cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2005): November 2005" : 28 Documents clear
PEMETAAN DAN PENGELOLAAN STATUS KESUBURAN TANAH DI DATARAN WAI APU, PULAU BURU Noto Susanto, Andriko
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research was aim to make map of soil fertility status and its management on farmland in Plain of Wai Apu,Buru Island have been conducted at 25.400 ha area, in year 2000. Evaluate of soil fertility status conducted in eachsoil-mapping unit and delineated with landscape mapping approach. Result of research that soil fertility status in Plainof Wai Apu is very low, low, middle and high, with wide respectively 17.145, 5.182, 1.549 and 1.542 ha. Limitingfactor to soil fertility is lowering of cation exchange capacities (CEC), C-Organic, K2O, P2O5 and base saturation.Alternative of land management suggested is improving C-organic and CEC which at the same time also can improvesoil nutrient content by giving organic materials like manure, straw compost (rich of K), chicken waste and guano(rich of P), accompanied with giving of inorganic manure like N, P, and K pursuant to soil chemical analysis. At areawith landform undulating to hilly needed conservation act, while mangrove forest, river border forest and sago whichis damage to be rehabilitated, while which still natural to be defended.Key words : mapping, soil fertility, Buru islandPemetaan status tanah dapat digunakan untuk mengetahui faktor pembatas kesuburan tanah pada suatu areasehingga dapat dilakukan pengelolaan tanah berdasarkan faktor pembatas yang ditemukan. Penelitian ini bertujuanuntuk memetakan status kesuburan tanah dan alternatif pengelolaannya pada tanah-tanah pertanian di Dataran WaiApu, Pulau Buru telah dilakukan pada areal seluas 25.400 ha. Evaluasi status kesuburan tanah dilakukan pada tahun2000, terhadap setiap satuan unit tanah yang didelineasi berdasarkan pendekatan landscape mapping. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa status kesuburan tanah di Dataran Wai Apu adalah sangat rendah, rendah, sedang dan tinggidengan luasan berturut-turut 17.145, 5.182, 1.549 dan 1.542 ha. Faktor pembatas kesuburan tanah yang ditemukanadalah rendahnya nilai kapasitas tukar kation (KTK), C-organik, K2O, P2O5 dan kejenuhan basa. Alternatifpengelolaan tanah yang disarankan adalah meningkatkan C-organik dan KTK yang sekaligus juga dapat meningkatkankandungan hara dalam tanah, dengan cara memberikan bahan organik seperti pupuk kandang, kompos jerami(kaya K), kotoran ayam dan guano (kaya P), yang disertai dengan pemberian pupuk anorganik N, P, dan Kberdasarkan analisis kimia tanah. Pada areal dengan bentuk wilayah berombak sampai berbukit diperlukan tindakanpengawetan tanah dengan menanggulangi erosi, sedangkan daerah hutan mangrove, sagu dan hutan sempadan sungaiyang rusak dianjurkan untuk direhabilitasi sedangkan yang masih utuh untuk dipertahankan.Kata kunci : pemetaan, kesuburan tanah, Pulau Buru
KERAGAAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PENYULUH DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN Sulaiman, Fawzia; Rusastra, I Wayan; Subaidi, Ahmad
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Information of research results is an output and the main asset of the Assessment Institute of AgriculturalTechnology (AIAT). This information of research result needs to be formulated into easily understood information,using the most suitable media before being disseminated to various prospective users. In this respect, professionalswho deal with innovation transfer need to possess adequate knowledge and skills to ensure an efficient and effectiveflow of information from its source to intended audiences. The effort to increase the efficiency and effectiveness ofthe information flow of agricultural research result was the justification to merge the Institute for AgriculturalInformation (IAI) and AIAT. This institutional integration also brought the consequence of the involvement ofextentionists, who were the main professional staff of IAI, into the AIAT working system. After 10 years ofintegration, the increase of efficiency and effectiveness of innovation transfer at AIAT has not resulted as expected.This poor performance of innovation transfer is among others resulted