cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
E-Journal Graduate
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Economy,
Jurnal elektronik pada Program Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan media bagi mahasiswa untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian maupun karya pemikiran lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
EFEKTIVITAS RUANG DALAM RUMAH TIPE 36 DITINJAU DARI PERLETAKAN PERABOT TERHADAP RUANG GERAK PENGHUNI giwan hardwika putra
E-Journal Graduate Unpar Vol. 1 No. 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.941 KB)

Abstract

AbstrakTata letak perabot dan toleransi ruang gerak penghuni pada setiap ruang di dalam rumah tipe 36 dimaksudkan untuk memenuhi kenyamanan ruang secara fisik dengan keterbatasan ruang yang dimiliki. Pola aktivitas penghuni yang beradaptasi dengan pertumbuhan kebutuhan terkadang kurang memperhatikan kenyamanan seperti penataan yang kurang tepat yang menyebabkan ruang terbatas menjadi sesak dan padat. Perancangan rumah tipe 36 yang mengakomodasi seluruh aktivitas hunian dan memiliki ruang dalam yang efektif adalah perancangan yang memenuhi luas ruang gerak minimal per jiwa dan memiliki luas toleransi yang juga memperhitungkan aktivitas dan juga dimensi perabot yang ada di dalamnya. Unit hunian dibuat dengan partisi seminimal mungkin di dalam rumah tipe 36. Sehingga dapat memanfaatkan ruang semaksimal mungkin. Fungsi uang-ruang yang disediakan untuk menunjang aktivitas utama antara lain: ruang tamu/keluarga, ruang makan, ruang dapur, ruang tidur orang tua dan ruang mandi kakus. Ruang-ruang tersebut diasumsikan untuk mengakomodasi penghuni sejumlah dua orang, bila terjadi penambahan anggota keluarga maka dibutuhkan pengembangan/ penambahan ruang.  Penataan perabot yang tepat, sesuai dengan zona dan kebutuhannya. Penciptaan kesan spasial baik secara horisontal maupun vertikal dengan dimensi yang proporsional. Dengan menerapkan pedoman perancangan yang telah dirumuskan, diharapkan efektivitas ruang dalam rumah tipe 36 dapat tercapai.Kata Kunci: tata letak perabot, ruang gerak penghuni, rumah tipe 36 AbstractFurniture layout and tolerance of occupant space on every room in th house type 36 is intended to meet the physical comfort of the room with limited space owned. Patterns of occupant activity that adapt to the growing needs of sometimes less attention to comfort like improper setting which led to limited space became overcrowded and congested. House type 36, which designed to accommodate all of residential activities and having a effective space, is house type 36 with spacious design that meets the minimum space per capita and has a space of tolerance that also includes the activity and the furniture dimensions in it. Dwelling units are made with minimal partitions in the house type 36. So can utilize as much space as possible.  Function rooms are provided to support the main activities such as: living room / family room , dining room, kitchen, bedroom and shower room. These spaces are assumed to accommodate two occupants, if there is the addition of a family member then takes the development / additional space. Design and order the right furniture that fits to the zone and its needs. Creating spatial impression both horizontally and vertically with good proportion of dimensions. By applying the design guidelines that have been formulated, the expected effectiveness of space in the house type 36 can be achieved.Keywords: furniture layout, the space for occupants, type 36 house
PERLETAKAN DAN BENTUK DESAIN MAIN ENTRANCE PADA BANGUNAN MAL TERBUKA (Studi Kasus: Mal Cihampelas Walk dan Mal Paris Van Java di Bandung) Reo Faroga
E-Journal Graduate Unpar Vol. 1 No. 1 (2014): Part D - Architecture
Publisher : E-Journal Graduate Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.061 KB)

