cover
Contact Name
Prof. Wimpy Santosa, Ph.D
Contact Email
wimpy@unpar.ac.id
Phone
+62222042004
Journal Mail Official
fstpt7@unpar.ac.id
Editorial Address
Jl. Ciumbuleuit No. 94 Bandung 40141, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Transportasi
ISSN : 14112442     EISSN : 26151146     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Transportasi adalah jurnal ilmiah di bidang ilmu transportasi yang diterbitkan tiga kali setahun oleh Forum Studi Transportasi antar-Perguruan Tinggi (FSTPT). Makalah-makalah yang dimuat di jurnal ini merupakan makalah-makalah terbaik dari Simposium FSTPT yang diadakan setiap tahun. Selain sebagai wadah komunikasi ilmiah, penerbitan Jurnal Transportasi juga bertujuan untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan bidang ilmu transportasi. Jurnal Transportasi terakreditasi yang kedua kali berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Nomor 51/DIKTI/ Kep/2010 tanggal 5 Juli 2010.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2005)" : 9 Documents clear
PENGARUH PENAMBAHAN FIXONITE DAN SUHU PEMADATAN TERHADAP UNJUK KERJA CAMPURAN BETON ASPAL I Wayan Diana
Jurnal Transportasi Vol. 5 No. 1 (2005)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.202 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v5i1.1784.%p

Abstract

Abstrak Pada penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan aditif Fixonite pada aspal Pen. 60/70 dan suhu pemadatan terhadap unjuk kerja campuran beton aspal. Evaluasi laboratorium yang dilakukan meliputi uji properties aspal modifikasi dan agregat, uji stabilitas Marshall standar dan rendaman, serta uji stabilitas dinamis dengan alat Wheel Tracking Machine. Kadar Fixonite yang ditambahkan ke aspal bervariasi, yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15% terhadap berat aspal. Sedangkan variasi suhu pemadatan adalah 90oC, 110oC, dan 130o C, dengan 2 x 75 tumbukan Marshall dan 15 passing untuk benda uji Wheel Tracking dengan tekanan 6,6 ± 0,15 kg/cm2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aditif Fixonite dapat memperbaiki properties aspal dan unjuk kerja campuran beton aspal tipe. Pada kadar aspal optimum (KAO) sebesar 5,70% diperoleh stabilitas Marshall berturut-turt sebesar 1352 kg, 1614,6 kg, 1726 kg, dan 2110,8 kg untuk kadar Fixonite 0%, 5%, 10%, dan 15%. Renang kepadatan beton aspal yang dihasilkan adalah 2,313 gram/cm3 hingga 2,329 gram/cm3, dengan nilai VIM bervariasi antara 3,063% hingga 4,503%, dan VMA antara 15,905% hingga 16,471%. Indeks kekuatan sisa benda uji bernilai antara 84,80% hingga 86,46%,  di mana nilai-nilai ini lebih besar daripada  75%, yang berarti benda-benda uji memenuhi spesifikasi Bina Marga. Suhu pemadatan yang direkomendasikan, agar tercapai nilai VIM antara 3% hingga 5%, adalah 110oC hingga 130oC, dengan kadar Fixonite antara 5% hingga 15%. Hasil uji stabilitas dinamis menunjukkan bahwa penambahan Fixonite dapat meningkatkan nilai stabilitas dinamis dan menurunkan laju deformasi. Kata-kata kunci: Aditif Fixonite, suhu pemadatan, stabilitas Marshall, dan stabilitas dinamis.
A USER PERCEPTION MODEL CONCERNING SAFETY AND SECURITY OF PARATRANSIT SERVICES IN BANDUNG, INDONESIA Tri Basuki Joewono; Hisashi Kubota
Jurnal Transportasi Vol. 5 No. 1 (2005)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.5 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v5i1.1780.%p

Abstract

Abstract Safety and security in public transportation, Angkutan Kota or paratransit included, are among the commonly poor aspects in Indonesia. The objective of this research is to describe user perception of safety and security aspects in paratransit operation and to develop a model to predict and explain user choice in the future when there is an improvement. Users stated that the conditions of safety and security could be categorized as fair to dangerous. Realizing the condition, users still want to use paratransit because they have no other mode and paratransit can easily be found. The main reason for safety problems was the low degree of awareness of the driver in operating the car, while the main reason for security problems was the low degree of law enforcement and limited number of policemen (security officers). Users stated that the most responsible stakeholder in safety and security was the operator (driver and owner) and the police. Each aspect has two models using binomial logistic regression, namely a model with and without experience of accidents or criminal incidents. All models seem quite appropriate ones, as shown by their statistical measurement. Incorporating user experience improved the model fitness and improved the model in describing traveler characteristics.Keywords: paratransit, safety, security, perception, model.
PENGARUH METODE PEMILIHAN RUTE DALAM ESTIMASI MATRIKS ASAL TUJUAN (MAT) MENGGUNAKAN DATA ARUS LALULINTAS Rusmadi Suyuti; Ofyar Z. Tamin
Jurnal Transportasi Vol. 5 No. 1 (2005)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jtrans.v5i1.1781.%p

