cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Teknika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 7, No 1 (2006)" : 8 Documents clear
Pengaturan Kapasitas Pembangkit Termal Saat Terjadi Gangguan Beban Minimum Menggunakan Metode Unit Commitment Gatot Widodo,
Teknika Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paper ini mengajukan sebuah metode unit commitment untuk menyelesaikan masalah pengaturan kapasitas pembangkit termal saat terjadi gangguan beban minimum. Dalam sistem tenaga kondisi beban minimum adalah kondisi di mana permintaan  melebihi kebutuhan, dalam industri dikenal sebagai periode beban minimum.Pada prosedur unit commitment, pengaturan kapasitas pembangkitan awal unit-unit yang disediakan untuk menanggung beban pada periode studi dilakukan dengan penjadwalan ekonomis dengan pendekatan iterasi lambda. Kemudian dilakukan proses optimasi dengan Program Dinamis berdasarkan kriteria ekonomis untuk memproleh pengaturan kapasitas unit-unit pembangkit termal yang  feasible.Pengaturan kapasitas pembangkitan dilakukan dengan cara simulasi yang menggunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 5.0. Simulasi yang dilakukan dengan prosedur unit commitment, menghasilkan kombinasi pengaturan kapasitas (penjadwalan) pembangkit termal pada kondisi beban minimum yang relatif feasible, sehingga diperoleh penghematan pembangkitan yang  signifikan. This paper proposed a unit commitment method to solve scheduling problem of thermal power generation at minimum load condition. In power system minimum load condition is a condition when supply beyond demand, in industrial case it is known as minimum load period because minimum load.In unit decommitment procedure, an early shceduling of units available to cover the demand in study period is economic dispatch with lambda iteration procedure. And then be use decommitment method with dynamic programming based on economical criteria to get a feasible scheduling of thermal power generation units.The simulation result from applied unit decommitment procedure gives relative feasibilities in combination scheduling of minimum load condition and computation of operational cost.
Perancangan Mesin Press Kedelai Menggunakan Programmable Logic Controller (PLC) Yosia Daniel,
Teknika Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada dunia otomatisasi kini banyak dipakai kontrol otomatik dengan pengontrol logika yang dapat diprogram yang disebut dengan Programmable Logic Controller (PLC). PLC adalah komputer yang dirancang untuk penggunaan mesin-mesin industri yang telah menjadi standard untuk pengendali relai yang ada sebelumnya yang masih bersifat konvensional, tetapi mengambil alih banyak fungsi kontrol tambahan yang lebih komplek dan fleksibel. Tidak seperti komputer, pengontrol ini telah dirancang untuk bekerja pada lingkungan industri dan dilengkapi dengan input/output khusus dan pengendali bahasa pemrograman.Pemanfaatan PLC sebagai kontroler untuk mesin press kedelai sebagai bahan pembuat tahu, mudah direalisasikan dari pada dengan cara lain yang memerlukan sensor dengan alur program yang rumit. Dengan menggunakan PLC hanya perlu memprogram sistem dengan logika program yang cukup mudah. Perancangan mesin press kedelai ini sangat besar manfaatnya bagi industri pembuat tahu, di mana mesin press yang ada masih menggunakan cara konvensional, sehingga peralatan kontrol di industri menjadi lebih efisien, praktis dan meningkatkan produksi. On  industrial control field, Programmable Logic Controller (PLC), is most widely used recently because of its capability in controlling relay for industrial machine and is offer low cost in operation and maintenance. As controlling device, PLC had been designed for industrial product and process environment and completed with Input/Output port.One of application of PLC is in soybean press machine whichproducing tofu found easier that another controlling device. Pressing soybean machine controlling by PLC in tofu producing industry replacing conventional tofu producing machine gives satisfied result, namely, more efficient, more practice and increasing tofu product.
Uji Kualitas Jenis Bahan Gelas Terhadap Kerusakan Cacat Produk Triyanto, ; Slamet Riyanto,
Teknika Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pengujian bahan atau  kontrol kualitas  adalah bagian penting  dari kegiatan proses produksi. Produk akan bagus apabila telah melalui proses pengujian bahan. Keuntungan dengan dilakukan proses pengujian produk yaitu perusahaan akan lebih produktif,  efektif dan efisien, dan lebih ekonomis. Perlunya dilakukan uji produk ini adalah untuk mengetahui terjadinya atau timbulnya cacat – cacat yang tampak maupun tidak tampak secara visual. Masalah yang sering dihadapi oleh sebagian besar industri yaitu jika produk yang dihasilkan berkapasitas atau mencapai volume besar, sehingga memerlukan penanganan dan  rencana  uji kualitas produk secara akurat. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi uji kualitas produk sehingga hasil produk akan memiliki mutu yang bagus antara lain : (1) Alat uji yang digunakan, (2) metode yang digunakan, (3) manusia yang mengoperasikan, (4) lingkungan pendukung, dan (5) materialnya yang diuji. Oleh karena itu bila ingin memeroleh hasil produk yang bagus minimal kelima kriteria itu dapat dipenuhi, akan lebih bagus diusahakan secara optimal.Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan didukung data angka-angka atau persentase. Populasi dalam penelitian ini adalah  jumlah produk botol yang mengalami cacat visual loading marks yang terjadi pada bulan Maret, April, dan Mei tahun 2000 yaitu sebesar 401.638 botol, sedang sampel diambil sejumlah produk botol  yang mengalami cacat visual loading marks pada mesin cetak II.1 sejumlah 135.252 botol.Hasil penelitian menyatakan banyak terjadi cacat visual loading marks pada mesin cetak II.1 yang diakibatkan karena alat dan metode penggunaannya yaitu sebesar 42,32 %.  Saran yang perlu diperhatikan adalah, diusahakan perlunya dibuatkan standarisasi  atau prosedur kerja yang lebih baik, perlunya inspeksi secara teratur, berkala, dan  menggunakan metode pengendalian mutu dengan cara penggunaan alat-alat yang benar-benar akurat.    Material testing or quality control is an essential part of production process. Product will be good if it has passed material testing or has been manufactured accurately. The benefit of applying the test is that the company will be more productive, effective, efficient, and more economical. The test is necessary to know the occurrence or the appearance of failure whether it can be seen visually or not. The problems which are often faced by most industry is when the yielded product has big capacity or achieve big volume so that requires accurate product quality testing plan and conduct. The factors which influence product testing to gain high quality product are the: (1) equipments, (2) applied method, (3) operators, (4) supporting environment, and (5) tested material. Therefore, wanting to yield good product means that the five criteria should be available, and it will be a lot better if the criteria is provided optimally.The method which is employed in this research is descriptive qualitative which is supported by numeric data or percentage. The population of the research is the number of bottle products which fail on visual loading marks in March, April and May 2000 that is 401,638 bottles, in which 135,252 bottles of the printing machine II.1, which carry visual loading marks failure, are taken as the sample. The research finding is that many visual loading marks failures in printing machine II.1 as the result of the equipment and the using method is as many as 42,32%. The suggestions to be paid attention are it is important to make a standard or better working procedures, conduct regular and periodical inspection, and use quality control method by using precisely accurate equipments.
Korelasi Pengelasan Permukaan Poros St 60 Dengan Peningkatan Nilai Kekerasan Permukaannya Yunus, ; Eko Santoso,
Teknika Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini ingin mengungkap korelasi antara pengelasan permukaan   dengan peningkatan nilai kekerasan permukaan poros St 60. Pengelasan permukaan dilakukan pada seluruh permukaan keliling poros dengan menggunakan las listrik yang selanjutnya didinginkan dalam udara bebas. Proses tersebut diharapkan dapat merubah struktur bahan sehingga kekerasannya meningkat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu.  Uji kekeraskan dilakukan terhadap spesimen sebelum dan sesudah dilakukan pengelasan permukaan. Data hasil penelitian dianalisis dengan metode analisis deskriptif kuantitatif dan analisis korelasi product moment rumus angka kasar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada peningkatan nilai kekerasan yang cukup tinggi setelah dilakukan pengelasan permukaan, yaitu dari 42,2 HRC sebelum dilas menjadi 48,8 HRC setelah dilas, (2) pengelasan dengan variasi arus 70, 90 dan 110 amper mempunyai korelasi rxy =-0,195 yang tidak signifikan terhadap peningkatan nilai kekerasan poros St 60. Besarnya nilai kekerasan secara berurutan 49,9 HRC, 47,9 HRC dan 48,8 HRC, dan (3) pengelasan dengan arus 70, 90 dan 110 amper mempunyai korelasi negatif  dan signifikan terhadap peningkatan nilai kekerasan poros St 60. pada kedalaman 1 mm, 2 mm, 3 mm dan 4 mm.  Besarnya nilai korelasi adalah rxy 70 amper = -0,757, rxy 90 amper = -0,724, dan rxy 110 amper = -0,835. The purpose of the experiment is to know the correlation between surface welding with surface hardness  value on shaft St 60. Welding of the surface us done to whole’s surface  round axis using electrical welding at open air environment. This process is purposed to change stuff main structure so that the hardness value increases.The method which will be used for this experiment is experiment method. The test is conducted to specimen  before and after surface welding process. The data will be analysed by quantitative descriptive analysis method and crude number formula moment product correlation technique analysis.The result of the experiment are (1) show there is significant increase in hardness surface value after conducting surface welding technique. The numbers range from 42,2 HRC up to 48,8 HRC after welding surface. (2) The welding with current variations 70,90 and 110 ampere has rxy=-0,195 which is not significant toward the increase of the shaft St 60 hardness value. The hardness value are 49,9 HRC, 47,9 HRC, and $8,8 HRC respectively, and (3) Welding with 70, 90, and 110 ampere current has negative correlation and significant toward the increase of shaft St 60 hardness value in depth 1 mm, 2 mm, 3 mm, and 4 mm. The number of correlation value is rxy 70 ampere=-0,757, rxy 90 ampere=-0,724, and rxy 110 ampere=-0,835. The negative correlation indicates that the deeper the position, the lower the hardness value.
Perilaku Lentur Struktur Balok Komposit Beton Suprapto,
Teknika Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tegangan pada penampang balok beton bertulang dibagi menjadi daerah tekan dan daerah tarik. Dalam perencanaan daerah tekan diterima oleh beton dan daerah tarik sepenuhnya diterima oleh tulangan, dan kekuatan tarik beton diabaikan. Dalam rangka efisiensi bahan, maka secara logika daerah tarik dapat dibuat mutu beton yang lebih rendah dibanding dengan mutu beton daerah tekan. Sehingga struktur balok beton bertulang tersebut dapat dibuat komposit beton, dengan membedakan mutu beton pada daerah tarik dan daerah tekan. Pada kesempatan ini akan dibahas pengaruh komposit beton tersebut pada perilaku lenturnya. Penelitian dilakukan dengan membuat benda uji balok beton dengan memanipulasi perbandingan penampang daerah tekan, yang menggunakan mutu beton lebih tinggi dan daerah tarik yang menggunakan mutu beton lebih rendah. Untuk mengamati perilaku lentur, juga dibandingkan dengan balok beton yang mempunyai penampang seluruhnya mutu tinggi dan seluruhnya mempunyai mutu rendah. Selain mengamati perilaku lentur juga ingin dipelajari sumbangan kekuatan tarik beton pada daerah tarik, yang selama ini diabaikan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin besar daerah mutu beton tinggi, kekuatan lentur semakin besar, dan semakin besar pula kekuatan menahan lendutannya, sehingga jika dibandingkan dengan balok yang mempunyai penampang mutu rendah semua, lendutan balok penampang komposit lebih tinggi, namun dibanding dengan balok beton yang mempunyai penampang mutu tinggi, lendutan balok penampang komposit lendutannya lebih rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuatan tarik beton juga memberi sumbangan pada kekuatan tarik baloknya, yang ditunjukkan dengan peningkatan kekuatan lentur yang cukup besar antara balok yang berpenampang komposit dan balok yang berpenampang mutu tinggi. Tension in section of reinforced concrete of beam divided to depress area and interesting area. In the plan depress area to be accepted by interesting area and concrete is fully accepted by bone, and interesting strength of concrete disregarded. In efficiency to materials, hence logically interesting area can be made by quality of lower concrete compared to with quality of area concrete depress. So that the reinforced concrete of beam structure can be made is composite of concrete, by differentiating quality of concrete at interesting area and depress area. This opportunity will be studied by composite influence of the concrete at flexure behavior. Research done by making speciment of concrete beam with manipulation comparison of saction of depress area, using quality of higher concrete and interesting area which use quality of lower concrete. To perceive flexurer behavior, is also compared to concrete beam having saction entirely high quality and entirely have low quality. Besides perceiving flexure behavior also wish to be studied by interesting strength contribution of concrete at interesting area, is which during the time disregarded. The result of research indicate that ever greaterly of area quality of high concrete, ever greater flexure strength, and ever greater also strength arrest, so that in comparison with beam having saction of low quality all, deflection of saction higher composite, is but compared to with concrete beam having saction of high quality, deflection of saction composite of lower. This condition indicate that interesting strength of concrete also give contribution at interesting strength of beam, posed at with make-up of big enough flexure strength of beam which is composite saction and beamg which is high quality saction.
Kuat Lekatan Baja Tulangan Dalam Beton Pada Temperatur Tinggi Andang Widjaja,
Teknika Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang kuat tekan beton dan kuat  lekatan baj tulangan beton polos maupun ulirdengan metode pull out dan semi beam. Benda uji dipanaskan dalam tungku baker dengan kenaikan suhu 100°Cdari suhu kamar hingga suhu 1000°C selam 4 jam sebagaimana dalam ASTM E 113. Dan diikuti dengan penyiraman sesaat setelah keluar dari tungku pembakar hingga suhu kamar. Dimensi benada uji terdiri atas silinde berdiameter 150 mm dan tingg 300 cm, kubus 150x150 mm3 dengan baja tulangan beton polos atau ulir yang ditanamkan, serta prisma ukuran 150x150x300mm3 dengan 2 baja tulangan polos maupun ulir yang ditanamkan di tengahnya.Bahan beton berasal dari local. Rencana pencampuran bahan beton denga kualitas 20 MPa. Pencampuran dengan mesin pencampur. Hasil  pengujian menyatakan bahwa kuat tekan beton 22,89 MPa pada suhu ruang. Kuat tekan meningkat 5% setelah terbaka pada suhu 200°C. Kemuddian menurun menjadi 40%, dan sampai 85% dari control setelah terbakar pada suhu 300°C hingga 1000°C. Kuat tekan beton setelah terbakar pada suhu 200°C diikuti dengan penyiraman dengan air memiliki kuat tekan 110% dari control, setelah itu menurun menjadi 96%-70% setelah terbakar suhu 500°C dan kuat tekan hanya tersisa 20% setelah terbakar suhu 1000°C.  Kuat lekatan baja tulangan beton polos dengan benda uji pull out sebesar 2,12 MPa pada suhu ruan. Setelah pembakaran suhu 100-500 menjadi 90%-51% dari control(2,12 MPa) dan makin menurun hingg 4%5-13% setelah mencapai suhu 600-1000. Kuat lekatan tulangan baja ulir lebih besar 70% daripada baja polos. Kuat lekatan tu;angan baja ulir menjadi 62% setalah pembakaran suhu 500, dan 31% setelah mencapai 1000. Kuat lekatan baja tulanga sisi atas dengan metoda semi beam,  1,72 MPa dan 2,43 MPa untuk tulangan di bawah. Akibat pembakaran 100°C -500°C kuat lekatan dengan metodasemi beam menjadi 45% setelah terbakar suhu 500, dan tersisa 15% setelah terbakar suhu 1000°C. Kuat lekatan tulangan setelah terbakar sisi bawah hampir memiliki nilai yang sama dengan sisi atas.   This paper discusses about bonding strength of reinforcing concrete steel bar at elevated temperature followed by air and water sprayed cooling. Specimens were either taken from concrete specimen that was subjected to heating of controlled temperatures in artificial furnace for 4 hours (ASTM E 113) and cooling by water spread suddenly after that. The specimen dimension were cylinder of 15 cm in diameter and 30 cm in high, cubical of 150 x 150 x 150 mm3 with steel bar embeded,  prism of 150 x 150 x 300 mm3 with steel bar embedded. They were designed on mix concrete of 20 MPa. The result showed that the compressive strength was 22.89 MPa. It was increase about 5% after heated at 200°C, then it were decreased to 40% to 85% up to 300°C till 1000°C. The compressive strength of heated concrete specimen then cooling by spead water cooling were about 110% after heated at 200°C, 96% to 70% after heated at 300°C to 500°C, and the residu compressive strength of 20% at temperature of  1000°C. The bonding strength of reinforcing steel bar of pull out method at room temperature was 2.12 MPa. Then they were decreased to 90%-51% after heated at 100°C to 500°C, and 43%-13% of control at temperature of 600°C to 1000°C. The bonding strength of reinforcing deform steel bar at room temperature was greater 70% than commonly reinforcing steel bar. The bonding strength of reinforcing deform steel bar were decreased to 62% after heated at 500°C, and 31% of control at temperature of 1000°C. Another method of bonding strength test were also taken. The bonding strength of reinforcing steel bar of semi beam method at room temperature was 1.72 MPa for upper side, and 2.43 MPa for lower side. The bonding strength of semi beam method specimens after heated at 500°C,  1000°C were 45% and 15% of controll. They were weakly as specimen of semi beam method for lower side.
Model Pengendalian Tarikan Dan Bangkitan Lalu-lintas Di Sekitar Pasar (Mall) (Studi Kasus Golden City Mall, DTC, Pasar Tambak Rejo) Dadang Supriyatno,
Teknika Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam rangka penataan transportasi kota dengan memperhatikan keterbatasan lahan yang ada, berupaya untuk meminimumkan permasalahan lalu lintas yang ada perlu adanya penyusunan Model Tentang Pengendalian Tarikan dan Bangkitan Lalu Lintas di Sekitar Pasar (Mall), sebagai bahan acuan dalam mengatur kelancaran arus lalu lintas dan Analisis Dampak Lalu Lintas yang ditimbulkan. Pengendalian Bangkitan Lalu Lintas merupakan suatu hal yang sangat mendesak untuk segera dilakukan pada daerah pembangunan baru maupun yang diperkirakan dapat memberikan dampak lalu lintas pada jaringan jalan yang ada. Hal tersebut sangat dibutuhkan sebagai pendukung pelaksanaan manajemen dan rekayasa lalu lintas, sehingga dapat mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang selamat, aman, cepat, lancar, tertib, aman, nyaman, efisien dan teratur. In order to settlement of town transportation by paying attention to land limitation, coping for the minimization of existing traffic problems need the existence of compilation Model About Attraction Operation and Awaken the Traffic of around Market ( Mall), upon which reference in arranging fluency of traffic current and Analyse the generated Traffic Impact. Operation Awaken the Traffic represent at very urgent matter to is immediately done/conducted at new development area and also estimated can give the traffic impact of at existing road;street network. The mentioned very required by as supporter of execution of management and rekayasa traffic, so that can realize the traffic and transportation of safe road;street, peaceful, quickly, fluent, orderly, peaceful, balmy, regular and efficient.
Daya Tampung Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Benowo Untuk Sampah Masyarakat Kota Surabaya Titiek Winanti,
Teknika Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah sampah di setiap tempat akan bertambah terus seirama dengan pertambahan penduduk dan kemajuan peradabannya. Semula Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA) Surabaya ada di Desa Keputih Kecamatan Sukolilo Surabaya Timur. Namun sejak Oktober tahun  2001 masyarakat setempat menolak kedatangan sampah sehingga dengan situasi agak tergesa Pemerintah Kota  Surabaya mencari dan segera menetapkan lahan seluas kurang lebih 26 hektar di Kecamatan Benowo, yang merupakan batas dengan Kabupaten Gresik, sebagai penggantinya. Pengelolaan sampah di TPA Benowo seterusnya diserahkan kepada Dinas Kebersihan kota Surabaya. Pertanyaannya sampai kapan sampah Kota Surabaya bisa ditampung di TPA Benowo? Selama ini data volume sampah yang masuk ke TPA masih simpang siur.  Dalam kajian ini dilakukan penghitungan volume sampah berdasarkan jumlah armada (truk) yang masuk, yang datanya tercatat di bagian administrasi TPA Benowo.Hasil kajian mengungkapkan bahwa TPA Benowo bisa menampung sampah kota Surabaya sampai tahun 2009 dengan tinggi tumpukan sampah sekitar 20 meter di atas jalan. Dengan demikian tahun 2010 harus sudah siap lahan baru sebagai penggantinya. Penimbunan sampah di TPA dilakukan dengan open dumping setiap tebal sampah 4 meter ditutup dengan campuran kapur dan tanah (cover soil) tebal 30 cm. The volume of garbage every where will increase corelatted with population increase and modernity. From the beginning open dumping land (TPA) of Surabaya city at Sukolilo. However on Oktober 2001 the local people parry all of garbage. So that in the short time Surabaya Government decided  that the new open dumping land at Benowo width thereabouts 26 hectars, where to border on Gresik regency.Surabaya Government holds the Head of  Cleaning responsible for garbage management . The question in this study,   how long time the Surabaya’s garbage was  cought by Benowo open dumping land? In this study, the volume of garbage was calculate by  the number of truck  was into the land.  Result of this study expressed that Benowo open dumping area could already catch all of Surabaya’s garbage until 2009, therefore Surabaya Government have to prepare another land for garbage open dumping land on 2010.

Page 1 of 1 | Total Record : 8