Abstract

Untuk memasuki sebuah bangunan, pengunjung harus melalui entrance sebagai pintu masuknya. Bahkan pada komplek bangunan bisa memiliki beberapa entrance guna memudahkan pencapaian memasuki bangunan maupun demi kelangsungan operasional kegiatan di dalam bangunan tersebut.Entrance yang paling berpengaruh pada besarnya minat pengunjung serta member corak pada penampilan bangunan adalah main entrance, berfungsi sebagai: penarik pengunjung, penerima pengunjung. Main entrance bangunan biasanya dihubungkan dengan ruang besar dalam bangunan yang sekaligus berfungsi sebagai pusat orientasi maupun informasi tentang kegiatan di dalam bangunan. Main entrance perlu didesain sedemikian rupa sehingga memiliki daya tarik sebagai elemen penyambut dapenerima tamu. Keberadaannya perlu didukung elemen pengarah di luar bangunan agar mempermudah pengunjung mencapai main entrance bangunan. Mengingat pentingnya peran yang demikian, main entrance bangunan patut didesain sebagai vocal point dalam mencapai entrance bangunan. perencanaan desain bangunan secara keseluruhanSelain bentuknya, pengolahan masa bangunan maupun facadenya, main entrance juga dapat mewakili jenis kegiatan di dalam bangunan tersebut. Misalnya kantor, mal, dan sebagainya akan memiliki desain entrance yang berbeda. Letaknya harus mewakili pencapaian yang dapat menjangkau segala aktivitas dalam bangunan secara merata baik dari sisi jarak maupun kepadatan sirkulasi pengunjung agar tidak terjadi penumpukan kepadatan pengunjung dalam area tertentu di bangunan. Untuk itu peneliti mencoba menganalisa main entrance dari segi bentuk dan perletakannya, pada ruang lingkup penelitian di mal Cihampelas Walk dan mal Paris Van Java. Apakah mal terbuka dengan konsep city walk yang sedang diminati masyarakat ini telah memiliki main entrance yang sesuai dengan jenis bangunan maupun bentuk desain bangunannya. Serta memberi solusi pada perletakan main entrance agar mal lebih dapat menarik minat pengunjung sebanyak mungkin.Kata Kunci: main entrance, mal terbuka
HUKUM PERTANIAN BAGI MASYARAKAT INDONESIA Ruci Palupi
E-Journal Graduate Unpar Vol. 1 No. 2 (2014): Part B - Legal Science
Publisher : E-Journal Graduate Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.112 KB)

Abstract

AbstrakIndonesia pada akhirnya harus memilih antara dua konsep besar, yaitu ketahanan angan dan kedaulatan pangan sebagai landasan pengembangan kebijakan pertanian.  Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang terus bertambah sementara lahan pertanian terus menyusut. Pada mulanya Indonesia menjalankan kebijakan yang dilandaskan pada ketahanan pangan.   Kemudian muncul konsep tandingan: kedaulatan pangan. Kedua konsep tersebut dengan satu dan lain cara mempengaruhi pengambilan kebijakan dan pembuatan peraturan di bidang pertanian. Tulisan ini akan menelaah dari antara kedua konsep di atas manakah yang lebih cocok dan memungkinkan untuk diterapkan  di Indonesia. Dalam rangka itu pula situasi konkrit permasalahan pertanian Indonesia akan digunakan sebagai tolok ukur. Kata Kunci : Ketahanan  Pangan, Kedaulatan Pangan
PENGARUH LOKASI, KUALITAS PELAYANAN DAN RETAIL BRAND LOYALTY TERHADAP KESETIAAN PELANGGAN TOKO CV. KAWANI SARANA PETUALANG Broery Andrew Sihombing
E-Journal Graduate Unpar Vol. 1 No. 1 (2014): Part A - Economics
Publisher : E-Journal Graduate Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.898 KB)