from the unfavourable working condition ofextentionists in fulfilling their role and function within the AIAT working system. The objective of this study was toidentify constraints being faced by AIAT extentionists in fulfilling their role and function at AIAT. Results of thestudy indicated that the capacity of AIAT extentionists was a resultant or a product of existing policies and workingcondition within the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) and AIAT, and at otherrelated agricultural institutions outside the IAARD. In this respect, AIAT extentionists were in agreement with almostall constraints being stated as hypotheses in this study. The AIAT extentionists indicated that their performance was aresultant of internal and external constraints within their working system as follows: (a) professional capacity of AIATextentionists, (b) professional performance of AIAT extentionists, (c) structural problems, (d) working facilities andsupporting administration, (e) external factors. Thus, efforts to increase the performance of AIAT extentionists shouldstart from implementing policies and various activities being needed to alleviate those five constraints mentionedabove.Key words: extentionist, innovation transfer, perceptionInformasi hasil penelitian dan pengkajian merupakan aset intelektual dan keluaran utama dari BPTP (BalaiPengkajian Teknologi Pertanian) yang perlu dikemas ke dalam “bahasa” yang mudah dimengerti sebelumdisampaikan kepada beerbagai khalayak penggunanya. Penyelenggara proses alih teknologi membutuhkanpengetahuan dan keterampilan yang memadai, agar alur teknologi ini dapat mengalir dengan efisien dan efektif darisumbernya kepada berbagai khalayak penggunanya. Hal ini melatarbelakangi pengintegrsian Bali Informasi Pertanianke dalam BPTP, yang juga menbawa konsekuensi masuknya penyuluh, yang merupakan staf fungsional utama di unitkerja eks BIP ke dalam sistem kerja BPTP. Setelah 10 tahun pengintegrasian BIP ke dalam BPTP, ternyatapeningkatan efisiensi dan efektivitas sistem alih inovasi pertanian belum seperti yang diharapkan. Penyebabnya antaralain kurang kondusifnya pelaksanaan tugas pokok dan fungsi penyuluh BPTP. Dengan demikian, perlu adanyaidentifikasi kendala yang dihadapi penyuluh BPTP dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Tujuan pengkajianini adalah untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi penyuluh BPTP dalam melaksanakan tugas pokok danfungsinya di BPTP. Hasil kajian mendapatkan bahwa potensi/kapasitas penyuluh BPTP merupakan produk atau luarandari kondisi kerja dan kebijakan yang ada, baik kebijakan internal Badan Penelitian dan PengembanganPertanian/BPTP maupun kebijakan instutusi pertanian terkait di luar Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.334Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.3, Nopember 2005 : 333-351Penyuluh mempunyai persepsi setuju dengan hampir semua hipotesis yang merupakan kendala dalam pelaksanaantugas pokok dan fungsinya. Hal ini mengindikasikan bahwa penyuluh mempunyai persepsi bahwa potensi/kapasitasnya merupakan resultante dari kendala eksternal dan internal di lingkugan kerjanya, yaitu: (a) potensi/kapasitas penyuluh, (b) permasalahan struktural, (c) kinerja fungsional penyuluh, (d) fasilitas kerja dan dukunganadministrasi, dan (e) faktor-faktor eksternal di luar Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian/BPTP. Dengandemikian, upaya peningkatan kinerja penyuluh BPTP perlu didahului dengan implementasi kebijakan dan berbagaikegiatan yang diperlukan dan berkaitan dengan kelima kendala internal dan eksternal tersebut.Kata kunci: penyuluh, alih inovasi, persepsi
KAJIAN PUPUK ALTERNATIF DI LAHAN KERING KALIMANTAN TENGAH Krismawati, Amik; Firmansyah, M. Anang
