cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Persaingan Akses Sumber Daya Air di Yeh Ho, Tabanan, Bali Herlina Tarigan; Arya H. Dharmawan; SMP Tjondronegoro; Kedi Suradisastra
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n2.2013.143-159

Abstract

EnglishSubak is a traditional Balinese water management organization with simple irrigation instruments, yet recognized as having high social resilience.  This organization is not solely related to engineering elements, but also having socio-techno-religious characteristics. The politics of mass tourism development that promotes the development of infrastructures and public facilities by exploiting natural resources including land and water have caused land conversion and water utilization in a large scale, threatening the sustainability of subak. This research aims to examine the dynamics of water resource economic politics and its impact on subak institution which serves as one of the main pillar of development in Bali. Using a qualitative method, this research found that: (1) the politics of water economy was very dynamic, involving various local, national, and global actors with different interest and ideology; (2) the priority of mass tourism in Bali had led to a battle over access to water resources with both immaterial and material conflicts; (3) growth-oriented agricultural development had systematically reduced the socio-capital of subak; (4) the politics of development and the products of the state power (laws and policies) had systematically weakened the products of subak community power (awig-awig and perarem), so that the existence of subak as an irrigation organization that became the basis of strength for supporting food security was increasingly pressured.IndonesianSubak merupakan organisasi pengelola air khas Bali dengan alat irigasi yang sederhana namun diakui memiliki resiliensi sosial yang tinggi. Organisasi ini tidak semata-mata terkait dengan unsur-unsur keteknikan, melainkan bersifat sosial-tekno-religius. Politik pembangunan pariwisata massal yang memacu laju pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik dengan pemanfaatan sumber daya alam termasuk lahan dan air menyebabkan alih fungsi lahan dan pemanfaatan air secara besar-besaran sehingga mengancam keberlangsungan subak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dinamika politik ekonomi sumber daya air dan dampaknya bagi kelembagaan subak yang menjadi salah satu pilar utama pembangunan di Bali. Penelitian dengan metode kualitatif ini menemukan bahwa: (1) politik ekonomi air sangat dinamis melibatkan beragam aktor lokal, nasional, global dengan kepentingan dan ideologi yang berbeda-beda; (2) prioritas pariwisata massal di Bali telah menyebabkan terjadinya pertarungan akses terhadap sumber daya air dengan konflik immaterial maupun material; (3) pembangunan pertanian yang berorientasi pertumbuhan secara sistematis telah mereduksi capital social subak; (4) politik pembangunan dan produksi kekuasaan negara (UU dan kebijakan) secara sistematis melemahkan produksi kekuasaan komunitas subak (awig-awig dan perarem) sehingga eksistensi subak sebagai organisasi pengairan yang menjadi basis kekuatan mendukung ketahanan pangan semakin terdesak.
Analisis Daya Saing Komoditas Kedelai Menurut Agro Ekosistem: Kasus di Tiga Provinsi di Indonesia Amar K. Zakaria; Wahyuning K. Sejati; Reni Kustiari
Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v28n1.2010.21-37

Abstract

EnglishDomestic soybean production tended to fall from year to year. This is related to the low participation of farmers in soybean farm. This study aimed to obtain an objective picture about the profitability of soybean farming in three different agro-ecosystems, namely irrigated land, rain-fed lowland, and dry land. The analysis uses a matrix approach to policy analysis (PAM). Data obtained from the survey conducted in 2009 in three provinces, namely West Java, East Java and South Sulawesi. The research results showed that soybean farming in the three agro-ecosystems is quite efficient and competitive.  The competitive advantage analysis indicates that domestic produced soybean could be a substitute for imported soybean. Increased participation of farmers in soybean farming is constrained by the lack of availability of high yielding variety of seeds, farming risk is quite high, and there is no price guarantee for soybean product.IndonesianProduksi kedelai domestik cenderung turun dari tahun ke tahun. Hal ini terkait dengan rendahnya partisipasi petani dalam usahatani tanaman kedelai. Penelitian ini ditujukan untuk memperoleh gambaran objektif mengenai profitabilitas usahatani kedelai di tiga agroekosistem yang berbeda yaitu di lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, dan lahan tegalan. Analisis menggunakan pendekatan matrik analisis kebijakan (PAM). Data diperoleh dari hasil survei pada Tahun 2009 di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani kedelai di tiga agrosistem tersebut cukup efisien dan keunggulan kompetitifnya cukup memadai sebagai substitusi impor. Peningkatan partisipasi petani dalam usahatani kedelai terkendala oleh kurang tersedianya benih unggul bermutu, risiko usahatani yang cukup tinggi, dan tidak adanya jaminan harga jual kedelai yang layak.
Model Ekonomi Minyak Sawit Mentah Dunia Wayan R. Susila; Bahtiar S. Abbas; Prayogo U. Hadi; Arief Priyambodo; S. Oloan Lubis
Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v14n2.1995.21-43

Abstract

Due to the importance of crude palm oil (CPO) in Indonesia economy, any policy elated to CPO industry should be comprehensively designed and analyzed its impacts on the industry and the economy as a whole. A scientific approach to designed and analyze policies is by simulating those policies into an economic model of the industry. In response to requirement, a study has been conducted to develop an international model of crude palm oil market. The model consists of 18 sub-models, that are, a world model, 16 individual or grouped country models, and an Indonesia model which is specified in relatively more detail. A general characteristic of the model is that the shot-term responses of production, consumption, export, and import toward the changes in CPO and competing oil prices are inelastic. Using the model and a time horizon of 1995-2000, production, consumption, export-import are projected to increase by 6.1, 5.0, and 4.1, percent, p.a., respectively. The price is projected to decline to be around US$ 415/ton in 2000
Analisis Integrasi Pasar Beras di Bengkulu Andi Irawan; Dewi Rosmayanti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v25n1.2007.37-54

Abstract

EnglishThe goal of this research is to analyze spatial integration and vertical integration in Bengkulu rice markets dan its implication for policy application. Four rice markets were evaluated including Bengkulu Municipality, Rejang Lebong Regency, North Bengkulu Regency and South Bengkulu Regency. Weekly series data of 2001 to 2005 were used as sample data in analyzing spatial integration test. The vertical integration  used weekly data of the period of 2002  to 2005 for Kota Bengkulu. Series data of 2001 to 2005 were used for Rejang Lebong, 2004 to 2005 for South Bengkulu and 2002 to 2005 for North Bengkulu. Quantitative methods used in this study were Johansen Cointegration Test, Vector Error Correction Model, and Granger Causality Test. The results indicate that: 1) Rice market in Bengkulu is imperfect on its spatial integration market, from which a shock in Bengkulu Municipality market could be transmited to South Bengkulu Regency and North Bengkulu markets, but not to Rejang Lebong market. Policy implication of this result give indication that to stabilize local rice markets in Bengkulu Province, priority intervention of  local government is to stabilize in Bengkulu Municipality Market, because price stabilization in Bengkulu Municipality could be transmitted to other market in most districts  in Bengkulu Province. 2) Vertical market integration in Bengkulu Municipality and South Bengkulu is imperfect, but statistically such integration is proved significantly in Rejang Lebong Regency and North Bengkulu.IndonesianTujuan penelitian ini adalah menganalisis integrasi spasial dan integrasi vertikal antarpasar beras di tingkat kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu dan menganalisis implikasi kebijakannya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data deret waktu  mingguan. Data deret mingguan diperoleh dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan Biro Pusat Statistik Bengkulu, yakni sebagai berikut: 1) harga beras konsumen (HBK) tingkat kabupaten dari tahun 2001 sampai tahun  2005 dan 2) harga beras grosir di Kabupaten  (HBG). Rincian sebagai berikut: a) Kota Bengkulu dari tahun 2002 – 2005, b) Rejang Lebong dari tahun 2001 – 2005, c) Bengkulu Utara dari tahun 2002 – 2005, dan d) Bengkulu Selatan dari tahun 2004 –2005.  Metode kuantitatif yang digunakan adalah Uji Kointegrasi Johansen, Vector Error Correction Model dan Uji Kausalitas Granger. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, pasar beras Bengkulu adalah pasar yang terintegrasi spasial secara tidak sempurna, dimana jika terjadi guncangan di pasar kota Bengkulu hanya akan ditransmisikan ke pasar Bengkulu Selatan dan Bengkulu Utara tetapi tidak untuk pasar Rejang Lebong. Implikasi kebijakan dari temuan ini adalah bahwa untuk menstabilisasikan pasar beras lokal di Provinsi Bengkulu maka prioritas intervensi dari pemerintah daerah seharusnya ditujukan pada stabilisasi pasar di Kota Bengkulu, stabilnya pasar beras di Kota Bengkulu akan ditransmisikan ke pasar-pasar kabupaten lainnya kecuali pasar di Kabupaten Rejang Lebong. Kedua, integrasi pasar vertikal di Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Selatan adalah tidak sempurna sedangkan keberadaan integrasi vertikal secara statistik dapat dibuktikan signifikan terjadi di Kabupaten Rejang Lebong dan Bengkulu Utara.
Analisis Efisiensi Penggunaan Masukan dan Ekonomi Skala Usaha pada Usahatani Tebu di Jawa Timur Bambang Irawan; Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v10n1-2.1991.73-90

Abstract

One of the governments approaches to improve the efficiency of sugarcane farming is by organizing farmer groups. This grouping of farmers aimed to increase the efficiency of farming in term of inputs use and farm size. The finding of this research show that in East Java, one of the important sugarcane area in Indonesia, the two category of sugarcane planting. For the ratoon planting the use of inputs was efficient but for the new planting the inputs used by farmers is quite small especially for labor input. Therefore the introduction of tractor for land preparation is suggested to eliminate the labor shortage. This research, has also shown that the economies of scale of sugar cane farming varied according to the category of planting. In order to find the optimal farming size, wet land sugarcane should be conducted in a larger farming size than that grown in dryland. The new planting of sugarcane is also suggested to be grown in larger farming size than ratoon planting.
Kondisi Pasar Dunia dan Dampaknya terhadap Kinerja Industri Perkopian Nasional Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v22n2.2004.147-166

Abstract

EnglishCoffee remains to be a vital export commodity for Indonesia, but it faces situation that is not conducive to its farmers and industry. The paper aims to identify and analyze various factors affecting national coffee industry, production, and import demand. The research was undertaken between March to December 2003, using  interviewing and discussion technique with coffee stakeholders that include farmers, traders, entrepreneurs and compiling secondary data from various sources. The paper concludes that national tax and marketing policies and international coffee crisis have halted the growth of national coffee industry.  Export volume of Indonesian coffee is mainly in the form of green coffee, slightly in the form of soluble coffee (roasted coffee, instant coffee, roasted and ground coffee and others), while the world giant coffee industries control ready-made coffee market (roasted ground coffee and soluble and instant coffee) bearing its own superiority image attached in the consumers’ mind. As a consequence, Indonesian coffee is trapped and unable to compete and develop products directed to consumers’ market. It is suggested that Indonesia should consider about reducing its coffee area but converting the area to other estate crops and improve the quality of products produced by the existing plants.IndonesianKopi masih merupakan komoditas ekspor utama Indonesia, tetapi saat ini menghadapi keadaan yang kurang menguntungkan bagi petani dan industrinya. Makalah ini ditujukan untuk mengidentifikasi dan mengkaji berbagai faktor yang berpengaruh terhadap industri perkopian, terhadap penawaran produksi, dan permintaan ekspor kopi nasional. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Desember 2003 dengan menggunakan data sekunder serta wawancara dan diskusi dengan berbagai fihak terkait antara lain kelompok tani, pedagang dan pengusaha. Makalah menyimpulkan antara lain bahwa kebijakan perpajakan,  tataniaga, dan krisis perkopian internasional menghambat perkembangan industri perkopian nasional. Sebagian besar ekspor Indonesia berupa kopi biji (green coffee) dan sisanya kopi soluble (roasted coffee, instant coffee, roasted and ground coffee dan lainnya), sementara industri kopi raksasa dunia menguasai pangsa pasar siap saji (roasted ground coffee dan soluble dan instant coffee) dengan citra produk masing-masing yang telah melekat di ingatan konsumen. Oleh karena itu, Indonesia terperangkap, sulit bersaing dan mengembangkan produknya ke negara-negara konsumen. Makalah ini menyarankan agar Indonesia mempertimbangkan untuk tidak menambah areal pertanaman kopi, tetapi sebaiknya menggantikannya dengan tanaman perkebunan lain atau meningkatkan mutu produksi tanaman yang sudah ada.
Permintaan Rumah Tangga Kota di Indonesia Terhadap Keanekaragaman Pangan Agus Pakpahan; Sri Hastuti Suhartini
Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v8n2.1989.64-77

Abstract

EnglishThere are numerous analyses of demand for food have been conducted in Indonesia. However, there is still lack of attention on demand for food diversity in Indonesia. The main purpose of this paper is to seek knowledge about the development of food diversity and its relationship with urban household expenditure in Indonesia. The analysis showed that food consumption pattern of urban household tended to be more diversified and household income played an important role in increasing demand for food diversity.IndonesianAnalisis permintaan terhadap pangan di Indonesia telah banyak dilakukan. Akan tetapi aspek permintaan terhadap keanekaragaman pangan belum banyak diteliti. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk melihat perkembangan permintaan keanekaragaman rumah tangga kota di Indonesia terhadap pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan terhadap keanekaragaman masyarakat kota cenderung meningkat dan pendapatan merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan permintaan terhadap keanekaragaman pangan.
Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Broiler Indonesia: Pendekatan Model Simultan Anna Fitriani; Heny K. Daryanto; Rita Nurmalina; Sri Hery Susilowati
Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v32n2.2014.167-186

Abstract

EnglishAlmost all industries become more concentrated. The main concern with the concentration is competition reduction and market power improvement. This research aims: (1) to analyze the impact of industry concentration on the industry’s performance; (2) to analyze impacts of changes in the external factors on the structure, conduct and performance of broiler industry; and (3) to formulate policies to promote farmers’ welfare as well as to enhance the broiler industry. Panel data from broiler industry in eight provinces in Indonesia were analyzed by simultaneous econometric approach and estimated using Two-Stages Least Squares (2SLS). The results show that there is a simultaneous relationship among structure, conduct and performance of broiler industry in Indonesia where integration has a significant relationship to concentration. Furthermore, increased integration will lower the cost per unit. The lower the cost per unit, the more efficient this business will be such that the firm’s power increases. Market power has positive impact on selling price which tends toward monopoly power in the industry. The sensitivity analysis showed that a demand increase by 15 percent would reduce the concentration level by 4.92 percent and lessen gap between smallholders and large companies in the industry by 9.50 percent. It indicates that policy to develop broiler industry will be more effective by boosting the demand rather than enhancing the production only.IndonesianHampir semua segmen industri menjadi lebih terkonsentrasi dari waktu ke waktu. Perhatian utama sehubungan dengan konsentrasi adalah hal ini bisa mengurangi tingkat persaingan di industri dan menghasilkan kekuatan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis dampak konsentrasi terhadap kinerja industri; (2) menganalisis dampak perubahan lingkungan eksternal terhadap struktur, perilaku, dan kinerja industri broiler; dan (3) merumuskan kebijakan yang dapat mensejahterakan masyarakat sekaligus memajukan industri broiler. Penelitian ini menggunakan data panel industri broiler dari delapan provinsi di Indonesia yang dianalisis menggunakan pendekatan ekonometrika simultan dan diestimasi menggunakan metode Two-Stage Least Square (2SLS). Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan simultan dari struktur, perilaku, dan kinerja industri broiler Indonesia, dimana integrasi memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap konsentrasi. Selanjutnya integrasi yang meningkat akan menurunkan biaya per unit. Semakin rendah biaya per unit, artinya usaha semakin efisien sehingga kekuatan pasar meningkat. Kekuatan pasar  berdampak positif terhadap harga yang artinya terdapat kekuatan monopoli di industri yang dapat mempengaruhi harga di pasar. Berdasarkan hasil simulasi didapatkan bahwa peningkatan permintaan sebesar 15 persen akan menurunkan tingkat konsentrasi sebesar 4,92 persen dan mengurangi ketimpangan antara usaha rakyat dan perusahaan besar di industri sebesar 9,50 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan untuk mengembangkan industri broiler oleh pemerintah akan lebih efektif dengan mendorong terjadinya peningkatan permintaan dibanding hanya dengan mendorong peningkatan produksi.
Analisis Posisi Pasar dan Prospek Pemasaran Ekspor Udang Indonesia di Amerika Serikat (AS) Adi Setiyanto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v18n1.1999.37-55

Abstract

EnglishBlack tiger shrimp (Panaeus monodon) is one of important Indonesian exported commodities to United States (US). Per capita consumption of shrimp in US is about 1134 kg per year or equal to 450,000 tons per year. Export share of frozen shrimp from Indonesia to US is only 5 percent which is much lower than that of Thailand (31%), Equador (20%), and Mexico (13%). The competing shrimp exporters to US are China, India, Bangladesh, Panama, Venezuela, Philippines, Honduras and Taiwan. Constraining factors of Indonesian shrimp export to US are increased production of domestic shrimp in US, diversified products such as fresh or chilled shrimp and prepared shrimp. Indonesian shrimp exporters prefer Japan market to that of US due to higher price, simple export procedures, and rigidity of US import market such as TED, HACCP, Automatic Detention and FDA inspection. Indonesia is still potential to increase its shrimp export share to US through improving production capacities of all domestic shrimp producers.IndonesianUdang Windu (Panaeus monodon) memberikan kontribusi ekspor Indonesia dan masyarakat USA sangat menyukai udang. Konsumsi per kapita udang AS sekitar 1.134 kg per tahun (edible weight) atau sekitar 450 ribu ton per tahun. Potensi impor AS sekitar 340 ribu ton per tahun dan pengusaha Indonesia belum memanfaatkan hal itu. Pangsa pasar ekspor Indonesia di AS sekitar 5 persen, di bawah Thailand (31%), Equador (20%) dan Meksiko (13%). Pesaing-pesaing pasar utama Indonesia di AS lainnya adalah Cina, India, Bangladesh, Panama, Venezuela, Filipina, Honduras dan Taiwan. Sedangkan pesaing pasar potensial bagi Indonesia adalah Vietnam, Kanada, Myanmar, Srilangka dan Brazil. Ancaman pasar bagi ekspor udang beku Indonesia adalah peningkatan produksi udang dalam negeri AS, diversifikasi produk udang yaitu udang segar atau kupas dan udang dalam kaleng (prepared or preserved). Udang segar atau kupas pesaing pasar Indonesia masih udang yang berasal dari Thailand, Cina dan Vietnam, dan untuk udang dalam kaleng adalah udang yang berasal dari Thailand, Bangladesh, Cina, Vietnam, India dan Filipina. Eksportir udang Indonesia lebih menyukai pasar ekspor Jepang dibandingkan AS, karena harga yang lebih tinggi, prosedur ekspor yang mudah dan ketatnya kebijakan pemasaran dan impor AS khususnya terkait dengan TED, HACCP,Automatic Detention dan inspeksi dari FDA. Struktur ekspor udang Indonesia menunjukkan bahwa ekspor ke Jepang mencapai sekitar 81 persen dan ke AS hanya sekitar 5 persen. Saat ini, Indonesia mempunyai keunggulan komparatif perdagangan udang terhadap AS yang ditunjukkan dengan nilai ratio TSR 0,990- 1,000. Permintaan impor AS terhadap udang beku dari Indonesia diperkirakan akan meningkat hingga sekitar 15,49 ribu ton, dengan nilai sekitar US $ 200,97 juta dan harga sekitar US $ 12,97 per kg, pada tahun 2005 mendatang. Indonesia mempunyai peluang yang baik untuk meningkatkan kemampuan bersaing dan pangsa pasar udang beku di AS. Untuk meraih peluang itu, kebijakan operasional spesifik diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas petambak dan nelayan udang, koperasi dan usaha skala kecil menengah lainnya, karena saat ini mereka mempunyai kontribusi yang besar terhadap produksi dan ekspor udang Indonesia.
The Role and Financial Analysis of Mini Coffee-Processing Units Masdjidin Siregar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v4n2.1985.40-48

Abstract

There is no available abstract from the Print Edition

Page 10 of 40 | Total Record : 392


Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue