cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
MAKNA ŪLŪ AL-ALBĀB DALAM AL-QUR’AN: Analisis Semantik Toshihiko Izutsu Eko Zulfikar
Jurnal Theologia Vol 29, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2018.29.1.2273

Abstract

Abstract: One of the words of the Qur’an which shows the meaning of the one who possesses knowledge is ūlū al-albāb. Ūlū al-albāb is the 16 terms mentioned in 10 letters in the Qur’an. Every verse contained in various letters certainly has a different meaning, so it requires a deep understanding. Disclosure of the meaning ūlū al-albāb will be analyzed by the author by using semantic al-Qur'an developed by Toshihiko Izutsu. The semantic of the Qur’an according to Izutsu is an attempt to expose the worldview of the Qur’an (weltanschauung) through semantic analysis of the vocabulary or key terms of the Qur’an. The process undertaken in this study is to examine the basic meaning and relational meaning of ūlū al-albāb by using syntagmatic and paradigmatic analysis, then to examine the use of vocabulary ūlū al-albāb in pre-Qur’anic, Qur’anic and post-Qur’anic.Abstrak: Salah satu kata al-Qur’an yang menunjukkan makna orang yang memiliki akal pengetahuan adalah ūlū al-albāb. Ūlū al-albāb merupakan istilah yang disebutkan sebanyak 16 kali yang terliput dalam 10 surah di dalam al-Qur’an. Di setiap ayat yang terdapat di berbagai surah tentunya memiliki makna yang berbeda, sehingga membutuhkan pemahaman yang mendalam. Peng­ungkapan makna ūlū al-albāb tersebut akan penulis analisa dengan meng­gunakan semantik al-Qur’an yang dikembangkan oleh Toshihiko Izutsu. Semantik al-Qur’an menurut Izutsu merupakan sebuah usaha menyingkap pandangan dunia al-Qur’an (weltanschauung) melalui analisis semantik terhadap kosakata atau istilah-istilah kunci al-Qur’an. Proses yang dilakukan dalam penelitian ini adalah meneliti makna dasar dan makna relasional kata ūlū al-albāb dengan menggunakan analisis sintagmatik dan paradigmatik, kemudian meneliti penggunaan kosakata ūlū al-albāb pada masa pra-Qur’anik, Qur’anik dan pasca-Qur’anik.
FILSAFAT CINTA MUHAMMAD IQBAL Rohmat Suprapto
Jurnal Theologia Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.345

Abstract

Abstract: In the academic world, Iqbal is known as a poet, philosopher, sufism, historian, and politician. The professions which he elaborated could reach the peak levels in their respective fields of life. In addition to his character, the concept he introduced and the reflection of his life were not only a synergy with Islamic law that derived from the Qur'an and As Sunnah, but also indeed both codices that leads his way of life. Due to these facts, he was dubbed as greatest Mujaddid in 20-th century.One of the concepts that makes him well recognized is the concept of love as expressed in a series of poems and was described as' ishq. 'Ishq is given from birth as God's grace by which will be cultivated and tested during the life to encounter all forms of humanity impairment leading to the perfection of life with the title 'the perfect Man’. Inside there is a blend of love and sense of intellect, love and reason, vision and power that are manifested in acts of prayer and work of scientists, and crystallized in the life of mysticism and scientism. Abstrak:Dalam dunia akademik, Iqbal dikenal sebagai penyair, filosof, sufisme, sejarawan, dan politikus. Profesionalisme yang ia tekuni mencapai tingkat puncaknya di atas masing-masing bidang kehidupan ini, di samping karakternya, baik level konseptual maupun refleksi hidupnya, bukan hanya sinergi dengan syariat Islam yang bersumber kepada Al-Quran dan sunnah Rasululillah, melainkan memang kedua naskah kuno itulah yang menuntun jalan hidupnya.Pantas kalau ia digelari mujaddidterbesar di abad 20.Satu diantara konsep yang menjadikan ia memperoleh nama besar adalah konsepnya tentang cinta yang diungkap dalam rangkaian puisi dan ia sebutnya sebagai ‘isyq. ‘Isyq diperoleh sebagai bawaan lahir dari rahmat Tuhan yang dengannya dipupuk dan diuji dalam medan kehidupan sambil menepis segala bentuk pelemahkan kemanusian menuju ke-sempurna-an hidup dengan predikat ‘the perfect Man’. Di dalamnya berpadu antara cinta dan akal intelek, love and reson, vision and power yang diwujudkan dalam tindak shalat dan kerja ilmuwan, dan mengkrital dalam kehidupan mistisime syar’i Keywords: cinta, intelek, the Perfect Man, khalīfah Allāh, waḥdah al-wujūd.
Religiosity in the Midst of the Wage System and the Fading of Ti'ayo in Gorontalo Tradition Arfan Nusi; Fahimah M. Mooduto; Donald Q. Tungkagi
Jurnal Theologia Vol 31, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2020.31.2.6829

Abstract

People are very thick with the religious practices which combine religion and culture in Gorontalo. One of the religious spirits in the tradition is ti'ayo (community self-help). It is a farmer comes to everyone. It offers requests for helping others in the context of working together without wages in their garden. This cycle always occurs between one farmer and other farmers for decades. In addition, cultivating the values of togetherness among farmers. Economically, ti'ayo tradition also reduces the cost of cultivating gardens. The source of the research was obtained from qualitative anthropological research. The data were obtained using observation techniques and in-depth interviews. The aim is to see wage practices amid the fading ti'ayo tradition in the society of Gorontalo. The result is people's religiosity is slowly getting weaker. It is indicated since ti'ayo tradition replaced with a wage system. It also usually strengthens relationships and harmony among people and maintains brotherhood. However, this tradition has not survived until now; it seems that the community is living individually, between one farmer and others as if they have lost their sensitivity. The effect is the difficulty of the farmers in maintaining its life amid the onslaught of the wage system. The economic constraints of farmers are increasingly complex, including the borrowing capital from creditors with guarantees of garden or rice fields, instead of getting benefits from the harvest; precisely, they have to pay for the debts.
ETIKA PEMERINTAHAN: KONTRIBUSI TAFSĪR FĪ ẒILĀL AL-QUR’ĀN KARYA SAYYID QUṬB Bukhori Abdul Shomad
Jurnal Theologia Vol 22, No 2 (2011): ILMU-ILMU USHULUDDIN
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2011.22.2.611

Abstract

Asbtrak: Fungsi etika pemerintahan adalah untuk me-wu¬judkan good governance and clean government dalam organisasi pemerintahan. Hal ini meru¬pa¬kan tuntutan bagi terselenggaranya mana¬je¬men pemerintahan dan pembangunaan yang berdaya guna, berhasilguna dan bebas korupsi, kolusi, maupun nepotisme. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan sistem akuntabilitas, tran¬sparansi, keterbukaan dan aturan hukum yang baik sesuai dengan penerapan/tuntutan ke-bu¬tuhan pada seluruh jajaran aparat negara yang di¬bimbing oleh norma, nilai-nilai dan etika agama. Di sinilah, kontribusi penting dari pemikiran Sayyid Quṭb. Kata Kunci: etika, keadilan, sistem politik, syūrā.
PAHAM INGKAR SUNAH DI INDONESIA (STUDI TENTANG PEMIKIRANNYA) Abdul Majid Khon
Jurnal Theologia Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1759

Abstract

Paham Ingkar Sunah Indonesia timbul dari ketidak tahuannya tentang status Sunah dalam beragama dan tentang fungsi Sunah  terhadap al-Qur’an. Semangat belajar mereka hanya pada  al-Qur’an. Tetapi  sayangnya mereka sangat minim penguasaan ilmu-ilmu dasar untuk memahami al-Qur’an seperti bahasa Arab,  tata bahasa dan  sastranya, ilmu-ilmu Tafsir dan lain-lain. Mayoritas  ide-ide penolakan  Sunah ditransfer dari orientalis yang sengaja meng­hembuskan di dunia Islam untuk menyesatkan umat. Inti  pandangan mereka  bahwa dalam beragama  hanyalah al-Qur’an karena kesem­pur­­naannya sedangkan Sunah atau hadis dipan­dang sebagai dongeng yang diciptakan oleh se­bagian umat Islam belakangan. Mengikuti Hadis mimicu perpecahan umat yang  meneybabkan kelemahan dan kehancuran umat
ULAMA IN INDONESIAN URBAN SOCIETY: A View of Their Role and Position in the Change of Age Muhammad Zainal Abidin
Jurnal Theologia Vol 28, No 2 (2017): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.2.1863

