cover
Contact Name
Fauziah Astrid
Contact Email
fauziah.astrid@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtabligh@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Dakwah Tabligh
ISSN : 14127172     EISSN : 2549662X     DOI : -
Tabligh Journal is a scientific publication for research topics and studies on communication and da'wah. The form of publiation that we receive will be reviewed by reviewers who have a concentration in the field of Communication, specifically Da'wah and Communication.We publish this journal twice a year, in June and December. The Tabligh Journal first appeared in the printed version in 2011. This journal is managed by the Tabligh journal team under the Da'wah and Communication Faculty of Alauddin Islamic University in Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 2 (2012)" : 10 Documents clear
PERSPEKTIF DAKWAH MELALUI FILM Alamsyah Alamsyah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.304

Abstract

Dakwah pada era saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan dan problematika yang semakin kompleks. Film merupakan media yang begitu pas dalam memberikan influence bagi masyarakat umum. Sejarah mencatat, media dakwah melalui seni dan budaya sangat efektif dan terasa signifikan dalam hal penerapan ideologi Islam. Penonton film seringkali terpengaruh dan cenderung mengikuti seperti halnya peran yang ada pada film tersebut. Hal ini dapat menjadi peluang yang baik bagi pelaku dakwah ketika efek dari film tersebut bisa diisi dengan konten-konten keislaman. Film sebagai media komunikasi bisa menjadi suatu tontonan yang menghibur, dan dengan sedikit kreatifitas bisa memasukan pesan-pesan dakwah pada tontonan tersebut sehingga menjadi tuntunan. Sebelum membuat cerita film, harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Di awal millenium baru ini tampaknya mulai ada gairah baru dalam industri film Indonesia terutama film yang mengusung tema dakwah. Seperti halnya film Kiamat Sudah Dekat, Kun Fa Yakun, Perempuan Berkalung Sorban, Ketika Cinta Bertasbih, film Ayat-ayat Cinta yang begitu fenomenal akhir-akhir ini. Dakwah melalui film memang akan lebih efektif dibandingkan dengan media lainnya. Sebab penyajiannya dapat diatur dalam berbagai bentuk dan variasi sehingga kesannya tidak seperti menggurui. Kata Kunci: Perspektif, Dakwah, Film In the current era, Dakwah is faced with various challenges and problems that are increasingly complex. Movie is a great medium to influence general public. It is recorded media through art and culture is very effective and significant in terms of the application of Islam’s ideology. Movie lovers are often affected and tend to follow as well as to what exist in the movie. This can be a good opportunity for Dakwah doers when the effect of the movie that can be filled with Islam’s contents. Movie as a medium of communication can be an entertaining, and can put messages on the Dakwah in it with a little creativity that becomes guidance. Before making the movie, it should define the purpose of making it whether as an entertaiment, phenomenon, education, documentary or a moral one. It is very necessary for the making of the movie is more focused, targeted and appropriate. At the beginning of this new millennium seems to be a new passion for Indonesian movie industry, especially the theme of Dakwah movies such as Kiamat Sudah Dekat, Kun Fa Yakun, Perempuan Berkalung Sorban, Ketika Cinta Bertasbih, and Ayat-Ayat Cinta that is so phenomenal lately. Da'wah through the movies will be more effective than other media because the presentation can be arranged in a variety of shapes and variations, so that the impression does not look like to teach. Keywords: Perspectives, Da’wa, Film
EKSPRESI BUDAYA LEKSIS SETIA DARI PERSPEKTIF MAKNA DAN NILAI: ANALISIS BERBANTU DATA KORPUS Hishamudin Isam
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.309

Abstract

Abstract; Bahasa dapat melambangkan pemikiran dan mencerminkan identiti penuturnya. Bahasa jugalah yang menentukan pembentukan fikiran berdasarkan bentuk-bentuk dan golongan-golongan yang ada di dalamnya. Konsep SATHYA dengan penerima konsep SATHYA tersebut. Hubungan spiritual ini telah mengikat pengamal konsep SATHYA untuk mempercayai dan mengamalkan konsep tersebut sedaya mungkin. Perincian makna dan nilai konsep SATHYA yang begitu mendalam, khususnya untuk menjelaskan pemahaman aspek keagamaan dan falsafah bagi agama Hindu, telah menimbulkan suatu pertanyaan yang besar iaitu, adakah pengubahsuaian bentuk fizikal dari sathya kepada setia turut mempengaruhi peluasan makna dan nilai leksis tersebut dalam bahasa Melayu. Dalam pengiraan jumlah kekerapan, hanya leksis yang dianggap content atau dominat lexical sahaja yang akan diselidiki prosodi semantiknya, iaitu leksis dari golongan kata nama, kata kerja dan kata adjektif. Keadaan ini disebabkan oleh, hanya leksis yang dianggap content atau dominant lexical sahaja yang dapat menyerlahkan nilai bagi sesuatu leksis. Kecenderungan penutur menggunakan sesuatu leksis dalam pertuturan hariannya sehingga berupaya memancarkan manifestasi makna dan nilai, berupaya menyerlahkan bukti berkenaan ekspresi budaya yang terhasil daripada penggunaan sesuatu leksis. Buktinya, kepelbagaian makna setia yang dipancarkan menerusi penggunaannya, serta nilai yang tersirat di sebalik penggunaan leksis tersebut yang dibincangkan dalam makalah ini, dapat dihurai secara emperikal dan saintifik berdasarkan disiplin linguistik kognitif. Keadaan ini sekali gus dapat membuktikan bahawa terdapatnya jalinan yang tersurat dan tersirat antara realiti penggunaan bahasa. Kata Kunci: Ekspresi, Budaya, Leksis, Setia Language can symbolize and reflect the identity of native speakers. Language can also determine the formation of mind based on the forms and factions within it. The concept of SATHYA does within the recipient. This spiritual relationship has tied SATHYA’s believers to believe and practice the concept as possible they can. The Detail meanings and concept values of SATHYA is so profound, especially to clarify the understanding of religious and philosophical aspects of Hinduism, has raised a great question whether there is any physical form of sathya customized into the loyal also influencing the expansion of the meaning and leksis values in Malay or not. In counting the number of occurrences, only leksis is considered the content or lexical dominance that only to be investigated its semantic prosody such as leksis of word class names, verbs, and adjectives. This situation is caused by that just leksis considered lexical as a content or lexical dominance that only can explain values into leksis. The tendency of speakers to use leksis in daily life that seeks to radiate the manifestation of meanings and values and explains evidence in respect of cultural expression that is brought about by using leksis. It shows that loyal diversity emitted to its users as well as the implicit values in the use of leksis reverse can be empirically and scientifically elucidated based discipline on cognitive linguistics. This situation can prove that there is a presence of reality of language use both explicit and implicit. Keywords: Expression, Culture, Leksic, Loyal
TELEMATIKA DAKWAH DI DUNIA BROADCASTING Syarifuddin Syarifuddin
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.305

Abstract

Peran teknologi informasi dan teledakwah dalam aktifitas dakwah menjadi tren baru pada era teknologi informasi untuk memvisualisasikan dakwah dalam bentuk media cetak dan elektronik. Teknologi informasi dan teledakwah merupakan sarana penunjang dakwah yang mutakhir jika kita ingin menyebarkan dakwah keseluruh pelosok desa di Indonesia, yang dapat dijangkau oleh infrastruktur media Televisi lain sebagainya. Seorang Da'i perlu memahami penggunaaan serta pemilihan media teknologi informasi dan teledakwah sesuai dengan kekuatan daya jangkau dalam perencanaan serta pencapaian dakwah yang telah ditentukan. Karakteristik dakwah jarak jauh bahwa keterpisahan kegiatan dakwah dari kegiatan dakwah adalah ciri yang khas dari dakwah jarak jauh. Jarak sebagai pemisah seperti di ataslah yang hendak diatasi melalui dakwah jarak jauh dengan memanfaatan rancangan instruksional dan rancangan interaksi supaya kegiatan dakwah yang dirancang dengan sugguh-sungguh dapat tercapai. dakwah dengan komputer dalam jaringan, interaktivitas mad'u ajar menjadi lebih banyak alternatifnya. Pada dakwah dengan komputer dalam jaringan dikenal dua jenis fungsi komputer, yaitu komputer server dan komputer klien. Interaksi antara mad'u ajar dengan Da'i (penceramah) dilakukan melalui ke dua jenis komputer tersebut. Media Broadcasting dapat digunakan sebagai media telematika dakwah yang efektif karena mempunyai kelebihan visual, audio, dan para Da'i dan Mad'u bisa berkomunikasi secara interaktif dengan fasiltas telekomferens. Fasilitas telematika mempunyai daya jangkau yang luas. Jika memenuhi kriteria teknologi visualiser dalam arti harus di kemas oleh ahli pertelevisian berkerjasama dengan Da'i mengenai target pesan yang akan didesain untuk sampai pada mad'u . Kata Kunci: Telematika, Dakwah, Broadcasting The role of technology information and teledakwah in Dakwah activities becomes a new trend in the era of technology information to visualize Dakwah in the form of print and electronic media. Technology information and teledakwah are means of supporting the latest Dakwah if we want to spread Dakwah throughout the remote villages in Indonesia, which can be reached by television media. A Da’i (Preacher) needs to understand the use and selection of media technology information and teledakwah in accordance with the coverage powers of the planning and achievement of Dakwah predetermined. The characteristic of distance Dakwah is that the separation of Dakwah is a typical characteristic of remote Dakwah. The distance as a separator as mentioned above is to be addressed throughout remote Dakwah by the utilization of instructional design and interaction design in order to make Dakwah designs can be achieved. Dakwah by computers has two functions that are known as server computer and client computer. The interaction between mad'u and Da’i are done throughout those computers. teaching becomes more alternatives. In propaganda by computers on the network are two types of computer functions, namely computer servers and client computers. The interaction between the teaching mad'u Preachers (speaker) carried through to the two types of computers. Media broadcasting can be used as Dakwah telematics media which is so effective as it has more visual and audio that make Da’i and Mad’u can communicate interactively with teleconference facility. Telematics facility has a wide range of reach and if meets the criteria of the technology visualiser that means hams is packaged by television experts in collaboration with Da’i about the target message that will be designed to get on mad'u. Keywords: Telematics, Da’wa, Broadcasting
PENGARUH KREDIBILITAS KOMUNIKATOR POLITIK UNTUK MENDAPATKAN DUKUNGAN KHALAYAK DALAM PEMILIHAN UMUM Haidir Fitra Siagian
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.310

Abstract

Abstract; Mendapatkan jumlah maksimum pemilih dalam pemilihan umum adalah syarat mutlak untuk mengamankan posisi di lembaga legislatif, Kecamatan dan Kepala Provinsi, dan Presiden. Proses demokrasi di Indonesia menggunakan kampanye politik untuk menyampaikan pesan-pesan politik kepada publik, dimana pesan terdiri dari undangan, bergoyang, godaan untuk membuat publik memberikan suara mereka ke sisi kampanye. Kampanye politik bisa dalam bentuk pesan lisan sebelum massa, iklan media, poster, spanduk, dan kunjungan persahabatan ke massa dasar. Semua upaya yang dimaksudkan untuk mendapatkan pemilih maksimal dukungan dari masyarakat. Kenyataan itu menunjukkan bahwa komunikator politik yang bisa menjadi kandidat itu sendiri, relawan politik, atau aktivis politik lain adalah salah satu faktor penting. Peran komunikator politik yang memiliki kredibilitas tinggi dalam mentransfer ide dan saran untuk penonton sangat signifikan. Kampanye harus mampu menyampaikan pesan-pesan politik yang paling dibutuhkan oleh masyarakat dan pesan harus mudah diingat oleh penonton. Selain itu fungsi komunikator juga memerlukan perhatian khusus, karena orang-orang adalah partai politik saluran utama dalam menyampaikan pesan-pesan politik mereka. Masyarakat memutuskan orang pada partai politik atau kandidat dengan memfokuskan kenangan mereka pada komunikator politik mereka ingat selama masa kampanye. Siapa komunikator, program atau isi / pesan nya, bagaimana dia / dia menyampaikan pesan, misalnya dan kinerja yang baik disajikan oleh juru kampanye. Cara kampanye yang merancang strategi kampanye adalah memiliki korelasi positif dengan memori publik dan kesan. Pada akhirnya, itu mengarah ke indikasi dalam menentukan keputusan pemilih. Kata Kunci: Kredibilitas, Komunikator, Pesan Gaining maximum number of voters in general election is the absolute condition to secure position in legislative institute, District and Provincial Head, and President. Democratic process in Indonesia using political campaign to convey political messages to public, of which the messages are consisted of invitation, sways, allurement to make public give their votes to the side of campaigner. Political campaign can be in the form of oral messages before the mass, media advertisement, posters, banners, and friendship visits to base masses. All that efforts are intended to gain maximum voters support from communities. That fact showed that political communicator which can be the candidate itself, political volunteer, or other political activist was one of the important factor. The role of political communicator who possesses high credibility in transferring the idea and suggestion to the audience is very significant. The campaigner should be able to convey the political messages that needed most by public and the messages should be easily memorized by the audiences. Moreover the communicator function also requires specific attention, as the persons are the political parties main channel in conveying their political messages. Public deciding its votes on political parties or candidates are by focusing their memories on the political communicator they remember during the campaign period. Who’s the communicator, the program or content of his/her messages, how he/she convey the messages, example and performance that good presented by campaigner. The way the campaigner designing its campaign strategy is having a positive correlation with the public’s memory and impression. At the end, it leads to the indication in deciding the voter’s decision. Key words: Credibility, Communicator, Messages
PEMIKIRAN DAKWAH NURCHOLISH MADJID Abdul Pirol
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.301

Abstract

Abstract; Tantangan yang dihadapi dakwah tidak hanya berupa pluralitas masyarakat Indonesia. Selain itu, juga tidak dapat menafikan tantangan lainnya yang berasal dari situasi dan keadaan lokal. Kedatangan Islam di Nusantara, tidak hanya memperlihatkan bagaimana Islam disebarkan, tetapi juga, bagaimana ia diterima, diadaptasi, dan berpengaruh pada pola-pola interaksi dalam masyarakat. Pemikiran dakwah Madjid pada aspek normatif atau tataran konseptual, mengacu pada istilah yang disebutnya sebagai “trilogi” dakwah, yaitu: al-da’wah ilâ al-khayr, amar ma’rûf dan nahy munkar. Selain itu, tampak pula dalam pandangan Madjid, berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar tidak hanya dimaknai sebagai suatu aktivitas verbal-konvensional melalui ceramah, tetapi juga menjangkau pemaknaan politis, sebagaimana ide-idenya mengenai oposisi loyal dan checks and balances. Selain kepada para cendekiawan, Madjid juga menekankan peran penting institusi keagamaan dan kemasyarakatan, termasuk organisasi kepemudaan dalam mengemban tugas dakwah dalam arti yang luas. Unsur lain yang selalu ada dalam proses dakwah adalah mâddah atau materi dakwah. Mâddah dakwah adalah isi pesan atau materi yang disampaikan da’i pada mad’û.  Materi dakwah pada dasarnya adalah seluruh ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang meliputi: aqidah, syari`ah dan akhlak. Dari perspektif pemikiran dakwah, Madjid memiliki konsepsi dan gagasan serta aktivitas di bidang dakwah. Dari segi materi dakwah atau pesan agama yang disampaikannya, Madjid meramu pesan keagamaannya dari tiga sendi utama pemikirannya, yaitu: keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan. Tipologi ini, juga dapat disebut sebagai dakwah “Madaniah” atau dakwah “Civil society”. Kata Kunci: Dakwah, Pluralitas The plurality of Indonesia citizens is one of big challenges for doing the Dakwah. The two of them are also a situation and local state. The arrival of Islam in archipelago shows on how Islam is not only diffused, but also accepted, adapted, dan gives a big influence over interaction patterns in citizens. The thought of Madjid Dakwah in normative aspect or conceptual refers from what is called as Dakwah “trilogi” which is al-da’wah ilâ al-khayr, amar ma’rûf, and nahy munkar. Further more, to do Dakwah and amar ma’ruf nahi mungkar in Madjid’s thought is not only seen as a verbal-communication activity through lecture, but also to reach the political meanings that can be seen from its thought of loyal opposition and checks and balances. Instead of all cendikiawan, Madjid higlights into the important role of religious institutions and citizens including of youth organization in doing their Dakwah in general. The other elements in Dakwah process is mâddah or Dakwah materials. Mâddah dakwah is a message or materials that is diffused by da’i in mad’û. The Dakwah materials are about all Islam’s lectures that are based on Al-Quran and Sunnah Rasul encompassing of Aqidah, Syari’ah, and Akhlak. From Madjid’s thought can be seen that he has a concept and notion of Dakwah. Madjid can summary three things from all his Dakwah materials or religious message that are Islamisme, Modernisme, and Indonesiaisme. This tipology can be also known as Dakwah “Madaniah” or Dakwah “Civil Society”. Keywords: Da’wa, Plurality
PERAN MUBALLIG DALAM PEMBINAAN REMAJA SUATU KAJIAN PSIKOLOGIS SOSIAL Adam Saleh
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.306

Abstract

Abstract; Kelompok yang harus tampil menyelamatkan para remaja adalah kelompok mubaligh. Para muballigh harus tampil untuk membina remaja Islam karena para mubalighlah yang harus bertanggungjawab terhadap persoalan umat, utamanya persoalan remaja Islam ini. Muballig biasa juga di sebut dengan da’i atau subyek dakwah atau pelaksana dakwah dengan tugas pokok adalah menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia baik yang sudah beriman maupun yang belum beriman. Keterpanggilan muballig untuk membina remaja adalah suatu keharusan sebab menurut Zakiah Daradjat pada akhir-akhir ini ada suatu kenyataan yang cukup mencemaskan di masyarakat, yaitu adanya keberanian disebagian remaja melakukan pelanggaran-pelanggaran susila baik wanita maupun pria. Bahkan diantara mereka ada yang berpendapat bahwa hubungan antar pria dan wanita tak perlu dibatasi dan tak usah dikontrol oleh orang tua. Biasanya kenakalan seperti ini disertai dengan tindakan-tindakan yang menganggu ketentraman masyarakat. Permasalahan yang dihadapi oleh para remaja seperti yang telah diungkapkan di atas, maka perlu pembinaan yang serius dari berbagai segi terutama dari segi mental keagamaannya. Dan sinilah dibutuhkan para muballigh untuk bisa membina para ramaja yang ada. Mengingat remaja merupakan generasi penerus cita-cita agama dan bangsa, maka diperlukan pembinaan yang serius, utamanya oleh para muballig. Muballig harus bertanggung jawab terhadap keselamatan remaja. Untuk itu kehadiran para muballig sangat penting untuk melakukan pembinaan terhadap remaja agar mereka selamat dari problem masa remajanya. Kata Kunci: Peran, Pembinaan, Remaja The group must perform to rescue teenagers is Mubaligh. The Mubaligh must go forward to erect Islam teengares because they are responsible for the issue of people particularly the issue of Islam teengares. Mubaligh usually also calls with a preacher (Da’i) or the subject of Dakwah or implementing of Dakwah with the fundamental duty is to convey the message of Islam to mankind either already has a faith or not. The present of Mubaligh to erect youth is a must because what Zakiah Daradjat said that there is an alarming lately in society that is some of youth have a courage to commit decency violence both women and men. They even talk that the relationship between man and woman does not need to limited and controlled by parents. This delinquency is usually accompanied by actions that disturb the public tranquility. The problem faced by teenagers as disclosed above, it is needed a serious approaching from various aspects, especially in terms of religious mental. In this case, Mubaligh should be on there to erect those youth. It takes place considering that youth are the next generation and religious ideal of the nation, so it requires a serious development, primarily by the Mubaligh. Mubaligh shall be responsible for the safety of teenagers. Accordingly, the Mubaligh’s presence is very important to provide guidance for teenagers in oreder to save them from adolescence problem. Keywords: Role, Guidance, Youth
SURAT KABAR SEBAGAI MEDIA DAKWAH St. Nasriah St. Nasriah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.302

Abstract

Abstract; Dakwah adalah kewajiban yang harus ditegakkan oleh umat Islam, kapan dan dimana pun mereka berada. Dakwah dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk, misalnya melalui perbuatan (akhlak), tutur kata (lisan), dan melalui tulisan (surat kabar). Surat kabar adalah suatu penerbitan yang ringan dan mudah dibuang, biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah yang disebut kertas Koran, yang berisi berita-berita terkini dalam berbagai topik. Secara umum ciri-ciri pers (baik cetak maupun elektronik) adalah menyangkut prosesnya yang berlangsung satu arah, komunikatornya melembaga, pesannya bersifat umum, medianya menimbulkan keserempakan dan komunikannya heterogen. Antara media cetak dengan media elektronik memiliki perbedaan yang khas. Berdakwah  melalui surat kabar, hendaknya disampaikan dengan penuh hikmah, dengan cara yang baik, lemah lembut, dan penuh kesabaran serta dengan argument terbaik sesuai dengan Alquran surah An Nahl ayat 125. Berdakwah melalui surat kabar erat kaitannya dengan tiga komponen yang akan mempengaruhi berhasilnya media surat kabar yaitu pemilik modal, pemimpin redaksi, dan wartawan yang harus berjalan seiring agar dakwah tetap eksis melalui surat kabar. Keberadaan surat kabar menjadi peluang mas bagi juru dakwah untuk mengambil bagian di dalamnya dengan mengisi pesan-pesan agama bagi masyarakat karena konsumsi masyarakat tentang dakwah tidak akan pernah pupus. Perkembangan pers dewasa ini di samping menggembirakan juga menghawatirkan karena dapat memunculkan penyakit kecemasan informasi disebabkan ketidakmampuan khalayak mengola informasi tersebut sehingga masyarakat dapat saja menerima limbah informasi yang tidak bermanfaat bagi dirinya karena arus informasi ternyata sangat sukar dikendalikan. Kata Kunci:Surat Kabar, Media, Dakwah Da'wah is an obligation that must be upheld by all Moeslims anytime and anywhere. Da'wah can be implemented in various forms that are by actions (moral), speech (oral), and writing (newspapers). The newspaper is a publication that is lightweight and easily discarded and usually printed on low-cost paper called newspaper which contains of the latest news on various topics. In general, the characteristics of the press (both print and electronic) are related to the process that takes place in one direction, institutionalized communicator, public message, simultaneity and heterogeneous. There are unique differences between print and electronic media. It should be submitted with full of wisdom, in a good way, gentleness, and patience, and the best argument in accordance with the Qur'an Surah An-Nahl verse 125 in preaching through newspaper. Preaching through a newspaper closely associated with the three components that will affect the success of newspaper which are a capital owner, chief editor, and journalist who has to go hand in hand in order to actualize the Dakwah through the newspaper. The existence of newspaper becomes a great opportunity for preachers to take part in it by filling the religious messages to the public because the public consumption of Dakwah will never go out. In addition,  The development of today's press is to encourage, but at the same time, it also makes worried because it can cause some worries of information that is caused by the inability of the public information’s anxiety to meet information, so that people can only accept the cesspooll information which is unuseful for them because of the flow of information turned out to be very difficult to control. Keywords:Newspapers, Media, Da’wa
REPRESENTASI ETNISITAS DALAM BINGKAI BHINNEKA TUGGAL IKA DI MEDIA (Studi Etnis Papua dalam Bingkai Bhinneka Tuggal Ika Pada Program TransTV “Keluarga Minus”) Nurul Islam
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.307

Abstract

Abstract; Dalam kerangka pemikiran Ilmu Komunikasi, pada dasarnya tulisan ini merupakan sepenggal proposisi dari tinjauan Kajian Media dan Minoritas, dengan maksud menggali pesan-pesan etnisitas dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di Media, khususnya program televisi “Keluarga Minus” di saluran TransTV. Representasi mempunyai dua urgensi yang harus dipahami dalam konsepsi tersebut, yakni representasi mental atau konsep dan representasi bahasa. Pertama, representasi mental yaitu konsepsi yang berkaitan dengan “sesuatu” yang ada di kepala kita masing-masing biasa disebut dengan peta konseptual. Representasi mental ini berbentuk sesuatu yang abstrak atau tak nampak. Kedua, representasi bahasa. Representasi bahasa berkaitan penuh dengan kepentingan atas konstruksi makna. Stereotip merupakan suatu penanda praktis yang fokus pada representasi perbedaan ras, dan juga elemen penting dalam kekerasan simbolik. Representasi makna diatas tidak terlepas dari relasi ideologi dominan yang ada. Kelompok sosial dominan, adalah orang-orang yang mereproduksi ideologi dominan atas kelompok-kelompok etnis dan ras. Oleh sebab itu, hal yang tidak dapat kita pungkiri adalah kerelaan atas ideologi dominan yang mampu memproduksi stereotipe etnisitas dan rasial, media merupakan ideologis apparatus yang mampu untuk hal tersebut, memproduksi ideologi. Media merupakan apparatus pencipta ideologi yang halus dan bukan refresi. Dari ideologi tersebut, yang kemudian tertanam dalam pikiran kita dan tanpa kita disadari, hal tersebut digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, sehingga stereotip tersebut terus-menerus ada, dan tetap terjaga dalam suatu masyarakat. Kata Kunci: Representasi, Etnisitas, Bhinneka Tunggal Ika In the framework of Communication Sciences, basically this writing is a piece proposition reviewed from Media and Minorities studies with the intention to dig up ethnicity messages in the frame of Binneka Tunggal Ika in the Media, especially television program of "Keluarga Minus" on Trans TV. A representation has two urgency things that must be understood as a concept which is a mental representation/concept and a language representation. First, the mental representation that is associated with the conception of "something" that is in our head commonly called the conceptual map. This representation is formed in abstract or invisible. Secondly, the representation language which is full of interest related to the construction of meanings. Stereotype is a practical marker that focuses on the representation of racial differences, and an important element in the symbolic of violence. Those representations cannot be separated from the ideology dominance. A dominant social group is the one who reproduces the ideology dominance over ethnic and races groups. Therefore, I can be denied that is a willingness over ideology dominance that is able to reproduce stereotype, ethnicity, and racial in which media is an ideological apparatus that can do like producing ideology. Media is the creator of the ideological apparatus that is smooth, but not repressive. From this ideology that is embedded in our minds, it is used to communicate with other people that makes this ideology exists constantly and keeps hanging in our society without realizing it. Keywords: Representation, Ethnicity, National unity
QUR’ᾹNIC DᾹʻῙ (In Search of His Qualification) Iftitah Jafar
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.303

Abstract

Abstract; Makalah ini mencoba mencermati kualifikasi dai yang dicanangkan Al-Qur’an. Kualifikasi ini sangat penting dan menentukan kredibilitas seorang dai dalam menapaki tugasnya di tengah-tengah masyarakat. Sebagai komunikator, seorang dai memang seharusnya memenuhi standar atau kualifikasi tersendiri agar pelaksanaan dakwahnya dapat berhasil sebagaimana diharapkan. Al-Qur’an sebagai pedoman dakwah menyediakan berbagai kualifikasi yang selayaknya menjadi modal dasar bagi seorang dai. Al-Qur’an mensyaratkan misalnya bahwa seorang dai hendaknya dari kalangan kaumnya sendiri mengingat adanya kedekatan dan persamaan: bahasa, kultur dan kecenderungan. Terma-terma bi lughati qawmih, akhᾱhum dan minhum merefleksikan kedekatan tersebut. Konsep ini lebih diperkuat dengan penekanan kesamaan bahasa antara dai dan mad’unya. Di samping itu kualitas pesan sangat ditekankan Al-Qur’an yang antara lain tercermin dalam konsep berdakwah alᾱ bashῑrah yakni materi ceramah diperkuat dengan pembuktian-pembuktian, misalnya, hasil penelitian para ahli di laboratorium. Termasuk concern Al-Qur’an adalah kualitas pribadi seorang dai yang terrefleksi dalam kefasihan berbicara, posisinya sebagai teladan dan panutan dalam ilmu dan amal yang disimbolkan dengan konsep khayra ummah. Selain itu posisinya sebagai figur moderat baik dalam pandangan keagamaan maupun sikap dan prilakunya yang dilukiskan dengan konsep ummatan wasathan. Perpaduan aplikasi konsep-konsep tersebut dalam diri seorang dai akan menambah kredibilitasnya di mata masyarakat sebagai obyek dakwahnya. Sekaligus tentunya sebagai modal dasar kesuksesannya dalam mengemban dakwah di tengah-tengah masyarakat. Kata Kunci: Qur’an, Dᾱʻῑ, Kualifikasi This paper tries to examine the qualifications of dᾱʻῑ proclaimed by the Qur'an. It is really essential and determines the credibility of dᾱʻῑ in treading duties in the middle of society. As a communicator, a dᾱʻῑ is supposed to meet its own standards or qualifications in order to be successful implementation of his Dakwah as expected. Qur'an as guidelines provide a wide range of qualifications that should be the basis for a dᾱʻῑ. The Qur'an requires such that a preacher should be from among his own people in view of the proximities and similarities: language, culture and trends. The terms of bi lughati qawmih, akhᾱhum, and minhum reflect the closeness. This concept is reinforced by the suppression of common language between dᾱʻῑ and its mad'u . In addition, the quality of the message is emphasized from the Qur'an that is reflected in the concept of alᾱ bashῑrah which is the lecture material is reinforced with proofs, for example, research’s outcome from experts in the laboratory. Following to the Qur'an indicates the personal qualities of the dᾱʻῑ that is reflected in eloquence, his position as a role model, and science and charity symbolized by the concept of khayra ummah. Furthermore, his position as moderate figure either in a habit and attitude of religious that is depicted in ummatan wasathan concept.The combination of the application of these concepts of the dᾱʻῑ will contirbute to its credibility in the public as an object message. At the same time, it can be also a capital for its success in doing Dakwah in the middle of society. Key Words: Qur’an, dᾱʻῑ, qualification
TANTANGAN DAKWAH DALAM PERSPEKTIF KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA Nur Setiawati
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.308

Abstract

Abstract; Negara Indonesia adalah termasuk negara yang penduduknya majemuk dalam suku, adat, budaya dan agama. Islam diyakini pemeluknya sebagai agama sempurna. Ajarannya mencakup semua tuntunan kehidupan manusia di muka bumi agar selamat dan bahagia menuju kehidupan akhirat yang lebih kekal dan abadi. Berkaitan dengan relasi antar manusia. Agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju pada tujuan (the ultimate) yang sama. Pluralisme adalah bentuk kelembagaan dimana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan. Maknanya lebih dari sekedar toleransi moral atau konksistensi pasif. Tolernasi adalah persoalan kebiasaan dan perasaan pribadi, sementara koeksitensi adalah semata-mata penerimaan terhadap pihak lain, yang tidak melampaui ketiadaan konflik. Pluralisme, di satu sisi, mensyaratkan ukuran-ukuran kelembagaan dan legal yang melindungi dan mensyahkan kesetaraan dan mengembangkan rasa persaudaraan di antara manusia sebagai pribadi atau kelompok, baik ukuran-ukuran itu bersifat bawaan ataupun perolehan. Tidak ada agama yang dapat menghindari dakwah jika ia memiliki suatu kekuatan intelektual Menolak dakwah berarti menolak kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan orang lain terhadap apa yang diklaim sebagai kebenaran agama. Interpretasi yang semacam ini bisa melahirkan.sikap-sikap beragama yang toleran dalam mewujudkan kerukunan antar agama dan perkembangan multikulturalisme. Di dalam masyarakat multikultural, keanekaragaman dan budaya menjadi modal sosial yang paling berharga bagi terciptanya harmonisasi sosial. Karena itulah, di dalam multikulturalisme, semua orang memiliki hak untuk diperlakukan sama dihadapan hukum. Kata Kunci: Tantangan, Dakwah, Perspektif, Kerukunan Indonesia is a country where its people are compound in a tribal population, customs, culture and religion. Islam is believed as a perfect religion for its followers. Its teachings include of all the guidance of human life on earth in order to safely and happily head to an afterlife which is eternal and immutable. In accordance with human relations, religion is different paths toward to the same destination (the ultimate). Pluralism is an institutional form in which the acceptance of diversity encompasses of a particular community or the world as a whole. Its meaning is more than just a moral tolerance or passive consistence. Tolerance is a matter of habit and personal feelings, while co-existence is merely the acceptance of the other people, which does not exceed the conflict. On the other hands, Pluralism requires an institutional and legal measures framework to protect and validate equality and develop a sense of brotherhood among people as individuals or groups, whether such measures are innate or acquisition. No one religion can avoid Dakwah, if it has an intellectual force to refuse Dakwah means it resists the need to obtain the approval of others to what is claimed as religious truth. This interpretation can establish tolerant religious attitudes in creating harmony among religions and the development of multiculturalism. In a multicultural society, cultural diversity and social capital are the most valuable things for the creation of social harmony. Therefore, everyone has the right to be treated equally before the law in multiculturalism. Keywords: Challenge, Da’wa, Perspective, Harmony

Page 1 of 1 | Total Record : 10