cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. purworejo,
Jawa tengah
INDONESIA
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
ISSN : 23030631     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ADITYA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai media publikasi hasil karya ilmiah. Terbit dua kali setahun tiap bulan November dan Mei. Redaksi menerima artikel dari kalangan mahasiswa, budayawan, ahli sastra maupun praktisi pendidikan.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2013): ADITYA" : 11 Documents clear
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TRADISI SURAN DI MAKAM GEDIBRAH DESA TAMBAK AGUNG KECAMATAN KLIRONG KABUPATEN KEBUMEN Tanti Wahyuningsih
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.931 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, yaitu (1) mendeskripsikan prosesi tradisi suran di Makam Gedibrah Desa Tambak Agung, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen; (2) untuk mengetahui keterkaitan antara tradisi suran di Makam Gedibrah dengan agama Islam; (3) untuk mengetahui persepsi masyarakat Tambak Agung terhadap tradisi suran di Makam Gedibrah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian mengungkapkan prosesi tradisi suran, yaitu (1) persiapannya menarik uang kepada warga untuk membeli bumbu rempah-rempah. Sementara itu untuk pelaksanaannya yaitu dimulai dari Juru kunci mempersiapkan sesaji yang akan diletakkan di dalam rumah sampai acara makan bersama; (2) Keterkaitan antara tradisi suran di Makam Gedibrah dengan agama Islam yaitu musyrik atau tidaknya tergantung niat dan cara meminta masing-masing individu. Dikatakan musyrik apabila meminta suatu permohonan kepada arwah Mbah Gedibrah. Ada pula yang menganggap bahwa tradisi suran di Makam Gedibrah sebagai suatu kepercayaan dan budaya; (3) Persepsi masyarakat terhadap tradisi suran di Makam Gedibrah yaitu mendukung karena merupakan kebudayaan Jawa. Hal tersebut tidak menjadi masalah jika tujuannya hanya untuk mengenang sejarah karena merupakan sebuah naluri kuno yang harus dijaga. Ada pula masyarakat yang menyumbangkan kambing apabila permohonannya terkabul. Kata kunci: persepsi masyarakat, tradisi suran
PENGGUNAAN BAHASA JAWA DI DESA PECEKELAN KECAMATAN SAPURAN KABUPATEN WONOSOBO (KAJIAN DIALEK) Novita Widihastuti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.352 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (a) variasi fonologis yang terjadi pada bahasa Jawa di Desa Pecekelan Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo; (b) bentuk leksikon pada dialek bahasa Jawa di Desa Pecekelan Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini menggunakan metode deskripstif kualitatif sehingga menghasilkan data deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode Pupuan Lapangan dengan dua cara yaitu pencatatan langsung dan rekaman. Objek dalam penelitian ini adalah dialek bahasa Jawa pada masyarakat Desa Pecekelan Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah masyarakat desa Pecekelan yang sudah penulis tunjuk menjadi narasumber, dalam penelitian ini peneliti menembuh waktu kurang lebih enam bulan dan tempat penelitianya adalah di Desa Pecekelan Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode Distribusional melalui teknik pasangan minimal, sedangkan untuk teknik penyajian data disajikan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: (1) dilihat dari sudut pandang dari bidang fonologi, antara bahasa Jawa di Desa Pecekelan memiiki perbedaan dalam segi perelisasian dengan bahasa Jawa standar. Perbedaan ini terletak pada fonem /u/ dilafalkan [U]; fonem /i/ dilafalkan [I] untuk semua posisi, yaitu posisi awal, tengah, dan akhir. Bunyi akhir /n/ dilafalkan [ŋ] pada kata-kata tertentu dan inilah yang menjadi ciri khas bahasa Jawa di Desa Pecekelan; (2) pada leksikon bahasa Jawa di Desa Pecekelan, terdapat persamaan dan perbedaan dengan bahasa standar. Dalam menggunakan bahasa Jawa sehari-hari masyarakat Desa Pecekelan menggunakan bahasa Jawa ngoko, tetapi pada keadaan dan waktu tertentu menggunakan bahasa Jawa krama. Bahasa Jawa ngoko biasanya digunakan pada percakapan sehari-hari dalam situasi yang santai dan bahasa Jawa krama biasanya digunakan dalam situasi yang resmi.   Kata kunci: dialek bahasa Jawa, desa pecekelan
