cover
Contact Name
Amirullah
Contact Email
amirullah8505@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.pattingalloang@unm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan
Jurnal Pattigalloang adalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah dan Pemikiran Kesejarahan dan ilmu-ilmu sosial.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 6, No. 3, Desember 2019" : 12 Documents clear
Andi Mannappiang: Raja, Pejuang dan Penegak Hukum, 1905-1962 Narti Narti; Bahri Bahri
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12153

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang  Andi Mannappiang: Raja, Pejuang dan penegak hukum (1905-1962) dengan mengungkapkan latar belakang kehidupan, Pendidikan, kiprah dan pemikiran Andi Mannappiang sebagai raja, serta kiprah dan pemikiran Andi Mannappiang sebagai pejuang dan penegak hukum. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum kemerdekaan Indonesia Bantaeng di bawah tekanan Belanda dan Jepang namun setelah kemerdekaan kondisi sosial-politik di Bantaengsangat kacau karena kedatangan NICA oleh karena itu dibentuklah laskar perjuangan untuk  mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Bantaeng. Andi Mannappiang merupakan pejuang yang  menggerakkan perlawanan di Bantaeng.Dalam penelitian ini menjelaskan Andi Mannappiang merupakan raja yang memimpin Bantaeng selama 2 kali masa jabatan yakni pada tahun 1939-1945 tetapi karena perjuangan melawan NICA maka Andi Mannappiang ditahan. Periode kedua tahun 1950-1952, setelah mengundurkan diri dari jabatannya beliau bekerja di Kantor Kejaksaan Tinggi Makassar sebagai hakim. Kata Kunci : Raja, Pejuang, Penegak Hukum AbstractThis study aims to describe Andi Mannappiang: King, Warrior and Law Enforcement (1905-1962) by revealing the background of Andi Mannappiang's life, education, and thought as a king, and Andi Mannappiang's gait and thought as a warrior and law enforcer. In this study shows that before Indonesian independence Bantaeng was under pressure from the Netherlands and Japan but after independence socio-political conditions in Bantaeng were very chaotic because of the arrival of the NICA and therefore formed an army of struggle to maintain the independence of the Republic of Indonesia in Bantaeng. Andi Mannappiang is a warrior who stirred up resistance in Bantaeng. In this study explains Andi Mannappiang is the king who led Bantaeng for 2 times a term of office in 1939-1945 but because of the struggle against NICA, Andi Mannappiang was arrested. The second period 1950-1952, after resigning from his position he worked in the Makassar High Prosecutors Office as a judge.Keywords : King, Warrior, Law Enforcement
Situs Jera’ Lomp’e Sebagai Sumber Belajar Sejarah Siswa Kelas X SMAN 8 Soppeng Alma Paramita; Patahuddin Patahuddin; Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.703 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.11684

Abstract

 Penelitian ini adalah penelitian pre-experiment. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas X SMAN 8 Soppeng pada semester genap tahun ajaran 2018/2019 yang terdiri dari 6 kelas dan dipilih satu kelas secara acak sebagai sampel penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan tes hasil belajar (pre-test dan post-test). Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan inferensial. Hasil analisis statistika deskriptif 1) rata-rata keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan situs sebagai sumber belajar sejarah sebesar 3,9 (terlaksana dengan baik) 2) rata-rata hasil kemampuan awal siswa (pretest) yaitu 4,77 berada pada kategori sangat rendah. Rata-rata hasil belajar siswa (posttest) yaitu 8,36 berada pada kategori sangat tinggi, 3) hasil posttest menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal tercapai yakni 23 siswa mencapai ketuntasan individu. Hasil analisis inferensial menunjukkan 1) nilai rata-rata siswa yang diajar dengan pemanfaatan situs sebagai sumber belajar sejarah lebih besar dari 70 (KKM) 2) nilai rata-rata gain ternormalisasi lebih besar dari 0,3 (kategori sedang) 3) terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : (1) strategi guru dalam pemanfaatan situs sebagai sumber belajar sejarah adalah melalui media gambar, sebagai contoh peninggalan zaman islam, dan tugas individu (2) keterlaksanaan pembelajaran dengan pemanfaatan situs sebagai sumber belajar sejarah terlaksana dengan sangat baik (3) hasil belajar siswa sebelum pemanfaatan situs sebesar 4,772 yang berada pada kategori rendah (4) dari hasil belajar siswa terdapat peningkatan yang dapat diketahui dari nilai rata-rata post-test sebesar 8,363 yang berada pada kategori tinggi Kunci: Jera’ Lompo’e, Hasil Belajar, SMAN 8 Soppeng  AbstractThis research is a pre-experiment research. The population of this study was all of the 10th grade of SMAN 8 Soppeng in the even semester of the 2018/2019 school year consisting of 6 classes and one class was chosen randomly as a research sample. Data is collected by using an observation sheet of the implementation of learning and learning outcomes tests (pre-test and post-test). The data analysis technique used is descriptive and inferential analysis techniques. Descriptive statistics analysis results 1) average learning performance using the site as a source of learning history is 3.9 (well implemented) 2) average results of students' initial ability (pretest) of 4.77 are in the very low category. The average student learning outcomes (posttest) ie 8.36 are in the very high category, 3) posttest results indicate that classical completeness is achieved ie 23 students achieve individual completeness. The results of inferential analysis show 1) the average value of students taught by the use of the site as a source of learning history is greater than 70 (KKM) 2) the average value of normalized gain is greater than 0.3 (medium category) 3) there is a difference significant before and after treatment. From the results of this study it can be concluded that: (1) the teacher's strategy in utilizing the site as a source of historical learning is through the media of images, for example the relics of the Islamic era, and individual tasks (2) the implementation of learning by utilizing the site as a source of historical learning very well implemented (3) student learning outcomes before the use of the site amounted to 4,772 which are in the low category (4) of student learning outcomes there is an increase that can be seen from the average post-test score of 8.336 which is in the high category.Keyword: Jera’ Lompo’e, Learning Outcomes, SMAN 8 Soppeng
Yayasan Pendidikan Islam Tompobulu, 1962-2010 Resky Ananda; Mustari Bosra
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12166

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang, perkembangan, serta dampak keberadaan Yayasan Pendidikan Islam Tompobulu di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas empat tahapan yaitu: heuristik, kritik sumber, interpertasi, dan historiografi. Data untuk penelitian ini diperoleh dari situs resmi dari Badan Pusat Statistik Kecamatan Tompobulu, serta hasil wawancara dengan beberapa pihak yang berperan penting dalam Yayasan Pendidikan Islam Tompobulu. Beberapa sumber buku yang terkait dengan dengan kajian penulis yang diperoleh dari Perpustakaan Kota Makassar, Perpustakaan Umum Universitas Negeri Makassar, Perpustakaan Prodi Pendidikan Sejarah, serta beberapa situs di internet. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan Yayasan Pendidikan Islam Tompobulu memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan di Kecamatan Tompobulu. Yayasan ini berdiri sebagai solusi bagi masyarakat Tompobulu yang mengalami kendala dalam pendidikan. Seiring dengan berjalannya waktu, maka yayasan ini juga mengalami perkembangan mengikuti zaman, sehingga  madrasah-madrasah naungan Yayasan Pendidikan Islam Tompobulu mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain yang ada di Kabupaten Gowa, khususnya di Kecamatan Tompobulu. Yayasan ini memiliki peranan yang besar dalam mencerdaskan serta meningkatkan mutu perekonomian masyarakat Kecamatan Tompobulu. Kata kunci : Yayasan, Pendidikan Islam, Tompobulu Abstract This research and writing aims to determine the background, development, and impact of the existence of the Tompobulu Islamic Education Foundation in Tompobulu District, Gowa Regency. This study uses a historical research method which consists of four stages, namely: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Data for this study were obtained from the official website of the Central Statistics Agency of Tompobulu District, as well as the results of interviews with several parties who played an important role in the Tompobulu Islamic Education Foundation. Several book sources related to the study of writers obtained from the Makassar City Library, Makassar Public University Public Library, Historical Education Study Library, and several sites on the internet. The results of this study indicate that the existence of the Tompobulu Islamic Education Foundation has an important role in the world of education in Tompobulu District. This foundation stands as a solution for the people of Tompobulu who experience obstacles in education. As time goes by, the foundation also develops with the times, so that the Islamic Education Foundation Tompobulu madrassas are able to compete with other schools in Gowa Regency, especially in Tompobulu District. This foundation has a large role in educating and improving the economic quality of the people of Tompobulu Distric. Keywords: Foundation, Islamic Education, Tompobulu
Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru di Kabupaten Bone, 1970-2018 Nirwana Nirwana; Amirullah Amirullah; Bahri Bahri
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan latar belakang berdirinya Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru, perkembangan Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru, dan dampak keberadaan Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru bagi Alumni dan masyarakat dalam bidang agama, pendidikan, dan sosial budaya. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan metode historis. Melalui tahapan-tahapan, Heuristik (pengumpulan data), kritik (verifikasi),  interpretasi (penafsiran) dan historiografi (tulisan sejarah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang berdirinya Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru dilatarbelakangi oleh KH. Junaid Sulaiman sebagai pendiri pesantren awalnya membuka pengajian kitab kuning yang berlokasi di masjid raya Watampone. Daya tampung masjid raya yang kecil dan minat masyarakat untuk belajar semakin meningkat kemudian menjadi alasan bagi KH. Junaid Sulaiman untuk membangun pusat pendidikan Islam yang lebih besar dan bisa lebih fokus membina generasi muda. Berkat komunikasi yang baik dengan bapak Bupati Kabupaten Bone Andi Muhammad Amir dan Dewan Perwakilan Rakyat maka diperolehlah lokasi yang strategis di JL. Biru dan dengan bantuan berbagai pihak, berdirilah pesantren tersebut yang awalnya diramaikan oleh santri pindahan dari masjid raya mereka kurang lebih 20 orang. Pesantren modern Al-Junaidiyah Biru mengalami perkembangan yang dapat terlihat dengan jelas seperti perkembangan sarana dan prasarana, tenaga pengajar, dan para santrinya yang setiap tahun jumlahnya terus bertambah. Keberadaan Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru ditengah-tengah masyarakat Kabupaten Bone membawa dampak positif baik dalam bidang agama, pendidikan, dan sosial budaya. Dampak yang dirasakan secara langsung bagi masyarakat tentunya menambah pengetahuan baru tentang agama Islam dan mengetahui lebih dalam lagi tentang agama Islam. Keberadaan Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak mereka yang menginginkan anaknya mendalami ilmu keagamaan, dimana Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru sebagai salah satu sarana pendidikan yang menjadi pusat pengembangan ilmu keagamaan dan pendidikan keagamaan melalui sekolah berbasis formal dan nonformal.Kata kunci : Pesantren, Modern dan Biru AbstractThis study aims to reveal the background of the establishment of the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru the development of the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru, and the impact of the existence of Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru for alumni and the community in the fields of religion, education, and social culture. This research is a descriptive analysis using the historical method. Through the stages of heuristics (data collection), criticism (verification), interpretation (interpretation) and historiography (historical writing).Tempe and several relevant government parties. then (2) criticism, (3) interpretation and (4) historiography. The results showed that the background of the establishment of the Modern Al-Junaidiyah Biru Pesantren was motivated by KH. Junaid Sulaiman as the founder of the pesantren initially opened the study of the yellow book located in the Watampone great mosque. Small mosque capacity and interest the community to learn to improve has become an excuse for KH. Junaid Sulaiman to build a bigger Islamic education center and can be more focused on fostering the younger generation. Thanks to good communication with the Bupati regent Bone Andi Muhammad Amir and the house of representatives, a strategic location was obtained on JL. Biru and with the help of various parties, the pesantren stood which was initially enlivened by the transfer students from their grand mosque of approximately 20 people. Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru has experienced developments that can be seen clearly such as the development of facilities and infrastructure, teaching staff, and students, which are increasing every year. The existence of the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru in the middle of the Bone district community has a positive impact both in the fields of religion, education, and social culture. The impact that is felt directly for the community certainly adds new knowledge about the religion of islamic and knows more about the religion of islamic. The existence of the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru is also used by the surrounding community as a means of education for their children who want their children to study religious knowledge, where the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru as one of the educational facilities which is the center of the development of religious knowledge and religious education through schools formal and informal basis.Keywords: Boarding School, Modern, Biru
Hubungan Patron Klien pada Masyarakat Tani Marayoka di Jeneponto 1970-2018 Ramidha Ramidha M; Ahmadin Ahmadin; Jumadi Jumadi
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.609 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12052

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan masyarakat tani sebelum adanya sistem pengupahan antara patron dan klien kemudian terjadi pengupahan hingga pergeseran atau peningkatan ekonomi seorang patron ataupun klien, dampak dari hubungan patron-klien bagi kehidupan masyarakat tani pada bidang sosial-budaya dan ekonomi di Marayoka (1970-2018). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebelum adanya sistem pengupahan antara patron dan klien di Desa Marayoka, pertanian masih bersifat subsisten, dimana masyarakat hanya bekerja seadanya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan mereka masih sangat tunduk dan patuh kepada patron tanpa mendapatkan upah (sukarela), adanya sistem pengupahan masyarakat sudah mulai mencari kehidupan sendiri, kehidupan masyarakat tani di Desa Marayoka mulai mengalami peningkatan terutama dari segi ekonominya. Selain itu juga memberi dampak terhadap sistem mata pencaharian masyarakat setempat. Komoditi utama yang diusahakan jagung kuning, dan tanaman palawijaya, Namun belakangan ini usaha menjadi menurun. Bahkan sebagaian petani ada yang mengeluh karena kebun jagung dan padi produksinya menurun dan pendapatan rendah. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sebelum adanya sistem pengupahan masyarakat marayoka masih terjaling erat kerjasama misalkan pengerjaan lahan milik yang secara bergilirang tanpa terimah upah kemudian membangun hubungan patron-client dengan buruh tani melalui penggunaan buruh langganan dan buruh tetap agar tidak terjadi kecurangan. Kata Kunci: Patron, Upah, Marayoka Abstract This study aims to determine the life of the farmer community before the wage system exists between patrons and clients and the occurrence of wages to shift or increase the economy of a patron or client, the impact of the patron-client relationship for the life of the farming community in the socio-cultural and economic fields in Marayoka (1970 -2018). The results of this study indicate that before the wage system exists between patrons and clients in Marayoka Village, agriculture is still subsistence, where people only work poorly to fulfill their daily lives and they are still very submissive and obedient to patrons without getting paid (voluntary), the community wage system has begun to look for its own life, the life of the farming community in Marayoka Village has begun to increase, especially in terms of its economy. It also has an impact on the local people's livelihood systems. From this study, it can be concluded that before the marayoka community wage system was still closely intertwined with the cooperation, for example, the work of land owned by the recipient without wages then built a patron-client relationship with farm laborers through the use of subscribed and permanent laborers to avoid fraud. Keywords: Patron, Wage, Marayoka 
Peran dan Kiprah Haji Patarai Daeng Ma’ruppa, 1951-2003 B Ernawati; Bosra Mustari
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.412 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.10850

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang kehidupan Haji Patarai Daeng Ma’ruppa, Peran dan Kiprahnya sebagai pegawai peternakan dan kepala Desa/Lurah Bontonompo, serta Peran dan Kiprahnya sebagai pemangku adat dan pelestari Gaukanga di Bontonompo. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif-analisis dengan menggunakan metode penelitian sejarah melalui tahap heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Haji Patarai Daeng Ma’ruppa adalah keturunan Karaeng Polombangekeng. Menjadi teladan dalam masyarakat Bontonompo pada masa pemerintahannya. Selain sebagai teladan dalam bidang pemerintahan, Haji Patarai Daeng Ma’ruppa juga merupakan seorang pemerhati dan pelestari budaya. Denga Peran dan Kiprah sebagai pemangku adat dan Gaukanga di Bontonompo. Kesimpulan bahwa Haji Patarai Daeng Ma’ruppa memiliki Peran dan Kiprah dalam pemerintah dan Pelestarian Gaukanga serta menjadi Pemangku Adat di Bontonompo.Kata Kunci: Peran, Kiprah, dan Haji Patarai Daeng Ma’ruppa This study aims to determine the background of the life of Haji Patarai Daeng Ma'ruppa, his role and progress as an employee of animal husbandry and the head of Bontonompo Village / Village, and his role and role as customary and preserver of Gaukanga in Bontonompo. This research is a descriptive-analysis study using historical research methods through the heuristic, critical, interpretation and historiographic stages. The results of this study indicate that the Daeng Ma'ruppa Patarai Hajj is a descendant of Karaeng Polombangekeng. Being a role model in the Bontonompo community during his reign. Aside from being an example in the field of government, Haji Patarai Daeng Ma'ruppa is also a cultural observer and preserver. With the role and role of the indigenous people and Gaukanga in Bontonompo. The conclusion is that Haji Patarai Daeng Ma'ruppa has a role and role in the government and the preservation of Gaukanga as well as being a traditional holder in Bontonompo.Keywords: Role, Gait, and Haji Patarai Daeng Ma'ruppa
Marrai di Sungai Walanae Desa Barae Kabupaten Soppeng,1970-2018 Selvi Elviana; Patahuddin Patahuddin; Asmunandar Asmunandar
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12167

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang munculnya aktivitas marrai di Sungai Walanae Kabupaten Soppeng, perkembangan aktivitas marrai di Sungai Walanae Kabupaten Soppeng, serta dampak aktivitas marrai di Sungai Walanae bagi masyarakat Desa Barae Kabupaten Soppeng.  Hasil penelitian ini menunjukkan latar belakang bahwa munculnya aktivitas marrai di Sungai Walanae karena beberapa faktor, diantaranya; (1) tuntutan kebutuhan ekonomi masyarakat, (2) rendahnya pendidikan, (3) sulitnya mencari lapangan kerja. Marrai awalnya hanya dijadikan sebagai alat transportasi air yakni pada tahun 1970-1980-an. Namun pada tahun 1990-an aktivitas marrai menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Desa Barae. Selain itu, hasil penelitian menemukan bahwa aktivitas marrai juga memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Barae Kabupaten Soppeng, antara lain terjadinya hubungan baik antara pihak-pihak yang terlibat dalam berlangsungnya aktivitas marrai, Sedangkan dalam bidang ekonomi, tersedianya lowongan pekerjaan bagi masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan, mulai dari pengangkutan batang bambu dari kebun hingga ke pinggir Sungai atau tempat pembuatan rai (rakit), kemudian sebagai pengikat atau penyusun bambu hingga sebagai Parrai (orang yang menggunakan rakit) yang masing-masing mendapatkan upah Rp.100.000 per hari, kecuali Parrai upahnya tergantung jarak yang ditempuh. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa aktivitas Marrai merupakan budaya lokal masyarakat Desa Barae Kabupaten Soppeng yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang sudah sepatutnya untuk dipertahankan dan dilestarikan sebagai kearifan lokal masyarakat.  Kunci: Marrai, Walanae, dan Budaya Lokal AbstractThis study aims to determine the background of the emergence of marrai activities in the Walanae River in Soppeng Regency, the development of marrai activities in the Walanae River in Soppeng Regency, and the impact of marrai activities in the Walanae River for the people of Barae Village, Soppeng Regency. The results of this study indicate the background that the emergence of marrai activity in the Walanae River due to several factors, including; (1) demands of the economic needs of the community, (2) low education, (3) difficulty in finding employment. Marrai was originally only used as a means of water transportation in the 1970-1980s. But in the 1990s marrai activity became a source of livelihood for the people of Barae Village. In addition, the results of the study found that marrai activity also had a positive impact on the people of Barae Village, Soppeng Regency, including the good relations between the parties involved in the ongoing marrai activity, while in the economic field, the availability of job vacancies for people who did not have a job starting from transporting bamboo stems from the garden to the edge of the river or place of making rai (rafts), then as a binder or compiler of bamboo to parrai (people who use rafts), each of which gets a wage of Rp. 100,000 per day, except for parrai's wages depending on the distance traveled. From the results of this study, it can be concluded that the activity of Marrai is a local culture of the people of Barae Village, Soppeng Regency, which has life values that should be maintained and preserved as local wisdom of the community.Keywords: Marrai, Walanae, and Local Culture.
Ekspansi Kerajaan Gowa-Tallo Ke Limae Ajatappareng Abad XVI Sahrul Habrianto; Saleh Madjid; Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.198 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12054

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang ekspansi kerajaan Gowa-Tallo ke Limae Ajatappareng dengan menguraikan gambaran umum Gowa-Tallo dan Limae Ajatappareng, latar belakang penyebab terjadinya ekspansi, bentuk-bentuk ekspansi, serta dampak ekspansi bagi masing-masing pihak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Ekspansi kerajaan Gowa-Tallo ke Limae Ajatappareng dimulai pada masa pemerintahan Karaeng Tunipallangga (1546-1565) yang berawal dari keinginan untuk mengembangkan perekonomian dan perdagangan maritim. Ekspansi ini bukan hanya semata-mata ekspansi fisik, namun juga dalam bentuk penguasaan perekonomian dan pertalian darah melalui perkawinan politik. Ekspansi ini bertujuan agar bandar kerajaan Gowa-Tallo dapat berkembang mengalahkan pesaingnya sehingga mengindikasikan bahwa motif utama dari ekspansi ini adalah terkait dengan masalah perekonomian. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pada akhirnya kerajaan Gowa-Tallo berhasil mengamankan suplai bahan pangan, serta berhasil memajukan bandar kerajaannya. Keberhasilan ekspansi ini ditandai dengan semakin ramainya bandar kerajaan Gowa-Tallo yang bertahan hingga puluhan tahun sebelum penguasaan oleh VOC pada abad XVII. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian sejarah yang meliputi heuristik yaitu tahapan pengumpulan data, kritik sumber yang bertujuan untuk menilai sumber yang tersedia, interpretasi yaitu menafsirkan sumber dan data yang tersedia, serta historiografi sebagai langkah akhir yakni menyajikan data menjadi satu tulisan sejarah utuh. Metode pengumpulan data yaitu dengan mengumpulkan sumber-sumber pustaka baik buku ataupun arsip-arsip serta wawancara terhadap peneliti-peneliti yang memiliki kajian yang berkaitan sebagai pelengkap dari data-data yang telah diambil sebelumnya.Kata Kunci : Ekspansi, Limae Ajatappareng, Gowa-Tallo Abstract This research aims to know about the expansion of Gowa-Tallo kingdom to Limae Ajatappareng by elaborating the overview of Gowa-Tallo and Limae Ajatappareng, the background of the cause of expansion, expansion forms, and impact Expansion for each party. The results showed that, Gowa-Tallo Kingdom expansion to Limae Ajatappareng began during the reign of Karaeng Tunipallangga (1546-1565) which originated from the desire to develop the economy and maritime trade. This expansion is not merely a physical expansion, but also in the form of economic mastery and blood connection through political marriage. This expansion is aimed at making the Gowa-Tallo royal port able to develop to defeat its competitors, thus indicating that the main motive of this expansion is related to economic problems. Based on the research, it is concluded that the Gowa-Tallo kingdom was finally able to secure the supply of food, and managed to advance its royal port. The success of the expansion was characterized by the growing port of Gowa-Tallo, which lasted for decades before mastering by VOC in the 17th century. This research uses a history research methodology which includes a heuristic that is the stage of data collection, criticism of sources aimed at assessing the available sources, interpretation of which is interpreting the source and data available, as well as historiography as the final step of presenting the data into a single historical inscription intact. The method of data collection is by collecting the library resources both books and archives as well as interviews to researchers who have related studies as a complement of the data that has been taken before.Keywords : Expansion, Limae Ajatappareng, Gowa-Tallo
Perkembangan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Luwu, 1967-2017 Anita Rahayu; Muh Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.683 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12165

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang SMAN 1 Luwu sebagai wadah proses pendidikan di Kabupaten Luwu 1967-2017) dengan mengungkap proses berdirinya SMAN 1 Luwu dan perkembangan SMAN 1 Luwu dalam periode 1967-1998 dan periode 1998-2017 serta peranan keberadaan SMAN 1 Luwu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, berdirinya SMAN 1 Luwu dimulai pada masa kepemimpinan Husain Saweni (1967-1980). Proses pendirian SMAN 1 Luwu tidak terlepas dari peran masyarakat yang menginginkan adanya pendirian sekolah sebagai sarana pendidikan formal. Perkembangan SMAN 1 Luwu dapat di lihat dari perkembangan sarana dan prasarana yang mengalami peningkatan serta prestasi-prestasi yang di raih oleh peserta didik baik akademik maupun non akademik. Keberadaan SMAN 1 Luwu sebagai pelopor pertama berdirinya sekolah pendidikan tingkat SMA dan termasuk sekolah yang diunggulkan dalam hal pencapaian prestasi di Kabupaten Luwu. Pendirian sekolah ini di rasakan masyarakat sebagai satu jalan dalam peningkatan pengembangan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa masyarakat yang berperan aktif dalam proses pendirian SMAN 1 Luwu. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal di antaranya sulitnya akses pendidikan tingkat SMA di Luwu, kesadaran akan pentingnya pendidikan, serta dukungan dari pihak masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik yaitu tahapan pengumpulan data, kritik sumber bertujuan menilai dan menentukan sumber, interpretasi yaitu menafsirkan data dan tahap historiografi atau penyajian atau penulisan sejarah. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian lapangan terdiri dari wawancara (wakil kepala sekolah dan alumni SMAN 1 Luwu) dan mengumpulkan dokumen sekolah serta literatur-literatur  yang berhubungan dengan penelitian ini.Kata kunci: Perkembangan, SMA, Luwu AbstractThis study aims to know about SMAN 1 Luwu as a vessel through the process of education in the district Luwu 1967-2017) to uncover the process establishment of the SMAN 1 Luwu and development SMAN 1 Luwu in a period 1967-1998 and 1998-2017 as well as the role of the existence of SMAN 1 Luwu. The results of research showing that, the establishment of the SMAN 1 Luwu began in the leadership of Husain Saweni (1967-1980). The process of the establishment of SMAN 1 Luwu not in spite of the role society who wanted the establishment of the school as a means of a formal education. The development of the means and infrastructure that have increased asv well as echievement in achieved by learners good academic and a academic. The existence of SMAN 1 Luwu as a pioneer first the establishment of the school education level of high school and including the school featured in term of achievement achievement in the district Luwu.The establishment of this school in feel community as one of the road in a increase in the development of education. Based on research results can be in conclude that people who played the active in the process of the establishment of SMAN 1 Luwu. This is caused by some of them difficult access education level of high school in Luwu, mindfulness will be the importance of education, as well as the support of the community. This study uses a historical research methodology which includes heuristics, namely the stages of data collection, source criticism aimed at assessing and determining the source, interpretation of interpreting the data and historiographic stage or presenting or writing history. The method of data collection done by the research field consisting of an interview (deputy head teacher and alumni SMAN 1 Luwu) and collect papers of the school and literature-literature dealing with this researchKeywords: Development, High School, Luwu
Industri Rumah Tangga Keripik Pisang Koisna di Kecamatan Mangkutana, 2003-2017 Meriam Meriam; Rasyid Ridha; Patahuddin Patahuddin
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12058

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang berdirinya industri rumah tangga, perkembangan  industri, dan dampak industri. Batasan awal penelitian ini diambil pada tahun 2003 karena pada tahun ini merupakan awal mulanya usaha industri rumah tangga keripik pisang Koisna di Mangkutana didirikan. Batasan akhirnya adalah tahun 2017 yang  merupakan periode yang menjelaskan perkembangan industri rumah tangga keripik pisang Koisna di Mangkutana. Penelitian di lakukan melalui studi lapangan dan kajian pustaka dengan mengunakan metode sejarah melalui beberapa tahapan kerja, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa industri  rumah tangga keripik  pisang  Koisna berdiri dan dilatar belakangi oleh adanya seorang karyawan yang telah di PHK sehingga berkeinginan untuk membentuk industri makanan dengan mengolah pisang tersebut. Perkembangan industri makanan keripik ini dalam kurun waktu 2003-2017 telah membawa perubahan dalam hal produksi yang meningkat dari tahun ke tahun dengan mengikuti musim buah. Kehadiran industri rumah tangga keripik pisang Koisna membawa dampak sosial dalam hal perubahan interaksi yang semakin kuat dengan pekerja industri. Selain itu, keberadaan industri rumah tangga di Mangkutana telah membantu kehidupan perekonomian masyarakat dalam  hal memberikan lapangan kerja.Kesimpulan bahwa dalam  perkembangan industri keripik pisang di Mangkutana selalu mengalami peningkatan setiap tahun. Hal ini karena banyaknya permintaan dari konsumen. Pemasaran keripik pisang Koisna ini telah sampai di luar Mangkutana dan sampai sekarang sudah lebih banyak di pesan dari berbagai konsumen. Kata Kunci : Industri, Keripik, dan Mangkutana AbstractThis study aims to determine the background of the establishment of the home industry, industrial development, and industrial impact. The initial limitation of this study was taken in 2003 because this year was the beginning of the Koisna banana chips home industry in Mangkutana. The final limit is 2017 which is the period that explains the development of the Koisna banana chip home industry in Mangkutana freightana.The research was conducted through field studies and literature studies using historical methods through several stages of work, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography.The results of this study indicate that the home industry of Koisna banana chips stands and is motivated by the existence of an employee who has been laid off so that he wishes to form a food industry by processing the banana. The development of the chip food industry in the period 2003-2017 has brought changes in terms of production which increased from year to year by following the fruit season. The presence of the Koisna banana chips home industry has a social impact in terms of changing interactions that are getting stronger with industrial workers. In addition, the existence of a home industry in Mangkutana freightana has helped the community's economic life in terms of providing employment.The conclusion that in the development of the banana chips industry in Mangkutana freightana is always increasing every year. This is because of the many requests from consumers. The marketing of Koisna banana chips has reached outside Mangkutana conveyana and until now it has been mostly ordered by various consumers.Keywords: Industry, Chips, and Mangkutan

Page 1 of 2 | Total Record : 12