cover
Contact Name
Fauziah Astrid
Contact Email
fauziah.astrid@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtabligh@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Dakwah Tabligh
ISSN : 14127172     EISSN : 2549662X     DOI : -
Tabligh Journal is a scientific publication for research topics and studies on communication and da'wah. The form of publiation that we receive will be reviewed by reviewers who have a concentration in the field of Communication, specifically Da'wah and Communication.We publish this journal twice a year, in June and December. The Tabligh Journal first appeared in the printed version in 2011. This journal is managed by the Tabligh journal team under the Da'wah and Communication Faculty of Alauddin Islamic University in Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 14 No 2 (2013)" : 10 Documents clear
MEMBUMIKAN TEOLOGI ISLAM DALAM KEHIDUPAN MODERN (Berkaca dari Mohammed Arkoun) Muhaemin Latif
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.325

Abstract

Abstract; Titik kelemahan pemikiran teologi Islam klasik akan tampak dalam ranah realitas jika alur pemikiran tersebut dihadapkan pada kenyataan atau realitas sosial empiric kehidupan manusia yang selalu tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mohammed Arkoun adalah intelektual Aljazair yang mencoba membaca ulang bangunan pemikiran Islam secara konfrehensif baik yang menyangkut pemikiran kalam (teologi), tasawuf, fiqih, etika maupun tafsir. Dalam konteks Indonesia, pemikiran Arkoun pertama kali dikenal pada tahun 1987 dalam sebuah diskusi di Yayasan Empati. Adalah Muhammad Nasir Tamara yang memperkenalkannya pertama kali dengan menulis artikel yang berjudul Mohammed Arkoun dan Islamologi Terapan. Dalam beberapa tulisannya tentang modernitas, Arkoun tidak secara tegas merumuskan batasan modernitas, apalagi tantangan yang dibawah olehnya. Menurut Arkoun, modernitas dapat dibagi dua kelompok, yaitu, modernitas “material“ dan modernitas “ intelektual “ atau “ kultural “. Yang pertama berarti berbagai kemajuan yang terjadi pada bingkai luar dari wujud manusia, sedangkan yang kedua mencakup metode, alat analisis, dan siakp intelektual yang memberi kemampuan untuk lebih memahami realitas. Salah satu kegelisahan Arkoun terhadap pemikiran teologi Islam adalah terjadinya pemisahan antara Islam konseptual dengan Islam actual atau pemisahan antara teori dan praktek yang menurutnya adalah warisan Descartes. Membumikan teologi Islam dalam konteks kehidupan modern memang memerlukan strategi dan metodologi yang akurat. Usaha Arkoun dalam konteks rekonstruksi bangunan pemikiran teologi Islam adalah salah satu strateginya. Kata Kunci: Membumikan, Hidup Point inertia classical Islamic theology thought would appear in the realm of reality if the thought process faced with the reality or the reality of empirical social human life is always growing and developing in line with the growth of science and technology. Mohammed Arkoun is Algerian intellectuals who tried to reread the building of Islamic thought in comprehensive both involving thought kalam (theology), Sufism, jurisprudence, ethics and interpretation. In the Indonesian context, Arkoun thought first recognized in 1987 in a discussion on Empathy Foundation. Muhammad Nasir Tamara, who introduced first by writing an article entitled Mohammed Arkoun and Applied Islamology. In some writings about modernity, Arkoun does not explicitly formulate the constraints of modernity, let alone challenge under him. According to Arkoun, modernity can be divided into two groups, namely, modernity "material" and modernity "intellectual" or "cultural". The former means that much progress has occurred in the outer frame of the human form, while the latter includes the methods, analysis tools, and intellectual siakp which gives the ability to better understand the reality. One anxiety Arkoun against Islamic theological thought is the separation between Islam and Islam actual or conceptual separation between theory and practice which he said is the legacy of Descartes. Grounding Islamic theology in the context of modern life does require accurate strategies and methodologies. Arkoun effort in the context of building reconstruction of Islamic theological thought is one of the strategies Keywords: Grounding, Life
Narasi Sebagai Agen Politik; Seduksi Narrative Empire dalam Bingkai Hegemoni Intertekstualitas. Sebuah Respon Islami Syamsul Asril
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.330

Abstract

Abstract; Politik senantiasa terpaut dengan narasi, bahkan politik adalah sebentuk narasi tentang konflik rasionalitas tentang (definisi dan praktik) keadilan, kepemimpinan dan kekuasaan dalam ruang sosial. Paparan berkebalikan pun bisa diuraikan, bahwa narasi adalah sebentuk politik. Setiap narasi adalah perjuangan tekstual (wicara/bicara-tulisan) untuk membuat sebuah hal-ihwal diterima dan membuat hal-ihwal yang lain ditolak atau setidaknya ditunda untuk diterima dalam ruang sosial. Narasi adalah pewacanaan diri sendiri sang aparatus untuk memenangkan modal sosial berupa expertition (otoritas sebagai ahli) sehingga percakapan/¬pengujarannya sah dikarenakan dilakukan oleh ahli yang terlatih. Empire inilah yang membuat aktor politik dan narasi alternatif kontemporer tersandera habis-habisan dan tidak mampu mengambil posisi lain kecuali menunduk-dalam-nikmat di hadapan agenda tunggal empire yakni akumulasi kapital melalui militerisasi dan digitalisasi industri. Absensi sakralitas merupakan syarat mutlak bagi berlakunya ontologi yang dipaksakan melalui bujukan secara fisik dan simbolik oleh empire. Absensi sakralitas dalam ruang sosial dimulai dengan pengingkaran taksonomi tradisional atas ilmu. Mengikuti pembagian tradisional, ilmu terpilah ke dalam dua bagian besar, yakni ilmu naqliyah (ilmu nukilan yang sumbernya adalah otoritas yang otoritatif tapi tidak otoriter, dikembangkan dengan metodologi taqlidi) dan ilmu ‘aqliyah (ilmu intelektual yang sumbernya adalah akal suci sang intelektual, dikembangkan dengan metodologi tahkiki). kesempurnaan manusiawi di sini termasuk di dalamnya potensi yang dimiliki manusia untuk menyikapi setiap narasi thaguti dalam bingkai profetik dengan jalan mengenali, membelokkan, memparodikan selan¬jutnya mentransendensikan narasi tadi kembali kepada sumbernya. Kata Kunci: Narasi, Agen Politik, Respon Politics is always connected with the narrative, even politics is a form of narrative about the rationality of the conflict (the definition and practice of) justice, leadership and power in the social space. Exposure contrasts can be described, that narrative is a form of politics. Each narrative is a textual struggle (speech / speech-writing) to make an acceptable individual things and make other individual things rejected or at least postponed for acceptance in the social space. Narrative discourse itself is the apparatus to win the social capital of expertition (authority as experts) so that the conversation / ¬saying valid because conducted by trained experts. Empire is what makes political actors and contemporary alternative narrative hostage to all-out and not able to take any other position except down-in-favor in the presence of a single agenda of empire that is the accumulation of capital through militarization and digitizing industry. Sakralitas attendance is a necessary condition for the entry into force of ontologies that are imposed by persuasion physically and symbolically by the empire. Attendance sakralitas in social space starts with the traditional taxonomy on science denial. Following the traditional division, science divided into two major parts, namely science naqliyah (excerpt from the source of knowledge is authority authoritative but not authoritarian, developed the methodology taqlidi) and science 'aqliyah (intellectual knowledge source is a sacred sense of the intellectual, developed by tahkiki methodology). human perfection here including human potentials to address any prophetic narrative thaguti in the frame by way of recognizing, deflect, parodied further transcends narrative was back to its source. Keywords : Narrative, Agent Politic, Response
INFORMATION TECHNOLOGY (IT) DAN URGENSINYA SEBAGAI MEDIA DAKWAH ERA KONTEMPORER Hj. Muliaty Amin
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.326

Abstract

Abstract; Strategi dakwah di zaman Nabi saw dan zaman kontemporer, sekarang ini memang berbeda, terutama bila dilihat sarana dakwah yang digunakan. Untuk sekarang ini, Namun esensi dakwah di zaman Nabi saw dan sekarang tetap sama, yakni menyeru kepada al-ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Information Technology (IT) di samping dapat digunakan sebagai media dakwah melalui facebook dan twitter, juga dapat digunakan sebagai sarana internet yang dengannya seseorang dapat bertukar informasi dan berkomunikasi dalam menyampaikan dakwah. Kaitannya dengan inilah, maka sangat penting untuk dijadikan wacana pemikiran terhadap penggunaan Information Technology (IT) sebagai media dakwah di era kontemporer. Media dianggap sebagai sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan agama, dan bila dilihat dari bentuk penyampaiannya media di sini dapat pula disebut metode dakwah. Era kontemporer adalah masa kemajuan dunia dalam berbagai aspek kehidupan yang memukau, tetapi juga mengkhawatirkan. Aktualisasi dakwah melalui Information Technology (IT) di era kontemporer, haruslah sejalan dengan esensi dakwah itu sendiri. Pemanfaatan Information Technology (IT) melalui internet sebagai media berdakwah sangatlah efektif, karena didukung oleh sifat internet yang tidak terbatas ruang dan waktu. Materi keislaman dan dakwah bias disebarkan dengan cepat dan efisien. Dari segi biaya pun menjadi sangat murah. Informasi yang disebarkan lewat internet dapat menjangkau siapapun dan dimanapun asalkan yang bersangkutan mengakses internet. Kata Kunci: IT, Media Dakwah, Kontemporer Da’wa strategy at the time of the Prophet and the contemporary era, today is different, especially when viewed means of da’wa used. For now, however the essence of da’wa at the time of the Prophet, and now remains the same, which is called on al-ma'ruf and forbidding. Information Technology (IT) in addition can be used as a medium of da’wa through facebook and twitter, can also be used as a means of internet which one can exchange information and communicate in delivering da’wa. Relation to this, it is very important to be a discourse of ideas on the use of Information Technology (IT) as a medium of da’wa in the contemporary era. The media is considered as the means used to convey religious messages, and when viewed from the form of presentation media here can also be called the method of da’wa. Contemporary era was a time of world progress in various aspects of life are stunning, but also worrying. Actualization of da’wa through Information Technology (IT) in the contemporary era, must be in line with the essence of da’wa itself. Utilization of Information Technology (IT) over the Internet as a medium of preaching is very effective, because it is supported by the nature of the internet are not limited space and time. Islamic material and biased propaganda disseminated quickly and efficiently. In terms of cost becomes very low. The information disseminated via the Internet can reach anyone, anywhere as long as the relevant access the internet. Keywords: IT, Media Dakwah, Contemporary
ORGANISASI DALAM MANAJEMEN DAKWAH Hamriani HM
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.331

Abstract

Abstract; Organisasi dakwah dapat dirumuskan sebagai rangkaian aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi segenap kegiatan usaha dakwah dengan jalan membagi dan mengelompokkan pekerjaan yang harus dilaksanakan serta menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja diatara satuan-satuan organisasi atau petugasnya. Pengorganisasian yang mengandung koordinasi, akan mendatangkan keuntungan pula berupa terpadunya berbagai kemampuan dan keahlian dari para pelaksana dakwah dalam satu kerangka kerjasama dakwah, yang kesemuanya diarahkan pada sasaran yang telah ditentukan. organisasi adalah hubungan kerjasama sejumlah orang untuk mencapai suatu tujuan. Dalam organisasi terdapat sejumlah orang, adanya tujuan bersama, interaksi setiap orang dalam organisasi mempunyai tujuan pribadi dan interaksi itu selalu diarahkan untuk tujuan bersama. manajemen adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengefisienkan dan mengefektifkan pencapaian tujuan organisasi melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang dibutuhkan. Pengorganisasian dalam proses dakwah sangatlah penting sebab pada proses pengorganisasian ini akan menghasilkan sebuah rumusan struktur organisasi dakwah dan pendelegasian wewenang serta tanggung jawab. Dengan empat langkah yang telah dikemukakan sebelumnya dalam rangka pengorganisasian tersebut, maka tersusunlah suatu pola atau bentuk kerjasama dakwah, dimana masing-masing orang yang mendukung usaha kerjasama itu mengetahui pekerjaan apa yang harus dilaksanakan, sampai sejauh mana wewenang masing-masing serta jalinan hubungan antara satu dengan yang lain dalam rangka usaha kerjasama itu. Kata Kunci: Organisasi, Manajemen, Penyiaran Da'wah organization can be formulated as a series of activities to compile a framework which became a platform for all business activities of preaching the divide and classify the work to be carried out and establish and develop working relationships between interwoven organizational entities or officers. Organizing containing coordination, will be profitable also be the coherence of various abilities and skills of the executive within the framework of cooperation da’wa , all of which are directed at specific targets. organization is a cooperative relationship a number of people to achieve a goal. In an organization there are a number of people, the existence of a common goal, the interaction of everyone in the organization has a personal goal and the interaction was always directed towards a common goal. management is a series of activities undertaken to streamline and streamline the achievement of organizational goals through the use of human resources and other resources needed. Organizing the propaganda process is very important because in the process of organizing this will produce a formulation of propaganda and organizational structure and responsibilities delegated authority. With four steps that have been raised previously in the context of the organization, then composed a pattern or form of cooperation da’wa, in which each person who supports the cooperative effort to know what work is to be carried out, the extent to which authorities of each as well as the association between the with others in order to attempt cooperation. Keywords: Organization, Management, Propagation
KRITIK ILMIAH DALAM PERSPEKTIF ISLAM : Metode Dakwah Masyarakat Ilmiah Alwis Alwis
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.327

Abstract

Abstract; Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of Knowledge) atau Islamiyyat Al-Ma’rifat adalah sebuah gagasan yang timbul akibat adanya dikotomi dalam ilmu pengetahuan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan pada pusatnya yaitu dengan ‘tauhid’. Kritik adalah kecaman atau tanggapan yang kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, pemikiran dan sebagainya. Ilmiah berarti logis dan empiris. Kritik ilmiah ialah tanggapan seseorang atau pihak lain atas karya, pendapat atau pemikiran yang disertai dengan sanggahan yang masuk akal berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Kritik atas teori atau pemikiran dalam khazanah ilmu pengetahuan bukanlah hal yang baru. Tujuan dari kritik ini sendiri jelas, yaitu karena tesis yang dikemukakan dalam teori tersebut tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman, atau yang dalam terminologi pengetahuan dikatakan tidak terbukti lagi validitas dan realibilitasnya. Al-Qur`an mengajarkan agar manusia mencari kebenaran, karena kebenaran itu ada, dan kesalahan pun beserta orang-orang yang salahnya juga ada. Dalam beberapa ayat, Allah swt juga mengingatkan bahwa dalam hidup ini akan selalu ada dua pilihan; haqq dan bathil, benar (shawab) dan keliru (khatha`), sejati (shadiq) dan palsu (kadzib), baik (thayyib) dan busuk (khabits), bagus (hasanah) dan jelek (sayyi`ah), lurus (hidayah) dan tersesat (dlalalah). Semuanya itu mengajarkan nilai kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan mungkin untuk diraih. Kata Kunci: Kritik, Ilmiah, Metode, Masyarakat Islamization of Sciences (Islamization of Knowledge) or Islamiyyat Al-Ma'rifat is an idea arising from the dichotomy in science. One of the efforts is to restore science to its center is the 'monotheism'. Criticism is criticism or feedback that is sometimes accompanied by a description and good bad judgment against a work, opinions, thoughts and so on. Logical and empirical scientific means. Scientific criticism is the response of a person or any other party for work, opinions or ideas are accompanied by a disclaimer that makes sense based on the facts that can be justified. Critics of the theory or idea in the treasures of science is not new. The purpose of this criticism itself is clear, that is because the thesis put forward in the theory is no longer relevant to the times, or that is in terms of knowledge is said to be proven again and realibilitasnya validity. The Qur'an teaches that man's search for the truth, because the truth is there, and the fault was with those who hurt also. In some verses, Allah also warned that in this life there will always be two options; haqq and falsehood, right (sowab) and wrong (khatha`), true (Sadiq) and false (kadzib), good (thayyib) and foul (khabits), good (exploratory) and the ugly (sayyi`ah), straight (guidance ) and lost (dlalalah). Everything was taught the value of the human being that truth exists and possible to achieve. Keywords: Critics, Scientific, Methods, Society
‘SINDROM GILA BELANJA’, DAN PEMELIHARAAN STATUS SOSIAL: Tantangan Dakwah di Tengah Konsumsi Kompetitif Di Kota Muhammad Ridha
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.332

Abstract

Abstract; Konsumsi yang berubah menjadi sirkuit konsumsi yang berputar membesar tanpa kesudahan inilah gambaran masyarakat kapitalisme mutakhir. Konsumsi ibarat sebuah kompetisi untuk ‘mengkonsumsi’. Dalam lingkup sosial masyarakat yang lebih kecil, masyarakat seringkali dipicu untuk mengkonsumsi sesuatu karena ada konsumsi ofensif yang bisa menyebabkan keamanan sosialnya terancam. Motif ini juga didorong secara massif oleh media. Iklan diklaim menciptakan konsumsi kompetitif dengan menstimulasi rasa iri atau dengan mendorong kecemasan tak sehat soal status sosial. Pencarian status sosial dianggap sebagai kebutuhan artifisial lainnya, yang ditanamkan dalam diri konsumen oleh sistem. Akhirnya konsumen menjadi terjebak pada pola konsumsi yang didesain oleh struktur media, kebijakan, desain tata kota, keberlimpahan barang konsumsi- ini. Konsumsi semakin menyebar menjadi perilaku sosial yang seolah-olah normal. ‘Apalagi, banyak konsumsi defensif tak ada kaitannya dengan status. Kerap kali kita terpaksa masuk ke dalam konsumsi kompetitif untuk membela diri dari gangguan yang timbul akibat konsumsi orang lain. Konsumsi ini telah menjadi budaya massa. Nyaris tidak lagi memilih kelas sosial dengan kuantitas pendapatan sebesar apa sehingga dikategorikan layak mempraktekkan konsumerisme. Karena realitas konsumsi ini sudah merata di setiap kelas sosial mestinya ini sudah menghasilkan perputaran kapital yang menyebabkan kesejahteraan dan pemerataan keuntungan seperti pengandaian kapitalisme tentang tricle dawn effect. Pada ujungnya kekayaan ini akan dijadikan alat ekspresi demi sebuah status ‘rasa hormat’ dan ‘penghargaan’ tersebut. Kata Kunci: Konsumsi, Konsumsi Kompetitif, Mencapai Tingkatan, Status Sosial Consumption transformed into consumption circuits rotating enlarged without consummation of this picture advanced capitalist society. Consumption is like a competition to 'consume'. In the social sphere smaller communities, people are often driven to consume anything because no offensive consumption can lead to social security is threatened. This motif is also driven by the massive media. Advertising claimed create competitive consumption by stimulating envy or by encouraging unhealthy anxiety about social status. Search social status are considered as other artificial needs, which instilled in the consumer by the system. Finally, consumers became trapped in the consumption patterns designed by the structure of the media, policy, urban design, this abundance-consumption goods. Consumption increasingly spread into the social behavior that seems normal. 'Moreover, a lot of defensive consumption has nothing to do with status. Many times we are forced to enter into competitive consumption to defend themselves from disruption caused by the consumption of others. This consumption has become a mass culture. Almost no longer choose social class with an income of any quantity that is categorized worth practicing consumerism. Because of the reality of this consumption has been uneven in every social class should have already resulted in capital turnover that led to the welfare and equity gains as capitalism presuppositions about tricle dawn effect. At the end of this wealth will be used as a means of expression for the sake of a status of 'respect' and 'reward' is. Keywords : Consumption , Consumption Competitive , Achieving Class , Social Status
DINAMIKA KOMUNIKASI ORGANISASI DI PERGURUAN TINGGI Ida Suryani Wijaya
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.328

Abstract

Abstract; Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia, dengan berkomunikasi manusia dapat berhubungan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari dimanapun manusia itu berada. Komunikasi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana sampai cara yang kompleks. Komunikasi tidak terbatas pada kata-kata yang terucap belaka, melainkan bentuk dari apa saja interaksi, senyuman, anggukan kepala yang membenarkan hati, sikap badan, ungkapan minat, perhatian yang mendukung diterimanya pengertian, sikap dan perasaan yang sama. Komunikasi organisasi mengandung tujuh konsep kunci yaitu: proses, pesan, jaringan, saling tergantung, hubungan, lingkungan, dan ketidakpastian. Hambatan komunikasi dalam organisasi juga dapat dibagi menjadi tiga yaitu hambatan teknis, hambatan semantik, dan hambatan perilaku. Teknik komunikasi ialah keahlian yang dimiliki oleh seseorang dalam menyampaikan informasi kepada pihak lain sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima dengan cepat dan tepat oleh penerima informasi. Kurangnya apresiasi dan motivasi dari pimpinan di perguruan tinggi dapat mempengaruhi sikap dari bawahannya. Untuk dapat memperbaiki hubungan, selain mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pesan, juga diperlukan hubungan yang baik antara komunikator dengan komunikan, ini karena keefektifan komunikasi secara keseluruhan masih memerlukan suasana psikologis yang positif dan penuh kepercayaan. Komunikator selalu menginginkan agar komunikan melakukan apa yang diungkapkannya. Ketidakefektifan komunikasi terjadi karena adanya hambatan dalam komunikasi, hambatan tersebut paling banyak adalah hambatan dalam hal perbedaan persepsi. Kata Kunci : Dinamika, Komunikasi Communication is a basic human activity, with people communicate can relate to each other in everyday life wherever human being. Communication can be done in a way that is simple to complex ways. Communication is not limited to the spoken words alone, but any form of interaction, a smile, a nod of the head that justify the liver, posture, expressions of interest, attention which supported the adoption of understanding, attitudes and feelings are the same. Organizational communication contains seven key concepts: process, messaging, network, interdependent, relationships, environment, and uncertainty. Barriers to communication within the organization can also be divided into three technical barriers, barriers semantic, and behavioral barriers. Communications engineering expertise that is owned by someone in conveying information to others so that information can be delivered quickly and accurately received by the receiver of information. Lack of appreciation and motivation of leadership in higher education can affect the attitude of his subordinates. In order to improve relations, in addition to preparing for the right words to convey the message, also needed a good relationship between the communicator to the communicant, this is because the effectiveness of the overall communication still requires a positive psychological atmosphere and full of confidence. Communicators have always wanted to do what it expresses communicant. Ineffectiveness of communication occurred because of barriers in communication, these barriers are most obstacle in terms of differences in perception. Keywords : Dynamics, Communication
AL-MA’IYYAH AND AL-AHÁTHAH, “THE ACCOMPANIMENT AND ENCOMPASSING OF GOD TOWARDS HIS SLAVE” IN SHEIKH YUSUF CONCEPTION Hj. Muzdalifah Sahib
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.333

Abstract

Abstract; Sheikh Yusuf al-Maqassary (1626-1699), adalah seorang penulis produktif yang telah menulis risalah lebih dari 38, sebagai pedoman bagi masyarakat muslim khususnya bagi para pengikutnya. Meskipun Sheikh Yusuf berpegang teguh pada transendensi Allah, ia percaya bahwa Allah meliputi segala sesuatu (al-aháthah) dan ada di mana-mana (al-maiyyah) atas ciptaan-Nya. Namun, dia sangat berhati-hati untuk tidak mengikat dirinya dengan doktrin panteisme dengan mengatakan, meskipun Allah muncul sendiri dalam ciptaan-Nya, itu tidak berarti bahwa ciptaan-Nya adalah Allah sendiri, semua ciptaan hanyalah makhluk alegoris atau metaforis (al -maujúd al-majazi), bukan wujud yang sebenarnya (al-maujúd haqiqi). Jadi, menurut Syekh Yusuf, kata Tuhan dalam ciptaan-Nya tidak berarti kehadiran Allah sendiri dalam diri mereka, tetapi sifat ilmunya-Nyalah meliputi hamba-Nya, dan keadaannya yang bersama dengan hamba-Nya, bukan keadaan hamba bersama-sama dengan Allah, karena itu tidak mungkin, kecuali bagi hamba yang berada dalam kondisi dzikr (hanya mengingat Allah) dan tidak mengingat wujud lain selain Allah. Oleh karena itu, Sheikh Yusuf menganggap bahwa salah bagi seorang sufi yang telah mencapai puncak pengalaman spiritual, merasa fana 'fillah dan baqa' bihi, atau telah memasuki keberadaan Tuhan, kemudian dia mengatakan perasaannya dengan kata-kata shataháts, seperti: 'Ana-Allah (saya Allah),' Ana al-Haqq (Akulah Paling Benar), Subhani (Maha Suci aku), dll. Adapun konsep kebersamaan dan liputan Tuhan ini terhadap hamba-Nya kebanyakan tertuang dalam risalahnya “Zubdat al-Asrár and Sirr al-Asrár”, akan tetapi, pembahasannya mungkin terlalu panjang, jika kita harus mengambil dari kedua teks tsb. Oleh karena itu penulis hanya memilih satu teks saja, yakni “Zubdat al-Asrár. Kata Kunci: Syaikh Yusuf al-Maqassary, Pendampingan, Tuhan dan HambaNya, “Zubdat al-Asrár” Sheikh Yusuf al-Maqassary (1626-1699), was a prolific writer who has written a treatise of more than 38, as a guide for the Muslim community in particular for his followers. Although Sheikh Yusuf cling to the transcendence of God, he believes that Allah encompasses everything (al-aháthah) and there everywhere (al-maiyyah) over his creation. However, he was very careful to not bind himself with the doctrine of pantheism to say, although God manifests itself in His creation, it does not mean that his creation is God himself, all creation is only allegorical or metaphorical creature (al -maujúd al- majazi), not the actual form (al-existent haqiqi). Thus, according to Sheikh Yusuf, said the Lord in His creation does not mean the presence of God in themselves, but their knowledge is His nature includes his servants, and the circumstances which along with his servant, not a slave state together with God, because it is not possible, except for the servants who are in a state of dhikr (remembrance of Allah only) and do not remember any other form other than Allah. Therefore, Sheikh Yusuf considers that one for a Sufi who has reached the pinnacle of spiritual experience, feel mortal 'fillah and baqa' bihi, or has entered the existence of God, then he said his feelings with words shataháts, such as: 'Ana-God (my God), "Ana al-Haqq (I am the Most True), Subhani (Glory I), etc. The concept of togetherness and coverage of the Lord is against His servants mostly contained in his treatise "Zubdat Sirr al-Asrar al-Asrar and", however, the discussion may be too long, if we have to take from the second text page. Therefore, the authors only choose one text only, namely "Zubdat al-Asrar. Key words: Sheikh Yusuf al-Maqassary, the Accompaniment and Encompassing, God and His slaves, “Zubdat al-Asrár”
KONSTRUKSI MEDIA MASSA DALAM PENGEMBANGAN DAKWAH Nurul Syobah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.324

Abstract

Abstract; Keberadaan media massa sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Media massa mampu membentuk opini bahkan mengubah perilaku masyarakat. Seiring dengan itu, kehadiran media membawa nilai positif juga negatif. Sementara itu, aktivitas diarahkan membentuk perilaku yang baik bagi masyarakat sehingga media diharapkan juga dapat memberi kontribusi melalui pemberitaan dalam pengembangan dakwah dalam masyarakat. Kegiatan dakwah menjadi semarak dengan merambah dunia media massa yang terintegrasi. Dalam perkembanganya, media mampu melakukan rekonstruksi sosial dalam membentuk opini publik terhadap realitas di tengah-tengah masyarakat. Keberadaan media massa di tengah masyarakat sangat urgen bahkan mampu mempengaruhi pola pikir bahkan perilaku masyarakat. Ketika sebuah peristiwa dikonstruksi media menjadi tayangan bermuatan dakwah dan diakses publik yang meliputi umat Islam selaku mad’u, tentu konstruksi media atas teks atau tayangan dalam konstruk dakwah merupakan harapan bagi pengembangan dakwah melalui media massa yang diyaikini pengaruhnya signifikan. Media massa diyakini dapat memberi kesan khusus dan efek terhadap individu, kelompok atau lingkungan tertentu. Secara personal (individu) media massa dapat memberi pengaruh pada tiga level yaitu efek kognitif, afektif dan konasi. Media menyadari bahwa dakwah merupakan kebutuhan masyarakat termasuk informasi atau pemberitaan soal agama. Dalam konteks ini media mengemasnya dalam bentuk pemberitaan yang mengandung pesan-pesan keagamaan yang diangkat dari peristiwa keagamaan. Proses ini dilakukan dalam bentuk merekonstruksi peristiwa menjadi berita yang diakses publik. Kata Kunci: Konstruksi, Media, Pengembangan, Dakwah The existence of mass media is very influential on people's lives. The media was able to form an opinion even change people's behavior. Along with it, the presence of the media brought positive value is also negative. Meanwhile, activity directed to form good behavior for the community so that the media is also expected to contribute through da’wa in the news in the development of society. Proselytizing activities by venturing into the vibrant world of integrated media. In the expansion, is able to perform the reconstruction of social media in shaping public opinion against the reality in the midst of society. The existence of the mass media in society is very urgent even be able to influence people's behavior even mindset. When an event is constructed into impressions charged media of da’wa and accessible to the public which includes Muslims as mad'u, construction of the media over the text or impressions in the construct of hope for the development of da’wa is da’wa through mass media believed significant influence. The mass media is believed to give a special impression and effect on individuals, groups or particular environments. Personal (individual) mass media can make an impact at three levels, namely the effects of cognitive, affective and konasi. Media realized that the mission is a community needs including information or news about religion. In this context the media packaging in the form of reports that contain religious messages are removed from the religious events. This process is done in the form of reconstructing the events in the news are accessible to the public. Keywords: Construction, Media, Development, Da'wah
PERANAN SAINS DALAM MENGENAL TUHAN La Jidi
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.329

Abstract

Abstract; Kaum Muslim bersikap lebih kritis pada sains. Bahkan, ada percobaan menafsirkan sains dalam perspektif Islam karena pada prinsipnya, Islam menegaskan perlunya menfasirkan segenap aspek kehidupan selaras dengan keimanan. Dalam artian bahwa ilmu dan pengetahuan mempunyai pengertian yang berbeda secara mendasar. Pengetahuan dalam arti knowlegde adalah hasil daripada aktifitas mengetahui, yaitu tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa hingga tidak keraguan terhadapnya. Tujuan utama pendukung sains Islam adalah menegaskan bahwa Islam ataupun sains sama-sama bersandar pada sikap tertentu tentang rasionalitas. Jenis rasionalitas yang digunakan oleh sains melibatkan kepercayaan yang sama dengan yang ada pada agama. Pada saat tertentu, perlu ada pendekatan yang berbeda terhadap sains yang selaras dengan masyarakat sekitarnya. Karena itu, sains tidak lebih meyakinkan daripada agama. Keduanya sama-sama melibatkan keyakinan tertentu pada serangkaian asas yang tak berdalil. Orang bisa mengatakan bahwa sains tampaknya berhasil, tetapi demikian pula halnya dengan agama. pencarian para ilmuwan muslim terhadap fenomena alam disebabkan fakta bahwa mereka menganggap masalah sains ini merupakan salah satu cara terbaik untuk lebih dekat dengan Allah. Sains sebenarnya dapat mempertebal keyakinan dan keimanan. Namun demikian iman juga dapat digoyahkan oleh sains seandainya dicampuradukkan dengan pemahaman agama. Pengkaitan fenomena alam dengan ayat-ayat suci secara serampangan bisa jadi malah akan memberikan pemahaman yang salah. Bagi para agamawan yang kurang memahami sains, tindakan ini akan menyesatkan. Kata Kunci: Peranan, Ilmu, Pengetahuan Muslims to be more critical in science. In fact, there are experiments to interpret science in the Islamic perspective because, in principle, Islam stressed the need menfasirkan all aspects of life in harmony with faith. In the sense that science and knowledge have a fundamentally different understanding. Knowledge in the sense of knowlegde is the result rather than the activity to know, that the exposure of a reality to the soul to no doubt about it. The main purpose of science advocates assert that Islam is Islam or science are equally rests on a certain attitude about rationality. Type of rationality used by science involving the same beliefs as that of the religion. At some point, there needs to be a different approach to science that is in harmony with the surrounding community. Therefore, science is no more convincing than religion. Both involve a certain confidence in a series of principles that do not postulate. One could say that science seemed to work, but so does religion. Muslim scientists search for a natural phenomenon caused by the fact that they considered the issue of science is one of the best ways to get closer to God. Science can actually strengthen confidence and faith. However, faith can also be swayed by science if mixed with religious understanding. The linking natural phenomena with sacred verses at random may actually would give a wrong understanding. For the clergy who do not understand the science, this action would be misleading. Keywords: Role, Science, Know

Page 1 of 1 | Total Record : 10