Abstract

Abstrak Pada hampir semua aplikasi perencanaan transportasi, input data yang paling sulit dan mahal untuk diperoleh adalah Matriks Asal Tujuan (MAT). Metodologi telah dikembangkan untuk mendapatkan MAT tersebut, yang secara garis besar dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu metode konvensional dan metode tidak konvensional. Penggunaan metode tidak konvensional mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan dengan metode konvensional dalam hal kemudahan memperoleh data, yaitu murah, cepat dan tidak mengganggu arus lalulintas. Meskipun demikian terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi akurasi MAT yang dihasilkan dari data arus lalulintas, di antaranya adalah pengaruh teknik pemilihan rute yang digunakan. Pada penelitian ini dikaji pengaruh penggunaan teknik pemilihan rute terhadap tingkat keakurasian MAT yang dihasilkan dari informasi data arus lalulintas. Jenis metode pemilihan rute yang akan ditinjau pengaruhnya adalah metode pemilihan rute All-Or-Nothing dan keseimbangan (Equilibrium Assignment). Selanjutnya proses estimasi MAT dengan menggunakan data arus lalulintas tersebut akan dianalisis menggunakan data untuk wilayah Kota Bandung dan sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tingkat keakurasian yang cukup tinggi dalam proses estimasi MAT. Hal tersebut ditunjukkan berdasarkan nilai optimum fungsi tujuan serta hasil pengujian statistika.Kata-kata kunci: pemodelan transportasi, matriks asal-tujuan, metode estimasi, distribusi perjalanan, pemilihan rute
Cover Kulit dan Daftar Isi 5-1 Cover Daftar Isi
Jurnal Transportasi Vol. 5 No. 1 (2005)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.903 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v5i1.2410.%p

Abstract

Cover Kulit dan Daftar Isi 5-1
KARAKTERISTIK LASTON MENGGUNAKAN BAHAN PENGISI ABU SAWIT Leo Santosa; Agus Ika Putra; Mufriadi .
Jurnal Transportasi Vol. 5 No. 1 (2005)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.497 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v5i1.1782.%p

Abstract

Abstrak Campuran beraspal umumnya terdiri atas agregat, bahan pengisi (filler), dan aspal sebagai bahan pengikat.  Material yang umum digunakan sebagai bahan pengisi adalah semen, pasir, kapur dan abu batu, yang persediaannya terbatas, relatif mahal, dan merupakan bahan yang tidak dapat diperbaharui. Alternatif lain adalah penggunaan abu sawit, yang merupakan limbah industri pengolahan kelapa sawit dan merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Campuran Laston yang baik adalah campuran yang memiliki stabilitas, fleksibilitas, skid resistance, kedap air, dan durabilitas yang cukup. Untuk mengetahui karakteristik Marshall dan durabilitas Laston dengan bahan pengisi abu sawit, dilakukan pengujian terhadap campuran tersebut dalam skala laboratorium. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian karakteristik standar Marshall dan durabilitas dengan metode perendaman modifikasi Marshall. Sebagai pembanding digunakan bahan pengisi semen portland dengan proporsi 100% abu sawit, 50% abu sawit – 50% semen, dan 100% semen. Pengujian berat jenis terhadap bahan pengisi menunjukkan bahwa berat jenis abu sawit (2,270) lebih kecil daripada berat jenis semen (3,027). Pengujian Marshall standar menghasilkan kadar aspal optimum laston dengan bahan pengisi 100% abu sawit (8,20%) lebih tinggi daripada kadar aspal optimum laston dengan bahan pengisi 50% abu sawit - 50% semen (7,55%), serta kadar aspal optimum laston dengan bahan pengisi 100% semen (6,25%). Stabilitas tertinggi berada pada komposisi bahan pengisi 100% semen, yaitu 1265,359 kg dan terendah berada pada bahan pengisi 100% abu sawit, yaitu 976,920 kg. Nilai kelelehan plastis (flow) pada kadar aspal optimum untuk variasi komposisi bahan pengisi 100% semen adalah 3,4 mm, untuk bahan pengisi 50% semen – 50% abu sawit adalah 2,8 mm, sedangkan untuk bahan pengisi 100% abu sawit sebesar 3,267 mm. Nilai VIM pada kadar aspal optimum pada komposisi bahan pengisi yaitu untuk bahan pengisi  100% semen sebesar 4,675%, untuk bahan pengisi 50% semen – 50% abu sawit adalah 4,082%, dan untuk bahan pengisi 100% abu sawit adalah 3,595%. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa penggunaan abu sawit sebagai bahan pengisi pada campuran laston memberikan nilai-nilai parameter Marshall yang memenuhi nilai-nilai yang disyaratkan dalam spesifikasi yang dikeluarkan oleh Bina Marga (1989). Indeks keawetan dinyatakan dalam nilai IRS dan Indeks Keawetan Craus dkk. Pengujian laboratorium pada campuran laston dengan bahan pengisi abu sawit memberikan nilai IRS sebesar 88,31% pada perendaman selama 28 hari dan nilai Indeks Keawetan Pertama Craus dkk (r) sebesar  6,44%  serta Indeks Keawetan Kedua Craus dkk (a) sebesar 20 %. Jika dibandingkan dengan syarat nilai IRS minimal untuk laston menurut Bina Marga, yaitu 75%, maka nilai IRS laston dengan bahan pengisi abu sawit memenuhi syarat.Kata-kata kunci: Bahan pengisi, abu sawit, laston, parameter Marshall
PENGARUH PEMILIHAN GRADASI TERHADAP FAKTOR PELAKSANAAN PEKERJAAN (WORKABILITY) CAMPURAN BERASPAL PORUS Hardiman .
Jurnal Transportasi Vol. 5 No. 1 (2005)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.962 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v5i1.1778.%p