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The success of agricultural intensification program depend on the avalaibility of production input such asfertilizer. Due to various problems, in the field, price increases and limited supply, farmers have difficulties inobtaining anorganic fertilizers such as Urea, SP-36 and KCl. In this circumstances the Government gave permitted thedistribution of alternative fertilizer. This policy cause the increase non standard alternative fertilizer circulated in themarket which need to be tested for its quality and effectiveness. Assessment on alternative fertilizer in dry land wasconducted at Batuah Villlage, Dusun Tengah, South Barito, Central Kalimantan since October 2002 until January2003. The types of soil was ultisol and the altitude was 42 m above sea level. The assessment purpose are : (1) Toknow how about effect alternative fertilizer to maize; and (2) To find out the alternative fertilizer of macro anorganicon maize in Central Kalimantan. The macro anorganic fertilizers used in this study were NPK Mutiara, NPK GrandS-15 and NPK Phonska, where the NPK content are 16:16:16; 15:15:15; 15:15:15 respectively. Randomized BlockDesign with eight treatments and four replications was used. The treatments were (1) Parsial Control; (2) Singlefertilizer (Recommendation); (3) NPK Mutiara; (4) NPK Grand S-15; (5) NPK Phonska; (6) Single fertilizerequivalent Mutiara; (7) Single fertilizer equivalent Grand S-15; and (8). Single fertilizer equivalent Phonska. Datawere analyzed using ANOVA and DMRT. The results showed that alternative fertilizer NPK Phonska was able toincrease maize yield 2.43 point, i.e.5.70 tons/ha compared with 2.35 tons/ha and improve profit value added by Rp3,592,500,-/ha with input cost Rp 763,000,-..Key words : alternative fertilizer, Zea mays, dry land farming, Central KalimantanKeberhasilan meningkatkan produksi pertanian melalui kegiatan intensifikasi tidak terlepas dari peranan saranaproduksi antara lain pupuk. Adanya berbagai masalah di lapangan sehingga petani sulit mendapatkan pupuk anorganiktunggal (Urea, SP-36 dan KCl), harga pupuk yang semakin meningkat, ketersediannya yang terbatas, makapemerintah memberi kesempatan peredaran pupuk alternatif. Kebijakan pintu terbuka menyebabkan banyak beredarpupuk-pupuk alternatif yang mutunya masih diragukan, sehingga perlu dilakukan pengujian mutu pupuk danefektivitasnya di lapang. Pengkajian pupuk alternatif di lahan kering dilaksanakan di Desa Batuah, Kecamatan DusunTengah, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, mulai bulan Oktober 2002 sampai dengan Januari 2003.Ketinggian tempat lokasi pengkajian 42 meter di atas permukaan laut (dpl) dan jenis tanah ultisols. Adapun tujuanpengkajian ini adalah untuk (1) Mengetahui pengaruh pupuk alternatif pada jagung; dan (2) Mendapatkan teknologipupuk alternatif kelompok makro anorganik pada tanaman jagung yang tersedia di Kalimantan Tengah. Pupuk makroanorganik yang digunakan yaitu NPK Mutiara, NPK Grand S-15 dan NPK Phonska masing-masing mempunyaikandungan unsur hara N, P dan K yaitu 16:16:16, 15:15:15 dan 15:15:15. Rancangan percobaan menggunakanRancangan Acak Kelompok (RAK) dengan delapan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang dikaji adalah (1)Kontrol parsial; (2) Pupuk tunggal NPK Rekomendasi; (3) Pupuk NPK Mutiara; (4) Pupuk NPK Grand S-15; (5)Pupuk NPK Phonska; (6) Pupuk tunggal setara Mutiara; (7) Pupuk tunggal setara Grand S-15; dan (8) Pupuk tunggalsetara Phonska. Data dianalisis dengan menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil pengkajianmenunjukkan bahwa pupuk alternatif NPK Phonska dapat menghasilkan produktivitas jagung 2,43 kali lipat dariproduktivitas petani yakni 5,70 berbanding 2,35 ton/ha dan meningkatkan keuntungan petani sebesar Rp 3.592.500,-dengan penambahan biaya produksi Rp 763.000,-.Kata kunci : pupuk alternatif, jagung, usahatani lahan kering,Kalimantan Tengah
ANALISIS FINANSIAL TEKNOLOGI PEMUPUKAN ABU JANJANG SAWIT SEBAGAI SUMBER K PADA PADI SAWAH Nur Istina, Ida; Syam, Amiruddin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the effort to increase rice production and the farmer income is the usage of K source that available infield. The assesment of palm oil ash fertilizer as K resource on lowland rice financial analysis was done at PulauJambu Village, West Bangkinang sub district, Kampar regency on dry season 2003 used the farmer land and followsthe farmers as cooperator due to know the financial eligibility of the palm oil ash fertilizer technology on rice farm.This research used Randomized Block Design devided into three treatment and five replications. The agronomicperformance analized by statistical with Irristat version 3.1; the social performance data analyzed by