cover
Contact Name
Fauziah Astrid
Contact Email
fauziah.astrid@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtabligh@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Dakwah Tabligh
ISSN : 14127172     EISSN : 2549662X     DOI : -
Tabligh Journal is a scientific publication for research topics and studies on communication and da'wah. The form of publiation that we receive will be reviewed by reviewers who have a concentration in the field of Communication, specifically Da'wah and Communication.We publish this journal twice a year, in June and December. The Tabligh Journal first appeared in the printed version in 2011. This journal is managed by the Tabligh journal team under the Da'wah and Communication Faculty of Alauddin Islamic University in Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 15 No 1 (2014)" : 10 Documents clear
DAKWAH DAN TANTANGANNYA DALAM MEDIA TEKNOLOGI KOMUNIKASI Muhammad Rajab
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.339

Abstract

Abstract; Perkembangan teknologi informasi mengalami kemjauan sangat pesat. Kemajuan tersebut telah mengantarkan umat manusia semakin mudah untuk berhubungan satu dengan lainnya. Berbagai infomasi dan peristiwa yang terjadi dibelahan dunia dengan secara cepat dapat diketahui oleh manusia pada benua yang lain. Era globalisasi yang ditandai oleh semakin majunya teknologi komunikasi juga disebut dengan era informasi. Masyarakat dunia termasuk umat Islam dewasa ini dapat menikmati acara televisi dengan berbagai tayangan. Siaran televisi tersebut bukan hanya terpancar dari jaringan yang bersifat nasional, tetapi juga dapat mengikuti jaringan internasional berkat adanya satelit yang dihubungkan dengan adanya parabola di rumah-rumah penduduk. Komunikasi di satu sisi menyampaikan informasi kepada orang lain terhadap gagasan atau ide kepada orang lain baik menggunakan media maupun tidak menggunakan media sedangkan disisi lain ingin mengubah pola pikir dan tingkah laku masyarakat. Fungsi komunikasi adalah potensi yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu. Komunikasi sebagai ilmu, seni dan lapangan kerja sudah tentu memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan Komunikasi adalah untuk menyampaikan informasi dan mencari informasi kepada mereka agar apayang ingin disampaikan dapat dimengerti sehingga komunikasi yang dilaksanakan dapat tercapai. Suatu informasi atau pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan akan komunikatif apabila terjadi proses psikologis yang sama antara insan-insan yang terlibat dalam proses tersebut. Dengan perkataan lain, informasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan adalah situasi komunikatif seperti itu akan terjadi bila terdapat etos pada diri komunikator. Keywords: Challenges, Technology, Communications The development of information technology has kemjauan very rapidly. The advancement has led mankind easier to relate to one another. Various information and events happening parts of the world with rapidly can be known by human beings on other continents. The era of globalization characterized by the rapid advancement of communication technology is also called information age. The world community, including Muslims today can enjoy television programs with a variety of impressions. The television broadcasts emanating not only from a national network, but also can follow the international network thanks to the satellite which is connected with the parabola in people's homes. Communication on one side convey information to others for ideas or ideas to others either use or not use the media while the media on the other hand want to change the mindset and behavior of the people. Communication function is the potential that can be used to meet certain goals. Communication as a science, art and employment is certainly a function that can be used by humans in meeting their needs. Communication goal is to convey information and search for information to be conveyed them to apayang understandable so that communication can be achieved implemented. An information or message conveyed communicator to the communicant to be communicative event of the same psychological process between beings who are involved in the process. In other words, the information conveyed communicator to the communicant is a communicative situation like that would happen if there is a communicator yourself ethos. Keywords: Challenges, Technology, Communications
DAKWAH MELALUI SINETRON (Fenomena Sinetron Religius) St. Nasriah St. Nasriah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.335

