cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 2 (2008)" : 4 Documents clear
KOMPETENSI KONSELOR DALAM ERA BARU LAYANAN KONSELING CYBERCOUNSELING Totok Purwanto, ; Budi Purwoko,
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Dunia Cyber saat ini dan masa akan datang akan makin menghiasi perwajahan seluruh aspek kehidupan. Segala keunggulan yang takterbandingi dari dunia maya, telah membentuk pola gaya hidup dan gaya kerja para profesional abad informatika ini. Dunia konseling dituntut menyambut pola hidup baru ini dengan model layanan yang lebih relevan zaman, yang berwujud cybercounseling. Cybercounseling akan menjadi tuntutan profesionalisasi konselor melalui pelayanan yang cepat dan tanpa batas. Diperlukan kompetensi konselor dalam mengemas konseling dengan teknologi komputer melalui jaringan internet bagi konseli web-browser. Lembaga pendidikan tinggi pencetak konselor perlu meregulasi kurikulum agar menyokong  pemenuhan kompetensi konselor dalam memangku layanan cybercounseling secara profesional   Kata Kunci: cybercounseling, kompetensi konselor
KOMPETENSI KONSELOR DALAM KONSELING MULTIKULTURAL Budi Purwoko,
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persoalan intervensi konseling yang sesuai budaya konseli adalah persoalan yang urgen, ketika konseling dihadapkan pada dilema keberagaman budaya, tuntutan ketepatan intervensi yang menghargai perbedaan budaya, dan untuk tidak memusatkan proses konseling pada kultur tertentu. Teori-teori konseling konvensional lahir dan dikembangkan oleh orang-orang barat kulit putih, kelas ekonomi menengah, dan berlatar pendidikan tinggi. Oleh karena teori-teori konseling itu tidak steril dari budaya pencetusnya, maka tidak cukup etis jika dengan apa adanya teori-teori itu diadopsi sebagai intervensi dalam budaya yang berbeda. Penerapan konseling yang tidak berorientasi budaya konseli merupakan pengabaian tata nilai pribadi konseli yang tumbuh dan dibesarkan dalam budayanya yang telah menjadi jati diri. Perbedaan budaya telah merekomendasikan konseling agar mempertimbangkan pentingnya pendekatan yang sesuai serta menjunjung tinggi budaya dan pribadi konseli. Diperlukan kompetensi konselor dalam aspek pengetahuan, sikap, dan ketrampilan berdasar karakteristik dimensi-dimensi mutikultural agar konseling mangkus diterapkan pada konseli dengan beragam budayanya masing-masing.
POTENSI SPIRITUAL DALAM HUBUNGAN KONSELING Tamsil Muis,
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mencoba membaca peluang tentang bagaimana memanfaatkan potensi spiritual Klien dan Konselor dalam hubungan konseling. Potensi spiritual dimaksud, terutama dipandang dari sisi Islami yang bersumber dari Al-QurÂ’an dan Hadis, sebagai pedoman hidup manusia Muslim.
SPIRITUAL-EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUEI (SEFT) Bambang Hidup Mulyo,
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

peluang penerapan spiritual-emotional freedom technique (SEFT) sebagai model terapi dalam bimbingan konseling di sekolah. SEFT memandang manusia sebagai makhluk spiritual yang mempunyai pengalaman duniawi, bukan sebagai makhluk duniawi yang memiliki pengalaman spiritual. Tujuan teknik ini  adalah untuk menolong orang yang mengalami penderitaan psikis maupun fisik. Prosedur yang ditempuh melalui tiga tahap, set up, tune in, dan tapping. Sejajar dengan relaksasi, dianetik, maupun asosiasi bebas, penulis menyimpulkan bahwa SEFT dapat diterapkan konsenlor dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah

Page 1 of 1 | Total Record : 4