cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Perkiraan Dampak Kebijakan Proteksi dan Promosi terhadap Ekonomi Hortikultura Indonesia nFN Saptana; Prajogo Utomo Hadi
Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v26n1.2008.21-46

Abstract

EnglishTrade liberalization and economic crisis generate greater challenges in agricultural development in Indonesia. Despite the remaining high tariff rate on Indonesian agricultural products as stated in the WTO agreement, this country applied low import tariff rates of 0-5% during the 1998–2004 for almost all its agricultural products, except for rice and sugar which are increased to 25-30%. Since 1 January 2005, Indonesia applies higher tariff rates of 10-40% for a number of agricultural products, including horticultural products. Indonesia also launches policies to promote development of horticultural sector. This paper aims to analyze the impact of protection as well as promotion policies on horticultural economy both at macro and micro level. It is found that he protection policy in terms of increasing tariff rates from 5% to 25% for shallots and oranges would potentially increases wholesale price, producer price, production quantity, producer surplus and farm income, but reduces demand/ consumption, consumer surplus, import and government revenue from import tax. Impact of promotion policy in terms of improved distribution system if the subsidized fertilizers potentially reduces fertilizer cost by Rp 1.37 million for potato farm in Karo (North Sumatera), Rp 0.44 million for potato farm in Tabanan (Bali), and Rp 0.21 million for shallots farm in Majalengka (West Javat) per hectare per season, and by Rp 4.03 million for orange farm in Karo and Rp 1.56 million for mango farm in Majalengka per hectare per year. Meanwhile, import relaxation for potato seeds of french fries and Atlantic varieties is expected to increase production and export of processed products of potato. The future policy perspectives would be maintaining the existing tariff and promotion policies as well as deregulation and de-bureaucratization inclined towards the improved competitiveness of horticultural products and farmer’s income.  IndonesianLiberalisasi perdagangan dan krisis ekonomi menimbulkan tantangan yang semakin berat dalam pembangunan sektor pertanian di Indonesia. Meskipun komitmen tarif produk pertanian Indonesia dalam forum WTO masih cukup tinggi, selama kurun waktu 1998–2004 Indonesia menerapkan tarif impor 0-5 persen untuk hampir semua produk pertanian, kecuali beras dan gula yang dinaikkan menjadi 25-30 persen. Baru pada tanggal 1 Januari 2005, Indonesia mulai menerapkan kebijakan tarif relatif tinggi (10-40%) untuk beberapa produk pertanian termasuk hortikultura. Indonesia juga menempuh kebijakan promosi untuk pengembangan subsektor hortikultura. Tulisan ini bertujuan mengkaji dampak kebijakan proteksi dan kebijakan promosi terhadap ekonomi komoditas hortikultura di tingkat makro dan mikro. Dampak kebijakan proteksi berupa peningkatan tarif impor dari 5 persen menjadi 25 persen untuk bawang merah dan jeruk berpotensi meningkatkan harga grosir, harga petani, produksi, surplus produsen, dan pendapatan usahatani, tetapi mengurangi konsumsi, surplus konsumen, impor, dan penerimaan pemerintah dari pajak. Dampak kebijakan promosi berupa perbaikan sistem distribusi pupuk berpotensi menurunkan biaya pupuk per hektar per musim pada usahatani kentang di Karo (Sumatera Utara) dan Tabanan (Bali), masing-masing Rp 1,37 juta dan Rp 0,44 juta, usahatani bawang merah di Majalengka (Jawa Barat) Rp 0,21 juta, usahatani jeruk di Karo (Sumatera Utara) Rp 4,03 juta, dan usahatani mangga di Majalengka (Jawa Barat) Rp 1,56 juta. Sementara itu, pelonggaran impor bibit kentang varietas french fries dan Atlantik diharapkan akan meningkatkan produksi dan ekspor hasil olahan keripik kentang. Perspektif kebijakan ke depan adalah mempertahankan kebijakan tarif dan promosi, serta kebijakan deregulasi dan debirokratisasi yang di arahkan untuk meningkatkan daya saing produk hortikultura nasional dan pendapatan petani.
Profil Tebu Rakyat di Jawa Timur Muchjidin Rachmat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v11n2.1992.39-57

Abstract

IndonesianTulisan ini menggambarkan profil tebu rakyat di Jawa Timur melalui gambaran tentang pengusahaan lahan tebu, kategori pertanaman, sistim pengelolaan, tehnik budidaya, penyaluran hasil, tingkat produksi dan pendapatan usahatani. Kajian lebih mendalam tentang teknologi produksi dianalisa melalui analisa fungsi produksi. Hasil studi menunjukkan bahwa komoditas tebu telah berkembang diusahakan oleh rakyat dengan baik di Jawa Timur. Umumnya petani tebu tersebut adalah kelompok petani yang menggarap lahan lebih luas. Hasil analisa menunjukkan bahwa pengusahaan tebu cenderung ekstensif melalui berkembangnya tebu keprasan. Perkembangan tebu keprasan tersebut menghambat upaya peningkatan produktivitas tebu. Dalam pelaksanaan usahatani, petani cenderung mengarah kepada minimisasi biaya melalui pengeprasan berulang, pemakaian bibit pucuk yang lebih murah dan pengurangan tenaga kerja usahatani. Dan untuk mempertahankan bobot tebu petani lebih cenderung kepada peningkatan pemakaian pupuk N. Pelaksanaan tebu program terutama secara kooperatif masih merupakan media yang baik dalam introduksi teknologi baru. Dengan arah pengembangan tebu mendatang ke lahan tegalan, sangat diperlukan kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi kearah tersebut melalui temuan varietas tebu tegalan tahan keprasan berulang serta temuan teknologi budidaya tepat guna di lahan tegalan.
Faktor Penentu Tingkat Efisiensi Teknik Usahatani Cabai Merah di Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong Ketut Sukiyono
Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v23n2.2005.176-190

Abstract

EnglishThe purpose of this paper is to  determine factors influencing technical efficiency of red chili farming in Sub-District of Selupu Rejang, Rejang Lebong District. The analysis use frontier production function estimated using MLE estimation procedure assuming that Cobb-Douglas is a functional form of production function for red chili farming in the research area the estimation is based on technique. Cross sectional data set of 60 respondent selected using simple random sampling technique.  The research shows that most variables are significant and have expected  signs, except for TSP and labour which have  negative signs. The research also find that farmers operate between 7 percent to 99 percent of efficiency, are 65 percent on average. Furthermore, more than 65 percent of farmers are operated above 50 percent technical efficiency.  It is also found that only education has an expected sign and a significant impact on technical efficiency while land size was not even though it has a positive sign.  Furthermore, farmer’s age and experince have  unexpected signs, i.e, negative and insignifant impact on technical efficiency.IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknik usahatani cabai merah di Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong. Untuk tujuan ini, digunakan fungsi produksi frontier dan diduga dengan menggunakan metode MLE dengan mengasumsikan Cobb-Douglas adalah bentuk fungsional fungsi produksi cabai di daerah penelitian. Jumlah responden 60 orang dipilih secara acak dengan menggunakan metode acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peubah yang diikutkan dalam model adalah signifikan dan mempunyai tanda sesuai harapan, kecuali peubah TSP dan tenaga kerja yang mempunyai tanda negatif. Penelitian ini juga menemukan bahwa petani mempunyai efisiensi teknik antara 7 persen hingga 99 persen dengan rata-rata 65 persen. Hasil penelitian juga menemukan bahwa lama pendidikan mempunyai tanda sesuai harapan dan nyata pada taraf 95 persen, sementara ukuran usahatani tidak meskipun mempunyai tanda positif.  Lebih lanjut, faktor umur dan pengalaman petani mempunyai tanda negatif dan bukan merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat efisiensi teknik yang diperoleh petani.
Dampak Penurunan Hambatan dan Peningkatan Kemudahan Perdagangan Terhadap Produksi, Neraca Perdagangan Pertanian, dan Kesejahteraan Masyarakat Budiman F. Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v33n1.2015.73-89

Abstract

EnglishIn tandem with the effort of WTO that insists its members to cut their tariff, standardization, and in general, the non-tariff measures/NTMs have been gaining its role in today’s world agricultural and food trade. The objectives of this paper is to review information and data pertaining to NTM and trade facilitation imposed by Indonesia’s partner countries and investigate their impact on agricultural production and welfare. Based on GTAP Data Base Version 8.1, the paper concludes that Vegyfru (Vegetables, fruit, nuts) and Vegyoil (Vegetable oils and fats) production tend to increase, but for those of Oilseed, Othfoodpr (Food products nec) and Oth_sectors (Other sectors), some scenarios project to their increases and other scenarios show otherwise. Inspite of that all scenarios results in positive increases in welfare of Indonesians and world’s population between US$ 16 to 1,734 million. For Indonesia, improvement in trade facilitation in all regions would give the most benefits, relative to import tariff reduction done by partner countries or export tax/subsidy reduction done by all regions, including Indonesia. The paper suggests that Indonesia should actively follow the policy dynamics that relate to NTMs and trade facilitation applied by the partner countries on agricultural products’ tariff lines in terms of types, size, and its characteristics. By so doing, Indonesia would gain a deeper understanding on defensive and offensive trade and economic interests of each of its partner countries and its own.         IndonesianSeiring dengan pemotongan tarif secara menyeluruh di seluruh dunia yang digalakkan Organisasi Perdagangan Dunia (OPD), pembakuan, dan secara umum tindakan bukan-tarif/TBT atau non-tariff measures/NTMs, menjadi makin penting perannya dalam perdagangan pertanian dan pangan dunia saat ini. Tujuan makalah ini adalah mendapatkan informasi dan data tentang hambatan perdagangan bukan-tarif dan kemudahan perdagangan yang diterapkan negara-negara mitra dan dampaknya pada produksi pertanian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Hasil analisis dengan menggunakan Basis Data GTAP Versi 8.1 menunjukkan bahwa produksi Vegyfru (Vegetables, fruit, nuts) dan (Vegetable oils and fats), dan untuk Oilseed, Othfoodpr (Food products nec) dan Oth_sectors (Other sectors) beberapa skenario menunjukkan peningkatan, tetapi beberapa lainnya menunjukkan penurunan. Semua skenario yang dipertimbangkan memberi peningkatan kesejahteraan bagi Indonesia dan dunia, antara US$ 16 sampai US$ 1.734 juta dolar AS. Bagi Indonesia kebijakan peningkatan keefisienan perdagangan di seluruh dunia memberikan manfaat yang paling besar dibandingkan dengan kebijakan pemotongan tarif impor atau pemotongan tarif ekspor. Saran kebijakan yang dapat disampaikan antara lain Indonesia perlu secara aktif mengikuti perkembangan kebijakan yang menyangkut tindakan bukan tarif/TBT dari sisi jenis, besaran, dan sifatnya untuk setiap pos tarif komoditas pertanian yang lebih rinci yang dilakukan negara-negara mitra. Dengan demikian, pengetahuan yang mendalam tentang daya bertahan dan daya serang perdagangan suatu negara mitra dan Indonesia sendiri dapat diperoleh.
Penggunaan Bilangan Nol dalam Algorithma Matrik Linear Programming Yusmichad Yusdja
Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v19n1.2001.107-129

Abstract

EnglishHistorically, the general problem of linear programming was first developed and applied in 1947 by George B. Dantzig. Programming problems are concerned with the efficient use or allocation of limited resources to meet desired objectives. The linear programming model is simple in its mathematical structure along with the algorithm of linear algebra matrix, a systematic procedure for solving the problem. The application of linear algebra matrix is quite broad. However this algorithm is not without limitation of its own. The algorithm always assume the variables to be continuos; therefore, it is seriously limited. The complication fortunately is well taken care by an integer algorithm which yields only integer solution value. The main objective of this paper is to show the difference solution of linear programming between these algorithm.IndonesianLP atau linear-programming diperkenalkan oleh George B. Dantzig tahun 1947. LP merupakan alat analisis problem optimasi dari suatu fungsi linier dengan nilai variabel yang non negatif dan dibatasi oleh pembatas yang berbentuk suatu sistem persamaan linier juga. Model ini digunakan secara luas, karena kesederhanaan bentuk matematika dan metode penyelesaiannya. Algorithma yang digunakan dalam penyelesaian LP adalah MAL (Matrik Aljabar Linier), yang mempunyai keterbatasan yakni hanya dapat bekerja dalam sistem kontinu. Keterbatasan ini sangat serius. Pertanyaannya adalah apakah penyelesaian LP mendapat dukungan yang canggih dari algorithma MAL?. Oleh karena itu, perlu dikaji bagaimana penyelesaian LP, dengan asumsi diskontinu sebagai pembanding. Makalah ini menfokuskan diskusi pada keterbatasan atau asumsi yang digunakan oleh MAL dalam memecahkan solusi optimum LP, terutama asumsi kontinuitas tersebut. Tujuan utama dari makalah ini adalah memperlihatkan perbedaan penyelesaian optimum LP, antara algorithma kontinu dan diskontinu.
Supply of Rice and Demand for Fertilizer for Rice Farming in Indonesia Faisal Kasryno
Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v5n2.1986.27-42

Abstract

There is no available abstract from the Print Edition
Determinan Adopsi Sistem Tanam Benih Langsung (Tabela) dalam Pengkajian Sutpa (Kasus SUTPA di Propinsi Jawa Timur dan Lampung) Rachmat Hendayana; Handewi P. Saliem
Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v16n1-2.1997.61-75

Abstract

The research was undertaken on Direct Seeded Rice technology (Tabela) performance, particularly to test relevant factors affecting adoption of direct seeded rice. It was conducted in Lampung and East Java. The analysis of 120 agribusiness oriented rice based farming system (SUTPA) cooperator farmers was conducted by using logit model. The result shows that technology have the comparative advantage than transplanting metode in rice cultivation. Adoption of direct seeded rice influenced significantly by land ownership, cost of planting and maintenance, planting season, researcher or extention worker guidance and location. Based on the result, the Tabela technology is suitable to be developed in the region where there is a shortage of agricultural labor occure. It reduces labor and cost for planting and maintenanace which increase income of the farmers. However, the sosialization of direct seeded rice technology is still needed guidance from researcher and extension workers.
The Impact of Migration on the Rice Household Economy: A Case Study in Central Java, Indonesia I. P. Wardana; J. S. Luis; T. Paris
Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v26n1.2008.1-20

Abstract

IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak migrasi pria dan wanita terhadap kehidupan dan pemberdayaan wanita. Survei formal dilakukan pada 12 desa dari 4 kabupaten dan mencakup 7 desa sawah tadah hujan dan 5 desa sawah irigasi. Responden yang diwawancarai dalam survei terdiri dari 297 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa migrasi jangka panjang kebanyakan dengan tujuan luar negeri dan migrasi musiman kebanyakan dengan tujuan kota atau desa terdekat. Migran kebanyakan berasal dari rumah tangga dengan kepemilikan sawah kurang dari 0,25 hektar. Migran jangka panjang didominasi oleh anak laki-laki dan migran musiman didominasi oleh suami dan anak laki-laki. Tujuan dari migrasi jangka panjang adalah luar negeri sedangkan migrasi musiman adalah kota-kota di Jawa. Migran jangka panjang maupun musiman kebanyakan bekerja sebagai buruh bangunan. Penghasilan dari migran jangka panjang dan musiman berkisar 30-50 persen dari pendapatan rumah tangga. Migrasi berdampak negatif terhadap produksi padi di lahan irigasi berupa kelangkaan tenaga kerja. Akan tetapi, migrasi sangat penting bagi peningkatan pendapatan rumah tangga karena kontribusinya cukup besar. Ukuran rumah tangga, usia istri, dan aset rumah tangga berpengaruh positif terhadap kejadian migrasi, sedangkan usia suami, pendidikan suami, kepemilikan lahan, dan tenaga kerja upahan berpengaruh negatif terhadap kejadian migrasi.EnglishThis study aimed at assessing the impact of male and female migration on women empowerment and livelihood. Formal survey was conducted at 12 villages in four districts including 7 villages of rainfed and 5 villages of irrigated lowland areas. Two hundred and ninety seven of respondents were interviewed during the survey. Results of the study showed that prevalent migration is mostly long-term for international and seasonal for rural to rural/city migration. Distribution of household with migrant is dominated by those with land ownership size less than 0.25 hectare. Long-term migrants are mostly son of the family while seasonal migrants are both son and husband. Destination of permanent migrant is foreign countries while seasonal migrant works in cities of Java. Occupation of permanent and seasonal migrant is mostly as construction worker. Remittances of permanent and seasonal migrant is ranging from 30-50 percent of total household income. Migration has more prevalent negative effect on the production in irrigated environment because of the scarcity of labor. However, migration is important in household income because of the contribution of remittances. Household size, age of wife and household durables have positive effect on migration while age of husband, education of husband, size of land holding and hired labor have negative effect.
Pendugaan Permintaan Pangan Utama di Indonesia: Penerapan Model Almost Ideal Demand System (AIDS) dengan Data Susenas 1990 Muchjidin Rachmat; nFN Erwidodo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v12n2.1993.24-38

Abstract

This paper aims at presenting the estimation results of an Almost Ideal Demand System (AIDS) for main food namely, rice, corn, soybeans, sugar and other, using 1990's SUSENAS data. In addition to estimating the parameter from the pooled data, the demand parameters were also estimated regionally (urban and rural separately) as well as from household's income perspective. Moreover, the estimation was also undertaken using both individual household and group of household in particular block census as a sample unit. The results reveal that the budget share of rice is more than 80 percent of the total budget expenditure for food, very much higher compared to the budget share of corn (14.6%), sugar (12.6%), soybeans (2.2%) and other food (5.8%). Own price elasticity of rice is the highest among other food, that is 0.76, followed by corn (0.55), and sugar (0.54). Demand for food in rural area, with the exception for sugar, is more elastic than that in urban area. In general, there is a somewhat difference on demand elasticities between income groups. The results also show that the income elasticity of demand for food is elastic enough, indicating that the demand for food in the near future is expected to increase with the increases on household's income.
Analisis Kendala Penawaran dan Kebijakan Revitalisasi Produksi Padi Mohamad Maulana; Nizwar Syafa’at; Pantjar Simatupang
Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v24n2.2006.207-230

Abstract

EnglishDecreasing and decelerating production capacity of paddy have caused decreasing of estate capacity in food supply. This paper aims at describing production overview, problems and policy options to increase paddy production. Analysis methods uses in this study are cross tabulation and econometric model for projection. The results show that decreasing of paddy production growth rate was affected by: (a) decreasing of paddy’s planted/harvested? area, especially in Java and (b) stagnation or decreasing of land productivity. Based on historical tendency, and when the revitalization program of national rice industry is not effective, projection result shows that rice production will have negative growth rate during the period of 2006-2010 and import will increase during the same period. Government policy to increase production capacity in rice industry should be oriented to shift from price policy to focus on increasing capacity of production, i.e., (a) rehabilitation and extensification in irrigation infrastructure, (b) expansion of new land for paddy, and (c) acceleration of technology innovation, including revitalization of research and development and dissemination of agriculture innovation system along with deregulation and creation of conducive environment for private investors.IndonesianPenurunan dan deselarasi kapasitas produksi padi telah menyebabkan kemampuan negara dalam menyediakan pangan menurun. Kajian ini bertujuan untuk menyajikan dinamika produksi, masalah dan kendala, serta opsi kebijakan peningkatan produksi padi. Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah tabulasi silang dan model ekonometrika untuk menduga fungsi penawaran. Hasil analisis menunjukkan kecenderungan penurunan laju pertumbuhan produksi padi adalah akibat dari kombinasi: (a) penurunan luas baku lahan sawah, khususnya di Jawa, dan (b) kemandekan, bahkan penurunan produktivitas lahan. Berdasarkan kecenderungan historis dan bila program revitalisasi industri perberasan nasional tidak efektif, diperkirakan produksi beras akan mengalami pertumbuhan negatif pada periode tahun 2006-2010 dan Indonesia akan terpaksa mengimpor beras dalam jumlah yang semakin besar. Kebijakan pemerintah dalam meningkatan kapasitas produksi industri perberasan nasional harus diorientasikan dari fokus kebijakan harga ke peningkatan kapasitas produksi, melalui: (a) rehabilitasi dan ekstensifikasi infrastruktur irigasi; (b) pembukaan lahan sawah baru; dan (c) memacu inovasi teknologi, termasuk revitalisasi sistem penelitian dan pengembangan pertanian serta sistem diseminasi inovasi pertanian dengan deregulasi dan penciptaan iklim kondusif bagi investor swasta.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue