hemolysis (hemolysis rate).Keyword : Blood transfusion, Irradiated, OFT and potassium AbstrakSalah satu reaksi transfusi lambat yang bersifat fatal adalah TA GVHD (Transfusion Associated Graft Versus Host Disease). Kejadian TA GVHD pada pasien immunocompromised diperkirakan sebesar 0,1- 1,0% dengan angka kematian sekitar 80- 90%.7 Upaya radiasi komponen darah seluler saat ini merupakan cara yang paling efisien dan dapat diandalkan untuk mencegah TA-GVHD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efek berbagai dosis radiasi terhadap sel darah merah selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik pada 54 sediaan sel darah merah yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sediaan sel darah merah dibagi menjadi 4 grup, yaitu grup yang mendapat dosis 2500,3000,5000 cGy dan kontrol. Dilakukan pengujian OFT dan kadar kalium pada hari pertama, ketiga dan kelima penyimpanan. Terjadi peningkatan kadar kalium yang bermakna secara statistik mulai dari hari pertama setelah dilakukan radiasi pada semua dosis. Tidak ditemukan perbedaan bermakna ketahanan membran sel darah merah terhadap semua dosis radiasi selama penyimpanan sampai hari kelima. Radiasi pada dosis 2500-5000 cGy dapat menyebabkan peningkatan kadar kalium dan tidak menyebabkan perubahan fragilitas sel darah merah yang disimpan selama 5 hari setelah radiasi. Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai mutu sediaan sel darah merah selama penyimpanan setelah dilakukan radiasi seperti melihat tingkat hemolisis (hemolisis rate).Kata kunci: Transfusi darah, Radiasi, OFT, Kalium
Pemilihan Hewan Coba pada Penelitian Pengembangan Vaksin Tuberculosis Novita, Risqa
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.531 KB)

Abstract

Animal has an important role in research of various tuberculosis vaccine candidates in human, as it has similarities with human physiology, so the animals could provide a variety of information about the human physiology. Selection of suitable experimental animals is essential in order to achieve the research objectives. This paper outlines a wide range of experimental animals that can be used in tuberculosis vaccine development research and their advantages and disadvantages, so that the reader can determine the appropriate experimental animals to be used in tuberculosis research. This paper form reviewer literature obtained through Google and Pubmed search by keyword experimental animals for tuberculosis. The results showed that dogs and primates could be used for tuberculosis research because they have physiological function similarities to humans. However, for large scale can be selected rabbit as a choice.Key words : Experimental animals, Vaccine, Ttuberculosis AbstrakHewan coba memiliki peran penting dalam uji coba berbagai kandidat vaksin tuberculosis di manusia karena memiliki kemiripan fisiologi dengan manusia, sehingga hewan coba dapat memberikan berbagai informasi mengenai sistem fisiologi manusia. Pemilihan hewan coba yang sesuai sangat penting agar tujuan penelitian dapat tercapai. Tulisan ini menguraikan berbagai macam hewan coba yang dapat digunakan dalam penelitian pengembangan vaksin TBC beserta kelebihan dan kekurangan, sehingga dapat ditentukan hewan coba yang sesuai untuk dipakai dalam penelitian tuberculosis. Tulisan ini berupa reviewer literatur yang didapatkan melalui pencarian Google dan Pubmed melalui kata kunci hewan coba untuk tuberculosis. Hasil yang didapatkan bahwa anjing dan primata dapat dipakai untuk penelitian tuberculosis karena sangat memiliki kemiripan fisiologis dengan manusia. Namun untuk skala besar dapat dipilih kelinci sebagai hewan coba pilihan.Kata Kunci : Hewan coba, Vaksin, Tuberculosis
Prevalensi Penyakit Tuberculosis Paru di Kota Metro Provinsi Lampung Tahun 2011-2013 Rachmawati, Faika
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.627 KB)

Abstract

Tuberculosis (TB) is still a global health problem especially in developing countries including Indonesia. This disease can be transmitted from patient with Mycobacterium tuberculosis by releasing bacteria into the air when coughing and sneezing. High prevalence of TB and unsucessful of implementation of eradication programs.This disease as the number one killer infectious disease group. TB incidence in Lampung province was increasing from year to year even though the curing rate was already higher than 85%. In the last two years (2011 – 2013), the Lampung Provincial Health Office reported an increasing new TB cases as much as 15%. Similarly, the Metro city which is one of the districts / cities in Lampung province with the lowest numbers of TB case finding in Lampung province. This research was aimed to describe the prevalence TB and their distribution at Metro City that has been not yet available as far. This research was design as a descriptive study with a cross sectional approach. Data taken from 4 hospitals and 11 center for public health (Puskesmas) in Metro City during 2011 – 2013.with SITT software and the data were analyzed by using an Excel program. The results showed that in 2011-2013 found as many as 3618 cases of TB suspects with 247 cases of pulmonary TB smear positif.Patients in Metro City only 2% of TB patients Lampung Province. Many people were suffered by pulmonary tuberculosis at the age of 25-54 years and 67% of patients them were male.Key words: Lampung, Metro, Tuberculosis disease, Prevalence Abstrak TB paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat terutama di negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia. Penyakit ini dapat menular dari penderita yang di dalam paru-paru atau tenggorokannya terdapat Mycobacterium tuberculosis, kemudian melalui batuk atau bersin sehingga melepaskan bakteri ke udara. Tingginya prevalensi TB dan belum berhasilnya pelaksanaan program pemberantasan TB, menempatkan penyakit ini sebagai penyebab kematian nomor satu dari kelompok penyakit infeksi. Di Provinsi Lampung, insiden kasus TB dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, meskipun angka kesembuhan sudah di atas 85%. Berdasarkan informasi Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, terjadi peningkatan kasus baru sebesar 15% dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Demikian juga halnya dengan kota Metro yang merupakan salah satu kabupaten/kota di Provinsi Lampung dengan angka temuan kasus TB terendah di Provinsi Lampung. Saat ini gambaran mengenai prevalensi dan sebarannya belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang Prevalensi TB dan sebarannya di kota Metro, Lampung. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pendekatan potong lintang. Data berasal dari 4 rumah sakit dan 11 Puskesmas di kota Metro selama tahun 2011-2013 dengan menggunakan software Sistem Informasi Tuberculosis Terpadu (SITT).Data diolah dengan menggunakan program Excel. Hasil menunjukkan bahwa pada tahun 2011-2013 ditemukan kasus tersangka TB sebanyak 3.618 dengan 598 penderita TB dan 247 kasus BTA positif. Penderita TB paru di kota Metro hanya 2% dari penderita TB Provinsi Lampung. TB paru banyak diderita pada umur 25-54 tahun dan 67% penderita berjenis kelamin laki-laki.Keyword: Lampung, Metro, Tuberkulosis, Prevalensi
Produksi Mesenchymal Stem Cell (MSC) dari Sumsum Tulang Belakang Mencit Rinendyaputri, Ratih; Noviantari, Ariyani
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.008 KB)

Abstract

Mesenchymal Stem Cell (MSC) is a source of stem cells are multipotent that can be differentiated into many tipe of cells. MSC can be obtained from various sources one of which is from the bone marrow. But the number of MSCs in the bone marrow is very limited, thus requiring the production of MSC in vitro to obtain considerable amounts on the application or further research. The success of the production is very dependent on various factors such as isolation methods and the use of appropriate culture medium. This study aims to compare the Dulbeccos Modified Eagles Medium (DMEM) and Minimum Essential Medium Eagle (MEM) as a culture medium producing MSC were isolated from bone marrow of mice tibia and femur using flushing methode. Research conducted at the Laboratory of stem cells, Center for Biomedical and Basic Technology of Health. Tibia and femur of mice cleared of fat and decontaminated using alcohol 70% for 2 minutes. Once clean both ends of the bone is cut and in flushing using 1 cc needle with DMEM culture medium and MEM. Medium replacement is done after 48 hours of culture. The results showed that the MSC yield from tibia and femur bone marrow is higher when cultured with MEM rather than DMEM (p <0.05). In this study the production of MSC from bone marrow of mice can be performed by using MEM medium with flushing method.Key words: Isolation, Medium, Bone marrow, MSC AbstrakMesenchymal Stem Cell (MSC) merupakan sumber stem cell yang bersifat multipoten sehingga mampu berdiferensiasi menjadi berbagai tipe sel. MSC dapat diperoleh dari berbagai sumber salah satunya adalah dari sumsum tulang. Namun jumlah MSC dalam sumsum tulang sangat terbatas, sehingga diperlukan produksi MSC secara in vitro untuk mendapatkan jumlah yang cukup pada aplikasi atau penelitian lebih lanjut. Keberhasilan produksi sangat bergantung pada berbagai faktor seperti metode isolasi dan penggunaan medium kultur yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan medium kultur Dulbecco’s Modified Eagle’s Medium (DMEM) dan Minimum Essential Medium Eagle (MEM) untuk produksi MSC yang diisolasi dari sumsum tulang tibia dan femur mencit dengan metode flushing. Penelitian dilakukan di Laboratorium stem cell, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes. Tulang tibia dan femur mencit dibersihkan dari lemak dan didekontaminasi menggunakan alkohol 70% selama 2 menit. Setelah bersih kedua ujung tulang dipotong dan di flushing menggunakan jarum 1 cc dengan medium kultur DMEM dan MEM. Penggantian medium dilakukan setelah 48 jam kultur. Hasil menunjukkan bahwa jumlah MSC yang diperoleh dari sumsum tulang tibia dan femur mencit lebih banyak dengan MEM sebagai medium kultur dibandingkan dengan DMEM (p<0,05). Pada penelitian ini produksi MSC dari sumsum tulang mencit dapat dilakukan dengan metode flushing dengan menggunakan medium MEM.Kata kunci : Isolasi, Medium, Sumsum tulang, MSC

Page 1 of 1 | Total Record : 5