cover
Contact Name
Haris Murwadi
Contact Email
editor.j@ubl.ac.id
Phone
+6281977948802
Journal Mail Official
editor.j@ubl.ac.id
Editorial Address
Universitas Bandar Lampung Jl. Zainal Abidin Pagar Alam No.26 Labuhanratu Bandar Lampung 35142 Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Arsitektur
Core Subject : Social, Engineering,
arsitektur dan lingkungan binaan, serta bidang ilmu lain yang sangat erat kaitannya seperti perencanaan kota dan daerah, desain interior, perancangan lansekap, dan sebagainya.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2012): Desember" : 6 Documents clear
Dampak Perubahan Hidrologis Dan Perkembangan Tata Guna Lahan Pada Permukiman Lahan Basah Di Kota Dumai Muhammad Rijal; Pedia Aldy
JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2012): Desember
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.674 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v3i1.313

Abstract

Berdasarkan fenomena-fenomena perubahan hidrologis dan perkembangan tata guna lahan pada kawasan permukiman lahan basah di Kota Dumai, telah mengakibatkan terjadinya percepatan aliran dan cadangan air yang ada diatas permukaan tanah menjadi berkurang. Jika tidak dikelola dengan hati-hati dan sesuai karakteristiknya akan menurunkan kualitas lingkungan dan menggangu keseimbangan hidrologis kawasan tropis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak perubahan hidrologis kawasan dan perkembangan tata guna lahan akibat perkembangan debit sungai harian sebelum dan sesudah kegiatan normalisasi sungai dalam rangka pemanfaatan lahan basah tropis sebagai fungsi lahan permukiman di Kota Dumai. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif untuk mengetahui dampak perubahaan hidrologis kawasan dan tata guna lahan yang ditimbulkan akibat pembangunan permukiman pada lahan basah tropis di Kota Dumai. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa perubahan tata guna lahan pada kawasan lahan tropis diwilayah penelitian dari tahun 2001 hingga 2010 menunjukan pergesaran dalam pola pemanfaatan lahan. Semakin berkembangnya lahan permukiman diikuti dengan menyusutnya wilayah lahan basah tropis. Hal ini dikarenakan perubahan hidrologis kawasan akibat pembangunan, sehingga terjadinya pengeringan lahan basah tropis disepanjang DAS, rusaknya kondisi biofisik lahan, hilangnya fungsi lahan basah sebagai penyimpan air dan memperlambat aliran air serta terganggunya ekosistem lahan basah yang sangat produktif dan mempunyai banyak manfaat yang penting sebagai pengendali banjir.
Kajian Desain Sirkulasi Ruang Luar Dan Ruang Dalam Bagi Penyandang Cacat Pada Kawasan Bangunan Ciwalk ( Cihampelas Walk ) Theresia Pynkyawati; Muhammad Alpi G.; Riky Herdarsyah; Farid Amhar
JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2012): Desember
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.71 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v3i1.309

Abstract

Kawasan bangunan publik merupakan suatu kawasan yang diperuntukan untuk umum, dengan berbagai fasilitas guna memenuhi bermacam-macam kebutuhan di dalamnya. Belakangan ini, keberadaan penyandang cacat pada kawasan bangunan publik kurang mendapat perhatian, meskipun hal ini sudah ada Peraturan Pemerintah Kota Bandung No.02 Tahun 2009 yang mewajibkan bahwa bangunan publik di Indonesia harus dapat mendukung aksesibilitas bagi penyandang cacat. Ciwalk merupakan suatu kawasan bangunan publik, yang asri menjadi objek studi yang menarik untuk dikaji. Pola sirkulasi menurut DK Ching (Bentuk Ruang dan Susunan 1996) yang terbentuk sebagai penghubung antar ruang luar dan penguhubung ruang dalam bangunan pada lahan berkontur dikawasan Ciwalk ini akan dirasakan berat bagi penyandang cacat. Faktor-faktor kenyamanan penunjang seperti sarana dan prasarana harus memenuhi persyaratan sesuai dengan Peraturan Menteri No. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan dan Lingkungan. Penyandang cacat dapat beraktifitas di kawasan publik Ciwalk baik diluar maupun dalam bangunan dengan mudah tanpa bantuan orang lain. Kajian ini dilakukan dengan metoda analisis deskriptif kualitatif dari segi pola tata letak ruang luar dan ruang dalam, sirkulasi, material, signage, sarana dan prasarana. Kemudian metoda kuantitatif diarahkan untuk mengukur sudut kemiringan atau ramp dan lebar koridor. Kedua metoda tersebut untuk membandingkan data dilapangan dengan literatur dan peraturan yang terkait, Hasilnya menunjukkan bahwa aksesibilitas sirkulasi bagi penyandang cacat di kawasan Ciwalk masih kurang dapat memberikan kenyamanan terhadap penyandang cacat sebagai pengguna bangunan publik
Regionalisme Dalam Kondisi Post-Modern Rislan Syarief
JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2012): Desember
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.831 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v3i1.310

Abstract

Peristilahan Post Modern mulai diperkenalkan oleh Frederico De Onis, sebagai awal reaksi terhadap modernisme. Sebenarnya peristilahan ini muncul bermula dalam kalangan gerakan artistik, sebagai tanggapan yang reaktif dan mekanis terhadap adanya fenomena perubahan estetis yang menggejala didalam sendi-sendi kehidupan masyarakat saat itu, yang meliputi bidang-bidang seni, musik, drama, film, fiksi dan justru perkembanganya yang terakhir barulah ke dalam arsitektur. Gejala Post Modern sebenarnya dipicu oleh adanya pertumbuhan mashab filsafat baru yang berkembang pasca kebangkitan Revolusi Industri. Berawal sejak pertama istilah Post Modern diperkenalkan tahun 1930-an, kemudian istilah tersebut segera populer ditahun 1960-an terutama dalam kalangan artis muda di New York, Amerika Serikat, dengan merujuk pada gerakan seni di masa-masa Modernisme yang sedang menggapai puncak kejayaannya akan tetapi mendapat penolakan akibat institusionalisasi dalam museum dan akademi. Kemudian pada tahun 1970-an istilah Post Modern banyak digunakan dalam bidang arsitektur, seni panggung, lukisan, seni patung, tarian dan musik, bahkan dalam bidang ideologi. Mencapai tahun 1980-an peristilahan Post Modern menjadi semakin meluas, karena didorong oleh usaha pencarian penjelasan teoritis dan justifikasi Post Modern dalam bidang seni. Dilihat secara lebih jauh sesungguhnya secara umum bisa dikatakan bahwa kebangkitan Post Modern merupakan perkembangan pemikiran falsafat baru di dunia Barat yang menolak tentang pola pemikiran kedudukan sains yang selama ini lebih mengacu kepada logika diskursif formal Arisotelian yang cendrung melihat kinerja sains secara hitam putih, sehingga tidak memberikan peluang kepada kemungkinan-kemungkinan yang bersifat paradoxal.  Di dalam pola pemikiran falsafat Barat selama ini yang dianggap terlalu menuntut adanya penjabaran-penjabaran secara logika saja, dengan dasar-dasar adanya keterukuran yang sedemikian ketat. Padahal secara logika, sains sehararusnya justru lebih memberikan ruang bagi kritik dan keterbukaan terrhadap adanya pola pemikiran-pemikiran yang beragam dan memberikan kesempatan terhadap adanya peluang pemikiran yang non ilmiah sekalipun. Sehingga akibat adanya kejadian ini timbullah sebuah pendapat yang menyatakan sains kini hanyalah tak lebih dari sekedar sebuah dogma yang justru menimbulkan kerumitan-kerumitan baru yang tak jelas akibat bias ideologi yang timbul oleh kaburnya efesiensi dan efektivitas dari metoda-metoda yang berkembang selanjutnya. Yang berakibat kepada lahirnya pendapat dan pemikiran baru yang dengan tegas-tegas menolak segala macam hal-hal yang dianggap bersifat dogmatis bahkan pendapat ini menjadi cenderung fatalis dengan mengatakan bahwa “kini sebenarnya Tuhan telah mati”.
Kota Taman Berbasis Pendidikan Fritz Akhmad Nuzir
JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2012): Desember
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1641.359 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v3i1.311

Abstract

Saat ini, perencanaan kota di Indonesia menghadapi beberapa permasalahan. Pada masa otonomi, setiap daerah diberikan kesempatan untuk membangun dan mengembangkan kotanya masing-masing. Kebijakan ini menjadi dasar yang baik bagi setiap daerah untuk berkembang berdasarkan potensi unik masing-masing. Tapi masalahnya adalah tidak semua daerah mampu menemukan apa potensi yang mereka miliki, dan akhirnya melakukan kesalahan dengan hanya mengembangkan sarana fisik saja. Perencanaan kota yang baik tidak hanya berpusat pada masalah sarana fisik saja tapi juga bisa memberi solusi untuk permasalahan sosial, ekonomi dan kebudayaan serta melestarikan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di daerah tersebut. Setiap kota memerlukan perencanaan yang berbeda tergantung dari potensi yang menjadi visi mereka. Visi kota Metro pada tahun 2010-2015 adalah menjadi kota pendidikan yang unggul dan masyarakat yang makmur. Lingkungan pendidikan yang baik adalah lingkungan yang mendukung terciptanya suasana pendidikan dan proses belajar yang bisa menginspirasi pelajar untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki secara aktif. Lingkungan alami atau lingkungan buatan yang baik dan sehat akan sangat membantu pengembangan fisik dan spiritual, dan pada akhirnya proses belajar akan berjalan dengan baik. Salah satu acuan adalah konsep Garden City. Pada konsep ini, struktur landscape menjadi sangat penting. Karena itu, penting untuk memiliki konsep desain ruang luar atau landscape dan strategi pelaksanaannya. Strategi ini sebagai dasar perencanaan kota yang lebih detil dalam rangka mewujudkan konsep Kota Metro sebagai Garden City yang berbasis pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menciptakan prinsip dasar dari Garden City yang berbasis pendidikan. Studi kasus dari penelitian ini adalah Kota Metro, sebuah kota kecil di ujung selatan Pulau Sumatra, yang mewarisi pola spasial yang diciptakan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Tipologi Ventilasi Bangunan Vernakular Indonesia Gun Faisal; Nindyo Suwarno; Dimas Wihardyanto
JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2012): Desember
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1885.741 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v3i1.312

Abstract

Buildings are the world's largest energy absorbers. They absorb 48 percents of energy, transportation absorbs 21 percent of it, while the rest of the energy is used by other sectors. The use of Air Conditioner that takes up a lot of energy is replaced by natural ventilation to reduce energy consumption. This paper discusses how the ventilation system and the model on the vernacular buildings in Indonesia, and aims to determine and identify the type of ventilation system. Ventilation is one way of vernacular buildings to cope with climate conditions. This study is applies qualitative method. It study is conducted to observe the subject and compare it to related literature and analyze the result based on related theories. This paper explore  the type of ventilation system in some vernacular buildings in Indonesia. In the end, the author found out that there are four types of ventilaton sytem of vernacular building in Sumatera, Java, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, and Papua.
Pengaruh Penggantian Material Bata Merah Dengan Batako Terhadap Biaya Bangunan (Studi Kasus: Student Center Itenas, Bandung) I Putu Wijaya Thomas Brunner
JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2012): Desember
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.655 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v3i1.308

Abstract

Seiring dengan tuntutan terhadap biaya dan waktu dalam pelaksanaan proyek maka perlu diadakan analisa terhadap penggunaan metoda membangun dan penggunaan material konstruksi yang baik serta dapat mencapai tingkat efisiensi yang tinggi. Selain itu, efisiensi penggunaan tenaga kerja dan pemakaian bahan bangunan serta alat bantunya dapat pula menekan faktor biaya dan waktu di dalam suatu proyek.Adanya Penelitian untuk membandingkan bahan bangunan dinding pengisi ini, dilakukan untuk memberikan alternatif pemecahan terhadap efisiensi biaya dan waktu tanpa merubah fungsi dari elemen tersebut. Dalam hal ini akan dibandingkan keunggulan dan kelemahan serta dampak dari pemakaian dinding pengisi batu bata merah dengan batako terhadap biaya. Berdasarkan keunggulan dan kelemahan yang ada pada kedua jenis material dinding pengisi tersebut, diharapkan dapat memberikan suatu gambaran analisa kuantitatif yang mempengaruhi biaya proyek secara keseluruhan. Studi kasus tulisan ini dilakukan pada bangunan Student Center Institut Teknologi Nasional Bandung.

Page 1 of 1 | Total Record : 6