cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Dampak Konversi Jagung Sebagai Etanol di Pasar Dunia terhadap Ketersediaan Jagung di Indonesia Triana Dewi Hapsari; M. Muslich M.; Nuhfil Hanani AR; Rini Dwi Astuti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v27n2.2009.193-211

Abstract

EnglishRecently, the conversion of corn to etanol (biofuel) in international market is currently exist and has an impact on the availability of corn in Indonesia. This study aims at: (1) the analysis of behavior of domestic and international market of corn, (2) the effect analysis of corn conversion to ethanol at international market on corn availability in Indonesia, and (3) the formulation of policies to increase domestic corn availability. Using time series data of 1983-2006 and econometric model of simultaneous equations estimated by employing the 2SLS procedure, the study found that: (1) there is a linkage between domestic and international market of corn through import price variable, (2) corn conversion to ethanol decrease the domestic availability of corn but increase the production share of corn availability in Indonesia, and (3) fertilizer subsidy and import tariff policy would increase corn production to allow thye increase of corn domestic production share on corn availability. IndonesianAkhir-akhir ini di pasar dunia terjadi konversi jagung menjadi bahan bakar nabati (etanol) yang berdampak pada perdagangan jagung dunia dan ketersediaan jagung di Indonesia. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis perilaku pasar domestik dan pasar dunia jagung, (2) menganalisis dampak konversi jagung menjadi etanol terhadap ketersediaan jagung di Indonesia, dan (3) menyusun kebijakan untuk meningkatkan ketersediaan jagung di Indonesia. Dengan menggunakan data time series 1983-2006 dan model ekonometrik simultan yang diduga dengan prosedur 2SLS, dapat diketahui bahwa (1) terdapat keterkaitan perilaku antara pasar domestik dan pasar dunia melalui peubah harga impor jagung, (2) konversi jagung menjadi etanol di pasar dunia menurunkan ketersediaan jagung di Indonesia tetapi meningkatkan pangsa produksi domestik terhadap ketersediaan jagung, dan (3) kebijakan subsidi pupuk dan tarif impor mampu mendorong peningkatan produksi, sehingga  pangsa produksi domestik tehadap ketersediaan jagung meningkat.
Analisis Keunggulan Komparatif Komoditas Kopi Rachmat Hendayana; Budiman Hutabarat; Budi Santoso
Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v12n1.1993.9-28

Abstract

The share of Indonesian export in world coffee trade in the last five year (1986 to 1990) has grown at slow rate of 1.2 percent per annum. Ever since coffee export quota was frozen in 1989, Indonesian revenue from coffee trade has tended to decline as competition from other countries evolves. The paper investigates the competitive strength of Indonesian coffee produced by state-owned plantation (BUMN), private-owned plantation (PBS), and small-scale farmers (SSF). By applying Domestic Resources Cost Ratio (DRCR) it was concluded that: First, up until production stage, coffee farming by BUMN and PBS result in economic profits which are less than financial profits, while SSF incurs losses. Second, the first two types are relatively efficient in utilizing domestic resources with the values of DRCR at 0.68 and 0.75 respectively; meaning that the systems have comparative advantage in producing coffee bean, while SSF is not efficient with DRCR at 1.07. However, if ivestigation is done through processing stage, the analysis shows that both types are not efficient and, therefore, not competitive. DRCRs for both are 1.24 and 1.56, respectively. Third, it appears that price is the most important factor in determining the feasibility of cofee farming relatif to the price of production inputs such as fertilizer and labour wage. Fourth, in order to improve coffee processing in BUMN and PBS, some effort to deregulate industrial sector that produces machines, and other equipments that are needed in coffee processing activities, and in order to improve small-scale farms performance, extention effort to enhance agronomical and technological skill of farmers needs to be continued.
AFTA and its Implication to the Export Demand of Indonesian Palm Oil nFN Ernawati; nFN Fatimah; Moh. Arshad; Mad Nasir Shamsudin; Zainal A. Mohamed
Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v24n2.2006.115-132