Abstract

Abstract; Berdakwah itu tidak hanya terbatas pada perbuatan-perbuatan tertentu seperti: ceramah agama, khutbah atau pengajian saja, tetapi meliputi seluruh kegiatan yang dapat memberikan motivasi dan dorongan kepada orang lain untuk berbuat kebajikan dan memperlihatkan syiar Islam. Acara televisi yang paling disukai pemirsa adalah sinetron, sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa sinetron dan iklan menjadi suatu andalan para pemilik stasiun televisi untuk menjaring pemirsanya. Tujuan sinetron, seperti halnya dengan media massa lainnya sinetron pada intinya mempunyai tujuan tertentu dalam penyampainnya, diantaranya yaitu, bertujuan untuk memberikan pendidikan dan hiburan. Salah satu acara di televisi yang beberapa waktu lalu menarik perhatian para pemirsanya adalah tayangan-tayangan sinetron yang bernafaskan mistis religious. Di kalangan akademisi dakwah, munculnya tayangan sinetron mistis yang dikemas dengan menggunakan simbol-simbol kegamaan tersebut memang masih menjadi persoalan, apakah sinetron tersebut dapat disebut sebagai sinetron dakwah atau tidak. untuk memperoleh keberhasilan dalam program penayangan di televisi melalui dua bentuk yaitu dominasi format dan dominasi bintang yang dilengkapi dengan elemen keberhasilan yang terdiri dari konflik, durasi, kekuasaan, konsistensi, energy, timing dan tren. Berdakwah melalui sinetron adalah salah satu peluang bagi umat Islam namun perlu diperhatikan keterlibatan aktif dari berbagai pihak khususnya produsen dan penonton. Produsen harus lebih kreatif untuk membuat sinetron dakwah yang bermutu dan umat Islam juga harus mau menonton hasil dari kreatifitas pembuatan sinetron dakwah tersebut. Kata Kunci: Dakwah, Sinetron Preaching was not just limited to certain acts such as: religious lectures, sermons or lectures alone, but includes all the activities that can provide motivation and encouragement to others to do good and show the greatness of Islam. The most preferred television shows are soap opera viewers, has become common knowledge that soap operas and commercials became a mainstay of the owners of television stations to attract viewers. The purpose soap operas, as well as other mass media soap opera at its core has a specific purpose in penyampainnya, among which, aims to provide education and entertainment. One television show that some time ago attracted the attention of the viewers are the shows that having a mystical religious soap opera. In academic circles propaganda, the emergence sinetrons mystical packaged using of religious symbols is indeed still a problem, if it can be called as a soap opera soap opera propaganda or not. to obtain success in the program aired on television through two forms of domination and domination star format incorporating elements of success which consists of conflict, duration, power, consistency, energy, timing and trends. Preaching through the soap opera is one of the opportunities for Muslims but to note the active involvement of various stakeholders, especially producers and audiences. Manufacturers have to be creative to make soap opera quality propaganda and Muslims also have to be willing to watch the result of the creativity of making da’wa soap operas. Keywords: Da’wa, Soap opera
MANAJEMEN KONFLIK DALAM PERSPEKTIF DAKWAH Hasan Waeduloh
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.340

Abstract

Abtsract; Konflik sangat erat kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk perasaan yang diabaikan, disepelekan, tidak dihargai, ditinggalkan, dan juga perasaan jengkel karena kelebihan beban kerja. Konflik adalah merupakan hasil ciptaan para pemimpin politik dalam melakukan perubahan. Tujuan manajemen konflik adalah sebagai berikut; Mencegah gangguan kepada anggota organisasi untuk memfokuskan diri pada visi, misi dan tujuan organisasi. Memahami orang lain dengan menghormati keberagaman. Meningkatkan kreativitas. Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan melalui peran serta, pemahaman bersama dan kerjasama. Menciptakan prosedur dan mekanisme penyelesaian konflik. Menimbulkan iklim organisasi konflik dan lingkungan kerja yang tidak menyenangkan, takut, moral rendah, sikap saling curiga. Konflik banyak jenisnya dan dapat dikelompokkan. Konflik dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah orang yang terlibat konflik yaitu konflik personal dan konflik interpersonal. Konflik personal. Konflik personal adalah konflik yang terjadi dalam diri seorang individu karena harus memilih dari sejumlah altematif pilihan yang ada atau karena mempunyai kepribadian ganda. Konflik interpersonal. Konflik interpersonal adalah,konflik pada suatu organisasi di antara pihak-pihak yang terlibat konflik dan saling tergantung dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam merealisasikan strategi konfliknya, pihak yang terlibat konflik menggunakan taktik konflik. Taktik konflik adalah teknik yang mempengaruhi lawan konflik untuk menghasilkan keluaran konflik yang diharapkan. Penyelesaian konflik menurut Islam (dalam perspektif dakwah) dengan menggunakan langkah-langkah berupa: pertama dengan mengumpulkan data-data informasi yang akurat sesuai penglihatan (pancaindra), sebelum memutuskan salah dan benamya, sesuai petunjuk alqur'an dan hadis Rasulullah Saw. Kedua dengan melakukan islah (perdamaian atau penyelesaian konflik dengan musyawarah) sebagai yang dicontokan oleh Nabi. Kata Kunci: Manajemen, Konflik, Perspektif Conflict is closely associated with human feelings, including feeling neglected, ignored, unappreciated, abandoned, and also feeling irritated because of excess workload. Conflict is the creation of political leaders in making a change. Conflict management purposes are as follows; Prevent disruption to members of the organization to focus on the vision, mission and goals of the organization. Understanding other people with respect for diversity. Improve creativity. Facilitate the implementation of activities through participation, mutual understanding and cooperation. Creating procedures and mechanisms to resolve conflicts. Give rise to a conflict of organizational climate and work environment that is not fun, fear, low morale, mutual suspicion. Conflict of many kinds and can be grouped. Conflict can be grouped based on the number of people involved in the conflict is the conflict of personal and interpersonal conflict. Personal conflicts. Personal conflicts are conflicts that occur in an individual because they have to choose from a number of alternative options that exist or because it has a split personality. Interpersonal conflict. Interpersonal conflict, conflict in an organization among the parties to the conflict and interdependent in carrying out the work to achieve organizational goals. In realizing the strategy of conflict, the parties involved in the conflict using conflict tactics. Conflict tactics are techniques that affect conflict opponent to produce the expected output conflict. Conflict resolution in Islam (in the perspective of da’wa) by using measures such as: first by collecting data accurate information in accordance with vision (sensory), before deciding on one and benamya, as directed by the Koran and the Hadith of the Prophet. Both the conduct of reconciliation (peace or conflict resolution by consensus) as the dicontokan by the Prophet. Keywords: Management, Conflict, Perspectives
PENERAPAN MANAJEMEN MUTU TERPADU PADA LEMBAGA DAKWAH Saida Gani
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.336

Abstract

Abstract; Era informasi ataupun era globalisasi menuntut kapasitas manajemen organisasi melakukan tranformasi menuju perubahan manajemen untuk mengimplementasikan manajemen kontemporer yang disebut Total Quality Management (TQM). TQM adalah suatu pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh organisasi masa kini tak terkecuali lembaga dakwah untuk memperbaiki ouputnya, menekan biaya produksi serta meningkatkan produksinya. TQM mempunyai konotasi seluruh sistem seluruh proses, seluruh pegawai, termasuk pemakai produk dan jasa juga suplier. Total Quality berarti karakteristik yang memenuhi kebutuhan pemakai, sedang Management berarti proses komunikasi vertical dan horizontal, top-down dan buttom-up, guna mencapai mutu dan produktivitas. TQM di bidang organisasi dakwah/publik tentu membutuhkan penyesuaian. Karena permasalahan kualitas merupakan sesuatu yang kompleks maka perlu dilakukan pertahapan yang dapat memberikan ruang usaha untuk transisi menuju tercapainya kualitas. Melakukan integrasi satu sama lain dalam suatu organisasi, sehingga dapat memberikan dampak positif pada battom line perusahaan/organisasi. Melakukan upaya peningkatan kinerja secara terintegrasi dalam kebutuhan bisnis dan industri yang dirumuskan secara sistematik dalam suatu master improvement story bukan peningkatan secara acak (random performance improvement), parsial dan tak terintegrasi. TQM memerlukan keterampilan manajemen puncak dalam mengelola organisasi yang bekerjasama dengan senior manajer dalam menentukan kualitas dan produksi yang lebih baik agar dapat bersaing dengan organisasi lain. Sebagai tujuan akhir dan TQM adalah kesejahteraan organisasi dan seluruh karyawan. Kata Kunci: Implementasi, Manajemen, Kualitas Terpadu The information age or era of globalization requires management of the organization doing the transformation capacity for change management to implement contemporary management called Total Quality Management (TQM). TQM is an approach that should be done by the organization today is no exception da’wa agencies to improve the output, reduce production costs and increase production. TQM has the connotation of the whole system of the whole process, all employees, including consumer products and services are also suppliers. Total has the connotation of the whole system, ie the entire process, all employees, including users of products and services, as well as suppliers. Quality means the characteristics that meet the needs of users, while Management means the process of vertical and horizontal communication, top-down and bottom-up, in order to achieve quality and productivity. TQM in the field of da'wah organization / public course require adjustment. Because of quality problems are complex it is necessary to pertahapan that can provide business space for the transition to the achievement of quality. Integrate with each other in an organization, so it can have a positive impact on battom line company / organization. Make efforts to increase performance integrated in business and industry needs systematically formulated in an improvement master story not increase at random (random performance improvement), partial and not integrated. TQM requires top management skills in managing organizations that work with senior managers in determining the quality and better production in order to compete with other organizations. As a final goal and TQM are welfare organizations and employees. Keywords: Implementation, Management, Integrated Quality
JURNALISTIK DALAM KEMASAN DAKWAH Andries Kango
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.341

Abstract

Abstract; Dakwah Islam dalam perkembangannya mengalami dinamika yang beragam, baik yang ditentukan oleh subyek dakwah (da'i) maupun realitas obyek (mad’u) Gerakan dakwah saat ini dan yang akan datang dihadapkan pada kondisi social yang berkembang sehingga secara otomatis menuntut pola pengembangan gerakan dakwah yang sistematis, baik secara teoritis maupun secara aplikatif. Dakwah bil qalam atau dakwah dengan menggunakan pena, dalam hal ini aktifitas tulis-menulis (jurnalistik). Dakwah bil qalam selayaknya membutuhkan keseriusan bagi para da'i jika dibandingkan dengan dakwah bil lisan. Alasan utamanya adalah untuk masa sekarang ini manusia cenderung memanfaatkan media (media massa) dalam mencari berbagai informasi yang dibutuhkan, disamping itu media tulisan dapat tersimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga bisa menjangkau obyek yang banyak. Berdakwah melalui media massa (koran, majalah, dll, atau disebut juga surat kabar) mempunyai cara dan karakteristik tersendiri, berbeda dengan berdakwah pada media lainnya, Surat kabar adalah salah satu komunikasi masyarakat pembaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembacanya. Oleh karena itu menulis pesan-pesan dakwah dalam sebuah koran maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu tulisan bemuansa dakwah itu akan dikonsumsikan kepada media apa, apakah media pers khusus Islam atau pers umum. Menulis dakwah untuk media pers khusus Islam memiliki teknik dan era yang sedikit berbeda dengan menulis di media pers UU. Kata Kunci: Jurnalistik, Kemasan Islamic da’wa in its development dynamics are diverse, which is determined by the subject of propaganda (preacher) and the reality of the object (mad'u) propaganda movement today and the future faced with growing social conditions that automatically demanding missionary movement patterns of development systematic, both theoretical and applicative. Da'wa bil Qalam or da’wa by using the pen, in this case the activity of writing (journalism). Da'wah bil Qalam should require the seriousness of the preachers when compared with oral propaganda bil. The main reason is to present these people tend to use the media (media) to find the information needed, in addition to the medium of writing can be stored in the long term so that it can reach a lot of objects. Preaching through the mass media (newspapers, magazines, etc., or also called the newspaper) has its own characteristic way and, in contrast to preach in other media, newspapers are one of the reading public communication enormous influence on readers. Therefore, write messages of propaganda in a newspaper there are several things to note are writing propaganda bemuansa it will be consumed on any media, whether the news media specifically Islamic or general press. Writing da’wa for the specialized press media techniques and Islam have a slightly different era by writing in the press law. Keywords: Journalism, Packaging
DAKWAH DI TENGAH KERAGAMAN DAN PERBEDAAN UMAT ISLAM Maqbul Arib
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.337

Abstract

Abstract; Istilah pluralisme sendiri sesungguhnya adalah istilah lama yang hari-hari ini kian mendapatkan perhatian penuh dari semua orang. Dikatakan istilah lama karena perbincangan mengenai pluralitas telah dielaborasi secara lebih jauh oleh para pemikir filsafat Yunani secara konseptual dengan aneka ragam alternatif memecahkannya. Para pemikir tersebut mendefinisikan pluralitas secara berbeda-beda lengkap dengan beragam tawaran solusi menghadapi pluralitas. Pluralisme itu given, sementara konflik adalah sesuatu yang inhern di dalamnya. Pertanyaan selanjutnya bagaimana mengelola pluralitas dan konflik yang ada sehingga menjadi sebuah energi sosial bagi penciptaan tatanan bangsa yang lebih baik. Jawabannya tentu panjang dengan melibatkan pengkajian seluruh faktor yang ada. Akan tetapi terkait dengan kajian ini (memahami pluralitas), ternyata menjaga kerukunan tidak cukup hanya memahami keanekaragaman yang ada di sekitar kita secara apatis dan pasif. Memahami pluralisme seharusnya melibatkan sikap diri secara pluralis pula. Sebuah sikap penuh empati, jujur dan adil menempatkan bagaian, perbedaan pada tempatnya, yaitu dengan menghomati, memahami dan mengakui eksistensi orang lain, sebagaimana menghormati dan mengakui eksistensi diri sendiri. Oleh karena itu dengan memanfaatkan potensi yang ada dalam dunia yang plural seperti ini, maka model dakwah Islamiah akan lebih bermakna (meaningfull) jika dilakukan dengan melibatkan kerjasama dengan semua pihak termasuk mereka yang berada di luar Islam. Dengan demikian, pluralitas, keragaman atau kemajemukan yang telah menjadi keniscayaan ini dapat dimanfaatkan sebagai "energi sosial" guna mengawal dan menetralisir problematika umat manusia. Kata Kunci: Dakwah, Keragaman, Perbedaan The term pluralism itself is actually the long term these days increasingly get the full attention of everyone. Said to be a long term because of the discussion of plurality is further elaborated by the thinkers of Greek philosophy is conceptually with a variety of alternatives to solve it. Thinkers are defining a plurality of differently complete with a variety of solutions to the plurality of bids. Pluralism was given, while the inherent conflict is something in it. The next question is how to manage plurality and conflicts that exist so that it becomes a social energy for the creation of the order of a better nation. The answer of course involves the assessment of the entire length of the existing factors. However, associated with this study (understanding plurality), turns out to maintain harmony is not enough just to understand the diversity that exists around us are apathetic and passive. Understanding pluralism should involve themselves in a pluralist attitude anyway. An empathetic attitude, honest and fair to put this part, the differences in place, namely with respect for, understanding and acknowledging the existence of others, as well as respect and acknowledge the existence of yourself. Therefore, by utilizing the potential that exists in a pluralistic world like this, then the model will be more meaningful Islamic da'wah (meaningfull) if done in cooperation with all parties involved, including those who are outside of Islam. Thus, plurality, diversity or pluralism that has become a necessity these can be used as a "social energy" to oversee and neutralize problems of mankind. Keywords: Da’wa, Diversity, Difference
ETIKA KOMUNIKASI DALAM AL-QUR’AN DAN HADIS Muh. Syawir Dahlan
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.342

Abstract

Abstract; Konsep tentang komunikasi tidak hanya berkaitan dengan masalah cara berbicara efektif saja melainkan juga etika bicara. Semenjak memasuki era reformasi, masyarakat Indonesia berada dalam suasana euforia, bebas bicara tentang apa saja, terhadap siapapun, dengan cara bagaimanapun. Al-Qur’an menyebut komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia. Untuk mengetahui bagaimana manusia seharusya berkomunikasi. Al-Qur’an memberikan kata kunci (keyconcept) yag berhubungan dengan hal itu. Al-Syaukani, misalnya mengartikan kata kunci al-bayan sebagai kemampuan berkomunikasi. Selain itu, kata kunci yang dipergunakan Al-Qur’an untuk komunikasi ialah al-qaul. Demokrasi yang melegitimasi terdapatnya keragaman (pluralitas) tentu harus dipraktikkan ke ranah politik dan kekuasaan. Untuk itu dibutuhkan alat untuk mengantarkan terjadinya proses tawar dan konsensus di antara komponen sosial politik yang ada. Instrumen tersebut adalah komunikasi politik. Etika politik diperlukan secara kontinu dalam proses komunikasi politik di tengah transisi demokrasi saat ini di mana etika politik mengarahkan ke hidup baik bersama dan untuk orang lain dalam kerangka memperluas lingkup kebebasan dan menciptakan institusi-institusi yang lebih adil. Barangkali bisa dipahami dengan komunikasi politik yang beretika maka nilai-nilai demokrasi tetap dikedepankan serta mereka akan menjaga komitmen untuk mengutamakan kepentingan publik. Perintah berkata dalam Al-Qur’an dan hadis menjadi sebuah indikasi wajibnya bagi muslim mengaplikasikan sifat kejujuran dan perkataan benar yang dalam konsep Al-Qur’an dikenal dengan istilah qaulan sadidan. Kata Kunci: Etika, Komunikasi The concept of communication is not only concerned with the problem of how to speak effectively but also the ethics of speech. Since entering the reform era, the people of Indonesia are in a euphoric atmosphere, free to talk about anything, to anyone, in any way. The Quran calls the communication as one of human nature. To find out how humans seharusya communicate. The Qur'an gives the keyword (keyconcept) yag associated with it. Al-Syaukani, for example, define the keyword al-bayan as the ability to communicate. In addition, the keywords used for communication Qur'an is al-qaul. Democracy which legitimize the presence of diversity (plurality) of course must be practiced to the realm of politics and power. That requires a tool to deliver the bargaining process and consensus among the existing social and political components. The instrument is political communication. Political ethics required continuously in the process of political communication in the middle of the current democratic transition in which the direct political ethics to live well together and for others within the framework of expanding the scope of freedom and creating institutions fairer. Perhaps it can be understood in political communication, the ethical values of democracy still put forward and they will maintain a commitment to prioritize the public interest. The command said in the Qur'an and Hadith become an indication obligatory for Muslims to apply the nature of honesty and true are the words of the Qur'an concept known as qaulan sadidan. Keywords: Ethics, Communication
MUHAMMAD ABDUH : KONSEP RASIONALISME DALAM ISLAM Nurlaelah Abbas
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.338

Abstract

Abstract; Muhammad Abduh seorang Pemikir Pembaru Islam yang sangat berpengaruh di dalam sejarah pemikiran Islam. Pemikirannya membawa dampak yang signifikan dalam berbagai tatanan kehidupan pemikiran masyarakat meliputi aspek penafsiran Al-Qur'an, pendidikan, social masyarakat, politik, peradaban dan sebagainya. Islam adalah agama yang terdiri dari beberapa aspek yang saling berhubungan, satu dengan yang lainnya. Yaitu Aqidah (Teologi), Syariah (Hukum Islam), dan Akhlak (tasawuf). Namun dalam hal ini, penulis memilih fokus pembahasan pada pemikiran dalam bidang akidah (teologi) dan hukum karena kedua ini sangat menentukan kehidupan seseorang dalam bertindak. Kepercayaan pada kekuatan akal, membawa Muhammad Abduh selanjutnya kepada faham yang mengatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam kemauan dan perbuatan. Dalam teologi dan falsafah terdapat dua konsep mengenai hal tersebut. Pertama, pendapat mengatakan bahwa semua perbuatan manusia telah ditentukan semenjak aza, sebelum ia lahir, dan faham ini dalam teologi Islam disebut jabariah. Dalam teologi Barat pendapat ini disebut fatalisme atau predestination. Kedua, bahwa manusia mempunyai kebebasan sungguh pun terbatas sesuai dengan keterbatasan manusia dalam kemauan dan perbuatan. Faham ini dalam Islam disebut qadariyah, dan dalam teologi Barat disebut free will and free act. Pemikiran Muhammad Abduh sangat berpengaruh dalam dunia Islam baik di Mesir maupun negara-negara Arab lainnya, sehingga muncul ulama-ulama modern seperti Mustafa al-Maraghi, Mustafah Abd Raziq, Tantawi Jauhari, Ali Abd al-Raziq dan Rasyid Ridha, pengarang-pengarang dalam bidang agama seperti Farid Wajdi, Ahmad Amin, Qasim Amin juga di Indonesia tidak sedikit gerakan pembaruan yang dicetuskan sepert Ahmad Surkati dan gerakan al-Irsyad, Ahmad Dahlan dan gerakan Muhammadiyah dll. Kata Kunci: Konsep, Rationalisme Muhammad Abduh an Islamic reformer thinker who is very influential in the history of Islamic thought. Their thinking is a significant impact on the livelihood of various aspects of people's minds include interpretation of the Qur'an, educational, social, society, politics, civilization and so on. Islam is a religion which consists of several interrelated aspects, one with the other. That Aqeedah (theology), Sharia (Islamic law), and Morals (Sufism). But in this case, the authors chose to focus the discussion on the thinking in the field of Aqeedah (theology) and the second law because it largely determines the life of someone in the act. The belief in the power of reason, bringing Muhammad Abduh next to the ideology that says that man has the freedom to will and deed. In theology and philosophy, there are two concepts about it. First, it argued that all human actions have been determined since aza, before he was born, and this ideology in Islamic theology called jabariah. In the opinion of Western theology is called fatalism or Predestination. Secondly, that man has the freedom really is limited in accordance with the limitations of the human will and deed. This ideology in Islam called Qadariyah, and in Western theology is called free will and free act. Thought Muhammad Abduh very influential in the Islamic world both in Egypt and other Arab countries, making it appear modern scholars such as Mustafa al-Maraghi, Abd Mustafah Raziq, Tantawi Jauhari, Ali Abd al-Raziq and Rashid Rida, authors in field of religion as Farid Wajdi, Ahmad Amin, Amin Qasim also in Indonesia is not the slightest movement triggered updates sepert Ahmad Surkati and movement al-Irshad Ahmad Dahlan and Muhammadiyah movement etc. Keywords: Concept, Rationalism
TUGAS DAN FUNGSI DAKWAH DALAM PEMIKIRAN SAYYID QUTHUB H. Baharuddin Ali
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.343

Abstract

Abstract; Islam adalah agama yang sempurna dan diturunkan oleh Allah untuk mengatur kehidupan. Akan tetapi, kesempurnaan ajaran Islam hanya merupakan ide dan angan-angan saja jika ajaran yang sempurna itu tidak disampaikan kepada manusia. Lebih-lebih jika ajaran itu tidak diamalkan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, dakwah merupakan suatu aktifitas yang sangat penting dalam ajaran Islam. Menurut Sayyid Quthub, tabligh berarti menyampaikan dan menyeru manusia kepada kebenaran agama, terutama kebenaran aqidah tauhid, karena itu bagi para nabi dan rasul Allah tentang kewajiban tabligh menurut Sayyid Quthub, dikaitkan dengan dua kepentingan ,pertama,tabligh dilakukan untuk member informasi kepada manusia tentang adanya kebenaran dari Allah Swt, lalu mereka diharapkan menerima dan beriman kepada kebenaran yang dibawa para Nabi dan Rasul Allah agar mereka terbebas dari azab Allah. Selanjutnya,kedua tabligh dilakukan sebagai argument (Hajjah) Allah atas manusia, maksudnya dengan tabligh berarti kebenaran telah disampaikan oleh Allah Swt kepada manusia melalui Nabi dan Rasulnya,sehingga tidak ada alas an bagi mereka untuk tidak mengetahui kebenaran itu, Atas dasar itu, Allah Swt berhak untuk member ganjaran kepada orang yang menerima atau menolak kebenaran tersebut, dan inilah makna tabligh sebagai argument tuhan (Hajjah) atas umat manusia. Dakwah sebagai ikhtiar mewujudkan system Islam dalam semua segi kehidupan manusia, dan untuk menjaga dan memelihara kehidupan masyarakat dari keburukan dan kejahatan, maka kegiatan tabligh harus dibarengi dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kata Kunci: Tugas dan Fungsi, Dakwah, Sayyid Quthub Islam is the perfect religion and lowered by God to organize life. However, the perfection of Islam is only an idea and a delusion if it is not perfect teachings delivered to humans. The more so if teaching is not practiced in the human life. Therefore, the call is an activity that is very important in Islam. According to Sayyid Quthub, means delivering sermons and call people to religious truth, especially the truth Aqeedah of Tawheed, because it is for the prophets and messengers of God's sermons by Sayyid Quthub obligations, associated with the two interests, first, sermons done for member information to people about their the truth of Allah, then they are expected to accept and believe in the truth that brought the Prophet and Messenger of Allah so that they are free from the punishment of God. Furthermore, the two sermons done as an argument (Hajjah) God over man, his point by means of truth has sermons delivered by Allah to mankind through Prophet and His Messenger, so there is no reason for them not to know the truth, On that basis, Allah members are entitled to a reward to the person who accepts or rejects the truth, and this is the meaning of sermons as an argument god (Hajjah) upon mankind. Da'wa as a means to realize the system of Islam in all aspects of human life, and to maintain and preserve the lives of the people of malice and wickedness, the Tabligh activities should be coupled with commanding the good and forbidding the munkar. Keywords: Duties and functions, Da’wa, Sayyid Quthub
AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER INSPIRASI ETOS KERJA ISLAMI Erwin Jusuf Thaib
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.334

Abstract

Abstract; Agama Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai tuntunan dan pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam segi ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang berkenaan dengan kerja. Bekerja merupakan melakukan suatu kegiatan demi mencapai tujuan, selain mencari rezeki namun juga cita-cita. Dalam bekerja diwajibkan memilih pekerjaan yang baik dan halal, karena tidak semua pekerjaan itu diridhai Allah SWT. Etos kerja yang sehat akan mendorong seseorang bekerja keras, menambah wawasan, mempertajam skill serta mewarnai etos kerjanya dengan nilai-nilai Islam. Bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan menggerakkan seluruh aset, pikiran dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairul ummah) atau dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya. Etos kerja seseorang terbentuk oleh adanya motivasi yang terpancar dari sikap hidupnya yang mendasar terhadap kerja. Pembentukan etos kerja Islami terpancar dari sistem keimanan atau aqidah Islami berkenaan dengan kerja yang bertolak dari ajaran wahyu bekerja sama dengan akal. Etos kerja ini secara dinamis selalu mendapat pengaruh dari beberapa faktor, baik internal maupun eksternal, sesuai dengan kodrat manusia selaku makhluk psikofisik yang tidak kebal dari berbagai rangsang, baik langsung maupun tidak langsung. Kata Kunci: Etos, Kerja, Islam Islam that is based on the Quran and al-Hadith as guidance and guidance for the Muslims have a function not only set in terms of worship but also organize people into giving demands on matters relating to employment. Work is doing an activity in order to achieve the goal, in addition to searching for sustenance but also ideals. In the work required to choose a good job and kosher, because not all of the work that God approves. Healthy work ethic will encourage someone to work hard, broaden, refine skills and work ethic coloring with Islamic values. Working for a Muslim is an earnest effort, by moving the entire asset, mind and zikirnya to actualize or reveal the meaning of himself as a servant of God who must subjugate the world and established itself as the best part of the community (umma khairul) or in other words can also be said that only the working man to humanize him. One's work ethic is formed by the motivation that emanated from a fundamental attitude towards working life. Establishment of Islamic work ethics emanating from Islamic Aqeedah belief system or with respect to the work which is based on the teachings of revelation cooperate with any sense. This work ethic dynamically always under the influence of several factors, both internal and external, in accordance with human nature as psychophysical beings are not immune from a variety of stimuli, either directly or indirectly. Keywords: Ethos, Work, Islam

Page 1 of 1 | Total Record : 10