Jurnal Hortikultura
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.
Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015"
:
11 Documents
clear
Respons Jenis Perangsang Tumbuh Berbahan Alami dan Asal Setek Batang Terhadap Pertumbuhan Bibit Tin (Ficus carica L.)
Marpaung, Agustina E;
Hutabarat, Rina Christina
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p37-43
Perbanyakan tanaman tin pada umumnya dilakukan dengan setek batang. Penanaman setek batang tanpa perlakuan menghasilkan persentasi jadi bibit yang relatif rendah sehingga diperlukan suatu perlakuan yang tepat pada setek sebagai sumber bibit yang dapat meningkatkan persentase jadi bibit. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan alami dan asal setek batang terhadap pertumbuhan bibit tin. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl. jenis tanah Andisol yang dilaksanakan dari bulan Juni sampai November 2011. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua ulangan. Sebagai faktor I adalah jenis bahan alami yang terdiri atas a0= air, a1=air kelapa 100%, a2= air kelapa 50%, a3= sari bawang merah 100%, a4= sari bawang merah 50%, dan a5= pembanding (Rootone-F 100 ppm), sedangkan faktor II adalah asal setek bibit yang terdiri atas i1 = pangkal batang, i2 = tengah batang, dan i3= ujung batang. Sumber bibit berasal dari satu pohon induk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh nyata perlakuan asal setek batang pada setiap parameter yang diamati, tidak terdapat interaksi antara jenis bahan alami dan asal setek tanaman bibit tin. Jenis bahan alami air kelapa 50% menghasilkan waktu bertunas lebih cepat, panjang tunas, jumlah daun, panjang, dan bobot basah akar yang tinggi. Bahan alami air kelapa 50% dapat menggantikan perangsang akar sintetis sebagai zat pengatur tumbuh pada setek batang tin. Hasil dari penelitian akan bermanfaat dalam meningkatkan persentase jadi perbanyakan bibit tin melalui setek batang dengan menggunakan bahan alami sebagai perangsang tumbuh.
Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu Simpan untuk Mempertahankan Kualitas Buah Mangga (Mangifera indica L.) cv. Gedong
Ilmi, Nadhirah Karimatul;
Poerwanto, Roedhy;
Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p78-87
Penanganan pascapanen yang  kurang tepat mengakibatkan kualitas buah mangga rendah dan kehilangan hasil. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengujian perlakuan pascapanen berupa perlakuan panas dan suhu penyimpanan pada buah mangga Gedong. Tujuan penelitian adalah menentukan perlakuan yang dapat mempertahankan kualitas pascapanen buah mangga Gedong. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013 di Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan pola split plot terdiri atas dua faktor yaitu suhu pencucian (60±1°C, 53±1 °C, suhu air normal) dan suhu penyimpanan (suhu 18,1±1°C, 16,1±1°C, suhu ruang). Pencucian dengan suhu 53±1°C dapat digunakan untuk membersihkan buah. Perlakuan yang dapat menghambat perubahan susut bobot, kekerasan buah, kandungan asam (asam tertitrasi total), dan padatan terlarut total adalah penyimpanan pada suhu rendah (16,1±1°C dan 18,1±1°C). Perlakuan yang memberikan penampilan yang baik, dapat menekan perkembangan penyakit antraknos, dan menghambat perubahan warna buah adalah kombinasi perlakuan suhu pencucian 53±1°C  dengan suhu simpan 16,1±1°C.
Organogenesis Bunga Aksis Pisang Bergenom AAB dan ABB
Lisnandar, Dea Silvia;
Fajarudin, A;
Effendi, Darda;
Tambunan, Ika Roostika
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p1-8
Penyimpanan in vitro merupakan teknik yang cocok diterapkan  pada tanaman pisang yang berkembang biak secara vegetatif. Namun demikian, perlu adanya optimasi regenerasi tanaman pisang terlebih dahulu. Regenerasi tanaman pisang melalui bunga aksis masih belum banyak dikembangkan. Tingginya tingkat kontaminasi pada eksplan yang berasal dari anakan (sucker) dan tingkat pencokelatan pada biakan pisang yang mengandung genom B menjadi kendala dalam perbanyakan tanaman pisang secara masal melalui kultur jaringan. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan formulasi media yang efektif untuk morfogenesis bunga aksis pisang yang begenom AAB (Kosta dan Raja Bulu) dan ABB (Kepok, Siem, dan Ayam) yang diregenerasikan secara organogenesis. Percobaan dirancang secara faktorial menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini adalah potongan bunga aksis dari bunga jantan. Perlakuan pada percobaan ini adalah konsentrasi 6-benzil adenin (BA) (0, 1, 3, dan 5 mg/l), thidiazuron (TDZ) (0 dan 0.1 mg/l) serta kombinasi BA dan TDZ. Hasil sidik ragam menunjukkan tidak terdapat interaksi yang nyata antara BA dan TDZ terhadap pertumbuhan nodul dan tunas pada semua pisang. Benzil adenin secara nyata memengaruhi induksi organogenesis dari bunga aksis dengan taraf terbaik 3 mg/l (varietas Kepok dan Kosta) serta 5 mg/l (Varietas Raja Bulu). Eksplan yang mengalami pencokelatan paling parah adalah Siem dan Ayam, sehingga regenerasinya terhambat atau nodul tidak terbentuk pada formulasi media yang diujikan. Pencokelatan dapat diatasi dengan menambahkan asam askorbat pada media.
Teknologi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Budidaya Kentang Toleran Suhu Tinggi
Laksminiwati Prabaningrum;
Tonny Koestoni Moekasan;
Juniarti P Sahat
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p44-53
Pengembangan kentang di dataran medium dihadapkan pada kendala serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Oleh karena itu diperlukan teknologi pengendalian untuk mengatasinya. Tujuan penelitian adalah untuk merakit teknologi pengendalian OPT yang dikombinasikan dengan penggunaan klon toleran suhu tinggi. Penelitian dilaksanakan di Desa Cibulakan (600 m dpl.), Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dari bulan Juni sampai Oktober 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Macam perlakuan yang diuji adalah (A) teknologi pengendalian OPT (a1= rakitan teknologi PHT dan a2= rakitan teknologi konvensional) dan (B) klon/varietas kentang ( b1= MB 17, b2= CIP 394614.117, b3= CIP 392781.1, dan b4= Granola). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rakitan teknologi PHT mampu menekan serangan trips, tungau, kutudaun, kutukebul, dan ulat grayak hingga di bawah ambang pengendalian, kecuali penyakit layu bakteri. Dengan penerapan rakitan teknologi PHT penggunaan pestisida dapat ditekan sebesar 97–100%. Klon CIP 392781.1 lebih toleran terhadap penyakit layu bakteri dan hasil panennya lebih tinggi dibandingkan dengan klon CIP 394614.117. Selain itu kandungan bahan kering CIP 392781.1 cukup tinggi sebesar 18,22%. Klon CIP 392781.1 mempunyai harapan untuk dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan teknologi pengendalian penyakit layu bakteri dan teknologi untuk menurunkan suhu tanah agar hasilnya optimum.
Evaluasi Daya Saing Komoditas Kentang di Sentra Produksi Pangalengan Kabupaten Bandung
Adhitya Marendra Kiloes;
Apri Laila Sayekti;
Muhammad Jawal Anwarudin Syah
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p88-96
Untuk mengembangkan agribisnis kentang dalam negeri yang mempunyai daya saing tinggi sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor, diperlukan adanya dukungan kebijakan dari pemerintah dengan melakukan promosi dan penyampaian informasi yang relevan kepada para pelaku usaha. Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung merupakan salah satu sentra produksi kentang di Indonesia. Daerah ini mampu memasok kentang hingga ke pasar ekspor sehingga memegang peranan penting bagi daya saing kentang Indonesia di pasar global. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi daya saing kentang di sentra produksi tersebut. Penelitian bersifat eksploratif dengan menggunakan data primer berupa data usahatani serta input dan output produksi kentang sentra produksi Pangalengan, Kabupaten Bandung. Data sekunder dikumpulkan dari BPS, Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Direktorat Jenderal Hortikultura, dan literatur-literatur lain yang menunjang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan policy analysis matrix (PAM). Dari hasil analisis diperoleh hasil bahwa pada skala usaha rerata per hektar biaya produksi kentang di Pangalengan sebesar Rp50.876.255,00 pada harga privat dan Rp48.270.838,00 pada harga sosial. Keuntungan yang dihasilkan sebesar Rp34.353.294,00 pada harga privat dan Rp18.948.129,00 pada harga sosial. Usahatani kentang di Pangalengan sangat layak untuk diusahakan dengan nilai R/C ratio sebesar 1,68 pada harga privat dan 1,39 pada harga sosial. Usahatani kentang di Pangalengan masih mempunyai keunggulan komparatif dengan nilai DRCR sebesar 0,36 dan kompetitif dengan nilai PCR 0,24. Usahatani kentang tidak lagi memiliki keunggulan kompetitif apabila harga output turun hingga 41% atau harga input naik 87%.
Pengaruh Mutagen Etil Metan Sulfonat Terhadap Regenerasi Tunas pada Dua Genotip Manggis Asal Purwakarta dan Pandeglang
Warid Ali Qosim;
Yuyun Yuwariah;
J S Hamdani;
M Rachmadi;
S M Perdani
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p9-14
Tanaman manggis termasuk tanaman apomik. Pemuliaan mutasi dapat meningkatkan keragaman genetik pada tanaman manggis. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pembentukan tunas dua genotip manggis akibat perlakuan beberapa konsentrasi etil metan sulfonat (EMS) yang berbeda. Percobaan dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran sejak bulan September 2012 – Februari 2013. Eksplan manggis yang digunakan adalah biji manggis asal Purwakarta (A) dan Pandeglang (B). Percobaan ditata dalam rancangan acak lengkap (RAL). Konsentrasi EMS terdiri atas 0; 0,05; 0,1; 0,15; dan 0,2% digunakan sebagai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regenerasi tunas pada eksplan dua genotip asal Purwakarta dan Pandeglang memiliki respons yang berbeda akibat perlakuan mutagen EMS. Pada perlakuan a3 (genotip asal Purwakarta pada EMS 0,1%) menghasilkan waktu muncul tunas lebih cepat dan jumlah tunas per eksplan paling tinggi, sedangkan perlakuan b4(genotip asal Pandeglang pada perlakuan EMS 0,15%) memiliki nilai paling tinggi pada karakter tinggi tunas. Perlakuan a5(genotip asal Purwakarta pada EMS 0,2 %) merupakan perlakuan paling baik pada karakter jumlah pasang daun
Pengaruh Insektisida Karbofuran Terhadap Kerusakan dan Kehilangan Hasil Kentang Akibat Serangan Gryllotalpa hirsuta Burmeister (Ortoptera : Gryllotalpidae) Serta Dampaknya Terhadap Keanekaragaman Artropoda Tanah
Wiwin Setiawati;
Hadis Jayanti;
Abdi Hudayya;
Ahsol Hasyim
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p56-62
Orong-orong atau anjing tanah (Gryllotalpa hirsuta) merupakan salah satu organisme pengganggu tumbuhan (OPT) penting pada tanaman kentang yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi kentang. Sampai saat ini upaya pengendalian masih bergantung pada penggunaan insektisida yang mempunyai spektrum lebar (broad spectrum) salah satunya adalah karbofuran. Penggunaan insektisida karbofuran yang intensif dapat mengurangi populasi musuh alami di lapangan. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan insektisida karbofuran terhadap kerusakan dan kehilangan hasil kentang akibat serangan hama G. hirsuta dan dampaknya terhadap keanekaragaman Artropoda tanah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang pada dua musim tanam yaitu musim kemarau (2012) dan musim penghujan (2013). Penelitian menggunakan rancangan petak berpasangan (paired treatments) terdiri atas dua perlakuan yaitu petak yang diaplikasikan dengan menggunakan karbofuran (30 kg/ha) dan tanpa perlakuan. Tiap perlakuan diulang lima kali. Keanekaragaman Artropoda tanah diamati dengan menggunakan pitfall trap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan G. hirsuta pada tanaman kentang di musim kemarau dan musim penghujan dapat mengakibatkan kehilangan hasil masing-masing sebesar 22,42% dan 12,07%. Penggunaan insektisida karbofuran mampu menekan kerusakan umbi kentang sebesar 56,79–58,38%. Namun demikian, penggunaan insektisida karbofuran dapat mengurangi kelimpahan populasi Artropoda tanah sebesar 30,67–34,32%. Indeks keragaman Artropoda tanah pada komunitas kentang di Lembang sangat rendah dengan nilai H’ = 0,698 dan H’ = 0,647. Kelimpahan predator seperti laba-laba sangat dipengaruhi oleh penggunaan insektisida karbofuran. Oleh sebab itu aplikasi karbofuran harus dikurangi untuk melestarikan keberadaan predator pada komunitas kentang
Pengaruh Media dan Penyungkupan Terhadap Daya Tumbuh Benih Jeruk Bebas Penyakit Hasil Penyambungan Meristem Tip In Vitro
Nirmala Friyanti Devy;
Suhariyono Suhariyono;
Hardiyanto Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p15-25
Teknologi penyambungan meristem tip (PMT) untuk mengeliminasi penyakit yang berasal dari graft-transmissible pada tanaman jeruk di Indonesia telah dilakukan sejak dua dekade lalu. Namun tingkat pertumbuhan benih hasil penyambungannya masih sangat rendah dan waktu yang diperlukan untuk proses indeksing masih relatif panjang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Pembibitan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika mulai Januari 2012 – Maret 2013. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan teknologi PMT yang diperbarui melalui modifikasi media in vitro serta penyungkupan untuk meningkatkan persentase keberhasilan dan daya tumbuh tanaman. Perlakuan yang diaplikasikan adalah penambahan konsentrasi vitamin MS pada media persemaian biji batang bawah jeruk Japanese Citroen/JC (Citrus medica) dan media pertumbuhan tanaman keprok Batu 55 (Citrus reticulata Blanco) hasil PMT in vitro. Pada tahapan berikutnya, perlakuan yang diaplikasikan adalah perbaikan kondisi lingkungan tumbuh berupa penambahan ukuran polibag dan pengaturan suhu lingkungan mikro tanaman dengan melakukan penyungkupan menggunakan plastik tanaman hasil PMT yang di-regrafting. Penelitian dirancang dalam rancangan acak lengkap dengan lima ulangan pada tahapan pertumbuhan semai in vitro, rancangan acak lengkap faktorial dengan lima ulangan pada pertumbuhan tanaman hasil PMT, dan rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan pada tahapan regrafting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase semaian batang bawah in vitro, penambahan konsentrasi vitamin pada media sampai 10 kali tidak berpengaruh nyata terhadap persen perkecambahan biji serta pertumbuhan semaian JC, sedangkan pada fase ex vitro, perlakuan kombinasi antara ukuran polibag dan penyungkupan tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Perlakuan penyungkupan pada minggu ke–10 sampai dengan ke–14 berpengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan tinggi dan jumlah daun jeruk keprok Batu 55, masing-masing mencapai 40,1% dan 25,9%. Hasil penelitian ini akan mempercepat kisaran waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan tanaman induk jeruk bebas penyakit dengan menggunakan teknik PMT.
Deteksi Dini Penyakit Daun Kipas (Grapevine Fanleaf Virus) dan Perbedaan Gejala Pada Tiga Varietas Anggur
Sri Widyaningsih;
Mutia Erti Dwiastuti;
T K Puspitasari
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p63-70
Penyakit daun kipas grapevine fanleaf virus (GFLV) merupakan penyakit yang sangat merugikan pada tanaman anggur, karena menghambat pertumbuhan dan menekan produktivitas tanaman. Penelitian bertujuan mengetahui cara deteksi dini, penyebab penyakit, dan perbedaan gejala penyakit GFLV pada tiga varietas anggur. Penelitian dilaksanakan di Screen House dan Laboratorium Terpadu Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) pada bulan Januari sampai dengan April 2011. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), terdiri atas enam perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan terdiri atas tiga varietas tanaman anggur, yaitu Prabu Bestari, Kediri Kuning, dan Probolinggo Super. Masing-masing varietas diberi dua perlakuan yaitu diinokulasi dan tidak diinokulasi GFLV (sehat). Parameter pengamatan meliputi masa inkubasi, gejala serangan, kerusakan jaringan daun akibat infeksi GFLV, benda asing pada jaringan daun tanaman anggur akibat infeksi GFLV, dan pengujian serologi ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deteksi dini GFLV dapat dilakukan dengan pengamatan gejala visual, pengamatan kerusakan jaringan tanaman, dan benda asing pada jaringan daun serta dengan uji ELISA. Terdapat perbedaan gejala dan kerusakan jaringan antara tanaman yang terinfeksi GFLV dan tidak terinfeksi. Terdapat perbedaan gejala visual dan masa inkubasi GFLV pada varietas yang berbeda.
Peningkatan Produksi dan Mutu Benih Botani Bawang Merah
Endah Retno Palupi;
Rini Rosliani;
Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p26-36
Penggunaan true shallot seed (TSS) sebagai bahan tanam dapat meningkatkan produktivitas tanaman sampai 100% dibandingkan dengan penggunaan umbi dan tidak membawa atau menekan penyakit tular benih daripada umbi bibit. Ketersediaan TSS di pasar yang masih rendah dan teknologi pembibitan yang belum dikuasai oleh petani bawang merah menyebabkan penggunaan TSS sebagai bahan tanam masih rendah. Penelitian bertujuan untuk (1) mempelajari sistem perkawinan pada bawang merah dan (2) mempelajari peran serangga penyerbuk dalam meningkatkan produksi dan mutu TSS. Penelitian dilaksanakan di dataran tinggi (Kebun Percobaan Balitsa Lembang, 1.250 m dpl.) dan di dataran rendah (Kebun Percobaan Balitsa Subang, 100 m dpl.) dari bulan Maret–Agustus 2012. Penelitian terdiri atas dua percobaan yang dilaksanakan secara paralel menggunakan bawang merah varietas Bima Brebes. Percobaan pertama disusun menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor. Perlakuannya adalah sistem perkawinan yang dipelajari dengan melakukan penyerbukan silang dan penyerbukan sendiri. Percobaan kedua disusun menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan satu faktor. Perlakuannya adalah percobaan penyerbukan dengan bantuan serangga penyerbuk Apis mellifera, A. cerana, dan Trigona sp. (Apidae), serta lalat hijau Lucilia sp. (Calliphoridae) masing-masing ke pertanaman yang dikerodong, dan sebagai kontrol digunakan penyerbukan terbuka. Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa bawang merah merupakan tanaman yang partly self-incompatible di mana penyerbukan sendiri dapat menghasilkan benih tetapi jumlah benih yang dihasilkan lebih rendah daripada penyerbukan silang. Mutu benih yang dihasilkan dari penyerbukan silang tidak berbeda dari penyerbukan sendiri, akan tetapi mutu benih dari dataran rendah lebih baik daripada dari dataran tinggi. Hasil penelitian kedua menunjukkan bahwa introduksi A. cerana menghasilkan persentase kapsul bernas dan bobot TSS per umbel paling tinggi (70,7–74% dan 0,45–0,49 g) dan Trigona sp. yang paling rendah (20–27,7% dan 0,08–0,16 g) baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Produksi TSS di dataran tinggi lebih tinggi daripada di dataran rendah karena jumlah umbel per tanaman dan jumlah bunga per umbel yang lebih tinggi, sementara mutu benih dari dataran rendah lebih baik daripada dataran tinggi yang ditunjukkan oleh bobot 100 butir dan daya berkecambah TSS. Implikasi penelitian ini bahwa introduksi lebah madu lokal A. cerana sangat membantu dalam memproduksi benih TSS di dataran tinggi dan dataran rendah.