cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 493 Documents
TAKDIR DAN KEBEBASAN MENURUT FETHULLAH GÜLEN Anang Haderi
Jurnal Theologia Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.381

Abstract

Abstract:Destiny and free will is one of issues in Islamic theology which is still discussed by Moslem theologian up to now. This discussion has yielded some streams with its argumentation respectively. Included who intense to discuss this issue is muḥammad Fethullah Gülen. At a glance, he offers to explain the issue in his own way without following one of the streams. He introduces some key terms, like Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, Formal or Theoretical Destiny, actual destiny. Terms are Gülen’s exclusive. The article will elaborate the explaination of Gülen relating to the destiny and free will. The purpose is to map what is he follows the streams or he has interpretation in himself. For this reason, I will spread out briefly views of theologian before, i.e. these streams of Mu’tazili, al-Asy’arite, Matūridite Samarkand dan Matūridite Bukhārā. By this way it will be seen clearly where is the position of Gülen and what is contribution of his thinking. Abstrak: takdir dan kebebasan adalah isu teologi Islam yang masih diperbincangkan oleh para teolog hingga sekarang. Perdebatan ini telah melahirkan berbagai aliran dengan pen¬dapat¬nya masing-masing. Termasuk yang juga intens mem¬bahas isu ini adalah Muḥammad Fethullah Gülen. Sekilas, ia berusaha menjelaskan isu ini dengan caranya sendiri tanpa mengikuti salah satu aliran tersebut. Ia mengenalkan be¬berapa istilah kunci, seperti Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, takdir formal, takdir teoritis, dan takdir aktual. Istilah-istilah ini merupakan khas Gülen. Tulisan ini akan mengelaborasi penjelasan Gülen mengenai takdir dan ke¬bebas¬an tersebut. Tujuannya adalah memetakan apakah ia mengikuti aliran-aliran teologi yang sudah ada ataukah ia mempunyai pemaknaan sendiri ter¬hadap persoalan ini. Untuk alasan ini, penulis akan me¬mapar¬kan secara singkat pendapat para teolog sebelumnya, yakni aliran-aliran Mu’tazi¬lah, al-Asy’ariyah, Mātūridiyah Samarkand dan Mātūridiyah Bukhārā. Dengan cara ini akan terlihat dengan jelas di mana¬kah posisi Gülen dan apa kontribusi dari pemikirannya itu. Keywords: Imām Mubīn, Kitāb Mubīn, Lauḥ Maḥfūẓ, takdir formal, takdir aktual.
Seyyed Hossein Nasr's Teaching on Sufism and Its Relevance to Modern Society Amir Maliki Abitolkha
Jurnal Theologia Vol 32, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2021.32.1.8069

Abstract

This article examines Seyyed Hossein Nasr's teaching on Sufism and its relevance to modern society. The fact is that the paradigm and lifestyle of modern humans are materialism-oriented. Therefore, they experience a spiritual emptiness that causes anxiety. This study applies the literature approach by collecting various related sources. This study found that Seyyed Hossein Nasr's idea of neo-Sufism can be an alternative paradigm for modern people to free themselves from the threat of materialism and hedonism. The Divine spirit of humans will form spiritual power in the human soul to keep the connectivity between the servant and God. Nasr's teaching on Sufism puts forward the concept of balance and moderation between the life in this world and hereafter, between shari'ah and haqeqat, and between individual and social life.
LIBERASI TEOLOGI DI IRAN PASCA-REVOLUSI: Telisik Pemikiran Abdul Karim Soroush Fahmy Farid Purnama
Jurnal Theologia Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.923

Abstract

Abstract: This paper will discuss the identity struggle and discourse of thought in the Islamic world, especially in the Islamic civilization and culture of Iran. That is, by trying to explain various religio-philosophical discourse presented by Soroush to restore Iranian civilization from an identity crisis, psychological deterioration, to the ontological dislocation that have obscured the authenticity of existential society. This paper will also explain why Soroush calls for new directions in theology and Islamic political discourse, particularly in Iran, which is supported by various philosophical discourse. By involving the philosophy of science (epistemology) in understanding human religiosity, Soroush philo­sophical thought also necessitates a new perspective of looking at reality, both the reality of individual, social, or global.Abstrak: Tulisan ini akan mengurai pergulatan identitas dan wacana pemikiran di dunia Islam, khususnya di kancah peradaban dan kebudayaan Iran. Yaitu de­ngan berusaha menjelaskan pelbagai wacana filsafat-keagamaan yang di­ketengah­kan Soroush untuk memulihkan peradaban Iran dari krisis identitas, keterpurukan psikologis, hingga dislokasi ontologis yang telah mengaburkan otentisitas eksistensial masyarakatnya. Tulisan ini juga akan menjelaskan mengapa Soroush menghendaki adanya arah baru dalam diskursus teologi dan politik Islam, khususnya di Iran, yang ditopang oleh pelbagai wacana filosofis. Dengan melibatkan filsafat ilmu (epistemologi) dalam memahami religiusitas manusia, pembacaan Soroush juga meniscayakan suatu perspektif baru dalam memandang realitas, baik realitas individual, sosial, maupun global.
TOLERANSI BERAGAMA DAN MAHABBAH DALAM PERSPEKTIF SUFI Muzakkir Muzakkir
Jurnal Theologia Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1763

Abstract

Dalam kacamata kaum sufi, tidak ada orang lain (the other) di duniaini. Mereka melihat orang lain sebagai sebuah kesatuan makhlukyang bernaung di bawah kasih sayang Tuhan. Landasan cintamerupakan titik berpijak bagi mereka untuk melihat orang lain.Dalam pandangan kaum sufi, semua manusia adalah indah.Keindahan dalam pandangan itulah yang membimbing merekauntuk tidak melihat orang lain secara lebih rendah. Keindahanpandangan itu juga meliputi para penganut agama yang berbedabeda. Ajaran kedamaian, cinta dan kasih sayang yang diususng parasufi, bagian yang cukup menarik untuk disingkap, sekaligus sebagaiupaya membangun hubungan umat beragama yang harmonis.Tulisan ini akan memaparkan kasih sayang dan toleransi beragamadalam persektif tasawuf.
INTEGRASI ILMU-ILMU ALAM DAN ILMU-ILMU SOSIAL DENGAN PEMAHAMAN HADIS NABI: Telaah atas Konsepsi, Aplikasi, dan Implikasi Benny Afwadzi
Jurnal Theologia Vol 28, No 2 (2017): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.2.1972

Abstract

Abstract: This article discusses an integration of natural and social sciences through understanding prophetic ḥadīth(s). It focuses on its conceptions, applications, and implications. The word “integration” is aimed to comprehend the ḥadīth in relation to those two particular sciences. This paper concludes that the conception of ḥadīth integration with the sciences lies on a paradigm shift in the study of ḥadīth. In this concept, ḥadīth(s) are used as material objects that are approached by the natural and social sciences as its formal objects (approach). In practice, four ḥadīth(s) are understood by the natural sciences, and the other four ḥadīth(s) as objects are understood by the social sciences. The understanding of ḥadīth through the natural sciences is textually stronger than that through directly understanding the textual ḥadīth, while the understanding through the social sciences alludes to the emergence of contextual understanding.Abstrak: Tulisan ini mengkaji integrasi ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial dengan pemahaman hadis Nabi, yang menitiberatkan pada kajian konsepsi, aplikasi, dan implikasi. Integrasi dalam tulisan ini dimaksudkan dengan pemahaman hadis dengan perangkat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Tulisan ini menyimpulkan bahwa konsepsi integrasi hadis dengan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial berpijak pada pergeseran paradigma dalam studi hadis. Dalam konsep ini, hadis berposisi sebagai objek material yang didekati dengan ilmu alam dan ilmu sosial sebagai objek formalnya (pendekatan). Dalam tataran aplikasi, empat hadis dipahami dengan ilmu-ilmu alam dan empat hadis sebagai objek yang dipahami dengan ilmu-ilmu sosial. Implikasi yang ditimbulkan oleh ilmu-ilmu alam adalah pemahaman tekstual yang lebih kuat dibandingkan dengan pemahaman langsung dari teks hadisnya, sedangkan ilmu-ilmu sosial berimplikasi munculnya pemahaman yang kontekstual. 
FILSAFAT ANALITIK Kritik Epistemologi Ide Analitik Logis Bertrand Russell Muhmidayeli Muhmidayeli
Jurnal Theologia Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.340

Abstract

Abstract:Each logical statement reflected in the way expressed in a logical language. If a statement is expressed by a language that one would then have it wrong, therefore, necessary test of logical forms that fit with the empirical facts. In short every statement must be understood by returning to the real meaning or context. Russell offers a translation grammatically any statement that may seem misleading to the appropriate forms and logical. Bertrand Russell described his philosophy asan area of human thought that was between theology on the one hand and science on the other side. Philosophy can be said astheology, due to the nature and character of philosophy which also contains a world speculations about the definitive knowledge, but it can notbe ascertained. On the other hand, itcan be said as science, because the working procedures of philosophy that is moreleads and functioning sense like science knowledge (science). Anydogma, because it transcends knowledge certainly, including in the sphere of theology. In between there is this no man's land area that is prone to both theology and science issues. Abstrak: Setiap penyataan logis tercermin dari cara mengungkapkannya dalam bahasa logis. Jika suatu pernyataan diungkap dengan bahasa yang salah maka akan memiliki maka yang salah, oleh karena itu, diperlukan uji bentuk-bentuk logis yang cocok dengan dengan fakta empiris. Pendeknya setiap pernyataan mesti dipahami dengan mengembalikannya pada makna riil atau kontekstual. Russell menawarkan pener¬jemahan secara gramatikal setiap pernyataan yang mungkin saja tampak me¬nyesat¬¬kan ke dalam bentuk-bentuk yang tepat dan logis. Bertrand Russell menggambarkan filsafat sebagai suatu wilayah pemikiran manusia yang berada antara teologi di satu sisi dan ilmu pengetahuan di sisi lainnya. Filsafat dapat dikatakan seperti teologi, karena sifat dan watak filsafat yang juga bersikan dunia spekulasi-spekulasi tentang pengetahun yang pasti namun ia tidak dapat dipastikan. Di lain pihak, ia dapat dikatakan pula seperti ilmu pengetahuan, karena tata kerja filsafat yang memang lebih banyak mengarah dan memfungsikan akal seperti layaknya ilmu ilmu pengetahuan (sains). Segala dogma, karena ia melampaui pengetahuan pasti, termasuk dalam lingkup teologi. Di antara keduanya inilah ada daerah yang tak bertuan yang rentan terhadap kedua persoalan teologi dan sains. Keywords:filsafat analitik,analytic logic, metodologi filsafat, atomic facts, dan logical form.
Islam Wasatiyah dan Kontestasi Wacana Moderatisme Islam di Indonesia Muhammad Ainun Najib; Ahmad Khoirul Fata
Jurnal Theologia Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2020.31.1.5764

Abstract

Moderate Islamic discourse began to develop in Indonesia in early 2015. One such discourse is Islam Wasatiyah. Using the historical method of thought, this article answers three questions. First, the historical background of the Wasatiyah Islamic discourse in Indonesia. Second, Wasatiyah Islam which was conceptualized by religious organizations and Indonesian Muslim scholars. Two important subjects that introduced Wasatiyah Islam in Indonesia are the Indonesian Ulama Council (MUI) and Azyumardi Azra. Third, at almost the same time, the Wasatiyah Islamic discourse competed against Islamic moderatism with other Indonesian Islamic discourses, such as the Islam of the Nahdaltul Ulama and the Advancing Islam of Muhammadiyah. This article finds the correlation between Wasitiyah Islamic discourse in Indonesia and Wasatiyah Islam which originated from the ideas of Malaysian intellectual, Mohammad Hashim Kamali. Wasatiyah Islam in Indonesia, as initiated by Mohammad Hashim Kamali, gave rise to a moderate and tolerant Islam which was based on the values contained in Islam. Like fertile land, Indonesian Islam has indeed become a nursery and contestation of various Islamic discourses, both from Indonesia and abroad. In this article it is also found that a massive support base will mainstream the discourse itself. Therefore, the Wasatiyah Islamic discourse does not have sufficient resonance for the breeding of Islamic moderation in Indonesia, and is drowning in the midst of other Islamic discourses.
MAKNA HIDUP BAGI PENGIKUT AJARAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH (TQN) DI SUKAMARA KALIMANTAN TENGAH Soleha Soleha
Jurnal Theologia Vol 26, No 2 (2015): TASAWUF DAN KEARIFAN LOKAL
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.2.436

Abstract

Abstrak: Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah yang ada di desa Sungai Pasir Kecamatan Pantai Lunci Kabupaten Sukamara Kalimantan Tengah merupakan salah satu komunitas tarekat yang memiliki ruang gerakan dalam menyebar luaskan serta melestarikan ajaran sufi dengan menggunakan metode dzikir sebagai bentuk pelaksanaan dari ajaran tasawuf. Selain menjalankan aktifitas ritual para anggota tarekat ini juga memiliki dimensi kehidupan yang salah satunya adalah melakukan pemahaman terhadap kehidupan bermakna. Hal ini menjadi sebuah tolak ukur penting dalam meneliti perkembangan keagamaan yang ada di Indonesia. Komunitas tarekat yang ada di desa Sungai Pasir pada dasarnya memiliki ikatan emosional sesama anggota tarekat dengan ikatan normatif yang ada di dalam kelompok mereka sesuai dengan ajaran yang ada di dalam tasawuf. Namun demikian mereka juga memiliki tujuan dari sebuah komunitas yang salah satunya adalah mencapai ridha Tuhan. Keywords: Sukamara, Makna Hidup, Victor Frankl, Guru, murid, manaqiban, dzikir.
KEMAJEMUKAN AGAMA MENURUT IBN AL-‘ARABI Syahrul Adam
Jurnal Theologia Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1679

Abstract

Ibn al-'Arabi considers that religious pluralism is inevitable necessities. His opinion is actually rooted in his main Sufi he achieved wah}dat al-wujud. With such diversity, it is not necessary to the claims of truth (truth claim) on a particular religion. All religions should live together in harmony for the worship of the same God, who is called by different names attributed to differences in the perception of God as well as differences in appearance (tajalli) of God. The understanding of causality religious diversity will make believers can appreciate the existence differences.Ibn al-‘Arabī  menganggap bahwa keberagaman agama merupakan suatu keniscayaan yang tak terelakkan. Pendapatnya tersebut sebenarnya berakar dari konsep utama pemikiran sufistik yang dicapainya yakni wah}dat al-wujud. Dengan keragaman tersebut, maka tidak diperlukan adanya klaim-klaim kebenaran (truth claim) pada agama tertentu. Semua agama yang ada harus hidup harmonis sebab sama-sama melakukan penyembahan kepada Tuhan yang sama, yang disebut dengan nama-nama berbeda disebabkan adanya perbedaan persepsi terhadap Tuhan dan juga perbedaan penampakan (tajalli) Tuhan. Pemahaman terhadap kausalitas keberagaman agama akan membuat penganut agama dapat menghargai perbedaan yang ada.
MISTIK SUNAN BONANG Rokhmah Ulfah
Jurnal Theologia Vol 24, No 2 (2013): TASAWUF
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2013.24.2.331

Abstract

Abstract: This article will explain the mystical teachings of Sunan Bonang. He is a member of the Board Walisongo, which has a major role in the process of Islamization in Java. In preaching Islam, he is not only a cultural approach, but by creating songs and gending; he is also very closely related to the mystical teachings. In a mystical concept, humans must do the cleaning him self well so that it can unite with God. Mystical of Sunan Bonang can not classified as pantheism, but rather based on the Shari'a. He emphatically stated that there was separation between God and man, not fused together so that it difficult to separate between them. His teachings are very common among Walisogo which is to up hold the Sufism teachings of Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Abstrak: Artikel ini akan menguraikan ajaran mistik Sunan Bonang. Ia adalah salah satu anggota Dewan Walisongo, yang memiliki peran besar dalam proses islamisasi di Jawa. Iatidak hanya melakukan pendekatan kultural, menciptakan tembang dan gending-gending, tetapi ia juga sangat lekat dengan ajaran mistiknya. Dalam konsep mistiknya, manusia harus melakukan pembersihan diri dengan baik sehingga bisa bersatu dengan Tuhan. Mistik Sunan Bonang bukan tergolong pantheisme, tetapi lebih berdasarkan pada syariat. Ia dengan tegas menyatakan adanya pemisah antara Tuhan dan manusia, bukan lebur menjadi satu sehingga sulit memisahkan antara keduanya. Ajaran seperti ini sudah sangat umum di kalangan Walisogo yang memang memegang teguh ajaran tasawuf Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Keywords: Mistik, Pantheisme, Syariat, Tuhan, Walisongo.