Abstract

Abstrak Mudah tidaknya pelaksanaan suatu pekerjaan pengaspalan di lapangan, seperti pencampuran, penghamparan, dan pemadatan sangat terkait dengan faktor pemilihan material, peralatan (equipment), dan kondisi alam setempat. Hasil akhir campuran aspal porus yang diinginkan, antara lain, adalah kemampuan alir air yang tinggi, stabilitas yang mencukupi, tahan terhadap disintegrasi, dan mudah dalam pelaksanaan pekerjaan. Dalam makalah ini akan diperlihatkan pengaruh pemilihan gradasi terhadap faktor pelaksanaan pekerjaan campuran beraspal porus. Faktor pelaksanaan pekerjaan ini biasanya di tentukan dari hasil uji pemadatan di laboratorium. Parameter yang digunakan adalah Workability Index (WI), yang dihitung berdasarkan hubungan antara nilai rongga (voids) dalam campuran dengan putaran alat gyropac. Nilai WI yang tinggi menandakan campuran lebih mudah dalam pelaksanaan. Bagaimanapun, hasil pengamatan terhadap kemampuan alir air (permeability) dan stabilitas campuran beraspal porus juga diperlihatkan. Semua pengujian dilakukan di laboratorium Material Jalan dan Transportasi, Universiti Sains Malaysia (USM), Penang. Ada tiga jenis gradasi yang diamati, yaitu gradasi-gradasi yang menggunakan variasi ukuran maksimum agregat kasar 20, 14, dan 10 mm. Seluruh campuran menggunakan jenis bahan pengikat semen aspal penetrasi 60/70. Campuran dipadatkan dengan alat pemadat gyropac buatan Australia. Besarnya beban sumbu yang digunakan adalah 240 kPa dengan jumlah dan sudut putaran masing-masing 300 putaran dan 2°. Hasil uji memperlihatkan bahwa rongga dalam campuran beraspal porus terus berkurang seiring dengan bertambahnya jumlah putaran. Dengan ekstrapolasi dapat ditentukan nilai rongga pada putaran nol untuk setiap jenis campuran yang digunakan, sehingga diperoleh nilai WI 2,5; 2,70; 2,78 yang masing-masing mewakili campuran beraspal porus yang terbuat dari agregat kasar dengan ukuran maksimum 20, 14, dan 10 mm. Terdapat peningkatan nilai WI bila menggunakan agregat yang yang lebih halus. Naiknya nilai WI campuran beraspal porus yang terbuat dari agregat kasar dengan ukuran maksimum 10 mm menandakan bahwa jenis ini lebih mudah dalam pelaksanaan, seperti proses pencampuran, penghamparan, dan pemadatan bila dibandingkan dengan jenis campuran beraspal porus lainnya. Hasil uji juga memperlihatkan adanya kenaikan nilai permeabilitas campuran beraspal porus bila menggunakan agregat yang lebih kasar, tetapi nilai stabilitas campuran akan menurun.  Kata-kata kunci: campuran beraspal porus, permeability, stability, workability index.
MODEL KAPASITAS LANDAS PACU BANDAR UDARA Imam Basuki
Jurnal Transportasi Vol. 5 No. 1 (2005)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.882 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v5i1.1783.%p

Abstract

Abstrak Kapasitas landas pacu merupakan salah satu aspek penentu kapasitas sisi udara suatu bandar udara. Perhitungan kapasitas landas pacu dengan konfigurasi tunggal lebih kompleks dibandingkan dengan perhitungan kapasitas landas pacu dengan konfigurasi landas pacu lebih dari satu, karena dalam operasinya landas pacu tunggal melayani operasi campuran, untuk kedatangan dan keberangkatan pesawat terbang yang dilayani. Model kapasitas landas pacu untuk operasi campuran memperhitungkan tingkat kedatangan dan keberangkatan pesawat terbang dengan berbagai tipe dan berbagai kecepatan pendekatan pendaratan (approach anding speed) yang berbeda. Di samping, dengan memperhatikan situasi di mana kedatangan pesawat terbang mengalami suatu tingkat kesalahan tertentu dari yang semestinya, maka kapasitas landas pacu terpakai harus dikoreksi dengan memperhatikan hal tersebut. Dengan model kapasitas landas pacu bandar udara untuk operasi campuran dapat dibuat jadwal penerbangan yang aman bagi bandar udara tersebut.Kata-kata kunci:  model kapasitas, landas pacu, bandar udara, operasi campuran
REVIEW JARINGAN TRAYEK ANGKUDES DI KABUPATEN SLEMAN: UPAYA MENUJU PEMERATAAN PELAYANAN BERTRANSPORTASI Tri Jayanti; Heru Sutomo
Jurnal Transportasi Vol. 5 No. 1 (2005)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.641 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v5i1.1779.%p

Abstract

Abstrak Sesuai SK Bupati Kabupaten Sleman No.42/Kep.KDH/1996 tanggal 16 Februari 1996, kebutuhan mobilitas masyarakat antar wilayah dalam Kabupaten Sleman telah difasilitasi oleh 16 (enam belas) trayek, dimana dalam operasionalisasinya trayek-trayek tersebut dijalankan oleh sebanyak 335 armada angkutan perdesaan di bawah 1 (satu) pengelolaan Koperasi PEMUDA. Kondisi wilayah Sleman yang terbagi atas beberapa bagian, yaitu wilayah aglomerasi, sub-urban, wilayah penyangga (buffer zone), dan beberapa kawasan rural menyebabkan jumlah demand terhadap angkutan perdesaan juga berbeda-beda. Kenyataan bahwa jumlah demand pada wilayah aglomerasi dan sub-urban yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan demand pada wilayah penyangga dan rural menyebabkan sebagian sopir angkutan tidak menjalankan keseluruhan trayek yang telah ditetapkan. Sebagian dari mereka hanya memilih menjalankan trayek pada wilayah-wilayah aglomerasi dan sub-urban bahkan sampai masuk dalam wilayah administratif lain. Akibatnya di satu sisi pada segmen-segmen “basah” sering terjadi tumpang tindih trayek, sementara di sisi lain pada beberapa kawasan rural yang notabene secara ekonomi termasuk dalam kategori miskin menjadi semakin terisolir karena tidak terjangkau oleh angkutan umum. Penelitian ini dilakukan untuk me-review kinerja jaringan trayek angkutan perdesaan eksisting di Kabupaten Sleman untuk kemudian dapat disiapkan rumusan jaringan trayek angkutan perdesaan yang dapat melayani seluruh kebutuhan pergerakan masyarakat Kabupaten Sleman di masa sekarang hingga 10 (sepuluh) tahun ke depan. Dari penelitian ini direkomendasikan sistem pelayanan berdasarkan wilayah yang dibagi dalam 3 (tiga) zona pelayanan dengan keseluruhan trayek yang dijalankan sebanyak 25 trayek, masing-masing 8 (delapan) trayek pada WP I, 10 (sepuluh) trayek pada WP II, dan 7 (tujuh) trayek pada WP III. Untuk menjamin dijalankannya seluruh trayek yang telah direncanakan, penelitian ini juga mengusulkan manajemen penyelenggaraan baru yang melibatkan peranserta Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman. Agar perencanaan yang dihasilkan bisa secara bertahap dan sistematis dilaksanakan, maka aspek-aspek regulasi, kelembagaan, pengusahaan, SDM, pendanaan, dan penguatan harus dengan seksama disiapkan secara simultan. Kata-kata kunci: demand, sub-urban, rural, buffer zone, aglomerasi
PENGARUH GRADASI AGREGAT TERHADAP KEDALAMAN ALUR RODA PADA CAMPURAN BETON ASPAL PANAS Dwinanta Utama
Jurnal Transportasi Vol. 5 No. 1 (2005)
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.295 KB) | DOI: 10.26593/jtrans.v5i1.1785.%p

Abstract

Abstrak Beton aspal merupakan campuran aspal keras dan agregat yang mempunyai gradasi menerus (continuous graded), yang kemudian dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu. Nilai stabilitas beton aspal dicapai dengan adanya variasi ukuran butiran agregat yang saling mengunci (interlocking). Pada penelitian ini dicoba jenis bahan pengisi (filler) abu batu sebagai bahan tambahan dengan harapan diperoleh suatu campuran beton aspal yang lebih baik dan memenuhi persyaratan untuk perkerasan lapisan jalan. Metode yang digunakan dalam perencanaan campuran adalah metode Marshall, dengan mengikuti prosedur Direktorat Jenderal Bina Marga. Sebelum percobaan diperkirakan kadar aspal optimum, kemudian percobaan dilakukan untuk mencari kadar aspal optimum dengan memvariasikan kadar aspal dengan interval 0,5%, sehingga dihasilkan 2 titik di bawah dan 2 titik di atas kadar aspal optimum. Dengan menggunakan kadar aspal optimum yang diperoleh, dibuat benda-benda uji untuk pengujian Marshall standar dan pengujian Marshall immersion dengan durasi perendaman 24 jam, serta benda-benda uji untuk pengujian wheel tracking untuk mengetahui kecepatan deformasi dan stabilitas dinamis. Dari hasil pemeriksaan didapat bahwa campuran laston yang menggunakan agregat dengan gradasi di atas kurva Fuller mempunyai nilai stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan campuran laston yang menggunakan agregat dengan gradasi di bawah kurva Fuller.      Kata-kata kunci: beton aspal, bahan pengisi abu batu,  kurva Fuller, stabilitas Marshall

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 3 (2024): Jurnal Transportasi Vol. 24 No. 2 (2024): Jurnal Transportasi Vol. 24 No. 1 (2024): Jurnal Transportasi Vol. 23 No. 3 (2023): Jurnal Transportasi Vol. 23 No. 2 (2023): Jurnal Transportasi Vol. 23 No. 1 (2023): Jurnal Transportasi Vol. 22 No. 3 (2022) Vol. 22 No. 2 (2022) Vol. 22 No. 1 (2022) Vol. 21 No. 3 (2021) Vol. 21 No. 2 (2021) Vol. 21 No. 1 (2021) Vol. 20 No. 3 (2020) Vol. 20 No. 2 (2020) Vol. 20 No. 1 (2020) Vol. 19 No. 3 (2019) Vol. 19 No. 2 (2019) Vol. 19 No. 1 (2019) Vol. 18 No. 3 (2018) Vol 18, No 2 (2018) Vol. 18 No. 2 (2018) Vol. 18 No. 1 (2018) Vol 18, No 1 (2018) Vol. 17 No. 3 (2017) Vol 17, No 3 (2017) Vol. 17 No. 2 (2017) Vol 17, No 2 (2017) Vol 17, No 1 (2017) Vol. 17 No. 1 (2017) Vol 16, No 3 (2016) Vol. 16 No. 3 (2016) Vol 16, No 2 (2016) Vol. 16 No. 2 (2016) Vol. 16 No. 1 (2016) Vol 16, No 1 (2016) Vol 15, No 3 (2015) Vol. 15 No. 3 (2015) Vol. 15 No. 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol. 15 No. 1 (2015) Vol 14, No 3 (2014) Vol. 14 No. 3 (2014) Vol 14, No 2 (2014) Vol. 14 No. 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol. 14 No. 1 (2014) Vol. 13 No. 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol. 13 No. 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol. 13 No. 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol. 12 No. 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol. 12 No. 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol. 12 No. 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol. 11 No. 3 (2011) Vol. 11 No. 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol. 11 No. 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol. 10 No. 3 (2010) Vol 10, No 3 (2010) Vol. 10 No. 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol. 10 No. 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol. 9 No. 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol. 9 No. 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol. 8 No. 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol. 8 No. 1 (2008) Vol. 7 No. 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol. 7 No. 1 (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol. 6 No. 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol. 6 No. 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol. 5 No. 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol. 5 No. 1 (2005) Vol. 4 No. 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol. 4 No. 1 (2004) More Issue