Abstract

IndonesianMakalah ini mengkaji dampak perubahan kebijakan liberalisasi perdagangan (penurunan pajak ekspor dan tarif impor) terhadap permintaan ekspor minyak sawit Indonesia. Kajian ini menggunakan Error Correction Model. Pertama dilakukan simulasi model secara parsial dengan menurunkan pajak ekspor dan tarif impor berturut-turut 10, 30, 50 dan 100 persen. Simulasi berikutnya adalah menurunkan pajak ekspor dan tarif impor secara simultan berturut-turut 10, 30, 50 dan 100 persen. Hasil kajian menunjukkan liberalisasi perdagangan mengakibatkan harga minyak sawit dalam negeri meningkat dan harga pasar dunia menurun. Akibat penurunan pajak ekspor menyebabkan volume ekspor ke India, China, Eropa dan sisa negara dunia meningkat masing-masing 0,38; 3,77; 0,67; dan 4,63 persen. Pengurangan tarif impor menyebabkan volume ekspor ke negara tujuan yang sama meningkat masing-masing 0,25; 2,67; 0,49;, dan 2,96 persen. Sementara penurunan pajak ekspor dan tarif impor secara bersamaan mengakibatkan volume ekspor meningkat masing-masing 0,64; 6,23; 1,11; dan 7,35 persen.EnglishThis paper examines the impacts of trade liberalization policy changes (reduction in export duty and import tariff) on the export demand of the Indonesian palm oil. The study utilised an error correction model. The model is simulated by decreasing the export duty and import tariff individually by 10, 30, 50 and 100 percent. To see the combine effect both in export duty and import tariff were simultaneously reduced by 10, 30, 50, and 100 percent. The findings indicate that trade liberalization due to increase domestic price and reduce in world price.  Due to the reduction in export duty, the quantity exported to India, China, Europe, and ROW increased by 0.38, 3.77, 0.67 and 4.63 percent respectively. Reduction on import tariff on the exported-quantity to India, China, Europe, and rest of the world increased by 0.25, 2.67, 0.49, and 2.96 percent respectively. And export duty and import tariff reduction by 10 percent increased export to India, China, Europe, and ROW by 0.64,6.23, 1.12, and 7.35 percent, respectively.
Model Ekonomi dan Dampak Implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas Asean-Cina Bagi Perdagangan Gula Indonesia Rena Yunita Rahman; Bonar M. Sinaga; Sri Hery Susilowati
Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v32n2.2014.127-145

Abstract

EnglishGlobalization and unfair trade including that of sugar will affect Indonesia’s sugar industry. Implementation of ASEAN-Cina Free Trade Agreement will reduce and eliminate tariff and non-tariff barriers. Currently, domestic sugar production does not meet the high demand for sugar. This study aims to forecast the impact of economic policy in agricultural sector on the performance of Indonesian’s sugar trade for the periods of 2015-2020. Indonesian Sugar Trade Model was constructed as a simultaneous equations system and estimated using a 2SLS method with a SYSLIN procedure. The forecast simulation used a NEWTON method with a SIMNLIN procedure. Elimination of import tariff will increase consumer’s surplus higher than producer’s surplus decrease. However, the net surplus will decrease because government’s tariff revenue also drops. This study suggests that in order to increase consumer’s and producer’s welfare (net surplus) in ASEAN-Cina Free Trade Area, some policies are to implement are sugar import tariff reduction, farm-gate sugar price enhancement, sugar cane plantation expansion, and State Logistics Agency’s role improvement. IndonesianGlobalisasi dan perdagangan yang tidak fair, termasuk perdagangan gula, akan mempengaruhi pengembangan industri gula di Indonesia. Implementasi perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Cina diwujudkan dengan pengurangan dan penghapusan hambatan tarif dan nontarif. Kebutuhan gula di Indonesia belum mampu dipenuhi oleh produksi gula dalam negeri. Tujuan penelitian adalah meramalkan dampak kebijakan ekonomi di sektor pertanian dan faktor eksternal terhadap kinerja perdagangan gula Indonesia pada periode 2015-2020. Model Perdagangan Gula Indonesia dibangun sebagai sistem persamaan simultan dan diestimasi menggunakan metode 2SLS dengan prosedur SYSLIN. Simulasi peramalan menggunakan metode NEWTON dengan prosedur SIMNLIN. Penghapusan tarif impor gula akan meningkatkan surplus konsumen yang lebih besar dari penurunan surplus produsen tetapi net surplus menurun karena penerimaan pemerintah dari tarif impor juga menurun. Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan produsen dan konsumen gula (net surplus) dalam era perdagangan bebas ASEAN-Cina, maka kebijakan kombinasi penurunan tarif impor, peningkatan harga gula petani, peningkatan luas areal perkebunan tebu, dan penguatan peran Bulog dapat menjadi instrumen kebijakan yang tepat.
Elastisitas Konsumsi Kalori dan Protein di Tingkat Rumah Tangga Bambang Irawan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v20n1.2002.25-47

Abstract

EnglishFood consumption behavior expressed in food nutrients is one of major information required for formulation of food security policy at household level. This study reveals that calories and protein consumptions are inelastic to food prices and income changes. The highest price elasticity observed for rice price, means that price policy on rice is an appropriate way to maintain household's food security. Due to the shift of food consumption pattern induced by income increase, the protein consumption is more elastic than the calories consumption. The tendency is not condusive for augmentation of household's food security because : (1) The increase of purchasing power will lead to higher increase of protein consumption than calories consumption, while, sufficiency of protein consumption is higher than calories consumption, and (2) Budget allocation for food become inefficient since food prices per unit of calories and protein are more expensive. This indicates that the efficient effort of increasing household's food security through increasing of food accessibility should be supported with the extension program of food nutrient.IndonesianPerilaku konsumsi pangan yang diukur dalam nilai gizi makanan merupakan salah satu informasi penting yang dibutuhkan dalam merumuskan kebijakan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Penelitian ini mengungkapkan bahwa konsumsi kalori dan protein umumnya tidak elastis terhadap perubahan harga pangan dan pengeluaran pangan rumah tangga. Elastisitas harga paling besar terjadi pada harga beras, hal ini menunjukkan bahwa pengendalian harga beras merupakan kebijakan yang tepat dalam meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga. Akibat pergeseran pola konsumsi pangan yang dirangsang oleh peningkatan pendapatan, konsumsi protein umumnya lebih elastis dibandingkan konsumsi kalori. Kecenderungan demikian tidak kondusif bagi peningkatan ketahanan pangan rumah tangga karena: (1) Kenaikan daya beli rumah tangga akan meningkatkan konsumsi protein dengan laju lebih tinggi daripada kenaikan konsumsi kalori, padahal kecukupan konsumsi protein umumnya lebih baik daripada kecukupan konsumsi kalori, dan (2) Alokasi anggaran pangan rumah tangga menjadi tidak efisien karena harga pangan per unit kalori dan protein semakin mahal. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa peningkatan ketahan pangan rumah tangga secara efisien tidak cukup hanya ditempuh melalui peningkatan aksesibilitas pangan secara fisik dan ekonomik tetapi perlu didukung dengan program penyuluhan gizi makanan.
Keterbatasan Fungsi Keuntungan Cobb-Douglas dalam Pendugaan Elastisitas Permintaan Input, (Suatu Tinjauan atas Model dan Penerapannya di Sektor Pertanian) Achmad Suryana
Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v6n1-2.1987.19-28

Abstract

EnglishThe use of Cobb-Douglas profit function has been very popular to agricultural economists. This model, however, has a strict limitation. Estimates resulted by this model will always give elastic own price and output price demand elasticities for inputs, and negative cross price demand elasticities. In addition, magnitude of those elasticities follow a certain pattern. This paper shows those limitation mathematically and empirically.IndonesianPenggunaan fungsi keuntungan Cobb-Douglas sebagai salah satu metoda kuantitatif telah dikenal para peneliti ekonomi pertanian. Di dalam menduga elastisitas permintaan input, ternyata fungsi keuntungan Cobb-Douglas ini mempunyai keterbatasan. Hasil dugaan fungsi ini akan selalu memberikan elastisitas permintaan input atas harga sendiri dan harga output yang elastis, elastisitas silang yang selalu menunjukkan adanya hubungan komplementer antar input, serta besaran elastisitas silang terhadap harga input dan input tetap yang berpola. Tulisan ini menunjukkan keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada fungsi Cobb-Douglas ini secara matematik disertai bukti-bukti empirik.
Conjecturing Production, Imports and Consumption of Horticulture in Indonesia In 2050: A GAMS Simulation Through Changes in Yields Induced by Climate Change Budiman Hutabarat; Adi Setiyanto; Reni Kustiari; Timothy B. Sulser
Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v30n1.2012.1-23

Abstract

IndonesianPetunjuk perubahan iklim yang cepat saat ini telah diamati dan dibukukan secara meluas. Semua perubahan ini secara pasti akan menyebabkan kemerosotan jumlah dan mutu lahan, air, dan iklim mikro di tempat di pertumbuhan tanaman hortikultura. Selanjutnya, dapat diprakirakan produktivitas lahan dan hortikultura akan menurun. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh yang dipicu perubahan ini pada produksi, impor, dan konsumsi produk hortikultura. Penelitian ini menggunakan pendekatan model keseimbangan parsial pasar-jamak dalam kerangka simulasi. Semua hasil-hasil simulasi IFPRI memprakirakan bahwa produktivitas kelompok buah (pisang dan jeruk) dan sayuran (cabai dan bawang merah) meningkat dibandingkan keadaan baseline. Demikian pula, apabila perbandingan dilakukan terhadap hasil skenario tidak terjadi perubahan iklim (NoCC), kesimpulan yang berbeda akan diperoleh. Pada tahun 2050, model ini memberikan petunjuk yang berlainan dengan hasil literatur dan hipotesis yang menyatakan bahwa produksi, impor, dan konsumsi terhadap hortikultura akan menurun. Sebaliknya model mengantisipasi bahwa produksi pisang, jeruk, cabai, dan bawang akan meningkat di perdesaan Jawa dan Luar-Jawa. Namun, hasil-hasil ini harus ditafsirkan secara hati-hati berhubung kesulitan penarikan kesimpulan atas pengaruh perubahan iklim terhadap komoditas hortikultura yang berlaku secara umum, karena komoditas hortikultura jumlahnya beribu-ribu dengan sifat masing-masing yang khas. Untuk itu kajian dan penelitian yang intensif dan menyeluruh sangat diperlukan karena perubahan iklim bukanlah fenomena jangka pendek seumur tanaman, tetapi bersifat jangka panjang. Dalam kaitannya dengan indikator perdagangan, simulasi memberikan hasil yang sama bahwa impor pisang, jeruk, cabai, dan bawang akan meningkat, tetapi impor kedua komoditas terakhir tidak besar. Skenario CSIRO_A1b, CSIRO_B1, dan MIROC_A1b memproyeksikan konsumsi nasional agregat pisang, jeruk, cabai, dan bawang  akan menurun dengan perubahan iklim, tetapi meningkat menurut Skenario MIROC_B1 . Namun, terlihat ada perbedaan konsumsi komoditas-komoditas ini antarwilayah. Konsumsi rumah tangga di Jawa menurun pada 2050, penurunan ini akan sangat terasa pada keluarga miskin di Jawa. Sementara itu, konsumsi semua kelompok rumah tangga di Luar Jawa meningkat, kecuali menurut Skenario MIROC_A1b dan Skenario CSIRO_B1, di mana konsumsi keluarga miskin di Luar Jawa menurun. Makalah menyarankan agar penelitian perakitan kultivar yang dapat menyesuaikan diri dan tahan kekeringan dan juga teknik-teknik penghematan air yang sesuai untuk tanaman hortikultura atau penggunaan air secara efisien perlu ditingkatkan. Teknologi-teknologi semacam ini sangat dibutuhkan saat ini. Cara-cara penyebarluasan atau pengkomunikasian kultivar-kultivar dan teknologi-teknologi di atas ke pihak petani kecil juga perlu digali lagi agar mereka dapat memanfaatkannya. EnglishIndication of Earth’s changing climate with rapid pace currently present time has been observed and extensively documented. All these changes will undoubtedly lead to deterioration in quantity and quality of land, water, and micro-climate where the horticultural crops are grown. Subsequently, it can be anticipated that land and horticultural productivity will be depreciated. The purpose of this paper is to investigate the impact of this induced change in these horticultural crops on the production, imports, and consumption of these crops. This study adapts a multimarket model of partial equilibrium analysis to a simulation framework. All scenarios adopted by the IFPRI study predict that the yields of fruit crop group (bananas and oranges) and vegetables (chilies and shallots) would increase compared to the baseline scenarios. But by making comparison to no climate change (NoCC) scenario after simulating it from the baseline, mixed conclusions are obtained. For 2050, the model anticipates increases in the production of bananas, oranges, shallot, and chilies by rural households in Java and Off-Java. These findings have to be interpreted cautiously, because it is extremely difficult to make a general conclusion about the impact of climate change on horticulture for the fact that horticulture consists of thousands of crops, of which each of them has unique characteristics. More intensive and comprehensive studies are still required because climate change is not a short-term phenomenon of crop-cycle. In regard to net trade indicators, this study foresees that bananas, oranges, chilies and onions imports would grow but the rate of growth of chilies’ and onions’ imports are not significant. National consumption of bananas, oranges, chilies and shallot are projected to fall under Scenarios CSIRO_B1 and MIROC_A1b but it increases under Scenario MIROC_B1. However, there would be disparities in consumption of bananas, oranges, chilies and shallot among regions. Java households will experience decreases in consumption in 2050, whereas Java–poor households would suffer the most. On the other hand almost all types of Off-Java households will enjoy a positive rate of consumption changes, with the exception being the results of Scenario MIROC_A1b and Scenario CSIRO_B1 for Off-Java–poor households, which indicate a decrease in consumption. This paper recommends that more researches on assembling cultivars adaptable or tolerable to drought as well as appropriate technologies to conserve water for horticultural crops and to use the limited amount of water efficiently  are in high demand today. Best means to disseminate or communicate these cultivars and technologies to smallholding horticultural-farmers ought to be explored.
Sebuah Catatan Tentang Definisi Petani Besar dan Kecil Soekartawi, nFN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v3n2.1984.11-17

Abstract

IndonesianArtikel ini menyuguhkan ‘cara baru’  bagaimana membuat batasan usahatani ‘besar’ dan ‘kecil’ sebagai usaha untuk memperbaiki ‘cara lama’ (yang biasanya dipakai dengan mendasarkan diri pada batasan nilai tengah atau rata-rata luas usahatani). Model non linear regression di pakai pada cara baru tersebut dan hasilnya ternyata berbeda bila dibandingkan dengan cara lama. Keunggulan cara baru ini adalah mampu di pakai untuk memisahkan usahatani besar dan kecil secara lebih baik berdasarkan masing-masing teknologi yang ada pada kelompok usahatani tersebut dan berdasarkan distribusi luas usahatani yang ada. Sedangkan kelemahan cara baru ini adalah bila paket regresi non-linear belum tersedia di komputer di Indonesia, maka ia tidak dapat dikerjakan. Implikasi dari cara ini adalah pemberian batasan tentang petani atau usahatani besar dan kecil yang keliru akan menghasilkan implikasi  kebijaksanaan yang keliru pula.
Dampak Kebijakan Input, Output, dan Perdagangan Beras terhadap Diversifikasi Pangan Pokok Setiawan, Edi; Hartoyo, Sri; Sinaga, Bonar M.; Hutagaol, M. Parulian
Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v34n2.2016.81-104

Abstract

EnglishAs one of the five most populous countries in the world, Indonesia has a big challenge to meet the food needs of its people. Food diversification has long been an important agenda of the national agricultural development planning program, but the achievement, however, remains disappointing. This paper aims to analyze the impacts of rice input, output and trade policy on diversification of major staple food consumption and production. This study analyzes four main staple foods, i.e. rice, maize, cassava, and wheat using national series data for the period of 1981-2013. The System of Simultaneous Equations Model consisting of 22 structural equations and 31 identity equations were estimated using a Two-Stage Least Square method. The results show that single policy instrument of reducing fertilizer and seed subsidies and increasing the government purchasing price policy increase diversification of food consumption and production. Increasing rice import tariff is not effective to improve either consumption nor production diversification, but rice import ban could improve consumption diversification. Increasing the government purchasing price is not quite effective as the compensation for the fertilizer subsidy reduction. The fertilizer subsidy reduction policy should be conducted gradually. Seed subsidy reduction combined with rice import ban is considered as an alternative to the existing policy. IndonesianSebagai salah satu dari lima negara dengan penduduk terbesar di dunia, Indonesia mempunyai tantangan cukup besar dalam pemenuhan konsumsi pangan penduduknya. Diversifikasi pangan sudah lama menjadi salah satu agenda penting dalam program nasional pembangunan pertaniani namun pencapaiannya masih jauh dari yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan input, output, dan perdagangan beras terhadap diversifikasi produksi dan konsumsi pangan pokok yaitu, beras, jagung, ubi kayu, dan terigu, untuk data tingkat nasional tahun 1981–2013. Penelitian ini menggunakan model persamaan simultan, terdiri atas 22 persamaan struktural dan 31 persamaan identitas yang diestimasi dengan metode Two Stage Least Square (2SLS). Hasilnya menunjukkan bahwa kebijakan tunggal baik pengurangan subsidi pupuk dan benih, maupun kebijakan menaikkan Harga Pembelian Pemerintah mampu meningkatkan diversifikasi produksi dan konsumsi pangan pokok. Kebijakan tarif impor beras tidak efektif untuk meningkatkan diversifikasi konsumsi dan produksi pangan pokok, tetapi kebijakan pelarangan impor dapat meningkatkan diversifikasi konsumsi pangan. Kebijakan peningkatan harga pembelian pemerintah terbukti kurang efektif sebagai kompensasi pengurangan subsidi pupuk. Kebijakan pengurangan subsidi pupuk harus diterapkan secara bertahap. Pengurangan subsidi benih yang disertai dengan pelarangan impor dapat menjadi kebijakan alternatif saat ini.
Keuntungan Komparatif Usahatani Ubikayu di Daerah Produksi Utama di Lampung dan Jawa Timur Suryana, Achmad
Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v1n1.1981.37-55

Abstract

IndonesianTanaman ubikayu mempunyai dua peranan, yaitu sebagai tanaman pangan dan tanaman perdagangan. Produk ubikayu berupa gaplek, pelet, dan tapioka merupakan komoditi ekspor yang menempatkan Indonesia pada urutan kedua setelah Thailand sebagai negara pengekspor ubikayu. Permintaan gaplek di pasar intemasional selama 10 tahun terakhir meningkat pesat terutama dari negara-negara MEE, tetapi Indonesia tidak sempat memanfaatkannya. Penyebabnya adalah elastisitas penawaran rendah karena pengelolaan usahatani ubikayu rakyat masih subsisten. Hal ini tercermin dari produksi ubikayu yang tidak mengalami kenaikan pada 10 tahun terakhir. Penyebab lainnya adalah permintaan ubikayu untuk bahan baku industri dalam negeri meningkat dan sebagian besar produksi ubikayu digunakan sebagai bahan pangan. Masalah pengembangan komoditi memang banyak, tetapi dapat kita golongkan pada dua macam masalah pokok, yakni: Potensi pengadaan dilihat dari segi biaya produksi dan sumberdaya yang tersedia.Kemampuan sistem tataniaga, yang harus tercermin pada kemampuan sistem itu memberikan respon terhadap perubahan permintaan pasar, di dalam maupun luar negeri.Penelitian ini mencoba menemukan jawaban atas sebagian dari permasalahan pertama. Daerah Lampung dan Jawa Timur dipakai sebagai daerah penelitian karena kedua daerah ini merupakan propinsi utama penghasil ubikayu di Jawa dan luar Jawa.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue