cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Dinamika Diversifikasi Sumber Pendapatan Rumah Tangga Perdesaan di Berbagai Agroekosistem Sri Hery Susilowati
Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v35n2.2017.105-126

Abstract

EnglishEmpirical evidence indicates that diversification does not always increase income level. It depends on the reasons or motivation for diversification. Economic and social problems arise if diversification is based on resource constraints. This study aims to analyze the level, direction, and determinants of income diversification of rural households. The study used micro panel data of rural households in some provinces in Indonesia. Diversification level was measured using an entropy index. The results show that agricultural sector remains the dominant income source for rural households in all agroecosystems. Diversification indices increase in all agro- ecosystems. Dry-land plantation agroecosystem has the smallest diversification index, while the highest is found in wetland followed by dry-land crop and vegetable agroecosystems. Income diversification level is influenced by household head’s age and educational level, number of working female and male household members, land occupation, household asset value. To increase income source diversification, it is necessary to improve farmers' resource capacity through education and skill enhancement, access to land utilization, capital and other productive assets as well as better quality and access to basic services and economic infrastructures.IndonesianFakta empiris menunjukkan bahwa diversifikasi tidak selalu meningkatkan pendapatan, tergantung pada latar belakang atau motif berdiversifikasi. Permasalahan ekonomi dan sosial timbul jika diversifikasi didasarkan pada keterbatasan sumber daya (push factor). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat dan arah perubahan diversifikasi, keterkaitan antara diversifikasi dan pendapatan, serta faktor-faktor yang memengaruhi diversifikasi sumber pendapatan rumah tangga. Penelitian menggunakan data panel mikro rumah tangga perdesaan di beberapa provinsi di Indonesia. Tingkat diversifikasi dianalisis menggunakan indeks entropi, sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi diversifikasi menggunakan model linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan sektor pertanian masih tetap sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga di semua agroekosistem. Peningkatan diversifikasi terjadi di semua agroekosistem.  Agroekosistem kebun memiliki indeks diversifikasi terkecil; terbesar pada agroekosistem sawah, diikuti dengan lahan kering palawija dan sayuran. Pola diversifikasi mengarah ke spesialisasi pertanian maupun berdiversifikasi ke nonpertanian. Faktor internal rumah tangga petani yang memengaruhi tingkat diversifikasi, di antaranya umur kepala keluarga, pendidikan kepala keluarga, jumlah anggota rumah tangga bekerja wanita, jumlah anggota rumah tangga bekerja pria, luas garapan, dan nilai aset rumah tangga. Untuk meningkatkan diversifikasi sumber pendapatan yang berorientasi pada peningkatan pendapatan rumah tangga, diperlukan peningkatan kapasitas sumber daya petani melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan, perbaikan akses penguasaan lahan, fasilitasi permodalan dan aset produktif lainnya, serta  peningkatan kualitas dan akses terhadap pelayanan dasar dan infrastruktur ekonomi.
Dampak Era Globalisasi Ekonomi terhadap Usaha Ternak Sapi Perah: Kajian Peluang, Kendala dan Strategi Pengembangan Made Oka Adnyana; Sudi Mardianto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v15n2.1996.54-75

Abstract

Free market and international investment in the global economic environment will also influence milk cow business in Indonesia especially farmers that mostly use imported component of feed. Meanwhile, price of milk in the world market tend to decline due to reduction of import tariff policy imposed by the goverment. Only efficient production system that can increase the competitiveness of lndonesia milk cow business in the world market. Otherwise, the volume of import will continuously increases. This study is aimed to investigate the competitiveness, constraints and prospect as well as the development strategies of milk cow business in Indonesia. A case study has been conducted in East Java. Financially, milk cow business in East Java has benefited farmers with return and cost ratio (R/C = 1.43). A policy to push milk production may be considered to meet the domestic demand or at least partially substitute the imported milk. This optimism is indicated by the domestic resource cost ratio (DRCR = 0.813 ). On the other hand, the impact of price policy on input and output and market distortion exist in this agribusiness has clearly provide economic incentive to the farmers to increase their milk production. This circumstances indicated by an indicator of effective protection coefficient (EPC = 1,4499). In other world about 45 percent of added value will be distributed to farmers. By utilizing the domestic market potential, intensive insemination program and increase of business efficiency, the milk industry in Indonesia has a very prospective future. However, monopsony market structure, very weak farmer's capital position, and unwell insemination program implementation among production areas are become a set of constraints that need policy action to increase the performance of milk cow business in Indonesia. Thus, the future development strategies needed are: (1) increase the quality and productivity via technology improvement especially feed and business management. In the short run, deregulation on the other hand, particularly market structure must be taken into action.
Market Dependency and Household Food Consumption in East Java, Indonesia Erna Maria Lokollo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v19n2.2001.17-35

Abstract

IndonesianTujuan utama penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan diantara konsumen di daerah pedesaan dan perkotaan dalam mengkonsumsi bahan makanan utama, dan terutama menelusuri seberapa jauh konsumsi di masing-masing lokasi (desa dan kota) tergantung pada uang tunai dan pasar (cash or market dependency) untuk pemenuhan konsumsi bahan makanan tersebut. Data dianalisis dari SUSENAS 1993, BPS, Provinsi Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan akan uang tunai dan pasar berhubungan erat dengan jumlah konsumsi bahan makanan yang akan dibeli. Terdapat perbedaan nyata antara konsumen di daerah pedesaan dan perkotaaan, dimana konsumen di pedesaan memiliki angka ketergantungan uang tunai dan pasar yang lebih rendah daripada konsumen di perkotaan. Asumsi lama dan klasik yang menyatakan bahwa penduduk di pedesaan kebanyakan adalah petani subsisten (yang dapat memproduksi untuk dikonsumsi sendiri) sudah tidak berlaku lagi. Walaupun demikian masih didapati bahwa seringkali rumahtangga di pedesaan menjual bahan makanan berkualitas lebih baik yang diproduksinya, sehingga uang hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk membeli kualitas yang lebih rendah, yang berarti memaksimumkan konsumsi dari segi kuantitas. Hasil penelitian ini menyiratkan pentingnya pengambil keputusan menyadari perbedaan antara penduduk desa dan kota tersebut.  Studi semacam ini apabila ditunjang oleh studi perilaku marketed dan marketable surplus dapat membantu pembuat kebijaksanaan di bidang pengadaan dan distribusi pangan. Studi ini juga membantu memperjelas adanya perilaku ketergantungan pada uang tunai dan pasar yang berbeda pada rumahtangga di daerah desa dan perkotaan.EnglishThe general purpose of this study was to examine the differences between rural and urban consumers in how they acquire the food they consume and, in particular, to determine how much consumers in each location depend on cash for procuring the food they consume. The quantity of food purchased was modeled as a function of cash dependency, household income, household size and prices. Data were taken from the 1993 Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) in East Java, conducted by the Biro Pusat Statistik - BPS (Central Bureau of statistics), Indonesia. The results of this study indicate that the cash dependency for all food categories examined was significantly related to the quantities purchased of the foods (cereals, tubers, vegetables, fruits). Significant differences in cash dependency were also found between rural and urban consumers, with rural consumers having lower food cash dependency ratios than urban consumers. Perhaps the most surprising discovery was that the vast majority of rural consumers also depend on cash for acquiring food. The old assumption that mostly people in the rural areas in Indonesia are subsistence farmers (consume what they own produce) is no longer hold. The data from the survey shows that there are less and less subsistence farming exists in the area (East Java). The maintenance of subsistence farming may, indeed, be of strategic importance for the satisfaction of basic needs and the survival of rural households. When production from own sources is inadequate to meet the consumption needs, the households concerned may sell superior food (i.e., superior cereals or superior varieties) they produce, so as to maximize their purchasing power with which they can purchase inferior cereals and meet their own needs - thus maximizing their consumption at least in quantity. This study stresses the importance of using household consumption data in the making of public policy (food policy). They are important in that the implementation of policy will affect large number of people. lt even will affect rural and urban consumers differently. This study combined with a study of behavior of marketed and marketable surplus can be significant help in designing a system of procurement and public distribution. This study also can help in understanding the behavior of purchase of food by farmers in different areas.
Pola Konsumsi Pangan Rumah Tangga di Provinsi Jawa Barat Astari Miranti; Yusman Syaukat; nFN Harianto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v34n1.2016.67-80

Abstract

EnglishFood issue, including food security issue, is a part of agriculture concern. One way to overcome the problems of food is to diversify household food consumption. How household decide their food consumption is depending on their food share allocation pattern and food demand. Objectives of this research are (1) to analyze household food share allocation pattern in West Java Province, and (2) to analyze household food demand in West Java Province. This research used secondary data, i.e. Susenas (National Socio-Economic Survey) in 2015. The study found that household income is still low. Most urban households consume cooked food and beverages, while most rural households consume grains. Changes in income and food prices will not significantly affect the household's demand for food because almost of all variables are basic commodities (inelastic goods) for households in West Java Province.IndonesiaPermasalahan pangan, termasuk isu ketahanan pangan, merupakan bagian dari permasalahan pertanian. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan pangan adalah dengan melakukan diversifikasi pangan. Konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pola alokasi pengeluaran pangan dan permintaan pangan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis pola alokasi pengeluaran pangan rumah tangga di Provinsi Jawa Barat dan (2) menganalisis elastisitas harga dan pendapatan rumah tangga di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data Susenas tahun 2015. Penelitian ini menemukan bahwa pendapatan rumah tangga di Provinsi Jawa Barat masih rendah. Rumah tangga di perkotaan paling banyak mengeluarkan konsumsi pangan untuk kelompok makanan dan minuman jadi, sedangkan rumah tangga perdesaan pada kelompok padi-padian. Perubahan pendapatan dan harga pangan tidak memengaruhi permintaan pangan secara signifikan karena hampir semua variabel yang digunakan merupakan barang pokok (barang inelastis) bagi rumah tangga di Provinsi Jawa Barat.
Urea dan TSP di Indonesia dalam Analisis Permintaan Kuantitatif Johan Dharmawan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v1n2.1982.1-27

Abstract

IndonesianPola permintaan pupuk Urea dan TSP didekati dengan model-model ekonometrik yang mencari hubungan antara jumlah konsumsi pupuk Urea dan TSP dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pengetahuan yang baik mengenai faktor-faktor yang dapat memacu perluasan penggunaan pupuk beserta kendala-kendalanya akan berguna untuk mewujudkan pengembangan pemasaran pupuk yang efisien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa irigasi merupakan faktor yang dominan dalam menerangkan keragaman permintaan pupuk Urea dan juga pupuk TSP. Di samping itu, faktor irigasi memiliki elastisitas permintaan yang tinggi, yang memungkinkannya menjadi peubah (variabel) kebijaksanaan yang efektif. Untuk permintaan pupuk Urea, kontribusi keragaman faktor irigasi tercatat 56.47 persen dengan nilai elastisitas permintaan 63 persen (model 3). Untuk permintaan pupuk TSP, kontribusi faktor irigasi tercatat 39.62 persen dengan nilai elastisitas permintaan 54 persen (model 2). Perbaikan dan perluasan areal irigasi akan memungkinkan peningkatan areal intensifikasi Bimas dan lnmas yang nyata mempengaruhi permintaan pupuk Urea dan TSP. Faktor rasio harga pupuk terhadap harga padi, nyata mempengaruhi permintaan pupuk Urea dan TSP; demikian pula faktor tingkat pengetahuan teknis petani. Curah hujan musiman tidak nyata mempengaruhi permintaan pupuk Urea maupun pupuk TSP. Penelitian yang bersifat mikro dengan data primer disarankan dilakukan untuk melengkapi gambaran permintaan pupuk Urea dan TSP di Indonesia.
Abstrak Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris nFN nLN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status dan Determinan Pendapatan Petani Agroforestri di Lingkungan Taman Nasional Gunung Ciremai nFN Suyadi; nFN Sumardjo; Zaim Uchrowi; Prabowo Tjitropranoto; Dewa Ketut Sadra Swastika
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v36n1.2018.71-89

Abstract

EnglishRural communities in Gunung Ciremai National Park (GCNP) are generally low income farmers. Farms that have long been adopted agroforestry farming systems through inter generation legacy. The existing agroforestry technology applied by the farmers remains the simple traditional technology, so that the crops yields and income are low. Understanding the determinants of farmers’ income is useful in formulating the appropriate policy for increasing farmers’ income. This study was aimed to analyze the level and determinants of  the  agroforestry farmers income in GCNP. This research was conducted in Kuningan and Majalengka Regency, West Java Province,  in July to October 2017. The data was collected by interviewing 310 agroforestry farmers which were selected using the cluster random sampling technique with clusters consisted of the locations of farmer groups from agroforestry in the GCNP buffer zone. The data was analized using descriptive statistics and regression inferential statistics. The results show that the income of agroforestry farmers was low because of low agroforestry farmers’ capacity, weak extension support and weak leadership role of  informal leaders. Supports of the forestry extension service and informal leaders' leadership roles are needed for enhancing the agroforestry farmers’ capacity  in increasing their income.IndonesianMasyarakat perdesaan di lingkungan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) umumnya adalah petani kurang sejahtera yang telah lama menekuni agroforestri turun-temurun. Penerapan teknologi pada sistem usaha tani agroforestri masih sederhana sehingga produktivitas tanaman masih rendah yang berdampak pada rendahnya pendapatan. Berbagai faktor dapat memengaruhi tingkat pendapatan petani agroforestri, sehingga perlu diungkap faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besaran dan determinan pendapatan petani agroforestri di lingkungan TNGC. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat pada bulan Juli sampai Oktober 2017. Data diperoleh dari 310 orang petani yang dipilih berdasarkan cluster random sampling dengan klaster lokasi kelompok tani agroforestri di desa penyangga kawasan TNGC. Data dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif dan statistik inferensial regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani agroforestri di lingkungan TNGC rendah karena rendahnya kapasitas petani agroforestri, lemahnya dukungan penyuluhan kehutanan, dan lemahnya peran kepemimpinan tokoh informal. Dukungan penyuluhan kehutanan dan peran kepemimpinan tokoh informal perlu ditingkatkan agar petani agroforestri memiliki kapasitas yang memadai dalam  meningkatkan  pendapatan mereka.
Analisis Volatilitas Harga Cabai Keriting di Indonesia dengan Pendekatan ARCH GARCH Rizka Amalia Nugrahapsari; Idha Widi Arsanti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v36n1.2018.25-37

Abstract

EnglishChili includes a strategic commodity in Indonesia because of its high price volatility that makes it a major determinant of national inflation dynamics. The government always tries to improve its capability in implementing the chili price stabilization policy. The objective of the study is to assess the volatility of curly chili price volatility in Indonesia by using the ARCH GARCH approach with daily price data of January 2011 to December 2015. The results showed that the right model to calculate chili price volatility is ARCH (1). The price volatility was low and price movement was only influenced by the volatility in the previous day, not by the price variant, so the chili price volatility in the future will be smaller. Low volatility indicates that demand and supply characteristics were predictable. Price changes gradually and predictable. Farmers’ protection policy through import restrictions improves stability of domestic supply. The policy reduces the risk of drastic decline in prices due to imported chili, so the price volatility of chili in the period 2011–2015 was lower than the previous period. However, the seasonal price variation remains. Therefore, the policy should be supported with all season chili availability assurance.IndonesianCabai termasuk komoditas strategis di Indonesia karena harganya volatil sehingga menjadi salah satu penentu utama dinamika inflasi nasional. Untuk itu, pemerintah senantiasa berusaha meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan kebijakan stabilisasi harga cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji volatilitas harga cabai keriting di Indonesia dengan pendekatan ARCH GARCH dan data harga harian cabai keriting periode Januari 2011 hingga Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang tepat untuk menghitung volatilitas harga cabai keriting adalah ARCH(1). Hasil pendugaan model menunjukkan volatilitas harga cabai keriting rendah dan pergerakan harga hanya dipengaruhi oleh volatilitas pada satu hari sebelumnya, tidak dipengaruhi varian harga, sehingga diperkirakan volatilitas harga cabai keriting di masa datang akan semakin kecil. Volatilitas yang rendah menunjukkan karakteristik waktu permintaan dan penawaran cabai keriting dapat diprediksi. Perubahan harga terjadi bertahap dan dapat diperkirakan. Kebijakan perlindungan petani melalui pembatasan impor cabai menyebabkan penyediaan cabai di dalam negeri menjadi lebih stabil. Kebijakan ini mengurangi risiko penurunan harga secara drastis akibat masuknya cabai impor, sehingga volatilitas harga cabai pada periode 2011–2015 lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Namun, masih terdapat variasi harga musiman. Oleh karena itu, kebijakan ini perlu diperkuat dengan upaya jaminan sediaan cabai sepanjang musim.
Analisis Efisiensi Produksi Bawang Merah di Kabupaten Pati dengan Fungsi Produksi Frontier Stokastik COBB-DOUGLAS Eka Nurjati; Idqan Fahmi; Siti Jahroh
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v36n1.2018.55-69

Abstract

EnglishPati includes the prospective regencies for accelerating the growth rate and area diversification of shallot production in Central Java. However, the shallot production and productivity in Pati were unstable with a decreasing trend in recent years. The objective of this study is to evaluate the status and determinants of the shallot production efficiency using the Cobb-Douglas stochastic frontier production function. The research was conducted in three production centers sub-districts, Wedarijaksa, Batangan, and Jaken, in October 2017. The primary data were collected by interviewing 33 respondents which were selected through the stratified sampling technique. The results indicated that shallot farmers were efficient technically, but not economically and allocatively. Two significant determinants of the technical efficiency were the length of farming experience (positively related) and farmers’ age (negatively related). The farmers group membership and access to extension services were not significant, but both have positive effects on technical efficiency. Production efficiency may be increased through inputs use optimization that include reducing of anorganic fertilizer, increasing the quantity of organic fertilizer and seed, using of the true shallot seed and implementation of Integrated Pest Management. Improving the functions of agriculture extentions and farmers’ groups should also enhance shallot farming efficiency.IndonesianKabupaten Pati termasuk kabupaten di Jawa Tengah yang dipandang prospektif untuk percepatan peningkatan dan diversifikasi wilayah produksi bawang merah. Namun, produksi dan produktivitas bawang merah di Kabupaten Pati tidak stabil dan cenderung turun akhir-akhir ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status dan determinan efisiensi produksi bawang merah tersebut dengan fungsi produksi stokastik frontier Cobb-Douglas. Penelitian dilakukan di tiga kecamatan sentra produksi yaitu Wedarijaksa, Batangan, dan Jaken pada Oktober 2017. Data primer diperoleh dengan mewawancarai 33 orang responden yang dipilih secara stratified sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani bawang merah di Kabupaten Pati sudah efisien secara teknis, namun belum efisien secara ekonomis dan alokatif. Ditemukan dua faktor yang berpengaruh nyata terhadap efisiensi teknis, yaitu lama pengalaman menjadi petani (berpengaruh positif) dan umur petani (berpengaruh negatif). Keanggotaan kelompok tani dan akses penyuluhan berpengaruh positif, namun tidak nyata. Efisiensi dapat ditingkatkan melalui optimalisasi penggunaan input-input produksi, termasuk dengan mengurangi jumlah penggunaan pupuk anorganik, menambah jumlah pupuk organik dan benih, menggunakan benih jenis biji botani, dan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu. Peningkatan fungsi penyuluh pertanian dan kelompok tani termasuk strategi untuk meningkatkan efisiensi usaha tani bawang.
Dampak Kebijakan Perdagangan terhadap Pengembangan Industri Biodiesel Indonesia Helena Juliani Purba; Bonar Marulitua Sinaga; Tanti Novianti; Reni Kustiari
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v36n1.2018.1-24

Abstract

EnglishIndonesian government has been promoting development of palm oil based biodiesel industry through the so-called biodiesel mandatory policy. Biodiesel is a renewable energy and low emission. Palm oil and its derivative products are the most important contributors of foreign exchange in 2017. Trade policy is required to accelerate the achievement of biodiesel industry development in Indonesia. The study is intended to analyze the impacts of trade policy (export tax by Indonesian government and import restriction by the European Union) on the development of Indonesia’s biodiesel industry. The analysis used econometrics model in the form of simultaneous equations system consisting of 27 structural and 9 identity equations, estimated using the 2SLS (Two Stage Least Squares) method. This research used annual time series data 1991–2015. The result shows that both the export tax policy by Indonesian government and palm oil import ban by European Union have positive impacts on Indonesia's biodiesel industry but do have negative impacts on the foreign exchange revenues. The negative impacts on foreign exchange revenues can be avoided by replanting policy. Whenever the European Union imposes palm oil import ban policy; then, it is suggested that Indonesian government imposes the domestic market obligation and replanting policy. IndonesianIndonesia sedang melakukan upaya pengembangan biodiesel yang bersumber dari minyak sawit dalam kebijakan mandatori biodiesel. Biodiesel adalah sumber energi terbarukan dan rendah emisi. Minyak sawit dan produk turunannya adalah penyumbang devisa negara terbesar pada tahun 2017. Kebijakan perdagangan diperlukan untuk mempercepat pencapaian pengembangan industri biodiesel Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan perdagangan (pajak ekspor oleh pemerintah Indonesia dan pembatasan impor oleh Uni Eropa) terhadap pengembangan industri biodiesel Indonesia. Analisis menggunakan model ekonometrik dalam bentuk sistem persamaan simultan terdiri dari 27 persamaan struktural dan 9 persamaan identitas yang diestimasi dengan metode Two Stage Least Squares (2SLS) menggunakan data series tahunan 1990–2015. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kebijakan pajak ekspor oleh pemerintah Indonesia maupun larangan impor oleh Uni Eropa berdampak positif bagi perkembangan industri biodiesel Indonesia, namun berdampak negatif terhadap penerimaan devisa Indonesia. Dampak negatif terhadap penerimaan devisa dapat diatasi dengan kebijakan peremajaan kelapa sawit (replanting). Manakala Uni Eropa melakukan pelarangan impor minyak sawit, maka disarankan Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan domestic market obligation dan replanting.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue