cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Farmasi
ISSN : 16938666     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JIF merupakan jurnal yang dikelola oleh Prodi Farmasi Universitas Islam Indonesia, dan diterbitkan dua kali dalam setahun. Jurnal ini dirancang sebagai sarana publikasi penelitian yang mencakup secara rinci sejumlah topik dalam bidang farmasi yang berkaitan dengan farmasi sains dan teknologi serta klinik dan komunitas. Jurnal ini menyediakan sebuah forum sebagai sarana pertukaran gagasan dan dan informasi antar peneliti, akademisi dan praktisi sehingga diharapkan mampu mendukung dan menginisiasi berbagai penelitian terkini yang terkait dengan ilmu kefarmasian. Hasil penelitian yang disajikan dalam jurnal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu di bidang farmasi dan kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2010)" : 6 Documents clear
ANALISIS RESIDU ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL DALAM DAGING IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy, Lac) MENGGUNAKAN METODE HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY Ari Wibowo; Lukysanita Muliana; M. Hatta Prabowo
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 7 No. 1 (2010)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan kloramfenikol (CAP) pada hewan produksi untuk tujuan non-terapetik berpotensi menimbulkan akumulasi residu CAP pada jaringan dan organ hewan tersebut. Manusia yang mengkonsumsi produk ternak yang mengandung residu CAP dapat berdampak buruk bagi kesehatannya, karena berpotensi menimbulkan reaksi hipersensitivitas, deperesi sumsum tulang belakang (anemia aplastik), bahkan resistensi CAP pada manusia. Komoditi perikananan yang sering menggunakan antibiotik untuk meningkatkan produksinya adalah ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar residu antibiotik CAP dalam daging ikan gurami dengan metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography), kemudian kadar yang diperoleh dibandingkan dengan BMR (Batas Maksimum Residu) antibiotik pada bahan makanan asal hewan (SNI 01-6366-2000). Kurva kalibarsi menunjukkan linieritas yang baik pada range 5 – 40 ng/ml (r = 0,9995). Hasil penelitian menunjukkan ikan gurami yang dijual diketiga pasar tradisional yaitu sebesar 0,276; 0,281; 1,168 ng/g. Kadar residu CAP yang diperoleh tidak melebihi BMR berdasarkan batasan pada Standar Nasional Indonesia (0,01 mg/kg), namun kadar CAP dari salah satu pasar tidak memenuhi persyaratan oleh European Union (0,3 μg/kg). 
HEPATOTOKSISITAS PADA PENGOBATAN TUBERKULOSIS DI RSUD TANGERANG – INDONESIA Vitarani Dwi Ananda Ningrum; Arnia Megasari,; Suci Hanifah
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 7 No. 1 (2010)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reaksi obat yang tidak dikehendaki atau yang dikenal dengan ADR (Adverse Drug Reaction) merupakan respon pasien terhadap obat yang berbahaya dan tidak diharapkan yang terjadi pada penggunaan obat dengan dosis normal untuk tujuan profilaksis, diagnosis, terapi suatu penyakit, maupun modifikasi fungsi fisiologis. Obat yang telah diketahui dapat menimbulkan hepatotoksisitas atau kerusakan fungsi hepar adalah golongan antimikobakteri yang digunakan dalam pengobatan tuberkulosis (TB) paru. Pasien tuberkulosis harus menggunakan obat secara teratur sampai periode pengobatan selesai. Penggunaan OAT (Obat Antituberkulosis) secara terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama dapat menimbulkan ADR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian hepatotoksisitas pada pasien tuberkulosis paru serta faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hepatotoksisitas. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan studi cross sectional. Pasien yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah pasien yang mendapatkan regimen terapi antituberkulosis di RSUD Tangerang pada periode 2006 - Februari 2009. Penilaian kejadian hepatotoksisitas berdasarkan adanya peningkatan kadar AST/ALT serum. Hasil penelitian dari 55 pasien menunjukkan bahwa kejadian hepatotoksik sebesar 38,2%. Hasil uji statistik menggunakan analisis Regresi Binary Logistik dengan taraf kepercayaan 95% menunjukkan jenis kelamin laki-laki dan penggunaan obat hepatotoksis lain memiliki pengaruh terhadap kejadian hepatotoksik. Selain itu terdapat faktor yang dapat mengurangi kejadian hepatotoksik diantaranya penghentian obat, penggantian obat, dan pemberian curcumin. 
EFEK ANTIHIPERGLIKEMIA INFUSA KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENC1T JANTAN YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN Farida Hayati; Sitarina Widyarini; Helminawati Helminawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 7 No. 1 (2010)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek antihiperglikemia infusa kangkung darat (Ipomoea reptans P.j pada mencit Swiss jantan yang diinduksi streptozotocin (STZ) dengan parameter pengukuran kadar glukosa darah puasa (KGDP) dan berat badan. Sebanyak 30 ekor mencit Swiss janlan berat 20 - 30 g dibagi menjadi 6 kelompok (N=5). Kelompok I (kontrol normal) yang tidak diberi perlakuan. Kelompok II (kontrol negatif) diberi STZ dosis 40mg/kgbb secara intra peritoneal selama 5 hari berturut-turut. Keiompok III (kontrol positif) diberi metformin 3,9 mg/20gBB. Kelompok IV;V:VI diberi infusa kangkung darat dosis 44,64mg/20gBB; 89,28mg/20gBB; 178,56mg/20gBB. Kangkung darat diberikan secara p.o selama 7 hari berturut-turut yaitu pada hari ke-13 sampai hari ke-19 seEelah pemberian STZ. Pengukuran KGDP pada hari ke-0 (sebelum pemberian STZ), hari ke-13, hari ke-20 dengan cara diarnbi darah secukupnya melalui ekor mencit Swiss jantan yang sudah dipuasakan sebelumnya dan diukur menggunakan glukotest . Data dianalisis dengan analysis of covarian (ANCOVA) dan analysis of varian (ANOVA) (p=0:05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat badan mencit diabetes rata-rata mengalami kenaikan dibandingkan kelompok kontrol normal sebesar 0,2g/hari dan mencit Swiss jantan mengalami penurunan KGDP setelah diberikan infusa kangkung darat (Ipomea reptans P.) dosis 44,64mg/20gBB; 89,28rng/20gBB; 178,56mg/20gBB sebesar 21,27%; 34,44%: 31,18%.
EVALUASI TATALAKSANA PENGOBATAN MALARIA PADA ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP RS DR. H. CHASAN BOESOIRIE TERNATE TAHUN 2005 Badryah Abbas; Zullies Ikawati; Mustofa Mustofa
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 7 No. 1 (2010)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia dan menjadi endemis di hampir semua wilayah luar pulau Jawa - Bali. Provinsi Maluku Utara merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan kasus malaria cukup tinggi. Berdasarkan laporan tahunan Sub.Din P2M Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara tahun 2005, menunjukkan bahwa ditemukan 4.967 kasus malaria dengan 1.938 positif P. falciparum, 3.004 positif P. vivax, dan 25 positif P. malariae. Dari jumlah kasus tersebut di atas, terdapat 60,5% diderita oleh anak dan merupakan tingkat kematian terbesar pada anak. Standar pengobatan malaria telah ditetapkan oleh Depkes R.I. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tatalaksana pengobatan malaria pada anak dan tingkat keberhasilannya diinstalasi rawat inap Rumah Sakit Dr. H.Chasan Boesoirie Ternate selama tahun 2005. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian potong lintang dilakukan melalui penelusuran data secara retrospektif terhadap rekam medik pasien malaria yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Dr. H. Chasan Boesoirie Ternate selama kurun waktu Januari hingga Desember 2005. Penelitian inimelibatkan seluruh kasus malaria yang memenuhi kriteria inklusi. Penilaian kesesuaian penggunaan antimalaria menggunakan standar pengobatan malaria dari Departemen Kesehatan 2003. Analisis data dilakukan secara dekskriptif untuk mengidentifikasi kasus malaria anak, penggunaan antimalaria, dan keberhasilan terapi antimalaria pada kasus malaria anak berdasarkanhasil pemeriksaan parasitologi. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 560 kasus malaria pada anak, yang terdiri dari malaria klinis 220 kasus (39,29%), malaria falciparum sebanyak 285 kasus (51,06%), dan malaria vivax sebanyak 51 kasus (9,11%). Kasus malaria terbanyak yaitu pada kelompok usia 1 - 4 tahun sebanyak 270 (48,21%). Penggunaan terapi antimalaria pada anakterbanyak yaitu menggunakan kina i.v sebanyak 34,64%. Ketidaksesuaian penggunaan antimalaria terbanyak terjadi pada kasus malaria klinis (26,96%). Keberhasilan penggunaan antimalaria berdasarkan hasil pemeriksaan parasitologi terjadi pada 288 kasus (84,7%). 
QUALITY OF NON-STEROIDAL ANTI-INFLAMMATORY DRUGS PRESCRIBING FOR OUTPATIENT AT A PRIVATE HOSPITAL IN CENTRAL OF JAVA Saepudin Saepudin; F. Jatmiko; Vitarani DA. Ningrum
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 7 No. 1 (2010)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat antiinflamasi non-steroid (AINS) banyak digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit yang melibatkan proses inflamasi dan merupakan grup terbesar dari agen farmasetik yang digunakan secara luas di seluruh dunia. Beberapa studi telah melaporkan bahwa komplikasi pada saluran pencernaan merupakan reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) yang paling sering terjadi terkait penggunaan AINS. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas peresepan obat golongan AINS untuk pasien rawat jalan di salah satu rumah sakit. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel data peresepan obat selama satu tahun, yaitu selama periode 1 Juli 2006 sampai 30 Juni 2007. Data penggunaan obat golongan AINSdikumpulkan dari catatan penggunaan obat di instalasi farmasi rumah sakit meliputi jenis obat, bentuk sediaan, kekuatan, serta jumlah penggunaan. Pengukuran kuantitas penggunaan obat AINS dilakukan dengan menggunakan satuan unit DDD (Defined Daily Dose) yang dinyatakan dalam DDD/1000 kunjungan pasien rawat jalan (KPRJ). Kualitas peresepan obat AINS diukurberdasarkan kriteria keamanan relatif obat AINS terhadap saluran pencernaan yang dianalisis berdasarkan data kuantitas penggunaan obat AINS menggunakan metode Drug Utilization 90% (DU90%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan AINS yang digunakan meliputi 7 jenis dengan 22 nama dagang. Kuantitas AINS yang digunakan adalah sebesar 182,5 DDD/1000kunjungan pasien, yang artinya adalah setiap pasien mendapatkan AINS sebesar 1,8 DDD. Jenis AINS yang termasuk dalam segmen DU90% adalah asam mefenamat (62,8%), ketorolak (15,4%), ketoprofen (8,6%), dan diklofenak (8,5%). Berdasarkan tingkat keamanan obat golongan AINS terhadap saluran pencernaan, kualitas peresepan obat golongan AINS untuk pasien rawat jalan di rumah sakit ini sudah cukup baik, karena AINSs yang digunakan sebagian besar merupakan AINS dengan risiko moderat dan rendah terhadap gangguan saluran pencernaan, yakni asam mefenamat dan diklofenak dengan persentase penggunaannya sebesar 71,3%. 
KARAKTERISASI DISPERSI PADAT IBUPROFEN-SSG (Sodium Starch Glycolat) DENGAN TEKNIK KNEADING Bambang Hernawan Nugroho; Shinta Dewi; Yandi Syukri
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 7 No. 1 (2010)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibuprofen merupakan Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS). Salah satu permasalahan yang dimiliki oleh ibuprofen ialah ibuprofen praktis tidak larut dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan ibuprofen dalam sistem dispersi padat dengan teknik kneading. Dispersi padat dengan teknik kneading dan campuran fisik disiapkan dengan perbandingan ibuprofen-Sodium Starch Glycolate (SSG) 1:1, 1:2, 1:3, dan 1:4 b/b. Dispersi padat dengan teknik kneading disiapkan dengan pembuatan pasta menggunakan pelarut air dan etanol 96%, yang kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 500C selama 24 jam. Interaksi dispersi padat dianalisis dengan spektrofotometer inframerah, dan uji disolusi dilakukan dengan metode keranjang dengan medium disolusi berupa dapar fosfat pH 7,2 dengan kecepatan putar 100 rpm pada suhu 37° ± 0,5°C selama 60 menit. Karakterisasi dispersi padat dilakukan berdasarkan uji spektrofotometri inframerah, uji disolusi, dan uji ukuran partikel. Parameter uji disolusi yang digunakan pada penelitian ini adalah Dissolution Efficiency (DE10, DE30, dan DE60). Data yang didapatkan dari uji tersebut dianalisis secara statistik menggunakan one way ANOVA dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil uji spektra inframerah menunjukkan bahwa ada pergeseran dalam spektra dari dispersi padat maupun campuran fisik. Hasil tersebut menandakan adanya interaksi antara ibuprofen dan SSG. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa peningkatan jumlah SSG sebagai pembawa dapat menurunkan kelarutan dispersi padat dengan teknik kneading. Untuk campuran fisik, peningkatan jumlah SSG dapat meningkatkan kelarutan sampai level tertentu, dan selanjutnya mengalami penurunan kelarutan. Hasil uji disolusi terbaik diperoleh dari formula campuran fisik 1:1, dengan selisih nilai DE60 sebesar 12,23 dibandingkan dengan ibuprofen murni.

Page 1 of 1 | Total Record : 6