ANALISIS BENTUK DAN NILAI KESENIAN NDOLALAK PUTRI “DWI LESTARI” DESA PLIPIR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO Theo Artanti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.176 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk tarian dalam pertunjukan kesenian ndolalak putri “Dwi Lestari” Desa Plipir Kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo; (2) menjelaskan nilai-nilai moralitas yang terkandung dalam kesenian ndolalak putri “Dwi Lestari” Desa Plipir kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, sehingga menghasilkan data deskriptif. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data yaitu teknik pustaka, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wujud data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah informasi yang berkaitan dengan kesenian ndolalak putri “Dwi Lestari” dan berupa foto-foto dan video pertunjukan kesenian ndolalak putri “Dwi Lestari” yang di dalamnya mencakup proses pertunjukan, sesaji, doa-doa, mantra-mantra, gerak, pakaian, dan perlengkapan lainnya yang digunakan dalam pertunjukan tersebut. Data-data tersebut kemudian dianalisis dengan cara mereduksi, mengklasifikasi, dan mendeskripsikan untuk selanjutnya disimpulkan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan  bahwa kesenian ndolalak putri “Dwi Lestari” merupakan salah satu kesenian tradisional khas Purworejo. Prosesi pertunjukan kesenian ndolalak putri “Dwi Lestari” meliputi gladi bersih, kepung tumpeng, membaca doa, tetabuhan, obong menyan, pementasan kesenian ndolalak putri “Dwi Lestari”, dan diakhiri dengan doa. Gerakan tarian kesenian ndolalak putri “Dwi Lestari” dalam penelitian ini meliputi tiga periode yaitu periode pertama tarian alusan atau tarian pembuka, tarian pethilan yang terdiri dari tari jalan-jalan ganda dan tari jalan-jalan keras, tarian ndadi. Periode kedua yaitu tari pakai nanti, tari kuning-kuning, dan tarian ndadi atau kesurupan. Periode ketiga ada tari ambil kain, tari kupu-kupu, tari emak-emak, tarian ndadi. Selanjutnya kesenian ndolalak putri “Dwi Lestari” Desa Plipir Kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo ini juga mengandung nilai-nilai moral yang meliputi nilai moralitas ketuhanan, nilai moralitas sosial atau kemasyarakatan, dan nilai pendidikan budi pekerti atau kesusilaan.   Kata Kunci: Bentuk, Nilai, Kesenian Ndolalak
KAJIAN FONOLOGI DAN LEKSIKON BAHASA JAWA DI DESA WANAYASA KECAMATAN WANAYASA KABUPATEN BANJARNEGARA Fita Andriyani Eka Kusuma
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.077 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap wujud fonologi bahasa Jawa dan leksikal pemakaian bahasa Jawa yang terdapat di Desa Wanayasa. Metode penelitian ini menggunakan metode pupuan lapangan yang dilengkapi dengan instrumen. Dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode padan dan metode agih. Penjabaran dari penelitian bahasa Jawa di Desa Wanayasa, penulis lakukan dalam bentuk penyajian hasil analisis data dengan mempergunakan cara yang dikenal sebagai metode penyajian kaidah yaitu yang bersifat informal dan bersifat formal. Dipandang dari bidang fonologi bahasa Jawa di Desa Wanayasa memiliki perbedaan dengan bahasa Jawa Yogyakarta. Perbedaan tampak pada fonem /a/ tetap pada bunyi [a] bukan fonem /ב/ contoh yang terdapat di Desa Wanayasa kata [sǝga] ‘nasi’ sedangkan dalam bahasa Jawa Yogyakarta [sǝgב] ‘nasi’, fonem /i/ dalam bahasa Jawa di desa Wanayasa menggunakan [I] sedangkan bahasa Jawa Yogyakarta menggunakan /i/ contoh di desa Wanayasa [sIkIl] ‘kaki’ di Yogyakarta [sikil] ‘kaki’, pemakaian leksikon khas yang masih digunakan di desa Wanayasa seperti kata [mbǝrUh] ‘tidak tahu’, [mbǝti] ‘banget’, [pazUŋ] ‘payung’ secara umum bahasa Jawa di desa Wanayasa.   Kata kunci : Fonologi dan leksikon, desa Wanayasa
PEMEROLEHAN RAGAM BAHASA JAWA PADA ANAK USIA 2 TAHUN (Studi kasus) Fitria Dwi Apriliawati
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.003 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pemerolehan bahasa Jawa pada anak usia 2 tahun, (2) ragam bahasa Jawa yang diperoleh anak usia 2 tahun. Teori yang mendukung dalam penelitian ini adalah teori Chaer, Dardjowidjojo, Tarigan, dan Kushartanti tentang pemerolehan bahasa. Antara teori yang satu dengan teori yang lainnya penulis jadikan sebagai teori yang saling melengkapi. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini yaitu anak usia 2 tahun yang bernama Zulfa Azalia Salsabila, sedangkan objek penelitian ini yaitu wujud pemerolehan bahasa anak usia 2 tahun ragam bahasa Jawa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik rekam, teknik catat, dan teknik pancing. Instrumen pengumpulan data ialah peneliti sendiri dan dibantu dengan alat-alat seperti kartu data, alat perekam, dan alat tulis. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh hasil penelitian bahwa wujud pemerolehan bahasa pada anak usia 2 tahun berupa pengulangan kata, penggantian konsonan, pemotongan atau pemendekan kata, penggantian kata, penambahan konsonan, dan penggunaan kalimat negatif atau penolakan. Anak yang bernama Zulfa Azalia Salsabila lebih banyak dan hampir selalu menggunakan bahasa Jawa ngoko daripada bahasa Jawa krama untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain dalam kesehariannya karena di lingkungan keluarga dan di lingkungan masyarakat sekitarnya biasa menggunakan bahasa Jawa ngoko.   Kata kunci : pemerolehan bahasa, bahasa Jawa
ANALISIS KESALAHAN ORTOGRAFI PADA KARANGAN BERBAHASA JAWA RAGAM KRAMA SISWA KELAS X TKR A SMK YPT PURWOREJO Afiani Dwi Lestari
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.076 KB)

Abstract

ABSTRAK Dalam Penelitian ini penulis mengkaji dua masalah pokok yakni (1) kesalahan fonologi, dan (2) kesalahan morfologi. Tujuan kajian yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk kesalahan fonologi dan mendeskripsikan kesalahan morfologi. Sumber data yang digunakan adalah karangan siswa kelas X SMK YPT Purworejo tahun ajaran 2012/2013. Pengumpulan data dilakukan dengan (1) tes;  (2) teknik simak catat. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan metode agih yang dilanjutkan dengan teknik ganti dan lesap. Selanjutnya, teknik penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa (1) kesalahan fonologi yang meliputi kesalahan penggunaan huruf kapital mengalami kesalahan sebanyak 9 kesalahan, kesalahan huruf konsonan sebanyak 58 kesalahan, kesalahan penulisan vokal sebanyak 34 kesalahan, dan kesalahan penggunaan tanda titik sebanyak 3 kesalahan. (2) Kesalahan morfologi yang meliputi kesalahan pembentukan kata dengan pengimbuhan akhiran (sufiks) sebanyak 3 kesalahan, pembentukan kata dengan pengimbuhan awalan (prefiks) sebanyak 3 kesalahan, dan kesalahan pembentukan kata dengan pengimbuhan di tengah (infiks) sebanyak 0 kesalahan. Bahasa yang digunakan siswa masih sangat kurang, karena siswa masih belum mampu menggunakan bahasa jawa terutama bahasa jawa krama.   Kata kunci : bahasa, fonologi, morfologi
PENGGUNAAN BAHASA JAWA PADA ANAK USIA 8 DAN 9 TAHUN DI DESA LUNDONG KECAMATAN KUTOWINANGUN KABUPATEN KEBUMEN Ani Lestari
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.436 KB)

Abstract

ABSTRAK Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui; (1) Bagaimana bentuk penggunaan bahasa Jawa ragam krama dan ngoko pada anak usia 8 tahun di Desa Lundong, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen?, (2) Bagaimana bentuk penggunaan bahasa Jawa ragam krama dan ngoko pada anak usia 9 tahun di Desa Lundong, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen?. Jenis peneltian ini yaitu jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik rekam, teknik simak dan catat. Instrumen penelitian adalah peneliti terlibat langsung dalam pengambilan data yang dibantu dengan alat tulis dan alat rekam. Dalam analisis data digunakan teknik deskriptif. Teknik penyajian hasil analisis data yang digunakan ialah teknik informal. Berdasarkan hasil disimpulkan bahwa: penggunaan bahasa Jawa sehari-hari pada anak usia 8 dan 9 tahun di Desa Lundong menggunakan bahasa Jawa ngoko, tetapi pada keadaan dan waktu tertentu menggunakan bahasa Jawa krama. Bahasa Jawa ngoko biasanya di gunakan pada percakapan sehari-hari dalam situasi yang santai dan bahasa Jawa krama biasanya digunakan dalam situasi yang resmi.   kata Kunci: Penggunaan bahasa Jawa pada anak Usia 8 dan 9 Tahun di Desa Lundong
ETIKA DAN ESTETIKA DALAM NOVEL RANGSANG TUBAN KARYA PADMASUSASTRA Qoriatul Anief Agustina
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.176 KB)

Abstract

  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) nilai-nilai etika yang terkandung dalam novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra; (2) unsur-unsur estetika yang terkandung dalam novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra. Teori yang dijadikan dasar analisis skripsi ini adalah teori Suwardi Endraswara (2010) dan Padmosoekotjo (1958). Subjek dalam penelitian ini adalah novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra. Objek penelitian adalah nilai-nilai etika dan unsur-unsur estetika yang terdapat dalam novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah berupa teks novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra. Metode yang digunakan sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan teknik catat. Instrumen yang digunakan adalah peneliti sendiri yang dibantu dengan kartu pengumpul data, buku-buku dan media lain yang mendukung. Kemudian analisis data, peneliti menggunakan teknik analisis konten (content analysis). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai etika dalam novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra meliputi etika keselarasan sosial terdapat 10 indikator, dan nilai kebijaksanaan terdapat 15 indikator. Sedangkan unsur-unsur estetika yang terdapat dalam novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra meliputi paribasan terdapat 8 indikator, bebasan terdapat 8 indikator, pepindhan terdapat 14 indikator, tembung garba terdapat 3 indikator, dasanama terdapat 8 indikator, yogyaswara terdapat 1 indikator, purwakanthi guru swara terdapat 2 indikator, dan tembung saroja terdapat 6 indikator.   Kata kunci: Etika, Estetika, Novel
ANALISIS BENTUK DAN NILAI PERTUNJUKAN JARAN KEPANG TURANGGA SATRIA BUDAYA DI DESA SOMONGARI KECAMATAN KALIGESING KABUPATEN PURWOREJO Yusi Agustina
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.748 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mendiskripsikan permasalahan (1) Prosesi Pertunjukan Jaran Kepang Turangga Satria Budaya di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo (2) Nilai Estetis Pertunjukan Jaran Kepang Turangga Satria Budaya di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo (3) Makna Simbolis Sesaji/Ubarampe Pertunjukan Jaran Kepang Turangga Satria Budaya di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Penelitian Analisis Bentuk dan Nilai Pertunjukan Jaran Kepang Turangga Satria Budaya di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari informan setempat. Subjek penelitian yaitu perangkat desa, sesepuh desa, anggota paguyuban kesenian jaran kepang. Objek penelitian yaitu Prosesi Pertunjukan Jaran Kepang Turangga Satria Budaya di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, Nilai Estetis Pertunjukan Jaran Kepang Turangga Satria Budaya di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, Makna Simbolis Sesaji Pertunjukan Jaran Kepang Turangga Satria Budaya di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Tempat penelitian berada di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis data. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Selanjutnya teknik keabsahan data mengunakan triangulasi. Hasil dari penelitian Prosesi Pertunjukan Jaran Kepang Turangga Satria Budaya di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, (1) Pra pertunjukan, meliputi: (a) membersihkan lingkungan desa dan pembuatan panggung, (b) pembuatan ubarampe/sesaji, (c) nyekar ke pepundhen, (d) obong menyan, (2) Pertunjukan, meliputi: tari pambuka, tari persembahan, tari sekar taji, tari rampak muda, tari suka-suka, ndadi/kesurupan, dan (3) Pasca pertunjukan ditutup dengan gendhingan yang dilakukan oleh seluruh anggota kesenian. Nilai Estetis Pertunjukan Jaran Kepang Turangga Satria Budaya terdapat pada;  (a) tarian, (b) tata busana, (c) tata rias, (d) alat musik, (e) lagu. Makna Simbolis Sesaji/Ubarampe Pertunjukan Jaran Kepang terdapat pada; (a) nasi tumpeng, (b) ayam panggang, (c) pisang raja, (d) gemblong, (e) wajik, (f) kupat lepet, (g) bonang-baneng, (h) arang-arang kambang, (i) degan. Kata kunci : Bentuk, Nilai, Jaran Kepang
POLA PERILAKU RELIGIUS ALIRAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT KEROKHANIAN SAPTA DARMA DI DESA BRENGKELAN KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO Reni Tiyu Wijayanti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 3 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.68 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan: (1) Tata cara religius aliran kepercayaan masyarakat kerokhanian Sapta Darma di Desa brengkelan Kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo; (2) pola perilaku religius aliran kepercayaan masyarakat Sapta Darma di Desa Brengkelan Kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo. Sumber data penelitian ini berupa informasi dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode yang digunakan adalah kulaitatif dengan menggunakan pendekatan budaya. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, kegiatan aliran kepercayaan pada kerokhanian Sapta Darma bermula bermula dari Bapak Harjo Sapoetra yang biasa dipanggil Pak Sepuro berasal dari Desa Sanding Kawedanan Pare Kediri. Penelitian ini meliputi (1) wewarah tujuh yaitu kewajiban kerokhanian Sapta Darma. (2) Simbol pribadi manusia yaitu yang menggambarkan asal, sifat pribadi manusia. (3) sujud yang harus dilakukan oleh masyarakat kerokhanian Sapta Darma. Sedangkan penelitian terkait dengan pola perilaku religius meliputi: (1) Tali Rasa, manusia hidup memiliki simpul-simpul dalam tubuh manusia. (2) Ening atau Semedi menentramkan pikiran yang beraneka warna angan-angan dan sebagainya. (3) Tukar Hawa yaitu suatu usaha untuk menghilangkan kelelahan. (4) ulah Rasa yaitu suatu cara untuk mencapai budi luhur yang harus dimiliki setiap satria utama, yaitu mereka yang ingin senantiasa waspada penuh “waskita” bijaksana dan melihat, mendengar, atau berkata ataupun mencium sesuatu bau. (5) Racut yaitu memisahkan rasa dengan perasaan dengan tujuan menyatukan diri dengan sinar sentral atau roh suci bersatu dengan roh sentral. Kata Kunci: Tata cara dan Perilaku Religius, Aliran Kepercayaan kerokhanian Sapta Darma

Page 1 of 2 | Total Record : 11