cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER" : 8 Documents clear
PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH ASAL UMBI TSS VARIETAS TUK TUK PADA UKURAN DAN JARAK TANAM YANG BERBEDA Wika Anrya Darma; Anas Dinurrohman Susila; Diny Dinarti
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.739 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.980

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan mulai Oktober 2014 hingga Februari 2015 di Green House Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Dramaga, Bogor. Penelitian ini bertujuan memperoleh ukuran umbi asal TSS dan jarak tanam yang optimal dalam memproduksi umbi benih bawang merah. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dua faktor. Faktor pertama yaitu ukuran umbi yang terdiri dari umbi berukuran sedang (diameter= 1.5-1.8 atau berbobot 5-10 g) dan besar (diameter= 1.8 cm atau berbobot 10 g). Faktor kedua yaitu jarak tanam yang terdiri dari jarak tanam 20x20 cm dan 30x30 cm. Umbi yang digunakan dalam percobaan ini merupakan umbi hasil penanaman dari biji TSS yang telah disimpan selama dua bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan umbi berukuran sedang dan besar tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi bawang merah. Sedangkan jarak tanam memberikan hasil yang berbeda nyata. Penggunaan umbi berukuran sedang pada jarak tanam yang lebih rapat dapat meminimalkan biaya produksi dari segi penyediaan umbi benih..Kata kunci: Bawang merah, jarak tanam, ukuran umbi, umbi benih asal TSS
INOKULASI Azospirillium sp DARI LAHAN KERING MADURA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG Ach. Khoirul Ikhwan; Ahmad Waqik; Mohammad Anwar; Ummu Fitrothul; Dwi Rahmawati; Gita Pawana
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.069 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.985

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat bakteri Azospirillium sp dari Madura, serta mengkaji kehandalannya dalam menggantikan pupuk N sintetik. Samel tanah diambil dari Kecamatan Galis, Geger dan Tanahmerah, isolasi dilakukan dengan menggunakan media semi solid Nfb, selanjutnya diuji kehandalannya berdasarkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Diperoleh 1 isolat yang terbaik yaitu isolat yang diisolasi dari rhizosper tanaman Graminae di Kecamatan Galis, namun demikian berdasarkan pertumbuhan tanaman jagung belum bisa menggantikan pupun N sintetik.Kata kunci : Azospirillum sp, jagung, nitrogen, isolat madura
IDENTIFIKASI KULTIVAR LOKAL PADI SAWAH (Oryza Sativa L) KALIMANTAN TIMUR BERDASARKAN KARAKTER AGRONOMI DAN MORFOLOGI Rusdiansyah -; Yazid Ismi Intara
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.317 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.981

Abstract

The objective of this researchis identification local low land rice cultivars explored based on morphological and agronomical character from East Kalimantan. This research used single plot and single plant method. The data were then analyzed by computerized Cluster Analysis. Research result showed identification stalk and plant heightwas found that most cultivar were medium height ( 130 cm), medium stalk diameter (5-7 mm), large amount of tillerand productive tiller ( 25 tillers). Identification on morphological character or traits of ligule and leaf showed that all cultivars had colorless or white and split-shaped ligules, light green collars, and light green auricles. Most of them had ligules of medium length ( 20 mm), leaves of medium length ( 61-80 cm), narrow leaf width (1-2 cm), smooth leaf surface, and green colored leaves.The results of identification on morphological traits of panicle and grain showed that any cultivar have axis of panicle floppy and that a greater part of the cultivars had long panicles (25 cm), compact and straggle or dense panicles, relatively large amount of secondary branches, panicle position is a little above the flag leaf, rice grain most of which were tilled with yellow strawcolor, stigma of rice with yellow strawcolor, head pistil with white color, palea lemma with yellow strawcolor, lemma sterile turn yellow straw color with sterile length of lemma in short criterion.The result of cluster analysis combination of all existing traits or character indicated that 26 local low land rice cultivar of East Kalimantan identified there were not found cultivarsof 100 % similar.Keywords: identification, local cultivar, low land rice, Agronomy, Morphology
EFEK PEMBERIAN IBA TERHADAP PERTAUTAN SAMBUNG SAMPING TANAMAN SRIKAYA Achmad Ghoni Yuliyanto; Eko Setiawan; Kaswan Badami
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.973 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.986

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian IBA pada konsentrasi yang berbeda dan mengetahui konsentrasi yang tepat dalam pemberian IBA untuk meningkatkan keberhasilan pertautan sambung samping pada srikaya. Penelitian ini dilakukan pada April - Juli 2015. Penelitian dilakukan di Desa Banyu Ajuh Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial terdiri atas 5 taraf konsentrasi IBA yaitu 0 (kontrol), 50, 100, 150, dan 200 ppm dengan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian IBA memberikan pengaruh berbeda nyata pada waktu muncul tunas. Pemberian IBA 100 ppm dapat meningkatkan jumlah daun sebanyak 12,43 helai, tinggi tunas 14,62 cm, dan keberhasilan pertautan sambungan sebesar 95%.Kata Kunci : Annona squamosa, IBA, sambung samping.
PENGEMBANGAN TANAMAN TALAS BENTUL KOMODITAS UNGGULAN PADA LAHAN RAKYAT DI KECAMATAN PEGANTENAN KABUPATEN PAMEKASAN Zainol Arifin
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.403 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.982

Abstract

Kebutuhan karbohidrat dari tahun ke tahun terus meningkat, penyediaan karbihidrat dan karbohidarat serelia saja tidak mencukupi, sehingga peranan tanaman penghasil karbohidratat yang memiliki peranan cukup strategis tidak hanya sebagai sumber bahan pangan.Oleh karena itu tanaman bentul menjadi sangat penting artinya didalam kaitan terhadap penyediaan bahan panga dari umbi-umbian khususnya bentul semakin penting. Tanaman bentul merupakan tanaman karbohidrat non beras, diversifikasi/ penganekaaragaman konsumsi pangan local/budaya local, substitusi gandum/terigu, pengembangan industry pengolahan hsil dan industry I serta komoditi strtegis sebagai pemasok devisa melaui ekspor.. Hasil analisa tanah yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur Tahun 2011 berdasarkan data usahatani ubijalar tahun 2010,Vareitas unggul didefinisikan sebagai varietas yang dapat berproduksi di atas rata-rata pada lingkungan spesifik.Benih bermutu sering dikaitkan dengan istilah benih bersertifikat atau benih bermutu. Sertifikat tersebut sebagai jaminan bahwa benih diperoleh dari proses yang standar, memiliki kemampuan tumbuh dengan tingkat keseragaman tinggi, dan terbebas dari penyakit tular benih (seed born diseases).Pemilihan varietas atau klon yang sesuai dengan karakteristik agroekologi lahan akan mengurangi biaya input seperti penggunaan kultivar ganjah, toleran penyakit tertentu. Perakitan vareitas atau klon yang memiliki kemampuan berproduksi tinggi pada lingkungan spesifik seperti tahan terhadap intensitas cahaya yang rendah, tahan kekeringan, tahan terhadap genangan air.Hasil survey tentang bibit yang dipakai dalam budidaya tanaman talas di Kecamatan Pegantenan menunjukkan mereka mengatakan 100% bibit yang dipakai menggunakan bibit turun temurun dari nenek moyang mereka. Bibit mereka menghasilkan produksi sedang yaitu 2 sampai 7 Kg per bibit. Akan tetapi bibit yang mereka tanam mempunyai kelemahan antara lain tidak tahan terhadap penyakit, tidak tahan terhadap kekeringan dan tidak tahan terhadap genangan air.Periode kritis terhadap air didefinisikan sebagai periode tanaman membutuhan air dalam jumlah yang cukup. Periode ini berbeda antara tanaman, akan tetapi umumnya hal tersebut terjadi pada masa awal pertumbuhan, fase perkembangan bunga dan fase pengisian umbi. Gangguan pada fase krisis air tersebut akan berpengaruh nyata pada produktivitas tanaman. Mempertimbangkan hal tersebut, terutama pada daerah yang ketersediaan air tidak mencukupi perlu dilakukan upaya konservasi air seperti pemberian mulsa untuk mengurangi evaporasi tanah disertai dengan upaya pemanenan air seperti embung dan daerah resapan.Berdasarkan hasil survey di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Pegantenan, Kecamatan Palengaan dan Kecamatan Proppo menunjukkan 100% mereka terkendala dalam menyediaan air untuk budidaya tanaman talas, di daerah penelitian termasuk lahan kering yang hanya mengandalkan tadah hujan. Masyarakat di daerah penelitian untuk manajemen pemberian air bagi tanaman talas mereka melakukan pengaturan tanam agar tanaman talas mereka dapat tumbuh dan menghasilkan yang maksimal, penanaman tanaman talas dilakukan pada akhir musim kemarau, disamping itu masyarakat melakukan efesiensi atau mengurangi proses evaporasi tanah dengan cara pemberian seresah daun di sekitar tanaman talas pada waktu fase awal pertumbuhan. Pada fase generative masyarakat tidak perlu lagi dalam penyediaan air bagi tanaman talas karena pada fase generative bertepatan pada musim hujan. Ketersediaan air bagi tanaman talas akan mempengaruhi kelangsungan budidaya talas secara berkelanjutan.Pemberian pupuk baik unsur hara makro maupun mikro didasarkan pada pertimbangan bahwa high yielding variety umumnya sangatresponsive terhadap pemupukan. Selain itu, pemanenan yang berulang-ulang akan menguras unsur-unsur hara yang berada dalam tanah terbawa oleh hasil panen.Manajemen pemupukan yang dilakukan masyarakat di daerah penelitian menunjukkan 99% menggunakan pupuk N (Urea) dan Pupuk kandang, dan sebesar 1% menggunakan pupuk N (Urea), TSP dan Pupuk kandang. Masyarakat daerah penelitian pupuk kandang di aplikasikan pada awal penanaman sedangkan pupuk N (Urea) dan TSP diaplikasikan pada waktu tanaman talas berumur tiga bulan.Pemberian pupuk pada tanaman talas masyarakat memberikan dua kali, berdasarkan survey masyarakat yang memberikan dua kali sebesar 98% dan 2%nya memberikan sebanyak tiga kali.Sedangkan jumlah pupuk yang diberikan tidak konsisten, jumlah pupuk yang diberikan berdasarkan sisa pupuk yang dipakai pada tanaman tembakau atau tanaman padi.Untuk pupuk kandang jumlah yang diberikan berdasarkan ketersediaan pupuk yang dipunya oleh masyarakat Organisme pengganggu tanaman dapat berupa hama, penyakit, dan gulma. Kehadiran hama, penyakit dan gulma dapat menurunkan produktifitas tanaman, oleh karenanya perlu langkah pengendalian.Seiring dengan adanya isu kelestarian linkungan, pengendalian OPT (Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman) perlu diusahakan dilakukan di bawah ambang ekonomi dan bukan bersifat pemusnahan karena hama, penyakit dan gulma merupakan unsur penyeimbang ekologis.Nilai R/C Ratio usahatani talas /usahatani/musim sebesar 2,28. Ini berarti setiap Rp 1,00 modal yang diinvestasikan untuk usatani talas akan memberikan penerimaan sebesar 2,28 sehingga dapat dijelaskan bahwa usahatani talas layak diusahakan. Menurut Dari hasil penelitian diperoleh R/C 1, Soekartawi (1995) apabila R/C ratio 1 maka usahatani tersebut layak diusahakan atau dengan kata lain usahatani talas menguntungkan bagi petani di Kec.Pegantenan Oleh karena itu keputusan yang diambil oleh petani tepat dan usahatani talas tetap diusahakan..Kata kunci: OPT talas bentul, kesuburan tanah dan pendapatan
RESPON TANAMAN KEDELAI SAYUR EDAMAME TERHADAP PERBEDAAN JENIS PUPUK DAN UKURAN JARAK TANAM Anisa Fajrin; Sinar Sinar Suryawati2 Sinar Suryawati; Sucipto -
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.989 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.987

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman kedelai sayur edamame terhadap jenis pupuk dan ukuran jarak tanam serta kombinasi keduanya. Penelitian dilaksanakan bulan Desember 2012–Maret 2013 pada awal musim hujan di Desa Daleman, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep dengan jenis tanah latosol. Bahan yang digunakan adalah benih kedelai sayur edamame, pupuk kompos, pupuk petroganik, pupuk NPK phonska dan pestisida sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul, meteran, timbangan dan peralatan lain yang mendukung penelitian. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jenis pupuk : kompos 1 ton/ha (P1), petroganik 1 ton/ha (P2), NPK Ponska 0,25 ton/ha (P3) dan faktor kedua adalah jarak tanam 12 x 25 cm (J1), 12 x 35 cm (J2), 15 x 25 cm (J3), 15 x 35 cm (J4). Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data yang diperoleh dianalisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak Duncan pada taraf 1% jika ada pengaruh perlakuan. Kombinasi perlakuan jenis pupuk dan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan. Jenis pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap semua parameter pengamatan kecuali bobot dan jumlah polong hampa. Pupuk NPK phonska memberikan nilai rata-rata parameter pengamatan tertinggi yang berbeda sangat nyata dibandingkan kompos dan petroganik. Ukuran jarak tanam tidak berpengaruh terhadap semua parameter pengamatan kecuali terhadap bobot polong per hektar. Jarak tanam 12 x 25 cm2 menghasilkan bobot polong per hektar tertinggi yang berbeda sangat nyata dengan ukuran jarak tanam yang lain.Kata kunci: kedelai sayur edamame, jenis pupuk, jarak tanam.
EVALUASI KETAHANAN BEBERAPA GENOTYPE TEMBAKAU TEMANGGUNG TERAHADAP HAMA KUTU DAUN Myzus Persicae Sulz. Andi Muhammad; Amir Supriyono
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.709 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.983

Abstract

Ketahanan tanaman terhadap gangguan serangga dapat diukur dari pengaruhnya terhadap bagian tanaman, antara lain terhambatnya pertumbuhan, kerusakan bagian tanaman, penurunan atau kehilangan hasil. Evaluasi ketahanan beberapa genotype tembakau Temanggung terhadap hama kutu daun Myzus persicae Sulz. telah dilaksanakan secara semi lapang di KP. Karangploso, Balai Penelitian Tanaman Pemanis Dan Serat Malang, mulai bulan Mei sampai dengan Desember 2015, bertujuan menguji ketahanan beberapa genotype tembakau Temanggung terhadap hama kutu daun M. Persicae. Perlakuan terdiri atas 27 genotype yaitu:1) 0202/10/1/3/1, 2) 0202/10/1/3/2, 3) 0203/23/2/2/1, 4) 0206/32/1/3/1, 5) 0206/02/3/3/2, 6) 0202/10/1/2/3, 7) 0203/04/2/2/1, 8) 0206/33/2/1/3, 9) 0202/7/1/1/3, 10) 0203/11/2/1/2, 11) 0205/08/3/3/1, 12) 0203/04/2/3/1, 13) 0203/04//2/3/1, 14) 0202/07/1/2/3, 15) 0203/12/1/1/2, 16) 0206/10/3/1/2, 17) 0206/02/1/3/2, 18) 0202/15/1/3/3, 19) 0205/08/2/3/1, 20) 0205/08/2/3/1, 21) 0206/02/3/1/3, 22) 0202/10/2/3/1, 23) 0202/09/1/3/1, 24) 0206/09/2/1/2, 25) 0206/09/2/1/2, 26) 0203/23/1/3/2, dan 27) 0206/28/1/3/1, disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 27 genotype tembakau Temanggung yang diuji, 3 genotype cenderung tahan yaitu 0202/10/1/3/2, 0206/32/1/3/1, 0206/02/3/3/2 dengan persentase tingkat keparahan tanaman masing-masing 8,89%.Kata kunci: Tembakau (Nicotiana tabaccum L.), ketahanan dan kutu daun Myzus persicae Sulz
UJI KEKERABATAN ANTARA SALAK JANTAN DAN SALAK BETINA (Salaccazalacca(Gertner) Voss) BANGKALAN Siti Fatimah; Sinar Suryawati
Agrovigor 2015: Vol 8, No 2 (2015) SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.492 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v0i0.984

Abstract

Salah satu penyebab penurunan produktifitas tanaman Salak di Kabupaten Bangkalan diduga karena terjadinya penurunan sifat akibat dari perkawinan (persilangan) antara tanaman yang mempunyai hubungan kekerabatan dekat. Kondisi ini merupakan permasalahan yang serius untuk segera ditangani, karena jika hal tersebut dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan menurunnya sifat tanaman bahkan dapat menyebabkan hilangnya variasi atau jenis salak yang ada.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kekerabatan antara salak jantan dengan salak betina yang ada di Kabupaten Bangkalan. Informasi ini sangat penting dilakukan agar persilangan antara salak jantan dan salak betina yang berkerabat dekat dapat dihindarkan. Penelitian data morfologi salak jantan dilakukan dengan cara survey di sentra budidaya salak di Kecamatan Kramat Kabupaten Bangkalan sedangkan data morfologi salak betina diambil dari data penelitian Fatimah dkk (2011).Hasil menunjukkan bahwa di Bangkalan ditemukan ada dua jenis salak jantan yang memiliki perbedaan berdasarkan warna bunganya, yaitu salak jantan berbunga merah dan berbunga kuning. Selain warna bunga, data morfologi lain yang menonjol perbedaannya antara 2 jenis salak jantan tersebut adalah kedudukan duri dan jumlah duri pada pelepah. Pada salak jantan berbunga kuning mempunyai kedudukan duri berjajar dengan jumlah duri berkisar antara 300-500 sedangkan salak berbunga merah kedudukan duri pada pelepahnya berkelompok dengan jumlah duri lebih dari 600.Hasil analisa kluster antara 2 jenis salak jantan dan 11 jenis salak betina menunjukkan bahwa salak jantan mempunyai kesamaan sifat morfologi paling tinggi dengan salak betina kultivar salak air (G11) dan mempunyai kesamaan paling rendah dengan salak aren (G2).Kata kunci :salak jantan, salak betina, hubungan kekerabatan

Page 1 of 1 | Total Record : 8