Abstract

The objective of this research is to determine the effect of Location, Service Quality through Customer Satisfaction and Retail Brand Loyalty of CV. Kawani Sarana Petualang against Customer Loyalty, and to determine Customer Loyalty Rate of CV. Kawani Sarana Petualang.Primary data is collected from questionnaires spread to 123 customers of CV. Kawani Sarana Petualang as respondents. The writer used purposive sampling technique to choose the respondents.This research has five variables: independent variable (Store Location, Service Quality, and Retail Brand Loyalty), dependent variable (Customer Loyalty), and intervening variable (Customer Satisfaction). The writer used Structural Equation Modelling (SEM) as analytical tool with Lisrel 8.7. program. The result shows that Store Location doesn’t effect to Customer Loyalty significantly with , while Service Quality through Costumer Satisfaction with  and Retail Brand Loyalty  affect to Customer Loyalty significantly. It also shows that the highest t-value againts Customer Loayalty is Retail Brand Loyalty variable with the value of 5,15 compared with Store Location and Service Quality variable.Keywords: Retail Mix, Service Quality, Customer Satisfaction, Brand Equity, Customer Loyalty, Structural Equation Modelling (SEM)
Relasi Karakteristik Anak Tunagrahita Dengan Pola Tata Ruang Belajar di Sekolah Luar Biasa Novita Yosiani
E-Journal Graduate Unpar Vol. 1 No. 2 (2014): Part D - Architectur
Publisher : E-Journal Graduate Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.857 KB)

Abstract

Abstrak Pada diri tiap anak ada kemampuan atau potensi yang unik bagi dirinya. Dan hak-hak anak (child right) yang menyatakan bahwa semua anak memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk hidup dan berkembang secara penuh sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Pada anak berkebutuhan khusus adalah yang termasuk anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya. Perilaku anak-anak ini yang antara lain terdiri dari wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti pada anak yang normal. Pada umumnya anak berkebutuhan khusus ini biasa disebut anak tunagrahita.  Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan mental dan intelektual sehingga berdampak pada perkembangan kognitif dan perilaku adaptifnya, seperti tidak mampu memusatkan pikiran, emosi tidak stabil, suka menyendiri dan pendiam, peka terhadap cahaya, dan lain-lain.Hingga saat ini penanganan anak tunagrahita tidak dipahami secara mendalam oleh orangtua dan lembaga atau sekolah khusus anak tunagrahita. Salah satunya adalah penyediaan sarana dan prasarana ruang belajar sebagai proses belajar-mengajar sekaligus terapi bagi anak tunagrahita yang masih belum sesuai dengan kebutuhan mereka. Ruang belajar ini penting dan perlu diperhatikan demi perkembangan anak tunagrahita. Seberapa jauh pola penataan dan perwujudan fisik interior ruang belajar yang dihadirkan telah memenuhi persyaratan kebutuhan bagi anak tunagrahita pada Sekolah Luar Biasa (SLB). Pola tata ruang dan elemen pembentuk ruang yang cocok bagi ruang belajar agar sesuai dengan kebutuhan anak tunagrahita dan dapat membantu proses pembelajaran dan pemandirian diri secara maksimal. Kata Kunci: anak tunagrahita, ruang belajar, SLB  RELATIONS CHARACTERISTIC OF MENTAL RETARDATION CHILDREN WITH SPATIAL PATTERN OF CLASSROOM IN SPECIAL NEEDS SCHOOL AbstractIn each child there is a unique ability or potential for him. And children's rights (child rights) which states that all children have the same rights and obligations to live and thrive in full compliance with its potential. A child with special needs is included children experiencing barriers in the development of behavior. The behavior of these children which is comprised of speech and occupational, did not develop as a normal child. In general, children with special needs is commonly referred to child mental retardation. Mental retardation child is a child who experience barriers to mental and intellectual development that have an impact on cognitive development and adaptive behavior, such as not being able to concentrate, mood changes, aloof and reserved, sensitive to light, etc.Until now the handling of child mental retardation is not understood in depth by parents and institutions or special schools for mental retardation child. One is the provision of facilities and infrastructure space learning as well as teaching and learning process of mental retardation therapy for children who are still not fit their needs. Learning space is important and should be noted for the sake of the child's development mental retardation. How far the pattern of arrangement of interior space and the physical embodiment of learning that meets the requirements presented by the need for mental retardation in Special Needs School, called it SLB. The spatial pattern and forming elements such as whether a suitable space for classrooms to fit the needs of children and mental retardation can help the learning process and the independence of self to the fullest .Keywords: mental retardation children, classrooms, Special Needs School, SLB