cover
Contact Name
Nur Arifin
Contact Email
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Diskursus Islam
ISSN : 23385537     EISSN : 26227223     DOI : -
Jurnal Diskursus Islam adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang merefleksikan diri sebagai wadah akademik untuk publikasi artikel ilmiah. Jurnal ini menfokuskan pada kajian/studi islam dalam berbagai aspeknya yang diharapkan dapat memberi referensi bagi pembaca dalam pengembangan wawasan akademik dan keilmuan.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2014)" : 8 Documents clear
MELACAK PERAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) DI JAYAPURA Muh. Anang Firdaus
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i1.6507

Abstract

Tulisan ini membahas tentang “bagaimana konstruksi kerukunan umat beragama di Jayapura berdasar peran FKUB dalam memelihara kerukunan?” pertanyaan ini ditleusuri dengan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan yuridis, historis dan sosiologis. Penelitian ini melihat kenyataan bahwa FKUB tidak memberi peran memelihara kerukunan umat beraga karena belum mampu menjalankan tugasnya sesuai dengan amanah PBM No. 9 dan 8 tahun 2006. Pola hubungan umat beragama di Jayapura telah mengalami perubahan dari sikap toleransi bergerak menjadi sikap akseptansi dalam menjalin kerukunan. Sikap toleransi masyarakat yang memahami keberagaman, menghargai dan mengakui eksistensi agama seseorang serta rnembiarkannya melaksanakan ajaran agamanya telah masuk dalam tataran akseptansi yang saling menerima keberagaman dan bckcrjasama untuk mengatasi problem-problem kemanusiaan dan menciptakan kemaslahatan uinum di masa depan.ABSTRACTThis paper outlines how the construction of religious harmony in Jayapura based on the role of FKUB is in keeping harmony?. This question is explored with qualitative descriptive analysis by the use of juridical, historical, and sociological approaches. The research looked at the fact that FKUB have not played the pivotal role to maintain religious harmony since they are not able to carry out their duties in accordance with the mandate of PBM No. 9 and 8 in 2006. The pattern of religious relations in Jayapura has undergone a change of attitude from the tolerance attitude to the acceptance in keeping harmony. Jayapura people's attitude which understand the tolerance of diversity, respect as well as recognize the existence of one's religion and also let him/her to implement his/her religious teachings has entered the level of acceptance of diversity, of working together in recovering human's problems and of creation of general aims in the future.
KITTA TULKIYAMAT SEBAGAI MEDIA DAKWAH DALAM TRADISI MASYARAKAT MAKASSAR DI TAKALAR Nur Setiawati
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i1.6512

Abstract

Artikel ini membahas tentang Kitta Tulkiyamat sebagai media dakwah dalam tradisi masyarakat di Takalar tepatnya di Sanrobone, suatu studi tentang pesan yang terdapat dalam Kitta Tulkiyamat, unsur serta implementasi yang terkandung dalam Kitta Tulkiyamat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isi dan pesan dakwah yang terdapat pada Kitta Tulkiyamat sebagai media dakwah, mengkaji unsur-unsur ajaran Islam yang terkandung dalam Kitta Tulkiyamat, serta mengetahui implementasi proses pelaksanaan pembacaan Kitta Tulkiyamat sebagai tradisi atau kebiasaan masyarakat Makassar di Kabupaten Takalar. Penulis melakukan penelitian di Kabupaten Takalar yang mayoritas adalah suku Makassar, menggunakan analisis isi, metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan sejarah dan dakwah. Informan ditentukan berdasarkan purposive sampling yakni tokoh agama, tokohmasyarakat, pembaca Kitta Tulkiyamat, keluarga yang berduka, serta pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur yang terkandung dalam Kitta Tulkiyamat yang terdiri aqidah, syariah, dan akhlak. Adapun pesan-pesan yang terdapat dalam Kitta Tulkiyamat sebagai media dakwah meliputi, Nur Muhammad, kematian, godaan syetan, kiamat, surga dan neraka. Kitta Tulkiyamat harus tetap dilestarikan, karena nilai-nilai ajaran Islam yang terkandung di dalamnya dapat dijadikan sebagai media dakwah dan sosialisasi ajaran agama dalam masyarakat, dan disampaikan dalam bahasa lokal yang mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Tradisi ini dianggap sangat relevan karena dapat meningkatkan kesadaran beragama.ABSTRACTThis paper highlights Kitta Tulkiyamat as a dakwah medium in tradition of Takalar community, precisely in Sanrobone. This is a study about meaning, elements, as well as implementation within Kitta Tulkiyamat. This research aims to analyze the contents and dakwah messages contained in Kitta Tulkiyamat as dakwah medium, examining the elements of Islamic teachings on it, and also knowing the process of reciting kitta Tulkiyamat as a tradition of Takalar community. The writer conducts research in Takalar regency, whose majority population is Makassar ethnic, employing content analysis, qualitative description method through historical and dakwah approaches. The respondents are determined by means of purposive sampling, namely the religious leaders, community figures, readers Kitta Tulkiyamat, bereaved families, as well as the collection of data through observation and interviews. Research findings show that the Kitta Tulkiyamat mostly talks about aqidah, syariah, and akhlak. The dakwah messages contained in the book encompass Nur Muhammad, death, satan temptation, here after, heaven and hill. The book should be preserved because the Islamic values contained in can be as means of dakwah and promulgating religious teaching to society and is delivered in local language that is very easy to be understood by all exponents of society. This tradition (reciting the Kitta Tulkiyamat) is still more relevant now due to be able to enhance religious awareness.
IJTIHAD DALAM PEMIKIRAN ISLAM : Perspektif Kaum Sufi Tomo Paranrangi
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i1.6508

Abstract

Penelitian ini membahas ajaran-ajaran sufi yang secara ijtihadiyat, tidak menyimpang dari ajaran Islam. Pada hakekatnya ijtihad kaum sufi, adalah upaya memahami dan menemukan jalan yang harus ditempuh untuk menyucikan diri agar dapat memakrifati Allah. Pendapat-pendapat itu terdiri dari amalan lahir (eksoterik) dan amalan batin (esoterik). Penelitian ini dilakukan melalui kajian pustaka guna mengetahui landasan ideologi atau landasan teologis dan normatif ijtihad kaum sufi dari al-Qur‟an dan sunah melalui literatur yang ditulis oleh ulama muktabar, khususnya yang mengekspresikan masalah sufisme, demikian pula sumber lain yang terkait atau membahas tema yang sama. Secara ideologi, ijtihad kaum sufi mempunyai landasan yang kuat dalam alQur‟an dan hadis serta amalan sahabat dan pengikut-pengikutnya yang taat. Namun dalam gerakannya pasca al-Gazali dan Ibnu Arabi, terjadi perkembangan yang distorsif dengan munculnya gerakan tarekat yang memicu kesalahpahaman seperti fanatisme, tawassul, politisasi dan komersialisasi tasawuf.ABSTRACTThis research discusses about sufi teachings are ijtihadiyah, do not deviate from the teachings of Islam. In essentially ijtihad sufis, trying to understand and find a way to go to purify themselves in order to get to know Allah. The research was conducted through a literature review to determine the ideological basis or foundation of theological and normative ijtihad sufis through literature written by venerated scholars, in particular expressing a sufism problem, as well as other related sources or discuss the same theme. In ideology, ijtihad sufis have a solid foundation in the Qur'an and hadith and practice companions and his followers are obedient. But the movement of post-Gazali and Ibn al Arabi, development occurred with the advent of motion distorcif congregation that cause misunderstandings such as fanaticism, tawassul, politicization and commercialization of Sufism.
GIBAH DALAM PERSPEKTIF HADIS Muhammad Ali
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i1.6513

Abstract

Salah satu peyakit masyarakat yang dianggap sepeleh tapi sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan ketegangan dalam suatu masyarakat, adalah kecenrungan menyebarkan isu atau dalam istilah masyarakat adalah gosip, yaitu obrolan tentang orang lain atau cerita negatif tentang seseorang dan dalam bahasa agama (Islam) disebut gibah. Dalam artikel ini, metode yang digunakan adalah metode maudu‘iy. Sementara untuk mengetahui asalusul hadis, maka penulis menggunakan metode takhrij hadis. Larangan gibah dalam hadishadis di atas bertujuan untuk menjaga keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Ancaman-ancaman pelaku gibah bersifat tarhib, dan dapat menjadi dosa besar bila telah menjadi profesi.ABSTRACTOne of social ills that are considered trivial but very dangerous and can lead to tensions in a society is a tendency to spread rumors or gossip, that is, a negative story about another person and in Islamic terms called it as ghibah. In this paper, method used is maudu'iywhilst to know origin of a hadith the writer advocates takhirj hadith method. The prohibition of backbiting (ghibah) in the hadiths above aims to keep harmony in social life. Threats of backbiting actors are tagrib and can be a great sin if it has become a profession.
BACAAN KONTEMPORER : Hermeneutika Al-Qur’an Muhammad Syahrur Muhammad Yusuf
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i1.6509

Abstract

Artikel ini mendiskusikan konsep metodologi hermeneutika yang diusung Syahrur dalam memahami Alquran, kecenderungan hermeneutika yang ditawarkan, konsistensi atau inkonsistensinya mengaplikasikan teori pembacaan kontemporernya. Pertama, ia mencoba mengkaji Alquran dengan dekonstruksi atau rekonstruksi dengan mendobrak produk pemikiran yang selama ini dianggap “mapan” dan “sakral” tidak hanya pada tataran metodologi melainkan juga pilar-pilar akidah. Kedua, ia mengatakan bahasa Alquran tetap tauqifi walau dalam kandungannya ia interpretable. Ketiga, kontekstualisasi ada pada teks itu sendiri melalui struktur linguistiknya. Keempat, teori linguistik yang ia anut dari gurunya yang berakar pada pandangan Ibnu Jinni bahwa tidak ada sinonimitas dalam bahasa, dan karenanya ia membedakan terma yang selama ini disinonimkan dengan Alquran. Kelima, karena pemikirannya yang sangat rasional dan cenderung dipengaruhi empirisisme, ia terjebak oleh pemahaman yang sangat tergantung pada rasio dan dunia empirik, padahal Alquran memiliki sisi-sisi transenden yang tidak semuanya terwujud dalam dunia nyata.ABSTRACTThis article discusses the concept of methodology of hermeneutics that was offered by Syahrur in understanding the Quran, orientation of offered hermeneutic, consistence and inconsistence in applying his “contemporer reading” theory. First, he tried studying the Quran through deconstruction and reconstruction by smashing thought which is reputed “established” and “sacred” not only methodology aspect but also pillars of faith. Second, he said that the texts of the Quran is “tauqifi” in spite of interpretable. Third, the contextualization is in the texts itself through its structure of linguistics. Fourth, linguistics theory which he followed from his teacher based on Ibnu Jinni that there is no synonymity in languages, that is why he deffered the synonymized terms with the Quran. Fifth, because of his very rational thought and indined by empirism, he was “traped” by thought which very depended on ratio and empirical world, whereas the Quran consist trandental side where not only empirisized.
METODOLOGI PENAFSIRAN SUFISTIK : Perspektif al-Gazali Muh. Said
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i1.6514

Abstract

Salah satu di antara corak tafsir yang dikenal dalam penafsiran Alquran adalah tafsir bercorak sufistik, kemudian melahirkan ajaran tasawuf atau kerohanian yang menekankan kepada kesucian dan kesempurnaan jiwa, hati (qalb) dan moralitas. Metode penelitian yang digunakan adalah library research (penelitian pustaka). Al-Gazali dalam bidang penafsiran sufistik, dianggap memiliki bangunan epistemologi dan penafsiran yang lebih sistematis dan lebih konkrit dibanding mufasir sufi lainnya. AlGazali dalam melakukan penafsiran, memberi porsi lebih banyak kepada makna batin ayat-ayat Alquran tanpa meninggalkan makna zahirnya. Penafsiran sufistik al-Gazali sangat penting dan dibutuhkan mengingat masyarakat modern memiliki kecenderungan materialistik, sehingga terkesan mengalami kegersangan spiritualitas. Berangkat dari realitas ini, maka penafsiran sufistik al-Gazali hadir untuk melakukan pencerahan, bukan saja secara spiritual (batiniyah), tetapi juga secara intelektual, yakni mengedepankan kejujuran, moralitas dan ibadah dalam setiap amal perbuatan.ABSTRACTOne of interpretation styles that is known in al-Quran interpretation is Sufi pattern, then generating Sufism teachings or spirituality emphasizing to sanctity and perfect soul, heart (qalb) and morality. This research employs a method of library research. Al-Ghazali in the field of Sufi interpretation patterns is regarded to have epistemology construction and interpretation more systematic and clearer than other Sufi commentators. In doing interpretation, he gives more portions to the inner meaning of al-Quran verses without leaving surface meaning. Al-Ghazali's Sufi interpretation is really needed since modern society tend to be materialistic so that it seems they experience crisis spirituality. Based on this fact, the presence of Sufi interpretation of al-Ghazali is more likely to be recognized as enlightening, not only spiritual but also intellectual by implementing honesty, morality, and worship in every charitable acts.
DEKONSTRUKSIONISME DAN POSTMODERNISME Nurnaningsih Nurnaningsih
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i1.6510

Abstract

Tulisan ini ingin mengemukakan mengenai konsep dasar dekonstrusionisme dan posmodernisme dari beberapa orang tokoh terkemuka dari pemikiran posmodernisme. Pemikir tersebut adalah M Foucault, J. Derrida, R. Rorty dan Thomas Kuhn. Para pemikir ini adalah yang terdepan di bidang wacana yang digelutinya tetapi diikat oleh satu kecendrungan wacana yang disebut posmodernisme. Selanjutnya posmodernisme berkaitan erat dengan sians. Thomas Kuhn menunjukkan betapa sains merupakan fenomena sejarah yang dinamis, yang di dalamnya pergeseran penting dalam teori tidaklah semata-mata modifikasi atau reinterpretasi pengetahuan yang ada, tetapi lebih merupakan transformasi paradigma dunia yang radikal, dan ini bisa timbul dari penggunaan imajinasi manusia kreatif yang non-logis dan tidak ilmiah.ABSTRACTThis paper tries to put forward the basic concept of deconstructionism and postmodernism from several foremost figures in the postmodernism tradition. They are Michel Foucault, Jacques Derrida, Richard Rorty, and Thomas Kuhn. They are professional figures in their fields and are bounded by postmodernism discourse. Then postmodernism is in line with science. Thomas Kuhn shows how science is a dynamic historical phenomenon, in which there has been a significant shift in the theory that is not merely a modification or reinterpretation of existed knowledge, but rather a radical transformation of the world paradigm and this may arise from the use of creative human imagination which is non-logical and scientific.
GEORGE WILHELM FREDRICH HEGEL : Metafisika, Epistemologi dan Etika Rafi’ah Gazali
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i1.6511

Abstract

Hegel merupakan filosof yang memperkenalkan metode dialektika yang terdiri dari apa yang disebut dengan thesis - antitesis dan sintesis. Namun demikian, pada tahapan berikutnya, sintesis akan berubah menjadi tesis baru yang akan berhadapan dengan antitesis yang baru pula, dan begitulah seterusnya. Logika menurut Hegel bukanlah pengertian logika tradisional (yaitu ajaran tentang bentuk-bentuk dan hukum berfikir), melainkan ilmu yang memandang roh atau idea dalam dirinya, bebas dari ruang dan waktu. Persoalan dialektika yang terdiri dari tesis, antitesis dan sintesis tersebut makin lama makin menanjak. Dimulai dari persoalan tentang waktu dan ruang sebagai tempat kejamakan yang tanpa batas, dimana Idea telah tersesat untuk naik kepersoalan keterbatasan individual, yang akhirnya akan menanjak pada roh yang mutlak, melalui tingkatan yang bermacam-macam.ABSTRACTHegel is a philosopher who introduces dialectic method containing what it is called the thesis- antithesis, and synthesis. However, in next stage, the synthesis would become a new thesis that will be dealing with a new antithesis as well and so on. According to Hegel logic is not the logic of traditional sense (that is, a concept about forms and rules of thinking), but is a science seeing spirit or idea in itself, free from space and time. The matter of the dialectic that consists of thesis, antithesis, and synthesis are becoming more and more uphill. It is started from the question of time and place as space of infinite multiplicity, in which the idea has been lost to reach the question of individual limitation, and eventually will climb to the absolute spirit through various stages.

Page 1 of 1 | Total Record : 8