descriptiveanalysis and the economic data analized by the Balanced Revenue (BC ratio), critical Break Event Point and thesensitivity analysis. The result showed that palm oil ash fertilizer give the increasing rice production about 36 percentand 42 percent and the farmer income about 47 percent and 52,29 percent. Base on economic performance the palmoil ash fertilizer performance be able to used with BC ratio more than one and base on sensitivity analyzing theintroduction technology applicable although the input increasing about 50 percent.Key words : financial analysis, fertilizers, ashes wastes, wetland ricey words : financial analisys, fertilizer technology, palm oil ash, K resources, lowland riceSalah satu upaya untuk peningkatan produksi dan pendapatan petani padi di lahan marginal adalah denganpemanfaatan sumber pupuk K yang tersedia di lapangan. Kajian analisis finansial teknologi pemupukan abu janjangsawit sebagai sumber K pada padi sawah yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial pemupukan abujanjang sawit sebagai sumber K pada usahatani padi sawah telah dilaksanakan di Desa Pulau Jambu, KecamatanBangkinang Barat, Kabupaten Kampar pada MK 2003 dengan menggunakan lahan petani dan mengikutsertakanpetani sebagai koperator, disebabkan untuk mengetahui yang memenuhi syarat finansial dari teknologi pupuk abujanjang sawit pada tanaman padi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga perlakuan danlima kali ulangan. Keragaan agronomi dianalisis secara statistika dengan menggunakan perangkat Irristat, versi 3.1,data sosial dianalisis secara deskriptif, sedangkan data ekonomi dianalisis dengan analisis Imbangan penerimaan (BCratio), titik impas dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi pemupukan dengan abujanjang sawit memberikan peningkatan produksi sebesar 36 persen dan 42 persen serta peningkatan pendapatansebesar 47 persen dan 52,29 persen. Berdasarkan keragaan ekonomi teknologi pemupukan abu janjang sawit layakdengan nilai BC ratio lebih besar dari satu dan berdasarkan hasil analisis sensitifitas teknologi introduksi tetap layakditerapkan meskipun terjadi kenaikan harga sarana produksi sampai 50 persen.Kata kunci : analisis finansial, pemupukan, abu sawit, padi sawah
KAJIAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK SAMPAH KOTA MAKASSAR PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum L) Tandisau, Peter; Darmawidah A., A.; , Warda; , Idaryani
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An assessment aimed to find out the benefit application at organic fertilizer from city garbage on red pepperplanting in lowland-after rice with inceptisols Bajeng-Gowa district, South Sulawesi. The study was carried out fromJune to October 2000. Assessment was set in randomized block design with nine treatments and three replications.Treatments consist to several level of organic fertilizers from city garbage and combination of inorganic and organicfertilizers. Result showed that application of landfill’s organic fertilizer (LOF) and its combination with inorganicfertilizer were useful positively in term of growth and yield improvement of red pepper, as well as increased inincome. Application of 50 kg urea + 100 kg SP-36 + 100 kg KCl + 6,0 t LOF/ha resulted the highest production of redpepper (11,872 kg/ha) with net income of Rp. 33.132.000 and VCR of 3,0. The higher rate application of landfill’sorganic fertilizer, the more benefit would be gained. Application of 10,0 t LOF gave fresh fruit production of 9,616kg/ha, higher than that recommended fertilizer of 150 kg urea + 150 kg SP-36 + 150 kg KCl / ha (8,706 kg/ha), andyielded net income of Rp. 23.990.000, and VCR of 1,8. Subsequently, application of 50 kg urea + 20 t LOF / ha stillindicated good yield, fresh fruit production reached was 7,618 kg/ha, with net income of Rp. 22.443.000 / ha, andVCR of 2,5. Recommended fertilizer on red pepper planting in low land after rice with Inceptisols Soil in Bajeng was50 kg Urea + 2-6 t OF TPA/ha.Key words : garbage, organic fertilizers, wetland, Capsicum annum L., South Sulawesi Suatu kajian yang bertujuan untuk melihat manfaat penggunaan pupuk organik sampah dari tempatpembuangan akhir (TPA) pada tanaman cabai telah dilakukan di lahan sawah sesudah padi, pada tanah InceptisolBajeng, Gowa, Sulawesi Selatan. Kajian berlangsung bulan Juni sampai dengan Oktober 2000. Kajian disusunmenurut Rancangan Acak Kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan (petani representatif dari ulangan).Perlakuan terdiri dari berbagai takaran pupuk organik sampah TPA dengan kombinasi pupuk anorganik dan organik.Hasil kajian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik (PO) TPA dan kombinasinya dengan pupuk anorganikpositif terhadap perbaikan pertumbuhan dan hasil cabai, serta pendapatan. Penggunaan 50 kg urea + 100 kg SP-36 +100 kg KCl + 6,0 t PO TPA tunggal menghasilkan produksi cabai tertinggi (11.872 kg/ha) dengan keuntungan sebesarRp. 33.132.000 dan VCR 3,0. Aplikasi 10 t PO TPA/ha menghasilkan produksi buah segar 9.616 kg/ha, lebih tinggidaripada hasil yang diperoleh dengan penggunaan paket pupuk rekomendasi, 150 kg urea + 150 kg SP-36 + 150 kgKCl/ha (8.706 kg/ha), dengan tingkat keuntungan Rp. 23.990.000, dan nilai VCR sebesar 1,8. Selanjutnya, aplikasi 50kg urea + 2,0 t PO TPA/ha mampu memberi hasil yang cukup menggembirakan, produksi buah segar sebanyak 7.618kg/ha, keuntungan sebesar Rp. 22.443.000 /ha, dan nilai VCR 2,5. Rekomendasi pemupukan pada cabai yangdiharapkan dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi petani adalah 50 kg Urea + 2-6 t PO TPA/ha.Kata kunci : sampah, pupuk organik, lahan sawah, cabai, Sulawesi Selatan
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI LADA , Azri
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of this experiment was determined the effect of three analysis and introduction on growth andpepper production. A randomized block design consist of three treatment with five replication. The experimentconducted on January 2000 to Desember 2002 at Sinar Tebudak, Sub district Sanggau Ledo, district Bengkayang,West Kalimantan. The treatments were three dosage fertilizers namely : farmer (215 kg urea + 322.5 kg SP-36 + 322.5kg KCl), 2). Soil analysis (355.56 kg urea + 380 kg SP-36 + 388.96 kg KCl) dan 3). Introduction (800 kg urea + 400kg SP-36 + 400 kg KCl). The result showed that the treatment of fertilizer soil analysis had a significant effect ongrowth and pepper production (0.29 ton/ha). Increasing fertilizers were not increase pepper production. The treatmentssoil analysis efficiency using fertilizers with introduction are 55.56 percent urea, 5 percent P and 2.76 percent K.Key words : fertilizer, soil analysis, growth, production, pipper nigrumPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan introduksi, pola petani dan analisis tanahterhadap pertumbuhan dan produksi tanaman lada. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2000 sampaiDesember 2002 yang berlokasi di Desa Sinar Tebudak, Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang. Penelitianadaptif menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima kali ulangan. Adapun perlakuan yang akanditeliti adalah : 1). Pemupukan menurut petani (215 kg urea + 322,5 kg SP-36 + 322,5 kg KCl), 2). Pemupukananalisis tanah (355,56 kg urea + 380 kg SP-36 + 388,96 kg KCl) dan 3). Pemupukan introduksi (800 kg urea + 400 kgSP-36 + 400 kg KCl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan berdasarkan hasil analisis tanah nyatameningkatkan pertumbuhan dan produksi hasil dibanding dengan pemupukan introduksi dan cara petani.Peningkatan pupuk tidak dapat meningkatkan produksi yang lebih tinggi. Pemupukan hasil analisis tanah mampumeningkatkan hasil lada sebesar 0,29 ton/hektar, disisi lain pemupukan analisis tanah menghemat pemakaian pupuksebesar 55,56 persen urea, 5 persen pupuk P dan 2,76 persen pupuk K dibanding dengan introduksiKata kunci : pemupukan, analisis tanah, pertumbuhan, produksi, pipper nigrum
UJI MULTI LOKASI GALUR HARAPAN DAN VARIETAS PADI TERPILIH DI LAHAN PASANG SURUT , Susilawati; Sabran, M.; , Rukayah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multi location test of seven inbreds and variety have been conducted at tidal swampland area in Kapuasregency during wet season 1998 and 1999, such as in sulfit acid (unit Tatas and Basarang) and potential area (HandilGabin and Lamunti A-2). The purpose of this research are (1) to provide adaptive rice varieties, specifically at tidalswamp land and likely for farmers, (2) to provide seed rice that high quality and specific of location. Using RCBDwith seven treatment that are varieties and inbred, with three replication. The result of multilocation test that showntwo inbreds expectancies i.e KAL-9420 d-Bj-276-3 and KAL-9414 d-Bj-63-1 as adaptive in tidal swampland, withmean productivity 3,8 and 3,6 t/ha yield. Farmers very like this with this varieties because have characteristic whichare small shape of yield and clean of yield.Key words: pure lines, wetland, Oryza sativa, Central KalimantanUji multi lokasi tujuh galur harapan dan varietas padi telah dilaksanakan di lahan pasang surut KabupatenKapuas pada musim hujan 1998 dan musim hujan 1999. Kegiatan dilaksanakan di dua tipologi lahan yaitu lahan sulfatmasam (di unit Tatas dan Basarang), dan lahan potensial (di Handil Gabin dan Lamunti A-2). Tujuan dari kegiatan iniadalah: (1) mendapatkan galur dan varietas padi yang adaptif, spesifik lahan pasang surut dan disukai petani; (2)menyediakan benih padi yang bermutu dan spesifik lokasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalahrancangan petak terbagi dengan 7 (tujuh) perlakuan yaitu varietas dan galur padi dan tiga ulangan. Hasil pengujianmenunjukkan terdapat dua galur harapan yaitu KAL-9420 d-Bj-276-3 dan KAL-9414 d-Bj-63-1 yang diminati petanikarena sangat sesuai dengan selera petani yang umumnya Masyarakat Banjar dan Dayak, yaitu bentuk gabah ramping,rasa nasi pera, dan warnanya bersih serta adaptif di lahan pasang surut Kabupaten Kapuas, dengan rata-rata produksi3,8 t/ha dan 3,6 t/ha gabah kering giling.Kata kunci : galur harapan, lahan pasang surut, padi, Kalimantan Tengah
ANALISIS FINANSIAL BUDIDAYA TOMAT DI DATARAN RENDAH SULAWESI TENGAH , Maskar; Negara, Abdi; Boy, Ruslan; Sarasutha, IGP.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The main problem at tomato farm level is low yield compared to potential production. Objective of theresearch was to find out the appropriate packaged technology of tomatoes farming on low elevation. The research wasconducted at Labuan Toposo village, Sub district of Tawaeli, district of Donggala, from December 2003 to April2004. Randomized Complete Block Design was used with five replications. There are three packaged technology wereused : (A) introduce packaged-1 technology, (B) introduce packaged-2 technology, and (C) farmers packagedtechnology as usual. Results of the research showed that the introduce packaged-2 technology was highest in yield andthen followed by introduce packaged-1 technology, while the farmer packaged technology as the lowest. The cost ofthe production for introduce packaged-2 technology is Rp. 16.022.000,-/ha, with the highest of labour cost (Rp.8.000.000,- or 49,9% from total cost), followed by ather cost such as bambooes for stick, fertilizer, pestiside, landrent and the seed is the lowest cost. On the production level of 55,13 t/ha and range of yield price from Rp. 500 – Rp.1.250/kg will get the net income of tomato farm with packaged-2 technology as Rp. 37.069.250, with packaged-1technology were Rp. 20.292.150 and at farmers level is only Rp. 8.089.750. Furthermore, R/C ratio for packaged-2technology were 3,31; packaged-1 technology were 2,30, and farmers level of 1,54. Efficiency level of packkaged-2technology was high than others.Key words : Lycopersicon esculentum, financial analysis, cultivation systems, Central SulawesiPotensi lahan di Sulawesi Tengah masih cukup luas untuk pengembangan tanaman tomat. Permasalahanusahatani tomat di tingkat petani adalah produksi masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi produksi yangada. Kajian ini bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi budidaya yang sesuai dan secara ekonomis paling layakdigunakan pada usahatani tomat di dataran rendah. Kajian ini dilaksanakan di Desa Labuan Toposo, KecamatanTawaeli, Kabupaten Donggala, pada bulan Desember 2003 sampai April 2004. Kajian ini menggunakan rancanganacak kelompok dengan lima ulangan. Ada tiga paket teknologi budidaya yang dikaji, yaitu : (A) paket introduksi-1,(B) paket introduksi-2, dan (C) paket teknologi menurut kebiasaan petani (sebagai pembanding). Hasil kajianmenunjukkan bahwa dari tiga paket teknologi budidaya yang dikaji, paket introduksi-2 menghasilkan produksi buahyang paling besar, kemudian diikuti oleh paket introduksi-1, dan yang paling rendah adalah paket petani. Biayaproduksi usahatani tomat dengan menggunakan paket introduksi-2 adalah Rp. 16.022.000,- per hektare, dengan biayaterbesar pada tenaga kerja Rp.8.000.000,- (49,9 %), kemudian diikuti berturut-turut oleh biaya tiang penyangga,pupuk, pestisida, sewa lahan dan biaya paling sedikit adalah biaya bibit. Pada tingkat produksi 55,13 t/ha dan hargaantara Rp.500 – Rp. 1.250,-/kg, pendapatan bersih usahatani tomat dengan menggunakan paket introduksi-2 adalahRp.37.069.250,-, paket introduksi-1 Rp. 20.292.150,- dan paket petani Rp. 8.089.750,-. Pada tingkat produksi danharga tomat tersebut di atas, hasil perhitungan R/C ratio untuk paket introduksi-2 adalah 3,31, paket introduksi-1adalah 2,30 dan paket petani 1,54. Meskipun ketiga paket teknologi budidaya tersebut masih memberikan keuntungan,namun tingkat efisiensi tertinggi dicapai pada paket introduksi-2.Kata kunci : Lycopersicon esculentum, analisis finansial, sistem budidaya, Sulawesi Tengah
PENGGUNAAN BIOPESTISIDA PERSADA DAN PESTISIDA NABATI DALAM UJI ADAPTASI PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU PISANG DI PROVINSI BALI Suastika, I.B.K.; Kamandalu, A.A.N.B.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this adaptive research was to study the effect of combination treatments of “persada”biopesticide and botanical pesticide (plants extract) to the increase attack of wilt disease and its effect on bananasgrowth and yield. The research was conducted at Delod Berawah and Penyaringan village, Mendoyo sub-district,Jembrana district, Bali on Januari 2000 to December 2001. Randomized block design was applied with fivereplications during research at 2000 and four replications at 2001. Banana “kepok”seed age 2-3 months was plantedwith its planting holed size and distance 50 cm x 50 cm x 50 cm and 2 m x 2 m respectively. In 2000, dosages offertilizer per plant per year were 1,2 kg NPK and 2 kg of casting, followed by treatment of 0,50 kg “persada”biopesticide/plant/year. The treatment of 1 lt/plant of botanical pesticide with 5 percent (w/v) concentration was givenat one and two months after initial planting. In 2001, dosages of fertilizer per plant per year were 1,2 kg ZA, 0,45 kgTSP, 0,50 kg KCl and 2 kg casting, followed by treatment of 0,50 kg “persada”biopesticide/plant/year. The treatmentof 1 lt/plant of botanical pesticide with 5 percen (w/v) concentration was given at the age of 0 month, 2 months, 4months, 6 months and 8 months after initial planting respectively. The result showed that application of 0,50 kg/plantof “persada”biopesticide with or without botanical pesticide was able to control bananas wilt disease developmentabout 26-50 percent. It is suggested that when farmers planted susceptible bananas like “kepok”variety at endemicwilt disease area, they should apply biopesticide such as “persada”biopesticide and botanical pesticide followed byother treatments, i.e. application of good fertilizer, sanitation and good watering. Average net return received byfarmers from “kepok”banana planting at endemic wilt disease area through application of “persada”biopesticide andbotanical pesticide within 0,05 ha was Rp. 1.249.600. The farmer will loss about Rp. 501.280 when planted banana“kepok”at endemic wilt disease area without “persada”biopesticide and botanical pesticide treatment.Key words : plant diseases, “persada” biopesticide, botanical pesticidePenelitian adaptasi bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi perlakuan biopestisida persada danpestisida nabati terhadap perkembangan intensitas serangan penyakit layu serta pengaruhnya terhadap pertumbuhandan hasil tanaman pisang. Penelitian dilaksanakan di Desa Delod Berawah dan Desa Penyaringan, kecamatanMendoyo, kabupaten Jembrana Propinsi Bali dari bulan Januari sampai Desember pada tahun 2000 dan 2001.Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan lima kali ulangan pada pengujian 2000 danempat kali ulangan pada pengujian tahun 2001. Bibit pisang “kepok”berumur 2-3 bulan ditanam dalam lubang tanamberukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dengan jarak tanam 2 m x 2 m. Pada pengujian 2000, pemupukan dengan dosis 1,2kg NPK dan 2 kg kascing/pohon/ tahun, diikuti dengan pemberian perlakuan biopestisida persada 0,5 kg/pohon/tahun.Perlakuan pestisida nabati 1 lt/pohon dengan konsentrasi 5 persen diberikan pada 1 bulan setelah tanam (BST) dan 2BST. Pada pengujian tahun 2001 pemupukan dengan dosis 1,2 kg ZA, 0,45 TSP, 0,50 KCL dan 2 kgkascing/pohon/tahun, diikuti dengan pemberian perlakuan biopestisida persada 0,5 kg/pohon/tahun. Perlakuanpestisida nabati 1 lt/pohon dengan konsentrasi 5 persen diberikan pada 0 BST, 2 BST, 4 BST, 6 BST, dan 8 BST.Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan biopestisida persada sebanyak 0,50 kg/pohon/tahun dengan atautanpa perlakuan pestisida nabati cukup efektif mengendalikan penyakit layu pisang dengan penekanan penurunanpenyakit hingga 26-50 persen. Bila harus menanam pisang peka seperti kepok di daerah endemis penyakit layu,406Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.3, Nopember 2005 : 405-416penggunaan biopestisida persada dan pestisida nabati dalam usahatani pisang sebaiknya diikuti dengan perlakuanlainnya yaitu budidaya tanaman sehat seperti pemupukan, pengendalian gulma dan pengairan yang baik. Keuntunganbersih yang diperoleh petani dari usahatani pisang kepok di daerah endemis penyakit layu dengan perlakuanbiopestisida persada dan pestisida nabati dalam areal seluas 5 are sebesar Rp 1.249.600,-. Petani akan mengalamikerugian sekitar Rp 501.280,- bila mengusahakan pisang kepok di daerah endemis penyakit layu tanpa perlakuanbiopestisida persada dan pestisida nabati.Kata kunci : penyakit tanaman, biopestisida persada, pestisida nabati
PENGUJIAN PROTOTIPE ALAT PENGADUK DALAM PEMBUATAN SIRUP MARKISA SKALA RUMAH TANGGA Dewayani, Wanti; Danial, Darniaty; , Warda; Muhammad, Hatta
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this experiment wad to find out a simple prototype of churn appliance which easy to operate andalso improve the efficiency of passion fruit syrup processing. This activity was conducted at Cikoro Village, GowaRegency in May up to December 2001. Three type of churn appliances were determined namely wood spoon(manual), hand mixer (semi manual), and submersible pump (automatic). Activity of passion fruit syrup making fromeach the churn appliance was carried out by two groups of farmer woman. Financial analysis of B/C was comparedthe advantage of each churn appliance prototype. Passion fruit syrup was also tested chemically and organoleptically.The result showed that the used of submersible pump more efficient and profit than mixer and wood spoon. Usingsubmersible pump was pumped at high pressure of 250 l syrup until homogen through 30 minutes and the highestquality as vitamin C 0.20 percent and sugar level 18.53 percent. The submersible pump was able to process 6,000fruits per day with good profit of Rp. 2,878,750, - and net B/C 1.36.Key words: churn appliance, marquise, profit, prototype, syrup Pengkajian ini bertujuan untuk mendapatkan prototipe alat pengaduk sederhana dan mudah dioperasikanserta meningkatkan efisiensi pengolahan markisa menjadi sirup. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Cikoro,Kabupaten Gowa pada bulan Mei hingga Desember 2001. Tiga tipe alat pengaduk yang diuji adalah sendok kayu(manual), mikser (semi manual), dan pompa celup (otomatis). Kegiatan pembuatan sirup markisa dari masing-masingalat pengaduk tersebut dilakukan oleh dua kelompok wanita tani. Sirup markisa dari kedua kelompok tersebut diujisecara kimia dan organoleptik. Analisis finansial dengan B/C ratio untuk mengetahui keuntungan dari masing-masingprototipe alat pengaduk yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pengaduk pompa celup(submersible pump) jauh lebih efisien dan menguntungkan dibandingkan dengan mikser dan sendok kayu.Penggunaan pompa celup mampu mengaduk 250 l sirup markisa hingga homogen dengan tekanan tinggi dalam waktu30 menit dengan mutu sirup yang terbaik yaitu vitamin C dan kadar gula masing-masing 0,20 persen dan 18,53persen. Dengan pengaduk pompa celup dapat memproses 6000 buah per hari dan diperoleh keuntungan Rp.2.878.750,- (net B/C ratio 1,36).Kata kunci : alat pengaduk, keuntungan, markisa, prototipe, sirup

Page 1 of 3 | Total Record : 28


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue