cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Biaya Pengurangan Marginal Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Pertanian Miranti Ariani; P. Setyanto; M. Ardiansyah
Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v33n2.2015.107-120

Abstract

EnglishGreenhouse gases (GHG) concentration in the atmosphere significantly increases with the annual average increase on the past decade (2005-2014) is 2.1 ppm. Today’s concentration is 403 ppm, while the upper safety limit for atmospheric CO2 is 350 ppm. This rising concentration mainly affects global warming and climate change. This study aims to analyze mitigation options in paddy field management that may be conducted through a marginal abatement (MAC) approach by selecting mitigation actions with low cost and high potential emission decrease. This analysis was carried out using the Net Present Value (NPV). Locations were selected purposively in Grobogan Regency, Central Java Province, and East Tanjung Jabung Regency, Jambi Province, in 2013. Data collected consisted of GHG emissions baseline estimate, costs of production and total revenue. Baseline emission was computed using the appropriate approach of 2006 IPCC Guidelines. Data were analyzed using both quantitative and qualitative descriptive methods. The results showed that abatement cost to reduce 1 tCO2e in Grobogan Regency from the lowest to highest were low methane rice variety with the cost of Rp106/tCO2e, intermittent irrigation (Rp124/tCO2e), direct seeded rice (Rp657/tCO2e) and shifting between urea granules with urea tablets (Rp3,582/tCO2e). Meanwhile in East Tanjung Jabung Regency, the lowest to highest costs were compost for amelioration (Rp163/tCO2e), farmyard manure for amelioration (Rp456/tCO2e), direct seeded (Rp504/tCO2e) and interaction between no tillage+direct seeded rice (Rp608/tCO2e). These costs did not include tax, transport and other social costs.IndonesianKonsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer saat ini mengalami peningkatan dengan kenaikan rata-rata tahunan sebesar 2,1 ppm selama sepuluh tahun terakhir. Saat ini konsentrasinya mencapai nilai 403 ppm, sementara batas atas konsentrasi CO2 aman bagi atmosfer bumi adalah 350 ppm. Peningkatan ini menyebabkan adanya pemanasan bumi secara global dan perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan menganalisis opsi-opsi mitigasi pada pengelolaan lahan sawah yang mungkin dilakukan dengan menggunakan pendekatan marginal abatement cost atau biaya pengurangan emisi yang berprinsip pada pemilihan teknologi mitigasi dengan biaya rendah dan potensi penurunan emisi yang besar. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan net present value (NPV). Lokasi penelitian dipilih secara purposive, yaitu di Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah; dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, pada tahun 2013. Data yang dikumpulkan, yaitu data aktivitas untuk perhitungan baseline emisi GRK serta data usaha tani yang meliputi semua biaya produksi dan penerimaan. Baseline emisi dihitung dengan menggunakan pendekatan sesuai IPCC Guideline 2006. Hasil penelitian menunjukkan biaya tambahan yang diperlukan untuk menurunkan emisi 1 tCO2e di Kabupaten Grobogan dari yang terendah sampai tertinggi, yaitu teknologi varietas rendah emisi sebesar Rp106/tCO2e, teknologi pengairan berselang sebesar Rp124/tCO2e, teknologi tanam benih langsung sebesar Rp657/tCO2e, dan penggantian urea prill dengan urea tablet sebesar Rp3.582/tCO2e. Sementara, di Kabupaten Tanjung Jabung Timur biaya tambahan terendah sampai tertinggi, yaitu teknologi ameliorasi dengan kompos sebesar Rp163/tCO2e; ameliorasi dengan pupuk kandang sebesar Rp456/tCO2e; teknologi tanam benih langsung sebesar Rp504/tCO2e; dan interaksi antara tanpa olah tanah+tanam benih langsung sebesar Rp608/tCO2e. Biaya ini tidak termasuk pajak, biaya transpor, dan biaya-biaya sosial.
Perkiraan Dampak "Tragedi Bali 12 Oktober 2002" Terhadap Sektor Pertanian Pantjar Simatupang; Nizwar Syafa’at; Saktyanu K. Dermoredjo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v20n2.2002.24-39

Abstract

English"Bali Tragedy" incident was an international security-politic turbulence, so that it became a disturbing factor toward national economy, especially in Bali and its surroundings. The most directly affected sectors by "Bali Tragedy" were sectors which had high external dependency and also sensitive to security and politic stability, such as tourism, rupiah value, capital market, investment, and international trade. The direct impacts then affected other sectors so that all sectors and regions were also affected. The results of the analysis by using Input-Output model show that "Bali Tragedy" caused national Gross Domestic Product (GOP) decrease by 0.30 up to 3.70 percent from the target of 4 percent, so that the GOP was only about 3.26 up to 3.70 percent in 2002. The potential impacts on agricultural sector was assessed to decre~se its growth rate by 0.65 up to 0.26 percent from of the target of 1.08 percent, so that it was only about 0.42 up to 0.82 percent in 2002. The most severely hit subsector was livestock, especially slaughtering. In 2003, "Bali Tragedy" is anticipated to decrease the growth rate of national GOP by 0. 89 up to 1.48 percent from the target of 5 percent, become only about 3.5 up to 4 percent The impacts on agricultural sector is estimated to cause the decrease of its growth rate by 0. 78 up to 1. 31 percent from the target of 1. 35, become 0.04 up to 0.56 percent in 2003. The results of the analysis recommend that the government should prioritize tourism sector recovery after Bali bomb tragedy.Indonesianlnsiden "Tragedi Bali" merupakan gejolak keamanan-politik berdimensi internasional sehingga menjadi faktor disturban terhadap perekonomian nasional, utamanya di Bali dan sekitarnya. Sektor-sektor yang paling langsung dan paling terpengaruh oleh "Tragedi Bali" tersebut ialah sektor yang paling tinggi tingkat ketergantungan eksternalnya (high external dependency) dan peka pula terhadap stabilitas keamanan dan politik seperti: pariwisata, nilai rupiah, pasar modal, investasi dan perdagangan internasional. Dampak langsung tersebut selanjutnya merambat dan menyebar ke sektor-sektor lain sehingga seluruh sektor dan kawasan turut terpengaruh. Hasil analisis dengan menggunakan model Input-Output menunjukkan bahwa "Tragedi Bali" mengakibatkan laju pertumbuhan ekonomi (GDP) nasional pada tahun 2002 menurun sekitar 0,30 persen hingga 0,74 persen dari target 4 persen, sehingga menjadi sekitar 3,26 persen hingga 3, 70 persen. Dampak potensial terhadap sektor Pertanian dan Peternakan diperkirakan menyebabkan laju pertumbuhan menurun antara 0,65 persen hingga 0,26 persen dari target 1,08 persen, sehingga menjadi sekitar 0,42 persen hingga 0,82 persen pada tahun 2002. Subsektor yang paling terpukul ialah Peternakan utamanya usaha pemotongan hewan. Pada tahun 2003, "Tragedi Bali" diperkirakan akan menyebabkan laju pertumbuhan GOP nasional menurun antara 0,89 persen hingga 1 ,48 persen dari target 5 persen sehingga menjadi sekitar 3,5 persen hingga 4 persen. Dampak terhadap sektor Pertanian dan Peternakan pada tahun 2003, diperkirakan dapat menyebabkan penurunan laju pertumbuhan antara 0.78 persen hingga 1,31 persen dari target 1, 35 persen sehingga menjadi antara 0,04 persen hingga 0,56 persen. Hasil analisis ini merekomendasikan agar pemerintah segera memulihkan sektor parawisata akibat tragedi bom Bali.
International Demand for Palm Oil Estimated Within a Fats and Oils Demand System Achmad Suryana
Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v6n1-2.1987.67-82

Abstract

IndonesianSistim permintaan untuk minyak nabati dan hewani bagi tiga pasar internasional utama dan dua negara produsen diduga dengan model Almost Ideal Demand System (AIDS). Pembahasan dititikberatkan pada hasil pendugaan untuk sistem permintaan rninyak nabati dan hewani bagi MEE karena kawasan ini merupakan pasar ekspor yang paling penting bagi minyak sawit Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecuali di Amerika Serikat, permintaan untuk minyak sawit di pasar internasional adalah inelastis. Telaahan ini juga menunjukkan hubungan antara minyak-minyak nabati dan hewani tidak saja bersifat substitusi tetapi antara beberapa minyak tersebut terjadi juga hubungan yang komplementer. Negara-negara yang termasuk ke dalam analisis ini adalah MEE, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, dan Indonesia. Sebelas macam minyak nabati dan hewani yang termasuk ke dalam analisis ini adalah lard, edible tallow, minyak-minyak sawit, kelapa, kedelai, biji kapas, biji rape, biji bunga matahari, zaitun, jagung, dan ikan.EnglishDemand systems for fats and oils of three major international markets and two producing countries are estimated using the Almost Ideal Demand System (AIDS). Discussion is focused on the results of the EEC demand system because this region is the most important market for Indonesian palm oil. Results of the analysis indicate that except for the United States, demand elasticities for palm oil in international markets are inelastic; and the relationships among fats and oils are not only as substitutes, but for certain oils there are also as complements. Countries included in this analysis are the EEC, the United States, Japan, Malaysia, and Indonesia. Eleven fats and oils are analyzed, namely lard, edible tallow, palm, coconut, soybean, cottonseed, rapeseed, olive, sunflower seed, com, and fish oils.
Efisiensi Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis Gabungan Kelompok Tani dalam Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan: Studi Kasus di Kabupaten Bantul Tahun 2012 Yopi Saleh; Jangkung Handoyo Mulyo; Lestari Rahayu Waluyati
Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v30n2.2012.129-144

Abstract

EnglishPolicy to concert Rural Agribusiness Development (PUAP) into Microfinance Institutions for Agribusiness (MFI-A) is a strategic movement in Ministry of Agriculture to solve the finance constraint of small-scale farmers and farm labor. This paper aims to analyze efficiency level of MFI-A of the Farmer Group Association (Gapoktan) and to identify the factors influencing efficiency of MFI-A Gapoktan in Bantul Regency involving 65 MFI-As from March until June 2012. The research applies DEA (Data Envelopment Analysis) approach using the assumption of constant return to scale (CRS) and variable return to scale (VRS) with output oriented to measure the efficiency score of each observed MFI-A. This research also employs an Ordinary Least Squares (OLS) regression. Based on DEA-CRS CCR as many as 19 MFI-As (29.23%) are efficient, while based on DEA-VRS BCC total of 33 MFI-As (50,77%) are efficient. Manager’s education level, age of MFI-A, time of service, and number of administrators significantly influence efficiency of MFI-A. IndonesianKebijakan Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) menjadi Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) merupakan langkah strategis Kementerian Pertanian untuk menyelesaikan persoalan pembiayaan petani skala mikro dan buruh tani yang jumlahnya cukup besar di perdesaan. Tujuan kajian ini untuk menganalisis tingkat efisiensi LKM-A gabungan kelompok tani (gapoktan) PUAP di Kabupaten Bantul dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi LKM-A Gapoktan PUAP di Kabupaten Bantul. Penelitian dilakukan pada 65 LKM-A gapoktan PUAP di Kabupaten Bantul pada bulan Maret-Juni 2012. Metode penelitian menggunakan pendekatan analisis DEA (Data Envelopment Analysis) asumsi constant return to scale (CRS), dan variable return to scale (VRS) dengan output oriented digunakan untuk mengukur skor efisiensi dari masing-masing LKM-A yang diamati. Selanjutnya penelitian ini menggunakan analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS) untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi efisiensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perhitungan DEA-CRS versi CCR, sebanyak 19 LKM-A (29,23%) telah efisien, sedangkan dengan perhitungan DEA-VRS versi BCC terdapat sebanyak 33 LKM-A (50,77%) efisien. Tingkat pendidikan manajer, umur LKM-A, waktu pelayanan dan jumlah pengelola memiliki pengaruh dan nyata terhadap efisiensi LKM-A, sedangkan metode pinjaman dan sistem pembiayaan LKM-A tidak berpengaruh secara nyata terhadap efisiensi LKM-A gapoktan PUAP di Kabupaten Bantul.
Dampak Pelaksanaan Putaran Uruguay terhadap Industri Kakao Dunia dan Domestik Wayan R. Susila; S. Oloan Lubis; Ade Supriatna
Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v17n2.1998.1-21

Abstract

EnglishThe implementation of commitments related to cocoa on the Uruguay Round has been perceived to have significant impacts on cocoa industry and trade. Estimation of magnitude and distribution of the impacts is important because Indonesia is one of the cocoa major producing countries. A cocoa commodity model was used to estimate the magnitude and distribution of the impacts. The model was specified to consist of 13 sub models in which each sub-model representing a major producing or consuming countries. The results of analysis show that the implementation of the commitments will increase mature area, production, and price of cocoa. On the other hand, the implementation of the commitments will slightly decrease cocoa consumption and trade. Moreover, the positive impacts of the implementation of the corlunitments will not proportionally distributed. Indonesia will be the most beneficial, while Ivory Coast will be the most suffered from the implementation of the commitments.IndonesianPelaksanaan komitmen yang berkaitan dengan kakao pada Putaran Uruguay diperkirakan akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap industri dan perdagangan kakao dunia. Oleh karena itu, estimasi terhadap besar serta distribusi dampak tersebut menjadi penting karena Indonesia merupakan salah satu produsen utama kakao dunia. Besar serta distribusi dampak tersebut diestimasi dengan mengembangkan suatu model komoditas kakao. Model komoditas kakao tersebut terdiri dari 13 submodel dan masing-masing submodel merepresentasikan sebuah negara produsen atau konsumen utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelaksanaan komitmen tersebut akan mendorong pertumbuhan areal produktif, produksi, dan harga kakao. Namun demikian, pelaksanaan kornitmen tersebut akan menurunkan secara marjinal tingkat konsumsi dan perdagangan. Lebih lanjut, manfaat positif dari pelaksanaan komitmen tidak terdistribusi secara proporsional. Indonesia merupakan salah satu negara yang diuntungkan, sedangkan Pantai Gading merupakan salah satu negara yang dirugikan.
Analisis Efisiensi Teknis Produksi Usahatani Cabai Merah Besar dan Perilaku Petani dalam Menghadapi Risiko nFN Saptana; Arief Daryanto; Heny K. Daryanto; nFN Kuntjoro
Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v28n2.2010.153-188

Abstract

EnglishThis study aims: (a) to analyze the factors that influence the production of great red chili farming, (b) to analyze major factors affecting the technical inefficiency of great red chili farming, and (c) to analyze the behavior of large red chili farmers in dealing with the risks of production and prices. Results showed that most variables, both technical and socio-economic variables in the model, had expected signs significantly. Some of the inputs reduced risk, such as use of seeds, fertilizer N, PPC and hired labor. Some other inputs generated. Average TE values either without or with entering element of risk were each of 0.83 and 0.82, but with different TE distribution. Total farmers achieving more than 0.80 of TE were (68.68%) without including the risks, and (71.71%) by incorporating risk. Great red chili farmers on prices were risk takers. It implies that the farmers with TE value less than 0.80 are the focused target of upgrading technical and managerial capabilities. Technology design and application in the future can be carried out by reducing excessive use of inputs and increasing limiting factors.IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk (a) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani cabai merah besar; (b) menganalisis faktor-faktor utama yang mempengaruhi in-efisiensi teknis dalam usahatani cabai merah besar; serta (c) menganalisis perilaku petani cabai merah besar dalam menghadapi risiko usahatani dan harga.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peubah baik yang sifatnya teknis maupun sosial ekonomi yang dimasukkan dalam model adalah memiliki tanda sesuai harapan dan sebagian signifikan. Beberapa input bersifat sebagai pengurang risiko seperti penggunaan benih, pupuk N, PPC, dan tenaga kerja luar keluarga, sedangkan beberapa input-input lainnya bersifat sebagai pembangkit risiko.  Rata-rata nilai TE baik yang tanpa maupun dengan memasukkan unsur risiko masing-masing sebesar 0,83 dan 0,82, tetapi dengan sebaran TE yang berbeda. Proporsi petani yang mencapai TE lebih dari 0,80 masing-masing sebesar (68,68%) tanpa memasukkan risiko dan (71,71%) dengan memasukkan risiko. Perilaku petani cabai merah besar terhadap harga adalah berani mengambil risiko (risk taker). Implikasi kebijakan penting adalah menjadikan petani dengan nilai TE kurang dari 0,80 dapat dijadikan fokus sasaran peningkatan kemampuan teknis dan kapabilitas manajerialnya. Perakitan dan penerapan teknologi kedepan dapat dilakukan dengan mengurangi penggunakan masukan yang berlebih dan meningkatkan masukan yang menjadi faktor pembatas peningkatan produksi cabai merah besar.
Analisis Biaya Sumberdaya dalam Negeri dan Kepekaannya pada Usaha Ternak Babi di Sumatera Utara Budiman Hutabarat; Bambang Winarso
Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v13n1.1994.61-75

Abstract

North Sumatera has exercised its comparative advantage in various forms of farm activities including pig raising undertaking. The paper aims to analyze the domestic resource costs and its sensitivity in pig farming in the province. Empirical data were obtained from six pig farming enterprises and eleven "small" pig farms closed to the location of each enterprise in Kabupaten Deli Serdang, Kotamadya Binjai, and Kotamadya Medan from March through April 1992. The research concludes that North Sumatera has comparative advantage in pig production for its domestic resource costs ratios are still below unity. The comparative advantage is even more significant in producing suckling pigs. The domestic resource costs ratios are more affected by pig prices than feed input prices, especially on weaned pigs. Between feed prices considered, corn price is more significant than concentrate price in determining the domestic resource costs ratios. Therefore, improving land productivity on corn to make it cheaper in the market especially for pig raising activities should be a continuing effort.
Social-Economic Reasons to Soil Conservation An Econometric Analysis on Cross-Sectional Lore Lindu Data Hermanto Siregar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v24n1.2006.1-20

Abstract

IndonesianKonservasi tanah memiliki peranan penting dalam menentukan keberlanjutan sektor pertanian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk mengkonservasi atau tidak mengkonservasi lahan pertaniannya. Penelitian ini menggunakan data primer sampel petani sawah di sekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Dari sampel tersebut, hanya 13,5 persen saja yang melakukan konservasi lahan. Di antara hasil penelitian ini, ditemukan bahwa ternyata konservasi lahan merupakan variabel endogenus, yang berarti keputusan petani untuk mengkonservasi (atau tidak mengkonservasi) lahan tergantung pada beberapa faktor. Faktor yang berpengaruh nyata di antaranya ialah jumlah output yang dihasilkan, persepsi kualitas lahan, jumlah anggota rumah tangga petani, dan usia petani. Dengan menggunakan pendekatan instrumental variable, ditemukan bahwa keputusan untuk mengkonservasi (atau tidak mengkonservasi) lahan berpengaruh nyata terhadap jumlah output yang dihasilkan. Output tersebut juga dipengaruhi oleh luas areal dan—dengan taraf signifikansi yang lebih lemah—oleh jumlah kredit. Agar usahatani berkelanjutan, pemerintah disarankan untuk menentukan batas-batas TNLL secara jelas, mengeluarkan sertifikat tanah, dan memperbaiki akses petani kepada kredit mikro. EnglishSoil conservation plays critical role on agricultural sustainability. The aims of this study are to analyze factors affecting farmers’ decision to conserve or not to conserve their farming land and to evaluate simultaneously effects of such decision on their output. The study uses data gathered from samples of wetland rice farmers in the surrounding area of the Lore Lindu National Park (LLNP). There are only 13.5 percent of the farmers undertaking soil conservation. Soil conservation is found to be an endogenous variable, implying that farmers’ decision to conserve (or not to conserve) depends on a number of factors. Among these factors, the significant ones are quantity of output produced, the perceived quality of farm land, farmer’s family size, and age of the farmer. Using the instrumental variable approach, it is found that the decision of whether or not to carry out soil conservation affects the output significantly. This output is also affected by acreage and, to a lesser significance level, by the amount of credit. The government is recommended to establish clear boundaries of the LLNP, issue proper land rights, and improve accesses to micro-credit in order to promote sustainable agricultural practices.
Government Policies and Economic Analysis of the Livestock Commodity System in Indonesia Faisal Kasryno; Pantjar Simatupang; I Wayan Rusastra; Arti Djatiharti; Bambang lrawan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v8n1.1989.1-36

Abstract

IndonesianPenelitian ini merupakan suatu usaha untuk meneliti keunggulan komparatif dan tingkat perlindungan/beban ekonomi untuk beberapa komoditas bahan baku pakan dan peternakan. Analisis keunggulan komparatif dilakukan dengan mempergunakan konsep rasio sumberdaya domestik, sedang tingkat perlindungan/beban ekonomi diukur dengan tingkat perlindungan nominal, tingkat perlindungan efektif dan subsidi implisit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi jagung di Indonesia lebih menguntungkan apabila dipakai untuk memenuhi kebutuhan domestik. Produksi kacang kedele di Jawa Barat ternyata tidak efisien. Kacang kedele mempunyai keunggulan komparatif apabila dihasilkan di Jawa Tengah dan di luar Jawa. Ubikayu dan beras mempunyai keunggulan komparatif yang tinggi di seluruh Indonesia. Produksi susu sangat tidak ekonomis. Sedangkan produksi daging sapi, babi dan ayam ras mempunyai keunggulan komparatif yang tinggi. Produksi telur lebih menguntungkan untuk konsumsi dalam negeri. Produksi telur mempunyai daya saing ekspor jika dihasilkan di Lampung dan Bogor. Struktur perlindungan komoditas secara umum tidak konsisten dengan efisiensi produksi komoditas. Insentif ekonomi cenderung bias untuk petani di Pulau Jawa.EnglishThis study is an investigation on comparative advantage and economic incentives of some major feed-stuffs and livestock products. The comparative advantage is analyzed using the domestic resource cost ratio criterion, whereas, economic incentive is measured using the nominal and effective protection rates, and implicit subsidy. The study shows that the corn production in Indonesia would be more beneficial economically if used domestically. The soybean production in West Java is not economical. The soybean only has comparative advantage if produced in Central Java and the islands outside Java. Cassava and rice have comparative advantage wherever they are produced. The dairy farming is highly uneconomical. Whereas beef, pork, and broiler productions are highly competitive, even for exportation. The egg production is more beneficial for domestic consumption. The egg production is competitive for exportation if produced in Lampung and Bogor. The commodities protection structures are generally in consistent with their economic efficiency configuration. The economic incentives are generally biased toward Java.
Dinamika Daya Saing Lada Indonesia Sri Hery Susilowati
Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v21n2.2003.122-144

Abstract

EnglishIndonesia is  one of the major producer contries of pepper (Piper Nigrum L) along with India, Brazil and Malaysia.  With the increase of  market competition among  them in international  market, Indonesia has to be able to increase  market  competitiveness of pepper exports againts  competitors.   The purpose of this study is to analize the competitiveness of  Indonesia pepper exports among the competitors in international market.  Time series data of 1985 – 2001 were  used and most the data came from  the International Pepper Statistic  Year Book. The results of analysis showed that for  all  analysis periodes,  Indonesia  exports competitiveness has increased  to three other  competitors, except for the first   periode (1985-1996),  which  India and Malaysia competitiveness is higher than  Indonesia. Market distribution effect showed that  USA,  MEE and Singapore markets are proper market for Indonesia pepper export. IndonesianDiantara negara-negara produsen lada dunia, Indonesia termasuk salah satu produsen utama dunia bersama-sama dengan India, Malaysia dan Brazil. Dengan meningkatnya kompetisi antara negara produsen, Indonesia dituntut untuk mampu mempertahankan daya saingnya di pasar internasional. Kajian ini bertujuan untuk menelaah posisi daya saing ekspor Indonesia relatif terhadap beberapa negara pesaingnya  di pasar lada dunia.  Data yang digunakan adalah data deret waktu periode 1985-2001 yang bersumber dari International Pepper Community Statistical Year Book. Dari hasil analisis dapat ditunjukkan bahwa untuk seluruh periode analisis, daya saing Indonesia mengalami peningkatan relatif terhadap tiga negara pesaingnya, kecuali pada periode awal (1985-1996) dimana daya saing India dan Malaysia mengungguli Indonesia. Pengaruh distribusi pasar menunjukkan bahwa pasar Amerika Serikat, MEE dan Singapore merupakan pasar tujuan yang tepat bagi ekspor lada Indonesia.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue