cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012" : 24 Documents clear
Kompatibilitas Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Trichoderma harzianum untuk Mengendalikan Ralstonia solanacearum pada Tanaman Kentang Budi Marwoto; Hanudin -; Hersanti -; Agus Muharam
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p173-180

Abstract

ABSTRAK. Dalam usaha budidaya kentang dijumpai berbagai kendala yang menekan produktivitas tanaman.  Salah satu kendala yang paling penting yaitu patogen tular-tanah yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum E. F. Smith. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa patogen ini dapat menimbulkan kehilangan hasil tanaman kentang  40–100%. Salah satu alternatif yang paling prospektif dalam mengendalikan R. solanacearum ialah dengan mengaplikasikan mikrob antagonis yang diisolasi dari alam. Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Trichoderma harzianum merupakan mikrob antagonis yang mampu mengendalikan patogen yang terbawa tanah sampai 70% dan mampu meningkatkan produksi tanaman sampai 40%. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi kompatibilitas mikrob antagonis dan dapat mengendalikan R. solanacearum pada tanaman kentang.  Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dan Laboratorium Bakteriologi Balai Penelitian Tanaman Hias,  pada bulan Maret sampai dengan Desember  2009. Dari hasil penelitian ini diperoleh dua nomor isolat bakteri yaitu P. fluorescens yang diisolasi dari rizosfer krisan, Segunung (Pf2), B. subtilis berasal dari IPB (Bs 12), dan satu isolat T. harzianum berasal dari Universitas Gadjah Mada (Th 1) kompatibel pada media yang banyak mengandung protein (King’s B), tetapi tidak kompatibel pada media yang banyak mengandung karbohidrat (potato dextrose agar). Indikatornya ialah indeks kompatibilitas ≤1. Aplikasi B. subtilis secara tunggal merupakan perlakuan yang paling efektif mengendalikan R. solanacearum pada kentang. Hal tersebut ditunjukkan oleh persentase penekanan perlakuan tersebut paling besar (35,27%) bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, kecuali perlakuan gabungan antara Bs 12, Pf 2, dan Th 1 yang sama-sama menunjukkan persentase penekanan sebesar 35,27%.ABSTRACT. Hanudin, Marwoto, B, Hersanti, and Muharam, A 2012. Compatibilities of Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, and Trichoderma harzianum to Control Ralstonia solanacearum on Potato.   Among the vegetable crops cultivated by farmers, potato is the most important one.  In cultivating the crop, farmers has faced many problems, the most important one is wilt disease caused by Ralstonia solanacearum E. F. Smith.   Based on the available data known that the disease reduces 40–100% of the total production.  One of the alternative methods control which was more environmentally friendly applied by the use of antagonistic microbes isolated from the soil.  Bacillus subtilis, P. fluorescens, and T. harzianum were abundance in the soil and easily be isolated from rhizosfer.  The bacteria are reported to be effective to control soilborn pathogens in the field.  Based on the preliminary research proven that the bacteria could reduce 70% of the total soilborn pathogens in the soil and increase crop production up to 40%.  The objective of  this study was to determine information of compatibilities between antagonistic microbe and bacterial wilt which had control on potato. The research  were conducted in Laboratory and  Greenhouse of the Padjadjaran University, Indonesian Vegetable Research Institute, and Indonesian Ornamental Crops Research Institute, on March to December 2009. The results showed that  isolates of P. fluorescens (Pf2), B. subtilis (Bs12),  and T. harzianum (Th1) were compatible on medium which containing protein (King’s B), but were not copmatible on medium containing carbohydrate (PDA). The indicator is compatibility index ≤1. Single application of B. subtilis  was  effective to  control  R. solanacearum on potato, suppression wilt biggest (35,27%), if compared with other treatments except combination between Bs 12, Pf 2, and Th 1 treatments was 35,27 % too. 
Optimasi Jarak Tanam dan Dosis Pupuk NPK untuk Produksi Bawang Merah dari Benih Umbi Mini di Dataran Tinggi N Sumarni; R Rosliani; - Suwandi
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p148-155

Abstract

ABSTRAK. Benih umbi mini bawang merah (shallots set) adalah benih umbi berukuran kecil (<3 g/umbi) yang dihasilkan dari biji botani bawang merah (True Shallot Seeds). Penggunaan benih umbi mini belum umum dilakukan pada budidaya bawang merah di Indonesia. Penelitian bertujuan mendapatkan jarak tanam dan dosis pemupukan NPK untuk produksi umbi bawang merah dari benih umbi mini di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.) dengan jenis tanah Andisol, dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2009. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok dengan tiga ulangan dan 12 perlakuan, yaitu tiga taraf jarak tanam (5 x 20 cm, 10 x 20 cm, dan 15 x 20 cm), yang dikombinasikan dengan empat taraf dosis pupuk NPK (½ ; 1,0; 1,5; dan 2,0 dosis NPK standar), dan satu perlakuan kontrol yang menggunakan benih umbi konvensional (5 g/umbi) dengan jarak tanam 15 x 20 cm dan 1,0 dosis pupuk NPK standar. Dosis NPK standar ialah N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, dan K2O 120 kg/ha. Benih umbi mini dan benih umbi konvensional yang digunakan ialah varietas Bima Brebes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tanaman yang berumbi (dapat dipanen) paling banyak (39,10%) terdapat pada perlakuan jarak tanam 15 x 20 cm dan dosis pupuk NPK yang rendah (N 95 kg/ha, P2O5 46 kg/ha, dan K2O 60 kg/ha) menggunakan benih umbi mini dibanding perlakuan yang lain (14,66–33,22%). Perlakuan tersebut juga berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan menggunakan benih umbi konvensional (24,99%). Jarak tanam 15 x 20 cm dengan dosis N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, dan K2O 120 kg/ha merupakan jarak tanam dan dosis pupuk NPK optimal untuk produksi umbi bawang merah asal benih umbi mini, yang menghasilkan bobot umbi kering eskip sebesar 35,48 g/tanaman. Penggunaan benih umbi mini dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil umbi bawang merah, serta mengurangi (tonase) penggunaan benih umbi per satuan luas.  ABSTRACT. Sumarni, N, Rosliani, R, and Suwandi 2012. Optimization of Plant Distance and NPK Dosage to Produce Shallots from Shallots Set in Highland. Shallots set is small seed bulb derived from true shallot seeds (TSS).  Using of the shallots set in shallots production is not common yet in Indonesia. The objective of this research was to find out the optimum plant distance in combination with NPK dosage to produce shallots bulb from shallots set in highland. The experiment was conducted at the Experimental Garden of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang (1,250 m asl.) on Andisol soil, from August to December 2009. A randomized complete block design with three replications was applied in the study. There were 12 treatments, viz. three levels of plant distance of 5 x 20 cm, 10 x 20 cm, and 15 x 20 cm that were combined with the application of four levels of standard dosage of NPK, viz. 0.5; 1.0; 1.5; and 2.0 NPK standard dosage, and one treatment as a control using bulb (5 g/set) with 15 x 20 cm planting distance,  and a NPK standard fertilization (N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, and K2O 120 kg/ha). Bima Brebes cultivar was used as a planting material source for developing TSS, mini bulbs, and bulbs as generally applied in conventional cultivation.  Research results revealed that the highest number of bulbed-plant harvested in the experiment 39.10% was recorded on shallots set cultivated using plant distance of 15 x 20 cm and NPK dosage of N 95 kg/ha, P2O5 46 kg/ha, and K2O 60 kg/ha compared to other treatments (14.66–33.22%). The treatment also gave higher results compared to conventional cultivation using bulbs (24.99%). The optimum plant distance and NPK dosage to produce shallots bulb from shallots set in highland was 15 x 20 cm and N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, and K2O 120 kg/ha that resulted in 35.48 g dry weight of shallots bulb per plant. The application of shallots set could increase the quantity and quality of shallots yield, and reduced quantity of bulbs needed per hectare.
Hubungan antara Ketersediaan Hara Tanah dengan Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis - Martias; R Poerwanto; S Anwar; R Hidayati
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p111-119

Abstract

ABSTRAK. Cemaran getah kuning merupakan masalah utama yang menyebabkan rendahnya kualitas buah manggis untuk ekspor. Ketersediaan hara di dalam tanah diduga berpengaruh terhadap cemaran getah kuning. (Tambahkan informasi pada level konsentrasi hara Ca dan Mn yang bagaimana yang berpengaruh terhadap frekuensi/insidensi getah kuning pada manggis). Penelitian hubungan antara ketersediaan hara tanah dengan cemaran getah kuning pada buah manggis dilakukan di Desa Karacak, Barengkok, Garogek, dan Pusaka Mulia (Jawa Barat), Koto Lua, Baringin, Pakandangan, Padang Laweh, Lalan (Sumatera Barat), dan Sukarame (Lampung), dari bulan Desember 2009 sampai Juli 2011 (Perlu ditambahkan informasi yang jelas perbedaan lokasi yang dipilih apakah merepresentasikan adanya perbedaan yang mencolok kasus cemaran getah kuning manggis, sehingga pembaca bisa membaca alasan penentuan lokasi tersebut, mengingat cemaran getah kuning menjadi factor penting penelitian ini). Lokasi penelitian di tingkat desa ditentukan dari hasil wawancara menggunakan teknik purposive sampling dengan pedagang pengumpul di tingkat kecamatan dan desa. Pada setiap lokasi dari 10 sentra produksi yang terpilih, ditentukan 10 tanaman yang representatif untuk diamati, setiap tanaman diambil 100 buah sampel. Buah manggis yang diamati untuk seluruh lokasi mencapai 10.000 buah (1.000 buah untuk setiap lokasi). Sampel tanah diambil dari zona perakaran pada masing-masing pohon serta dianalisis sifat kimia dan ketersediaan hara tanahnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cemaran getah kuning pada buah manggis secara langsung dikendalikan oleh ketersediaan Ca dan Mn dalam tanah. Ketersediaan K, P, Mg, Cu, Zn, dan B dalam tanah secara tidak langsung berpengaruh terhadap cemaran getah kuning (Mekanismenya bagaimana? Perlu dijelaskan). Kalsium berperan mengeliminasi, sedangkan Mn menginduksi cemaran getah kuning pada aril (daging buah) maupun kulit buah manggis. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan untuk mengendalikan cemaran getah kuning pada buah manggis. ABSTRACT. Martias, Poerwanto, R, Anwar, S, and Hidayati, R 2012. Relationship between NutrientAvailability of Soil with Yellow Sap Contamination on Mangosteen Fruits. Yellow sap contamination on mangosteen fruits is a major problem that causes poor quality on mangosteen fruits for export. Soil nutrients availability would be expected influence directly and indirectly in eliminating or inducing yellow sap contamination. Research relationship between nutrients availability with yellow sap contamination on mangosteen fruits was done in some mangosteen production center areas in the Village Karacak, Barengkok, Garogek, and Pusaka Mulia (West Java), Koto Lua, Baringin, Pakandangan, Padang Laweh, and Lalan (West Sumatera), and Sukarame (Lampung), from December 2009 to July 2011. Research sites at the village level were determined by interviewing traders at district and village levels using purposive sampling technique. At each location of 10 from center production that was selected, determined 10 plants representative to observe, each plant taken 100 fruits sample. Mangosteen fruits were observed for all sites reach 10 thousand pieces (1,000 pieces for each location). Soil samples were taken at the root zone of each tree and analyzed the chemical properties and soil nutrient availability. The results showed that the yellow sap contamination of mangosteen fruits was directly controlled by the availability of Ca and Mn in the soil. The availability of K, P, Mg, Cu, Zn, and B in the soil indirectly affected yellow sap contamination. Calcium played to eliminate and Mn contributed to induces yellow sap contamination, either aryl and the skin of mangosteen fruits. The results of this study can be used as the basis for the study contaminat control yellow sap of the mangosteen fruits.
Eksplorasi Isolat Lemah Chili Veinal Mottle Potyvirus pada Pertanaman Cabai di Jambi, Sumatera Barat, dan Jawa Barat -, asniwita; Hidayat, SH; Suastika, G; Sujiprihati, S; Susanto, S; Hayati, I
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p181-186

Abstract

ABSTRAK. Salah satu virus utama yang menginfeksi tanaman cabai ialah Chili veinal mottle potyvirus (ChiVMV) yang potensial menyebabkan kehilangan hasil. Strategi pengendalian virus melalui proteksi silang mengandalkan kemampuan virus strain lemah dalam melindungi tanaman dari infeksi virus strain kuat. Penelitian dilakukan untuk mengeksplorasi isolat lemah ChiVMV pada pertanaman cabai di Jambi, Sumatera Barat, dan Jawa Barat, sedangkan deteksi ChiVMV dilakukan di Laboratorium Virologi Tumbuhan dan penularan ke tanaman cabai di Rumah Kaca Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, dari bulan Februari sampai Juli 2011. Isolat-isolat ChiVMV dari tiap daerah berhasil ditularkan dan diperbanyak pada tanaman cabai rentan (Capsicum annuum L.) IPB C13 di rumah kaca. Berdasarkan gejala penyakit dan keparahan penyakit, isolat ChiVMV dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu isolat kuat (CKB), isolat sedang (CKW), dan isolat lemah (KAR, SPR, IVAK, SKT, LGM, SKR, CGN, CSR, dan PGL). Isolat-isolat lemah ChiVMV ini selanjutnya dapat digunakan sebagai kandidat agens proteksi silang dalam pengendalian penyakit belang yang disebabkan oleh ChiVMV.ABSTRACT. Asniwita,  Hidayat, SH, Suastika, G, Sujiprihati, S, Susanto, S, and Hayati, I 2012. Exploration of Weak Isolates of  Chili Veinal Mottle Potyvirus from Chili Peppers in Jambi, West Sumatera, and West Java. Chili veinal mottle potyvirus (ChiVMV) is known as an important virus infecting chili peppers and may cause significant yield loss.  Management strategy of virus diseases using cross protection relies on the ability of mild strain of virus to protect plant from infection by severe strain of the same virus. A research was initiated to employ cross protection approach for disease management to reduce the infection of ChiVMV.  Initial exploration was conducted at chili peppers growing areas in Jambi, West Sumatera, and West Java to collect ChiVMV field isolates, whereas ChiVMV detection was conducted at Plant Virology Laboratorium, and transmission to chili peppers in Greenhouse Plant Protection Department, Bogor Agricultural Institute from February to July 2011. ChiVMV isolates were successfully collected and propagated in susceptible chili peppers line (Capsicum annuum L.) IPB C13.  Based on percentage of symptom development, and disease severity of ChiVMV isolates can be differentiated into three groups, i.e. strong isolate (CKB), mild isolate (CKW), and weak isolates (KAR, SPR, IVAK, SKT, LGM, SKR, CGN, CSR, and PGL). Further characterization of promising ChiVMV weak isolates could use as an agent of cross protection candidates in controlling mottle disease caused by ChiVMV.

Page 3 of 3 | Total Record : 24


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue