cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal KALAM
ISSN : 08539510     EISSN : 25407759     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
KALAM (ISSN 0853-9510; E-ISSN: 2540-7759) is a journal published by the Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic University of Lampung, INDONESIA. KALAM published twice a year. KALAM focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Theology, and Mysticism. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by Kalam will review by two peer review through a double-blind review process. KALAM has been accredited by The Ministry of Research, Technology, and Higher Education, the Republic of Indonesia as an academic journal (SK Dirjen PRP Kemenristekdikti No. 1/E/KPT/2015).
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2012)" : 10 Documents clear
EKSISTENSI TUHAN DAN AGAMA DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT KONTEMPORER Yusuf, Himyari
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.404

Abstract

Kajian ini membahas perspektif masyarakat kontemporer terhadap eksistensi Tuhan dan Agama dan kaitannya dengan kehidupan praktis manusia. Pembahasan menggunakan pendekatan filosofis atau filsafat ke-Tuhanan dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman secara menyeluruh dan mendasar terhadap hakikat keber-Tuhanan dan keberagamaan masyarakat dewasa ini. Eksistensi Tuhan dan agama selalu menjadi perbincangan bahkan menjadi perdebatan sepanjang sejarah umat manusia. Perdebatan yang tak kunjung selesai itu telah melahirkan berbagai pandangan yang satu dengan lainnya sangat berbeda bahkan bertentangan. Fakta belakangan ini menunjukkan bahwa secara teologis ada yang bertuhan dan beragama hanya pada tataran teoretis tapi tidak dalam tataran praktis (atheisme praktis/sekularisme), ada yang berlindung di balik ketidak mampuan atau kemustahilan manusia mengetahui Tuhan (agnotisisme) bahkan ada yang sama sekali mengingkari Tuhan dan agama baik secara teoretis maupun praktis (atheisme).
PEMIKIRAN LUDWIG WITTGENSTEIN TENTANG EKSISTENSI TUHAN Listiana, Anisa
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.405

Abstract

Tulisan ini mengkaji pemikiran Ludwig Wittgenstein tentang eksistensi Tuhan. Pokok masalah difokuskan pada upaya mengungkap bagaimana seting historis Witgenstein, bagaimana pemikirannya dan implikasi pemikirannya. Kajian ini menggunakan pendekatan historis filosofis, dengan tujuan untuk mengidentifikasi konsep pemikiran Witgenstein tentang eksistensi Tuhan berikut historisitas pemikirannya. Dalam usahanya mengetahui Tuhan, Witgenstein menggunakan pendekatan filsafat bahasa. Witgenstein beranggapan bahwa setiap hal yang dipikirkan harus pula dapat diucapkan. Ketika kita berbicara tentang bahasa sebagai ekspresi pengucapan pikiran, demkian Wittgenstein, maka pembatasan bahasa juga berarti pembatasan pikiran. Dari sini ia kemudian melihat bahwa pengalaman mistik merupakan pengalaman yang hanya dapat ditunjuk dan dialami, tetapi kita tidak bisa berbicara tentangnya karena bahasa kita sendiri juga sifatnya terbatas. Sesuatu yang berbau metafisika, seperti Tuhan menurutnya adalah mistik dan tidak perlu ditafsirkan, karena Tuhan bukanlah obyek fisik yang terbatas, Tuhan bukanlah sebuah nama barang, Tuhan merupakan semangat dan bukan fisik. Pemikiran Witgenstein semacam ini pada gilirannya telah melahirkan aliran positivisme logis.
Sekularisasi Dalam Pandangan Harvey Cox Fauzan, Fauzan
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.406

Abstract

Sebagian besar kaum agamawan (ortodoks) memandang sekularisasi sebagai ancaman terhadap eksistensi agama. Namun sebaliknya, Harvey Cox memandang sekularisasi sebagai teologi perubahan sosial yang bertujuan mendobrak kebuntuan agama yang terbelenggu oleh ide “pemeliharaan” dan “kemapanan”. Tulisan ini membahas pandangan Harvey Cox tentang sekularisasi, konsepnya tentang Kota Sekuler (Secular City), dan Tuhan pada masyarakat sekuler. Cox melihat sekularisasi merupakan sebuah keniscayaan sejarah. Sekularisasi merupakan gerakan yang membebaskan manusia dari dogma yang membelenggu kebebasan manusia. Melalui simbol Kota Sekuler, Cox menghadirkan paradigma teologi yang lebih sesuai dengan keadaan masyarakat modern saat ini. Cox melihat bahwa Tuhan sebagaimana yang diajarkan oleh Kristiani –juga agama lain– bukanlah Tuhan yang sebenarnya. Tuhan tak lebih dari sebuah penamaan yang kehadirannya terkadang kosong dan ambigu. Semenjak penamaan dilekatkan dalam lingkungan sosio kultural tertentu, maka kata “Tuhan” tidak suci lagi. Apabila Tuhan dimaknai secara “ketat” dalam ruang tradisi yang berbeda-beda, maka akan terjadi benturan yang terkadang membutuhkan pengorbanan jiwa.
PANENTEISME DALAM PEMIKIRAN TEOLOGI METAFISIK MOH. IQBAL Ja’far, Suhermanto
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.407

Abstract

Panenteisme merupakan salah satu paham tentang Tuhan yang meyakini bahwa alam adalah bagian dari Tuhan. Secara geneologi paham panenteisme merupakan pengembangan idealisme Jerman pada abad ke-19, khususnya pada karya Fichte, Hegel, Schelling, dan dilanjutkan oleh Alfred North Whitehead pada abad 20. Begitu populernya gagasan Panenteisme ini hingga cukup berpengaruh pada pemikiran teologis Iqbal. Tulisan ini membahas tentang paham Panenteisme dalam pemikiran teologi metafisik M. Iqbal. Dalam hal ini Iqbal lebih mengarah pada eksistensi Realitas absolut, sebagai realitas yang sebenarnya dalam hubungannya dengan manusia dan alam. Karena itu, Realitas Ultim, Realitas Diri, Wujud Mutlak atau Ego Mutlak hanya dapat dicapai dengan intuisi. Untuk sampai mengetahui dan memahami Wujud Mutlak, Iqbal bertitik tolak dari intuisi tentang wujud ego manusia yang bergerak pada Realitas Wujud Ego Mutlak. Hanya intuisi, kata Iqbal yang dapat mengungkap Realitas Mutlak atau Wujud Super Ego yang sebenarnya. Hal ini karena kodrat Realitas yang sesungguhnya adalah spiritual.
IDENTITAS DAN KARAKTERISTIK NABI-NABI ISRAEL DALAM PERJANJIAN LAMA Sudarman, Sudarman
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.408

Abstract

Nabi-Nabi Israel banyak dikemukakan Kitab Suci Agama Kristen, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Artikel ini menguraikan konsep kenabian dalam perspektif agama Kristen, terutama dalam Perjanjian Lama. Uraian diawali dengan pemaparan Israel sebagai bangsa, identitas orang pemberani, sosok manusia yang mirip nabi tetapi bukan nabi yang muncul pada bangsa-bangsa sekitar Israel. Tulisan ini juga mengungkap sebutan dan tugas nabi, nabi dan kondisi ekstase, dan nabi dan nubuat. Masing-masing tema yang diuraikan terdiri dari beberapa sub-tema yang dianggap relevan. Nabi-Nabi Israel yang dikisahkan dalam Perjanjian Lama menempati ruang istimewa dalam sejarah kekristenan, bahkan sejarah kenabian Agama Samawi lainnya, seperti Yahudi dan Islam. Keistimewaan para nabi terletak pada status keterpilihannya oleh Tuhan dan panggilan khusus yang diberikan kepada mereka. Seorang nabi memiliki tugas untuk menerima pesan Tuhan melalui wahyu dan menyampaikan pesan tersebut kepada manusia. Nabi adalah orang yang berbicara atas namaTuhan dengan keterlibatan perasaan yang kuat.
Konstruksi Filsafat Sosial al-Mawardi Alwie, Alfoe Niam
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.409

Abstract

Agama diyakini memiliki peran strategis dalam mengembangkan etika sosial, ekonomi dan politik. Dalam konteks ini, Islam tidak hanya dikembangkan di daerah pemikiran spekulatif murni, tetapi juga harus ditempatkan sebagai dasar etika sosial yang digerakkan oleh praksis sosial. Artikel ini membahas pemikiran al-Mawardi tentang filsafat sosial dan teori kontrak sosial. Menurut al-Mawardi manusia adalah makhluk yang paling membutuhkan bantuan pihak lain sehingga interaksi antar mereka menjadi sesuatu yang pasti. Bentuk kontrak sosial yang ditawarkan oleh al-Mawardi adalah kebutuhan manusia untuk membentuk suatu negara. Negara adalah kebutuhan manusia untuk berkumpul dan membangun ikatan antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, pembentukan negara merupakan kontrak sosial atau perjanjian atas dasar sukarela. Keunikan pemikiran al-Mawardi adalah ia menempatkan Allah sebagai poros dalam segenap sirkulasi sosial. Oleh karena itu ia senantiasa menyandarkan segala pemikiran dan beragam konsepsionalnya tentang kehidupan bermasyarakat kepada grand narative Islam itu sendiri yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.
SUBYEKTIVITAS DAN OBYEKTIVITAS DALAM STUDI AL-QUR`AN (Menimbang Pemikiran Paul Ricoeur dan Muhammad Syahrur) Mujahidin, Anwar
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.410

Abstract

Perdebatan antara penggunaan akal (bi ar-ra`yi) dan penggunaan riwayat (bi al-ma`ṡūr) dalam studi al-Qur`an ternyata tidak mampu mengarahkan pemikir Islam kontemporer untuk menemukan metodologi tafsir yang bisa dipertanggungjawabkan. Perdebatan keduanya justru membawa pemikiran Islam jumud dan berkutat pada pertarungan idiologi antar kelompok yang semakin menjauhkan umat dari petunjuk al-Qur`an. Artikel ini membahas tentang pemikiran Paul Recoeur dan Muhammad Syahrur dalam studi al-Qur`an, khususnya tentang isu subyektifitas dan obyektifitas. Paul Ricoeur berpendapat bahwa penafsir tidak perlu terjebak dalam subyektifitas, karena teks memiliki makna obyektif dalam struktur internalnya. Dengan cara itu penafsiran selain akan menemukan makna obyektif teks, juga akan menemukan cakrawala dunia yang di arah oleh teks. Sehingga penafsir meleburkan diri dalam dunia teks dan tidak terjebak dalam kejumudan dan kungkungan masa lalu. Hal itu dipertegas oleh Syahrur bahwa kembali kepada al-Qur`an tidak berarti kembali ke masa lalu. Menafsirkan al-Qur`an adalah menggali pandangan hidup al-Qur`an atau makna dari totalitas struktur al-Qur`an. Makna al-Qur`an juga memberikan acuan kepada dunia kontemporer.
PEMIKIRAN GOLDZIHER DAN AZAMI TENTANG PENULISAN HADIS Isnaeni, Ahmad
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.411

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan pemikiran Ignaz Goldziher disandingkan dengan pemikiran Mustafa Azami, yang akrab dengan studi hadis di Barat. Alasan memilih sosok Goldziher, sebab pemikiran Goldziher dianggap sebagai pioner studi hadis di Barat. Pemikiran hadis Goldziher turut memberi warna secara turun temurun dalam tradisi kajian hadis di kalangan orientalis. Secara umum, sikap para orientalis dalam studi hadis (eksistensi hadis) terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu skeptis, sanguine (non-skeptis), dan middle ground. Dari bahasan ini akan terlihat bagaimana minat yang besar dalam diri Goldziher dan beberapa sarjana Barat lain atas kajian sunnah Nabi saw. Pada sisi lain, Azami turut meramaikan perbincangan tentang hadis dan sunnah Nabi saw. Pemikiran utama Azami adalah untuk menyingkap kelemahan dan kekeliruan sorotan Barat terhadap sunnah Nabi saw. Irama perdebatan yang diikuti oleh Azami dalam arus pemikiran Barat cukup memberi warna, meskipun dari beberapa kalangan Barat, hasil kajian Azami dinilai kurang obyektif dan bersifat apologis.
MENYINGKAP TUHAN DALAM RUANG ‘LOCAL WISDOM’: Upaya Merumuskan Filsafat Ketuhanan Kontemporer Anas, Mohamad
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.412

Abstract

Diskursus tentang Tuhan semestinya harus dilihat dalam sejarah peradaban manusia secara utuh, tidak parsial dan sepotong-potong, dan tidak juga hanya dalam perspektif Barat atau Timur saja. Sebuah peradaban yang mempersempit ruang gerak penalaran yang bersifat instrumental akan menalar Tuhan dengan cara yang sama. Implikasinya, terjadi nihilisme, absurditas, dan bahkan ateisme atas keberadaan Tuhan. Artikel ini membahas tentang konsep ketuhanan dalam ruang lokal wisdom dengan pendekatan filosofis. Dalam pemahaman ‘local wisdom’, menalar Tuhan bukan hanya sekedar menalar an sich dengan membiarkan rasio berjalan sendirian. Ia harus dibarengi dengan potensi-potensi lain seperti rasa, zauq, emosi dan seterusnya, sehingga dalam proses penalarannya berjalan dengan seimbang. Hal ini sebagaimana yang nampak dalam ajaran ketuhanan masyarakat Jawa yang bisa dikategorikan sebagai monoteistik kultural. Penalaran terhadap Tuhan hanya mungkin dan bisa dilakukan jika dalam proses penalaran tersebut manusia melibatkan segala potensi, ruang rasio, ruang zauq, ruang emosi, secara berkelindan dan terkait, serta menyadari lokalitas dan historisitas keberadaan manusia itu sendiri.
PEMBAHARUAN KONSEP KESEPADANAN KUALITAS (KAFAA’AH) DALAM AL-QUR’AN DAN HADIS| Nur, Iffatin
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.413

Abstract

Dewasa ini muncul pemikiran yang berupaya mendekonstruksi konsep Kafa’ah karena dinilai bias dan sudah tidak memadai untuk kondisi masyarakat saat. Padahal, sebagian ulama tradisional menempatkan Kafa’ah pada wilayah sakral, sehingga tidak mungkin didekonstruksi. Artikel ini akan membahas konsep Kafa’ah dalam perspektif al-Qur’an dan Hadis serta implikasinya dalam pernikahan. Kafa’ah mengandung makna seorang calon suami diharapkan sebanding dengan calon istri dalam agama, tingkat pendidikan, status sosial, profesi, keturunan, kemerdekaan, kondisi jasmani-rohani, kekayaan, jabatan; derajat dan sebagainya. Untuk mengembangkan progresifitas egalitarianitas-muslimah di satu sisi dan terhindarnya liberalitas laki-laki di sisi lain, maka ukuran Kesepadanan Kualitas Mempelai (kafa’ah), perlu disederhanakan menjadi dua saja, yaitu; pertama penilaian soal agama, dan yang kedua Hasil Kesepakatan unsur mempelai. Al-Qur’an memberi tuntunan hanya agama yang tidak dapat ditawar-tawar, sedangkan yang lain bersifat relatif. Seharusnya wanita berperan utama dalam menetapkan usulan kriteria kafa’ah selain agama. Ini semua diperlukan sebagai upaya mencapai kemaslahatan, sekaligus untuk mengembangkan progresifitas muslimah..

Page 1 of 1 | Total Record : 10