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to know how the changes of the social impact the role and the position of the ulama. Urban society is the real phenomena that happen for the coming of the industrialization era, or in another word that the urban society is the manifest of the industrial society. The writer sees the urban society phenomena as similar as the industrial society. This is a library research, which takes the source of study from the books and other literature related to the topic. The source of data is classified into two parts, the primary source, and the secondary one. As analysis technique, the writer uses the content analysis with the classification of sign-vehicles; which relies solely upon the judgments which theoretically, may range from perceptual discrimination to sheer guesses of analyst or group of analyst’s judgment are regarded as the report of the scientific observer. Finally, it is found that in urban society after coming of the industrialization era. The role and the position of ulama have changed. The ulama in urban society is not the social category again, but the parameter of ulama in urban society is the intellectual one. The position of ulama is not like a kyai or a teacher anymore such as what happened in pre-industrial or semi-industrial, but the ulama become the partner of people. Abstrak: Paper ini bermaksud untuk mengetahui perubahan pada masyarakat terkait dengan peran dan posisi ulama pada masyarakat urban. Masyarakat urban merupakan fenomena nyata pada era industrialisasi. Dengakn kata lain, masyarakat urban merupakan manifestasi dari masyarakat industrial. Penulis melihat fenomena yang serupa antara masyarakat urban dengan masyarakat industri. Tulisan ini merupakan riset kepustakaan yang mengambil sumber data dari buku dan literatur lain yang relevan. Sumber data diklasifikasi menjadi dua bagian, sumber data primer dan sumber data sekunder. Untuk analisis digunakan analisis isi yang mengklasifikasi tanda baca, yang didasarkan pada penilaian secara teoritis, berkisar dari diskriminasi persepsi sampai dugaan analisis atau kelompok penilaian analisis yang dipandang sebagai laporan ilmiah. Temuan dari penelitian ini bahwa masyarakat urban muncul sesudah era industrialisasi. Peran dan posisi ulama telah berubah. Ulama pada masyarakat urban bukan lagi semata pada kategori sosial, tetapi parameter ulama pada masyarakat urban ada pada aspek intelektualitasnya. Posisi ulama bukan lagi Kyai atau guru sebagaimana fenomena pada masyarakat pra industri atau semi industri, tetapi ulama menjadi patner masyarakat.
AKSIOLOGI REOG PONOROGO RELEVANSINYA DENGAN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA Asmoro Achmadi
Jurnal Theologia Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.336

Abstract

Abstract: The study has been chosen because it is very interesting to explore. Indonesia has diverse arts and cultures in its tradition. Within such diversities, there are significant values to develop the national character, one of them being that of Reog Ponorogo. The purpose of this research is to reveal that the art of Reog is attractive and full of magnificent values. During this reform era, in which corruptible practices and radicalism are rampant, the values contained in the Reog art can be used as a foundation for better national character building. The methods used in this study were hermeneutics and heuristics. The former was employed to disclose the meaning contained in the research object in the form of life phenomenon through understanding and interpretation, while the latter was used to discover and develop other new methods in science especially philosophy. The result of this research is that the art of Reog Ponorogo is part the typically original culture from Ponorogo. When viewed from the perspective of hierarchical values, Reog contains holiness, spiritual, living, and joyful values. The Indonesian nation current¬ly faces corruption, terrorism, radicalism, and globalization challenges that may lead to the weakling of the national character. The values of Reog art can be used as a source of inspiration and may contribute to the character building of the nation. What needs to be presented is the strengthening of the four pillars of the nation and the reflection of the five essential virtues of the Reog art. Abstrak: Tema ini dipilih karena sangat menarik untuk dijelajahi. Indonesia memiliki beragam seni dan budaya dalam tradisi. Dalam ke¬beragaman tersebut, ada nilai-nilai yang signifikan untuk me¬ngembang¬kan karakter nasional, salah satunya adalah bahwa Reog Ponorogo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bahwa seni Reog menarik dan penuh dengan nilai-nilai yang luar biasa. Selama era reformasi ini, di mana praktek-praktek yang fana dan radikalisme yang merajalela, nilai-nilai yang terkandung dalam seni Reog dapat digunakan sebagai landasan untuk membangun karakter bangsa yang lebih baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah herme¬neutika dan heuristik. Yang pertama digunakan untuk meng-ungkapkan makna yang terkandung dalam objek penelitian dalam bentuk fenomena kehidupan melalui pemahaman dan interpretasi, sedangkan yang kedua digunakan untuk menemukan dan mengembangkan metode baru lainnya dalam ilmu terutama filsafat. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa seni Reog Ponorogo adalah bagian budaya biasanya asli dari Ponorogo. Bila dilihat dari perspektif nilai-nilai hirarkis, Reog me¬ngandung kekudusan, spiri¬tual, hidup, dan nilai-nilai yang menyenang¬kan. Bangsa Indonesia saat ini menghadapi korupsi, terorisme, radikalisme, dan tantangan globalisasi yang dapat menyebabkan lemahya karakter nasional. Nilai-nilai seni Reog dapat digunakan sebagai sumber inspirasi dan dapat berkontribusi pada pembentukan karakter bangsa. Apa yang perlu disajikan adalah penguatan empat pilar bangsa dan refleksi dari lima kebajikan penting dari seni Reog. Keywords: reog Ponorogo, nilai, karakter bangsa, Babad Ponorogo.
Tarekat and Work Ethos of Muslim Businesses (Study of Work Ethics Based on Sufism) Ivan Rahmat Santoso
Jurnal Theologia Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2020.31.1.5254

Abstract

This paper examines the role of the tarekat as a spiritual means of getting closer to Allah SWT, and how to significantly influence the work ethic of entrepreneurs, based on Sufism values. The method used in this study is library research. It aims to constructively analyze the contributions and role of the teachings of the tarekat towards the work ethic of the business entrepreneurial behaviour of its followers. This result showed that the tarekat, as a remembrance or recollection of God, purifies the soul from despicable acts. It birthed the characteristics of work ethic in accordance with Islamic teachings, such include optimism, Istiqamah, Wara’, Ikhlas, Rida and Qana'ah. In addition, Ihsan attitude as a tarekat source has an impact on the behaviour of entrepreneurs to always be honest and trustworthy in improving the quality of their economy.
PEMIKIRAN ANNEMARIE SCHIMMEL TENTANG SIFAT FEMININ DALAM TASAWUF Ahmad Purwanto
Jurnal Theologia Vol 26, No 2 (2015): TASAWUF DAN KEARIFAN LOKAL
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.2.430

Abstract

Abstract: The article explores the ideas of Annemarie Schimmel relating to aspects of feminism in Sufism. According to Schimmel, that Sufism, or mystical Islam is the awareness of a single reality and love of the Absolute, because the forces that separate the true mystic by asceticism is love. Even true love can make enjoyment of all that painful. Mystical considered a mysterious thing that can not be achieved by ordinary means or by intellectual effort. While the literature and difficult spiritual life depicted as blind men touching an elephant, in pengambaraannya will say according to the elephant body parts are touched. While the nature of feminine in Sufism has been revealed as to uncover the elements of womanhood is in Sufism itself, like having love, affection, obedient, patient, prejudiced either (ḥusnu ẓan), and willing to sacrifice. From here it turns keperempuan nature not only possessed by women alone, but is owned by the Sufis men. Abstrak: Artikel ini akan mengeksplorasi pemikiran Annemarie Schimmel yang berkaitan dengan aspek feminisme (keperempuan) dalam tasawuf. Dalam pandangan Schimmel, bahwa tasawuf atau mistik Islam merupakan kesadaran terhadap kenyataan tunggal dan cinta Yang Mutlak, sebab kekuatan yang memisahkan antara mistik sejati dengan hanya sekedar tapa brata (asceticism) adalah cinta. Bahkan cinta sejati dapat menjadikan kenikmatan terhadap segala yang menyakitkan. Mistik dianggap sebagai hal yang misterius yang tidak dapat dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual. Sedangkan literature dan kehidupan rohaninya sulit digambarkan sebagaimana orang buta yang menyentuh gajah, dalam pengambaraannya akan mengatakan sesuai dengan bagian tubuh gajah yang disentuhnya. Sedangkan sifat keperempuan (feminin) dalam tasawuf telah terungkap sebagaimana mengungkap unsur-unsur kewanitaan yang ada dalam tasawuf itu sendiri, seperti memiliki cinta, kasih sayang, taat, sabar, berprasangka baik (ḥusnu ẓan), dan rela berkorban. Dari sini ternyata sifat keperempuan tidak hanya dimiliki oleh perempuan saja, tetapi dimiliki oleh para sufi laki-laki. Keywords: feminism, tasawuf, asketicisme, Jalāl, dan Jamāl.
REAKTUALISASI JIHAD DALAM PERSPEKTIF PERDAMAIAN DAN TOLERANSI Anisah Indriati
Jurnal Theologia Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1675

Abstract

This article discusses the issue of jihad in Islamic sources. This effort is important because of the negative image of the Islamic Jihad command. Presented in this article about the meaning of jihad in Islamic sources and how to interpret contextually jihad with jihad fi sabilillah in accordance with the interests and capacities of each. Jihad does not only means qital or war. Jihad in the Qur'an is also found in other, more beneficial to the institution of humanity. In the contemporary era of jihad environmental, health and scientific innovation become necessary to save a human life.Artikel ini membahas persoalan jihad dalam sumber ajaran Islam. Upaya ini penting dilakukan karena adanya Image Islam yang negatif dari adanya perintah jihad. Dalam artikel ini dikemukakan tentang pemaknaan jihad yang ada dalam sumber ajaran Islam dan bagaimana memaknai jihad secara kontekstual dengan melaksakan jihad fi sabilillah yang sesuai dengan kepentingan dan kapasitasnya masing-masing. Jihad tidak hanya bermkna qital atau berperang. Jihad dalam al-Quran juga ditemukan dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat bagi intitusi kemanusiaan. Di era kekinian jihad lingkungan, kesehatan dan inovasi keilmuan menjadi suatu yang penting untuk menyelamatkan kehidupan manusia.